You Belong To Me
Disclaimer : Inuyasha belongs to Rumiko Takahashi. But Sesshy is Mine ekkeke~
Note : AU, Wrong grammar, Typo, EYD tidak diperhatikan, bad stories etc
"Bagaimana bisa…" Kagome menyentuh pipinya yang sudah tersapu make up tipis.
"Anda sudah bangun, my lady." Seseorang dengan tiba-tiba berdiri di belakang Kagome.
"Siapa kau?" Tanya Kagome dengan suara yang bergetar. Kagome sedikit memundurkan langkahnya dari wanita yang berdiri di hadapanya.
"Perkenalkan, saya Misaki. Kepala pegawai di Taisho mansion." Ucap wanita yang sambil membungkukkan badannya di depan Kagome.
Kagome hanya bisa mengernyitkan matanya. Taisho? Jelas saja Kagome tidak asing dengan nama itu karena sepengetahuannya Miroku bekerja di bawah naungan Taisho, Corp. Di dalam pikirannya bertanya-tanya mengapa dirinya berada di rumah ini karena ia tidak mengenal satu orang pun yang mempunyai marga Taisho itu. Perbedaan yang mencolok antara keluarganya dengan keluarga Taisho bagaikan benteng yang tinggi dan tidak mungkin ia gapai.
"Saya akan merapikan penampilan anda sebentar." Ujar wanita berpupil ungu itu untuk meminta ijin dan Kagome dengan pasrah mengangguk pelan membiarkan wanita itu menyentuh rambutnya dengan lambut.
"Selesai. Anda sangat cantik my lady." Wanita itu tersenyum indah di hadapan Kagome saat melihat pantulan seorang gadis cantik dari sebuah cermin. Kagome hanya mampu tersipu malu atas pujian dari wanita itu.
"Anda sudah ditunggu supir yang akan membawa anda ke suatu tempat." Wanita itu memperlakukan Kagome bagaikan bangsawan dan sangat sopan padanya.
Kagome hanya bisa terpaku dan bibirnya ingin sekali melontarkan berbagai macam pertanyaan yang terus berputar dalam benaknya. Ia seakan tidak mampu merangkai sebuah kalimat.
"Mau di bawa kemana…?" Hanya kata itu yang mampu meluncur dari bibirnya yang sudah terpoles lipgloss merah muda. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir wanita itu melainkan hanya sebuah senyuman. Kagome kembali terkejut ketika wanita itu memakaikan sepatu hak tinggi di kakinya dan setelah itu tangannya di tuntun untuk mengikuti wanita yang sekiranya berusia tigapuluhan itu.
Sepatu mahal yang terpasang di kakinya itu begitu sangat nyaman dipakai. Kagome sangat bingung saat ia berada di pintu keluar karena ada beberapa pelayan yang sudah menunggunya. Kagome terlihat sangat malu dengan iris kebiruannya yang selalu menatap lantai marmer. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya karena ia tidak tahu mengapa dirinya bisa berada di sini.
"Silahkan." Misaki mengantarkan Kagome sampai di depan pintu mobil yang sudah terbuka. Dengan sedikit keraguan akhirnya Kagome masuk dan pasrah kemana mobil hitam itu akan membawanya.
Limabelas menit berlalu dan akhirnya Kagome telah sampai di suatu tempat yang sangat asing baginya.
"Saya hanya mengantar anda sampai di sini my lady. Berjalanlah sekitar duapuluh langkah ke kanan dan anda akan mengetahui jawabannya." Sang supir membuka pintu belakang dan membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan Kagome yang terpaku di tempat.
Kagome menarik napas dalam sebelum memulai melangkahkan kakinya sesuai dengan instruksi sang supir tadi.
