~ Say, I Love You ~

..An Alternate Universe Fanfiction..

..TwoShots Story..

Cast : HOMIN (Yunho x Changmin)

Cameo : Kyungsoo, Yifan

Warn : YAOI, OOC, Typo's, Don't Like? Don't Read!

..Story 2-A..

o

oo

ooo

oo

o

Kyungsoo hanya mampu terdiam di depan ruang ICU dimana di dalamnya Yunho tengah ditangani para pihak medis. Ia seperti mendadak bisu hingga tak mampu merangkai sepatah kata pun.

Hingga akhirnya Changmin keluar dari ruang sebelah dimana baru saja ia mendonorkan darahnya untuk Yunho yang memang kehilangan banyak darah. Entah beruntung atau memang takdir, darah Changmin dan Yunho bergolongan sama.

Melihat Kyungsoo yang terdiam membisu, dengan tertatih karena masih lemas, Changmin yang sedikit terisak menghampiri Kyungsoo. Namun belum sampai sejarak langkahnya dengan Kyungsoo, dokter dari dalam ruang ICU keluar.

"Di sini ada yang bernama Kyungsoo?"

DEG!

Kini ganti Changmin yang membeku di tempatnya, sementara Kyungsoo menatap terkejut ke arah Changmin. Ia terkejut setengah mati, di saat kritis seperti ini kenapa bukan Changmin, yang notabene istri sah Yunho, yang dipanggil? Kenapa Kyungsoo?

"Pasien memanggil-manggil nama Kyungsoo dan bisa saja mukjizat terjadi jika yang bersangkutan menemani pasien.."

Tes!

.

.

.

Apa Yunho hyung benar-benar sudah melupakanku?

Apa Kyungsoo begitu berarti untuknya?

Apa sudah tidak ada lagi harapan untukku..

Bersamamu?

.

.

.

"S.. saya K-kyungsoo, Dok"

Bertepatan dengan pengakuan Kyungsoo, Changmin terjatuh lemas ke lantai.

Dan sepeninggal Kyungsoo memasuki ruang ICU, beberapa teman Kyungsoo mulai berdatangan. Mereka bermaksud menghibur Kyungsoo yang menghubungi mereka bahwa kekasihnya kecelakaan. Tapi yang mereka lihat malah Changmin yang menangis tersedu-sedu di depan ruang ICU.

"Changmin-ssi! Sedang apa kau di sini?!" tanya si rambut cepak.

"Hei Changmin-ssi! Bisa tidak sih kau tidak mengganggu hubungan Kyungsoo dan Yunho hyung?!" kini giliran yang berambut merah yang berbicara.

"Seharusnya kau sadar diri Changmin-ssi! Yunho hyung itu sangat mencintai Kyungsoo! Buat apa kau mengejar-ngejar Yunho hyung?! Sampai harus ke rumah sakit seperti ini?! Percuma saja! Karena bagi Yunho hyung tidak ada yang lain selain Kyungsoo! Jadi lebih baik kau pergi dari sini!" maki pria manis bermata sipit panjang lebar.

Dan Changmin pun akhirnya bangkit berdiri dengan bersusah payah. Karena memang kondisi Changmin masih lemah. Seharian ini Changmin tidak makan. Mengurung diri di kamar memikirkan permintaan Kyungsoo untuk melepaskan Yunho tadi pagi. Dan ditambah, baru saja ia mendonorkan darahnya untuk Yunho.

Maka dengan terisak dalam tangis tersedu-sedunya, Changmin pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan berat hati.

.

.

.

Aku titipkan Yunho hyung padamu, Kyungsoo

Jika kepergianku adalah yang terbaik, maka aku akan merelakannya..

Tapi jangan pernah sekalipun berpikir,

Aku akan berhenti mencintainya..

Karena sampai kapanpun,

Aku akan menjaga janjiku pada Yunho hyung..

o

oo

ooo

"K-Kyungsoo.. Aa-Aku minta maaf.. A-aku menc- cintai.. nya.."

Kyungsoo masih berdiri membisu di samping Yunho yang kini tak sadarkan diri lagi di dalam ruang ICU.

Setelah berbisik lirih, Yunho kini memejamkan matanya dengan rapat.

Dan Kyungsoo benar-benar tak mengerti, siapa yang sebenarnya Yunho cintai? Walau kini ia sudah tahu pasti, bahwa Yunho memanggil namanya hanya untuk meminta maaf padanya. Bukan karena Kyungsoo adalah orang yang sangat berarti bagi Yunho. Dan andai saja Changmin mengetahui kebenaran akan hal ini..

o

oo

ooo

Dengan kondisi tubuh yang sangat lemah, Changmin menyusuri koridor rumah sakit dengan piyama tipisnya yang berhasil dimasuki oleh angin dingin yang berhembus. Membuat Changmin mendekap sendiri tubuhnya yang menggigil dengan kepala yang serasa berputar-putar.

