Luhan yang masih belia itu bisa apa. Tak memiliki tujuan sama sekali. Kesana kemari mencari pekerjaan apa saja yang bisa ia lakukan.
Sekarang yang dapat ia lakukan adalah menjadi pencuci piring di sebuah kedai mie dari pagi hingga tengah malam. Mendapat tempat tinggal gratis dari pemilik kedai, Luhan sangat amat besyukur.
Kembali ia terpikir, harusnya ia tak meninggalkan anaknya. Ia merasa bahkan lebih kejam daripada orang tuanya. Jika orang tuanya meninggalkannya karna kesalahannya sendiri sedang ia meninggalkan bayinya yang sama sekali tak berdosa dan bahkan masih membutuhkan asi darinya.
Tapi sekali lagi, Luhan masih belia pikirannya masih labil itu bisa apa.
Setiap malam setelah bekerja ia akan menangis. Sekarang yang ia tangisi bukan lagi nasibnya, tapi sosok mungil buah hatinya yang ia tinggalkan. Maka setiap pagi buta Luhan akan pergi kerumah tempat dimana ia meninggalkan bayinya. Dapat dilihatnya wanita cantik pemilik rumah itu sangat baik dan telaten merawat anaknya. Setiap pagi wanita cantik itu akan membawa bayinya untuk sekedar menghidup udara pagi hari yang segar. Luhan sedikit bernafas lega wanita itu baik terhadap bayinya. Walau jujur didalam hatinya ia ingin berlari menghampiri wanita itu dan mengambil kembali anaknya.
"Tunggulah sayang, tunggu mama. Nyonya tolong rawat anakku" bisik Luhan pada angin pagi.
.
Sudah kurang lebih setahun sejak luhan meninggalkan bayi mungilnya. Luhan bekerja dengan giat setiap harinya. Bahkan sekarang ia menambah pekerjaannya menjadi pengantar susu dipagi hari dan sekarang ia juga menjadi pengantar mie yang di pesan delivery dari kedai tempat ia bekerja.
"Permisi" luhan saat ini sedang mengantarkan makanan kesebuah toko baju yang terbilang mewah, sepi sekali pikir luhan. Matanya menatap sekeliling. Dulu ia seaakan jenuh keluar masuk toko seperti ini. Tapi sekarang rasanya mustahil bagi luhan untuk masuk ke toko seperti ini hanya untuk memilah baju apa yang akan ia gunakan besok.
"Iya?" Seorang wanita datang.
"Pesanan anda nyonya. 4 porsi jajangmyoen?"
"Ah, iya" kata wanita itu. Lalu memberikan uang pada Luhan. Lalu menelisik Luhan dengan matanya.
"Dimana saya dapat meletakkan?"
"Letakkan saja disini" kata wanita itu menepuk meja kasir yang sedang kosong saat itu. Luhan meletakkan pesanan pelanggannya dengan hati hati.
"Berapa umurmu?" Tanya wanita itu tiba tiba.
"Saya?" Tanya luhan.
"Iya siapa lagi"
"Tahun ini saya 16 tahun nyonya"
Mata wanita itu menelisik. Kemudian mengitari tubuh Luhan. "Bisa buka helm dan jaketmu" pinta wanita itu. Dan luhan menurut.
"Kau bersekolah dimana?"
"Saya tidak sekolah nyonya"
Luhan yang hanya menggunakan celana jean dan kaos hitam panjang itu hanya terdiam kaku saat wanita itu menatap intens setiap detail tubuhnya.
Lalu wanita itu kembali kehadapan Luhan. "Mau menjadi modelku?" Tawar wanita itu.
"Tenang saja bayarannya lumayan, ini kartuku hubungi jika kau bersedia atau datang saja langsung kesini. Katakan kau ingin menemui Kim Heechul"
.
Luhan pagi ini setelah mengantar susu, pasti akan selalu mampir ketempat biasa ia datangi untuk sekedar melihat anaknya. Umurnya satu tahun tepat hari ini, maka luhan menyiapkan hadiah pertamanya untuk sang buah hati semalaman.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Luhan mendekati rumah itu terlihat sang pemilik masih belum bangun. Luhan meletakan bungkusan kecil kedalam kotak pos yang ada didepan rumah itu bersama surat kabar yang tadi sudah diantarkan lopernya.
Segera Luhan kembali ketempat biasa ia mengamati anaknya.
