Kei mengerjap, memutar lagi kronologi yang bermain dalam kepalanya.
Kenapa anak ini ada di sini? Kei membatin.
Yamaguchi tergelak manis, kemudian tersenyum padanya.
"Ohayo! Senpai!!"
Oh, Kei tidak tahu kalau semuanya akan jadi seperti ini.
(Kejadian ini berlangsung sehari setelah Kei menyelamatkan Tadashi)
——
Haikyuu!!! belongs to Haruichi Furudate
(saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini selain kenikmatan batin)
——
Sudah seminggu atau lebih insiden penyelamatan Tadashi terlewatkan. Kei tidak pernah merasa bersyukur bisa menolong orang, tapi toh kali ini ia merasakannya. Bersyukur karena dipertemukan orang semanis Tadashi.
Sejak kapan, ya? Kei merasa murah, tentu saja. Hanya dengan senyuman dan tingkah Tadashi, hatinya bisa senang sendiri.
Biar begitu, dirinya tidak pernah sekali pun memainkan lisannya dalam perasaan ini. Ia hanya bisa melakukan apa pun yang mungkin bisa membantu Tadashi. Kedekatannya pun tidak seintens itu.
Kantin kelihatan ramai, biar begitu Kei menghantam hiruk pikuk siswa yang ada di depannya.
Tumben Shoyo membawa bekal, jadi pemuda bersurai ngejreng itu tidak ke kantin. Alhasil Kei musti berdesakan di pusat keramaian sekolah kalau sedang istirahat satu ini.
Matanya menelisik menu yang ada di etalase. Desak-desakannya belum berhenti, tentu saja. Malah makin ramai.
Bruk
Sesosok tubuh menabrak dadanya. Untuk ukuran seorang murid menengah atas, Kei tidaklah pendek. Apalagi jika disandingkan dengan Shoyo.
Ah, surai hitam ini sepertinya tidak asing, agaknya ia pernah melihat yang seperti ini.
Pemuda itu menggeliat tidak nyaman, tubuh ringkihnya menghimpit Kei karena dia pun tertubruk oleh yang lainnya.
Tadashi, ya? Kei menggumam dalam hati. Tanpa pikir panjang tangannya melingkar pada tubuh Tadashi, tepatnya pada lingkar bahu pemuda yang lebih kecil dari dirinya itu.
Kei tidak bermaksud apa pun. Sekali-kali ia bersikap baik, hitung hitung menebus kesalahan karena menghina Shoyo yang boncel dan mengecap Bokuto--teman sepermainannya dari SMA lain, sebagai orang tolol.
Tadashi, begitu direngkuh mendongak. Ekspresinya kaget, kemudian menunduk dalam. Kei tidak bisa menjelaskan bagaimana keadaan pemuda itu sekarang, yang jelas telinga Tadashi merah.
"Senpai?"
Kei diam, tidak banyak bicara. Sampai antrian mulai lengang, Kei baru melepaskan rengkuhannya dan berjalan menjauhi Tadashi. Toh, sia-sia. Si surai hitam tetap mengikutinya.
"Kau makan di kantin Senpai?"
Senpai, senpai. Aneh juga kalau dipanggil begitu terus.
"Tidak setiap hari." Kei membeli roti isi, tidak sedang ingin makan nasi dan susu stroberi. Kiranya itu cukup untuk mengganjal perut.
Mereka duduk di bangku kosong yang tersedia di kantin. Kei dengan khidmat mulai memakan makanannya.
"Senpai, apa sekarang sedang sibuk ujian?" tanya Tadashi, sebenarnya hanya strategi untuk mengusir kecanggungan.
"Ya, begitu. Kami sedang menghadapi bimbingan karir." Si pirang tidak melirik lawan bicaranya, masih fokus dengan makanan.
Tadashi menggembungkan wajahnya, sayang sekali Kei tidak melihat hal itu.