Kilasan-kilasan memorinya akan masa lalu kini tiba-tiba kembali menghantui pikirannya. Bagaimana kebersamaannya dengan Yunho di masa lalu.. Bagaimana janji-janji di masa lalu itu terbuat.. Hingga kejadian-kejadian di masa lalunya kini hanya tinggal kenangan belaka.

Jika memang kepergian Changmin adalah yang terbaik, maka Changmin rela melepaskan Yunho dan mengingkari janjinya di masa kecil dulu.

Walau hatinya kini hancur berkeping-keping, Changmin tetap berusaha mengikhlaskan kehadiran Kyungsoo di samping Yunho.

Brukk!

.

.

.

Di depan rumah sakit yang sepi saat tengah malam di awal musim semi.. Tubuh Changmin yang lemah, akhirnya limbung di tepi jalan..

"Changdollah!"

Hingga seseorang tanpa sengaja menemukannya dan menggendongnya dengan lembut dan hati-hati.

Katakanlah ini hanya angan semu Changmin belaka.. Karena di pertengahan alam sadarnya, Changmin justru mengharapkan sekaliii saja.. Ia menginginkan Yunho yang kali ini menggendongnya.. Ia menginginkan Yunho di sampingnya.. Ia menginginkan Yunho yang kini tengah menatapnya khawatir dan memberikan sejuta perhatian untuknya.

o

oo

ooo

"Yunho hyuu~ng.."

Changmin kecil berlari dengan riang membawa sekotak besar di tangannya dan melambai-lambaikan sebuah kertas gambar di tangannya yang lain.

"Changdollah, jangan berlari seperti itu!" Yunho memperingatkan Changmin yang menghampirinya di taman bermain.

"Selamat ulang tahun, Yunho hyung!"

Cup~

Setelah mengecup singkat pipi Yunho, Changmin tersenyum manis dan memperlihatkan gambar di tangannya.

"Apa ini?" tanya Yunho penasaran saat melihat gambar dua orang lelaki yang berpegangan tangan dan sebuah anjing di tengah-tengah mereka.

"Ini aku, Yunho hyung, dan Taepoong!" ucap Changmin sambil tersenyum ceria. Menularkan sebuah senyuman hangat di bibir tipis Yunho.

"Kita seperti keluarga bahagia di gambar ini.."

Blush!

Ucapan Yunho baru saja, membuat Changmin merona memikirkan bahwa ia akan berkeluarga dengan Yunho dewasa nanti.

"Hu-um!" Changmin mengangguk cepat "..Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Yunho hyung.. Apapun yang terjadi!"

Cup~

Kini giliran Yunho yang mengecup pipi bulat Changmin namun dalam tempo yang cukup lama.

"S-sa.. r-ra-ng.." Yunho tampak gugup dan terbata hingga tak sanggup melanjutkan perkataannya.

o

oo

ooo

"Apa yang terjadi denganmu, Changdollah? Kenapa keadaanmu seperti ini?" lirih seorang pemuda yang menolong Changmin dan membawanya pulang ke kediamannya yang cukup mewah.

Pemuda yang kini duduk di tepi ranjang itu, tengah menatap khawatir pada Changmin yang menangis dalam tidurnya. Berulang kali ia mencoba menghapus jejak air mata di pipi Changmin, namun air mata tetap saja mengalir dari mata indah yang terkatup itu.

Karena dalam alam bawah sadarnya, Changmin baru menyadari satu hal..

Yunho tak pernah bisa mengucap kata cinta untuknya..

"Hei Changdollah manis yang cerewet.. Apa kau lupa pada Pangeran Es yang tampan ini?" pemuda itu membelai lembut surai almond milik Changmin.

"Bangunlah.. Aku akan membantumu untuk menjemput kebahagiaanmu.." lirih pemuda itu dengan tulus.

Walau Changmin tampak enggan membuka matanya, tapi ia bisa mendengar semua yang diucapkan oleh pemuda tersebut.

o

oo

ooo

"Akhirnya Anda siuman.." Sang dokter menyambut Yunho dengan senyuman hangatnya. "Selamat, Anda telah melewati masa kritis.."

"Dimana ini?" Yunho merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat akan menggerakkan tangan dan kakinya.