Kami-sama lindungi aku
Kagome kembali terdiam setelah langkah kakinya sudah mencapai duapuluh langkah. Ia bisa melihat seberkas cahaya terang beberapa meter di depannya di sebuah meja yang lengkap dengan bunga dan beberapa hidangan. Kagome nampak bingung namun kakinya terus melangkah. Gadis yang mengenakan gaun panjang itu pun berdiri terpaku saat melihat seorang pria sedang berdiri memunggunginya. Tepatnya, pria itu berdiri di tepi danau dan berambut silver panjang terurai.
"Siapa anda?" Kagome meyakinkan bahwa itu bukanlah kekasihnya Inuyasha. Pria itu terdiam dan tidak menanggapi pertanyaannya.
"Kau sudah datang?" Pria itu menjawab dengan suara baritone yang datar.
Pria itu berbalik dan Kagome dapat melihat kedua iris berwarna keemasan yang sedang menatapnya lekat. Pria itu berdiri dengan kedua tangannya yang tersembunyi di balik kantung celananya. Begitu tenang dan dewasa. Iris kebiruan itu terus terpaku untuk mencari jawaban siapa orang itu sebenarnya. Kagome pernah melihat orang itu namun entah di mana ia tidak bisa mengingatnya. Dadanya semakin bergetar hebat saat pria itu berjalan mendekatinya. Malam ini bulan dan bintang bertaburan menghiasi langit malam dan membuat tempat itu menjadi lebih indah.
"Aku, Sesshomaru no Taisho." Ucapnya setelah berhenti sekitar dua langkah di hadapan Kagome.
Ya, Kagome mengingatnya. Pria ini pernah datang menghadiri pesta pernikahan temannya Sango dan Miroku waktu itu. Lalu, ada urusan apa dengannya? Ia tidak mengerti mengapa pria tampan yang berdiri di hadapannya sekarang melakukan hal ini.
"Apa kau merasa pernah bertemu denganku?" Sesshomaru berbicara dengan suara beratnya.
"Anda pernah datang ke pesta pernikahan teman saya Sango dan Miroku." Jawab Kagome sambil menundukkan kepalanya.
"Hanya itu?" Pertanyaan Sesshomaru kali ini sungguh membuat Kagome bingung.
Wajah Kagome sedikit memanas ketika pria itu memperpendek jarak di antara mereka. Kagome merasa sangat kecil dibandingkan dengan pria yang bertubuh tegap dan tinggi menjulang itu. Sesshomaru menundukkan kepalanya dan meraih pinggang gadis kecilnya.
"Apa yang anda lakukan…" Suara Kagome yang sedikit ketakutan dan bisa merasakan napas panas yang berhembus di pipinya. Jantungnya berdetak tidak tentu arah karena ketakutan yang ia rasakan dan membuatnya mencoba untuk mendorong dada bidang pria itu agar menjauhinya.
"Satu hal lagi yang harus kau ingat, bahwa aku yang selalu mengirimkan mu bunga setiap hari." Bisik suara Sesshomaru tepat di telinganya.
Bagaikan tersambar petir Kagome terlihat kaget mendengar pernyataan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Selama ini sang pengirim rahasia itu sangat rapi dalam melaksanakan aksinya, sampai sang kekasih tak mampu melacak sedikitpun jejak yang ditinggalkan. Kagome kembali tersentak ketika merasakan sentuhan di pipinya. Tangan besar itu mengelus pipinya dengan lembut.
"Karena aku menginginkanmu." Sesshomaru masih merangkul pinggang gadis impiannya.
"Menikahlah denganku Higurashi Kagome." Sesshomaru tidak henti-hentinya berbicara yang membuat Kagome semakin tertekan.
Bagaikan terkena serangan jantung dan Kagome tidak sanggup bernapas lagi. Permainan macam apa ini? Apakah pria ini sakit atau sedang mabuk, atau kah sudah gila. Ini mustahil, Kagome tidak percaya bahwa pria itu mengucapkan kata-kata keramat padanya dan lebih mustahil lagi kata-kata itu ditujukan padanya.
"Apa kau sedang bercanda, sesshomaru-sama?" Kagome akhirnya bisa menemukan suaranya dan mengeluarkan kata-katanya.
