KONOHA VILLAGE

Chapter 2. Pertemuan kembali

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Drama/Mysteri/Humor/Horror/Romance/Fantasi

Rating : T

Summary : Naruto bergabung dengan Akatsuki, Klub pemburu hantu di sekolahnya. Satu persatu misteri tentang Desa Konoha terungkap. Mulai dari misteri Hinata pengidap DID. Sai, pria misterius yang memiliki hawa dingin. Misteri kematian orang tua Sasuke. Hingga misteri besar tentang keberadaan Kushina yang tidak pernah Naruto temui selama hidupnya. (Drama/Mysteri/Humor/Horror/Romance/Fantasi)

Warning : AU/OOC/ Typo/ genre tiap chapter mungkin berbeda/ Update tidak menentu

.

.

.

Di dunia yang luas ini, manusia hidup berdampingan dengan makhluk tak kasat mata. Mereka bukan hanya hantu, ada juga iblis, malaikat ataupun makhluk-makhluk yang lainnya. Yang harus mereka lakukan adalah hidup dalam frekuensi masing-masing.

Jika salah satunya mengganggu kehidupan makhluk lain, maka yang akan terjadi adalah perselisihan. Mereka bisa saja menjadi sekutu manusia, tapi mereka juga bisa menjadi musuh utama manusia.

-Konoha Village-

Tok...tok...tok...

"Hinata, kumohon buka pintunya," ucap Neji pelan sambil mengetuk pintu kamar Hinata. Namun tak ada jawaban apapun dari dalam sana. Pasti terjadi sesuatu, Neji yakin sekali.

Neji sempat berpikir untuk mendobrak pintu tersebut. Tapi ia segera mengurungkan niatnya mengingat hal itu akan mengundang kedatangan Hiashi dan akan membuat masalahnya semakin gawat.

Namun Neji tak habis akal, ia segera keluar rumah besar tersebut menuju jendela kamar Hinata yang berada di samping bangunan tersebut.

Begitu ia tiba disana, jendela tersebut terbuka lebar dan mengibarkan tirai dibelakangnya. Neji bergegas mendatangi jendela tersebut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan melalui jendela. Kosong. Hanya banyak baju yang berserakan.

"Tch! Sial. Kemana dia?" umpat Neji. Ia pun bergegas menuju pintu gerbang utama Mansion Hyuuga. Ada penjaga gerbang yang berdiri disana. Tidak mungkin Hinata diizinkan untuk keluar.

Neji kembali mengedarkan pandangannya menuju halaman mansion tersebut. Pagar tembok ini terlalu tinggi, satu-satunya cara memanjat adalah naik pohon yang kebetulan berada di dekat tembok. Neji menggeleng. Itu tidak mungkin dilakukan Hinata, dia kan tidak bisa memanjat pohon. Kecuali jika Hinata yang lain yang melakukannya. Tidak ada yang mustahil jika dia yang muncul!

Neji memutuskan untuk mencari Hinata keluar mansion. Namun aktivitasnya harus terhenti begitu seseorang memanggilnya.

"Neji-Nii, kau mau kemana? Bukannya kau sedang menenangkan Hinata-Nee? Apa dia baik-baik saja?" pertanyaan Hanabi yang bertubi-tubi membuat wajah Neji mendadak pucat. Apa yang harus ia katakan pada Hanabi?

"E-eh, i-itu, aku ada urusan... iya benar! Aku ada urusan ke sekolah, katanya aku disuruh ke sekolah untuk membantu panitia pendaftaran," Neji berusaha mengelabui Hanabi.

"Hmm? Kau terlihat mencurigakan," Hanabi menyipitkan matanya berusaha mencari celah kebohongan di wajah Neji.

"Haha, apanya yang mencurigakan?" elak Neji dengan tawa yang dipaksakan.

"Oh iya! Inikan waktunya makan siang, aku akan memanggil Nee-chan untuk makan bersama. Ayah pasti akan marah kalau dia tidak ikut makan bersama di hari libur seperti ini," ucap Hanabi polos sambil melangkahkan kaki menuju ke dalam mansion.