"Tenang, jangan banyak bergerak dulu.. Anda masih harus banyak istirahat.. Anda di rumah sakit sekarang.." jawab sang dokter dengan tenang. "Biar saya panggilkan dulu keluarga Anda.."

Sang dokter yang memang dalam jadwal memeriksa Yunho, kini keluar ruangan setelah selesai dengan pemeriksaannya. Karena selama pemeriksaan, keluarga pasien memang harus menunggu di luar.

Setelah keluarga Yunho masuk, sepasang mata musang itu melirik satu persatu orang yang memasuki ruangannya.

Mulai dari Appanya, Eommanya, dan terakhir..

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo?

.

.

.

Yunho sontak memendarkan penglihatannya ke segala arah demi mendapati seseorang yang ia inginkan kehadirannya di sana.

Sosok dengan kehangatan dan keceriaan yang menghiasi hari-harinya.

Sosok yang meski telah resmi menyandang status istrinya,

Tapi telah ia abaikan selama ini..

"Dimana Changmin?"

Pertanyaan Yunho sontak membuat ketiga kepala pengunjung kamar itu terkejut tak percaya.

Kyungsoo yang tersenyum miris.

Appa dan Eommanya yang berwajah murka.

"Untuk apa kau mencarinya? Tidak cukup kau menyiksanya selama ini?" tanya Sang Eomma sambil menahan isak tangisnya.

"Biar kami yang urus perceraian kalian!"

"!"

Pernyataan dari sang Appa membuat Kyungsoo dan Yunho membelalakkan mata mereka.

"Changmin sudah cerita semuanya pada kami para orang tua.. Dan ia rela mengabulkan permintaan Kyungsoo untuk melepaskanmu agar kalian hidup bahagia.." ucap sang Eomma dengan nada suara yang gemetar.

Sementara Yunho yang mendengar penjelasan Eommanya, sontak menghadapkan matanya pada Kyungsoo yang juga terkejut menatapnya. "Untuk apa kau mencampuri rumah tanggaku?"

Pertanyaan dengan nada dingin itu meluncur dengan lancarnya dari mulut Yunho yang tertuju pada Kyungsoo.

"Demi Tuhan! Eomma, Appa.. Sekalipun aku tidak pernah meminta Changmin untuk meninggalkanku! Aku.. A-Aku.."

'Mencintainya...' sambung Yunho dalam hati. Namun lagi-lagi Yunho mencoba ingkar pada perasaannya sendiri. Karena ia merasa ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya hingga tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

"Sudah terlambat, Yunho.. Changmin sudah pergi! Kami pun tak tahu ada dimana ia sekarang.. Dan ini.." sang Appa membawakan sebuah map ke hadapan Yunho.

"Itu surat perceraian kalian.. Silahkan tanda tangani!"

Belum genap satu jam sejak ia sadar dari masa kritisnya, Yunho sudah diberi beban bertubi-tubi di kepalanya. Membuatnya lelah dan memilih memejamkan matanya erat-erat sambil meresapi tetes demi tetes air mata yang untuk pertama kali Kyungsoo lihat, berhasil membasahi rahang tegas paras tampan itu.

o

oo

ooo

"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Yunho bertanya sambil memejamkan matanya dengan kepala yang tertunduk.

Kini ia dan Kyungsoo duduk berdampingan dengan Yunho yang duduk di kursi roda dan Kyungsoo yang duduk di bangku taman rumah sakit.

" Satu bulan.. Satu bulan Yunho hyung koma.."

"Apa selama satu bulan itu, Changmin pernah menjengukku?"

Pertanyaan Yunho sungguh membuat hati Kyungsoo hancur berkeping-keping. Karena Kyungsoo tahu betul sosok Yunho yang tak pernah mengucap kata cinta, hingga ia menyadari apa arti di balik pertanyaan Yunho. Sosok di sampingnya saat ini, pasti tengah merindukan kehadiran Changmin.

"Tidak.."

Dan Kyungsoo dapat melihat dengan jelas wajah kecewa Yunho yang menatapnya dengan sendu. Seolah meminta jawaban dari Kyungsoo yang lebih baik dari sebelumnya.

"Changmin sunbae tidak pernah menjengukmu.. Tapi.."

Yunho yang baru saja menundukkan kembali wajahnya, kini menatap Kyungsoo lagi untuk mengetahui kelanjutan kalimat Kyungsoo.

"Changmin sunbae yang menolongmu saat kecelakaan itu terjadi.. Ia yang meminta bantuan untuk membawamu ke rumah sakit terdekat sesegera mungkin.. Bahkan Changmin sunbae yang mendonorkan darahnya karena saat itu Yunho hyung banyak kehilangan darah.."

