Tittle : Love me, Love me, Love me!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasukexInoxShikamaru
Warning : AU, OOC, crack pair, gaje, abal, miss type, dll
Thank's for Orihara Akira, , upa-chan, Yamanaka Chika, elfazen, vaneela, dan yang udah baca fict ini juga sahabatku tercinta , terimakasih untuk setiap masukannya yang sangat membantu , dan maaf jika banyak sekali kesalahan. Oke cekidot
Love me, Love me, Love me!
#chapter 2
Sasuke mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan keadaan jalan yang licin karena hujan yang sedari tadi mengguyur. Yang terpenting saat ini adalah menemukan Ino. Tadi Shikamaru meneleponnya. Menyuruhnya mencari Ino, tanpa memberitahu alasannya. Tapi tanpa perlu ditebak, Sasuke tahu bahwa ada yang tidak beres dengan sahabatnya.
Ia sudah tiga kali mengelilingi kota dari siang tadi, tapi belum juga menemukan Ino. Pikirannya membawanya kesebuah tempat yang tidak asing baginya. Rumah ino, siang tadi sebelum mencarinya ke kota, sasuke terlebih dahulu mencari Ino kerumahnya, namun ia belum pulang. Tapi mungkin, malam ini ia sudah pulang.
Sesampainya di rumah Ino, ia langsung memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam rumah. Pintunya tidak di kunci, berati Ino sudah pulang. Ia mencari-cari Ino di dalam rumah, dan mendapati
Ino yang tergeletak di lantai ruang tamu.
Refleks, ia langsung merengkuh Ino kedalam pelukannnya, dan membawanya ke kamar. Suhu tubuh Ino sangat tinggi, ia demam. Sasuke beranjak dari kamar Ino, hendak mengambil handuk untuk mengompres ino.
"Shika.."
Ia terdiam di tempatnya berdiri, dan langsung berbalik. Namun, gadis itu masih tertidur disana. Hatinya perih, karena justru nama itu yang terucap dari bibir Ino, bukan namanya.
Pagi itu Ino terbangun dengan perasaan kacau balau, kepalanya terasa sangat berat, sekujur tubuhnya terasa ngilu. Ia memaksakan diri untuk berdiri, namun kepalanya malah terasa seperti akan pecah. Sebuah tangan kokoh mencengkram bahunya, ia menoleh dan menemukan Sasuke disana.
"Sebaiknya kau tidur saja, jangan memaksakan diri Ino." Ujar Sasuke, melihat itu entah kenapa ia kembali teringat pada kejadian kemarin, dimana ia menemukan penghianatan Shikamaru tepat dihari hubungan mereka menginjak dua tahun. Matanya kembali berat, seakan banyak sekali air mata yang akan keluar dari sana. Dan benar saja, ia kembai menangis, melihat itu Sasuke tidak tinggal diam, ia menarik Ino ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya disana.
Cukup lama Ino hanya menangis, tapi rasanya ia tidak cukup puas, sebagian dari dirinya seolah menyerah dan mengatakan bebannya terlalu berat untuk ditanggung sendirian, tapi sebagian yang lain merasa takut untuk menceritakan hal itu kepada Sasuke, ia takut apa yang dilihatnya kemarin akan terulang lagi dalam ingatannya, membuat hatinya sakit lagi, dan membuat semakin banyak air mata terjatuh. Tapi, setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia menyerah, mungkin dengan menceritakannya pada Sasuke bebannya akan berkurang.
"Sasuke, Shika…dia…"ucapannya tergantung, kata-kata yang akan diucapkannya terasa terlau berat dan sulit, seolah kata-kata itu akan melukainya jika diucapkan, tapi ia kembali menguatkan hatinya.
"Dia…selingkuh, dengan Temari, aku meihat Temari terbangun ditempat tidurnya tanpa menggunakan apapun. Jadi mereka…pasti telah melakukan hal itu.." ucapannya kian melirih, dengan turunnya kembali air mata yang sempat terhenti, Sasuke hanya diam memeluk Ino, mengusap-usap punggung gadis cantik itu, namun rahangnya jelas-jelas terkatup, ia menggertakan giginya, mencoba menahan amarahnya dihadapan Ino.
^^9
Ting tong
Suara bel memecahkan keheningan didalam apartemen tersebut, Shikamaru beranjak dari duduknya dan menghampiri pintu. Ia langsung membuka pintu apartemennya, tanpa melihat dahulu siapa yang bertamu.
DUAAK
Sebuah pukulan mengenai wajahnya karena ia memang sedang tidak siap, begitu melihat siapa yang memukulnya, keinginan untuk membalas pukulan tersebut menghilang, digantikan rasa bersalah. Ia tahu ini akan terjadi, bagaimanapun Ino pasti akan bercerita pada Sasuke.
