DROWN
…
Disclaimer!!!!
Kuroko no basuke by Fujimaki Tadatoshi
Original Story by Me
…
Warning!!
BL, Typo, AU, Fault Story
Rate; M for Save
…
DLDR!! No Flame!! Saya sudah mengingatkan.
~Enjoy Read~
…
"Sayang" hanya sebuah bisikan yang hampir tak terdengar, terucap berkali-kali bagai mantra ajaib yang diharapkan mampu mengurangi perasaan rindu yang tertahan.
Ucapan itu mengalir deras, bersamaan dengan pelukan yang tak pernah ingin ia lepas, sesekali di daratkan ciuman sebagai penyalur rindu lain pada surai biru muda beraroma manis vanilla.
"Nii-chan, aku malu" ucapnya sebagai sekedar candaan untuk membuat keadaan lebih santai, suaranya tertahan pada dada bidang yang dibungkus kemeja hitam. Tangan pendeknya mengelus punggung lebar sang kakak, ikut menyalurkan rasa rindu yang besarnya sama namun masih bisa ia control, meski ia ingin sekali melepaskan diri lantaran pasokan oksigen yang dirasakan disekitarnya menipis.
"Nii-chan, sudah" di dorongnya tubuh jangkung bersurai abu itu pelan, sedikit terpaksa karena jujur ia rindu dengan pelukan hangat sang kakak, pelukan yang telah lama tak ia rasakan.
pipinya menggembung seakan menunjukkan dirinya merajuk, bertahan beberapa menit karena sosok di depannya tak kunjung menujukkan perubahan ekspresi, masih terlihat muram dengan dominan sedih yang tergurat di wajah tampannya.
Tetsuya akhirnya menyerah, diiringi helaan nafas pelan sebagai permulaan untuk memulai pembicaraan yang lebih serius, meski begitu ia tetap ingin semuanya berakhir baik.
Telapak kecilnya kemudian menangkup kedua pipi yang terlihat sedikit tirus, memerangkap paras tampan itu dengan kesepuluh jemari rampingnya,
"Aku sudah disini, tak perlu khawatir" ucapnya disertai senyum yang lebih lebar dari biasanya, maniknya berkaca-kaca, sesekali ia meneglus pipi lelaki tampan itu penuh sayang.
"Aku tahu, tapi aku tak bisa menahan ini lagi, ini terlalu menyakitkan" balas chihir yang kini menaruh telapak tangannya bertindihan dengan tangan Tetsuya yang masih menempel pada wajah tampannya.
"Maafkan aku" ucapnya lirih dengan tatapan yang tak juga teralih dari sosok adik kecilnya yang begitu berharga.
"Harusnya aku tak melepaskanmu begitu mudah" bisiknya setelah membawa kembali tubuh kecil adiknya dalam pelukan.
"Harusnya aku melakukan ini lebih cepat" Tetsuya menepuk kembali punggung sang kakak, mencoba menengakan sosok yang terlihat begitu emosional, Tetsuya tahu betul bagaimana perasaan kakaknya, hingga ia hanya diam saja, membiarkan Chihiro mengungkapkan semuanya, mungkin dengan cara seperti itu dia akan sedikit lebih tenang.
"Aku kakak yang buruk" Tetsuya menggeleng, ia tak setuju dengan sang kakak, karena baginya Chihiro adalah kakak terbaik dan terhebat.
"Tidak nii-chan, itu tidak benar" bantahnya halus, Tetsuya ingin menangis, ia pun sama emosionalnya namun ia tak ingin rapuh di depan sang kakak, bagaimana ia bisa menguatkan kakaknya jika ia sendiri rapuh, tidak! Tetsuya tidak mau seperti itu. Chihiro sudah cukup terbebani dan ia tak ingin menambah beban itu dengan menjadi sosok lemah.
"hey!" kembali di dorong tubuh tinggi Chihiro hingga menciptakan jarak, membuat dua saudara itu kembali melihat bagaimana setiap garis yang tergambar pada wajah masing-masing.
"Aku sudah kembali, tak ada lagi yang perlu nii-chan risaukan, aku akan terus bersamamu, aku tidak akan meninggalkan nii-chan" Tetsuya tersenyum penuh sayang pada kakaknya yang masih jelas menampakkan berbagai rasa sesal pada wajah tampannya.
"Tidak Tetsuya! Aku, aku-" uchapan Chihiro terpaksa berhenti, jari manis putih tetsuya menempel pada bibirnya.
