Satu hari yang melelahkan, dan di sini sekarang Do Kyungsoo 'terjebak' bersama lelaki di sebuah ruangan dimana waktu dirasanya berjalan sangat lambat. Pikirannya berkelana mencoba menerka lebih dan lebih dalam lagi tentang apa yang sedang dan telah terjadi. Ketika perkiraan dan harapannya digantikan dengan sesuatu yang tidak terduga.

Sedang yang satunya melepas jas sekolah dengan santainya dan menyampirkannya sembarang di punggung sofa, dan seterusnya ia daratkan pantatnya sembari melonggarkan dasinya. Seolah Kai memaklumatkan dirinya untuk berpura-pura tidak menyadari keberadaan makhluk lain di ruangan itu yang sekarang jelas-jelas berdiri didepannya seperti patung Liberty membawa koper—bukan obor maupun buku.

Mencerna maksud seseorang tidak pernah sesulit ini, pikirnya. Rasanya seperti dilempar ke kebun bunga raksasa


EXO Gaytime © sebaekai's kai

I Dare You To Dare Me

this is just a work of fiction; I do not own the characters.


Rasanya seperti dilempar ke kebun bunga raksasa

Ya.

Kim Jongin adalah jelmaan dari sebuah bunga raksasa, dan Kyungsoo mengambil peran sebagai lalat di sini.

Canggung.

Tidak ada kata yang lebih pas untuk menggambarkan apa yang dirasakan Kyungsoo saat ini. Seorang lelaki baru saja meluluhkan amarahnya hanya dengan beberapa kata dan lelaki yang sama juga yang menyeret tangannya menjauh dari kebekuan waktu. Bahkan setelah sampai di kamar ini pun, kepalanya masih penuh dengan tanda tanya dan matanya membulat sempurna.

"Taruh saja kopernya di sana." Kai memecah lamunan Kyungsoo dengan satu jarinya yang menelunjuk sudut ruangan tak jauh dari tempat ia sekarang duduk.

Dan Kyungsoo—tanpa berpikir panjang lagi—menuruti apa yang dikatakan yang lebih muda layaknya peliharaan baru yang jinak dengan 'huh?' dan 'oh' yang menyertai.

Ruangan yang baru saja ia masuki cukup besar. Berbentuk persegi dengan lebar dan panjang yang kurang lebih hampir sama dengan rumah Kyungsoo sendiri. Untuk pergi tidur ia harus menaiki tangga kayu karena letak kasur yang berada di atas, sedang dibawahnya ada dapur dengan perabotan yang bersih—bahkan seperti tidak pernah terpakai. Di sisi lain dari tempat itulah sekarang Kyungsoo dan Kai berada. Anggap saja ruang tamu dengan TV dan segala tetek bengek lainnya.

Mata Kyungsoo bergerak ke sana dan ke sini mengabsen segala isi ruangan disekelilingnya. Sebelum—

"Kyungsoo."

—suara yang selalu membuat bulu kuduknya meremang itu bergema lagi.

Bukan karena Kyungsoo tidak suka, hanya saja dia merasa perlu untuk menyiapkan mental setiap kali suara baritone itu keluar dari mulut pemiliknya. Namun Kyungsoo mengerti bahwa lebih dari sekedar sebutan The Black King yang membuatnya terbata layaknya seorang idiot seperti ini. Yang membuatnya berusaha mencari dan mencari kata yang paling tepat hanya untuk sekedar menjawab panggilan namanya sendiri. Lebih dari itu.

"—eung?"

Kyungsoo tidak naif. Dia tahu bahwa sekarang dia berada pada posisi dimana seseorang yang telah diperbolehkan tinggal bersama seharusnya mengucapkan terima kasih, atau bahkan memberikan tawaran untuk membalas kebaikannya dengan 'katakan apa yang kau mau, aku akan mengabulkannya'—misalnya. Namun lepas dari Kyungsoo dan kemlaratannya serta bagaimana dia terlihat mempunyai hobi menumpang tidur di tempat orang, dia bisa merasakan keanehan di sini—alasannya merasa canggung sekarang.

Semuanya terasa janggal, kenapa seorang Kingka seperti Kai mau membantu orang asing seperti dirinya. Dengan alasan mengerjai anak baru? Luhan seharusnya juga bisa menjadi pilihan, bukan?

Semua ini membuat Kyungsoo harus selalu waspada.

Mau tak mau.