"Sesshomaru ini tidak pernah bermain-main dengan seluruh ucapannya." Sesshomaru menjawab dengan tenang.
Ini sungguh gila. Kagome merasa seluruh badannya terasa lemas. Mimpi apa semalam yang membuatnya terjebak dalam situasi seperti ini. Dengan seluruh kekuatannya ia mendorong tubuh Sesshomaru yang tegap agar menjauhinya.
"Aku tidak bisa, Sesshomaru-sama." Dengan napas yang terengah Kagome mencoba menjawab dengan setenang mungkin.
"Aku tidak pantas untuk anda." Kagome mencoba membuka pikiran Sesshomaru yang mungkin sudah kehilangan akal sehatnya karena menginginkan gadis sepertinya.
"Hanya aku yang berhak memutuskan siapa yang pantas untuk mendampingiku, Kagome. Kau hanya perlu menyanggupinya." Suara Sesshomaru yang terlontar begitu mengintimidasi Kagome.
"Saya sungguh tidak bisa Sesshomaru-sama. Maafkan aku." Kagome menundukkan kepalanya tanda meminta maaf sebesar-besarnya.
Tanpa Kagome ketahui tangan putra tertua Taisho itu sudah terkepal erat. Amarahnya telah memuncak. Seumur hidupnya ia tidak pernah ditolak dan ia tidak menyukai penolakan. Mungkinkah caranya salah, seharusnya sebelum ia berencana melamar gadis yang di inginkannya Sesshomaru harus melakukan pendekatan terlebih dahulu. Ia sudah berpikir tidak akan ada gadis yang menolaknya termasuk Kagome Higurashi. Ia harus memastikan bagaimana pun caranya Kagome harus menjadi miliknya.
"Aku akan memastikannya Kagome, bahwa secepatnya kau akan menjadi milikku." Sesshomaru menyeringai di hadapan gadis itu namun Kagome tetap tertunduk dan tidak mau melihat wajahnya.
"Anda tidak bisa melakukan itu pada saya, Sesshomaru-sama. Permisi." Kagome menangis dan ia benar-benar tidak bisa memaksa hatinya. Ia tidak mencintai Sesshomaru dan mana bisa ia menikah dengan pria itu. Kagome berlari secepat yang ia mampu dan ia tidak peduli lagi dengan apa yang pernah pria itu lakukan. Kalau memang pria itu menginginkan semua barang yang sudah ia berikan padanya, Kagome akan mengembalikan bagaimana pun caranya. Yang pasti ia tidak akan mau menjadi istri dari pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Kita akan buktikan Kagome siapa pemenangnya, kau atau aku." Seringaian menakutkan itu terus tersungging di wajahnya. Benar, Sesshomaru tidak pernah kalah dari siapa pun dan ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan bagaimanapun caranya.
Kagome terus berjalan dan sudah tidak mengenakan sepatu hak tingginya. Air mata terus mengalir dari pipinya yang memerah dan tidak mempedulikan tubuhnya yang sudah letih. Ia tidak membawa ponsel ataupun uang, semuanya tertinggal di rumah pria itu. Ia tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini ke rumah dan jalan satu-satunya adalah ia akan menginap di rumah sahabatnya, Ayame.
Sudah lebih dari tiga bulan semenjak kejadian itu, Kagome terus khawatir dan takut pria itu akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya. Namun kenyataannya, gadis Higurashi itu dapat menjalankan hari-harinya seperti biasa dengan normal. Sekarang ia telah resmi lulus dari sekolah dan mulai fokus menyiapkan ujian masuk universitas yang tinggal menghitung hari. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang mahasiswi dan telah berencana mengambil fakultas design impiannya karena ia telah bekerja keras demi mendapatkan beasiswa di kampus populer pilihannya. Ada kebahagiaan dan kesedihan secara bersamaan karena sang kekasih harus melanjutkan kuliahnya di kota kelahirannya. Sebenarnya Inuyasha tidak ingin kuliah jauh dari Kagome, namun ia tidak bisa menolak permintaan ibunya. Sebagai kekasih yang baik maka Kagome tidak keberatan dan baginya menjalani hubungan jarak jauh tidak menjadi masalah. Pada saatnya nanti semoga mereka dapat bersama kembali sampai maut memisahkan. Kagome terus tersenyum sendiri mengingat semua rencana indahnya yang sudah ia susun secara matang dan semoga Kami-sama merealisasikan harapannya.