DEG!

Rasanya, jantung Yunho ingin berhenti berdetak saat mengetahui kenyataan ini. Sungguh, ia merasa tak pantas mendapatkan semua pertolongan Changmin untuknya.

Kenapa? Kenapa Changmin benar-benar mirip malaikat? Berulang kali Yunho menyakitinya, tapi Changmin tak pernah membalasnya sedikit pun.. Bahkan tanpa berfikir ulang, Changmin selalu memberikan segala bentuk perhatian dan kasih sayang untuknya.. Dan menyelamatkan nyawanya dengan sepenuh hati.

"Jadi.. diantara aku, Changdollah, dan Changmin sunbae.. Yunho hyung memilih Changmin sunbae?" tanya Kyungsoo setelah hening cukup lama menyertai keduanya.

"Maaf.. Maafkan aku.." ucap Yunho dengan lemah tanpa berani menatap Kyungsoo yang jelas kecewa terhadapnya.

"Sejak awal, kau hanyalah bayang-bayang Changdollah untukku.. Dan seiring menghilangnya Changdollah, aku seakan melupakannya.. Baik kau maupun Changdollah, semuanya terlihat samar bagiku.. Maaf.."

Yunho akhirnya memandang Kyungsoo dengan tulus saat mengucapkan satu kata terakhirnya pada Kyungsoo.

"Tapi Changmin?.."

Yunho menengadahkan wajahnya menatap langit senja yang berwarna jingga.

"Sejak awal, kehadirannya sudah jelas di sisiku.. Sejak awal, ia sah menjadi istriku.. Sejak awal.. Bukan dia yang menjadi milikku.. Tapi.. Akulah yang menjadi miliknya.. Hingga sekarang saat ia pergi, hatiku ikut pergi bersamanya.."

Kyungsoo tak mampu bersuara lagi setelahnya. Karena walaupun Yunho tidak mengungkapkan secara langsung, tapi Kyungsoo mengerti akan pernyataan cinta yang tersirat di dalamnya. Dan bagi Kyungsoo, ia akan bahagia jika melihat Yunho bahagia.

Namun seketika ia mengingat satu hal..

"Apa Yunho hyung pernah membandingkan Changmin sunbae dengan Changdollah?"

Yunho menarik wajahnya untuk menatap Kyungsoo dengan kernyitan di dahinya.

Bingung. Jelas Yunho bingung, untuk apa ia membandingkan Changmin dengan Changdollah?

"Karena saat aku bercerita tentang Yunho hyung yang memendam cinta pertama pada Changdollah, Changmin sunbae tampak begitu terkejut. Seperti... Ia adalah Changdollah yang sebenarnya.."

DEG!

Yunho sontak membeku di tempatnya.

Rupanya, keterkejutan Changmin saat Kyungsoo bercerita, tak luput dari Kyungsoo yang sempat melirik ke arah Changmin. Hingga membuat Kyungsoo curiga terhadap Changmin.

Sementara Yunho?

Ia seolah mendapatkan hantaman besar di kepalanya saat ini ketika berusaha mengulang memorinya saat bersama Changmin.

Changmin yang bermata bulat.. Changmin dengan pipi berisi.. Changmin yang hobi memasak.. Changmin yang ceria.. Changmin yang hangat dan selalu tersenyum manis padanya.

Hingga Changmin yang hafal apa yang disuka dan tidak ia sukai.

Bodoh!

Yunho baru sadar semua itu sekarang. Bisa saja dulu tubuh Changdollah memang mungil dan sekarang ia bertumbuh dengan baik hingga menjadi setinggi sekarang.

Tapi yang tak mungkin bisa Yunho pungkiri..

Darimana Changmin tahu apa yang ia suka dan tidak suka? Karena orangtuanya sendiri pun tidak terlalu mengetahui Yunho karena memang Yunho tidak dekat dengan keluarganya.

Satu-satunya orang yang sangat tahu dan mengerti Yunho, adalah..

.

.

.

"Changdollah.." gumam Yunho tanpa sadar dengan guratan penyesalan yang mendalam di wajahnya.

Selama tiga tahun pernikahan mereka..

Changmin yang selalu memasakkan makanan kesukaannya, tapi Yunho tak pernah menyentuh masakannya.

Changmin yang selalu ceria dan tersenyum hangat untuknya, tapi Yunho selalu membuatnya kecewa dan menangis setiap hari.

