Naruto _ Masashi-Senpai 'Kawaii'
' I Want You '
By
Naru-Koi!
^^,
Rated : M. (Ya, ada kalanya gak ada *Plakkk. Mungkin sedikit kata-kata kasar.)
Pairing : NaruSaku,
Genre : Romance,Supranatural
Warning : AU | OOC | AR | Miss Typo | dll
Chapter 2
Don't like, please don't read!
#
.
.
.
.
.
.
Suara kicauan burung yang merdu, serta cahaya matahari yang memasuki setiap celah kecil dijendela membuat seseorang yang berada didalam selimut itu menggeliat kecil. Tubuh mungilnya yang terbalut selimut putih dengan bercak-bercak merah tersebut mendesah sekilas saat sebuah sinar matahari mengenai matanya yang tertutup. Mengubah posisinya menjadi membelakangi cahaya matahari dan kembali melanjutkan tidurnya.
Disisi lain, Seorang pemuda tengah membuka pintu kamar mandinya. Mengusap-usap rambut pirangnya yang basah dengan handuk yang ada ditangannya. Dengan hanya memakai Celana panjang dan dada yang di ekpos membuat pemuda tersebut terlihat tampan. Bahkan menarik.
Mata Saphire tersebut menoleh kesebuah ranjang yang cukup besar yang disinggahi seorang gadis dengan surai rambut merah mudanya. Tertidur dengan pulasnya dan hanya menggunakan selimut sebagai penutup tubuhnya.
Kamar yang bernuansa Orange cerah itu sedikit berantakan akibat beberapa baju yang berserakan, tas dan sepatu yang berada disembarang lantai. Dan juga, ada bercak-bercak darah yang mengotori ranjang yang semulanya berwarna putih bersih.
#Tok..Tok..Tok..
Ketukan pintu tersebut membuat Naruto. Pemilik kamar tersebut menoleh ke arah pintu kamarnya. Mendecah kesal karna telah menganggu kegiatannya memandangi sang kekasih yang tengah tertidur dengan pulasnya.
"Hn." Guman Naruto saat dia sudah membuka pintunya, namun hanya sedikit. Karna dia tak mau ada seorang pun yang masuk kekamarnya. Apalagi melihat tubuh gadisnya yang yang tak memakai sehelai kain pun.
"I-ini baju yang Naruto-sama minta. Dan kami juga sudah menyiapkan makan pagi untuk nona Sakura." Ucap pelayang tersebut seraya menyodorkan sebuah seragam sekolah kepada Naruto.
"Hn. Terimakasih." Ucap Naruto dan mengambil baju tersebut dan langsung menutup pintu kamarnya.
Sebagai seorang Vampire, Naruto tahu betul dengan apa yang saat ini dia lakukan. Menjalin hubungan dengan seorang manusia yang tak sepantasnya dia jadikan sebagai kekasih. Mungkin dia akan mendapat amukan dari orang tuanya. Namun siapa sangka? Naruto adalah anak yang sangat disayang oleh orang tuanya. Bahkan jika Naruto ingin melakukan atau meminta apapun akan dituruti oleh mereka. Karna Naruto itu spesial.
"Sudah bangun?" Guman Naruto saat melihat manis Emelard Sakura menampakkan keindahannya. Mengerlingkan matanya untuk membiasaakn retina matanya menangkap cahaya pagi.
"Na-Naruto!" Sontak Naruto terkaget dengan apa yang dilakukan Sakura.
Sakura tiba-tiba saja mundur seribu langkah dari tidurnya dengan kedua tangan yang menggegam erat selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke bagian dada. Ditatapnya mata Saphire Naruto lekat-lekat membuat Vampire muda itu menaikkan satu alisnya.
"Hn. Lupa dengan semalam manis? Atau kau ingin aku melakukannya lagi untuk mengingatkanmu?" Goda Naruto sambil memajukan tubuhnya ke arah Sakura.