"Apapun yang Nii-chan pikirkan saat ini itu semua tidak benar, kau tidka penah bersalah atas apapun yang telah terjadi, bukankah aku yang telah memilih semua ini dan aku tidak menyesalinya" ucap Tetsuya lembut namun syarat ketegasan hingga membuat Chihiro sedikit melunak, tak lagi menyuarakan berbagai rasa sesal dan kesalahan yang ia bebankan sendiri pada dirinya.
"Aku, baik-baik saja Nii-chan, percayalah padaku" kali ini Tetsuya benar-benar tersenyum, senyum penuh kelegaan, seakan melupakan semua hal menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidupnya dan hal itu pun ikut membuat Chihiro tersenyum, meski tak sepenuhnya rasa khawatir itu menguap karena bagaimanapun Tetsuya itu adalah adik kecilnya yang amat berharga, sangat berharga hingga ia ingin memastikan jika setiap hembusan nafas sang adik tak pernah merasakan sakit walau secuil pun.
"Mulai saat ini hingga seterusnya aku akan bahagia seperti keinginan Nii-chan" Ucap Tetsuya dengan senyum tipis yang tak luntur sambil mengusap perutnya.
"dan aku juga ingin Nii-chan bahagia mulai saat ini hingga seterusnya" Chihiro sempat tertegun, tak pernah ia bayangkan jika adiknya akan tumbuh menjadi sosok dewasa seperti ini, ada sedikit kelegaan yang menyelimuti hatinya hingga pada akhirnya ia mengangguk, menyanggupi permintaan adiknya.
"Tentu saja" ucapnya lalu kembali membawa tubuh kecil adiknya dalam pelukan, kembali menukar rindu sekaligus langkah awal yang mereka tapaki untuk kehidupan yang baru.
"breaking News"
Suara pada layar TV yang menggantung pada sudut ruangan terabai, Tetsuya ataupun Chihiro terlalu sibuk dengan perasaan emosional yang mereka bagi membiarkan sosok pembawa berita dibalik layar LCD itu mengoceh sendiri.
"Pewaris Tunggal dari Akashi Corp, Akashi Seijurou-"
~0o0~
Flashback
Suara ketukan jemari pada sampul keras novel terdengar samar, bersaing dengan bunyi tekan yang menari cepat di atas tombol keyboard. Kepulan asap dari dalam cangkir mulai menghilang, menyisakan permukaan tenang berwarna kehijaun yang hampir terlihat tak berkurang pun sedikit isinya.
Ragu, maniknya mencuri pandang pada wajah tampan yang tengah terlihat serius dengan layar tipis laptopnya yang terus menyala. Memandang sserius layar yang menampilkan beragam tulisan disertai bagan yang sama sekali tak dimengerti Tetsuya, suara singgunngan jemari dengan keyboard masih terdengar, manik hetero itu seakan sama sibuknya dengan jari jemari panjangnya.
Novel yang diharap Tetsuya bisa menghilangkan rasa bosannya sudah terabai sejak berpuluh menit yang lalu, seluruh atensinya sempurna terjebak dalam sosok tampan yang masih mengabaikan dirinya. Tubuh kecilnya perlahan bangkit, membawa serta novel tebal itu dalam genggamannya, menuju pinggiran gazebo yang dikelilingi tembok putih sebatas pinggangnya, tempat menikmati sore sempurna yang serupa sangkar burung raksasa namun tak memiliki sekat hingga ke atas kecuali lingkaran tembok yang tak terhubung sempurna membentuk lingkaran tak utuh, menyisakan sebuah jalan untuk akses keluar masuk.
Sebuah tempat yang menjadi destinasi tetsuya untuk menghabiskan sore hari sambil membaca novel, tempat yang paling ia sukai selain perpustakaan di rumah besar itu, biasanya sembari menunggu Akashi pulang bekerja ia akan membaca novel untuk sekedar membunuh rasa bosan karena waktu yang berjalan terasa lambat dan dengan menghabiskan waktu disana sembari melakukan hal yang disukainya, Tetsuya tanpa sadar telah melewati waktu dengan amat cepat hingga tahu-tahu kadang waktu pulang bekerja Akashi datang begitu tiba-tiba.
