Hatiku Tetap Dirimu
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Semua chara milik Masashi-sensei dan cerita ini milik saya
Genre: Romance
Pairing: Neji and Tenten
Banyak terdapat typo(s), OOC (jelas),kemungkinan gaje sangat besar.
Hai Rainy balik lagi dengan cerita yang sama.
Hai teman-teman semua
Terima kasih bagi yang sudah membaca dan meriview fic pertama aku ini. Mohon ma'af atas keterlambatannya ya minna-san, keterlambatan yang super lambat ini #dikeroyokreader. Oya ada beberapa bagian yang diedit dari chapter 1, tidak banyak sih cuman yang typo dan yang kurang pas aja hehehehe. Sebenernya dari awal ragu soal marga Tenten, dan saya buat Matshashi eh pas googling kok ada yang nyebut Mitsashi gitu, jadi ganti aja #plakk. By the way thank you juga buat Ran-san #senyummanis. Ada bagian flashback di chapter ini tanpa saya beri keterangan atau tulisan 'flashback'.
Balas review dulu ya :)
Sooya : Hai Sooya-san terima kasih sudah meluangkan waktu membaca dan membaca fic ini . Salam kenal ya. Kalau penasaran yuk ikutin fic ini #promosi. Ini sudah dilanjut semoga suka dengan chapter ini dan juga fic ini dan fic-ficku yang lain #promosi
Marin Choi : Hai Marin-san terima kasih sudah meluangkan waktu membaca dan membaca fic ini .Salam kenal ini sudah dilanjut semoga suka dengan chapter ini dan juga fic ini dan fic-ficku yang lain #promosi
Fycha Hyuura : Hai Fycha terima kasih sudah meluangkan waktu membaca dan membaca fic ini . Salam kenal ya. Sudah dilanjut semoga suka dengan chapter ini dan juga fic ini dan fic-ficku yang lain #promosi. Hehehehe ketemu artis seganteng Neji impian semua orang #blushing #digetokreader
Yang login Rainy balas via PM ya
Nah yuk mulai membaca chapter 2
Rainy Windstar presents:
Hatiku Tetap Dirimu
Chapter 2
"Keiko aku mengapa kau melakukan ini kepadaku? Aku tidak akan melepasmu Keiko, tidak akan pernah. Aku tidak akan membiarkan kau pergi dari sisiku," ucap pemuda bermata lavender kepada seorang gadis di hadapannya. Menggenggam erat sang gadis.
"Tidak Koichi, kau harus membiarkanku pergi. Kita tidak akan pernah bisa bersatu. Sampai kapanpun. Kau harus menerima kenyataan ini," ujar sang gadis dengan air mata yang mengalir deras, sambil berusaha melepaskan genggaman pria yang dicintainya itu.
Genggaman itu terlepas dan gadis cantik itu berlari meninggalkan si laki-laki yang berusaha mengejarnya.
"Keiko..tunggu..."
"Keiko...," panggil laki-laki itu dengan suara parau. Wajahnya yang tampan itu menyiratkan ribuan penderitaan yang mendalam. Dan juga kekecewaan. Pemuda tampan itu jatuh terduduk di jalanan ketika kakinya tak mampu lagi mengejar gadis yang dicintainya itu.
"Cut," tiba-tiba terdengar suara keras dari tempat yang tidak begitu jauh dari pemuda itu. "Kerja yang bagus Neji, semua kita break," lanjutnya.
Pemuda itu mengangguk kepada sang sutradara yang terkenal ramah itu.
"Arigatou," ucapnya singkat. Pemuda itu berjalan santai di tempatnya biasa beristirahat. Ia sengaja menjauh dari kerumunan orang-orang, dan tentu saja menghindari wartawan. Pemuda itu sesekali mendesah lembut. Tampak di raut wajahnya kelelahan yang sangat. Bagaimana tidak, ia harus bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Menjadi seorang aktor bukanlah hal yang gampang. Neji dituntut profesional apapun keadaannya. Seorang aktor dituntut memberikan yang terbaik bagi penggemarnya, apalagi seorang aktor seperti Hyuuga Neji. Aktor yang mumpuni, yang sudah malang melintang di dunia entertainment sejak lama.