Reflek. Sakura langsung mendorong Naruto agar tak mendekatinya lagi. Membuat jarak diantara mereka. Sakura tidak mau jika dia harus menjadi korban keganasan Naruto lagi. Sudah cukup malam tadi dia dianiaya oleh Naruto. Tak memperdulikan sakit yang dirasa Sakura. Bahkan Naruto juga tak perduli dengan semua bekas Kissmark yang dia berikan diseluruh tubuh Sakura. Bagaimana jika orang-orang tahu. Sakura pasti akan sangat malu sekali.
"Mandi dan bersihkan dirimu. Akan ku tunggu kau diruang makan." Naruto tersenyum tipis. Melihat tingkah Sakura yang seperti orang yang baru saja diperkosa seorang laki-laki. Padahal semalam mereka baru saja melakukan 'itu' dengan sadar. Apa dia lupa jika sekarang dia telah menjadi milik seorang Namikaze?
Naruto mengecup singkat Pucuk kepala Sakura. Menaruh baju yang sudah disiapkan pelayan tadi disamping Sakura. Beranjak dari tempat tidur dan menghilang dibalik pintu kamarnya.
-o-o-o-o-o-
Suara langkah kaki menggema disetiap lorong Rumah yang begitu besar dan mewah. Beberapa lukisan-lukisan indah terpanjang disetiap dindingnya. Begitu cocok dengan cat dinding yang cerah dan indah.
"Apa kau tak takut jika 'dia' tahu kalau kau membawa wanita lain kemari? Apalagi dia seorang manusia."
Langkah kaki Naruto terhenti saat melihat sosok yang ada didepannya. Laki-laki dengan surai rambut merahnya. Dengan wajah yang lumayan manis untuk ukuran laki-laki. Sebut saja Gaara. Dia menyandarkan tubuhnya kedinding dengan kedua tangan yang dimasukka kecelana panjangnya.
"Itu tak akan terjadi jika kau tak memberitahukannya."
Sebagai seorang pewaris tahta seorang Namikaze , dia dituntut untuk bisa mengendalikan ekspresinya. Tak diperbolehkan terlalu banyak mengekspresikan perasaannya. Dan contohnya seperti sekarang. Walaupun Diluarnya Naruto begitu tenang menanggapi Perkataan Gaara –sahabtanya. Tapi sebenarnya dia begitu gugup. Bahkan sedikit takut kalau 'dia' tahu jika Naruto membawa wanita lainke rumah ini. Bahkan dia seorang Manusia. Tapi.. Naruto yakin, Gaara bukanlah orang yang suka mengumbarkan sesuatu kepada orang lain.
"Tak akan ku beritahukan. Lagipula aku tak suka padanya. Tapi.. sebaiknya kau berhati-hati. Karna sebentar lagi, Dia akan kembali." Gaara mengeluarkan kedua tangannya. Berganti meletakkannya dibagian belakang kepalanya. Kemudian beranjak dari posisinya.
"Oh ya. Satu lagi. Bolehkah aku mengajak Ino berkencan?" Sebuah cengiran muncul dari bibir Gaara. Berbeda sekali dengan beberapa detik tadi. Begitu cool dan keren. Tapi dengan ekspresinya yang sekarang. Dia seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk pada ibunya.
"Hn. Asal kau tak menyakitinya." Naruto tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya itu. Jika mengenai Ino, entah kenapa dia selalu bersikap seperti anak kecil. Tak seperti biasanya. Dingin dan terkesan misterius.
"Tenang saja, aku tak mungkin menyakitinya."
"Ku pegang janjimu itu."
Gaara berlalu pergi meninggalkan senyum senang karna ada lampu hijau dari sang sepupunya. Pertanyaannya.. kenapa Gaara harus meminta ijin pada Naruto?
Cukup sederhana. Itu dikarenakan Ino tak akan mau menerima ajakan kencan laki-laki manapun jika Naruto tak menyutujui ataupun menyukai pemuda tersebut. Jadi intinya. Jika ada orang yang ingin mendekati Ino, dia harus meminta persetujuan dari Naruto. Jika tidak! Mungkin kau akan berakhr di peti mati?
.
.
.
.
.