Selain itu, Taman belakang adalah tempat dimana Tetsuya menghabiskan seluruh minggu paginya selama ini, menemani Akashi bekerja di hari libur karena titah langsung yang bersangkutan, padahal bisa saja ia mengerjakannya di ruang kerja super nyaman miliknya, namun dengan nada mutlak ia selalu minta ditemani hingga seluruh pekerjaannya selesai bahkan tak jarang keduanya sampai melewati sarapan hingga makan siang di tempat itu membuat Tetsuya kadang bingung sendiri dan bertanya-tanya namun kini tak lagi karena seolah telah menjadi kebiasaan, ya kebiasaan. Kebiasaan yang membuat benih terlarang dihati Tetsuya kian tumbuh dan berkembang.
"deg deg deg" Tetsuya merasakan degup jantungnya cepat, dentumannya terasa lebih keras hingga ia sampai memegang dadanya, novel ditangan tak lagi terbuka berpindah dari pangkuan paha ke dada, di peluknya lembaran tebal itu erat, wajahnya menunduk namun sesekali melirik pada atensi merah yang masih sibuk dengan layar laptop di depannya.
"Deg!!" degupan itu tambah keras setiap netra biru mudanya menangkap gambaan sosok tampan itu, Tetsuya merasa lemas, gemetar bersamaan dengan euporia tak jelas jauh dalam hatinya, sulit dijelaskan hanya yang mungkin ia tahu ia merasa senang dan khawatir diwaktu bersamaan, Tetsuya jelas tahu apa arti perasaan aneh yang bergejolak dalam dirinya karena perasaan seperti ini bukanlah ha lasing baginya, sering datang setiap kali ia bersama dengan penerus tunggal Akashi itu.
Tetsuya telah jatuh, iya dia telah jatuh dalam kubangan indah yang telah digali oleh Akashi Seijurou, kubangan yang membuatnya sesak sekaligus bahagia dalam waktu bersamaan. Netar manis yang entah mengapa membuatnya begitu mabuk hingga terus menyicipnya tanpa bisa berhenti, tanpa bisa ia kendalikan tanpa ia sadar jika dalam setiap sesap yang ia rasa tersisip racun yang bisa menghancurkannya kapan saja, Tetsuya terbuai, terlanjur candu dengan debaran tak henti akibat setiap waktu yang dibunuh dengan amat manis bersama orang yang telah mengambil tempat tertinggi di hatinya.
Menghabiskan waktu begitu banyak bersama, bercumbu mesra yang selalu berakhir dengan bercinta semalaman, sesuatu yang baru baginya namun begitu menyenangkan ditambah sikap Akashi yang lembut dan memperlakukannya dengan amat baik namun kadang Tetsuya juga bingung, Akashi itu tak bisa ditebak, sikapnya berubah cepat secepat ketukan detik pada jarum jam, kehangatan dan kelembutannya bisa berubah seratus delapan puluh derajat, ia akan menjadi sosok dingin dengan tembok kokoh yang tak bisa digapai Tetsuya, seperti penghalang yang sengaja dibuat untuk memberi jarak hingga Tetsuya kadang merasa sesak sendiri karena ia tak bodoh untuk tidak menayadari hal itu.
"A Akashi-kun" bibir tipisnya bergumam pelan, tubuh kecilnya tak lagi mendiami kursi kayu berukir dengan sandaran sepanjang punggungnya. Ia bergerak mejauh, memilih menyampirkan sebagian bokongnya pada lingkaran tembok gazebo. Ditariknya nafasnya dalam demi mengumpulkan kembali tekad yang semalaman telah ia pupuk hingga tak sedikitpun bisa memejamkan kelopak matanya.
Ia masih menarik nafas panjang, berulang kali namun cukup halus, jemari kurusnya terlihat mengeras seiring kian mengeratnya genggaman pada novel yang ia bawa, mengusir rasa khawatir yang datang bersamaan dengan degupan jantung yang kian mengeras kurang ajar.
Tetsuya bertekad akan mengakui semuanya, mengungkapkan beban yang kian menumpuk dengan konskwensi terburuk yang sebenarnya belum siap ia terima tapi tidak membuatnya mengurungkan niat, Tidak! Kali ini Tetsuya tak ingin kalah, ia akan mengusir ketakutan akan kemungkinan akan rasa sakit itu.
"Akashi-kun" suranya mantap, diliriknya pria merah yang masih setia berkutat dengan laptopnya, tak sedikit pun memberi perhatian kecuali gumaman "hmmm" sebagai sahutan.
