Aku menghela nafas panjang. Sudah lama aku tidak bertemu Sakura. Sebulan yang lalu pertemuan pertama ku dengannya. Dengan bantuan Hinata kala itu, akhirnya aku bisa berkenalan dengan Sakura. Aku sangat mengingatnya. Aku sangat grogi di hadapan Sakura. Rasanya waktu itu aku ingin mengubur diri ku hidup-hidup yang terbata-bata berbicara dengan Sakura. Senyumnya yang manis tak luput dari ingatan ku.

Aku baru ingat. Minggu depan aku dan kawan-kawan akan bertanding di Tokyo. Yeah. Semoga saja. Aku bisa bertemu dengan mu lagi, Sakura.

Disclamer: Masashi Kishimoto

Warning: typo(s), AU, OOC, EYD hancur, Gaje, alur kecepatan, dll.

^^Selamat Membaca^^

Jalani apa yang ada didepan. Lupakan semua masalah kemarin!

Yeah. Nampaknya kalimat itu cocok untuk salah seorang gadis ini. Gadis manis, berkulit putih porselen, tinggi 157cm dan juga berambut pink. Kemarin ia menangis sehingga membuat matanya masih membengkak. Namun kini, ia tak memperdulikannya. Dengan cerianya, ia melangkah menuju kelasnya berada. Saat tiba di kelas, ia langsung memberikan salam hangat untuk teman-temannya yang sudah hadir.

"Ohayou-minna~"

Kyoko, salah satu dari mereka yang sudah hadir langsung datang menghampiri Sakura dengan tatapan anehnya. "Ada apa? Kau kemarin nangis, sekarang sudah ceria. Menang taruhan dimana?"

Dengan segera Sakura memukul kepala Kyoko.

"Sakit tahu~" Kyoko hanya meringis mendapat bogem mentah dari Sakura.

"Dasar sok tahu." Dengus Sakura.

"Kalau bukan menang taruhan lantas apa?"

"Aku itu sempat membaca kalimat 'Yang lalu biarlah berlalu. Yang kini biarlah berlanjut.' 'Kan aku juga tidak mau terus terpuruk hanya karena masalah kemarin, Kyo. Memangnya kau mau lihat aku yang cantik ini jadi sedih? Tidak 'kan?" Sakura mulai bernarsis ria.

Kyoko hanya memutar bola matanya yang berwarna coklat itu dengan bosan. Sifat narsis temannya yang satu ini muncul lagi! "Mulai deh... oh ya, aku punya video baru loh~"

"Oh ya? Video apaan, Kyo?"

"Video klip baru. Bukan 2PM sih. Hanya Wooyoung dan Taecyeon ajah. Tapi Suzy dan JYP juga ikutan. Pokoknya keren deh." Menyangkut soal 2PM Kyoko memang lebih unggul dibandingkan Sakura. Dikarenakan Kyoko memiliki jaringan wi-fi yang terpasang di rumahnya. Sehingga ia lebih update mengenai kabar 2PM. Sedangkan Sakura, ia hanya memiliki ponsel flip berwarna pink kesayangannya. Dan ponsel itu tidak bisa yang namanya INTERNETAN.

"Serius? Wahh... penasaran nih. Lihat dong~" Sakura makin bersemangat saat Kyoko mengangguk sambil berjalan menuju bangkunya yang berada di depan itu. Sakura ikut saja, ia sudah tahu maksud Kyoko.

"Ini... lihat yah. Pokoknya Wooyoung keren deh." Kyoko mulai memutarkan video yang berada di ponselnya itu.

Sakura langsung heboh dengan video yang dia lihat. Satu kata yang berada dipikirannya. Wow! Wooyoung, Taecyeon, Suzy dan juga JYP berkolaborasi sangat keren. Namun, saat Sakura menoleh sebentar ke pintu, pemandangan yang SANGAT TIDAK INGIN ia lihat, dilihat juga. Gaara dan Matsuri berpacaran depan kelas. Hei! Apakah tidak ada tempat yang lain? Disini ada yang mulai sakit hati. Nampaknya, besok Sakura akan memasang di depan pintu sebuah kertas yang berisikan kalimat 'KELAS INI BUKAN TEMPAT PACARAN.'