Changmin yang selalu memberikan sejuta perhatian dan kasih sayang untuknya, tapi Yunho selalu mengacuhkannya dan menghempaskannya ke dasar jurang.

o

oo

ooo

"Changdollah aman bersamaku, Paman.."

"Paman percaya padamu, Jia Heng.."

Tak lama, percakapan melalui sambungan telepon itu pun terputus bertepatan dengan Changmin yang kini sudah siap dengan setelan bepergiannya.

"Daddy-mu baru saja meneleponku.."

"Benarkah?! Lalu apa katanya? Apa Daddy merindukanku? Apa Mommy titip salam untukku juga?"

Changmin tampak antusias dengan bersemangat menghampiri sosok pemuda yang kini tengah duduk santai di ruang tamunya. Dan tak lama, Changmin sudah menduduki sofa di samping pemuda berambut pirang itu.

"Hm.. Mereka merindukanmu.. Mereka menanyakan kapan kau akan pulang?"

Mendengar pertanyaan dari pria di sampingnya, kini Changmin mendadak sendu dan terlihat murung.

"Hei.. Apa yang membuatmu ragu untuk pulang?" tanya pria berambut pirang itu sambil mengusap rambut Changmin dengan lembut.

"Kau tahu, Yifan? Aku... masih belum siap jika bertemu dengan-nya.."

Mendengar jawaban Changmin, pria yang bernama Yifan itu kini menggenggam tangan Changmin dengan lembut.

"Kau hanya pulang untuk bertemu orangtuamu yang sangat khawatir dengan keadaanmu.. Bukan untuk bertemu dengan pria brengsek itu!"

"Dia tidak brengsek, Yifan!" sanggah Changmin dengan keras.

"Ya ya ya~ terserah kau saja.."

Changmin tetap memasang wajah ragu walau sebenarnya ia begitu merindukan orang tuanya.

"Tapi tetap saja aku akan bertemu dengannya.. Untuk mengurus perceraian kami.. hiks.. hiks.."

Yifan tampak menghela nafasnya kasar ketika melihat Changmin yang selalu menangis ketika mengingat perceraiannya dengan Yunho.

"Kau mau tetap menangis di sini atau jalan-jalan ke taman favoritmu?" sindir Yifan yang sontak menghentikan isak tangis Changmin.

"Tentu saja aku mau jalan-jalan!" jawab Changmin ketus.

o

oo

ooo

Yunho memasuki apartemennya dengan lesu. Karena tidak ada lagi yang akan menyambut kedatangannya dengan senyuman manis. Sapaan ceria.. Pelukan hangat.. Serta kecupan di pipi..

Tidak ada lagi yang membuat dan membuka simpul dasi untuknya.. Menyiapkan air hangat untuk mandi.. Dan memasakkan makanan kesukaannya..

Tes!

Demi Tuhan, Yunho sangat merindukan Changmin!

Terlepas bahwa Changmin adalah Changdollah yang selama ini ia cari..

Changmin telah memberikan warna tersendiri dalam kehidupannya. Changmin telah membuatnya jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Dan Yunho sudah tak perduli lagi jika Changmin bukan Changdollah yang selama ini ia cari, karena ia baru tersadar bahwa ia mencintai Changmin, istrinya. Ia membutuhkan Changmin di sisinya. Ia sungguh tidak ingin kehilangan Changmin selamanya.

Dilangkahkannya kedua kaki menuju kamar Changmin yang berseberangan dengan kamar Yunho. Karena selama 3 tahun pernikahan mereka, tak pernah sekalipun mereka berada dalam satu kamar, apalagi satu ranjang.

Dan begitu pintu kamar Changmin terbuka, aroma musk yang lembut menguar dari sana. Membuat rindu di hati Yunho semakin membuncah pada sosok Changmin. Apalagi saat ia benar-benar masuk ke dalam kamar itu..

Dekorasi yang dipenuhi oleh warna violet begitu mendominasi. Mengingatkannya pada warna kesukaan Changdollah teman masa kecilnya.

Tapi kemudian Yunho kembali mengenyahkan ingatannya pada Changdollah ketika melihat sebuah foto berukuran besar terpampang di salah satu space dinding.

Foto pernikahannya dengan Changmin..

Dimana Yunho tersenyum datar, dan Changmin tetap berusaha tersenyum manis.

Yunho bersumpah dalam hati, jika ia berhasil membawa Changmin pulang, ia akan memaksa Changmin untuk mengulang foto pernikahan mereka dan memberikan senyuman terbaiknya untuk Changmin.

Tapi..

Itupun kalau ia berhasil mendapatkan Changmin kembali..

Yunho mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan membuka laci nakas deretan teratas. Dan di dalam sana terdapat sebuah album foto.

