Terimakasih untuk yang mereview *Mumpung masih sedikit yang mereview jadi saya sebutkan, Akuma-nyo orang pertama yang mereview fict ini, MayukaRui, Nakamura, Chiwe, twin Ritsuki dan Ritsuka :), yu, akatsuki, hyori, hehe...* dan membaca fict saya. Maaf fictnya ancur-ancuran. Chapter 2 ini saya berusaha untuk membuat lebih baik *maaf lagi kalau tidak berhasil T.T

Ya sudahlah langsung saja baca kelanjutan cerita yang super gaje ini............


"Eh?" Sasuke hanya mengernyitkan keningnya, "Begitu ya." jawabnya datar.

Sasuke sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Ia lalu berjalan menuju meja kosong yang berada di sudut kantin. Gayanya sangat cool hingga membuat mata para gadis di sana membentuk amore-amore merah.

"Bocah itu. Selalu menyendiri di tengah kerumunan orang. Menyebalkan sekali." Pein melipat tangannya dan kembali duduk di kursinya, setelah tadi berdiri untuk mencairkan suasana, "Berbeda sekali dengan Itachi."

"Halo semua! Ogenki Desuka!?"

Dua orang mengenakan jubah hitam bercorak awan merah memasuki kantin dengan penuh ceria. Arah pandangan semua mata tertuju pada mereka. Kali ini semua orang di kantin justru tersenyum dan berteriak,

"GENKI DESU!!"

"Bagus!" kata salah seorang berjubah, Hidan mengacungkan jempolnya—ala Guy dan Lee. Tidak lupa juga dengan mata yang khas.

Perkenalkan dulu. Mereka anggota Akatsuki—udah tahu kan?, seniornya Konosuki gitu. Waa gaje!! Kebiasaan mereka bila bertemu kerumunan orang yaitu menanyakan kabar. Dan orang-orang WAJIB menjawab "SEHAT!!" sambil tersenyum lebar—maksa.

"Pein! Kau ada di sini juga? Waah… pesta nih." Itachi yang datang bersama Hidan langsung mendekati Pein. Itachi melihat puluhan mangkok bertumpuk di hadapan Pein.

"Ah tidak. Tadinya hanya ingin mentraktrik Choji beberapa porsi bakso. Tapi kelihatannya nafsu makannya masih sama seperti biasanya, jadi…" kalimat Pein terputus ketika ia melihat Choji sedang asik mengunyah bakso cincang suapan terakhirnya.

"Chojiii!!"

Choji menoleh pada Pein. Pein kelihatan ingin merebut mangkok bakso di tangan Choji.

"Percuma Aniki. Baksonya sudah habis."

Choji beranjak dari kursinya dan melenggang pergi…

Kemudian terdengar sebuah suara yang mengerikan. Choji bersendawa keras sekali. Hadoh..bagaimana menulisnya ya? Bayangkan sajalah (^.^)v

"Dasar bocah kurang ajar!" umpat Pein. Choji tidak peduli, ia melangkah ke luar kantin dengan hati bahagia—kenyaaang!!

"Trimakasih Aniki!!" teriak Choji sambil mengedipkan sebelah matanya.

Pein menjulurkankan lidahnya.

Itachi dan Hidan duduk di sebelah Pein. Mereka bertiga kini duduk di sebuah kursi panjang. Waaa… tiga cowok keren sedang bersanding!! Dengan gaya cool mereka yang bikin cewek klepek-klepek. Pein duduk tegak sambil melipat tangannya, pandangannya lurus dan tajam. Hidan menikmati lagu sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepala, ia mendengarkan melalui earphone di ipodnya. Dan Itachi, memainkan jari kelingkingnya di lubang hidungnya..*hhaah?? Itachi ngapain tuh??

Itachi memerhatikan Pein dengan seksama. Ia melihat Pein dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Ada yang janggal." pikir Itachi.

"Waaa Pein! Di mana jubah Akatsukimu? Jangan-jangan…" Itachi melotot melihat Pein tidak menggunakan jubah kebangsaan mereka.

"Hehehe…" Pein nyengir kuda.

"Katakan! Jubahmu tidak…er.." Itachi menarik kerah baju Pein. Hidan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang sahabatnya yang selalu konyol.

"Ehehe… Jubahnya kena pup Akamaru lagi. Tahu kan? Anjing piaraan Kiba-chan. Jadi aku tidak bisa memarahinya." Pein tersenyum manis.

Ada gurat kekecewaan di wajah Itachi, ia lalu melepaskan tangannya dari kerah baju Pein, "Huh dasar! Kuhitung-hitung sudah empat kali Akamaru membuang kotoran di jubahmu. Sebenarnya yang bodoh tuh Akamaru atau kau sih!?"

"Emmh…gomen. Lain kali aku akan lebih berhati-hati."

Itachi hanya manyun, sementara Hidan tidak terlalu memerdulikan janji Pein yang sudah sering diucapkannya. "Lebih baik mendengarkan lagu Janji Suci dari pada mendengarkan Janji Pein." pikir Hidan.

"Ngomong-ngomong Itachi, adikmu tuh! Sifat sombongnya masih sama saja yah." Kata Pein sambil memonyongkan mulutnya menunjuk pada Sasuke yang berada di pojok kantin.

