Dialah sang legenda

Merekalah sang cerita masa lalu

Dia yang memegang pisau takdir

Dia yang memegang tombak kebebasan, dan...

Dia yang memegang pedang keadilan


Gundam SEED Destiny fanfic

Four Chapter Edition and New Revision for More Extra Chapter

Tales of Minerva: Three Knights of the Sky

Chapter 2: Kira and Lacus

Disclaimer: GSD was owned by Sunrise


"Shin... bangun... hei..." suara Luna membahana di se-antero ruangan medis kerajaan. Entah mengapa Shin jadi bingung sendiri dengan apa yang terjadi kepada dirinya. Sepenglihatannya melihat gadis itu sedang merawat beberapa luka tusukan yang terbuka di tubuh Shin.

"Luna... apa yang terjadi...? Tanya pemuda itu sambil menghentikan tangan sang putri yang sedang membasuh lukanya.

"A... aku tak tahu... tiba-tiba beberapa anak panah melesat kearah kita... dan refleks kau melindungiku..."

"Lalu...?"

"Anak panah itu tak juga berhenti... kau terjatuh karena lukamu... dan darah mulai tumpah di lantai kamarku..."

"Bagaimana denganmu?" Luna hanya menunjukkan sebuah luka yang sudah diperban pada lengan kirinya.

"Aku... aku hanya menangkis beberapa anak panah dengan pisaumu..." Shin tercengang mendengar penjelasan Luna yang terakhir. Bayangkan saja jika ada seorang putri, ingin dibunuh, dan ketika anak panah itu melesat cepat kearahnya, dia menghindar dan menangkis anak panah hanya dengan sebilah pisau!

"He... hei... kau hebat... aku tak menyangka kau bisa menangkis anak panah itu..."

"Diam-diam saja ya... aku selama ini berlatih menggunakan pisau dengan telaten... ayah tak tahu itu begitu juga dengan ibunda..."

"Heh... kau tetap Luna yang sama ya..." Didalam ruangan itu mereka berdua tersenyum riang sambil bercerita tentang apa yang mereka lakukan selama 5 tahun terpisah. Tapi, kita tak tahu dengan apa yang terjadi di sisi lain cerita. Maka itu kita langsung saja melihat dua orang yang lainnya.


"Ugh... kurang ajar sekali putri itu... kenapa dia bisa menangkis dan membalikkan anak panah itu tepat ke tanganku!" Gumam seorang pemuda dengan mata hijaunya. Didepannya berdiri seorang lagi dengan mata ungunya yang tajam dan dingin. Seolah-olah orang itu menatap tanpa perasaan, bahkan kepada teman atau rekan kerjanya. Tapi, dibalik itu semua dia sebenarnya adalah orang yang riang dan ramah.

"Sudahlah Athrun... kau juga harusnya hati-hati... kini Shin sudah tertangkap dan hanya menyisakan kita berdua..."

"Apa yang harus kita lakukan?" Pemuda dengan mata "amethyst" itu kemudian berjalan hilir mudik di depan Athrun yang menggengam tangan kanannya.

"Biar aku yang mengurusnya... kau seharusnya beristirahat..."

"Apa tidak menjadi masalah buatmu?" Tanya Athrun cemas. Pemuda itu diam dan mengangguk, membiarkan dirinya menjadi sebuah misteri bagi Athrun.

"Kemudian... apa rencanamu yang selanjutnya..."

"Kalian sudah melakukan tugas dengan baik... malam ini biar aku yang menyelesaikan semuanya..."

"Tapi..." Belum selesai Athrun bicara, pemuda itu telah menghilang dari hadapannya. Entah apa yang ada dipikiran pemuda bermata amethyst itu. Tapi yang jelas sesuatu telah mendorongnya untuk melakukan hal berdosa itu. Sedangkan Athrun, ia hanya tersenyum dan kembali berjalan menuju tempat ia bernaung.


Malam itu juga, pemuda bermata ungu itu sampai disebuah menara istana yang bertahtakan sebuah lampu bohlam raksasa yang beralih fungsi sebagai lampu tertinggi di ibukota Minerva.

"Sekarang dimana kamarnya?" Dia memandangi sebentar diseputaran istana dan menemukan sebuah kamar dengan lampu menyala yang berwarna kuning kemerahan. Bergegas, dia melompat dan terus melompat hingga akhirnya sampai diterasnya.

"Sekarang..." Dia berjalan menyusuri kamar itu dengan tombaknya secara diam-diam, sampai ketika...

"Oh... apa ada orang dibelakangku?" Pemuda itu spontan terkejut dengan pernyataan yang disampaikan seorang gadis berambut merah jambu. Ia duduk disana sendirian, didepan sebuah lentera yang terang sambil memegang secarik kertas kecil.

