Fifteen the Destroyer of Rider

[Pair:]
1] Hamdi Denrangga,. ?
2] Arif Saputra,. Ruruko,. Momo Hanakai.
3] Rey Bramasakti,. Tomoe Meguri.
4] Reza Bramasakti,. Tsubaki Shinra.
5] Issei Hyoudo,. Akeno,. Asia,. Xenovia
[Genre: Action, Demon, Romance, semi Harem, Over Power, Dark Power.]
Episode: Rencana baru untuk menguasai dunia.

"Baiklah kami sudah mengerti, tapi kapan rencana itu dimulai?"

"Tentu saja sekarang!" seru Hamdi dan tiba-tiba dari langit bermunculan resleting dan saat terbuka memunculkan banyak monster dan drak rider yang telah mati sebelumnya termasuk Ren Aoi, lalu Hamdi juga pergi dari sana menggunakan portal Resleting dan mulai memngembalikan dunia Rider yang rusak berserta rider-ridernya, setelah cukup banyak menggunakan kemampuan dewa kegelapan yang ia miliki akhirnya ia mampu menyembunyikan kekuatannya, namun Hamdi tau ia tidak akan bisa menahan energy besarnya selamanya, pasti ada saatnnya dimana energy itu akan meluap dan dirasakan oleh banyak mahluk.

Ia pun berpikir untuk meminta bantuan pada orang-orang di dunia Rider untuk menyembunyikan kekuatannya, namun tak ada yang bisa, ia pun pasrah dan kembali.

Hamdi berjalan menuju dapur dan di sana Hamdi mengarahkan pandangan matanya dan secara tiba-tiba peralatan dapur berterbangan dan bergerak sendiri sesuai pikiran Hamdi.

"Kemampuan telekinesis bisa digunakan dengan baik" gumam Hamdi, Hamdi pun kembali berjalan keluar rumah dan diluar ia melihat se ekor anjing kecil yang nampak kelaparan, Hamdi yang melihat itu hanya tersenyum manis, sebuah bola api berwarna hitam muncul di telapak tangan Hamdi pun melemparkannya dengan sangat kuat dan {Boooom}

"Auuuuuuuu! Uk uk ukn uk!" anjingi itu meraung kesakitan dan mati hangus terbakar, Hamdi tersenyum puas.

Hamdi kembali kedalam ia mulai bermain-main dengan kekuatannya di dalam rumahnya, banyak benda berterbangan dan bergerak sendiri, itu karena kemampuan Telekinesis, Hamdi juga bisa menghancurkan dan mengembalikan bentuk dari Objek yang rusak, tentu saja masih banyak kemampuan yang Hamdi miliki karena memakan buah terlarang dari Helhiem yang membuatnya memiliki kekuatan Overlord namun dengan pengorbanan tertentu.

Yah Ia tidak akan bisa dikenyangkan dengan makanan dari dunia manusia atau Midgard, ia hanya bisa kenyang ketika makan buah Helhiem, kenapa karena makanan dari dunia manusia akan terasa hambar di lidahnya, Hamdi sudah menyadari hal itu, namun meski demikian Hamdi tidak kehilangan kemampuan memasaknya, masakannya tetap enak dan ia tetap memakannya meski tidak ada rasanya, kenapa karena Ryouma dan yang lain mengatakan masakannya enak dan mereka terlihat sangat menikmati masakannya, hal itu membuatnya senang dan menghabiskan semua nasi dan lauk di piringnya meski rasanya tidak ada.

Beberapa jam kemudian.

Tiba-tiba lingkaran sihir muncul dan memperlihatkan Akeno tersenyum ke arahnya.

"Ada apa Akeno-senpai?" tanya Hamdi penasaran dengan perempuan itu, jujur saja kalau ia bukanlah seorang pemimpin dunia kegelapan mungkin ia sudah jatuh cinta pada gadis itu, tapi ia berbeda ia sudah tau sisi gelap dan baik dunia, ia mengambil peran sebagai penyeimbang dengan menaruh diri di bagian tergelap dan juga terjahat dalam perannnya.

"Kita semua harus berkumpul, Bochou ingin kita menyelamatkan Issei!" seru Akeno.

Hamdi mengangguk dan masuk kedalam lingkaran sihir, lalu menghilang bersama Akeno.

Di tempat Issei.

Terlihat Issei sedang pasrah di hadapan seorang lelaki berambut silver, melihat hal itu Hamdi langsung tau siapa pemuda itu, Freed Zelzan seorang pastur atau pendeta yang sesat dan bejat.

Arif, Reza dan Rey tidak ikut karena mereka sudah tidur dan Akeno tidak ingin membangunkan mereka.

"Apa ini, kenalan kalian?" tanya pendeta itu.

"Maaf saja dia adalah teman kami" jawab Kiba pada saat itu.