DJIGG
Satu pukulan lagi mengenai wajahnya, ia hanya terdiam, tidak berniat untuk membalas serangan Sasuke.
"Hei, kau laki-laki berengsek! Beraninya kau menyakiti Ino! Dasar bodoh, mati saja kau!" ujar Sasuke sambil melayangkan pukulan ke perut Shikamaru. Shikamaru meringgis kesakitan, baginya mungkin sudah cukup memberikan Sasuke kesempatan untuk memukulinya, karena jika ia tidak menghentikan Sasuke, bisa-bisa ia mati konyol.
Sasuke hendak melancarkan satu pukulan lagi jika tangannya tidak di tahan Shikamaru.
"Aku minta maaf, aku tahu aku salah, jadi aku minta maaf, aku khilaf, aku telah melukainya, tapi aku tidak bisa meninggalkan Temari, bagaimanapun aku harus bertanggung jawab kepadanya." Ujarnya dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Hah, sebenarnya sehebat apa wanita itu sehingga kau bisa-bisanya menghianati Ino yang sangat mencintaimu, apakah ia pelacur? Sehingga dengan mudah menerima tawaran tidur dengan kekasih orang lain? Kau bayar dia berapa semalam heh?" ucap Sasuke dengan nada merendahkan.
Habislah sudah kesabaran Shikamru, ia melayangkan satu pukulan yang tepat mengenai pipi Sasuke. Sasuke yang tidak siap menerima serangan itupun jatuh terjerembap ke lantai.
" Jangan pernah menghinanya! Kau tidak tahu apa-apa!" bentak Shikamaru
"Dasar brengsek!" ucap Sasuke sambil menyeka ujung bibirnya yang berdarah. Ia kembali melayangkan pukuan kearah Shikamaru, yang kemudian dibalas lagi oleh Shikamaru. Shikamaru sudah tidak bertenaga, sukujur tubuhnya babak belur, Sasuke hendak memukulnya lagi.
"Lagi pula, seharusnya kau senang bukan? Dengan begitu kau bisa mendekatinya lagi. Bukankah kau mencintai Ino, Uchiha?" ucapan Shikamaru membuatnya menghentikan gerakannya. Onyxnya membulat, ia tidak tahu jika selama ini Shikamaru dapat mebacanya.
"Kau pikir aku tidak tahu, kau yang diam-diam memotretnya, kau yang diam-diam memberikannya bunga dihari ulangtahunnya, kau yang memperhatikannya, kau yang bahkan selalu mengorbankan dirimu untuknya? Kau pikir aku buta untuk tidak melihat semua itu?" ucap Shikamaru.
"seharusnya sekarang kau senangkan, bukan begitu Uchiha-sama." Lanjut Shikamaru.
DJIGG
Satu pukulan lagi diberikan Sasuke kepada Shikamaru.
"Aku memang mencintai Ino, tapi aku tidak mau melihatnya terluka, kau memang benar-benar brengsek!" ucap Sasuke sambil meninggalkan Shikamaru.
Ditempatnya, Shikamaru meringgis, menahan sakit disekujur tubuhnya, ia memejamkan matanya. Namun, sebuah gambaran wajah seorang gadis berambut pirang panjang yang sedang tersenyum mengusiknya. "Maafkan aku Ino.." ujarnya. Tanpa ia sadari, air matanya keuar bercampur dengan darah yang keluar dari lukanya.
Sasuke langsung pulang ke rumahnya, ia tidak mau Ino melihat luka-luka di wajahnya. Setelah sampai dirumahnya, ia langsung disambut oleh ibunya-Mikoto Uchiha, yang keheranan meihat wajah anaknya babak belur.
Sasuke langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang keluarga, ibunya langsung memanggil maid di rumahnya untuk segera membawakan kotak P3K, setelah para maid membawakannya, segera ia mengobati Sasuke.
"Kau kenapa berkelahi lagi?" Tanya ibunya lembut
"Hn." Jawab Sasuke datar
"Itu bukan sebuah jawaban." Ucap ibunya
"Aku habis menghajar seorang bajingan yang telah menyakiti Ino." Ucapnya kemudian
Mikoto hanya terdiam sambil terus membersihkan luka Sasuke, namun diam-diam ibunya menatap Sasuke penuh arti. Sasuke memang tertutup, ia bahkan jarang mengatakan isi hatinya bila tidak ditanya, namun bahkan Sasuke tidak bercerita pun ibunya sudah mengetahui bahwa anaknya sangat mencintai gadis Yamanaka tersebut. Itu terlihat dari banyaknya foto Ino yang tak sengaja ia temukan didalam lemari pakaian Sasuke, juga caranya memandang gadis Yamanaka tersebut.