"Kau terlihat sangat menikmatinya." Tadashi terkekeh pelan. Kalau sudah di depan makanan, kakak kelasnya ini begitu serius ternyata.
"Tidak juga. Sedikit menghormati saja karena makanan ini bisa mengisi energi." Jawaban yang konyol, mau tak mau Kei terkekeh juga.
Kemudian mereka berlanjut mengobrol masalah festival seni tahunan sekolah, topik ini hanya sebentar dibahas, lalu dilanjut dengan obrolan random keduanya. Kei akhirnya tahu kalau Tadashi menyukai band rock biarpun tampangnya manis begitu. Salah satu yang disukainya adalah Coldplay. Jujur Kei juga menyukainya. Kei juga akhirnya tahu ketertarikan yang lebih muda pada kentang goreng. Pantas saja kentang goreng di nampan Tadashi lumayan banyak.
"Jangan panggil aku Senpai kalau bisa, terlalu kaku." Kei berkomentar setelah menyesap habis susu di kartonnya.
"Lalu apa?" Tadashi memiringkan kepalanya.
Oh, God what kind of test is this?
Sedikit mengesampingkan kelucuan Tadashi, Kei berpikir sebentar.
"Terserah, asal jangan Senpai saja."
"Jaa, kalau begitu, Tsukki?"
"Apa-apaan itu?" Pelipis ditekuk menghasilkan kernyitan, Kei mendesis.
"Katanya terserah?" Tadashi tersenyum.
"Cih, baiklah."
"KEEIII!"
Bruk
Shoyo menubruk pemuda pirang itu. Iya, Shoyo yang rambutnya seperti jeruk mandarin itu. Sepertinya dia mencoba ganggu-ganggu acara uhuk-pendekatan-uhuk Kei.
"Mau apa kau kemari, Chibi?" Kei menoleh malas dan disambut oleh wajah masam Shoyo.
Tadashi sedari tadi memperhatikan mereka.
"Kei, sumpah buku fisika ketinggalan! Pokoknya kau harus membantuku mengerjakan tugas!"
"Apa-apaan? Datang-datang minta diajarin. Enggak gratis kau tahu?" Kei mendorong Shoyo menjauh dan si oranye nampaknya tersinggung.
"Nanti kubawakan red velvet, deh!" Shoyo memelas membuat Kei memutar mata malas.
"Aku anggap itu sebagai iya." Dengan seenak perutnya, Shoyo menarik sang pemuda untuk ke kelas. Namun, terhenti sejenak ketika matanya melihat eksistensi seseorang.
"Ah! Kau adik kelasnya Kei, ya? Duh, kupinjam dulu ya."
"Iya, ugh. Tsukishima-Senpai mau pulang bersama?"
"Lihat nanti, oke--OI! Shoyo, jangan menarik blazerku, Bodoh!"
Kei menghilang, yang ada tinggal bayang. Tadashi menatap nanar karton susu yang teremas setengah.
"Siapa ya tadi? Apa sahabatnya? Atau lebih buruk... Jangan-jangan kekasihnya?"
——
Tadashi tidak berolahraga. Bisa-bisa penyakit darah rendahnya kambuh, minimal ia harus mengonsumsi banyak vitamin sebelum kembali pada kegiatan harian normal.
Sudah seminggu, tapi Tadashi belum bisa sembuh juga.
Gimnasium terlihat ramai, sepertinya karena memang ada kelas lain ikut olahraga pada jam kelasnya kali ini.
Tadashi termangu di bangku penonton sambil melihat gerak gerik teman-temannya.
"Ah! itu Senpai!" Pekikan dalam hati untung tidak sampai terucap keluar.
Matanya tak sengaja bertemu pandang dengan sosok jangkung yang sedang membawa bola basket menuju ring lawan. Dengan mudah melakukan dunk dan melakukan serangan kilat setelahnya.
Tadashi bertepuk tangan ria, lalu terlihat gugup dengan sikapnya sendiri. Kemudian ia terdiam, kelihatan kikuk dan kembali menonton dalam sunyi.