Hari-hari yang cerah kini berubah menjadi sebuah langit yang kelam dan gelap. Hujan deras yang mengguyur kota Tokyo itu membuat berbagai aktifitas bagi menjadi berantakan. Dari terlambat ke kantor karna terhalang macet karna banjir. Murid sekolah yang juga terlambat karna kereta bawah tanah yang berhenti karna cuaca yang buruk.
Tapi anehnya.. bukankah ini musim panas? Dan seharusnya tak ada hujan disaat musim panas begini.
Seseorang tengah berdiri disebuah gedung tinggi ditengah kota Tokyo. Orang tersebut memakai sebuah jubah berwarna hitam pekat dan dibagian tudungnya berwarna merah. Mata merahnya yang mencolok membuat siapa saja yang melihanya bergidik ketakutan. Bahkan kau mungkin akan pingsan ditempat jika melihat tatapannya yang begitu mengerikan. Seperti ingin memakan seseorang saja.
Mata merahnya menyelidik ke setiap kerumunan yang ada dibawahnya, berbagai orang tengah berjalan dengan buru-buru sambil membawa payung yang ada ditangannya. Ada seulas senyum saat matanya menemukan sosok yang tengah berjalan menuju sebuah sekolah yang begitu mewah.
#Whussss.
Tiba-tiba sosok itu menghilang bersamaan dengan Hujan yang sedikit demi sedikit menghilang dan hanya menyisakan rintik-rintik hujan. Tak selang berapa lama. Hujan pun berhenti dan menampakkan kembali Sinar matahari yang menyinari bumi.
"Naruto. Dia.." Panggil seorang gadis berambut pirang panjang. Ditatapnya sosok pemuda yang kini tengah berdiri mematung ditempatnya.
"Hn. Aku tahu." Seakan mengerti arti dari tatapan Ino. Naruto membalas tatapan tersebut dengan sebuah senyum yang mengembang dibibirnya. Dipeluknya tubuh sepupu itu dan kembali berjalan menuju gerbang sekolah.
.
.
.
.
.
.
Suasana didalam kelas seperti biasanya. Sunyi tanpa ada keributan seperti dikelas-kelas lain. Kita sebut saja kelas 2-A. Kelas yang terkenal ribut dan paling menyusahkan karna kelas ini 85% berisi gadis-gadis yang cerewet. Dan itu mmebuat guru yang tengah mengajar sekarang –Asuma. Sedikit kewalahan mengajar mereka semua. Apalagi sekarang. Hey! Lihatlah mereka, sudah tahu jika sekarang saatnya pelajaran. Tapi para gadis itu malah asik-asiknya berdandan tanpa memperdulikan penerangan dari sang guru.
#BRAKKK..
Asuma menggebrak meja gurunya dengan sekali pukul. Menatap tajam ke arah muridnya dengan Detahglare yang sudah pasti membuat para murid tersebut bergidik ketakutan.
Dengan sigap, semua gadis yang tadinya tengah berdandan dengan tangan yang berisi kaca dan bedak langsung menghilang entah kemana.
Asuma menghela nafas pelan sebelum dia membuka mulutnya. "Kalian ini sedang tidak disalon. Jadi berhentilah berdandan seperti itu. Dan jia kalian masih ingin lulus. Lebih baik dengarkan penjelasan gurumu ini dan tinggalkan kegiatan berdandan kalian. Mengerti?!" Masih dengan deathglare yang terpasang diwajahnya. Asuma tersenyum layaknya Evil pada semua muridnya. Hanya Mengancamlah satu-satunya cara untuk membuat para muridnya ini ma tenang.
"Mengerti sensei!" Jawab seluruh murid. Kecuali para laki-lakinya ya.
Namun, berbeda dengan semua murid yang tadinya berdandan. Seorang gadis dengan surai rambut merah mudanya menatap keluar jendela. Memperhatikan sosok yang sekarang tengah berlatih dilapangan –bermain bola. Mata emelardnya tak henti-hentinya menatap pemuda dengan Rambut pirangnya yang begitu tampan saat sinar matahari menerpa tubuhnya yang terekspos dengan sempuran. Dan tak lupa butir-butir keringat yang mengalir disetiap dada bidangnya.
