Di Jungwon, ada dua alasan mengapa akhirnya para murid bebas dari pelajaran. Satu, karena guru pelajaran tersebut sedang berhalangan untuk datang, dan dua, karena para guru sedang rapat komite.
Alasan kedua adalah mengapa Jungwon sedang bebas berkeliaran saat ini.
Semua kelas mendapat jam bebas sampai tiga jam kedepan, dan setelah itu, pelajaran kembali dimulai seperti biasanya.
Saat-saat bebas jam pelajaran seperti ini, setiap kelas sibuk membuat kelompok disudut kelas untuk mengobrol. Biasanya para anak laki-laki membahas game-game online terbaru yang sedang populer, dan para anak perempuan membicarakan laki-laki yang mereka taksir atau yang sedang populer akhir-akhir ini.
Berbeda dengan anak yang menjadi ciri khas kelas 12-3, Chanyeol sedang memukul-mukul meja bagai orang gila sedang kedua telinganya tersemat headset. Tubuhnya yang ikut bergerak-gerak seakan sedang memainkan stik drum naik-turun dengan cepat, matanya terpejam sedang mulutnya terkatup rapat dan kepalanya bergerak ke kanan-kiri. Daripada bermain drum, anak itu lebih terlihat seperti kerasukan setan gila.
Suara tepukan mejanya sepertinya mengganggu beberapa orang. Terbukti dari anak perempuan yang sedang asik mengobrol beberapa kali mendelik pada Chanyeol karena telah mengganggu fokus bicaranya. Walaupun tidak mengganggu orang lain lagi dan menyebabkan kelas kacau, tampaknya Chanyeol tetap berisik dengan caranya sendiri.
Teman semeja Chanyeol tampaknya juga begitu. Luhan, yang memilih membaca buku cetak sejarah dijam bebas dan duduk disamping orang yang sedang gila sepertinya pilihan yang salah. Seharusnya dia memilih duduk bersama Jongin, anak pendiam lain selain Baekhyun.
Luhan sengaja membuat suara decakan agar Chanyeol segera berhenti, namun Chanyeol yang tidak tahu apa-apa malah semakin memukul meja dengan cepat seakan nada drum yang tengah dimainkannya mencapai klimaks, lalu pukulannya kembali normal seiring selesainya klimaks yang ditunjukkannya.
Dengan itu, Luhan mendecak sekali lagi dan memukulkan buku cetak miliknya pada kepala Chanyeol dan pergi. Luhan benar-benar duduk di sebelah Jongin yang menatapnya tidak percaya, Luhan memberikannya segaris senyum permisi untuk duduk.
SMA Jungwon
.
.
.
Chapter 2
"Jongin anak pendiam yang banyak membantu dan Si bodoh Chanyeol yang masih memuakkan."
"Boleh kan?"
Berkat wajah feminin dan aegyo anak rusanya, Jongin tidak bisa berkata apa-apa yang dianggap Luhan sebagai jawaban yang diinginkannya. Luhan tersenyum sekali lagi dan mulai membuka bukunya. Jongin tetap mengawasinya dalam diam.
Kelas sangat berisik ditambah tepukan meja Chanyeol yang seperti mengeroyok pencuri ayam, Luhan benar-benar tidak bisa membaca bukunya dengan keadaan seperti itu. Jadi Luhan menutup bukunya.
"Apakah selalu seperti ini?"
Gerakan kepala Luhan yang tiba-tiba berbalik ke arahnya membuat Jongin terserang listrik 20 volt. Membuat kepalanya kosong.
"Hah?"
Luhan mengulang. "Kelasnya, apa selalu ribut seperti ini?"
Isi otaknya kembali dengan cepat. "Oh, kelas?"
Jongin kira Luhan menangkap basah dirinya yang memperhatikan wajah Luhan.
"Biasanya kelas lebih ribut lagi dari ini." jawab Jongin.
Luhan membalas pernyataan Jongin dengan wajah ngeri. Kelas barunya benar-benar mengerikan.
Lalu pandangannya bertumbukan dengan Baekhyun. Seperti biasa dia selalu tenang dalam situasi sekacau apapun, mungkin jika sedang terjadi gempa bumi pun dia tetap tidak bergeming dari bukunya. Anak itu memang hampir tidak pernah berbicara saat berada disekolah, kecuali saat ditanya guru atau sedang ada diskusi kelompok, dia jadi berbeda sekali dengan sosok pendiamnya jika sedang dalam pelajaran.