Suara decitan, sorak sorai dari anak kelas tiga memenuhi gimnasium.
Banyak sekali yang menatap Kei terkagum-kagum. Bukan hanya dirinya. Beberapa perempuan kadang menatapnya lapar, Tadashi pernah jalan di koridor dengan Kei dan betul-betul merasakan hawa lapar gadis-gadis muda.
Andai saja Tadashi tidak sakit pada tahun pertamanya masuk sekolah dasar, ia bisa seangkatan dengan Kei.
Tadashi masih mengikuti gerakan Kei. Peluit ditiup sesaat kemudian, pertanda waktu habis. Si surai hitam bisa melihat timnya Kei menang. Kei meringis dan terlihat menggerutu saat rambutnya diacak habis.
Tadashi sedikit kaget saat mata Kei mendapati matanya yang sedang mengikuti gerakan si pirang.
Senyuman yang simetris begitu tipis dilayangkan Kei. Tadashi hanya bisa menahan napas.
Ah, itu lagi. Siapa namanya tadi? Shoyo, ya?
Tadashi kembali hanya melihat, betapa bercandaan mereka sangat lucu sekali. Shoyo dan Kei bagai minyak dan air sekali lihat. Tidak akan pernah menyatu.
Namun, kalau sudah begini terlihat akur juga ya?
Ah, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing?
——
"Kau kenapa? Ada yang sakit?"
Kei menyeka keringatnya yang tergelincir dari pelipis. Buliran itu hampir turun dan meresap ke bajunya yang sudah penuh keringat. Sungguh pelajaran olahraga di jam terakhir adalah yang terburuk. Kelelahan menyapanya, ditambah pulang harus berjalan kaki.
"T-tidak, kok." Tadashi menggeleng pelan. Perlahan mengeluarkan sebotol isotonik dari tas, Kei menaikkan alisnya.
"Buatku?" Tanya Kei saat Tadashi menyodorkan botol itu. Tadashi mengangguk mantap.
"Kau kelihatan kelelahan sekali tadi, kupikir kau akan minum. Sepertinya kau belum membelinya tadi, jadi kubelikan."
"Wow, adik kelas yang perhatian. Mau kuberi apa untuk hadiah?" Satu sudut bibir Kei naik. Duh, Tadashi agak membenci hal ini, dia jadi kaku sekarang.
Tadashi menggeleng mantap kali ini.
"Tidak ada, cukup antar aku sampai ke rumah saja."
"Memang duluan sampai rumahmu daripada rumahku, bukannya dari kemarin begitu?" Sarkasme terlontar dari bibir asam asin Tsukishima Kei.
"Gomen, Tsukki!" Serunya tanpa ada ekspresi bersalah.
"Apa-apaan itu? Berisik kau tahu."
Kekehan lolos dengan lancar dari mulut Tadashi. Kei mendecih, tapi kemudian menarik bibirnya untuk tersenyum meski tipis sekali. Hampir tak terlihat.
Tadashi berhenti dan mematut dirinya di depan pagar rumah, kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Kei, agak mendongak mengingat dirinya lebih pendek dari si pirang.
"Terima kasih, Tsukki!"
Kei menatap Tadashi dengan wajah yang sulit terdefinisikan. Telapak tangannya ditaruh di kening Tadashi.
Cup.
Kecupan dilayangkan Kei ke kening Tadashi yang terhalang oleh tangannya--Kei nyatanya hanya mengecup punggung tangannya yang berada di kening Tadashi.
"Terima kasih juga minumannya." Sembari menggoyangkan botol kosong Kei berujar dengan lancar. Kemudian dalam satu gerakan cepat, ia melempar botol itu ke tempat sampah. Si pirang berbalik, memasukkan tangan ke saku dan kembali melanjutkan perjalanan ke rumahnya.
Apa maksudnya yang tadi?
-to be continue-
Update kilat, semoga kalian suka(?)