Mikoto hanya menghela nafas tak tahu harus bagaimana.
"Lain kali, jangan selesaikan masalah dengan perkelahian." Ucapnya
"Hn" hanya itu balasan Sasuke
Setelah ibunya selesai mengobatinya, ia beranjak keluar rumah.
"Kau mau kemana lagi?" Tanya ibunya yang ternyata menysulnya keluar rumah
"Ke rumah Ino, aku pergi dulu, terimakasih." Ucapnya
"Hati-hati dijalan"
"Hn"
Ino memasukan dirinya kedalam bathub, ia masih mengenakan pakaiannya. Dinginnya air musim dingin langsung menusuki kulit hingga tulangnya, ia menggertakan gigi, menahan dingin. Ia membaringkan tubuhnya di dalam bathub, tubuhnya yang mulai menggigil tidak dipedulikannya.
Ia menatp langit-langit kamar mandinya, mencoba menghilangkan sakit hati dengan menyakiti tubuhnya sendiri. Namun percayalah, sedingin apapun air ini, sesakit apapun tubuhnya, hatinya tetap terasa sangat sakit, ia pikir hari kemarin akan menjadi hari yang sangat membahagiakan, dimana dirinya dan Shikamaru akan menghabiskan hari mereka berdua saja.
Shikamaru, ah kenapa pemuda itu begitu tega menghianatinya, padahal ia sudah terlanjur sangat mencintainya. Hatinya kembali sakit bila mengingat pemuda itu, karena itu akan mengingatkannya lagi kepada penghianatan yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Tak kuat menahan sakit, Ino memasukan kepalanya kedalam bathub, sebenarnya tujuannya berendam hanya untuk menghilangkan penatnya, namun tiba-tiba suatu pemikiran mengganggunya ketika dia berada di dalam air. Pemikiran tentang mengakhiri hidupnya. Tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari luar kamar mandi. Suara itu, sahabatnya. Akankah ia rela meihat sahabatnya bersedih karena kematiannya. Tidak! Suara hatinya berkata demikian, ia tidak ingin melihat Sasuke menangis, ia tidak ingin melihat Sasuke merasa menyesal karenanya, dan ia ingin membuktikan bahwa ia bisa bahagia tanpa Shikamaru.
Ia mulai kehabisan nafas, ini tidak boleh terjadi, ia tak boleh mati. Sayangnya, dinginnya air membuat tangannya mati rasa dan sulit digerakan. Ia berulang kali mencoba meraih tepian bathub, tapi tangannya terasa sangat kaku. Rasanya sulit sekali, paru-parunya mulai terasa sangat sesak, sungguh ia benar-benar membutuhkan udara. Rasanya ia sudah ingin menyerah, ia menutup kedua matanya, mencoba menghadapi kematiannya dengan tenang.
BRAAK
Pintu kamar mandi di dobrak oleh Sasuke, onyxnya membulat ketika melihat pemandangan di hadapannya, tanpa banyak berpikir, ia mengangkat tubuh Ino dari dalam bathub. Ino langsung menghirup udara sebanyak mungkin kedalam paru-parunya, ia bernafas dengan rakus. Namun paru-parunya masih terasa sedikit sakit. Sasuke mendudukannya di lantai kamar mandi, ia langsung membungkus tubuh Ino dengan handuk yang tergantung di dalam kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sedepresi itu sampai ingin mengakhiri hidupmu sendiri hah?" ucap Sasuke, nada suaranya naik beberapa oktaf, bahkan sedikit membentak. Ino hanya memalingkan wajahnya, tubuhnya masih bergetar hebat, giginya saling bergemeletuk.
"Aku tidak berniat mengakhiri hidupku." Ucapnya lirih
"Lalu mengapa kau menenggelamkan dirimu sendiri hah?" bentak Sasuke untuk kedua kalinya.
"Aku hanya berendam! Lalu kemudian.. kemudian pemikiran itu tiba-tiba muncul, namun ku batalkan ketika kau datang! Aku sungguh tidak depresi atau gila atau apapun itu! Aku hanya.. aku…" Ino tidak menyelesaikan ucapannya, air mata kembali mengalir dari kedua matanya, bahunya terguncang hebat. Ia kembali menangis.
Melihat itu, Sasuke merasakan sakit didadanya, ia sungguh tidak bermaksud untuk membentak bahkan menghina Ino, namun meihat Ino menenggelamkan dirinya seperti itu, mencoba mengakhiri hidupnya, membuatnya marah, marah kepada Ino yang terlihat mudah menyerah, marah kepada Shikamaru yang telah menyakiti hati gadis itu, marah kepada dirinya sendiri yang bahkan tidak bisa menjaga Ino.