"Sakura?" Kyoko menoleh untuk melihat apa yang Sakura lakukan sehingga tak seheboh tadi. Kalau menyangkut masalah Wooyoung, pasti Sakura nomor satu hebohnya. Tapi, ia heran. Kenapa saat puncak video Wooyoung akan pergi bersama Suzy menuju bus tua, tak terdengar komentar-komentar dari Sakura. Dan benar saja. Iris mata coklatnya menangkap Sakura memperhatikan seseorang di luar kelas.

"Sakura... aku sudah tahu kenapa kemarin kau sabar saja. Mereka memang tidak punya hati." Hibur Kyoko kepada temannya itu sambil mengelus pundak Sakura.

Sakura langsung menatap Kyoko sambil tersenyum. "Ya. Aku juga tidak mau lagi nangis karena mereka."

Melihat Sakura yang tersenyum membuat dirinya juga ikut tersenyum. "Ya. Itu benar."

"Lagipula... kalau aku nangis nanti Wooyoung sedih lagi. Melihat kekasihnya beruraikan air mata." Kata Sakura dengan nada jahilnya.

Inilah Sakura yang Kyoko kenal. Suka tersenyum dan juga suka dengan seenaknya mengklaim artis favoritnya itu kekasihnya. Ya, walau itu hanya bercanda sih. "Hei. Aku tidak terima. 'Kan aku yang kekasihnya Wooyoung."

"Apa? Kau itu tidak konsisten ya? Kemarin 'kan Kau bilang kalau Wooyoung itu kakak angkatmu. Kok hari ini mendadak berubah sih?"

"Memang benar ya aku bilang gitu?" Gumam Kyoko.

Sakura langsung saja tertawa terbahak-bahak. "Aduh Kyo. Begini saja. 'Kan bagus kalau aku yang jadi kekasihnya Wooyoung. Aku 'kan jadi kakak iparmu. Betul 'kan?"

Kyoko mengangguk kemudian high-five dengan Sakura sambil tertawa. Namun, tawa mereka langsung berhenti saat mendengar suara ribut. Benar saja. Segerombolan gadis dengan gaya angkuhnya berjalan masuk ke dalam kelas sambil bercerita.

"Wah... aku tidak nyangka lho, Matsu. Baru saja kalian berpacaran kemarin, kalian sudah sangat mesra. Bahkan melebihi kemesraan Temari dan juga Shikamaru." Ucap Karin dengan suara mengejek. Sedangkan Temari yang mendengar namanya diungkit-ungkit hanya bisa menghela nafas pasrah.

'Sial. Baru pagi ia sudah minta perang. Oke. Aku akan meladenimu.' Pikir Sakura.

"Jangan berlebihan deh, Karin."

"Aku tidak berlebihan, Matsu. Itu memang benar 'kan? Baru sehari kalian pacaran, kalian bahkan sudah berani berciuman. Terlebih lagi, Gaara itu yang pertama buatmu, 'kan?" Siapapun di kelas ini sekarang sudah tahu kalau perkataan Karin itu hanya untuk membuat Sakura sakit hati.

"Haahhh... nampaknya ada yang bersuara. Kau dengar sesuatu tidak, Kyo?" Sepertinya Sakura juga memulai aksinya. Kyoko yang merasa namanya disangkut-pautkan hanya ikut saja.

"Tidak. Kenapa, Sakura?" Kyoko ikut bersuara.

"Tidak apa-apa kok, Kyo. Aku hanya merasa mendengar suara yang dapat merusak indera pendengaranku."

Karin yang merasa dirinya dihina mengepalkan tangannya erat. Tangannya itu sudah siap memukul Sakura kapan saja. Tapi, ia berusaha menahannya. Kaki jenjangnya melangkah ke tempat Sakura dan Kyoko berada.

"Heh pinky. Kau mau cari mati ya?" Gertak Karin dengan wajah sangarnya.

"Hoh? Kau tersinggung?" Sakura memberikan senyum liciknya kepada Karin dan menambahkan, "cari mati? Aku tidak punya teman yang namanya 'mati'. Jadi buat apa aku cari."

Karin mengepalkan tangannya yang berada diatas meja. Dirinya terasa sudah dibodohi oleh Sakura. Ia langsung menggebrak meja dengan keras sehingga membuat tangannya memerah.

'Brakk...'

"Brengsek. Dasar pinky. Udah stress ya? Gara-gara cintanya jelas-jelas bertepuk sebelah tangan, hm?" Karin kembali memancing emosi Sakura.

