Title: The Librarian And The Godfather
Author: Firenze Firefly
Rating: T
Characters/Pairings: Kakashi-Hinata
Genre: Romance
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: Neji menyeringai. Bahkan Hinata, sebagai kakaknya, langsung mendapat perasaan tidak enak melihatnya. Itachi bergidik karena bulu romanya meremang. "Karena itu kau suka kakakku? Kalau yang kau cari orang berambut panjang, halus, dan berkulit mulus, aku juga bisa!" tukasnya menawarkan diri.
AU

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.

Chapter 2

.

"Miss, dapat salam dari Om Kakashi," cetus Itachi ceria. Dia mengekor Hinata mengelilingi perpustakaan.

"Hm," gumam Hinata. Dia memeriksa punggung buku, melihat kode dan label, kemudian meletakkan buku-buku yang dipegangnya ke rak seharusnya.

"Tidak kirim salam balik?" desak Itachi.

Hinata berbalik dan menunduk, memandang Itachi lekat-lekat. "Kau masih kecil tapi ngerti salam balik?" Hinata menaikkan alis.

Itachi memamerkan senyum menawan ala Uchihanya. "Kan Om sendiri yang bilang," jawabnya cerdas. "Habis menyampaikan salam, aku harus menunggu Miss mengirim salam balik," kilahnya. "Prosedur, begitu katanya."

Hinata menahan keinginan untuk menggeleng. Dia menarik napas dalam-dalam. "Yah, terima kasih sudah jadi kurir salam, Itachi," elaknya.

"Lho, mana salam baliknya?" protes Itachi, tidak peduli dengan tampang Hinata yang mulai masam.

"Tidak ada salam balik," balasnya datar dengan suara lembut.

"Lho, kok begitu, Miss?"

Hinata pura-pura mengacuhkan bocah yang gemar mengikutinya itu. "Ah ah, mana ya rak untuk buku ini?" gumamnya keras-keras.

"Ayo, Miss, jawab dong!" pinta Itachi. Dia ikut-ikut mendorong troli hitam yang didorong Hinata. "Pokoknya aku sampaikan salam balik pada Om Kakashi, lho," tukasnya setengah mengancam.

"Wah, kau penjahat cilik. Tidak boleh bohong, lho!" Hinata tidak bisa menahan senyum. Dia geli mendengar ancaman Itachi. Meski begitu gadis itu tak mampu untuk marah.

Itachi nyengir, membuat dua garis di bawah matanya yang panjang ikut berkerut. Dia memang masih bocah. Polos dan cerdas tapi tidak berarti tidak usil.

"Memang Om Kakashi memberimu sesuatu?" tanya Hinata.

"Yup," Itachi mengangguk puas. "Dia mentraktirku es krim, permen, kadang buku," jelasnya. Dia mengibaskan tangan ke celana pendeknya.

Hinata berdecak pelan. Sejak berkenalan Kakashi memang kerap mengirimnya salam.

"Om Kakashi bilang kalau dia naksir Miss," cetus Itachi. "Naksir artinya suka dan cinta, kan?"

Hinata suka dengan anak pintar, tapi kalau terlalu pintar seperti Itachi….Hinata pikir-pikir lagi.

"Kenapa Om kamu suka aku?" tanya Hinata iseng.

Itachi tersenyum lebar. "Soalnya Miss berambut panjang, putih dan good looking."

"Aku memang berpenampilan feminin," gumam Hinata pelan. Kawan-kawannya kerap mengatakan hal yang sama dengan Kakashi. Tiba-tiba gadis itu menghentikan troli. "Tapi, kenapa Kakashi tidak melepaskan maskernya? Wajahnya kenapa?" Selama bertemu beberapa kali, Kakashi memang selalu memakai penutup wajah. Yang dilihat Hinata hanya rambutnya yang mencuat kemana-mana, matanya yang berbeda warna dan bekas luka di sebelah matanya. Jangan-jangan dia jelek? Hinata gemetar memikirkannya. Dia mengibaskan poni, berpikir.

"Tidak kenapa-napa, Miss," jawab Itachi pendek.