Tampan, berbakat, berprestasi, dan juga kaya, gadis mana yang tidak mau menjadi kekasih pemuda bermarga Hyuuga ini? Banyak gosip yang mendera pemuda berambut panjang ini seputar kehidupan asmaranya. Kehidupannya tak jauh dari sorotan kamera. Semua orang ingin tahu berbagai hal menyangkut pewaris Hyuuga Family Corporation ini. Tentu saja, sejak putus dengan kekasihnya, yang juga seorang aktris, beberapa bulan lalu, Neji sering dikaitkan dengan beberapa aktris. Namun itu semua dibantah keras oleh Neji. Banyak yang berspekulasi kalau Neji tidak bisa move on dari sang mantan. Ada juga yang berpendapat kalau Neji masih belum menemukan gadis yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Bahkan ada yang berasumsi kalau Neji bukanlah pemuda normal. Ada-ada saja memang berita yang menyangkut seorang Hyuuga Neji. Termasuk berita mengejutkan tadi pagi, yang membuat Neji bad mood.
Pemuda tampan itu menghela napas pelan. Akhir-akhir ini banyak masalah yang bergelayut di otaknya. Salah satunya adalah sang ayah yang memaksanya meninggalkan profesinya saat ini untuk mengelola perusahaannya. Hal ini sabenarnya wajar saja, karena bagaimanapun Neji adalah putra tunggal Hyuuga Hizashi. Namun dengan tegas Neji mengatakan kalau ia tidak berminat di dunia bisnis. Lagipula sudah ada sepupunya, Hyugga Hinata dan suaminya yang bisa diandalkan di perusahaan itu. Namun tampaknya sang ayah tak mau tahu apapun alasan Neji. Sejujurnya Neji khawatir juga dengan perusahaan mereka. Bagaimanapun juga, secara diam-diam Neji memantau perusahaan keluarganya tanpa sepengetahuan Hizashi. Dan ia juga tahu ada perusahaan rival yang berusaha menjegal perusahaan keluarganya. Neji cukup khawatir akan hal itu. Tidak mustahil kalau perusahaan rival itu menghalalkan segala cara demi mengalahkan usaha turun temurun keluarganya itu.
Neji menghela napas sekali lagi.
"Melihat ekspresi yang kau pajang itu, benar kata pepatah kalau tidak ada manusia di bumi ini yang tidak punya masalah," ucap sebuah suara yang membuyarkan lamunan si pemuda Hyuuga.
"Oh kau Shino, mengagetkanku saja," ucap Neji sambil tersenyum.
"Apa yang sedang kau pikirkan Neji? Kalau kau melihat cermin, pasti kau kaget dengan pantulan wajahmu sendiri yang bagaikan kain kusut itu," komentar Shino.
Neji mendengus.
"Tentu saja banyak hal yang aku pikirkan. Pekerjaan, perusahaan Tousan membuat kepalaku seperti dibakar saja. Dan ditambah itu," tutur pemuda berambut panjang ini, sambil melirik sengit tabloid yang ada di sampingnya.
Shino tertawa sekilas. Ia mengerti kegalauan sahabatnya ini.
"Aku tidak tahu kalau kau punya hubungan diam-diam dengan Nona Mitsashi. Rupanya bukan rumahmu saja, tapi hatimu juga dihias olehnya, eh?"
Neji mendengus sebal. Mana mungkin dia punya hubungan diam-diam dengan Nona Cepol itu, seperti yang dituduhkan Shino dan juga berita-berita itu? Mereka tidak tahu apa-apa soal dirinya dan juga Tenten.
"Kau juga doyan gosip Shino, eh?" balas Neji sambil memamerkan cengirannya.
"Kau membalasku?"
Neji menghela napas dalam.