Sakura merasa hatinya sangat sakit mendengar ucapan Karin. Apalagi, Karin memberi penekanan diakhir kalimatnya. Sial!

'Brakk...'

Dan Sakura juga ikut-ikutan menggebrak meja. Namun, gebrakan meja Sakura lebih keras sehingga membuat suasana kelas mendadak panas.

"Tch. Diam kau, brengsek. Kau jangan sok tahu." Sakura berusaha dengan keras agar ia tidak mengeluarkan air mata lagi, terlebih dihadapan Karin. No way!

"Kau bilang sok tahu? Kalau bukan cinta bertepuk sebelah tangan, lalu apa? Heh!" Seringai Karin makin terlihat saat matanya menangkap Sakura mengepalkan tangannya diatas meja dengan erat.

Sudah cukup! Baru saja Sakura terlupakan masalah kemarin, 'setan merah' itu kembali mengungkit-ungkitnya. Saat Sakura ingin melayangkan tamparan untuk Karin, seseorang mencegah tangannya.

"Sudahlah, Sakura. Nanti ada guru yang lihat. Kau tidak ingin 'kan masuk keruang BK pagi-pagi begini?" Kyoko mencoba menasehati Sakura. Kalau Sakura menampar Karin, pasti Karin tidak terima. Kemudian mereka berdua akan bertengkar –entah bagaimana caranya- dan dirinyalah juga ikut dipanggil. Karena dia merupakan ketua kelas.

Meskipun malas mengakuinya, tapi Karin tetap berterima kasih kepada Kyoko yang dengan segera memegang tangan Sakura saat Sakura ingin menamparnya. Ya, walaupun dalam hati, sih. Karena Karin sudah tahu bagaimana rasanya ditampar oleh Sakura.

"Kau apa-apaan sih?" Sakura menatap Kyoko dengan tatapan dingin.

"Sakura, dia hanya ingin memancingmu. Sabar ya. Oke?" Kyoko hanya menghela nafas pasrah saat Sakura langsung keluar kelas dengan ekspresi datarnya.

"Dasar pengecut." Hina Karin.

"Diam kau, Karin. Kalau aku tidak tahan tangan Sakura, pipimu akan lebih merah dibanding sekarang."

"Huh." Dengusnya dan ia langsung pergi menyimpan tas dibangkunya.

Murid-murid kelas IX.2 hanya melihat kejadian itu dengan santai. Hal tersebut sudah menjadi 'makanan' sehari-hari mereka sejak tahun lalu. Entah Karin yang memulai pertengkaran atau Sakura. Pernah beberapa dari mereka mencoba untuk membuat keduanya berdamai. Namun apa yang terjadi? Langsung saja Sakura menendang tulang kering orang yang merencanakan hal tersebut. Karin yang saat itu juga berada di tempat kejadian, hanya tertawa melihat 'si korban' merintih kesakitan sambil memegang tulang keringnya. Sejak saat itu, tidak ada satupun lagi yang ingin mencoba mendamaikan mereka berdua. Karena, mereka semua masih sayang nyawa.

~O~O~O~O~

Sasuke yang kini sedang duduk di pinggir lapangan hanya senyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya. Dia tak menghiraukan teman-temannya kini berhenti bermain hanya untuk menatapnya dengan tatapan aneh. Dunia Sasuke serasa hanya ada dia dan ponselnya itu. Pesan-pesan dari Sakura membuat dirinya tidak seperti dirinya yang dulu. Sebelumnya, ia tidak pernah sekalipun tersenyum sendri seperti ini.

Ah, hanya dengan pesan dari Sakura membuat tersenyum lebar, bagaimana kalau ia menemuinya secara langsung? Mungkin Sasuke hanya bisa tertawa grogi sambil menatap Sakura.

"Teme!" Seruan Naruto langsung membuat Sasuke menyimpan ponselnya di dalam saku celananya.

"Hn? Kau sudah berhenti main?"

"Iya. Aku mau istirahat sebentar. Oh ya, kenapa tadi kau senyum-senyum sendiri, Teme?"

"Bukan urusanmu, Dobe." Nampaknya Uchiha Sasuke sudah kembali ke wujud aslinya.

"Huh! Padahal dari tadi aku lihat kau senyum-senyum sambil pegang ponsel."