Mencoba menghilangkan rasa penasarannya, Yunho pun mulai membuka buku album itu dengan foto pernikahan mereka berdua di halaman pertama. Masih dengan Changmin dan wajah manisnya.. Dan Yunho dengan wajah datarnya.

Halaman kedua..

Terdapat foto Changmin sendiri dalam balutan tuxedo yang begitu menawan. Membuat Yunho baru tersadar, bahwa Changminnya memiliki fisik yang begitu sempurna.

Di halaman ketiga, ada foto mereka berdua dengan para orangtua mereka. Dan jelas sekali terpancar binar kebahagiaan di mata para orangtua mereka. Namun, tidak dengan Yunho. Membuat Yunho kini hanya bisa tersenyum miris dengan keadaaanya saat itu.

Halaman keempat..

Membuat jantung Yunho serasa terhimpit batu. Dimana Changmin tengah tersenyum manis —yang tampak dipaksakan— dengan sebuah kue besar bertuliskan 'Happy Birthday Changdollah'.

"Changdollah.." gumam Yunho tak percaya dengan sebulir air mata kini lolos dari mata musangnya yang tajam.

Dan Yunho yakin, bahwa orangtua Changminlah yang mengirimkan kue tersebut.

"Jadi benar... kau adalah Changdollahku.. hiks.." gumam Yunho sambil membelai lembut foto Changmin tersebut.

Dalam foto itu, Changmin juga memakai topi ulang tahun yang kekanakan dan sebuah foto Yunho di tangan kanannya. Mungkin, Changmin berharap Yunho bisa menemaninya saat ulang tahunnya.

Tapi kenyataannya, Yunho justru menghabiskan malam bersama Kyungsoo saat itu.

Halaman kelima..

Benar-benar membuat Yunho dibuat sesak nafas saat melihatnya.

Ketika melihat Changmin berpakaian bak pengantin remaja dengan kue pengantin yang bertuliskan 'First Anniversary'. Lagi-lagi, di dalam foto tersebut Changmin hanya didampingi oleh foto Yunho di sebelahnya berdiri.

Dan seketika itu juga Yunho membalik halaman demi halaman dengan cepat dan berakhir dengan sebuah tutupan keras kemudian melempar album foto itu sembarang. Karena pada halaman-halaman berikutnya, hanya ada foto Changmin sendiri, tanpanya..

"hiks.. hiks.. Maafkan aku.. Maaf.. Maafkan aku.."

Yunho menyeret tubuhnya ke lantai dan menjambak-jambak rambutnya frustasi. Ia benar-benar merasa menjadi manusia paling bodoh, paling hina, paling brengsek di dunia.

Ketika pada akhirnya ia telah membuka dirinya dan menetapkan hatinya untuk mencintai Changmin sepenuhnya, ia kini dihadapkan dengan kenyataan..

Bahwa Changmin adalah Changdollah yang selama ini ia cari..

Changmin adalah Changdollah yang selama ini ia sakiti dan ia ambil kehidupannya..

o

oo

ooo

"Kenapa taman ini menjadi taman favoritmu? Ini kan hanya taman kecil yang tidak ada apa-apanya!" gerutu Yifan yang kini mendudukkan dirinya pada ayunan di samping Changmin.

"Ini taman yang sering aku kunjungi bersama Yunho hyung saat dulu kita masih kecil.."

"Oh.." komentar Yifan singkat karena tidak tertarik dengan cerita masa kecil Changmin dan Yunho.

"Kenapa tidak mengajak Yunho saja ke taman ini? Siapa tahu dengan begitu, ia bisa mengingat kalau kau adalah Changdollah"

"Sudah.. Tapi Yunho hyung selalu menolak ajakan pergi bersama denganku.."

Tes!

Air mata Changmin tanpa dikomando telah membasahi sepatunya.

Grep!

"Menangislah.." bisik Yifan yang kini memeluk Changmin dari samping.

Tes! Tes!

Tetesan demi tetesan mengalir tanpa bisa di cegah. Namun kali ini bukan Changmin yang menangis. Melainkan sesosok pemuda yang tiga tahun lebih tua dari Changmin yang menatap Changmin dan Yifan di kejauhan.

Sosok itu adalah Yunho yang memang sengaja ingin mendatangi taman itu guna bernostalgia tentangnya bersama Changdollah dulu.

Tapi siapa sangka, jika ia bisa melihat Changdollah-nya di sana.. Bersama laki-laki lain yang tampak begitu serasi dan berlaku lembut pada Changmin.