Kagome terus berjalan riang setelah melihat papan pengumuman yang menyertakan namanya ada dalam daftar nama yang berhasil mendapatkan beasiswa di universitas idamannya. Ia diterima di fakultas yang selama ini ia inginkan dan akhirnya kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia.
"Aku pulang." Ucap Kagome riang. Tidak ada sahutan suara merdu ibunya yang seperti biasa menyapanya. Kagome terus berlalu menuju ruang tengah dan dengan semangat Kagome menggeser pintunya.
"Mama, aku pu-" Kagome masih berdiri kaku di depan pintu. Otaknya belum mampu menerima pemandangan yang memilukan hati yang tertangkap indera penglihatannya. Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Kagome melihat ibunya dan kakeknya tengah terdiam bertumpu pada meja. Terdapat raut kesedihan mendalam yang terpancar di matanya.
"Mama, apa yang terjadi?" Akhirnya suara lembut itu mampu keluar dari bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca dan tidak ada jawaban dari sang ibu melainkan pelukan yang begitu erat yang ia terima.
"Maafkan mama, Kagome…" Ucap sang ibu begitu lirih dan tersedu. Kagome belum mengerti apa yang sedang dibicarakan ibunya, namun ia masih tetap terdiam di pelukan sang ibu.
"Mama tidak bisa membiayai kuliahmu, Kagome. Mama sudah mendapat pemberitahuan dari pihak universitas bahwa beasiswa mu telah dicabut." Ibunya berbicara pelan dan memandangi putrinya yang malang.
"Tapi kenapa… kenapa bisa seperti ini? Barusan aku melihatnya dengan jelas namaku ada di papan pengumuman universitas." Jawab Kagome dengan tangisnya yang pecah. Apakah impiannya sudah kandas?
"Tidak masalah mama, mungkin tahun depan aku bisa melanjutkannya. Sekarang aku akan giat bekerja agar bisa membayai kuliahku sendiri." Kagome meyakinkan ibunya agar tidak perlu khawatir akan masa depannya dan ia telah memutuskan untuk bekerja paruh waktu demi mengumpulkan uang.
Kagome segaja tidak memberitahu perihal dirinya yang tidak jadi melanjutkan kuliah pada kekasihnya. Ia yakin kalau Inuyasha mengetahui masalah ini, pasti ia akan memberikan segepok uang padanya dan ia tidak ingin merepotkan siapa pun. Sudah tiga bulan ini Kagome bekerja di supermarket yang tidak jauh dari rumahnya. Ia bertugas sebagai kasir dan bekerja dengan giat dengan mengetikkan jari lentiknya di atas sebuah keyboard.
"Kau terlihat kurus, Kagome." Suara seorang pembeli mengagetkannya.
"Ayame! Kenapa kau belanja malam-malam begini?" Tanya Kagome dengan menyunggingkan senyumnya yang indah.
"Ayahku sudah satu minggu keluar kota dan persediaan makanan di rumah sudah habis." Jawab Ayame di depan kasir dan melihat jarum jam hampir menunjukan pukul sepuluh malam.
"Apakah Inuyasha sering menghubungimu?" Tanya sahabatnya.
"Tentu." Jawab Kagome singkat.
"Apakah aku boleh memberitahukan padanya?" Ucap Ayame lirih di hadapan Kagome.
"Tentang?" Iris birunya menatap Ayame penuh Tanya sampai ia menghentikan kegiatannya demi menatap sahabatnya sejenak.