Sasuke yang mendengar gerutuan Naruto hanya diam membisu. Kepalanya kembali memikirkan sosok gadis berambut merah muda yang berhasil menarik perhatiannya dipertemuan pertama mereka. Bungsu Uchiha belum pernah merasakan cinta sebelumnya. Aneh memang jika seseorang baru menemukan cinta pertamanya diumur lima belas tahun. Tapi itulah kenyataan!

Sasuke sedikit memutar-mutar kembali saat pertama kali ia dikenalkan dengan Sakura oleh Hinata.

Flashback

Pemuda berambut emo ini sedang duduk di depan televisi dengan gelisah. Setelah tadi ia bertemu dengan gadis manis yang ditemuinya di ruang tamu, jantungnya masih berdegup dengan kencang. Suara merdu sang gadis masih terngiang-ngiang dalam kepalanya. Sasuke sebenarnya diam-diam memikirkan rencana agar ia bisa saling kenal dengan Sakura. Tapi, hingga kini ia masih belum tahu caranya.

Sebuah pesan masuk di ponselnya membuatnya tersenyum sangat lebar. Sepupunya –Hyuuga Neji- mengiriminya sebuah pesan bahwa malam ini dia akan terlambat pulang. Dan Sasuke diminta untuk menyampaikan pesan tersebut kepada Hinata.

Tanpa ragu-ragu sedikitpun, Sasuke mulai melangkahkan kakinya menuju kamar Hinata. Akan tetapi, perasaan gugup kembali menghampiri dirinya. Kepalanya menggeleng dengan pelan untuk mengusir kegugupannya dan mengetuk pintu kamar sang empunya. Setelah mendengar kata masuk dari Hinata, dengan pelan ia mengehyembuskan nafasnya dan melangkahkan kakinya ke dalam.

Saat Sasuke sudah berada dalam kamar Hinata, mulutnya tak langsung berbicara sehingga membuat dua gadis yang berada di dalam menatapnya dengan heran.

"Kenapa Sasuke-kun?" Tanya Hinata membuat Sasuke kembali sadar akan lamunannya.

"Neji bilang kalau dia akan terlambat pulang ini malam. Karena Neji memiliki janji dengan teman-temannya." Jelas Sasuke membuat Hinata mengangguk pelan.

"Oh. Terus?"

Err... terus? Terus? Terus? Argh... Sasuke tak tahu lagi apa yang ingin ia bilang. Dengan pasrah, Sasuke pun menarik Hinata ke luar dari kamarnya yang membuat Sakura sedikit terkejut.

Hinata yang ditarik-tarik tidak melawan. Hanya ikut saja. Setelah Sasuke berada di tangga, barulah Sasuke melepaskan tangan Hinata.

"Kau kenapa, Sasuke-kun?" Kepala Hinata sedikit ia miringkan.

"Hinata! Aku ingin meminta bantuanmu."

"Ada apa?"

"Kenalkan aku dengan temanmu, please..." Err... ini adalah pertama kalinya Sasuke memohon dengan sangat sambil menatap seseorang dengan begitu butuhnya.

Hinata yang mendengar hal tersebut, diam sesaat. Entah kenapa, ia merasa kalau ada yang sakit didalam dadanya.

"Hei Hinata! Bagaimana?" Sasuke heran melihat tingkah sepupunya ini.

"-Ehem- Oke. Terserahlah. Kalau begitu ayo keatas. Nanti dia heran kalau kita lama sekali."

Sasuke yang mendengar hal tersebut spontan tersenyum dan langsung menarik Hinata kembali ke atas. Setelah sampai ke dalam kamar Hinata, Sakura yang saat itu sedang membaca buku biologi mengalihkan pandangannya dari buku.

"Sakura!" Panggil Hinata dengan pelan membuat Sakura berdiri dari tempatnya.

"Ada apa, Hinata?"

"Aku ingin mengenalkanmu dengan sepupuku. Takut-takut kalau kau salah paham dari tadi saat melihat hanya kami berdua."

Sakura yang mendengar itu hanya terkekeh kecil. Dan emeraldanya ia alihkan ke arah sang pemuda yang sedari tadi berdiam diri dibelakang Hinata. Mata Sakura menatap Sasuke dengan tatapan intens. Entah kemana saja dirinya tadi, mengapa ia baru sadar kalau pemuda ini sangat tampan?