"T-tunggu dulu!" cegah Neji. Kalau Hanabi ke sana, dia pasti akan tahu kalau Hinata kabur.

"Ne? Ada apa Nii-san?" tanya Hanabi sambil menyeringai penuh arti. Membuat Neji heran.

"E-eto... Hinata masih sedih, jadi sepertinya dia tidak mau makan siang bersama."

Syukurlah dia masih bisa memikirkan kebohongan yang lain.

"Hmm?" Hanabi malah berjalan mendekat ke arah Neji. Wajahnya mendongkak keatas berusaha melihat celah kebohongan dari wajah kakak sepupunya ini.

"Apa Nii-san dan Nee-chan merencanakan sesuatu?" tanya Hanabi penuh selidik.

"E-eh?"

Sial! Anak kecil yang satu ini memang sulit di bodoh-bodohi.

Neji kembali berpikir, kebohongan apa lagi yang harus dia buat.

"Kalian akan pergi mendaftar ke Ho Akademi kan? Hihi, tidak usah pucat begitu Nii-san! Aku pasti mendukungmu! Sana pergilah, urusan ayah, biar aku yang urus! Akan ku pastikan dia tidak tahu kalau kalian pergi," ucap Hanabi dengan ceria. Suaranya sengaja ia pelankan agar tak terdengar ayahnya yang berada di dalam mansion.

Neji tertegun. Ini seperti keberuntungan! Ia tak perlu repot-repot mencari alasan untuk mengelabui Hanabi.

Neji pun mengangguk dan segera keluar mansion. Setidaknya sekarang ia bisa mencari Hinata dengan tenang.

"Aku mengandalkanmu, Hanabi!"

-Konoha Village-

Setelah selesai mengisi formulir, Hinata mendapatkan sebuah surat berisi keterangan tentang daftar ulang, disana tercantum apa saja kelengkapan data yang harus ia bawa serta rincian biaya untuk di bayar saat daftar ulang.

Hinata menyimpan surat itu kedalam tas. Kemudian ia melangkah keluar dari ruang pendaftaran.

Entah kenapa pikirannya saat ini kembali terpaku pada pria yang menabraknya di kereta tadi. Ia yakin sekali ada yang janggal dengan pria itu. Dan lagi, kenapa dia datang ke Konoha? Apa dia warga Konoha? Pertanyaan-pertanyaan tentang pria itu tiba-tiba saja memenuhi kepala Hinata.

Tanpa ia sadari, sebuah bola basket melayang kearahnya saat ia berjalan di pinggir lapangan.

"AWAAAASSSS!"

Sebuah teriakan menyadarkan lamunan Hinata.

Namun terlambat. Begitu ia menengok, bola tersebut menghantam kepala Hinata dengan keras. Membuatnya mengerjap beberapa kali kemudian jatuh pingsan.

"GAWAT! DIA PINGSAN!" Pekik orang yang sepertinya melempar bola itu. Ia pun buru-buru mendekati Hinata bersama dengan teman-teman basketnya yang lain. Meskipun sekolah sedang libur musim panas, tapi sebagian murid tetap datang ke sekolah mengurusi latihan klub mereka yang akan mengadakan demontrasi saat kedatangan murid baru nanti.

"Ini salahmu! Bagaimana kalau dia kenapa-napa?" tuding salah satu temannya.

"Engg?" Hinata membuka matanya, berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya lagi.

"Eh, dia sadar!"

"Wah, untunglah."

"Hei, kau baik-baik saja kan?"

Terdengar suara-suara yang keluar dari kerumunan orang yang berada di sekitar Hinata. Menyadari dirinya berada di tengah-tengah, Hinata langsung bangkit dan menampilkan ekspresi kebingungan.

"D-dimana ini? Siapa kalian?" pertanyaan itulah yang keluar dari mulut Hinata. Seingatnya, ia tadi hanya terjatuh di depan kamarnya. Tapi kenapa sekarang ia berada di tempat asing dengan dikelilingi pria-pria.

"Huah! Gawat, Suigetsu! Dia amnesia!" teriak pria bertubuh besar yang diketahui bernama Juugo.