"Oh benarkah, apa mungkin kau Seme dan dia Uke, fufufufufu!"

"Ucapanmu cukup kotor untuk seorang pendeta" ungkap Kiba pada saat itu, Hamdi tau kalau Kiba marah namun Kiba memasang senyum tanda sebenarnya ia tidak terpengaruh.

"Bahkan iblis saja tidak mau berurusan denganmu" ungkap Akeno dengan nada menggoda.

"Ah benar aku suka padamu, apakah ini cinta atau nafsu membunuh oh aku jadi tidak tahan" ungkap pendeta itu dengan tampang menggelikan, kalau saja tidak ada siapapun disana selain dirinya, Hamdi sudah pasti membunuh pendeta itu dengan kekuatannya tapi, karena ada banyak orang ia memilih diam saja.

"Jaa kalau begitu lebih baik kau musnah saja" ucap dingin sebuah suara feminim dengan tiba-tiba meski agak santai namun begitu terasa hawa membunuhnya.

"E huaaa!" teriak kaget sang pendeta ketika melihat sebuah energy kuat berwarna merah gelap melesat ke arahnya, terlihat jelas Issei sedang kesakitan parah dan seorang Biarawati yang kondisinya seperti gadis yang hampir di perkosa.

{Blaaaaaaaaar} beruntung Pendeta itu berhasil menahan serangan itu dengan pedangnya dan saat di lihat dari arah serangan ternyata ada seorang perempuan berambut merah berdiri menatap tajam sang pendeta.

"Tak akan aku biarkan seorang sampah sepertimu mempermainkan budak manisku" ucap Rias dengan tegas pada pendeta itu, terlihat kasih sayang Rias pada Issei begitu besar, namun bagi Hamdi Denrangga itu bukanlah sifat yang diperlukan sebagai seorang pemimpin.

Meski kasih sayang kadang dibutuhkan dalam memimpin sebuah kelompok namun kasih sayang yang berlebihan hanya akan membuat pertumbuhan anak buah menjadi lambat dan membentuk karakter mereka menjadi lembek dan itu sangat tidak bagus.

"Denrangga-sama perlukah kami membantu?" tanya Ren Aoi melalui telepati.

'Kurasa tidak perlu mereka sudah cukup untuk mengatasi ini' batin Hamdi sambil memandang semuanya hingga akhirnya Issei dibawa pergi meninggalkan Asia seorang diri, Issei terlihat menangis karena ingin menyelamatkan Asia.

Hamdi bisa merasakan perasaan negatif seperti kekesalan rasa putus asa dan lain sebagainya, entah kenapa itu terasa menjadi energy dan terasa nikmat di tubuhnya.

'Rasa putus asa yang luar biasa' batin Hamdi sembari tersenyum.

Saat semua telah berteleportasi, Hamdi keluar dari lingkaran sihir dan ia meninggalkan semuanya sekarang terlihat Hamdi hanya berhadapan satu lawan satu dengan Freed Selzan atau Pendeta gila super nyentrik.

"Wow kau tidak lari seperti teman-temanmu, kau akan mati kalau bantuan datang!" seru Freed.

"..." Hamdi hanya diam namun ia berjalan santai mendekati Freed ia ingin mencoba membuat mahluk di hadapannya menghadapi keputus asaan untuk merasakan kembali sensasi yang sempat hilang sebelumnya.

Tubuh Hamdi di selimuti energy kegelapan yang berkobar seperti api ia mencoba mendekati Freed, Freed yang merasakan pirasat yang kurang mengenakan langsung menembakan pistolnya ke arah Hamdi namun peluru emas miliknya langsung meleleh sebelum menyentuh kulit Hamdi sehingga Hamdi tak terluka.

Hamdi langsung menembakan bola api hitam ke arah portal yang akan di gunakan Datenshi dan portal itu langsung menghilang, Freed yang melihata hal itu kaget dan bergetar, ia mulai merasakan ketakutan yang cukup besar, Hamdi merasakan rasa takut yang dipancarkan oleh Freed langsung tersenyum namun saat Hamdi ingin menyerang Freed lingkaran sihir berwarna merah muncul, hal itu membuat Hamdi mengurungkan niatnya dan akhirnya dibawa pergi oleh Akeno.

Saat berada di ruang klub Hamdi melihat Issei menjadi murung. Sebenarnya Hamdi merasa senang bisa merasakan perasaan putus asa dan emosi negatif siapapun karena bisa memulihkan energynya dengan cepat namun meski begitu ia akan di anggap sebagai orang dingin tak berperasaan jika tidak peduli akan kondisi teman, maka dari itu Hamdi merasa harus memberikan semangat pada Issei meski hanya sedikit.

"Hoy Hyoudo-san kenapa kau cemberut, tersenyumlah, karena merengut tidak akan bisa menyelesaikan masalah" ucap Hamdi sembari menepuk punggung Issei.