"Sakura, ini sepupuku namanya Uchiha Sasuke. Dan Sasuke, ini temanku namanya Haruno Sakura."

Tangan Sakuralah yang pertama terjulur kedepan. Sasuke mengangkat tangannya untuk membalas salaman dari Sakura.

"Salam kenal, Uchiha-san."

"Hn. Cukup Sasuke, gadis ma-. Err... maksudku cukup Sasuke saja, Haruno-san." Rasanya Sasuke ingin membenturkan kepalanya ke di dinding nantinya. Hampir saja ia keceplosan memanggil Sakura dengan sebutan Gadis Manis.

Sakura mengernyitkan dahinya sebentar. Kemudian, ia berbicara. "Aku juga. Cukup Sakura saja, Sasuke."

Flashback off

Sasuke kembali tersenyum mengingat-ngingat peristiwa sebulan lalu yang masih membekas di ingatannya. Betapa ia merindukan senyum manis Sakura. Akan tetapi, lamunannya tentang Sakura buyar seketika saat suara cempreng Naruto menusuk indera pendengarannya.

"Teme! Apa yang kau pikirkan sih? Kau itu seperti orang gila saja. Senyum-senyum sendiri!"

Sasuke kemudian menatap Naruto dengan pandangan sengitnya. "Kau tak usah tahu urusanku, Dobe."

Naruto mendengus sebentar dan kembali berbicara. "Teme, nanti saat pertandingan di Tokyo sana kau tak usah ikut bermain, ya?"

Sasuke mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"

"Soalnya kami takut terjadi apa-apa denganmu."

Tangan Sasuke langsung mengepal dengan erat. Perkataan Naruto sangat menusuk hatinya. "Aku tahu kalau kau kapten, Naruto. Tapi setidaknya diskusikanlah denganku dulu."

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Sasuke langsung bangkit dan berjalan ke arah kelasnya. Teman-temannya yang lain sebenarnya mendengarkan percakapan antar sahabat tersebut.

Naruto hanya bisa menghela nafas dengan pasrah. Matanya menunjukkan kekhawatiran yang sangat. Sambil memandang punggung tegap Sasuke yang semakin menjauh, dia bergumam. "Aku hanya mengkhawatirkanmu, Teme!"

~O~O~O~O~

Seorang gadis kecil kini sedang memeluk kakak laki-lakinya sambil menangis tersedu-sedu. Tangan kekar sang kakak hanya mengusap rambut panjang nan halus milik adiknya itu. Sedangkan seseorang yang lain hanya dapat menangis tanpa bersuara.

Hinata berusaha mengusap kedua matanya agar air matanya itu tidaklah lagi keluar. Namun apa daya. Usahanya itu sia-sia saja. Setelah mendengar pengumuman keberangkatan, Hanabi melepas pelukannya. Dan kini bergantian dengan Hinata yang langsung memeluk erat Neji.

"Sudahlah. Pesawatnya sudah mau berangkat. Nanti tertinggal lagi." Neji merasakan sebuah anggukan dari kepala adiknya itu.

Pemuda berambut panjang itu, memberi kecupan sayang kepada kedua adiknya. Matanya serasa panas dan setitik air mata langsung membasahi wajah tampannya. Perlahan-lahan, Hinata dan Hanabi mulai menginggalkan Neji sendirian yang menatap kepergian kedua adiknya yang ingin berangkat ke Osaka tersebut. Perginya Hinata dan juga Hanabi disebabkan karena kedua orangtuanya menyuruh mereka untuk pindah-termasuk Neji. Tetapi, berhubung Neji sudah dewasa dan dapat dipercaya, jadi Hyuuga Hiashi mengizinkan Neji untuk menyelesaikan kuliahnya di Tokyo saja.

Sebenarnya kepindahan mereka sangatlah mendadak. Dikarenakan sang ayah dipindah tugaskan di Osaka. Tentu saja mereka sekeluarga sangat kaget. Namun bagaimana lagi. Hal itu sudah menjadi kewajiban Hyuuga Hiashi yang harus mengikuti perkataan sang atasan.

Hinata yang sudah berada di dalam pesawat, masih juga menangis. Sedangkan adiknya sudah terlelap akibat lelah menangis. Ia memikirkan bagaimana reaksi dari sahabat-sahabatnya itu. Pastilah mereka bertiga langsung mencercoki Hinata berbagai pertanyaan. Mungkin terkecuali Sakura. Karena Hinata menduga kalau Sakura pasti marah padanya karena pindah sekolah -dan juga rumah- tanpa pamit terlebih dahulu.