"Akashi-kun, aku ingin mengatakan sesuatu, deg!" degup jantung sialannya kembali berulah, ia tak siap dengan tatapan dari lelaki itu yang tiba-tiba saja mnguncinya, menepikan sedikit laptop yang dari tadi merebut perhatiannya, memberikan perhatian penuh pada sosok biru muda yang terlihat salah tingkah.
Keheningan menerpa, hanya dengusan angin yang meraung sekilas memecah kebisuan diantara keduanya, Akashi yang masih menunggu Tetsuya untuk menyelesaikan apa yang ingin ia katakan, Tetsuya yang mencoba menetralkan degupan jantungnya agar sampai tak salah bicara karena ini mungkin adalah kesempatan terbaik baginya.
"A a aku" keraguan itu jelas terdengar dari nada halus yang keluar dari belah bibir peachnya.
"A.." Tetsuya urung melanjutkan, suaranya tercekal rasa gugup dan takut yang kembali membesar, ia tak sanggup berhadapan dengan sorot hetero yang menghunus bagai pedang Tetsuya menundukkan kepalanya. 'kau harus menundanya' pikirannya ikut memberi sugesti yang tak sejalan dengan keinginan hati hingga canggung dan sunyi itu kembali meneylimuti.
"Kau tidak perlu mengatakannya jika itu hal yang tidak penting" potong Akashi dengan nada suara dingin, raut wajah tampannya terlihat datar,
Tetsuya mendongak, sejenak ia tertegun, meski telah berkali ia mendengar pewaris tunggal Akashi itu mengucap kalimat dingin yang kejam bahkan mungkin lebih kejam tetap saja ada rasa tak biasa, bahkan kali ini terasa begitu menyakitkan, padahal sebelumnya ia masih bisa menerimanaya tak peduli dekejam apapun kalimat yang terlontar dari bibir lelaki itu ia tak pernah merasa sesakit ini seakan ada sulur berduri yang perlahan merambati jantungnya.
Tak sejalan dengan bagian dalam yang terkoyak, bibir tipis sewarna cerry itu tertarik pelan, hendak melukis senyum, menyembunyikan perasaan yang telah porak poranda bahkan sebelum ia ungkapkan, hanya itu yang ia bisa meski hanya bertahan hanya beberapa detik karena tumpukkan cairan bening pada kedua sudut matanya terlampau cepat penuh hingga ia memilih membalik badannya, memunggungi lelaki merah itu. Membiarkan semuanya tumpah begitu padanagnnya beralih pada hamparan taman yang ditanami berbagai bunga dan tanaman hias lainnya.
Grebbb
Dirasakan sebuah pelukan memenjarakan pinggannya, dada bidang yang menempel sempurna dengan punggung ringkihnya, Tetsuya tersentak, pelukan itu kian mengerat namun tak juga menghantar rasa hangat yang tadi dipaksa meredup. Tetsuya kembali dibuat kebingungan dengan sikap lelaki itu, belum beberapa menit luka itu ia goreskan dengan dingin dan kejam sekarang dia sudah membawa tubuh Tetsuya dalam harapan yang mungkin saja membuatnya kembali terluka.
"Apapu yang ingin kau katakan Lupakan!" suara berat itu terdengar begitu pelan, halus bagai angin sore yang mebelai dedaunan namun terasa seperti hujaman belati yang membuat sosok biru muda itu kian kacau, yang dirasa bukan lagi debaran atau letupan aneh menyenangkan yang menggila namun rasa sakit teramat yang entah kenapa seakan meremas begitu kuatnya sampai ia merasakan sesak yang begitu luar biasa di dadanya, mengundang bulir bening itu kian mengalir deras.
Bibir tipisnya terkatup rapat, lidahnya seakan kelu, pikirannya kosong seakan dipaksa berhenti untuk sejenak, tak ada satu pun kata terlintas untuk bisa ia lafalkan, bahkan isaknya pun hilang tertelan, hanya aliran bening yang tak juga mau berhenti, raut wajahnya memang datar namun redup dari manik indah sewarna samudera itu jelas sekali merefleksikan bagaimana perasaannya saat ini.