"Aku heran kenapa bisa ada berita seperti ini? Pasti mereka sudah membututiku dari awal," ucap Neji sambil memandang nanar tabloid gosip nomor satu di Konoha itu. Tabloid mingguan itu memajang gambar Neji dan seorang gadis bercepol serta diberi judul fantastis, "Kekasih Misterius Sang Aktor Tampan". Neji yakin kalau hari ini dan seterusnya seluruh penduduk Jepang akan membicarakan hal ini. Pasti berita ini akan menjadi buah bibir yang heboh diantara para penggemar Neji di seluruh Jepang, bahkan di seluruh dunia. Lihat saja para wartawan yang memenuhi lokasi syuting itu. Sudah dipastikan mulai hari ini Neji akan diburu lebih banyak wartawan, pastinya para penggemar terutama penggemar perempuan juga akan mengejarnya dengan penuh semangat sambil berteriak, "Neji siapa gadis itu, dia tidak pantas untukmu!"
Yah seperti biasa, bila ada gosip seputar asmara Neji, pasti para penggemar itu seperti meneror kehidupan Neji dengan membawa spanduk-spanduk yang bertuliskan hal yang aneh-aneh. Seperti, "Neji jangan pacaran lagi dengan gadis itu" atau "Neji kau hanya ditakdirkan untuk kami" atau "Kami patah hati". Dan sejumlah kalimat-kalimat protes lainnya. Mereka akan dengan setia mangkal di kantor manajemen Neji atau bahkan rumah orang tua Neji. Setidaknya Neji bersyukur mereka tidak tahu atau belum tahu rumahnya. Tapi coret, sekarang mereka tahu berkat berita menyebalkan itu tadi pagi. Padahal itu hanyalah sekedar gosip belaka, kenyataan yang sebenarnya Neji tidak sedang dekat dengan gadis manapun.
Neji punya firasat kalau fangirlsnya akan menyatroni rumahnya mulai hari ini. Ini semua gara-gara berita itu. Bagaimana seseorang membuntutinya tanpa sepengetahuannya? Biasanya Neji selalu bangga dengan instingnya, yang entah bagaimana ia bisa mengetahui kalau ada sesorang yang membuntutinya. Bahkan banyak orang yang mengira kalau dia memiliki indera keenam. Pada kenyataannya, Neji tidak mempunyai kemampuan istimewa itu. Semua itu terbukti saat ini dimana rumah rahasianya diketahui awak media.
"Kau kan seorang public figure Neji, jadi wajarlah kalau mereka ingin tahu segala sesuatu tentangmu," ucap Shino membuyarkan lamunan sesaat Neji.
Mata lavender Neji beralih pada sosok sahabatnya itu.
"Iya, aku juga tahu itu. Tapi kau tidak tahu bagaimana nanti reaksi para penggemar itu Shino. Pasti mereka sudah ada di depan rumahku sekarang ini," kata Neji lesu.
Shino memandang lemah kepada sahabatnya itu. Bagaimanapun juga, sedikit banyak ia mengetahui sepak terjang para penggemar Neji khususnya fangirlsnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Neji tersenyum sekilas, walaupun ia terbukti tidak memiliki indera keenam, ia bisa mengandalkan otaknya yang cerdas itu. Ia mempunyai sebuah jalan rahasia yang bisa menuju ke rumahnya, tanpa diketahui orang lain.
"Kalau itu kau tenang saja Shino, aku sudah punya solusinya."
"Baiklah semoga kau tak habis dimangsa fangirlsmu yang ganas itu," komentar si pria berkacamata hitam ini.
"Hei bagaimanapun mereka juga mendukung karirku secara tidak langsung Shino. Yah…..walaupun kadang mereka berlebihan," tandas Neji.
"Ya..ya..ya aku tahu kau adalah seorang aktor teladan yang selalu menghargai penggemar-penggemarnya," goda Shino. Neji hanya mendengus menanggapi komentar Shino.
"Oya, hampir saja aku lupa tujuanku kemari," lanjut Shino tiba-tiba. Shino mengulurkan sebuah map berwarna hijau kepada Neji. Neji menerimanya sambil melempar pandangan yang seolah berkata"Apa ini?"kepada Shino.
"Itu beberapa catatan kerjasama perusahaan kita. Aku dengar ada rival yang ingin menggagalkan proyek kerjasama kita. Aku tahu sesibuknya kau di dunia entertainment, kau sedikit banyak mengurusi usaha ayahmu juga. Yah..walaupun kau tidak ikut menangani proyek ini."