Ada sebuah kekesalan yang menyelimuti hati Sakura. Naruto pemuda yang beberapa waktu lalu telah menjadi kekasihnya itu mengekspos tubuh seksinya kepada seluruh gadis yang ada disana. Bahkan seluruh gadis itu meneriakinya dan memberikan semangat pada Naruto. Itu membuat Sakura cemburu. Cemburu karna ada wanita lain yang melihat tubuh Naruto.
"Sakura!" Bersamaan teriakan itu, sebuah benda kecil namun kasar mendarat dikepala Sakura. Mmebuat gadis itu merintih kesakitan dan mengusap-usap kepalanya.
"Se-sensei.." Sakura gelagapan saat melihat Asuma menatapnya dengan kesal. Sakura yang mengerti akan kesalahannya hanya dapat terdiam membisu dengan hati berdoa supaya dia tak mendapat hukuman dari guru killer tersebut.
"Ma-maaf sensei.."
"Berapa kali Sensei harus bilang! Kalian itu bersekolah disekolah yang ternama. Jangan membuat nama sekolah menjadi jelek hanya karna kelakuan kalian yang tidak baik!" Ocehan Asuma semakin panjang lebar membuat telinag para muridnya panas dan terasa akan pecah jika ocehan itu terus dilanjutkan.
"Kau sakura! Setelah pelajaran Sensei selesai. Bersihkan toilet Guru sampai bersih. Kau mengerti!"
Akhirnya hal yang tak ingin Sakura dengar keluar juga. Maju kedepan dan harus menjewer telinga dan mengangkat kaki sih tak apa Sakura lakukan. Tapi.. jika harus membersihkan toilet guru yang Besarnya minta ampun. Itu sih sama saja mempermalukan Sakura secara umum dan terang-terangan.
"Ta-"
"Tak ada tapi-tapian!"
Suara tegas dan tinggi Asuma menciutkan keberaniannya. Dia hanya dapat berpasrah diri mendapat hukuman yang akan membuat nama baiknya hancur. Mau taruh dimana muka Sakura saat dia harus membersihkan toilet. Bahkan dia merasa rendah diri untuk bertemu dengan Naruto. Sudah seperti kiamat saja jika ada soerang yang harus membersihkan toliet. Benar! Itu memang sebuah kiamat!
.
.
.
.
.
Sungguh. Ini hal yang paling memalukan yang pernah Sakura lakukan. Seorang wanita disuruh membersihkan Toilet. Apa kata orang? bahkan ibunya tak pernah mneyuruhnya mmebersihkan toilet. Tapi Asuma. Yang hanya berstatus Guru dia berani sekali menyuruh Sakura membersihkan toilet.
Lihat saja. jika ada kesempatan, akan ku balas Guru itu.
Sakura mengepel lantai Toilet tersebut dengan keringat yang mnegucur diwajah cantiknya. Sesekali, para siswa menatapnya dengan senyum yang mengejek. Bahkan. Ada juga yang mencelanya dengan terang-terangan.
Seperti. 'Pekerjaan yang cocok'. 'hay, gadis toilet.'
Oh! Itu sangat membuat Sakura geram. Ingin sekali dia menyumpal mulut orang-orang itu dengan kain pelnya.
Sakura lebih memilih melanjutkan pekerjaannya sebelum dia jatuh pingsan karna mencium bau yang begitu tak enak. Bahkan sejak tadi pagi dia belum sarapan pagi karna Ibunya yang telat bangun karna semalaman berkerja dan terlalu lelah untuk bangun dari tidurnya.
Saat sedang fokus-fokusnya mengepel lantai toilet, tiba-tiba Sepasang sepatu menghentikan kegatannya mengepel karna sepatu tersebut tepat berada didepan pel Sakura. Merasa dirinya tengah digangggu, Sakura pun menengadah ingin melihat siapa gerangan yang memiliki sepasang sepatu tersebut.
"Naruto.." Lirih Sakura saat melihat sepasang manik Saphire Naruto. Ditatapnya lekat-lekat kekasihnya yang memandangnya juga, dengan kedua tangan yang berada didalam kantong celananya.