Maka Yunho pun memutuskan untuk melihat Changmin dari jauh. Dan mematri dalam ingatannya ketika Changmin berhasil dibuat tertawa oleh pria yang sedang bersamanya.

"Dasar Pangeran Es!"

"Dasar cerewet! Kesini kau!"

"Ahahahah tangkap aku kalau bisa!"

Changmin dan Yifan tampak asyik berkejar-kejaran di taman yang tak terlalu luas itu. Hingga tidak menyadari sosok Yunho yang merasa terpukul dan tak berguna berdiam lama-lama di sana.

"Apakah aku terlambat menyadari cintaku padamu?" gumam Yunho dengan sejuta penyesalan di dadanya.

o

oo

ooo

Yunho dan kedua orangtuanya kini telah bersiap menuju kediaman keluarga Shim, atau lebih tepatnya kediaman rumah Changmin.

Menurut kabar yang Yunho dapatkan dari orangtuanya, Changmin kini telah pulang ke kediamannya. Dan tentu saja, hal ini membawa kecurigaan bahwa Changmin telah siap mengurus perceraiannya dengan Yunho.

Maka undangan makan malam bersama ini pun menjadi suatu hal basa basi untuk urusan yang sebenarnya.

"Selamat datang Tuan dan Nyonya Jung.. Tuan dan Nyonya Besar sudah menunggu.. Mari saya antar.." ucap sang kepala Maid yang menyambut kedatangan Yunho dan orangtuanya.

Dan begitu Yunho dan orangtuanya sampai di ruang keluarga, bisa Yunho lihat bahwa di sana terdapat orangtua Changmin yang sedang bercengkerama dengan seorang pria yang Yunho pernah lihat sebelumnya bersama Changmin di taman beberapa waktu silam.

"Ah.. kalian sudah datang!" sang kepala keluarga di rumah itu pun kini bangkit berdiri bersama istrinya untuk menyambut kedatangan Yunho dan orangtuanya.

"Oh ya, kenalkan.. Ini Wu Yifan.." Tuan Shim memperkenalkan Yifan pada Yunho dan orangtuanya. Dan Yifan tampak membungkukkan badannya dengan hormat sambil tersenyum sopan.

"Ia tetangga kami saat kami tinggal di China dulu.. Sekarang, Yifan berkuliah di sini.. Dan tanpa sengaja, ia menemukan Changmin yang pingsan di tepi jalan sekitar dua bulan yang lalu.."

"MWO? Pingsan?!" tanya Yunho panik tanpa sadar. Dan hal itu tentu saja membuat semua kepala yang ada di sana menatap Yunho heran sekaligus terkejut. Karena sepengetahuan mereka, Yunho selalu tidak perduli akan keadaan Changmin.

"Apa Changmin baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan Changmin?!" tanya Yunho lagi dengan beruntun.

"Ia tidak apa-apa.. Hanya dehidrasi, terlalu lelah, telat makan, kekurangan darah, dan depresi" jawab Yifan tanpa ekspresi.

Brukk!

Yunho menjatuhkan dirinya ke lantai karena merasa lututnya begitu lemas.

"Separah itukah?" gumam Yunho dengan lirih dengan kepala yang tertunduk. Dan tak lama kemudian air mata mengalir di pipi tirusnya. Katakanlah Yunho cengeng. Tapi toh ia tak perduli.

Karena nyatanya tetes demi tetes air mata yang ia keluarkan hanya untuk Changmin seorang. Karena rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam pada Changmin.

"Kau baru sadar sekarang? Setelah apa yang selama ini kau lakukan pada Changdollah?" tanya Ny. Shim dengan menahan amarahnya.

Tentu saja ia marah. Orangtua mana yang tidak marah jika anaknya disia-siakan oleh menantunya. Bahkan, orangtua Yunho sendiri pun tampak kecewa pada anak mereka sendiri. Karena mereka tahu, sebaik dan sesempurna apa seorang Changmin.

"Mom, Dad.. Makan malamnya sudah si—" Changmin yang baru saja bergabung di ruang keluarga mendadak kelu ketika ia melihat orangtua Yunho dan terlebih.. Yunho yang kini tengah berlutut dengan mata yang basah.

"—ap"

Kini kedua bola mata mirip bambi itu bertatapan secara langsung dengan mata musang milik Yunho. Membuat keduanya kembali hanyut pada luka masing-masing yang selama ini tersimpan dengan baik.

"Kau tampak manis malam ini.."

Hingga pujian Yifan untuk Changmin berhasil memutuskan kontak mata Changmin untuk menatap Yifan sambil tersenyum.