Luhan ingin sekali berteman dengannya karena sepertinya itu akan menarik. Ia dan Baekhyun akan belajar bersama dan berdiskusi jika ada pelajaran yang membingungkan, tidak mau dengan Chanyeol yang kerjanya hanya mengganggu orang belajar saja.
"Jongin, apa kau tahu soal Baekhyun?"
"Baekhyun? Kenapa dia?"
"Sepertinya dia tidak ingin berteman sama sekali, kenapa?"
"Huh? Kenapa kau bertanya padaku?"
"...apa?"
Merasa bahwa ia telah mengecewakan perasaan Luhan, Jongin berusaha menarik kata-katanya. "Kenapa...kau ingin tahu?"
Air muka Luhan seketika terlihat cerah, matanya mengukir senyum bulan sabit terbalik. "Aku menyukainya. Aku ingin berteman dengannya."
"Kenapa kau mau? Dia terlihat membosankan."
Luhan menggeleng seperti anak kecil, masih dengan senyum andalannya. "Dia terlihat bagus jika sendirian, tapi kurasa akan lebih bagus kalau dia bicara padaku. Lagipula, dia beda sekali dengan Chanyeol yang berisik."
Jongin memperhatikan Luhan mengedutkan bibirnya. Lalu Jongin sendiri menarik sudut bibirnya ke atas. Apa dia selalu begitu dihadapan orang lain?
"Hmm... banyak yang berpikiran sepertimu. Mereka berusaha mendekatinya tapi hanya kekecewaan yang mereka dapat. Kurasa kau juga akan seperti itu."
Luhan mengangguk kecewa, "Begitu, ya... susah sekali."
Jongin terkekeh melihat banyak sekali ekspresi yang ditunjukkan Luhan padanya.
"Hei, aku yakin ada banyak yang ingin berteman denganmu, jadi kau tidak usah khawatir."
"Sayangnya 'ada banyak' itu tidak sampai jadi berteman denganku karena ada Chanyeol raksasa disekitarku."
Jongin hanya tertawa.
Tidak ada yang mencoba protes ketika Kim Heechul membagi kelompok saat pelajaran praktikum biologi berlangsung. Satu kelompok terdiri dari dua murid. Luhan mendapat kelompok bersama Jongin, jadi ia tidak punya satupun alasan untuk protes.
Hanya saja keheningan yang terjadi dikelas membuatnya terasa canggung. Luhan hanya bisa melihat Chanyeol melangkahkan kaki-kaki panjangnya menuju bangku kedua diujung kelas. Tidak, tunggu, bukan hanya Luhan yang melihatinya, tapi seluruh murid tampaknya melakukan hal yang sama. Entah hanya Luhan yang berpikiran seperti ini atau mungkin semuanya juga, dia jadi penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Gema sepatu Chanyeol telah berhenti. Dia menempatkan dirinya duduk disamping anak pendiam itu. Ketika dia mulai sadar oleh keheningan dikelas, Chanyeol menyebarkan pandangan jenakanya pada seluruh murid yang menatapinya seraya melambai-lambai.
"Hai. Selamat pagi semua!"
"Bodoh." Luhan menggerutu disamping Jongin. Yang terakhir disebut menanggapi dengan tertawa.
"Bukan Chanyeol jika tidak seperti itu."
Luhan nyengir, merasa malu karena desisannya ternyata terdengar Jongin.
"Baiklah, semua kelompok telah ada. Semuanya pergi ke lab!"
Anak-anak mulai bergerak meninggalkan kelas menuju lab seperti yang diperintahkan Kim Heechul. Ketika Chanyeol juga mulai beranjak dari duduknya, Kim Heechul menghentikannya.
"Oh, kau! Karena persediaan katak habis karena ulahmu, jadi kau yang cari penggantinya segera! Cari sesuai jumlah kelompok, kami akan menunggumu sampai semuanya terkumpul. Jah... mulailah mencari."
Chanyeol tidak punya pilihan selain mematuhi apa yang dikatakan Kim Heechul, jadi dia bergerak menuju kebun belakang sekolah bersama Baekhyun yang mengikutinya dari belakang.
Dua belas katak telah dikumpulkan tapi Chanyeol sudah merasa lelah. Ia merasa Kim Heechul telah keterlaluan menyuruhnya mengumpulkan katak sampai dua puluh ekor. Demi Tuhan, kapan praktikumnya dimulai kalau begitu?