"Hamdi-san" gumam Issei.

"Impian seorang lelaki tidak akan padam hingga akhir hayatnya" ucap Hamdi mengambil kutipan kata-kata yang pernah dikatakan oleh seorang bajak laut kepada seorang tokoh utama di filmnya.

"Apa maksudnya?" tanya Issei penasaran.

"Jangan biarkan halangan kecil mempersulit jalanmu, tunjukan kalau kau bisa menggapai impianmu, jadikan halangan itu sebagai bantu loncatan untuk menjadi kuat" ucap Hamdi dengan nada datar lalu pergi dan menatap Issei sekali lagi.

"Jika kau masih merasa sebagai lelaki jangan pernah menyerah jadilah kuat"

Issei terlihat merenungkan kata-kata Hamdi, ia pun ikut pergi sambil tersenyum karena ia mendapat dukungan dari salah satu anggotanya meski secara tidak langsung.

Ke esokan harinya.

Hamdi terlihat menikmati hari-harinya dipagi hari dengan sangat santai, meski tidak bisa merasakan rasa masakannya, setidaknya ia tidak bisa merasakan lapar, dan saat anak buahnya datang ia menyediakan makanan untuk mereka, meski ia juga makan namun ia tidak merasakan apapun dari makanan yang ia makan.

{Ting nong!}

Bel rumah pun berbunyi seperti ada yang memencet tombolnya.

"Asakura, Shinji, Ryouma, aku rasa kalian harus pergi"

"Baiklah kami mengerti" ucap mereka lalu pergi dengan cara masing masing, Shinji dan Asakura pergi melalui cermin sedangkan Ryouma menggunakan portal Helhiem.

Hamdi berjalan dan membuka pintu rumahnya, dan terlihat di depan rumah ada 4 orang yang sangat Hamdi kenal, mereka adalah Arif, Rey, Reza dan Koneko tersenyum ke arahnya.

"Yo!" sapa Arif sembari tersenyum.

"Haaah ada urusan apa kalian kemari?" tanya Hamdi pada mereka berempat dengan nada yang ogah ogahan.

"Kami hanya ingin berkunjung, apa tidak boleh?" tanya Reza dan diberi anggukan oleh Rey, Arif dan Koneko.

"Aku ingin melihat rumahnya senpai" jawab Koneko.

"Rumahku? Hem terserahlah, ayo masuk"

Koneko, Arif, Rey dan Reza pun masuk dengan pelan kedalam rumah dan terlihat mereka menatap rumah Hamdi yang terlihat begitu rapi, padahal ia seorang lelaki dan tinggal seorang diri, oh iya rumah ini merupakan pemberian dari Rias King mereka.

"Oke silahkan duduk, aku akan membuatkan kalian air minum" ungkap Hamdi sambil tersenyum sebisanya.

"Hamdi-senpai kalau tidak bisa tersenyum tulus sebaiknya hentikan saja karena senyumanmu terlihat tidak enak dipandang" ungkap Koneko.

Hamdi tetap diam dan melanjutkan jalannya ke dapur.

"Koneko, bukankah ungkapanmu itu agak terlalu..." ucap Rey pada Koneko.

"Hum" gumam Koneko dengan santainya.

"Kadang aku bingung hubungan kalian berdua itu apa?" tambah Arif sambil memandang Koneko.

Tak lama setelah itu Hamdi datang sembari membawa empat cangkir kaca dengan isi kopi lalu Hamdi meletakannya di hadapan mereka.

"Silahkan diminum kopi nya" ungkap Hamdi.

"Lalu bagaimana dengan senpai?" tanya Koneko karena Hamdi hanya membawa 4 cangkir yang artinya tidak ada untuk Hamdi atau tuan rumah.

"Sudah minum saja, aku tidak perlu" ungkap Hamdi sambil menatap mereka dengan pandangan datar dan santai.

"Aku tidak mau minum jika Senpai juga tidak minum" ungkap Koneko sembari menatap tajam Hamdi.

Hamdi sedikit terdiam mendengar ungkapan Koneko, lalu dengan santainya ia tersenyum manis. Hamdi pun menjawab kata-kata Koneko.

"Di tempatku tamu harus di dahulukan, jadi aku hanya akan minum jika kalian sudah minum" jawab Hamdi.

"Aku tidak percaya, pokoknya aku tidak mau minum jika Hamdi-senpai tidak mau minum!" seru Koneko agak memaksa

Hamdi pun menghela sedikit nafasnya dan pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri.

Saat ia berada di dapur, Hamdi menatap berbagai peralatan dapur, ia menggunakan kekuatannya untuk mengurangi aura yang ada di dalam tubuhnya agar tidak terlalu banyak menguar dan tidak terasakan oleh banyak orang, cangkir kaca yang ada di rumahnya itu terbang melayang, lalu air kran keluar dan membentuk gelembung air di udara dan melayang menuju cangkir yang sudah di sediakan Hamdi pun menembakan bola api hitam ke gelembung air itu dan airnya pun langsung menididih, setelah itu Hamdi mengarahkan air mendidih itu masuk kedalam cangkir.