Sejujurnya, terbersit niat dalam hatinya untuk memberitahukan mengenai kepindahannya. Namun, rasanya berat juga memberitahukan hal itu. Jadi ia membiarkan mereka bertiga mengetahui dengan sendirinya.

"Tenten, Sakura juga Ino. Maaf. Aku tidak pamit kepada kalian." Gumam Hinata sambil menutup erat kedua matanya dan melamunkan hal-hal yang sering mereka berempat lakukan.

~O~O~O~O~

Setelah lima hari latihan di Osaka dan juga sehari di Tokyo, akhirnya pertandingan futsal pun tiba. Kedua tim nampaknya sedang berdiskusi terlebih dahulu lima menit sebelum pertandingan dimulai. Kapten dari tim Osaka Junior High School saat ini sedang membujuk sahabatnya agar tidak bermain dulu. Karena kondisi kesehatannya yang kurang baik

"Teme, pertandingan ini kau tidak usah ikut main, ya? Nanti kondisimu seperti pertandingan terakhir." Ujar Naruto dengan hati-hati.

Sasuke yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas dan langsung memberi tatapan tajam kepada Naruto. "Kenapa? Itu dulu, Naruto. Aku sudah tidak apa-apa. Percayalah."

Mata Naruto melirik ke arah sang pelatih dengan tatapan tanya. Anggukan kecil Hatake Kakashi membuat Naruto menarik pelan rambut kuningnya. Jika saja Sasuke bukan pemain yang andalan, pasti tidak akan serumit ini.

"Terserah kaulah."

Senyum tipis milik Sasuke mendadak terlukis diwajah tampannya itu.

Teriakan lantang sang wasit langsung membubarkan diskusi mereka. Kedua tim pun memasuki lapangan futsal. Semua pemain saling berhadapan satu sama lain. Sasuke menatap anggota dari tim lawan dengan tatapan datar. Mereka membungkuk dengan sopan selema beberata detik.

Setelah membungkuk, mereka pun pergi menuju posisi mereka masing-masing. Sedangkan wasit, berdiri dari luar lapangan memperhatikan jalannya permainan nanti. Kemudian, pluit pertanda petandingan dimulai pun dibunyikan oleh sang wasit.

~O~O~O~O~

Pertandingan futsal antara Osaka Junior High School dan juga Tokyo Junior High School berakhir baru-baru saja yang dimenangi oleh Tokyo Junior High School. Meskipun mereka kalah, tak juga membuat para pemain OJHS bersedih. Setidaknya mereka sudah sampai dibabak final dan mendapat juara dua.

Sasuke yang menyumbang dua gol, hanya dapat terengah-engah sambil memegangi lututnya. Mendadak, kepalanya serasa pusing bagaikan ditimpa batu. Sejujurnya, Sasuke memang tidaklah boleh untuk terlalu capek. Larangan dari orang-orang terdekatnya untuk menyuruhnya berhenti bermain futsal, tidak ia hiraukan. Menurutnya, melepaskan hobi sendiri itu sangatlah sulit.

Wajah tampan milik sang Uchiha Bungsu itu, mendadak pucat. Pandangannya langsung terasa berkunang-kunang. Dengan sisa tenanganya, ia berusaha untuk kembali ke bangku yang ada di tempat pertandingan futsal ini. Namun, dalam perjalanannya menuju bangku, badannya langsung saja ambruk di pinggir lapangan.

Semua orang yang berada di dalam lapangan futsal, kompak menoleh saat mendengar suara yang keras. Dan terbelalaklah mata mereka saat mendapati tubuh Sasuke tergeletak tak sadarkan diri di pinggir lapangan.

.

.

.

.

.

~To Be Continued~

A/N: Maaf minna-san aku updatenya lama banget. Soalnya aku sibuk di RL. Juga aku minta maaf kalau chapter ini lebih pendek dari chapter satu.

Terus soal chapter dua ini, maaf kalau rada-rada aneh. #LirikadeganSasupingsan

Oh ya, balasan review kalian aku balas di pm aja yah.

Oke itu aja deh A/N aku. Kritik, saran dan komentar sangat dibutuhkan. So, review ya? X3

Regards

Shirakawa Aimi