Chanyeol akhirnya bangkit. Menyerah. Dia tidak bisa melakukannya lagi karena dia haus. Hari sangat terik dan dia satu-satunya murid yang kelihatan bodoh mencari katak disemak-semak sendirian. Sendirian, ingat itu.
Ketika matanya menangkap seorang murid yang kelihatannya baru dari toilet, Chanyeol mengumbar senyum.
"Hoi, kau! Iya, kau! Ayo sini!"
Anak itu menurut untuk mendekat. Dia melihat Chanyeol dan bertanya. "Sedang apa disini, Chanyeol?"
"Ah, pintar sekali kau bertanya. Aku sedang mencari katak. Nah, kebetulan kau lewat dan telah bertanya, kau bantu aku, oke? Semuanya ada dua puluh, kau hanya tinggal mencari sisanya. Oh ya, taruh diplastik itu, kau lihat? Nah, bekerjalah." Chanyeol menepuk bahu anak itu yang punya banyak tanda tanya diwajahnya.
"Er, Chanyeol!"
Chanyeol berbalik kembali kepadanya. "Ada apa? Masih kurang jelas?"
"Eum, anu...maaf, aku tidak bisa. Aku masih punya kelas."
Chanyeol menatapnya bagai menatap pencuri. "Apa maksudmu tidak bisa?"
"Ah...eh...anu Chanyeol...aku...tidak bisa...meninggalkan pelajaranku."
"Kau masih bisa mengikuti pelajaranmu setelah dua puluh katak sudah ada." Ujar Chanyeol tidak terima alasan. Anak itu ingin mengatakan sesuatu lagi tapi segera Chanyeol interupsi. "Ah sudahlah! Kerjakan saja, huh? Pelajaranmu semakin tertinggal jika kau tetap berdiam diri saja disini."
Chanyeol sudah tidak mau mendengar penolakan anak itu lagi jadi dia segera menjauh. Membawa dirinya duduk dibawah pohon, ia melihat teman sekelompok praktikum biologinya sedang menepuk-nepuk tanah yang agak menggembul keatas. Ketika Chanyeol sudah tidak melihatnya lagi, anak itu tiba-tiba berteriak.
"HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Kaki panjang Chanyeol ia bawa dengan tergopoh-gopoh menghampiri pelaku teriakan maha dahsyat itu. Sementara matanya menangkap Baekhyun yang sudah jatuh terduduk diatas tanah, dengan mata fokus pada satu titik didepannya.
Tidak jauh dari gundukan yang Baekhyun buat, seekor lipan besar bergerak-gerak lincah mencari tempat persembunyian untuk tubuh yang hanya terdiri dari kepala, badan, dan kaki-kaki kecilnya untuk berlindung. Sementara lipan itu mencoba titik-titik tanah yang dapat ia masuki kembali, Chanyeol telah mendapatkan sebatang ranting kayu ditangannya dan menggeser lipan itu jauh-jauh dengan gaya seperti tengah memukul bola golf lapangan hijau. Well, lipan telah tiada didepan mata dan Chanyeol melihat Baekhyun sudah kembali tenang memposisikan diri duduk dengan benar diatas tanah.
Kemudian matanya tidak sengaja menangkap proyek yang sedang dikerjakan Baekhyun sebelum dia teriak. Ada sebuah titik tebal yang diberi nama 'Seoul' diatasnya, disambung dengan dua garis yang berkelok-kelok, Chanyeol anggap itu sebagai jalur, jalur itu sendiri ternyata berujung disudut gundukan tempat keluarnya lipan tadi, Chanyeol anggap itu sebagai gunung, dan diatas gunung diberi nama 'Gyeonggi-do' berskala besar. Dikepalanya, Chanyeol berpikir itu mungkin saja sebuah peta.
Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya menilai gambar tersebut, seakan memahami betul seni yang baru dikerjakan Baekhyun.
Seruan seseorang mengakhiri kebisuan itu. Anak yang dititah Chanyeol untuk mencari sisa katak memberitahu bahwa ia telah selesai dan semuanya ada dikantung plastik dekat semak yang ditata cantik oleh tukang kebun sekolah sementara anak itu sudah lari dengan tergesa kembali ke kelasnya.
. . .
Mereka telah bergabung bersama sembilan belas kelompok lainnya dan Kim Heechul diruang lab biologi. Masing-masing ada seekor katak yang terselotip kakinya ditengah-tengah mereka dengan perut berada diatas. Kim Heechul memerintahkan semua kelompok untuk mulai membedah perut katak masing-masing.