"Kau yang tidak melanjutkan kuliah, tubuhmu kurus, dan kau bekerja lebih dari delapan jam per hari." Ucap sang sahabat yang penuh kepedulian padanya.
"Tidak perlu, Ayame. Ini hanya satu tahun dan setelah itu aku akan kembali mengikuti ujian masuk universitas. Aku tidak mau membuat Inuyasha cemas." Jawab Kagome dengan pembawaannya yang tenang.
"Hah, kau ini. Baiklah aku tidak akan mengatakan apapun padanya asalkan kau mengurangi jam kerjamu ini, oke?" Ayame mengambil kantung belanjaannya dan memberikan beberapa lembar uang padanya. Kagome hanya tersenyum menanggapi ancaman sahabatnya itu.
"Selamat malam, Ayame. Terima kasih atas kunjungannya." Balas Kagome sambil tersenyum. Sebenarnya ibunya melarangnya bekerja sampai larut malam, namun ia sudah bertekad mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya nanti. Setiap malam Kagome selalu pulang di atas jam sepuluh malam dengan mengendarai sepedanya. Tanpa ia ketahui bahwa di belakangnya ada sebuah mobil yang terus mengikutinya setiap malam sampai gadis itu benar-benar memasuki rumahnya.
Baru reda kesedihan yang menimpanya tiga bulan lalu, Kagome dan keluarganya mendapatkan musibah yang lebih menyakitkan. Adik bungsunya Souta di keluarkan dari sekolah tanpa alasan yang jelas. Pihak sekolah hanya memberikan alasan bahwa adiknya itu terlibat perkelahian dengan salah seorang siswa lain. Yang membuat Kagome marah adalah hanya adiknya saja yang dikeluarkan dari sekolah, padahal menurut pengakuan sang adik ada lebih dari lima orang yang terlibat dan souta bukanlah pelaku utamanya. Kagome tidak percaya bahwa adiknya itu menjadi preman di sekolah, karena menurutnya Souta itu adalah anak yang baik dan penurut. Souta yang baru menginjakkan kaki di kelas satu junior school itu akan susah untuk pindah ke sekolah lain apabila sudah dikeluarkan dari sekolah favorit itu. Hati Kagome bagaikan tersayat ketika melihat adik laki-lakinya selalu menangis dan mengurung diri di kamar. Ibunya terlihat bersusah payah untuk menghibur adiknya, mata sembab ibunya dan mata berkantung kakeknya menambahkan kesan begitu tua terlihat jelas di wajah mereka. Ingin sekali Kagome menangis meronta-ronta dan memohon pada siapa pun untuk mengakhiri kesedihan orang-orang yang disayanginya.
"Halo…" Sapa Kagome saat melihat ponselnya berdering dengan nomor yang tidak dikenalnya.
"Bagaimana Kagome…" Suara berat seorang pria memecah konsentrasinya kala itu.
"Apa kau ingin melanjutkan permainan ini sampai orang yang kau sayangi menangis pilu?" Pria itu tersenyum licik.
"Siapa kau dan apa maumu?" Kagome mulai ketakutan dan ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan pria itu.
"Berikutnya adalah kakek mu dan Inuyasha…" Jawab pria itu dengan lantang dan tegas.
"Siapa kau! Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Suara Kagome sedikit membentak pria itu.
"Sesshomaru no Taisho." Jawaban singkat yang keluar dari bibirnya membuat Kagome diam membeku.
"Hentikan! Kumohon Sesshomaru-sama, mereka tidak bersalah." Tangis Kagome pecah dan ia mengerti apa yang pria itu bicarakan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Sesshomaru telah melakukan semua ini padanya. Sesshomaru adalah keluarga terhormat dan bukan hal sulit baginya untuk membatalkan beasiswa yang dengan susah payah ia raih serta mengeluarkan adiknya dengan cara yang tidak terhormat walaupun adiknya tidak sepenuhnya melakukan kesalahan. Barusan ia juga mendengar pria itu mengatakan bahwa kakeknya dan Inuyasha menjadi target berikutnya dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Apa maumu?" Jawab Kagome lirih. Tidak ada jawaban dari pria itu karena Sesshomaru telah menutup percakapan mereka begitu saja. Kagome hanya bisa terisak sambil menggenggam ponselnya. Ia harus melakukan sesuatu sebelum ada yang tersakiti lagi karena dirinya.