"A-apa? Kau benar tidak ingat? Tadi kau kena bola basket," Suigetsu mencoba menjelaskan apa yang terjadi.

Hinata kembali mengingat apa yang terjadi. Tapi nihil, ia yakin betul kalau dia hanya terjatuh didepan kamarnya.

Hinata berdiri dari duduknya, kemudian memandang sekitarnya. Ini terlihat seperti sekolah.

"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Hinata entah pada siapa. Kemudan ia melihat dirinya sendiri. "Hah? Kenapa aku pakai baju ini?" Hinata terkaget mendapati dirinya menggunakan baju yang kekecilan ini. Seingatnya ini baju lama yang Hinata simpan di lemari baju tak terpakai.

Dirasa roknya terlalu pendek ia pun menarik roknya ke bawah. Berusaha menutupi pahanya yang terekspos. Namun hal itu justru membuat rok nya tertarik ke bawah dan menampilkan sedikit perut ramping Hinata.

"Kyaaa!" Hinata jadi malu sendiri dan menarik roknya seperti semula.

Suigetsu menepuk jidatnya.

"Ternyata dia benar-benar amnesia! Apa yang harus aku lakukan?!" pekik Suigetsu panik. Kalau sampai gadis ini tidak ingat apa-apa bagaimana? Bisa-bisa ia dipenjara karena menghilangkan ingatan orang. Mungkin saja dia akan dikira sebagai oknum pencuci otak atau semacamnya.

Menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya, Hinata pun buru-buru pamit untuk pulang. Ia pun segera berjalan menjauhi anak-anak klub basket yang sedang latihan ini.

"E-eto..." Suigetsu mencoba menahan Hinata. "Gerbang keluarnya disebelah sana, Nona," Suigetsu menunjuk arah berlawanan dari yang dituju Hinata.

Hinata pun tersenyum kikuk dan berbalik menuju jalan yang Suigetsu maksud.

"Apa dia akan baik-baik saja?" bisik Juugo yang merasa khawatir dengan keadaan Hinata. Dia seperti orang linglung.

"Ehh, Tunggu!"

Baru beberapa langkah, Hinata harus berhenti karna panggilan Suigetsu lagi. Ia pun berbalik. Terlihat Suigetsu mendekat sambil memberikan sebuah amplop.

"Sepertinya ini milikmu, terjatuh dari tasmu," Hinata memandang surat itu dengan heran. Tapi akhirnya ia ambil saja karena tak ingin menimbulkan kecurigaan dari orang-orang ini.

"Apa kau mau ku antar pulang?" tawar Suigetsu. Ia merasa sedikit khawatir dengan korban bola basketnya ini. Suigetsu tidak yakin kalau Hinata bisa pulang dengan selamat.

"Ti-tidak usah, aku akan pulang sendiri. Sampai jumpa," ucap Hinata sambil sedikit membungkuk memberi hormat pada Suigetsu. Sedikitnya Hinata tahu kalau Suigetsu itu lebih tua darinya.

Hinata berjalan dengan cepat menuju gerbang sekolah ini diiringi tatapan heran dari anak-anak klub basket.

-Konoha Village-

"Sementara menunggu pembangunannya selesai, kau bisa tinggal dirumahku," ucap Minato.

Pria bermata hitam yang menjadi lawan bicaranya pun mengangguk mengerti.

"Ini alamat rumahku, tidak jauh dari sini. Apa kau butuh seseorang untuk mengantarmu?" tanya Minato sambil memberikan secarik kertas pada pria tersebut.

Pria itu meraihnya kemudian tersenyum, "tidak usah, lagi pula aku ingin jalan-jalan dulu di desa ini."

"Baiklah kalau begitu."

Pria itu pun pamit dan keluar dari ruangan kepala desa tersebut sambil menyeret kopernya.

Sesampainya diluar, ia pun memutuskan untuk mencari makan siang. Mengingat waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Tak jauh setelah berjalan ke belakang kantor Desa Konoha. Ia menemukan beberapa kedai makanan di jalan tersebut. Jalan yang cukup ramai dengan pertokoan. Sepertinya ini pasar.