Beberapa saat setelah Luhan sampai ditempatnya. Seorang wanita keluar dengan menggendong anak laki laki, keduanya tersenyum senang menikmati udara pagi. Lalu berjalan kekotak pos untuk mengambil surat kabar rutin. Wanita itu terlihat sedikit bingung mendapati benda lain dalam kotak posnya. Matanya melihat surat kecil yang ada di depan bungkusan itu. Dengan cepat ia edarkan matanya kesekeliling.
Luhan segera bersembunyi. Setelah wanita itu masuk kedalam rumah baru luhan keluar dari persembunyiannya.
"Selamat ulang tahun anakku"
.
Begitu Luhan lakukan setiap tahunnya hingga tahun ke empat usia anaknya.
Sekarang luhan berusia 20 tahun. Ia masih bekerja di kedai yang sama namun banyak pekerjaan lain yang ia telah coba tapi semua hanya sementara entah karena apa dan hanya di kedai ini lah luhan merasa cocok bekerja. Wanita tua pemilik kedai yang ramah dan juga sudah menganngapnya sepeti anaknya. Luhan menyayanginya.
Hari ini seolah dejavu, Luhan kehilangan orang yang ia sayangi. Pemilik kedai tempat ia bekerja menggembuskan nafas terakhir karena serangan jantung yang di akibatkan para penagih hutang dari menantunya yang hobi berjudi.
Luhan menangis saat pemakaman. Sedang anak dari Im ahjuma -pemilik kedai- sendiri hanya bersikap acuh begitu pula suaminya. Seolah kejadian ini bukan salah mereka.
.
"Luhan-sii bisa kau tinggalkan tempat ini"
Luhan terkaget dari kegiatan beres beres kamarnya saat seorang wanita masuk tanpa ijin ke dalam tempat ia tinggal selama ini.
"Maaf Nayeon-ssi, tapi kenapa?" Luhan bertanya hati hati.
Sedang wanita yang ditanyai hanya bersedekap tangan sambil menguyah permen karet dimulutnya.
"Aku akan menjual bangunan tua ini"
Luhan selama ini tinggal di lantai 2 kedai tempat ia bekerja. Yang Luhan tahu Im ahjuma sangat menyayangi tempat ini karena tempat ini ia dirikan bersama mendiang sang suami dari nol hingga seramai sekarang.
"Tapi nayeon-ssi ibu anda begitu menyayangi kedai ini. Kenapa anda malah menjualnya. Kenapa tidak anda teruskan usaha yang telah lama ibu anda bangun ini"
"Kau banyak bicara sekali ya? Kau pikir kau siapa hah?! Tidak usah sok tahun! Cepat tinggalkan tempat ini!"
Luhan sungguh tidak percaya. Ada anak seperti nayeon-ssi ini. Lalu dengan segera luhan mengambil tas ranselnya memasukkan beberapa baju miliknya dan beberapa benda lain. Hingga matanya menatap sebuah kartu usang.
.
Kini Luhan berdiri didepan sebuah toko yang dulu pernah ia datangi. Sekarang menjadi lebih besar.
"Permisi" tanya luhan pada salah seorang karyawan yang pertama ia temui
"Ya ada yang bisa saya bantu?"
"Apa saya bisa bertemu kim heechul-ssi?"
Alis karyawan itu berkerut. Kemudian menatap luhan dari atas hingga bawah. Lusuh, pikir karyawan itu.
"Apa kau telah membuat janji?" Tanya karyawan itu.
"Ah aku... belum membuat janji" kata luhan.
"Kalau begitu kau tidak bisa menemui Nyonya Heechul" kata karyawan itu sedikit jutek.
"Siapa yang tidak bisa menemuiku Soojung-ah?" Tanya seorang wanita dari arah belakang luhan dan karyawan bernama Soojung itu.
"Ah, Anu wanita ini ingin menemui anda tapi tidak membuat janji sebelumnya" terang Soojung.
Wanita dengan pakaian mewah itu menurunkan kaca mata hitamnya.
"Gadis pengantar mie?"
Luhan yang sedari tadi menunduk. Mengangkat kepalanya dan mengangguk.
"Ne nyonya"
"Mari ke ruanganku" ajak wanita itu pada Luhan.
Sesampainya di ruangan wanita itu. "Duduklah" katanya mempersilahkan Luhan untuk duduk di sofa.
"empat tahun aku menunggu mu dan akhirnya kau datang sekarang apa kau menerima tawaranku?"