"Jadi selama ini aku tidak manis?!" canda Changmin sambil mempoutkan bibirnya dengan imut.

Membuat Yifan dan yang lainnya terkekeh kecil melihat tingkah Changmin yang menggemaskan.

Namun tidak dengan Yunho..

Karena Yunho memilih bergeming menundukkan kepalanya.

"Ayo semuanya, kita ke ruang makan.. Makan malam sudah siap.." ajak Tuan Shim pada yang lainnya. Namun saat keenam orang itu hendak menuju ruang makan, Changmin membalikkan tubuhnya lagi menghadap Yunho yang tengah menghapus kasar bekas air matanya.

"Ayo!"

Sebuah tangan putih halus terulur di hadapan Yunho. Membuat Yunho mendongakkan kepalanya dan melihat sebuah wajah manis idamannya yang kini tersenyum manis padanya.

Walau ragu, Yunho tetap menyambutnya dengan lembut dan berdiri di hadapan Changmin yang tetap tersenyum manis.

"Apa aku salah jika aku mengatakan kau begitu cantik?"

Dan senyuman manis di wajah Changmin langsung hilang dalam sekejap ketika mendengar pertanyaan Yunho.

"Ish! Kau pikir aku perempuan!" omel Changmin sambil memukuli lengan Yunho dengan ringan. Tapi entah mengapa Yunho merasa begitu bahagia karena berhasil menggoda Changmin yang tampak semakin cantik saat sedang marah.

"Oke Okee.. aku minta maaf, istriku yang manis.."

Blush!

Changmin menghentikan pukulannya di lengan Yunho karena ia merona hebat begitu mendengar sapaan Yunho untuknya.

"Dasar gombal!" maki Changmin sebelum akhirnya berlari kecil meninggalkan Yunho yang kini tengah tersenyum menatap punggung Changmin yang menjauh darinya.

.

.

.

Changmin kini duduk di antara Yifan dan Yunho yang duduk di samping kanan dan kirinya dengan orangtua Yunho dan Changmin mengitari mereka.

Suasana tampak tenang dan mencekam, terlebih ketika makan malam tiba di penghujung acara.

"Saya rasa, kalian sudah tahu apa maksud dan tujuan kami mengundang kalian makan malam di sini.." ucap Tuan Shim membuka pembicaraan.

"Saya sudah membawa surat perceraiannya.." Tuan Jung tampak mengeluarkan sebuah map biru yang ia buka dan ternyata berisi surat perceraian Changmin dan Yunho.

"Aku tidak mau menandatanganinya!" seru Yunho dan Changmin bersamaan begitu melihat isi map tersebut. Membuat keduanya saling bertatapan dengan bingung.

'Bukankah Yunho hyung menginginkanku untuk pergi dari kehidupannya?'

'Bukankah perceraian ini Changmin yang menginginkannya?'

"Ekhem.."

Tuan Shim tampak berdehem guna memutuskan kontak mata Yunho dan Changmin.

"Saya punya solusi lain yang sudah saya bicarakan dengan istri saya.. " Tuan Shim memperhatikan dengan seksama bagaimana seriusnya Yunho dan Changmin menantikan kelanjutan ucapannya. Bahkan saking seriusnya, Yunho dan Changmin sampai duduk dengan tegak.

"Kami ingin memberikan mereka waktu seminggu untuk tinggal bersama kembali.. Dan setelah itu, jika memang mereka tidak cocok mereka bisa menandatangani surat perceraian ini.."

Yunho dan Changmin tampak menantikan jawaban dari Tuan dan Ny. Jung dengan penuh antisipasi. Bahkan tanpa sadar, Yunho dan Changmin bergenggaman tangan dengan erat.

Setelah saling berbisik, Tuan dan Ny. Jung akhirnya menjawab, " Baiklah, kami setuju.."

Dan seketika itu juga Yunho dan Changmin tampak merilekskan tubuh mereka sambil berpandangan dan melempar senyum penuh kelegaan.

"Tapi kalau nanti Changdollah resmi bercerai dengan Yunho, aku akan segera membawa orangtuaku untuk melamar Changdollah" putus Yifan sambil tersenyum miring ke arah Tuan Shim yang diangguki oleh Tuan Shim sendiri.

Sementara itu, Yunho memandang Yifan dengan tajam dan tanpa sadar menggenggam tangan Changmin erat dengan posesif.

.

.

.

TBC

.

.

.

Terpaksa Chapter 2-nya nanachan potong jadi 2 part, karena kepanjangan ^^

So, Keep Reading! And see you in the next part of the Last Chapter!