"Duduk," Kai menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Namun respon yang ia dapatkan hanyalah telanan ludah dari Kyungsoo yang terlihat jelas.

"Ke sini," ujar Kai lagi dengan muka yang masih serius, "—atau aku akan mengambil spidol permanen dan kutuliskan 'properti Kai' di keningmu itu."

—dan berhasil.

Kyungsoo terlihat berlari-lari kecil dan segera duduk bersama Kai dengan kedua kaki yang rapat, kedua tangan yang ia tempatkan di masing-masing lutut, dan punggung yang tegap menjulang. Layaknya sebuah kamuflase seseorang yang merasakan konstipasi di keramaian.

"Relax, Kyungsoo."

Kyungsoo menarik napas dalam, dan menghembuskannya panjang. Dia akhirnya memberanikan diri untuk merespon. "—dan bukankah seharusnya kau memanggil namaku dengan Hyung?"

Dan setelahnya ia menolehkan kepalanya untuk menghadap lawan bicaranya.

Namun seharusnya dia tidak melakukan itu karena—

Ba-dump.

—kemudian dia bertemu muka dengan Kim Jongin yang—sialnya—sedang menyeringai kearahnya. Seakan mengolok kekikukannya.

Kai meletakkan tangan kirinya di senderan belakang tempat Kyungsoo duduk. "Aku tidak memanggil Tao dengan Hyung, dan dia lahir di tahun yang sama denganmu, asal kau tahu saja."

"Tetapi seharusnya itu tidak menjadi alasan—!" —karena kau sudah mengenal Tao jauh lebih lama, dan seharusnya lelaki seumurmu juga tahu apa itu tata karma! Itulah apa yang ingin Kyungsoo ucapkan selanjutnya. Tetapi bukan Do Kyungsoo namanya apabila dia tidak bisa mengontrol omongannya sendiri (bukan berarti dia tidak canggung untuk mengucapkannya juga). "—tapi, uh, terima kasih. Karena sudah menolong dan mengizinkanku tidur di sini. Meskipunakutidakmeminta," ujarnya menyeret kalimat yang terakhir.

"Sudah? Hanya itu?" Kai mendorong pelan kening Kyungsoo dengan jari telunjuknya. "Orang yang tahu tata krama harusnya berkata 'apa ada yang bisa hamba lakukan untuk membayar kebaikanmu, tuan?' Begitu, 'kan?"

.

Lihat siapa yang berbicara.

Kyungsoo melenguh. Ia menempelkan telapaknya ke keningnya sendiri dan mengusap-usapnya. Berupaya membersihkan jejak jari Kai dari situ.

Kemudian ia memanggutkan kepalanya sebelum melanjutkan, "Oh, benar. Jadi, apa ada yang bisa aku lakukan untuk membayar kebaikan-yang-tidak-ikhlas-mu itu?" Tanya Kyungsoo sambil memutar kedua bola matanya jengkel.

Kai membalas dengan seringaian—lagi, dan Kyungsoo mulai berpikir bahwa Kai memang mungkin tidak bisa tersenyum secara normal.

"Jadilah pembantuku untuk selamanya." Kai langsung menjawab tawarannya tersebut.

Dan Kyungsoo berencana untuk beranjak kala itu juga dan menyeret kopernya keluar dari kamar VVIP sialan itu, kemudian bersumpah untuk tidak bertemu dengan lelaki licik bernama Kim Jongin itu untuk selamanya—namun sebelum itu terjadi, Kai merengkuh tangan Kyungsoo dan menariknya duduk kembali ke posisi semula.

Kyungsoo berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Kai dengan delikan mata; dengan bola mata yang seperti akan keluar dari lekuknya. Sempat terjadi adegan tarik-menarik selama beberapa detik sebelum Kyungsoo mengaku lebih lemah, dan menyerah.

"Terima kasih tawarannya, tetapi aku menolak."

Dilihat dari intonasi suaranya yang tegas, Kyungsoo sepertinya memang serius dengan apa yang dikatakannya. Dan—hallo—siapa sih yang mau diperlakukan layaknya budak di rumah sendiri.

"Baiklah kalau begitu. Bagaimana dengan mencuci pakaianku, membersihkan kamarku, dan memasak untukku?" Kai memberikan tawaran lain.

Kyungsoo mengernyitkan satu alisnya. "Apa bedanya dengan pembantu?"

Kai mengangkat kedua bahunya enteng.

"Atau tinggal beritahu aku apa warna favoritmu dan aku akan membelikan spidol permanen berwarna yang sesuai dengan seleramu itu. Ini tawaran."