Luhan tentu kaget ditunggu selama empat tahun oleh wanita berkelas ini hanya untuk menjadi modelnya.
"Umurmu sekarang 20, bukan?" Tanya heechul sambil menyerahkan air mineral pada Luhan.
"Ya nyonya"
"Nama mu?"
"Nama saya Luhan, nyonya"
"Margamu?"
Luhan terdiam lama. Apa ia masih bisa menggunakan marganya. Lalu bayang bayang kejadian yang lalu mampir dikepalanya.
"Nama saya hanya Lu han nyonya"
"Ahh begitu. Bisa kah kau berdiri dan sedikit berputar Luhan"
Luhan melakukannya.
"Kau bertambah matang sekarang"
Benar seperti apa yang dikatakan heechul. Luhan sekarang bertambah matang. Dulu ia hanya seorang gadis biasa saja sudah menarik perhatian Heechul, apa lagi Luhan yang sekarang. Tubuhnya bertambah tinggi dan ramping dengan kulit yang cerah dan wajah tanpa makeup yang menawan. Dadanya yang bulat kencang berisi, mengingat dia sudah pernah mengandung. Membuat tubuhnya benar benar body killer.
"Nyonya tentang penawaran anda, apa kah masih berlaku?" Tanya Luhan hati hati.
"Tentu sayang. Aku bahkan menunggu saat hari ini akan tiba"
Luhan tersenyum senang. Heechul memberikan Luhan sebuah surat kontrak. Luhan membacanya dengan seksama. Dirasa tak ada hal yang memberatkan dirinya. Luhan langsung menanda tangani kontrak itu.
.
Memasuki dunia permodelan ternyata lumayan susah bagi Luhan yang memiliki sifat pemalu. Tapi Heechul dengan telaten mengajari Luhan dan juga ada anak dari Heechul yang terlihat begitu menyukainya.
Sejak memasuki dunia permodelan sedikit demi sediki waktu Luhan untuk mengunjungi buah hatinya berkurang di karenakan kesibukannya yang harus menjalani pemotretan diluar kota.
Mulai dari seminggu tiga kali menjadi sekali. Kemudian menjadi sebulan sekali. Hingga waktu waktu itu terus berkurang.
Sebenarnya luhan ingin. Membawa kembali anaknya. Tapi entah kenapa egonya mulai menguasainya. Egonya berkata bahwa lebih baik membawa anaknya nanti saat ia bener benar telah berkecukupan karna sekarang ia baru merintis karirnya.
Minggu depan adalah ulang tahun ke lima anaknya. Dan luhan sedang memilih hadiah untuk anaknya. Pilihannya jatuh pada cincin perak. Ia meminta untuk memberikan tulisan di bagian dalam cincinnya
'2004'
Tak lupa luhan membelikan sebuah kalung sehingga cincin tadi menjadi bandul dari kalung itu.
.
"Luhan kau tau yayasan sekolah paling elit di korea akan menggunakan jasa kita untuk pembuatan baju seragam mulai tahun ajaran besok" teriak Heechul girang, setelah mendapat sebuah panggilan.
"Benarkah eommoni?" Luhan tak percaya.
"Ada apa ini?" Itu anak Heechul baru saja datang.
"Baek eonni, kata eomma sekolah paling elit di Korea akan menggunakan jasa kita mulai tahun ajaran besok" kata Luhan berbinar.
"Jinjayoo?"
Kedua wanita beda usia didepan Baekhyun hanya mengangguk senang.
"Dan katanya pemilik yayasan yang langsung memintanya, katanya setelah melihat beberapa hasil baju yang luhan gunakan dalam pemotretan dengan tema sekolah edisi bulan lalu, beliau lalu meminta kerja sama dengan kita" terang Heechul sontak membuat Luhan malu.
"Jinjayo? Tuan Oh sendiri yang memilihnya?" Lagi lagi mata sipit baekhyun membulat tak percaya
"Ahhh~ Luhan-ah kau benar benar keberuntungan bagi kami. Terima kasih" kata Baekhyun langsung memeluk Luhan.
"Tidak eonni. Ini semua berkat kerja keras eommoni, eonni dan semua karyawan disini yang telah membuat karya yang indah dan aku hanya dapat membantu sedikit"
Mendengar itu Heechul terharu lalu bergabung memeluk kedua putrinya.