Sekali lagi Hinata memeriksa check list buku yang harus dibelinya. Perpustakaan Kota Konoha memang harus lengkap. Karena itu tiap ada buku baru, pasti ada pemberitahuan dari toko buku yang sudah bekerja sama dengan tempat itu. Kadang ada kurir yang mengantar, kadang pegawai Puskot sendiri yang harus ke toko. Hinata tidak keberatan. Dia menyukai toko buku. Berada di tempat yang dikelilingi buku tiap hari tidak membuatnya bosan.

Gadis itu beranjak dari eskalator dan menuju rak novel. Dia menuju bagian buku terbaru. Ketika masih mencari novel, tanpa sengaja lengannya menyenggol sebuah buku. Kaget, dia menoleh dan hendak mengambilnya. Rupanya ada pengunjung lain yang lebih sigap karena tahu-tahu saja novel yang dijatuhkannya sudah diulurkan oleh seseorang yang memiliki lengan panjang.

Hinata mengambilnya. "Terima kasih," ujarnya. Senyumnya tertahan demi melihat siapa yang mengambil si novel. "Eh, Kakashi?" serunya, kaget.

Kakashi tersenyum. Matanya ramah. "Hai Hinata," sapanya.

Konoha tidak bisa dibilang sebagai kota kecil. Tapi dalam benaknya, Hinata tak pernah berpikir akan bertemu dengan wali Itachi di toko buku terbesar di Konoha itu.

Kakashi melambaikan tangan di depan penjaga perpustakaan itu. "Oi, tidak baik melamun di tempat yang penuh dengan orang," tegurnya.

Pria itu berpakaian rapi dan berdasi. Celana hitamnya tampak licin. Sepatunya mengkilat. Biasanya Hinata menjumpai Kakashi ketika pria itu berpakaian santai dan memakai sneakers. Kesan yang ditimbulkan dari cara berpakaiannya sungguh sama sekali berbeda.

"Ehem, aku merasa telanjang dipelototi gadis cantik sepertimu," usik Kakashi.

"Ap-apa?" Hinata tersentak. Tanpa sadar dia menilik penampilan Kakashi dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Ketahuan secara terang-terangan sungguh sangat memalukan! Wajah gadis itu secerah tomat matang.

Kakashi nyengir. Dia senang sudah membuat gadis mungil itu terpana.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Hinata setelah pulih dari rasa malunya. Di belakang punggungnya jari-jarinya saling meremas.

"Alasan yang sama kenapa kau di sini, Nona," balas Kakashi. Dia tampak geli mendengar pertanyaan retoris Hinata.

Hinata tertawa malu. Tak sengaja mata putih-lavendernya tertumbuk pada buku oranye yang dipegang pria di sampingnya itu. "Itu kan…!" Hinata terbelalak.

Kakashi mengikuti pandangan Hinata dan mengangkat bahu. "Icha-Icha Paradise," tukasnya santai.

Hinata memandang Kakashi tak percaya. Oke, dia sadar Kakashi memang punya tampang yang terbilang mesum, tapi melihatnya dengan novel oranye yang terkenal itu membuatnya merasa risih.

"Buku yang bagus," komentar Kakashi seraya mengacungkan novel khusus dewasa itu.

"Mana kutahu!" dengus Hinata.

"Benar, lho! Plotnya terjalin apik, kalimatnya tidak pasaran dan ceritanya luar biasa," kata Kakashi semangat. Matanya berbinar-binar, menandakan antusiasme yang besar.

"Masa?" Hinata semakin tidak menyukai Kakashi. Dia mulai mengambil jarak, takut terkena jerat mesum laki-laki itu.

"Tentu saja! Kan aku yang menerjemahkan,"cetusnya bangga.

Hinata hendak melengos ketika kalimat Kakashi merasuk otaknya. Dia menatap Kakashi, terpana. "K-kau yang menerjemahkan? Kau penerjemah?" Gadis itu takjub.

Kakashi nyengir. "Yup, kalau ada material bagus aku bersedia menerjemahkan. Selama tidak mengganggu tugasku mengajar."

"Kau guru? Guru yang menerjemahkan novel porno?" Suara Hinata meninggi. Beberapa pengunjung di dekat mereka tertawa dan terkikik. "Ups, maaf," ujarnya malu. Wajahnya tak bisa lebih merah padam lagi. Kakashi penuh kejutan. Namun membayangkan dirinya mengajar sekaligus menjadi penerjemah novel macam Icha-Icha Paradise membuat bayangan Hinata tentang pria itu jelek.