"Ah, itu dia!" gumam Pria tersebut sambil menuju sebuah toko yang bertuliskan 'Toko Bunga Yamanaka'

Ting!

Sebuah bel yang dipasang diatas pintu berdenting saat pria berkulit pucat ini memasukinya.

"Selamat dataaang!" Sapa penjaga toko bunga tersebut. Wanita berambut pirang ini segera menghampiri pelanggan barunya.

"Kau mencari bunga apa, tuan?" tanya pelayan tersebut yang menggunakan name-tag 'Yamanaka Ino'

"Umm, menurutmu bunga apa yang paling enak?" pria itu balik bertanya. Pertanyaan yang cukup aneh, biasanya orang-orang mencari bunga yang paling cantik.

Ino berpikir sebentar, ah mungkin yang baunya enak. Ino pun segera mengambil sebuah pot berisi bunga kecil berwarna merah kecoklatan.

"Ini bunga kosmos cokelat, wanginya enak!" ucap Ino sambil menyodorkan bunga tersebut. Pria itu mendekatkan penciumannya pada bunga berwarna cokelat tersebut. Tercium wangi vanili yang harum dan mirip permen cokelat.

Pria itu mengangguk setuju.

"Aku beli bunga ini saja."

"Baiklah, kau ingin bunga ini satu tangkai, buket kecil, buket sedang, buket besar, atau karangan bunga?" tanya Ino lagi.

"Aku ingin beli dengan potnya."

"Hah?" jawaban pria ini membuat Ino heran. Jarang sekali ada pria muda yang membeli bunga bersama potnya. "Kau ingin menanam bunga ini? Tidak mudah untuk merawatnya loh, salah sedikit saja bunga ini bisa layu dan mati."

"Ahh, aku tidak suka bunga yang layu. Lalu bagaimana caranya agar dia tidak layu?" tanya pria itu. Sepertinya dia memang berniat menanam bunga.

"Kami hanya memberinya pupuk rahasia keluarga kami. Dengan pupuk itu, bunga-bunga disini tumbuh segar dan hampir tak pernah layu," jelas Ino antusias. Sai menatapnya dengan pandangan berbinar. Wanita ini seperti seorang koki profesional dimatanya.

"Kalau begitu, apa kau bisa datang ke rumah ini untuk merawat bunga ini? Aku suka bunga yang segar," ucap pria tersebut sambil menyodorkan secarik kertas berisi alamat.

"Hmm, kurasa ke rumah ini hanya 20 menit berjalan kaki. Baiklah, aku akan kesana. Asalkan kau memberiku tips tentunya!" ucap Ini dengan cengiran lebar. Hoho, lumayan sekali untuk tambahan uang jajan.

"Baiklah, kalau begitu untuk sekarang aku minta satu buket bunga kecil saja, lalu tolong antarkan 5 pot bunga ke alamat rumah ini."

"Oke, pesanan segera datang!" ucap Ino dengan semangat.

Tak lama, Ino pun menyerahkan sebuah buket bunga cosmos cokelat tersebut kepada pria tersebut.

"Terimakasih."

Ino menjawabnya dengan senyuman.


Ino dan pria berkulit pucat itu pun tiba di depan rumah milik Minato. Gerbang pagarnya tidak di kunci. Pria itu pun masuk ke pekarangan rumah tersebut di ikuti Ino yang mendorong gerobak berwarna pink berisi 5 pot bunga cosmos cokelat.

"Permisi!" ucap Pria tersebut tepat di depan pintu. Ino meneliti rumah besar tersebut. Kalau tidak salah, inikan rumah kepala desa, Minato-Sama. Ino jadi tidak mengerti tujuan pria ini.

"Kau punya hubungan apa dengan Minato-sama?" tanya Ino penasaran.

"Sepertinya didalam tidak ada orang, kau bisa menyimpan bunganya disini saja," ucap pria itu. Sepertinya dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Ino.

Ino pun mengangguk dan menurunkan pot-pot tersebut.

"Jadi, kapan aku harus datang untuk mengurus bunga ini?" tanya Ino sebelum dia pulang.