"Ah Luhan, eomma berniat menyekolahkanmu sekolah fashion, agar kau lebih dapat mendalami dunia fashion. Apa kay bersedia?" Tanya heechul.
Luhan tentu berbinar. "Ya eommoni aku bersedia" katanya sambil tersenyum senang.
"Baiklah segera persiapkan barang barangmu mulai sekarang, minggu depan kau akan berangkat ke Paris untuk sekolah"
Mendengar itu perlahan senyum lebar Luhan luntur.
.
Sekarang kembali setiap pagi Luhan mendatagi rumah yang ditinggali sang anak. Anaknya sudah lincah kesana kemari. Luhan terharu.
Pagi ini Luhan datang lagi ketempat itu. Matanya sembab akibat menangis. Ditangannya sebuah bungkusan kecil ia remat. Dengan cepat ia memasukkan bungkusan itu kedalam kotak pos di depan rumah itu.
"Mama pergi sayang. Tunggulah mama"
.
Didalam pesawat, Luhan duduk bersebelahan dengan Baekhyun.
"Lu, hampir empat tahun kita bersama. Apa kau tak ingin bercerita tentang dirimu?" Baekhyung sudah kepalang tanggung penasaran tentang Luhan.
Luhan sedikit ragu. Tapi ia sudah hampir lama mengenal Baekhyun. Maka ia mulai bercerita dari awal hingga akhir. Luhan tak dapat berhenti mengeluarkan air matanya. Sedang Baekhyun hanya terdiam namun matanya takdapat membendung airmata yang berlomba jatuh.
Ia memeluk Luhan, betapa hidup yang dialami gadis ini sangat pilu.
"Bagaimana jika kita sekarang kembali ke korea dan membawa anakmu" kata baekhyun. "Ah atau aku harus menghubungi eomma"
"Tidak eonni. Wanita pemilik rumah itu aku yakin menyayangi anak ku dan aku percaya pada wanita baik itu"
.
Sedang di Korea, tepatnya di rumah yang sering Luhan perhatikan.
"Sayang, lihat eomma punya apa?" Kata wanita cantik itu sambil menggoyang goyangkan sebuah bungkusan kecil pada anak yang hari ini berusia 5 tahun itu.
"Hadiah?" Tanya anak itu dengan aksen yang lucu.
Wanita itu membukakan bungkus kecil, sedang anak kecil itu hanya menunggu dengan tenang. Anak itu tumbuh menjadi anak yang pintar walau lebih banyak diam dan sifatnya yang cenderung dingin untuk anak seusianya.
Didalam bungkusan kecil itu terdapat sebuah kalung dengan bandul cincin dan sebuah surat.
'Nyonya, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi terima kasih untuk telah merawat bayi kecilku hingga saat ini. Aku tidak tahu harus berkata apalagi untuk semua kebaikanmu. Selamat ulang tahun anakku'
Sedang wanita yang membaca surat itu hanya mendecih.
"Sayang ini hadiah untukmu. Mau eomma pakaikan?" Dan anak kecil yang ditanyai hanya mengangguk.
Setelahnya anak kecil itu hanya memandangi cincin yang terdapat di kalung itu.
Tes
Satu tetes airmata bocah kecil itu jatuh. Dan wanita disampingnya jelas kaget. Selama ini anak yang ia rawat, tidak pernah sekalipu menagis sekalipun ia terjatuh atau terluka. Anak itu lebih banyak diam menahannya. Seolah airmatanya mahal untuk keluar, tapi hari ini wanita itu untuk pertama kalinya melihat anak yang tumbuh semakin tampan itu menagis.
"Sayang kenapaa kau menangis?" Tanya wanita itu lalu memeluk bocah tampan itu.
"Entahlah eomma, racanya cedih caja" kata anak tampan itu lalu mengusap airmatanya.
.
TBC
Makasih buat yang udah ripiu. Dan maaf untukk typo, aku kadang ngomong aja bisa salah salah apalagi nulis kkkk. Dan lagi ngetik di hp susah ternyata antar keypad hp yg kecil dan jempol aku yang raksasa. Walu sudah dibaca ulang. Masih banyak typonya. Dan untuk tebakan tebakan klean ini incest ato gk. Ditunggu aja kedepannya. Mungkin cerita ini aneh. Dan alurnya kecepetan, tp ini belum masuk inti ceritanya huhuhuhuTT
Sekali lagi makasih buat ripiunya