"Ikut aku."
Tanpa banyak bicara. Naruto langsung menyeret Sakura keluar dari toilet. Sakura yang merasa kesakitan karna cengkraman tangan Narto yang begitu kuat mencoba melepaskan tangannya, namun tak bisa. Kekuatannya tak sebanding dengan Naruto.
Saat Naruto tengah menyeret paksa Sakura. Semua mata murid-murid yang ada disana tertuju pada kedua manusia tersebut. Menatapnya dengan heran kenapa sang pangeran yang mereka puja menarik tangan Sakura.
"Naruto, lepaskan. Sa-Sakit." Lirih Sakura yang masih diseret paksa oleh Naruto.
#Plukk.
Sakura menabrak tubuh Naruto tepat saat dia selesai berkata. Ternyata, Naruto menghentikan langkahnya. Dengan tangan Sakura yang telah lepas dari gengamannya. Tubuhnya tak bergeming, masih membelakangi Sakura tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Sakura memegangi pergelangan tangannya yang sakit. Ada bekas memar yang disana. Sakura mengelus-elusnya. Mencoba menghilangkan Rasa sakit yang dia terima akibat cengkraman Naruto yang terlalu kuat. Bahkan lebih kuat dari yang Sakura duga.
"Naruto.." Panggil Sakura masih dengan memegang pergelangan tanganya. Dia berjalan kedepan, memandang Naruto yang tak bergeming sama sekali.
Aneh. Apa yang terjadi padanya. Sepersekian detik tadi dia menyeret Sakura pergi dari toilet. Dan sekarang. Dia diam layaknya patung.
"Maaf."
Suara tersebut sukses membuat Sakura kaget. Sekarang dia tahu. Kenapa Naruto seperti sekarang. Dia merasa bersalah karna telah membuat Sakura kesakitan akibat gengamannya yang terlalu kuat. Naruto lupa. Dia lupa kalau dia berbeda dengan Sakura yang hanya seorang manusia biasa.
"Ti-tidak apa-apa."
Secepat yang Sakura bisa. Dia memberikan senyuman yang cukup untuk membuat Naruto mengerti kalau gadis yang ada disampingnya ini memang tidak kenapa-kenapa. Walaupun dalam hati Sakura merasa masih sakit.
Disaat sedang serius-seriusnya. Sebuah suara keras menginterupsi mereka berdua untuk melayangkan pandangan mereka ke arah seseorang yang tengah berjalan menuju arah mereka.
"Sakura! Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sedang menghukum mu membersihkan toilet?" Guman Asuma saat dia telah berada dihadapan Sakura.
"Ma-maaf. A-a-aku.." Sakura gelapagan. Dia tak tahu harus menjawab apa pada gurunya ini. Tidak mungkin dia mnegatakan kalau Naruto menyeretnya dari hukumannya tanpa penjelasan.
"Apa kau ingin aku menambah hukumanmu begitu!?" Nada suara Asuma sedikit meninggi. Membuat Sakura semakin takut jika dia benar-benar akan diberi hukuman tambahan.
"Ti-tidak sensei. Bu-bukan begitu." Sanggah Sakura. Namun, dia merasa sesuatu menyentuh pinggangnya. Matanya beralih pada tangan Naruto yang melingkar dipinggangnya, mendekatkan tubuh Sakura kedekapannya.
"Jadi kau yang sudah menghukum Sakura?" Suara lirih, namun begitu dingin keluar dari mulut Naruto. Ditatapnya sang guru yang saat ini tengah merinding melihat tatapan Naruto yang menakutkan.
"I-itu karna dia tidak mendengarkan penjelasanku saat pelajaranku tadi."
"Begitukah? Lalu.. apa kau tidak tahu siapa dia?" Naruto semakin mengeratkan pelukannya. Sakura menatap sang kekasih. Ternyata dia begitu pengertian. Begitu sayangkah Naruto sampai dia tak rela jika Sakura dihukum seperti itu?
"Ti-tidak." Asuma semakin ketakutan saat merasakan hawa dingin yang mulai muncul disekeliling Naruto.