"kau tahu alasanmu berada disini bukan!" Tetsuya seperti dilempar pada kenyataan yang ia lupakan, ya, iya lupa pada kenyataan itu,
Kenyataan mengenai alasan yang membuatnya berada di tempat ini. Ia mengigit bibir bawahnya, mencoba membuang segala rasa yang tengah mengacau dalam dirinya, kelopak matanya menutup, membuat aliran bening itu mengalir lebih cepat, bahunya bergelak pelan ketika berkali ia mencoba mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
tuntutan perasaan yang kian membeludak membuatnya tak tahan dan berani mengambil resiko untuk melewati batas yang jelas dibuatkan oleh Akashi, mengutarakan pernyataan haram itu, ah bahkan sebelum ia mengucapkannya pun ia dipaksa berhenti karena kalaimat-kalimat itu memang diharamkan baginya, dan ia tahu akan menanggung resikoe seperti ini dia juga tahu akan menanggung luka yang bahkan telah terbayang berkali-kali hingga ia merasa siap dan tak takut dengan bayanagan menyakitkan itu, hanya saja-
Hanya saja, ia tak tahu jika luka itu sesakit ini, lebih sakit dari apa yang telah terbayang sebelumnya.
"Kau tahu hubungan kita ini seperti apakan!" ucapnya dengan penekanan yang begitu jelas.
suara berat Akashi seolah membangunkan Tetsuya, menariknya kembali pada kenyataa, kelopak pucatnya membuka perlahan, air matanya tak lagi turun namun jejak basah itu masih membekas dari sepanjang sudut mata hingga pipi ke bawah.
Tetsuya mengangguk sebagai respon setelah beberapa detik berjeda.
"Tetsuya" suara berat Akashi kian lirih hampir tak terdengar, hanya hembusan hangat yang terasa dominan menyapu kulit lehernya membuat bahu kecil Tetsuya bergidik spontan sebagai respon, ia merasakan bahu kanannya terasa lebih berat karena dijadikan tumpuan dari dagu sang dominan. Akashi Tersenyum tipis,
Ia terlampau hafal bagaimana cara membuat tubuh kecil Tetsuya tak berdaya di bawah kendalinya.
Rengkuhan itu makin kuat, terlihat posesive namun tak menghantar satupun perasaan hangat, Akashi memejamkan matanya sejenak, lalu wajah tampan itu mulai bergerak menuju perpotongan leher putih yang menguarkan bau manis, menghirupnya dalam menggeskkan ujung hidung mancungnya berkali-kali selama beberapa saat hingga ditutup dengan kecupan basah yang meninggalkan noda merah.
"Daripada mengatakan hal yang tidak perlu, kenapa kau tidak melayaniku saja!" ucapnya lirih kian tak terdengar namun sarat akan perintah yang tak bisa Tetsuya tolak.
"aku menginginkamu- Tetsuya!!" dan,
Tubuh kecil itu kembali tak berdaya, membiarkan dirinya terbawa tanpa ada perlawanan dalam gendongan posesif sang dominan.
~0o0~
Akashi itu kejam, semua juga tahu itu begitupun dengan Tetsuya, tidak ada yang bisa menang darinya, bahkan perasaan kuat dari seoarang Kuroko Tetsuya pun tak mampu membuat dinding dingin yang meneyelimuti hatinya luruh, alih-alih akan menghancurkan, Tetsuya malah terjebak pada ruangan lain yang membuatnya tak bisa maju ataupun mundur, ia telah tenggelam terlalu jauh.
"Breaking News"
"Pewaris Tunggal dari Akashi corp, Akashi Seijurou hari ini akan mengungumkan pertunangannya".
Waktunya seakan kembali terhenti! tubuh kecil yang masih dalam Rengkuhan sang kakak menegang dan chihiro cukup peka untuk menyadari gestur perubahan sang adik.
"Tetsuya" rasa khawatir yang sempat menguap kembali terendap.
"Chihiro-nii tak perlu khawatir, bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan baik-baik saja" ucap Tetsuya lembut.
"lagipula aku sudah berjanji akan bahagia bukan! " lanjut si mungil berharap sang kakak benar benar membuang perasaan khawatir itu.
"ia aku percaya" Chihiro makin menguatkan rengkuhannya.
~TBC~
Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, bukan saya mau meninggalkan setiap story yang masih belum kelar karena seterusnya saya akan merasa berhutang, mungkin jika tidak memungkinkan akan saya tuliskan "discontinu" pada bagian deskripsi. .
Kalaupun lanjut kemungkinan akan sedikit tertunda atau lebih lama update nya. Mohon maaf untuk para readers, dan terimakasih masih mau menunggu dan membaca!!