Akhirnya, ia merengkuh tubuh Ino kedalam pelukannya, mencoba menghangatkan tubuh Ino yang terasa sangat dingin. Ino masih menangis dalam pelukannya, tangannya mencengkram baju Sasuke, seolah berusaha mengumpulkan kekuatannya.
"Maaf" ucap Sasuke sambil mengeratkan pelukannya, tidak mempedulikan bajunya yang menjadi basah. Ia mengusap rambut Ino, membiarkan gadis itu menumpahkan semua rasa sakitnya.
Dua gelas coklat panas menemani mereka sore itu, Ino dan Sasuke duduk di hadapan televisi di apartemen milik Ino. Mereka sedang menonton sebuah film komedi saat itu, namun tidak ada tawa yang keluar dari keduanya. Ino hanya terdiam memandangi mugnya, sedangkan Sasuke, pandangannya terarah pada film yang diputar saat itu.
Tiba-tiba Ino menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke. Sasuke terdiam, ia sedikit terkejut dengan perilaku Ino, namun tak lama senyuman kecil menghiasi bibirnya. Ia menolehkan kepalanya ke Ino, Ino terlihat sedang memandang televisi. Tangannya masih memegang segelas coklat panas. Sasuke mengambil gelas tersebut dari tangan Ino dan meletakannya di meja. Ia mengubah posisi duduknya, tangan kanannya merengkuh tubuh Ino yang tadi bersandar dibahunya, kini Ino bersandar pada dada bidang Sasuke, terdengar detak jatung yang teratur disana.
Ino kemudian meingkarkan tangannya di perut Sasuke, ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke.
"Arigatou Sasuke-kun" ucapnya sambil memejamkan matanya.
Sasuke membiarkan hal itu, tangannya mengusap puncak kepala Ino, merasakan setiap helaian pirang lembut yang menyusupi jarinya. Nafas Ino menggeitiknya. Ia mengalihkan pandangannya ke wajah Ino. Rupanya gadis itu tertidur.
Sasuke mendekatkan bibirnya ke wajah Ino, ia mencium kening gadis tersebut, lalu mencium lagi puncak kepala Ino.
"Oyasumi Ino." Ucapnya sebelum memejamkan matanya.
^^9
Shikamaru berjalan ke sebuah café didepan kantornya, ia memang sudah berkerja dan memegang jabatan penting diusianya yang masih muda, ini semua karena otak cerdasnya juga perusahaan ayahnya yang memang di wariskan untuknya. Seharusnya, orang-orang seusianya sekarang sedang serius-seriusnya kuliah, namun bagi seorang jenius sepertinya, kuliah dapat diselesai kan dengan mudah dan cepat. Ini sebabnya, ia dan Ino sangat terlihat berbeda, padahal sebenarnya usia mereka hanya berbeda setahun, Ino kini masih kuliah, sedangkan dirinya sudah bekerja.
Ino, hatinya sakit jika mengingat perempuan itu, kekasihnya yang telah ia lukai, hanya saja, kedatangan Temari, cinta pertamanya, membuatnya goyah, bagaimana pun cinta pertama itu tak akan mudah dilupakan, begitu kata orang, dan dilihat dari kisah hidupnya, sepertinya hal itu memang benar adanya.
Namun hari ini ia telah membuat keputusan, keputusan yang sulit sekali diambilnya, keputusan yang telah ia pikirkan berulang kali. Keputusan yang membuatnya sulit tidur. Keputusan untuk kembali kepada Ino. Ini hal yang sangat sulit diputuskan, karena bagaimana pun ia telah melakukannya dengan Temari, namun perasaanya tak dapat di bohongi. Ia mencintai Ino, bahkan perasaan cintanya kepada Ino lebih besar dari perasaan cintanya kepada Temari. Ia harap Temari mau mengerti, ia harap Ino mau memaafkannya.
Tak terasa ia telah sampai di pintu masuk café tersebut. Ia memasuki café tersebut dan langsung menemukan Temari yang melambai ke arahnya. Ia segera menghampiri Temari dan duduk dihadapannya. Keheningan menyapanya ketika ia duduk, ini tidak biasa, karena Temari bukanlah wanita pendiam.
"Shika…" ucap Temari, ia terihat sedikit gugup
"Ada apa?" tanyanya
"Aku… aku… aku hamil."
Tbc
Haaahh… segini dulu chapter 2 nya, maaf updatenya lama, masih pendek dan banyak kesalahan, ini fict pertama saya.
Balesan review
elfazen : Sasukenya belum punya pacar, hehe. Dia udah terlanjur suka sama Ino.
Yamanaka Chika : makasih sarannya
Untuk yang sudah meriview makasih banyak review lagi yaa.