"Mana aku tahu, kalau bunga ini harus di urus setiap hari, itu artinya kau harus datang setiap hari."

"Ahaha, baiklah. Aku akan datang 2 hari lagi untuk memberinya pupuk. Emm, boleh aku tahu namamu? Setidaknya aku harus tahu nama klienku," tanya Ino. Pria tersebut terdiam.

"Nama? Siapa namaku?" tanya pria tersebut entah pada siapa. Ino tertawa kikuk. Yang benar saja, apa dia amnesia? Nama sendiri saja tidak ingat.

"A-aku.. aku tidak punya nama," jawabnya dengan tatapan polos. Sepertinya dia tidak sedang bercanda.

"Heh? Semua orang pasti punya nama, tahu! Kau jangan bercanda!" Ino sedikit emosi dengan tingkah pria ini. Dasar aneh!

"Memangnya namamu siapa?" Pria itu malah balik bertanya.

"Namaku Ino, Yamanaka Ino!" Ino menunjuk sebuah nametag yang tertempel di dada kanannya.

"Lalu, namaku siapa?"

Oke, Ino seperti sedang bicara dengan orang gila sekarang. Orang waras mana yang bertanya namanya sendiri pada orang yang baru dia temui?!

"Karena kau tidak punya nama, maka aku akan memberimu nama! Mulai hari ini namamu adalah... em... Sai! Iya itu saja, nama yang simpel," ucap Ino seenaknya. Tanpa disangka pria itu tersenyum lebar ke arah Ino.

"Akhirnya aku punya nama," ucapnya dengan ekspresi bahagia.

Sekarang Ino yakin sekali kalau orang ini tidak waras.

"Sebaiknya kau istirahatkan kepalamu! Aku akan pulang sekarang," Ino pun melangkahkan kakinya keluar gerbang rumah tersebut sambil menyeret gerobak pinknya.

"Dasar orang aneh! Apa dia baru saja lupa ingatan?!" Ino menggerutu sepanjang jalan.

-Konoha Village-

Sementara itu, disudut lain desa Konoha, seoarang pria berjalan mondar-mandir didepan gerbang Mansion Hyuuga. Sepertinya ia kesulitan menentukan jalan mana yang kira-kira Hinata ambil. Kiri atau kanan?

Neji terpekur dipinggir jalan. Ia berpikir dengan serius sekarang. Kemana kiranya Hinata pergi disaat seperti ini. Tempat yang sangat ingin Hinata kunjungi.

Tapi kemana?

Taman bunga?

Pasar?

Rumah sakit?

Atau...

Aha!

Ho Akademi!

Neji buru-buru melangkahkan kakinya menuju stasiun kereta. Ia ingat kata-kata Hanabi yang mengira ia dan Hinata berencana mendaftar ke Ho Akademi secara diam-diam.

Meskipun kemungkinannya kecil Hinata ada disana, setidaknya dia harus mencoba.

Neji tiba di stasiun kereta. Ia pun segera membeli tiket menuju pusat kota Negara Api.

"Ahh, sial!" Neji mendecak kesal saat mendapati jadwal keberangkatan kereta adalah jam 3 sore. Dan sekarang masih jam 12 lebih. Dia harus menunggu tiga jam lagi untuk tiba di Ho Akademi. Salahkan saja karena dia terlalu lama berpikir didepan gerbang. Jika ia berpikir lebih cepat sedikit saja, mungkin dia akan naik kereta jam 12.

Inilah kekurangan kereta. Mereka punya jadwal keberangkatan yang sudah terstruktur, yaitu setiap 3 jam sekali. Tepatnya pada jam 06.00, jam 09.00, jam 12.00, jam 15.00, jam 18.00 dan yang terakhir jam 21.00.

Neji pun memutuskan untuk pergi ke rumah temannya dan meminjam sepeda. Ia tak punya waktu kalau harus menunggu kereta. Neji pun segera berlari menuju sekolahnya. Setibanya di sana, sekolah terlihat sepi karena hari ini memang hari libur. Tapi untunglah ada 4 orang murid yang sedang mengangkut box cokelat lewat di depan Neji.