Neji membuka map itu dan membaca sekilas.
"Tampaknya Akasuna Group sangat berambisi untuk mengalahkan Hyuuga Family Corporation," jelas Shino.
"Iya memang dari dulu Akasuna Group sudah seperti mengukuhkan diri sebagai rival abadi HFC. Dan yang aku dengar, mereka tidak segan-segan menjegal rival mereka," timpal Neji muram.
"Iya aku juga mendengar hal itu. Tapi kau jangan khawatir Neji proyek kita ini akan baik-baik saja. Kita sudah mengantisipasi apapun itu. Dan kau bisa tenang dengan gadis misteriusmu itu," kelakar Shino.
Neji merengut kesal, "Kau semakin hebat saja Shino menangkap gosip itu."
Shino hanya tertawa sekilas, "Baiklah aku harus pergi. Aku hanya ingin memberikan itu saja."
"Secepat itu? Baiklah kalau begitu. Shino, aku minta kau tetap berhati-hati dengan Akasuna Group, aku akan mencoba untuk tetap mengawasi perkembangan proyek kita."
Shino hanya memberikan anggukan sekilas sebelum dia pergi dari hadapan Neji.
Sepeninggalan Shino, Neji mencermati berkas yang ada di tangannya. Ia menarik napas panjang. Tapi entah kenapa pikirannya melayang pada berita heboh yang diterimanya pagi. Ini.
Ia mengingat pertemuan pertamanya dengan serang desainer interior yang direkomendasikan Shino kepadanya beberapa hari yang lalu, setelah sekian lama tidak melihat gadis itu. Neji sempat bingung tentang dekorasi rumahnya, dan Shino merekomendasikan seorang interior desaigner muda kepadanya. Saat itu Neji sempat terkejut ketika Shino menyebut nama orang itu. Mitsashi Tenten. Ia bukanlah orang asing bagi Neji. Dulu Neji dan Tenten pernah bersekolah di sekolah yang sama dengan Tenten. Neji masih ingat betul hal itu, saat itu dia baru saja pindah dari Hokaido ke kota kecil, Konoha. Di sanalah ia bertemu dengan Tenten.
Neji terbayang lagi percakapan dengan gadis itu beberapa hari yang lalu.
"Ini orang yang aku maksud itu Tenten," ucap Shino. Neji hanya memasang wajah datar seperti biasa. Namun sesungguhnya ia merasa terkejut bisa bertatapan langsung dengan gadis itu setelah sekian tahun. Meskipun ia sudah tahu sebelumnya kalau Tenten yang akan menangani dekorasi rumahnya, namun tetap saja terasa aneh saat manik hazel Tenten bersirobok dengan mata lavendernya.
"Kami sudah saling kenal sebelumya," ucap Neji datar.
"Jadi kau sudah menegenalnya Neji? Kau tidak mengtakannya padaku," Shino sedikit memprotes.
"Kami pernah sekolah di SMP yang sama," demi apapun Neji sangat ingat dengan alunan suara gadis itu yang tentu saja masih sama dengan beberapa tahun silam. Tapi bukan Neji namanya kalau ia terbawa suasana, ia tetap memasang wajah datar seperti tidak peduli apapun yang ada di sekitarnya.
Entah perasaannya saja ataukah ini nyata? Baik dirinya maupun gadis yang dihadapannya ini merasa ….entahlah, kikuk, tidak nyaman, apapun itu namanya. Yang jelas ada rasa aneh yang menyelimuti mereka. Ada rasa asing yang menguar di antara mereka, padahal mereka saling mengenal. Walaupun pada kenyataannya mereka lama tidak bertemu, tapi tetap saja perasaan canggung ini aneh.
"Apa kabarmu Neji?" tanya Tenten yang terlihat kikuk. Ia mencoba untuk membuka percakapan dengan Neji.
"Baik," tentu saja jawaban Neji hanya itu. Dari dulu memang Neji terkenal irit bicara. "Kau sendiri?"