Fase berikutnya beberapa butir gula berterbangan dan turun ke arah cangkir yang terisi air panas dan masuklah sedikit bubuk kopi lalu air dalam cangkir itu berputar otomatis, setelah merasa sudah cukup Hamdi mulai membuat cangkir itu terbang melayang ke arahnya.

Hamdi pun menangkap secangkir kopi di tangannya dan berjalan santai menuju ruang tamu.

Di sana nampak terlihat Koneko, Rey, Reza dan juga Arif sedang menunggu dirinya.

"Yo"

"Oke saatnya kita minum bersama, ayo bersulang!" seru Rey sembari tersenyum, Koneko ikut tersenyum dan akhirnya, akhirnyan mereka semua bersulang dan minum bersama.

"Jadi apa kedatangan kalian semua kemari hanya untuk berkunjung, atau mungkin kalian memiliki urusan lain hingga mendatangiku yang sedang asik di rumah?" tanya Hamdi sembari duduk menatap mereka.

"Ehem begini, kami ingin menjemputmu untuk pergi kesekolah bareng" jawab Reza dan di beri anggukan oleh Koneko yang menandakan kalau informasi itu benar adanya.

"Oh, kalau begitu, tunggu sebentar aku akan bersiap-siap" ungkap Hamdi, lalu dengan cepat Hamdi berlari menuju kamar dan mengganti pakaiannya sembari membawa tas sekolah..

"Oke aku sudah siap" jawab Hamdi sembari tersenyum. Akhirnya mereka berempat berangkat bersama menuju ke sekolah.

Di sore hari kemudian.

Terlihat, Arif, Rey, Reza, Kiba, Koneko, Hamdi dan juga Rias berada di sebuah bangunan sekolah yang cukup mewah, yang tidak lain adalah ruang klub mereka sendiri, di sana Issei juga ada, terlihat Issei tengah bedebat dengan Rias, Hamdi terlihat mulai bosan dan pergi ke tempat menenangkan diri karena perdebatan antara Issei sama Rias menurutnya sangat membosankan

"Issei" ucap Arif yang berada didekat Issei karena dia tahu masalah Issei pasti mengenai perempuan yang ditemuinya kemarin apalagi Arif belum kenal siapa perempuan yang Issei debatkan kepada Ketuanya

"Ada apa? Jika kalian ingin menghalangi aku untuk menyelamatkannya kalian harus pergi dari hadapanku" ucap Issei yang nampak terkesan dingin

"Aku bukan ingin menghalangi, tapi aku ingin membantumu apalagi kamu dalam masalah yang begitu sulit. Dan lagi aku belum pernah ketemu sama perempuan yang kamu maksud barusan" ucap Arif

"Bukan hanya Arif saja yang pergi tapi aku sama adikku juga akan ikut membantumu" ucap Rey dan juga menunjuk adiknya yang bernama Reza

"kami berdua juga akan ikut membantumu karena ini murni dari hati kami sendiri yang ingin membantumu" ucap Kiba

"Dan aku tidak ingin Issei-senpai terluka" ucap Koneko

"Minna...hiks...hiks... Arigatou" ucap Issei yang nampak terharu karena dirinya belum pernah melihat hal ini dimana teman-temannya ingin membantunya walau dia cukup mesum

"Baiklah ayo kita pergi" ucap Arif yang dibalas anggukan semua orang.

Akhirnya mereka semua pergi menuju gereja yang tidak terpakai apalagi gereja itu nampak angker seperti rumah hantu.

Di lain tempat.

Terlihat Hamdi berjalan santai menuju gereja dan dalam perjalanannya ia di hadang Ren Aoi yang merupakan Kamen Rider Fifteen sebelumnya.

"Hamdi-san" panggil pria tua berambut hitam pendek dengan mengenakan pakaian seperti seorang paranormal kepada Hamdi.

"Ren-san. Heh, tentu saja aku menjalankan rencanaku untuk menguasai dunia ini" ungkap Hamdi sembari tersenyum.

"Kalau boleh tau apa rencana tuan untuk menguasai dunia ini?" tanya Ren Aoi.

"Ren Aoi. Sebaiknya kau tak usah memannggilku dengan kata tuan, karena, kaulah yang memberikanku kekuatan untuk melakukan apa yang aku mau" ungkap Hamdi sembari tersenyum.