Ia mengurungkan niatnya untuk bertanya begitu mengetahui siapa orang-orang tersebut. Salah satunya adalah musuh bebuyutannya sejak kelas satu SMU. Neji memandang sinis kepada empat orang tersebut.

Pein menghentikan langkahnya begitu menyadari Neji ada disana. Ia menatap Neji dengan serius.

"Apa?" Sungut Neji begitu tahu dirinya ditatap balik.

"Aku sepertinya merasa familiar dengan wajahmu," ucap Pein sambil menunjuk wajah Neji.

Deg!

Mungkinkah dia bertemu dengan Hinata yang memiliki mata seperti dirinya?

Sial, akhirnya dia harus bertanya juga!

"Benarkah? Apa kau bertemu seseorang yang mirip denganku?" tanya Neji antusias. Ketiga teman Pein hanya diam karena tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Hmm, aku merasa tidak asing dengan wajahmu," ucap Pein lagi. Neji mengangguk.

"Ya, ya! Dimana kau bertemu dengannya?"

"Dimana ya aku pernah melihat wajah ini?" Pein sepertinya masih mencoba mengingat memori dikepalanya.

"Tentu saja kau tidak asing dengannya, dia kan sekelas dengan kita dan akan tetap sekelas dengan kita selama 2 tahun kedepan!" tandas salah satu teman Pein yang berambut hitam panjang. Musuh bebuyutan Neji, Uchiha Itachi.

"Ahaahhhaha! Benar juga yah, pantas saja aku merasa familiar dengan wajah itu, huahahahaha!"

Tawa Pein terdengar begitu meledek di gendang telinga Neji. Urat-urat dikepalanya mengeras. Sudah ia duga, bertanya pada mereka tidak ada gunanya!

Neji pun melangkahkan kakinya dengan kesal menuju gedung utama Ho Akademi.

"Sialan! Buang-buang waktu saja!"

-Konoha Village-

Setelah tersesat berjam-jam, Hinata akhirnya menemukan stasiun kereta menuju Konoha. Hinata benar-benar buta kalau soal arah. Maklum saja, ia tak pernah pergi kemana-mana. Seumur hidupnya, ia hanya pergi ke kuil dan ke rumah saudaranya yang sesama klan Hyuuga. Itupun selalu ditemani ayahnya, Neji maupun Hanabi.

Hinata memesan tiket menuju Konoha, sayangnya jadwal keberangkatan kereta adalah pukul 6 sore. Hinata melirik jam dinding yang tergantung di tembok stasiun.

Jam 5 sore.

Hinata menghela nafas berat kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia. Pikirannya melayang kemana-mana, apa yang sudah terjadi? Kenapa dia ada disini dan kenapa dia tidak ingat apapun?

Sebelumnya ia juga pernah mengalami hal ini beberapa kali. Tapi Hinata tak pernah tahu jawabannya.

Ia kemudian membuka tas nya lalu meraih amplop putih yang diberikan laki-laki pemain basket tadi.

Merasa penasaran dengan isinya, Hinata pun membukanya kemudian membaca isinya.

"Hah?"

Hinata terbelalak membaca isi surat tersebut. Disana tertulis kalau Hinata di minta untuk melakukan daftar ulang senin depan dan membawa data-data yang diperlukan. Disana juga tercantum rincian biaya yang harus ia bayar saat pendaftaran ulang nanti.

Apa-apaan ini? Siapa yang sudah mendaftarkannya?

Hinata melipat surat tersebut dan memasukkannya kedalam tasnya lagi. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang, Hinata butuh bantuan Neji.

Setelah menunggu lama, akhirnya kereta yang Hinata tunggu telah tiba. Ia pun segera naik dan duduk disalah satu kursi.

Hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk tiba di Konoha. Hinata melangkah turun dari kereta.

Sepi.

Sepertinya hanya dia yang turun dari kereta saat ini. Jelas saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Itu artinya matahari sudah tenggelam beberapa menit yang lalu.