"Aku baik."
Hening. Lagi-lagi hening. Entah bagaimana bisa dua orang dengan kemampuan verbal yang baik tidak mampu menciptakan sebuah percakapan, dan mereka lebih memilih untuk berdiam diri. Sebenarnya banyak hal yang bisa mereka bicarakan.
"Kau datang tepat waktu," suara bariton Neji akhirnya memecah keheningan.
Tenten hanya melemparkan pandangan tak mengerti ke arah pemuda dihadapannya itu.
"Waktu itu kau tidak datang kan? Kau mengingkari janjimu sendiri," lanjut Neji dengan suara datar khas miliknya.
Mata tenten membulat. Ia tahu persis apa yang sedang dibicarakan Neji.
"Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu Neji? Bukankah kau sendiri yang mengingkari janjimu," balas Tenten dingin.
Pernyataan Tenten itu tentu saja membuat Hyuuga muda itu terkejut. Namun sebelum mereka membahas lebih lanjut, Shino datang, sehingga mereka mau tidak mau menunda percakapan yang masih mengganjal itu.
Neji memijat pelipisnya. Apa maksud dari Tenten kalau dirinyalah yang mengingkari janji, batin Neji berkata-kata. Apakah selama ini dia sudah salah paham pada gadis cepol itu? Tapi bagaimana mungkin? Buktinya gadis itu tidak datang ke taman yang sudah mereka sepakati beberapa tahun silam. Oh dan jangan lupakan tentang surat itu.
"Neji adegan selanjutnya!" setidaknya teriakan salah satu kru itu membuat Neji melupakan tentang pertemuannya dengan Tenten serta percakapan mereka yang belum selesai, untuk sementara waktu.
***O***
Tenten menatap langit-langit kamarnya. Ia hanya diam dan entah berapa kali menarik napas dan membuangnya. Pikirannya kacau, dan moodnya berantakan. Bagaimana tidak kalau pagi hari yang biasanya ceria dan bersemangat, dimulai dengan gedoran oleh sahabat setianya itu. Bukan cara Ino menggedor pintunya yang menjadikannya bad mood, tapi berita yang dibawa sahabatnya itulah yang membuatnya harus ijin tidak masuk kerja pada atasannya. Berita yang membuat para wartawan berkerumun di depan rumahnya.
Tenten memutar kembali memori saat-saat Ino tergopoh-gopoh menghampirinya dengan menenteng sebuah tabloid gosip yang biasa menjadi bacaan wajib sahabat pirangnya itu. Tenten yang semula hanya mendengus melihat tabloid itu, mendadak matanya membulat dan detak jantungnya bertambah dua kali lipat cepatnya. Semula gadis itu berpikir, kalau Ino akan menunjukkan berita terbaru mengenai aktor idolanya, siapa lagi kalau bukan Hyuuga Neji. Bukan hal baru kalau Ino sangat antusias mengenai segala sesuatu tentang Neji, sejak debut Neji, Ino selalu mengikuti berita tentang aktor tampan itu.
Ternyata benar dugaannya, tapi gambar dirinya yang ada di samping aktor itu membuatnya hampir masuk rumah sakit karena saking kagetnya.
"Kekasih Misterius Sang Aktor Tampan". Begitulah judul yang tercetak tebal di cover tabloid itu.
"Apa ini?" begitulah respon pertama Tenten.
"Kau pacaran dengan Neji?" tanya Ino yang semakin membuat Tenten ingin pingsan.
"Pacaran apanya? Ini..ini apa-apaan?"
Tenten membaca sekilas berita heboh itu. Dia hanya mampu menggelengkan kepalanya saja.
"Bagaimana mereka membuat berita semacam ini?"
"Jadi kalian tidak pacaran?" tanya Ino sekali lagi.
Tenten menoleh kepada sahabat pirangnya itu dengan tatapan sengit. "Tenteu saja tidak, Ino! Kami memang saling kenal sebelumnya, tapi kami tidak pacaran. Lagipula itu semua urusan pekerjaan."
Ino diam sejenak, mencerna perkataan Tenten, "Tunngu dulu, kau bilang kalian sudah saling kenal sebelumnya? Sejak kapan? Kau tak pernah cerita soal itu."