"Lebih seperti ancaman," Kyungsoo menghela napas berat. "Aku mulai menyesal karena memutuskan untuk meresponmu. Dan!" Kyungsoo menatap Kai benci, "—aku mulai tahu bahwa kau tidak akan pernah membiarkan aku menang."

"Aku ini pemain game yang terbilang pro. Jadi memang mustahil untukmu mendapatkan sebuah kemenangan dariku, Kyungsoo," seringaian, "dan akhirnya kau mengakui bahwa seorang Do Kyungsoo tidak bisa mengacuhkan pangeran tampan seperti aku ini. HA!"

"Idiot memang tidak mempunyai pekerjaan lain selain bermain. Dan jangan bercanda! Ini tidak seperti kita telah berkenalan sangat lama, pangeran buruk rupa."

"Salahmu sendiri tidak mengajakku berkenalan."

"Dari awal memang aku tidak punya rencana untuk melakukannya."

Kai kemudian merentangkan satu tangannya ke arah Kyungsoo, mengajak berjabat tangan. Seakan tidak peduli bahwa obrolan mereka lebih pantas disebut dengan perdebatan. Seakan tidak peduli bahwa eksistensinya di dunia ini ditolak sepenuhnya oleh seorang Do Kyungsoo.

"Lalu kenapa tidak kita lakukan apa yang dinamakan 'berkenalan' secara resmi?" Dan dengan lantang berkata, "namaku Kim-the-Black-King-yang-sangat-tampan-dan-sempurna-Jongin, panggil saja aku Kai." Seringaian itu kembali hinggap di parasnya, bahkan dengan bonus sebuah kedipan mata.

Do Kyungsoo berkarat.

.

Jauh sebelum Kai memperkenalkan dirinya secara formal seperti ini, jauh sebelum Kai menyeretnya ke kamar ini, jauh sebelum Kai menyelamatkannya dan memberinya tumpangan untuk tidur, Luhan sudah memperingati seberapa bahaya seonggok daging yang ada didepannya itu.

Sekarang Kyungsoo percaya dengan apa yang dikatakan Luhan siang tadi. Sekarang Kyungsoo percaya sepenuhnya.

Namun khayal baginya untuk memutar waktu, 'kan? Dan sangat terlambat baginya untuk memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari spesies langka bernama Kim Jongin.

Toh, Kyungsoo tidak mempunyai pilihan lain selain menjabat tangan Kai yang terurai itu.

.

"Do-pembantu-baru-yang-sangat-membencimu-Kyungsoo."

.


.

Kyungsoo telah selesai membersihkan ruangan dan memasakkan makanan untuk Kai. Dan disinilah dia sekarang, duduk di bangku kayu tua yang berada di taman; sendirian. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tetapi Kyungsoo memang bermaksud untuk menghirup udara luar sebentar sementara Kai ia tinggalkan terlelap di sofa. Mungkin dia tidak akan bisa keluar selain dengan mencuri-curi kesempatan seperti ini, bukan?

Kyungsoo memejamkan matanya, dan tak berselang lama telinganya menangkap suara tapakan kaki.

"K—Kau!"

Kyungsoo membuka kedua matanya ketika mendengar suara seseorang terperanjak. Dia kemudian melihat seorang lelaki seumurannya yang menggunakan kemeja stripe ditutupi dengan sweater dan mantel bulu, serta membawa sebuah kotak kado berwarna merah dengan pita putih membelitnya. Lelaki itu terlihat terkaget-kaget namun melemparkan senyuman hangat setelahnya. Kyungsoo otomatis berdiri dan sedikit membungkuk untuk memberi sapaan dan senyuman kecil.

"Do Kyungsoo, 'kan?" tanya lelaki itu menunggu jawaban dari sang pemilik nama.

Kyungsoo sedikit terperangah karena dia belum pernah melihat lelaki itu sebelumnya, dan dia tidak pernah berharap untuk dikenali oleh banyak orang karena memang tidak ada alasan untuk itu dapat terjadi.

Alhasil Kyungsoo hanya menganggukan kepalanya mengonfirmasi.

"Assa, aku benar." Lelaki itu menjentikkan jarinya. "Ternyata memang mudah mencarimu hanya dengan melihat mata," kekehan, "aku pikir apa yang dikatakan Tao tadi hanya tipuan."

Mencariku?

Tao?

Apa orang ini datang untuk membalas dendam?