-Konoha Village-

Hari mulai sore. Sakura segera membereskan alat-alat belajarnya untuk ia gunakan lagi besok. Sakura meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Belajar seharian membuat badannya pegal. Sebenarnya tidak bisa dikatakan seharian juga sih mengingat Naruto selalu mengusik waktunya. Sedikit-sedikit minta makanlah, sedikit-sedikit minta istirahatlah. Padahal kan yang belajar Sakura, bukan dia.

Naruto dan Sasuke pun pamit pulang karena hari mulai sore. Ingat desa ini? Jika matahari tenggelam maka desa ini menjadi desa mati. Yah meskipun masih ada beberapa orang yang nekat keluar rumah.

"Sasuke, bagaimana kalau kita makan ramen dulu sebelum pulang, aku sudah lama tidak makan ramen," ajak Naruto sambil merangkul pundak Sasuke.

Sasuke melirik Naruto dengan ujung matanya. "Sebentar lagi makan malam, kenapa kau makan ramen jam segini?"

"Ya ampun, memangnya ada aturannya kalau makan malam harus jam 7 malam?" Naruto sepertinya bersikeras ingin makan ramen.

"Namanya saja makan malam, tentu saja hal itu dilakukan malam hari bukan sore hari."

Naruto mendecih, Aturan macam apa itu? makan itu kan urusan perut bukan urusan waktu!

"Baiklah kalau kau tidak mau ikut, aku akan beli ramen sendiri dengan ukuran jumbo," Naruto menghentikan langkahnya dan melepaskan rangkulannya dari pundak Sasuke. Sementara Sasuke melanjutkan perjalanan pulangnya.

"Oke, terserah," hanya itu jawaban dari Sasuke.

"Aku akan menambahkan irisan tomat kedalam ramenku!" sepertinya Naruto mencoba merayu sahabatnya tersebut.

"Silakan saja."

"Aku juga akan memesan jus tomat!"

"Siapa peduli."

"Tomat loh! Jus tomat! Kau yakin tidak mau?" Naruto masih berusaha membujuk Sasuke.

"Tidak."

"Baiklah, aku pergi sendiri saja," Naruto segera berbalik dan berniat menuju kedai ramen Ichiraku.

"Tunggu!" cegah Sasuke tanpa berbalik melihat Naruto.

"Ha! Kau ingin ikut 'kan?" Naruto menyeringai penuh kemenangan.

"Tidak juga, aku hanya ingin beri tahu kalau ini sudah jam setengah 6 sore. Dan kedai Ichiraku tutup jam 5." Sasuke pun berjalan menjauh meninggalkan Naruto yang terpekur di tengah jalan.

"SIAAAL!"

Naruto tidak putus asa. Meskipun Ichiraku sudah tutup tapi kalau tidak salah toko kecil di ujung sana menjual ramen instan. Naruto pun bergegas menuju toko tersebut. Beruntung sekali tokonya belum tutup.

Naruto segera mengambil beberapa cup ramen kedalam keranjang belanjaannya kemudian membawanya ke meja kasir.

Pria tua penjaga toko tersebut pun menghitung belanjaan Naruto dan memasukkannya kedalam keranjang satu persatu. Sesekali ia menggeleng dan mengeluarkan kembali belanjaan Naruto. Sepertinya ia agak kebingungan menghitung menggunakan kalkulator. Cukup lama Naruto menunggu didepan meja kasir. Tapi penjaga toko tak kunjung selesai.

Naruto menghentakkan kakinya karena bosan. Sudah 15 menit ia berdiri disana.

"Paman, apakah bisa lebih cepat? Aku sudah lapar ingin makan ramen itu," akhirnya Naruto angkat bicara.

"Dasar bawel! Aku ini sedang konsentrasi, tahu! Lihat kan aku jadi lupa menghitung lagi," Pria tua itu marah dan mengeluarkan kembali belanjaan Naruto yang sudah di kantongi kemudian ia hitung ulang.

"Ma-maafkan aku," Naruto menyesal telah mengganggunya, padahal tadi hampir saja selesai.