"Eh? Di sini ada Sasuke juga ya? Sasu!!" Itachi memanggil adiknya yang sedang asik menyantap nasi goreng.

Sasuke hanya menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. Lalu ia kembali mengarahkan fokusnya pada nasi goreng di depannya. Itachi mendekati Sasuke.

"Mana yang lain?" Itachi menepuk pundak Sasuke.

"Entahlah."

"Kau ini, jadi orang jangan terlalu dingin. Mereka semua menganggapmu sombong, tahu!" Itachi mencoba menasehati Sasuke.

"Hn."

"Huh! Bicara denganmu sama saja bicara dengan tembok."

Sasuke hanya melirik Itachi, ia sama sekali tidak berniat menjawab perkataan Itachi. Itachi menyenggol lengan Sasuke. Kelihatannya minta tanggapan dari Sasuke.

"Ada apa sih Aniki?"

"Nah gitu donk. Paling tidak kau menganggap aku ada."

"Hn."

"Jutek lagi. Sudah ah, menyebalkan!" Itachi berjalan menjauhi Sasuke. Kembali berkumpul dengan kedua sahabatnya.

Kelas X 2..

Sepasang sahabat sedang sibuk dengan kertas yang ada di hadapan mereka. Sai dan Shikamaru.

"Jika kau ingin membicarakan tentang waktu lampau, gunakan Simple Past Tense." Shikamaru menjelaskan tentang salah satu Tenses. "Polanya, subjek ditambah verb two, ditambah objek." Jelas Shikamaru sambil menuliskan pola itu di selembar kertas.

Sai manggut-manggut. Entah ia mengerti atau justru mengantuk mendengarkan penjelasan Shikamaru.

Shikamaru terlihat bersemangat mengajari sahabatnya itu. Ia benar-benar peduli dengan nilai-nilai Sai yang semuanya berkobar—kecuali kesenian.

Sementara itu, di balik pintu yang berjendela transparan, seseorang mengintip Shikamaru dan Sai dengan tersenyum. Ia senang dengan perhatian Shikamaru yang ingin membantu Sai meningkatkan nilai-nilai mata pelajarannya.

Shika, kau baik sekali. Memang sudah sepatutnya sebagai seorang sahabat kau menolong Sai. Aah… selain itu, Shikamaru memang anak yang jenius, bukannya aku memang menginginkan orang yang seperti dia. Waah!! Bicara apa aku ini. Aku sudah memiliki Sai yang sangat menyayangiku. Aku pun sangat sayang padanya…

Terdengar langkah kaki, namun karena Temari terlalu asyik memerhatikan mereka, ia tidak menyadarinya.

"Temari! Haiiyoo sedang apaa??" Seseorang mengejutkan Temari yang sedang mengintip dua sahabat yang sedang belajar dan mengajar.

"Ah Ino. Mengagetkan saja." Temari sedikit salah tingkah dipergoki Ino seperti itu. Terlebih yang sedang diintipnya adalah kekasihnya sendiri.

"Ada apa sih?" Ino sedikit melongok ke jendela di pintu, ingin tahu. Ino berjinjit. Namun sebisa mungkin Temari menghalangi arah pandang Ino.

"Ahaha… tidak ada apa-apa." Temari menjawab dengan gugup, "Aku punya berita bagus tentang Sasuke. Ayo kita bicarakan di kantin saja." ajak Temari. Ia tidak ingin Sai dan Shikamaru terganggu karena kehadiran dirinya dan juga Ino. Ino yang diseret secara paksa pun hanya bisa pasrah. Ia tidak melawan sama sekali. Mungkin karena pembicaraan mereka berkaitan dengan Sasuke…

Kantin..

"Kau ini kenapa sih Temari?" Ino akhirnya angkat bicara.

"Eh? Memangnya kenapa denganku?"

Belum sempat Ino menjawab, ia melihat sosok yang amat sangat ia kagumi. Sosok yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya, namun entah sampai kapan ia terus berkhayal seperti itu. Ia mulai muak dengan semua khayalannya yang sama sekali tidak membuatnya bahagia dan pada akhirnya bisa memiliki Sasuke. Justru itu semua membuatnya semakin sengsara karena setiap bertatap muka dengan Sasuke, ia selalu menyimpan perasaannya. Seakan-akan degup jantungnya berdetak seratus kali lipat.

Sasuke melangkah melewati Temari dan Ino. Ia tersenyum pada Temari, tentu saja, Temari kan pacar Sai. Temari membalasnya dengan senyuman manis. Sedangkan pada Ino, hanya melihat sekilas tanpa memberikan senyuman yang sebetulnya sangat diharapkan Ino.

Ino menunduk sedih. Temari menatapnya prihatin. Ia memegang bahu Ino dan mencoba menenangkan Ino.

"Sudahlah Ino. Sasuke memang seperti itu. Mungkin karena ia belum terlalu mengenal kau."

Ino tersenyum, "Ya benar. Aku ini, seperti tidak mengenal Sasuke saja." pikir Ino.

Mereka lalu melangkah memasuki kantin............


chapter 2 selesaii...

waah... bingung kelanjutannya mau kaya gimana yah.

ceritanya pun jadi tambah gaje nih T.T

author.... Read n Review yaaa...

Arigatou...