Kakashi jadi bersimpati pada Hinata. Dia sih, sudah kebal. Urat malunya bisa dibilang sudah putus. "Aku dosen di Universitas Konoha," jelasnya. "Mereka yang mengajar anak-anak Conversation di tempatmu kerja adalah mahasiswaku. Pihak Jiraiya bersedia karya besar Sensei itu diterjemahkan dalam Bahasa Jepang, dan hebatnya lagi, tawaran untuk jadi translator mampir padaku. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakannya, Hinata."

Hinata tidak tahu harus memberi komentar apa. Dia terlalu terpukau mendengar penjelasan dosen Bahasa Inggris itu.

"Aku heran. Kenapa kau selalu menarik pria-pria yang tidak biasa, sih?" tanya Neji tidak habis pikir. Hinata memang bercerita padanya tentang Kakashi –dan pria-pria lain yang naksir dirinya.

"Kalau saja aku tahu," desah Hinata lesu.

Neji kembali mengarahkan matanya pada Kakashi yang mencuri-curi pandang pada kakaknya. Saat itu hari Senin. Dia pulang kerja lebih awal. Penasaran dengan Kakashi yang selalu diceritakan Hinata, Neji memutuskan untuk mengunjungi tempat kerja sang kakak.

"Dulu Kiba," cetus Neji, mengingat-ingat cowok yang pernah naksir Hinata. "Bertato, berwajah sangar dan suka anjing. Kemudian Shino. Laki-laki berkacamata pecinta kumbang. Sekarang seorang dosen dengan wajah tersembunyi dan penerjemah novel dewasa. Tidak bisakah kau menarik pria normal dan biasa saja, Kakak?"

"Mauku begitu," sambar Hinata putus asa. Pada akhirnya siang kemarin Kakashi menunggu Hinata selesai berbelanja buku dan mengantarnya ke Puskot dan kemudian barulah kembali ke Universitas Konoha karena ada jam perkuliahan yang harus diisinya. Tak lupa sebelumnya Kakashi menghadiahi Hinata semua seri Icha-Icha Paradise. Walau sudah menolak mati-matian, Kakashi tetap kukuh, dengan alasan dia ingin gadis Hyuuga itu membaca novel yang dengan suka cita diterjemahkannya.

Neji menepuk punggung tangan Hinata, bersimpati. Saat itulah Itachi dan Kakashi menghampiri mereka.

"Dia kakakmu, Hinata?" tanya Kakashi, menatap Neji. Dia menangkap ada kesamaan yang nyata di antara dua orang itu. Mata putih dan warna kulit yang serupa. Tebak Kakashi, mereka pasti sama-sama memiliki darah Hyuuga.

"Adikku," jawab Hinata lemah. Dia menata beberapa buku di depannya.

"Halo Miss," sapa Itachi. Bocah berambut hitam dan berkuncir itu mengelilingi meja dan membantu Hinata.

"Halo juga Itachi," sambut Hinata, tersenyum tipis. "Omong-omong, kenapa tidak belajar Conversation dengan om kamu saja?"

"Om Kakashi tidak mau," Itachi mengadu.

"Lebih baik Itachi belajar dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya," Kakashi memberi alasan dan membela diri.

Neji mengamati Kakashi dengan seksama. Benar kata kakaknya, Kakashi termasuk pria yang patut diwaspadai. Orang normal mana yang menyembunyikan wajahnya? Sepertinya dosen itu juga tidak kenal dengan benda berguna bernama sisir. Mata beda warnanya terlalu unik.

Itachi memanggil Neji. "Kalau begitu, Kakak ini akan jadi adik Om Kakashi, dong," cetus Itachi tiba-tiba.

Kakashi tertawa. Hinata malu.

Neji balas memandang Itachi. Matanya sedikit berkedut. "Hei, kata anak ini," Neji menunjuk Itachi dengan jempolnya. "Kau suka orang berambut panjang."

Kakashi mengangguk. "Dan Hinata berambut panjang," katanya menimpali.

Neji menyeringai. Bahkan Hinata, sebagai kakaknya, langsung mendapat perasaan tidak enak melihatnya. Itachi bergidik karena bulu romanya meremang. "Karena itu kau suka kakakku? Kalau yang kau cari orang berambut panjang, halus, dan berkulit mulus, aku juga bisa!" tukasnya menawarkan diri.