Kyungsoo hanya membalas dengan muka tidak mengerti.

"Ah, benar. Namaku Suho, dan aku adalah Ketua Osis di sekolah ini. Jadi jangan heran kalau aku langsung tahu wajah orang baru, lepas dari Tao yang memberitahuku bahwa kau mempunyai mata yang err—khas."

The White King akhirnya muncul.

Kyungsoo berusaha untuk tidak terkejut secara berlebihan. Juga Suho yang tidak meninggalkan kesan negatif membuat Kyungsoo ragu untuk angkat kaki dari tempat itu sekarang atau tidak.

Namun ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya lagi ketika disadarinya Suho telah membungkukkan badannya dalam-dalam; kemudian melemparkan senyuman bersalah. "Maaf sekali atas perlakuan Tao padamu. Percayalah, ia sebenarnya anak yang baik! Dia langsung berlari kearahku tepat saat aku kembali ke sini dan menjelaskan semuanya dengan peluh air mata. Dia sangat menyesali perbuatannya. Tolong, maafkanlah dia."

Suho hendak membungkukkan badannya lagi namun Kyungsoo mencengkeram bahu kanannya dan menghentikannya.

"Aku sudah memaafkannya, Suho Hyung. Dan aku tidak sedang bercanda atau apa. Aku juga tahu kalau Tao sebenarnya adalah anak yang baik. Sebenarnya aku sempat naik pitam karena dia secara tidak langsung melukai perasaan temanku, namun aku sadar bahwa Luhan Hyung pasti tidak akan marah meskipun diperlakukan seperti tadi. Jadi, aku berharap persoalan ini tidak usah diperpanjang lagi karena—akan lebih baik begitu, 'kan?"

Suho terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkannya kala itu.

Dan tidak butuh waktu lama untuk melihat Suho tersenyum lagi. "Begitu," responnya singkat.

Dia mendongakkan kepalanya menatap langit, lalu terpekur ke bawah untuk melihat jam tangannya. "Aish, sudah larut malam. Hmm—

.

—mau kembali bersama?"

.


.

Saat berjalan beriringan, Kyungsoo teringat dengan kotak kado kecil yang berada di tangan Suho dan rasa penasarannya muncul. "Eung, kalau boleh tahu. Itu—"

"Ini?" Suho mengangkat kotak merah itu kemudian tertawa, "Aku menemukan sebuah surat (lagi) dilokerku. Seseorang mengajakku bertemu dan well—hal seperti ini sudah biasa terjadi. Jadi jangan dipikirkan," katanya enteng sambil mengibas-ibaskan telapaknya di depan muka.

Kyungsoo sweatdrop.

Tentu saja orang seterkenal dia pasti punya fans dimana-mana.

Dan hal itu membuat pikiran Kyungsoo dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang orang yang sekarang mungkin masih terlelap. Apakah dia juga menemukan surat cinta di dalam lokernya? Apakah dia menerima gundukan kado dari para penggemarnya juga? Apakah dia sudah punya kekasih?

Coret, robek dan bakar kalimat yang terakhir.

.

Kyungsoo melangkahkan kakinya memasuki lift dan langsung memencet tombol nomor dua. Di saat itu juga Suho meraih tangannya—kemudian meletakkan sebuah kunci di atas telapaknya.

"Ini. Kunci kamar VVIP-ku yang lain. Kau boleh tinggal di sana kalau kau mau. Kau sekamar dengan Kai, bukan?" Suho tersenyum—pahit. "Dengar. Kalau kau tidak betah, aku anjurkan kau untuk pindah. Se-ce-pat-nya."

Kyungsoo sempat terbengong sebentar namun kemudian mengangguk kecil menyetujuinya. "Ya. Terima kasih sekali, Hyung."

Ahh, ternyata The White King itu lelaki yang sangat baik. Kyungsoo tersenyum senang.

Namun senyumnya memudar tepat saat pintu lift terbuka.

Kyungsoo kaget bukan kepalang saat melihat Kai sedang duduk di bangku depan kamar mereka, dan sekarang sedang memandangi Suho dengan wajah yang sangat serius.

Suho seolah-olah mengacuhkannya, dan menghadapkan tubuhnya kembali ke arah Kyungsoo. Dia—terlihat sekali—berusaha untuk tersenyum. "Oke, waktunya berpisah."