"Kau itu, Hamdi-san perlu kau ketahui, jika bukan kau, Drak Rider tidak akan pernah menang melawan para Rider, tapi karena kaulah Drak Rider menjadi sedikit berjaya"

"Aku merasa apapun yang aku lakukan tidak akan ada pengaruhnya pada kejayaan kalian, karena yang aku lakukan hanyalah sekedar kesenangan belaka, tak lebih dari itu, sekarang aku ingin bermain-main dengan Diend dan teman-temannya, dan juga aku ingin mencoba kekuatan baruku dalam bertarung dengan orang-orang kuat di dunia ini, aku ingin menguji seberapa hebat mereka" jawab Hamdi sembari tersenyum.

"Setelah kau mengetahui semuanya apa yang akan anda lakukan?" tanya Ren Aoi selaku Rider Fifteen Prototipe.

"Aku rasa, aku akan memulai rencanaku, tapi untuk saat ini aku masih ingin mencari tahu tentang dunia ini, banyak hal yang masih misteri bagiku. Jadi sebelum aku kembali pimpinlah mereka sebaik mungkin, aku akan mengawasi kalian dari balik layar dan mencari informasi tentang kehebatan musuh-musuh kita" jawab Hamdi dengan tenang bahkan terasa begitu tenang.

Ren Aoi sedikit tersenyum dan ia menanyakan satu hal lagi pada Hamdi sebelum pergi.

"Oh iya Hamdi-san apa kau punya sedikit saran untuk orang tua sepertiku dalam memimpin kereajaan sementara?" tanya Ren Aoi pada Hamdi.

"Heh, jangan mengemis kerja-sama dengan penjahat lain dan janganlah kita yang meminta kerja-sama, karena mereka pasti akan meremehkan kita, aku ingin kita adalah satu-satunya yang berjaya di dunia baru ini, maka dari itu kerja-sama dengan penjahat dari dunia ini sangat aku larang, meskipun sangat menguntungkan tapi aku tidak mau diremehkan atau jadi budak mereka, kau mengerti?"

"Baiklah, setidaknya aku paham maksud dari keinginanmu, meskipun penjelasan panjangmu itu terdengar aneh dan bertele-tele" ungkap Aoi Ren lalu pergi meninggalkan Hamdi seorang diri.

Hamdi sedikit menyunggingkan senyuman dan secara tiba-tiba tubuh Hamdi diselimuti api hitam dan kepalanya tiba tiba di tutupi tengkorak raksasa dengan tulang rusuk besar memeluk tubuh Hamdi dan setelah itu tengkorak itu mengecil dan akhirnya Hamdi berubah wujud menjadi kamen Rider Fifteen. Namun, karena Hamdi berubah tanpa menggunakan Belt maka di pinggang Fifteen tidak ada sengoku drifer ataupun lockseed. Akan tetapi, digantikan oleh Belt dengan depatnya berbentuk tenkorak hitam.

Hamdi berjalan dengan membawa skaleton sword, menuju Gereja setelah berjalan beberapa langkah, ia langsung berlari dengan kecepatan sangat tinggi.

Kembali ke tempat Arif dan yang lain

Setibanya disana Arif menendang pintu gereja itu dengan sangat kuat karena pintunya begitu bobrok

Duak ngeeng Blaar

Lalu pintu gereja pun akhirnya roboh akibat tendangan Arif yang sangat kuat bahkan membuat baut pintu itu terlepas dari pondasinya

"Anjayy... kupikir ada penghuninya tapi tidak ada sama sekali" umpat Arif karena isi di dalamnya kosong melompong

"Dikatakan gereja terbengkalai bukan berarti tidak ada penghuninya, Arif-kun" ucap kiba

"Tapi tetap saja. Tempat ini nampak menyeramkan jika kosong" ucap Arif

"Oh ya Issei" ucap Arif yang menginterupsi sehingga issei melirik kearah arif

"Memang siapa perempuan yang kamu maksud sampai kamu berdebat bersama Buchou?" tanya Arif karena dia bersama Rey dan Reza tertidur pulas

"Nama perempuan itu adalah Asia Argento dia utusan dari kota Vatikan di Eropa. Dan alasan kenapa aku berdebat sama buchou itu karena buchou melarangku untuk menyelamatkan Asia karena bisa memicu terjadinya perang antara pihak iblis dengan pihak gereja" ucap Issei

"Nee. Issei akan aku kasih saran kepadamu. Orang yang melanggar aturan disebut sampah" ucap Arif yang bikin Issei murung. Namun, kemurungan Issei terganti dengan kata Arif selanjutnya

"Tapi orang yang meninggalkan rekan dan keluarganya lebih buruk dari sampah" sambung Arif yang bikin semua menatapnya karena belum pernah mendengar kata-kata itu

"Artinya apa Arif-kun?" tanya Kiba

"Artinya. Kamu jangan pernah sekali-kali membuang temanmu karena temanmu lah yang selalu mendorong kamu untuk maju karena tanpa teman hidup seseorang begitu hampa. Dan jika ada aturan yang melarang kamu untuk berteman dan menyelamatkannya, kamu boleh melanggarnya. Karena teman selalu memberikan kamu dukungan dan selalu melindungimu tak peduli apapun itu" jelas Arif yang bikin semua kagum