"Ya..."

"Kalau begitu... bisa kau kemari sebentar... tampaknya kau adalah orang yang baik..." Pemuda itu berjalan setelah disuruh oleh sang gadis. Ia terus berjalan dengan menyeret tombaknya dan sampailah ia dibelakang sang gadis. Tapi ada satu yang membebani pikirannya, apa yang ia maksud sebagai "orang yang baik" ?

"Aku sudah ada dibelakangmu... sekarang bersiap... ah!" Betapa terkejutnya pemuda itu ketika tiba-tiba gadis itu berbalik dan memeluknya tanpa sebab yang jelas. Ia kembali menarik tombaknya kebelakang dan memasang raut wajah penasaran. Seolah-olah ia berkata "Ada apa ini?". Kemudian gadis tadi mengusap air mata yang membekas dimatanya dan melepaskan pelukan itu. Perlahan tangannya yang halus itu mengusap wajah sang pemuda, pelan-pelan ia rasakan tekstur wajah itu dan seketika berhenti ketika sampai di rambut.

"Katakan... siapa namamu?"

"Ugh... namaku Kira Yamato..."

"Kira... Yamato... nama yang bagus..." Gadis itu membalikkan tubuhnya dengan menegakkan kepalanya, berjalan menuju jendela dengan meraba benda yang ia lalui. Kira Yamato, begitulah pemuda itu dipanggil, mulai merasakan sesuatu yang salah dengan gadis ini.

"Mengapa... kau berjalan seperti itu...?" Tanya Kira penasaran dengan keadaan yang kini ia rasakan bersama gadis tersebut.

"Aku... aku buta..." Jawab gadis itu dengan pelan yang diiringi senyumannya. Apa yang sebenarnya terjadi membuat Kira shock. Ternyata gadis yang akan ia bunuh adalah seorang perempuan yang kehilangan penglihatannya kepada dunia.

"Hei... kau serius?"

"Ya... seorang putri yang buta... juga kesepian... bahkan ketika aku dijodohkan... tak ada seorang pangeranpun yang ingin menikahiku..."

"Katakan... siapa namamu?"

"Namaku... adalah Lacus Minervia... putri sulung raja Gilbert dan ratu Talia... dan aku juga... seorang conjurer..." Ujarnya lembut dengan sedikit nada yang lirih didalamnya. Kira yang semula melihatnya dengan tatapan membunuh sekarang telah menjadi Kira dengan sifat ibanya. Entah merasa kasihan atau apa, dia kemudian berjalan kearah gadis itu dan mengusap kepalanya dengan pelan. Menggeser beberapa poni yang menutupi dahinya, lalu menjempitnya dengan penjepit rambut berwarna kuning emas.

"Seorang conjurer...? Kau pasti terlalu hebat untuk ukuran seorang putri..."

"Conjurer... sangat sulit bagiku untuk menerima diriku sebagai conjurer..."

"Apa kau senang dengan kehidupanmu...?"

"Ya, aku senang... tapi, aku ingin sekali melihat bagaimana indahnya dunia dengan mata ini... bukan dengan apa yang orang-orang katakan tentangnya..."

"Kalau begitu... apa yang dapat aku lakukan agar bisa menolongmu melihat dunia?" Tanya Kira. Gadis itu hanya tersenyum dan membuka mulutnya.

"Aku... hanya butuh seseorang yang mampu memperlihatkan... nikmatnya terang cahaya matahari... dan dia selalu berdiri tegar disampingku untuk melihat, betapa senangnya aku akan itu." Dan itulah jawabannya. Kira akhirnya tersenyum dan berbalik mengambil tombaknya. Kemudian ia kembali menuju teras jendela, dimana Lacus berdiri menikmati angin malam di kerajaannya yang damai.

"Aku yakin... orang itu pasti... akan hadir didalam hidupmu..."

"Hmm... benarkah itu?"

"Ya..." Ujar suaranya yang kian lama kian menghilang dihempaskan angin. Kini Lacus berdiri sendiri diluar kamarnya, menikmati sejuknya angin malam yang menampar tiap helai rambutnya. Dingin, tentu saja, tetapi dingin itu dapat iya hiraukan jauh-jauh, karena saat ini apa yang ada di pikiran putri itu adalah seorang pemuda bernama, Kira Yamato...

"Senang mengenalmu... Kira Yamato...


Chapter 2: Kira and Lacus

-Selesai-


Author's note: Chap 2 update... Kira dan Lacus bertemu juga akhirnya. Terkadang mikirin nih chap susah bener, berhubung mereka berdua adalah protagonis utamanya ==a
Yah, pokoknya salam buat semua... ditunggu reviewnya...