Kyungsoo sedikit terperanjak ketika Suho menepuk kepalanya pelan beberapa kali. Dan lebih kaget lagi ketika Kai melepas salah satu sepatunya dan melemparnya tepat mengenai kepala Suho, kemudian masuk ke dalam kamar cepat-cepat dan menutup pintu geram sehingga menghasilkan bunyi 'BAM!' keras.

Kyungsoo mengedipkan matanya, mencoba memproses apa yang telah terjadi dalam beberapa detik.

Sedangkan Suho memegangi bagian kepalanya dan mengerang kesakitan.

"HHyung. Kau tidak apa-apa?"

.


.

Kyungsoo masuk ke dalam kamar, mengendap-endap ke arah kopernya kemudian memasukkan kunci yang diberikan Suho ke dalam. Dia menatap seluruh sudut ruangan untuk mencari keberadaan Kai, tetapi yang ia temukan hanyalah masakannya yang tidak tersentuh sama sekali di meja makan.

Apa tidak enak? Kyungsoo menggembungkan pipinya sebal. Namun tetap saja sifat keibuan dalam dirinya mengotomatiskan tangannya mengambil nasi dan lauk untuk dipanaskan sebentar sebelum menghampiri Kai yang sedang berbaring di atas kasur; membaca buku.

"—Kai, kau tidak makan?"

Hening.

Tidak ada jawaban.

"Ahem?"

Kai tidak bergeming sedikitpun dan tetap memfokuskan matanya pada buku kecil yang berada ditangannya sambil duduk bersender ke dinding.

Kyungsoo mendengus. "Kalau begitu biar kumakan."

"Suapi aku."

.

Kyungsoo hampir saja terpeleset jatuh; atau mungkin bola matanya keluar dan menggelinding ke bawah tangga.

"—HA?!"

Dia salah dengar. Ya, dia pasti salah dengar.

Kai menurunkan bukunya sebatas paha dan menatap Kyungsoo marah. "Kau ini tuli atau apa. Bawa makanannya ke sini dan suapi aku."

"Kenapa aku harus—" Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat; menahan amarah. "—yang benar saja. Itu sama sekali tidak lucu, Kai!"

"Aku tidak melihat ada yang tertawa di sini," balas Kai dingin.

"—!" Kyungsoo menjejak-jejakkan kakinya. Ia menggerutu di setiap tapakan kaki menuju ruang makan. "Kau beruntung aku tidak menendang selangkanganmu selagi aku bisa."

.
.

"Buka mulutmu, Kai. Demi Tuhan!" gerutu Kyungsoo yang diselingkuhi Kai dengan buku yang sedang dibacanya. "Kalau kau mau makan, makanlah dulu. Kalau kau masih mau membaca, jangan membaca sambil makan. Aku masih harus belajar, dan aku juga lapar!"

Kai menurunkan bukunya dan menatap Kyungsoo tajam. "Kenapa tidak bilang dari awal kalau kau lapar?" Kai merebut sendok penuh makanan dari tangan Kyungsoo; berusaha menyuapinya balik. "Buka mulutmu. Aaaaa—"

"Kau—benar-benar—"

.

JEPRET!

"BEHAHAHAHHA. Sepasang kekasih baru sedang suap-suapan. Mesra sekali."

Kyungsoo mendelik, Kai facepalm. Entah darimana munculnya dan kapan datangnya seorang lelaki sebaya mereka dengan tulang pipi yang agak menonjol seperti dinosaurus sedang memegang kamera dan mengamati hasil foto yang ia ambil sambil cekikikan.

"YAH. KIM JONGDAE—"

Chen melotot.

"—Hyung." Kai menambahkan dan menurunkan intonasi suaranya.

Chen meringis lagi.

"Aish, kemarikan!" Kai mulai merayap turun dari kasur mencoba meraih kamera yang ada di tangan Chen.

Kyungsoo pun ikut turun menyusul Chen yang bergegas ke bawah menemui teman-temannya.

.

… Sebentar.

Kyungsoo melongo.

Dilihatnya empat orang duduk di ruang tamu dan menoleh kearahnya dengan senyuman nakal. Chen memilih berdiri sambil tetap sibuk dengan kameranya; merekam sekelilingnya.

Kai datang dari belakang dan merangkulkan tangannya ke pundak Kyungsoo. "Siapa bilang aku mengadakan arisan di sini?"

"—Ayolah Kai." Chanyeol yang sedang memangku Baekhyun meringis sambil mengistirahatkan dagunya di atas kepala kekasihnya. "Tidak ada salahnya 'kan, merayakan kedatangan dua teman baru."