"Hehehe... belum pernah aku mendengar makna itu. Memang darimana kamu dapat itu?" tanya Reza karena dia cukup senang mendengar ucapan Arif

"Kalau itu berasal dari anime yang aku suka tonton namanya Naruto" ucap arif

"Oh anime dimana sang bocah kyuubi itu ingin menjadi hokage itu ya?" tunjuk Reza yang tahu film itu dan dibalas anggukan dari Arif

"Iya" balas Arif

Prok prok prok

"Wah wah wah... tak aku sangka aku akan bertemu sama peerage iblis gremory" ucap seseorang yang Kiba dan Koneko tahu siapa orang itu.

"Etto... kiba aku mau tanya sesuatu?" ucap Arif

"Memang apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Kiba

"Siapa pemuda itu yang nampak mesum, lalu wajahnya super menjijikkan dan selalu tersesat itu, serta kelihatan seperti orang gila?" tunjuk Arif kepada pastur super narsis berambut silver panjang. yang entah kenapa mengejeknya dengan kalimat super menghina

Sementara Issei, Koneko, Rey dan Reza nampak menahan tawa dimana Arif menghina orang itu

"Namanya Freed Zelzan memang kamu kenapa tanya itu?" tanya kiba

"Tidak ada... aku heran kenapa orang gila itu berada disini... Apa dia baru saja melarikan diri dari RSJ?" tanya Arif yang nampak menghina Freed

"Wah wah wah... sungguh kasar banget ucapanmu kepadaku.. kalau begitu biarkan aku membunuhmu dengan pedangku ini" ucap Freed yang nampak menyeringai kejam

"Oii... apa disini ada yang mau menghadapi orang RSJ ini yang baru saja melarikan diri?" tanya Arif yang bikin Kiba berusaha menahan tawa dimana freed dikatakan orang RSJ yang melarikan diri.

"Bangsat kau bocah!" umpat Freed kepada arif

"Oii... kau ini dari RSJ mana sih? Telingaku jadi berdarah ini akibat teriakan anehmu itu" ucap Arif.

Seketika Arif, Rey dan Reza bersiap-siap melawan pendeta narsis enggak ketulungan seperti orang sinting. Dengan cepat Pendeta menembakan pistol ke arah mereka.

Duar

Trank!.

Kiba langsung menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan dari Freed.

"Oke, teman-teman ... biarkan aku yang menghadapi Pendeta gila ini, kalian lanjutkan perjalanan!" seru Arif pada saat itu, ia memerintah teman satu teamnya untuk menyerahkan masalah Freed Kepadanya.

Kiba dan yang lain langsung mengangguk, mereka pun berlari meneruskan perjalanan menuju ruang bawah tanah.

"Tapi sebelum itu hati-hati Arif-san!" seru Kiba l

"Jangan pikir kalian bisa lari begitu saja!"

Duar! duar! duar!

Suara tembakan terdengar dari arah Arif, lantai tempat Freed berlubang, Freed menatap tajam ke arah suara tembakan, terlihat Arif memasang senyum mengejek sembari memengang pistol ditangannya.

"Kau benar-benar ingin mati yah bocah iblis!" seru Freed sembari berlari dengan kecepatan tinggi, ke arah Arif dan menebaskan pedangnya ke arah Arif, namun sebelum pedang cahaya itu menyentuh tubuh Arif memiringkan badannya hingga pedang itu melewatinya.

"Huaaaah~ kau payah sekali, seranganmu begitu sederhana dan lambat!" ejek Arif.

"Ka-"

Buag!

"Arrrghh!" hidung Pendeta itu berdarah, akibat tinju kuat dari Arif, "Kau! Benar-benar pengen mati rupanya!" seru pendeta itu sembari mengarahkan pistolnya ke arah Arif dan menkan pelatuknya berkali-kali.

Duar duar duar!

Arif cukup kaget dan mempromotion dirinya menjadi bidak Knight untuk meningkatkan kecepatannya. Arif menggunakan kecepatannya untuk menghindari tembakan dari Freed sembari berlari.

"Hooo! Payah, tembakanmu meleset semua! Pendeta Gila!" seru Arif sembari menghindari tembakan dari Freed.

"Ku-kurang ajar!"

Dududdududduduarrr!.

Karena serangan pendeta itu sangat cepat, hal itu membuat Arif kesulitan mencari celah untuk menyerang balik, karena ia tau kalau Pendeta super Sableng itu tidak akan memberikan jeda atau kesempatan pada dirinya.

"Hahahahahaha! Larilah seperti pengecut berengsek!" seru Freed sembari menembakan pistolnya dengan amarah yang berkobar ke arah Arif, Arif juga terlihat kesulitan untuk menghindari serangan itu.