Setelah menunggu lama, akhirnya Naruto bisa pulang dengan membawa belanjaannya. Sialnya hari sudah gelap di tambah kabut yang selalu datang bersamaan dengan matahari tenggelam. Jalanan pun sepi, bahkan seekor kucing pun tidak ada yang lewat di jalan itu.

"Benar-benar menyeramkan," gumam Naruto sambil berjalan cepat menuju rumahnya.

Tap

Tap

Tap

Terdengar suara langkah kaki saat ia hampir tiba di perempatan. Naruto mendekat ke tembok untuk bersembunyi. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan kalau ia tidak salah dengar.

Tap

Tap

Ternyata benar ada seseorang dari arah kiri perempatan. Siapa yang berkeliaran malam-malam begini? Apa jangan-jangan, hantu? Oh tidak, jika itu benar hantu. Naruto akan mengutuk kakek tua penjaga toko yang membuatnya pulang malam begini.

Merasa penasaran, Naruto pun mengintip sedikit dari balik tembok. Begitu ia mengintip, sosok itu berada tepat di depan wajah Naruto.

"KYAAAAAAA!"

"WAAAAAAA!"

Hah..

Hah..

Hampir saja jantungnya copot. Tapi sepertinya dia bukan hantu mengingat sosok itu juga ikut berteriak.

"S-siapa kau!" terdengar suara wanita yang menuding Naruto.

Naruto keluar dari persembunyiannya, terlihat seorang gadis berambut indigo berdiri disana. Ternyata itu Hinata yang baru turun dari kereta.

"Fyuhh, syukurlah kau bukan hantu," Naruto bernafas lega.

Hinata terkejut, sepertinya ia kenal dengan pria didepanya ini, "Kau?"

"Eh? Kau mengenalku?" tanya Naruto begitu melihat ekspresi Hinata.

Hinata menggeleng, "Ti-tidak."

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Naruto mulai menginterogasi Hinata.

"E-eto... aku sedikit tersesat menuju rumahku," Hinata menundukkan wajahnya karena malu. Pria berambut pirang di depannya ini pasti menganggapnya orang aneh.

"Ahaahaha, kau tersesat di desamu sendiri? Kau ini lucu sekali, dimana rumahmu? Ayo aku antar! Aku ini anak kepala desa, aku tahu semua jalan di desa ini!"

"Rumahku di mansion Hyuuga."

Naruto dan Hinata pun menyusuri jalanan gelap menuju mansion Hyuuga. Jalan yang gelap ini tak lagi terasa menyeramkan karena Naruto terus mengoceh tentang ini-itu. Sedangkan Hinata hanya tertawa kecil melihat tingkah Naruto yang kelewat aktif ini.

Hinata tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan pria ini. Pria yang pernah ia temui sekitar 10 tahun yang lalu, disebuah kuil tempat yang selalu Hinata kecil kunjungi untuk mendoakan almarhumah ibunya.

.

.

.

TBC


A/N :

Kenapa fict ini malah jadi dominan humor ya -_-

Oia, di atas sudah Fai cantumin genre lengkapnya ya.. jadi fict ini gak melulu tentang misteri dan gak melulu tentang humor :v


Balas Review :

FAISHAL ROKIE T : terimakasih sudah menunggu, ini sudah lanjut ya ^

AK : Ya ampun itu Fai salah nulis nama, harusnya hiashi kenapa jadi bapaknya sasuke wkwk. Makasih loh udah di ingetin XD Kalo perannya di gantiin ntar jadi sinetron ayah yang tertukar wkwk XD

Euclidz : sudah lanjuut..

Amelia Sania : Hai Amelia-san,, salken juga wah baru bikin akun ya? XD Ini sudah update yaa ^_^

Alvinsuprayogo : Hahaha, genrenya udah Fai tulis di atas yaa, akan ada horror juga nanti XD

Anindita616 : makasiihhh... ini sudah lanjut yaa ^_^

RendyDP424 : Heheh, tadinya mau nunggu AKD tamat, tapi kelamaan kayaknya :v

Makasih untuk semua yang sudah review, Fav dan Foll.

Apresiasi kalian adalah semangat untuk author ^_^