Tenten mendesah pelan. Dia masih pusing dengan berita yang ia baca barusan, Ino malah menambahnya dengan interogasi ala-ala ratu gosip andalannya. Tenten tak habis pikir, bagaimana media bisa memberitakan hal semacam ini. Dia dan Neji? Oh ayolah, bahkan selama beberapa hari ini, ketika mereka bertemu, mereka selalu saling sindir. Tenten tak habis pikir, bagaimana bisa si rambut panjang itu menuduhnya tidak menepati janji. Bukankah Nejilah yang tidak datang waktu itu, bahkan Tenten menunggunya sampai larut malam. Kalau saja bukan ibunya yang menjemput, mungkin Tenten akan tetap berada di taman itu sampai pagi. Lalu bagaimana mungkin dia yang dikatakan tidak menepati janji? Padahal waktu itu ada satu hal penting yang ingin dikatakannya kepada Neji. Setidaknya ia ingin berpamitan kepada Neji sebelum ia pindah ke Tokyo. Namu apalah daya pemuda itu tidak datang, dan yang lebih parahnya lagi setelah mereka bertemu kembali, pemuda itu tidak mengucapkan kata ma'af sedikitpun. Pemuda itu malah menuduhnya mengingkari janji itu. Ditambah lagi sekarang ada berita ngawur tentang dia dan Neji.
Tenten melihat sekali lagi salah satu foto di tabloid itu. Memang kalau dilihat sekilas, dia dan Neji tampak mesra di foto itu. Mereka seperti akrab dan dekat. Kalau mau menyebutnya mereka terlihat seperti saling menyender satu sama lain. Tenten mencibir sesaat ketika dia ingat dengan jelas bagaimana kejadian itu yang sebenarnya. Waktu itu Neji mengatakan sesuatu, dia berbisik, "Kau tidak berniat meminta ma'af kepadaku Nona Mitsashi?" Kedua manik hazelnya membulat seketika. Apa yang sudah dimakan Neji, sehingga ia bisa bicara seperti itu? Minta ma'af padanya? Yang benar saja, dialah seharusnya yang minta ma'af kepada Tenten yang sudah menunggunya berjam-jam di tempat itu.
"Apa aku tidak salah dengar Tuan Hyuuga? Seharusnya kaulah yang minta ma'af kepadaku. Kau yang mengingkari janji," tukas Tenten tajam.
"Kenapa kau bersikeras kalau aku yang mengingkari janji?" bisik tajam Neji.
"Dan lalu kenapa kau yang bersikeras kalau akulah yang megingkari janji?" balas Tenten tak kalah tajam.
Namun sebelum mereka menyelesaikan percakapan itu, atau lebih tepatnya perdebatan, para pekerja dari kantor Tenten sudah melirik kepada mereka berdua. Rupanya pembicaraan mereka menarik perhatian. Neji dan Tenten yang sadar akan hal itu, segera menjauh satu sama lain.
Kejadian menyebalkan itu membuahkan hasil yang lebih menyebalkan lagi.
"Ten, kau belum menjawab pertanyaanku," ucapan Ino bagaikan lonceng yang membangunkan Tenten dari ingatan menyebalkannya bersama Neji. Tenten memasang wajah tanya kepada Ino.
"Sejak kapan kau kenal dengan Neji? Setahuku kau bukan fans fanatik Neji," selidik Ino.
Tenten menutup tabloid itu dan memandang Ino, "Kami satu sekolah waktu SMP."
"Apa? Kau tak pernah bercerita. Atau jangan-jangan dia itu cinta pertamamu ya?"
Tenten mendengus, "Cinta pertama apa? Dia hanya teman Ino. Lagipula kau juga tidak pernah bertanya."
Ino mencibir. Kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke jendela.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Lihatlah kemari Ten, para wartawan sudah berkerumun di depan rumahmu."
Tenten spontan bangkit dari duduknya dan menyusul Ino. Hembusan napas keras keluar dari mulut gadis bercepol itu saat melihat kerumunan di luar pagar rumahnya. 'Hebat! Mereka sampai tahu dimana aku tinggal,' batin Tenten.