"Cih, jangan remehkan aku, ini masih belum seberapa pendeta sinting!"

Di luar Gereja.

Hamdi yang sedang dalam Form Fifteen melihat Arif melawan Pendeta Freed dengan menggunakan Diend Gundriver langsung terdiam, karena ia tidak menyangka jikalau ia akan keduluan oleh Arif dan yang lain.

Hamdi pun berhenti berubah, atau kembali ke mode manusia, karena jika ia tetap dalam wujud Fifteen, di khawatirkan akan terjadi pertarungan yang tak diinginkan(diluar rencana) terjadi.

'Sial kenapa malah keduluan Arif disini?' batin Hamdi sembari menghubungi Ren Aoi karena ada perubahan rencana.

Setelah memberitahukan rencananya pada Ren, Hamdi pun masuk kedalam Gereja, dengan santai dan pendeta itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Hamdi karena sangat tipis.

Arif yang melihat Hamdi berjalan santai ke arah pendeta itu jadi kebingungan, hingga kehilangan konsentrasi.

'Hamdi? Ngapain dia disini?'

Krass

"Arrrgh!" erang Arif kesakitan sembari menatap ke arah Hamdi yang sudah berada di belakang Freed.

"Ahahahahahaha! Apa hanya sampai sana kemampuanmu bocah iblis!" seru Freed pada saat itu, ia sangat kegirangan, sedangkan Arif menatap tajam Freed.

"Heh matilah dengan tenang bocah Iblis." Ungkap Freed sembari mengarahkan pistolnya ke arah Arif yang jika di perkirakan akan mengenai kepala Arif. Arif hanya pasrah melihat hal itu, namun hal itu tidak berlangsung lama.

Greb.

"Eh?" Freed kebingungan karena tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.

"German Suplexs!" seru Hamdi sembari mengangkat tubuh Freed dan membuat Freed terhempas ke belakang dengan kepalanya membentur kursi Gereja.

Braaak!.

Kursi-kursi Gereja itu hancur ketika berbenturan dengan kepala Freed, Freed, langsung jatuh pingsan karena nya, sementara Hamdi yang terbaring di lantai langsung kembali duduk dan menatap ke arah Arif, ia juga menatap bingung Arif, karena Arif tidak Henshin kedalam bentuk Rider.

"Yo!" sapa Hamdi sembari tersenyum ke arah Arif.

Arif ikut tersenyum, Hamdi pun berjalan mendekati Arif.

"Cik merepotkan, kenapa kau sampai-sampai datang kemari, lagian kau punya senjata, tapi kenapa tidak kau gunakan?" Hamdi mendekati Arif dengan ceramahnya.

"Ya maaf, soalnya konsentrasiku buyar, saat kau datang tiba-tiba, lagian kenapa kau bisa ada disini?" tanya Arif.

"Yah saat aku kembali ke ruang klub untuk kumpul, kalian enggak ada, makanya aku kebingungan dan karena aku sedikit tertarik dengan ke adaan yang ada di Gereja ini makanya aku datang kemari, karena aku selalu tertarik dengan bangunan-bangunan tua." Jawab Hamdi dengan kebohongannya.

"*Denrangga-sama, kapan kita memulai rencana kita?*" tanya Ren Aoi melalui telepati.

"*Itu gampang, kau hanya perlu menunggu tanda dariku*" jawab Hamdi sembari tersenyum.

"Di, Hamdi, Hamdi oy Hamdi!"

"Eh um ada apa?" tanya Hamdi pada Arif pada saat itu.

"Harusnya aku yang bertanya kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Arif pada Hamdi yang ada di hadapannya.

"Tidak ada apa-apa, oh iya apa kau tau dimana yang lain?" tanya Hamdi sembari menyentuh luka di bahu Arif.

"Auch! Kau ini ... lukaku masih belum menutup jangan asal sentuh saja dong ah!" seru Arif marah pada Hamdi.

"Heh."

"Oy dengerin teman ngomong napa?!"

Hamdi hanya diam dan melepaskan sentuhannya pada luka Arif, betapa kagetnya Arif melihat luka dibahunya sembuh dan rasa sakitnya juga hilang.

'Hebat, apa yang terjadi?' tanya batin Arif sembari menatap ke arah Hamdi.

"Jadi, dimana yang lain?" tanya Hamdi dengan santai.

"Di ruang bawah tanah" jawab Arif.

"Oh jadi begitu," gumam Hamdi sembari berjalan lalu ia tersenyum manis, "Kuy! Specter!" seru Hamdi, lalu rompi hitam dengan aksen biru tua di bagian lingkar pinggang dan lingkar lengan bawahnya bertudung terbang melayang ke arah Hamdi.

Kaigan ... Specter!