Dengan napas terengah, Kagome menatap pintu gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya. Tangannya bergetar saat menekan bel dan beberapa saat kemudian gerbang itu terbuka secara otomatis. Langkahnya teratur meskipun jantungnya berdetak tidak tentu arah dan ia sangat takut menghadapi pria yang selama ini menghantui hidupnya.
"Apa yang anda inginkan, Sesshomaru-sama?" Kagome berbicara dengan matanya yang sembab karena selama perjalanannya kesana ia tidak berhenti menangis.
"Menikahlah denganku…" Mata emasnya menatap Kagome tajam dan Kagome hanya bisa menundukan kepalanya agar menghindari tatapan itu.
Tiga hari sudah Kagome hanya mampu merenungi nasibnya. Matanya sudah terlalu perih untuk mengeluarkan air mata lagi. Ia tidak sanggup melihat masa depan adiknya hancur atau pun orang-orang yang sangat disayanginya menderita. Kagome tidak mencintai pria itu, ia hanya mencintai Inuyasha. Apabila cintanya akan merugikan banyak orang, maka Kagome rela melepasnya. Dengan gemetar, Kagome menekan tombol ponselnya dan hanya memandangi nama yang tertera di layar ponselnya. Air mata mengalir deras dan sunguh ia tidak mampu melakukannya. Ia kembali mengingat masa tenggang yang diberikan Sesshomaru padanya sudah hampir habis dan akhirnya Kagome memberanikan diri meletakkan ponselnya di samping telinganya.
"Kagome…" Suara itu sukses membuat Kagome menangis tertahan.
"Hei, kenapa kau diam saja?" Suara pria yang sangat ia sayangi itu kembali terdengar dan Kagome mecoba menahan tangisnya yang terisak.
"Halo, Inuyasha…" Sekut tenaga Kagome berusaha mengeluarkan suara lembutnya.
"Kau merindukanku?" Inuyasha bertanya sambil menggoda kekasihnya dengan manja.
"Inuyasha, aku… aku ingin mengakhiri hubungan kita. Mulai sekarang jangan pernah menghubungiku lagi." Kagome menahan air matanya yang sudah jatuh berderai.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Inuyasha kaget dan penuh penekanan.
"Aku ingin putus Inuyasha, selamat tinggal." Ucap Kagome dengan lirih dan langsung mematikan ponselnya.
"Kago…" Belum sempat Inuyasha berbicara, sambungannya telah terputus. Inuyasha mencoba untuk menghubungi kembali Kagome namun ponselnya sedang berada diluar jangkauan.
Kagome menangis meratapi nasibnya yang harus meninggalkan kekasih yang teramat ia cintai demi orang-orang yang ia sayangi bahagia. Dengan sekali tarikan napas Kagome menyadari bahwa keputusannya memang sangat menyakitkan. Kagome yakin bahwa Inuyasha akan segera melupakannya karena ia tidak sanggup melihat pria yang dicintainya hidup menderita karenanya.
To Be Continue…
Yoosh~ pada nungguin yuaa? xD Yep memang benar yang nyulik Kagome adalah Sesshy, tp dia bukan pedopil ya cuman monster yg mengerikan dn heartless aja. Apa ini yg kalian inginkan mengorbankan kebahagiaan kagome dengan menjadi istri sesshy dn dia tidak bahagia selamanya? Atau tetap sama Inu tp mereka berdua dijamin tidak akan harmonis krn ulah monster freak itu? Kekeeke Buat polling ahh endingnya SessKag or InuKag. Hayoo~ Happy reading and Thanks so much for my lovely readers atas reviewnya.