Luhan tidak pernah melakukan ini sebelumnya di sekolah Chinanya dulu namun dia tidak membiarkan ketika Jongin menawarkan diri melakukan bedah tersebut.
"Jongin, kau kira aku takut melakukan ini? Asal kau tahu ya, setelah lulus dari sini aku akan masuk ke universitas kedokteran bagian pembedahan. Bukannya mau pamer tapi kau tahu, aku tidak suka saat ada yang meremehkanku."
Jongin berdeham. "Luhan, kau tahu, aku hanya bilang hati-hati melakukannya, jangan sampai miring atau menekan pisaunya terlalu dalam, bagian mana dalam konteks perkataanku kau bilang meremehkanmu?"
Sesaat Luhan hanya menatap Jongin lama tanpa berkedip, dan ketika bibir bawahnya dia gigit dan matanya kembali menatap katak yang tergeletak pasrah dihadapannya, bayangan akan keadaan Luhan saat ini dikepala Jongin terbukti benar.
"Aku tidak takut, Jongin, sungguh aku akan melakukannya tanpa kesalahan. Aku tidak gugup...aku...tidak panik."
Luhan menggeleng dengan rasa cemas memuncak kentara dari raut wajahnya. Bibir bawah dia ganti dengan kuku jari telunjuknya untuk dia gigiti. Pisau yang sudah dia pegang dengan erat sehingga meninggalkan jejak kemerahan pada telapak tangannya telah dia jatuhkan kembali disisi katak, membuat sang katak menjerit ketika pisau dengan tidak sengaja menggores pinggangnya.
Hal itu jelas membuat keadaan Luhan bertambah buruk. Sehingga timbullah inisiatif bagi Jongin untuk mengambil alih praktek biologi pertama mereka ini.
Luhan tidak melihat bagaimana Jongin akhirnya membelah katak yang sebelumnya dia lukai tanpa sengaja dibagian pinggang, matanya ia paksa memandang satu-persatu kelompok lain yang melakukan kesibukan yang sama seperti Jongin. Untungnya sebagian besar kelompok lain telah selesai membedah dan hanya tinggal meneliti apa-apa saja yang dimiliki katak didalam perutnya.
Luhan berhenti mengedarkan pandangan dan hanya mempertahankan fokusnya pada satu kelompok yang anggotanya terdapat sahabat serta teman impiannya diujung lab paling belakang. Tidak seperti dirinya yang tiba-tiba menjadi panik ketika pisau telah dalam genggamannya, Chanyeol dengan wajah yang biasa dan sikap tenang yang jarang dia tunjukkan membedah katak dengan hati-hati. Matanya yang sedang fokus pada satu titik terlihat amat sangat keren. Kalau melihat sosok Chanyeol yang ini, Luhan tidak ragu lagi menyamakannya dengan Kris temannya yang populer di China itu.
Tapi serius. Chanyeol tidak pernah begini sebelumnya. Walaupun Luhan adalah orang baru di Jungwon, dan ini adalah praktek pertama mereka, Luhan rasa dia telah mengenal Chanyeol seperti seratus tahun lamanya sehingga menjadi tenang dan serius dalam waktu bersamaan sama sekali bukan gaya seorang Park Chanyeol. Dia hanya tidak percaya pada sosok yang selalu menjahili semua murid tanpa tersisa satupun dan membuat keributan dikelas itu.
Tapi Luhan segera menyadari bahwa Baekhyun adalah satu-satunya murid yang luput dari kejahilan Chanyeol.
Kembali pada pelajaran Yesung-nim lima hari yang lalu. Oke, semua murid dalam kelas termasuk Baekhyun memang mau tidak mau ikut menanggung kegaduhan yang dibuat Chanyeol, tapi ingatkah, kalau si pembuat kegaduhan itu sendiri malah membantu menjauhkan katak-katak yang mendekati Baekhyun, padahal saat melihat Luhan naik ke atas meja demi menghindari katak Chanyeol hanya terbahak ditempatnya tanpa peduli bahwa itu sahabatnya yang dia tertawai.
Chanyeol tidak pandang sahabat atau teman sekelas bahkan orang lain untuk dia ganggu, tapi Byun Baekhyun...