"Kau tentu tidak bisa keluar rumah tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan wartawan-wartawan itu kan? Aku tadi sampai lewat pintu belakang."
'Benar juga, mereka pasti tidak akan membiarkanku pergi begitu saja tanpa memberondongku dengan pertanyaan seputar Neji,' batin Tenten. Ia merasa menjadi seorang selebriti dadakan yang tidak membuatnya senang sama sekali. Mau tidak mau akhirnya Tenten menelepon Kakashi, dan bosnya itu sudah tahu soal berita tentang dirinya dan Neji.
Kakashi mengijinkan Tenten tidak masuk ke kantor dan menurut Kakashi di kantor juga banyak wartawan yang datang menanyakan soal Tenten. Akhirnya di sinilah Tenten, berbaring di atas kasur empuknya dengan segala macam pikiran yang berseliweran di otaknya dibumbui mood yang berantakan. Benar-benar hari yang melelahkan.
Beberapa kali Kakashi dan juga Ino meneleponnya, menanyakan kabarnya. Mereka juga berjanji tidak akan mengatakan perihal apapun tentang Tenten. Tenten sendiri bingung bagaimana keadaannya sekarang ini. Dibilang baik ya memang dia baik-baik saja, toh dia sehat kan? Tapi mood berantakan inilah yang membuatnya tidak bersemangat. Tanpa menjadi seorang cenayangngpun Tenten tahu, kalau beberapa hari ke depan wartawan-wartawan itu akan membuntutinya terus. Ia harus memikirkan cara bagaimana menghindari mereka. Tidak mungkin dia terus-terusan meninggalkan pekerjaannya itu. Serta jangan sampai lupa bagaimana ia harus menghadapi para penggemar Neji, terutama para penggemar wanitanya. Ia tahu persis bagaimana ulah fangirls Neji yang ganas itu.
Deringan ponselnya memaksa Tenten bangkit dari tempat tidurnya. Ia menaruh benda itu di sofa begitu saja setelah menerima nomor telepon yang tidak dikenal. Dari wartawan tentunya. Selebriti dadakan eh?
Dahi Tenten mengernyit ketika sebuah nama tertera di layar ponselnya
"Neji," gumam Tenten. Memang beberapa hari lalu mereka saling tukar nomor demi kelancaran pekerjaan Tenten.
"Halo," sapa Tenten dengan agak malas.
"Apakah kau punya waktu? Bisakah kau ke rumahku sekarang?" ucap Neji to the point tanpa embel-embel sedikit basa-basi. Dengan refleks Tenten menjauhkan ponselnya dari telinganya dan memandang remeh benda itu. Tidak bisakah sedikit saja lawan bicaranya ini berbasa-basi? Menyuruh ke rumahnya? Apa dia sudah gila? Wartawan saja berkerumun di depan rumah Tenten, yang pasti lebih banyak lagi di rumah Neji.
"Aku tahu yang kau pikirkan. Tapi kita tidak mungkin bertemu di tempat lain, kau tahu sendiri alasannya. Jadi kau bisa masuk ke jalan rahasia kalau kau ke rumahku, kau tahu kan? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
Tenten masih terdiam. Ya memang dia tahu jalan rahasia yang dimaksud Neji. Tapi ia juga harus memikirkan cara keluar dari rumahnya sendiri.
"Kau ingin membicarakan soal apa?" tanya Tenten.
"Setelah kau datang akan aku beri tahu," ucap Nejidan bunyi tut itu menandakan kalau Neji sudah memutuskan sambungan telepon.
Tenten hanya melirik sebal ponselnya.
"Tidak sopan."
To be continued…
Akhirnya bisa update chapter 2 ini setelah sekian lama hehehe. Bagaimana readers? Dah ada kemajuan belum di chapter 2 ini? Konfliknya mulai kelihatan di chapter ini dan semakin kelihatan di chapter-chapter selanjutnya, Insya Allah. Semoga readers nggak bosan dan tetap menunggu kelanjutannya ya .
Thank you.