"Dia milikku. Dan kau tahu itu artinya apa?"
Semuanya memandang tak percaya ke arah Naruto. Sakura milik Naruto? Tapi sejak kapan? Kenapa mereka smeua taktahu akan hal itu. Sungguh. Hati para gadis sekarang tengah hancur karna Naruto telah melabuhkan hatinya pada Gadis dengan rambut merah muda tersebut.
Sementara sang Guru. Dia baru menyadari kesalahannya sekarang. Menghukum Sakura adalah hal salah yang dia lakukan. Kalian tahu. Milik seorang Namikaze. Tak boleh disentuh. Apalagi diperlakukan seperti itu. Itu bisa Membuat Namikaze yang setiap harinya baik hati dan ramah mnejadi ganas layaknya iblis yang tengah mengamuk.
"Ma-Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau Sakura adalah kekasihmu. A-akan aku cabut hukuman yang ku berikan padanya." Sesegera mungkin Asuma meminta maaf. Dia tidak ingin hidupnya berakhir di rumah tanpa pekerjaan yang dia miliki.
"Hn. Kau di pe-cat."
Mata semua orang terbelalak kaget medengar perkataan Naruto. Guru Asuma dipecat! Dan sekarang tubuhnya gemetaran, tak tahu harus berbuat apa. Dia tak mau jika dipecat dari pekerjaannya sekarang. Ini adalah sumber penghasilan yang dia miliki untuk menghidupi keluarganya.
"Na-Naruto.. ka-kau tak perlu memecat Asuma-sensei. A-aku tidak apa-apa. ini memang salahku. Ja-jadi.. tolong jangan pecat Asuma-sensei. Ku mohon.." Sakura berbicara sebaik mungkin agar tak ingin membuat Naruto tambah murka. Dia takut. Ini pertama kalinya dia melihat sosok Naruto yang ramah dan baik hati begitu menyeramkan. Tatapanya yang tajam membuatnya sedikit takut.
Naruto memandang Sakura sejenak. Saat itulah, Sakura tersenyum semanis yang dia bisa. Berharap itu bisa membuat Naruto membatalkan perkataannya. Sungguh! Dia begitu merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Asuma.
"Hn. Baiklah. Kau tak jadi ku pecat."
Asuma menghela nafa panjang. Tubuhnya yang sedari tadi gemetaran jatuh tertunduk kelantai denga gumannan yang dia terus katakan.
"Terima kasih. Terima kasih." Guman Asuma dengan wajah pucat ketakutan.
"Hn."
"Terimakasih Naruto." Ucap Sakura ikut mneghela nafas lega karna gurunya tak jadi dipecat.
"Sebagai gantinya.." Naruto menyeringai. memandang wajah kekasihnya yang kembali ke mode takut.
"Malam ini.. kau harus bermain denganku. Dan sebaiknya kau persiapkan tenagamu. Ku harap kau tidak tidur seperti waktu itu." Lanjut Naruto tersenyum evil sembari beranjak pergi meninggalkan sang kekasih yang diam mematung. Puas dengan menggoda sang kekasih hingga wajah Sakura merah padam akibat menahan malu.
Sakura tak menyangka Naruto akan semesum ini. Didepan orang banyak. Bahkan Guru Asuma pun masih ada disana. Dan dari segi para murid. Semuanya Sweetdrops dengan darah yang mengucur dihidungnya. Ini pertama kalinya dia melihat pangeran mereka semesum itu. Mereka jadi tambah menyukai pangeran mereka. Dan mungkin. Mereka tengah membayangkan diri mereka melakukan 'itu' dengan Naruto.
.
.
"Bermain-main lagi Dobe?"
.
.
.
Te Be Ce...
Keterangan :
Gaara memiliki kemampuan dapat melihat masa depan.
Hahaha.. hanya itu saja mungkin, Jika ada pertanyaan bisa ditanyakan langsung. Kalau mau ke rumah Naru sekalian aja. Tapi jangan lupa.. bawa teh dan gula. Hihi~
R&R selalu naru terima… ^^,