Bukan. Luhan bukannya iri dengan perlakuan beda Chanyeol terhadap Baekhyun. Sebagai sahabat, apalagi dia tahu kalau yang Chanyeol ganggu hanyalah orang yang menarik, dia cukup bersyukur dengan itu, fakta bahwa dirinya menarik. Hanya saja sama seperti sahabat lama Chanyeol, Lay..., Luhan penasaran bagaimana sebenarnya jalan pikiran makhluk badung dengan banyak rahasia hidup dipunggungnya. Apa sebenarnya yang beda pada diri Baekhyun..., apa yang sebenarnya dia lihat pada Baekhyun..., sehingga hanya Baekhyun yang mendapat perlakuan beda dari Park Chanyeol.
Mungkin satu-satunya yang dapat menjawab semua pertanyaan itu hanyalah dengan melihat kembali bagaimana bedanya Baekhyun dengan murid lain. Bagaimana dia sangat pendiam dan jauh dari kebisingan kelas, bukan berarti dia pergi ke perpustakaan untuk mendapatkan suasana tenang, dia tetap dikelas meski sebising apapun kelas saat itu. Dia hanya bersikap tenang untuk dirinya sendiri dan membaca buku pelajaran jam berikutnya.
Mungkin karena itu juga Luhan sangat ingin berteman dengannya dan menetapkan bahwa Baekhyun adalah teman impiannya. Meski sekelas, Luhan tidak berani mencoba dekat dengannya karena dilihat dari segi manapun, Baekhyun seolah mengeluarkan tameng disekeliling tubuhnya dengan peringatan untuk tidak mencoba mengganggunya. Atau..., mungkin itulah yang juga dilihat Chanyeol dalam diri Baekhyun hingga tidak mengganggunya seperti yang lain.
Saat ini, seperti itulah jawaban yang berhasil Luhan ungkap untuk semua rasa penasarannya pada dua murid terkenal Jungwon.
Lamunannya berhenti sampai disitu ketika Kim Heechul memerintahkan semua kelompok untuk menjahit kembali perut katak yang telah dibelah, diikuti dengan munculnya tangan Jongin beserta alat jarum dan benang kulit terulur didepan dadanya.
Luhan meringis saat tahu Jongin menawarkan dirinya untuk menjahit si katak. "Tidak, jangan aku, tolong."
"Aku sudah melakukan bedah dan menuliskan organ-organnya, apa aku harus melakukan semuanya sendiri hingga akhir?"
"Aku akan mentraktirmu lain waktu, janji."
Berpikir beberapa detik sebelum menyetujui apa yang Luhan janjikan. "Baiklah..."
Ini adalah hari-hari biasanya dikelas 12-3 SMA Jungwon. Keadaan yang kacau dan ribut tak terkendali. Masih ada sekitar dua puluh menit sebelum kelas pertama dimulai oleh Kim Ryeowook.
Chanyeol sudah membuat keributan dari lima belas menit yang lalu dengan menunjuk anak lelaki lain untuk maju ke depan menunjukkan bakat menarinya. Menari sendiri bukan berarti secara harfiah, atau istilah maupun bahasa. Ini ambigu. Dibilang menari memang iya menari, tapi dibilang bukan menari juga bukan. Kenyataannya satu-satu dari mereka menari, menggoyangkan badan dan bokong dengan konyol tanpa malu, padahal semua anak perempuan melihatnya, bahkan teman sekelasnya tiba-tiba menjadi berlebih, sebab-akibatnya datang dari kelompok pria penari konyol yang mengundang perhatian banyak murid dari kelas lain untuk ikut menonton. Kelas dengan luas seadanya itu menjadi lebih sesak saat kelompok yang diketuai Chanyeol itu menampilkan sesuatu yang lebih konyol lagi dari menari dengan bokong yang menonjol, yaitu drama super lebay yang menceritakan kisah percintaan Chanyeol (tokoh utama) yang ditentang oleh keluarga orang yang dicintainya, Lim Sangwoon—teman sejawat Chanyeol yang sama-sama selalu bertingkah konyol dikelas. Berkat drama tersebut, kelas 12-3 berhasil menjadi bintang panggung pagi itu.
Meninggalkan Chanyeol dan dramanya, Luhan melihat Oh Sehun seperti biasa. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, si playboy itu akan membawa salah satu pacarnya ke dalam kelas dan mengobrol asik sambil tertawa-tawa. Luhan tidak yakin akan kebiasaan playboy ini dengan pacar-pacarnya, tapi melihat teraturnya pacar yang dia bawa masuk ke dalam kelas tiap pagi tanpa ada salah satu dari mereka yang datang dan merusak kebersamaan keduanya, mereka mungkin telah mengatur jadwal waktu kencannya bersama si playboy. Seperti hari senin si playboy akan bersama siapa, hari selasa bersama siapa, dan rabu bersama siapa..., kalian tahulah macam seperti itu, seperti jadwal pelajaran dari senin sampai sabtu yang Luhan tempel didinding kamarnya.
