Okay, chapter dua. Aku langsung post bersamaan dengan chapter satu. Ehehehe.

Selamat membaca …


Tiga hari sudah berlalu sejak Orihime tinggal di Las Noches. Dia diberi kamar yang luas dengan ranjang yang empuk dan nyaman, dia juga dilayani dengan sangat baik seolah dirinya seorang Tuan Puteri. Hal ini sungguh membuatnya merasa tidak nyaman, walau di satu sisi dia sangat bersyukur Aizen memberikan kebebasan padanya untuk pergi ke mana pun yang dia mau di Las Noches ini.

Orihime berjalan dengan sangat berhati-hati, dia tidak ingin suara langkah kakinya terdengar. Irama jantungnya sungguh sangat kacau, mata biru pria itu terus terngiang di benaknya. Mata itu seperti mata Hollow berwujud seekor Panther yang pernah ditemuinya tiga tahun lalu. Apakah mungkin Grimmjow adalah Hollow berwujud Panther itu? Kalau dari sorot mata dan warnanya, Orihime sangat yakin kalau Grimmjow adalah Hollow berwujud Panther itu.

"Hei, perempuan!"

Panggilan itu mengejutkan Orihime yang sedang berdiri di balik dinding untuk bersembunyi agar tidak ketahuan.

"Aku tau kau ada di sana! Keluarlah!"

Orihime keluar dari persembunyiannya, dengan sedikit takut, dia menatap Grimmjow yang juga menatap dirinya.

"Ada apa kau mengikutiku terus selama tiga hari ini?"

Pertanyaan Grimmjow mengejutkan Orihime. Ternyata pria itu tahu kalau dirinya diikuti selama tiga hari ini. Orihime tidak berani menatap Grimmjow, maka dia terus menunduk.

"Aku …" Orihime terdiam dan ia melihat tangan kiri Grimmjow yang terpotong pada tiga hari lalu. Hatinya terasa sakit melihatnya. "Shoten Kissun."

Grimmjow terkejut melihat apa yang dilakukan Orihime pada dirinya. Perempuan itu menyembuhkan tangan kirinya yang ditebas Tousen! Ternyata apa yang dikatakan Ulquiorra pada Aizen selama ini benar kalau perempuan ini memiliki kemampuan luar biasa. Pantas saja Aizen sangat memperhatikan dirinya.

Senyuman manis muncul di wajah Orihime. "Selesai," ujarnya pelan sambil menatap lengan Grimmjow yang kembali utuh. "Sekarang kau sudah baik-baik saja."

Grimmjow menatap Orihime yang terlihat senang dan lega. "Hei, perempuan."

Orihime mengangkat wajahnya yang bersemu merah walau raut wajahnya terlihat sedikit ketakutan. "I-iya?"

"Kenapa kau menyembuhkan lenganku?" tanya Grimmjow. "Apa kau tau kalau kau sudah melanggar perintah Aizen sama yang melarangmu untuk gak memakai kekuatanmu itu tanpa seizin dirinya?"

Sesaat Orihime menatap mata biru Grimmjow. Sungguh, mata itu sama persis seperti mata Hollow Panther itu. "Sebelum menjadi Arrancar, Hollow harus berubah menjadi Adjuchas. Apakah … apakah sebelum menjadi Arrancar, kau memiliki wujud seekor Panther?"

Mata Grimmjow melebar. "Da-dari mana kau tau hal itu?!"

Senyum bahagia merekah di wajah Orihime. "Jadi benar kau pernah berwujud seekor Panther?!" tanyanya bersemangat. "Apakah kau ingat padaku?!"

Grimmjow tidak mengerti apa yang dibicarakan perempuan berambut orange di hadapannya ini. "Apa maksudmu?" tanyanya heran.

Wajah Orihime kembali bersemu merah, dia sedikit menundukkan kepalanya. "Tiga tahun lalu … kau pernah menyelamatkanku ketika sekelompok Hollow menyerang diriku," jelasnya. "Maka dari itulah, aku menyembuhkan lenganmu. Itu sebagai ucapan terima kasihku. Sejak tiga tahun lalu, aku tidak pernah bisa melupakan dirimu … aku men―"

"Aku gak ingat semua itu!" sergah Grimmjow.

Orihime mengangkat wajahnya dan menatap Grimmjow. "A-apa?"

"Sudah aku katakan, perempuan!" seru Grimmjow kesal. "Aku gak ingat akan hal sampah yang kau bicarakan barusan! Walau aku gak ngerti kau tau dari mana mengenai wujud Panther-ku saat aku menjadi Adjuchas."

"Aku tau wujudmu, karena aku pernah melihatmu!" Orihime meraih lengan kiri Grimmjow. "Cobalah ingat. Tiga tahun lalu kau telah menolongku! Bukan hanya saat itu, sebelumnya kau pun telah melindungiku! Dulu aku belum bisa melihat wujudmu dengan jelas, tapi aku bisa merasakan kehadiranmu. Sampai akhirnya, aku bisa melihat wujudmu dengan sangat jelas!"

"Menyingkir!" Grimmjow menarik lengan kirinya dengan kuat, Orihime sampai jatuh ke lantai karena terdorong. "Kau sedang berkhayal! Aku sama sekali gak kenal dirimu, perempuan! Jangan kau ganggu diriku dengan kisah sampah seperti itu! Aku berterima kasih atas kebaikanmu menyembuhkan tanganku, tapi itu bukan berarti aku bersedia kau ganggu setiap saat!" Dia membalikkan badannya. "Jangan pernah kau ikuti aku lagi, atau kau akan kubunuh!"

Orihime terdiam menatap Grimmjow yang berjalan meninggalkan dirinya terduduk di lantai. Perlahan air mata mulai menetes membasahi pipinya. "Sejak tiga tahun lalu, aku tidak pernah bisa melupakan dirimu … aku mencintamu," ujarnya pelan dengan suara bergetar. Dia melanjutkan kalimatnya yang sempat dipotong Grimmjow.

Dari kejauhan. Tanpa disadari Orihime, dan bahkan oleh Grimmjow, Ulquiorra sedang memperhatikan mereka. Dia mendengar semuanya.

To be continued …


Review it, please …