"Dan merayakan hari jadi teman kita tentu saja," goda Baekhyun sambil melirik ke arah Sehun dan Luhan.

Luhan bersemu. Sehun berseru sambil tersenyum kecil. "Apalah itu, yang pasti sesuai dengan perjanjian yang telah kita buat; bayar pesanan kalian masing-masing. Aku tidak traktir, hyung. Camkan!"

"Kkaeb song~" Baekhyun merespon balik.

"Kapan kau akan menyusul kami (jadian), Kyungsoo?" Luhan bertanya dengan innocent-nya.

Kyungsoo kikuk. "Dengan?"

Luhan menunjuk dengan tolehan kepalanya ke arah Kai.

Kyungsoo terpaku.

"Tidak, Hyung. Tidak ada apa-ap—"

"Secepatnya, Hyung." Kai memotong elakan Kyungsoo.

Kyungsoo memelototinya.

Kai pura-pura tidak melihat.

"Dan maaf saja, bukannya aku tidak mau ikut." Kyungsoo mendengus. "Tapi malam ini aku harus belajar agar bisa mengejar materi yang telah kalian dapatkan."

"KKAEB SONG~" Semuanya merespon serentak.

"Orang ini, memang norak sekali." Kai melepaskan rangkulannya dan ikut duduk di sofa.

"….." Kyungsoo menggigit bibir bawahnya menahan emosi.

"Ayolah, Kyungsoo. Hyung akan menraktirmu, mengerti?" Bahkan Luhan pun angkat bicara untuk membujuknya.

"Chenchen akan mengajak Xiumin Hyung, dan kau tega sekali membiarkan Kai sendirian seperti pria kesepian." Baekhyun mengeluarkan jurusnya. "Aku tidak akan membiarkan Kai dekat-dekat denganmu, Chanyeol yang akan mengurusnya. Ya kan, yeobo?" Baekhyun mendongakkan kepalanya.

Chanyeol menunduk dan memamerkan gigi-giginya lagi. "Tentu saja. I'm Kai's ultimate fan~"

Chanyeol dan Kai ber-highfive ria.

"Oleh karenanya Kyungsoo, aku sepenuhnya milikmu malam ini. Bagaimana?" Bujuk Baekhyun.

Duabelas mata menatap Kyungsoo penuh harap.

.

.

Dengusan, sebelum Kyungsoo menganggukkan kepalanya menyetujui.


a/n ;

wowwy, such a long chapter! btw thanks y'all for clicking the follow or fav or even dropping those lovely reviews!
special thanks to chenma, athali92, rossadilla17, ArraHyeri2, OhSooYeol, Kim HyunShi, opikyung0113, puputkyungsoo, dewilololala, flowerdyo, dokydo91 for reviewing the first chapter before I posted this one. best wishes!

p.s ; happy late 3rd anniversary for this acc, lol tua. o u o


"Xiumin, kau mau kemana?" Suho bertanya saat The White King Crew sedang berkumpul bersama. Diturunkannya buku 'Little Prince' yang sudah ia baca ulang puluhan kali.

Xiumin terlihat sedang duduk, menalikan sepatunya. "Ahh, Chen mengajakku berkencan malam ini. Mau ikut?"

Suho menggeleng-gelengkan kepalanya; menolak tawaran. Sebosan apapun dia sekarang, Suho tetap memilih untuk tinggal ketimbang mengekor dua orang yang sedang berpacaran. Aku terlalu tampan untuk menjadi obat nyamuk, batinnya.

"Tidak sepenuhnya berkencan sebetulnya. Karena kami juga akan merayakan kedatangan dua anak baru dari YG Academy itu. Yosh! Aku pergi dulu, y—"

"AKU IKUT!"

"heh?"

.

Sedang di tempat lain—di dalam mobil lebih tepatnya—Kai yang iri karena Baekhyun dan Chanyeol bermesraan sedari tadi kemudian mengistirahatkan pantatnya di atas paha Kyungsoo; memaksa Kyungsoo untuk memangkunya juga.

Apabila ditilik, sekarang semua ini seperti permulaan dari sebuah hubungan yang aneh.

Di kursi bagian belakang, Chen mendadah-dadahkan tangannya ke arah kamera. "Sampai berjumpa di tempat selanjutnya. Bye bye!"

.

Sebelum Chen mengakhiri 'Chen's Road Movie'-nya, kameranya merekam suara Kyungsoo.

.

"Kai, kau berat."

...

TO BE CONTINUED, yehet.