Kim Jongdae atau Chen. Dia bodoh seperti biasanya. Bukan bodoh akan otak, bukan..., tapi kelakuan dan ucapannyalah yang terkesan seperti itu. Dari awal kontes pria menari yang diadakan Chanyeol hingga drama konyol yang tokoh utamanya adalah Park Chanyeol sendiri, Chen tidak pernah berhenti menyahuti hal-hal yang tidak kalah konyol dalam pertunjukan pagi itu, atau sekedar tertawa paling keras diantara yang lain, dan jangan lupa reaksi berlebihannya. Terkadang si freak ini akan berguling-guling diatas meja sambil terbahak keras-keras, atau yang paling aneh dia bisa jatuh terbaring dilantai kelas seperti kecoak terbalik, kedua tangan dan kakinya bergerak seperti orang tenggelam.
Dari semua kegaduhan yang termasuk bagian dari kebiasaan 12-3 itu, hanya satu yang jadi favorit Luhan. Itu adalah Byun Baekhyun. Kebiasaan dan semua yang ada pada dirinya adalah favorit Luhan. Dalam suasana seolah sedang ada konser SMTown dalam kelasnya, Baekhyun tetap belajar dengan tenang. Dia mungkin akan sedikit mengernyit ditengah-tengah seriusnya dia membaca, namun bukan karena terganggu oleh suara berisik teriakan anak-anak penonton, Luhan yakin itu karena ada bagian dari buku itu yang dia tidak mengerti, dan akan segera dia pahami seiring hilangnya kerutan itu didahinya. Luhan masih merasakan gejolak betapa ia ingin sekali bergabung bersama si nomor satu Jungwon itu. Biarpun Luhan hanya akan mendapati Baekhyun belajar bila dia mencoba mengobrol dengannya, itupun tak apa. Luhan bisa mengambil bukunya juga lalu duduk bersama Baekhyun. Luhan membayangkan dirinya dan Baekhyun duduk semeja bersama dan kalau bisa pulang dan pergi sekolah bersama juga. Kemudian Luhan akan mendapati dirinya cocok berada disamping Baekhyun. Hahaha. Luhan pasti sudah gila.
Sebuah bola kertas menyadarkan Luhan kembali pada kenyataan, bahwa dia tidak berteman dengan Baekhyun melainkan Park Chanyeol yang berisik dan konyol seperti yang dilakukannya saat ini didepan kelas. Dia menoleh dan mendapati Jongin memberi kode agar ia datang kepadanya. Luhan menurut, ia membawa bokongnya mendarat pada kursi disebelah Jongin.
"Kau cekikikan, aku lihat itu." Jongin menyahut.
Luhan mengeluarkan sesuatu seperti desahan, bahunya jatuh merosot. "Aku ingin sekali bicara dengan Baekhyun..."
"Kalau begitu datang dan bicara padanya."
"Kau sendiri yang bilang itu tidak mudah."
"Kalau kau yang datang padanya, mungkin akan jadi mudah."
"—Hah? Apa? Kenapa?"
"Karena kau anak baru."
"..."
"..."
"...?"
"—Apa?"
"Lanjutkan, Jongiiinnnn."
"Ya kau mulailah mengobrol dengannya kalau ada kesempatan. Jangan jadi anak sok akrab didepannya, lakukan secara alami seperti berpura-puralah lupa membawa pulpen, lalu meminjam satu padanya, atau kau pura-pura bertanya soal matematika, nah kan setelah ini ada pelajaran Ryeowook-nim, kau bisa coba cara ini."
"Begitukah?"
Luhan memperhatikan punggung Baekhyun sekali lagi, seolah dengan itu bisa membuat Baekhyun jadi akrab dengannya saat itu juga. Tapi Luhan berpikir lain. Ia bisa mencoba saran Jongin suatu saat. Bukan dijam pelajaran matematika, tapi suatu saat dikemudian hari.
Ya, pasti dikemudian hari...
a/n: gila. gak tau mesti ngomong apa -_-. tapi ini, aku bawa chapter barulah... semoga suka. RnR ya ^^ love~