Baik Hinata mau pun Kakashi melongo.

Dengan cara inikah Neji mengusir cowok-cowok yang mengganggu kakaknya? Hinata mulai mengerti.

Kakashi terperangah. Neji memang berambut panjang, putih dan bertubuh langsing. Sekali lihat dan tanpa pengamatan seksama, orang akan dengan mudah menganggapnya sebagai wanita. Tapi saat Neji bicara dengan suara beratnya, saat itulah orang akan tahu dia seorang laki-laki tulen.

Neji masih menyeringai. "Jadi, jauh-jauh dari Hinata, oke?"

Itachi tertawa. "Om kasihan, deh."

Kakashi membeku. Dia terdiam beberapa saat. Dia permisi, bangkit dan menjauh.

"Nah, Kak, dia tak akan mengganggumu lagi," ujar Neji puas.

"Kenapa Miss tidak suka Om Kakashi?" tanya Itachi tak mengerti. Bagi anak sekecil dia, menurutnya Kakashi dan Hinata cocok. Kalau sudah terlihat cocok, harus mau pacaran.

Karena Kakashi mesum, gemar membaca bacaan porno, dan bertampang mencurigakan. Dan lagi, ditakut-takuti Neji saja sudah gentar.

Hinata hendak mengatakannya tapi menahan diri. Bagaimana pun ada hal yang bisa atau tidak boleh diceritakan pada anak-anak. "Karena aku hanya menganggapnya teman, Itachi," jawabnya sabar.

Itachi melirik Neji.

Neji balas meliriknya. "Nanti, kalau sudah besar, kau akan mengerti hal-hal rumit seperti ini," ujarnya.

"Aku sudah besar, Om!" Itachi tidak terima dengan indikasi di balik ucapan Neji yang menyatakan dia masih kecil. Bocah itu menatap Neji tidak suka. Perhatian mereka teralihkan ketika Kakashi muncul dengan seorang pria di sampingnya.

"Uhm, ingat ucapan Neji tadi, aku jadi ingat temanku," tukas Kakashi. Dia tersenyum ramah, namun ada sesuatu di matanya. "Karena itu secepatnya aku menghubunginya. Kenalkan, dia Asuma Sarutobi, rekanku di Universitas Konoha. Kebetulan rumahnya dekat sini."

Asuma mengangguk. Pria itu termasuk tipe orang yang tidak gampang untuk dilupakan. Dia tinggi besar, bercambang dan bermata tajam. Macho banget. Keren sekaligus menakutkan.

Asuma mengangguk. "Halo."

Kakashi berjalan dan menghampiri Neji. Dia menepuk punggungnya. "Nah, Neji, kebetulan lagi, Asuma suka dengan orang berambut panjang, langsing dan berkulit mulus. Aku langsung merekomendasikanmu, lho." Pria itu nyengir lebar.

"Hai, Neji," sapa Asuma. Ada seringai di wajah kerasnya.

Neji terbelalak. Wajahnya yang putih seperti bubur yang hampir basi saking pucatnya. Jelas sekali adik Hinata itu ketakutan.

Kakashi, Asuma dan Itachi tergelak melihatnya. Hinata tak mampu menahan tawa kecilnya.

"Skor kita satu-satu," ucap Kakashi ceria. Dia mengedipkan mata merahnya pada Hinata.

Baru kali ini Neji kalah telak. Biasanya dia mampu mengusir pria-pria yang tak diinginkan sang kakak.

Hinata mendekati Kakashi. Ternyata pria yang tak disukainya itu tak kalah cerdas dari Neji. Hatinya mulai melunak. "Baiklah, Kakashi, nanti kau boleh mengantarku pulang."

Kakashi kegirangan. Dia menyentil Itachi, yang memandang omnya dengan tatapan kagum. Selain cerdik, ternyata Kakashi juga licik. "Tuh, jalan mulai terbuka lebar," ujarnya.

"Berarti, Om diterima Miss Hyuuga?" Itachi ikut berdebar.

"Tidak, itu masih lama, Itachi," sambar Hinata. Namun kali ini dia balas memandang Itachi dengan sayang.

TBC

Fire's Note : Yup, saya lagi terkena niece-and-nephew fever, jadi suka nulis tentang anak kecil, hehe. Tapi Itachi tidak sekecil Gaara di cerita saya yang lain, kok.