Ready go kakugo, doki doki Ghosto.

Rompi itu terpasang di tubuh Hamdi, dan membuat Hamdi memiliki aura gelap yang kuat dengan tanduk ras Oni muncul di dahinya.

"Ikuje Arifu!" seru Hamdi lalu berlari menuju ruang bawah tanah, sementara Arif hanya bisa menatap tercengang Hamdi karena, Hamdi memiliki kemampuan memanggil Specter Damashi milik Kamen Rider Specter dan memakainya, tanpa menggunakan Eyecon dan Ghost ataupun Specter Driver.

"A,,,, areeeee..."

Di ruang bawah tanah kemudian.

Hamdi dan Arif berlari menuju ruang bawah tanah, Hamdi melihat Raynare melemparkan Light spear ke arah Issei, lalu Issei di tarik oleh Kiba agar terhindar dari tombak cahaya tersebut.

Duaaarrr!

Tombak cahaya itu meledak dan membuat Issei, Kiba, Koneko, Rey dan Reza terlempar.

"Eegkyaaaaaaaaaaaaaa!" teriak suara gadis kecil ketika Hamdi dan Arif sampai ke tempat Issei dan yang lain.

"Apa yang dia lakukan" tanya Reza melihat Asia begitu kesakitan.

"Mereka kelihatannya ingin mengambil Secread Gear milik gadis itu." Jawab Kiba secara spontan.

"Apaa?! Apa yang akan terjadi jika Secread Gear itu sampai diambil?" tanya Issei, ia seperti takut akan hal buruk terjadi.

Hamdi terlihat memberikan sebuah kode tangan yang tidak disadari oleh orang-orang.

"Gadis itu ... akan..." Kiba seperti tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Treeeet!.

"Apa itu?!" tanya kaget Rey, Reza, Kiba, Issei, dan Arif, sedangkan Koneko hanya bisa diam menatap ke arah

Secara tiba-tiba lubang dimensi muncul dari bagian atas tepat di atas kepala Datenshi wanita dengan pakaian yang sangat minim itu lalu, seseorang dengan armor jatuh dari lubang itu lalu menebas gadis Dateshi itu.

Sriiing! Jraaaaaaaaaaaasssssss!

"Arrrrrrrrrrghhh!" gadis Datenshi itu berteriak kesakitan karena punggungnya terluka, ia menatap ke arah belakang, terlihat seseorang berarmor hitam dengan aksen putih membentuk tulang rusuk pada bagian dada, aksen tulang juga terdapat di tangan dan kakinya, lalu bagian helem terlihat seperti armor samurai berpangkat Shougun dengan balutan bulu putih yang cukup lebat, bagian kaca depan helemnya hanya berwarna hitam dengan tandu helem memiliki tulisan kanji Jyugo atau Lima belas atau Fifteen.

"Itu!" kaget Arif melihat orang dengan armor baja hitam aksen tulang itu.

"Siapa kau keparat?! Beraninya kau melukaiku!" seru Raynare dengan nada marah.

"Ore wa Kamen Rider Fifteen, pemimpin semua drak Rider" jawab orang itu sembari meletakan lengannya pada kepala sabuknya yang memiliki pedang kecil dengan gembok menempel di sana dan dengan cepat ia menggerakan pisau kecil di beltnya menebas gembok yang menggantung di beltnya sebanyak satu kali.

Jrengengngeng!.

Orang berarmor itu menyiapkan pedangnya yang bermodel tulang itu, dengan api hitam yang terus mengalir ke pedangnya.

"Kau akan mati olehku!" seru Raynare sembari melemparkan tombak cahayanya secara tiba-tiba, namun orang yang mengaku sebagai Kamen Rider Fifteen menghindari serangan dengan memiringkan tubuhnya.

Fifteen Squash!

Belt miliknya tiba-tiba mengeluarkan suara , Kamen Rider Fifteen itu pun langsung menyerang Raynare dengan beberapa tebasa.

Kras krasss Blaaaaaaaarrrrrrrrrrrrr!

"Aaaaaaaaaaaaaa!"

"Raynare-sama!" teriak para pastur yang ada disana.

Fifteen Au lait

Duaaarrr!.

Tiang tempat Asia terikan hancur di tendang oleh Fifteen.

"Siapa dia? Kenapa dia menyelamatkan Asia?" tanya Rey dan Reza.

"Aku tidak tau." Jawab Issei sembari menggeleng.

"Dia kuat sekali." Ungkap gadis kecil berambut putih (Koneko).

Namun Arif terlihat sangat marah ketika melihat kehadiran Fifteen, ia terlihat begitu waspada, Hamdi yang melihat itu, hanya sedikit menyunggingkan senyumannya.

"Kaaaau! Bagaimana mungkin kau masih hidup sampai sekarang?!" tanya keras Arif dengan wajahnya yang mengeras.

Bersambung