Pairing : NaruSakuSasu slight ShikaIno
Disclaimer : Masashi Kishimoto
WARNING : Straight, OOC, Typo, Flame? Why not:p
NOTE : Saya memutuskan tidak mengganti rating dan tidak ada Lime/Lemon tapi ada unsur kekerasan, saya tidak memakai Winter cukup musim gugur aja :) ga ada karakter Antagonis semua hanya terbawa emosi
Please enjoy readers!
.
Complicated
.
.
Autumn/Fall bagiku adalah sebuah ungkapan tidak terduga darimu
.
.
Menggeliat, aku mengerjapkan mata safir ketika sinar matahari menerobos lembut melalui jendela berenda putih polos. Semilir angin berhembus perlahan, menggoyangkan renda putih tersebut.
Aku mendengar hembusan napas teratur di samping ranjang.
Sakura, dia tertidur kelelahan sehabis menangis terisak semalaman karena pria itu. Walau sudah menghibur berbagai macam lelucon dan hal konyol tetap saja air mata itu keluar bersama isakan yang menyesakan dada.
Aku sedikit menyingkap anak rambut yang menghalangi wajah manisnya.
Polos sekali wajahnya.
Aku menyipitkan mata kembali—cahaya matahari menyilaukan iris mataku. Tubuhku sedikit menempel dengan tubuhnya—kaki kananku terulur—mencoba menjepit tirai jendela—menutupnya.
"Sedikit lagi ..."
Krieet.
Aku menelan ludah, keringat dingin mulai membasahi sekitar pelipisku begitu mendengar pergerakan Sakura. Dia menggeliat pelan—menaruh wajahnya pada lekukan leherku sembari meremas rambut pirangku. Entah apa yang di impikannya—Sakura terus menggumamkan nama Sasuke dan ya ampun namaku pun ikut tersebut!
Itu bukan harapan.
"Sasuke ... aku tidak mencintaimu lagi tetapi ..."
Bukan—
"Naruto .. ehm ..."
—Harapan.
Aku nyaris saja menyemburkan cairan hangat dari alat pernapasanku dan tertawa kegelian ketika kepalanya—menggeliat di lekukan leherku—kakiku turun mengenai batas pinggul rampingnya.
Demi rambut merah ibuku! Posisi kami sangat memalukan! Ugh … aku tidak ingin membicarakannya!
"Ehm … Sakura." aku mencoba memanggilnya—mengguncang bahunya ringan.
"Hiks ..."
Eh?
"Ha-hatiku sakit ..."
Aku terdiam—mengelus rambut merah mudanya yang sekarang pendek. Sebelumnya rambut Sakura panjang mencapai pinggul tetapi semalam dia memutuskan memotong mahkota merah mudanya sampai bahu.
Segitu frustasinya—
"Aku mencintaimu ..." gumam Sakura lagi.
—dengan Sasuke?
"Aku juga mencintaimu," jawabku tepat di telinganya.
.
.
Hey, kau gadis berambut merah muda! Kau tahu? Aku mencintaimu tapi tidak bisa mengungkapkannya
Kau pasti bilang, jika kau tidak mengungkapkannya maka gadis itu akan mencintai pria lain.
Maka jawabanku, iya.
Dia sudah mencintai pria lain dan sedang tertidur dalam pelukanku—mengeluarkan cairan bening dari kelopak matanya yang tertutup untuk pria itu.
Pria itu—bukan untukku.
.
.
+ Sakura +
.
.
Menutup loker, samar-samar terdengar derap langkah kaki berhenti tepat di sampingku.
"Sakura." panggil sebuah suara khas pria.
Aku mengambil beberapa buku pelajaran—menutup loker—lalu berjalan begitu saja melewati 'mantan' pria yang kucintai.
"Sakura," panggil Sasuke kembali. Kali ini terselip nada memerintah.
Masih tetap berjalan aku berkata tak kalah dingin, "Ap—"
Aku terkejut ketika tangan Sasuke mencengkram—menarikku menuju bawah tangga.
"Apaan sih!" Teriakku melepas kasar tangannya. Aku mengelus pergelangan tanganku yang sedikit memerah—kusempatkan meliriknya melalui celah bulu mata. Dia mendengus sebelum kembali memasang tampang datarnya.
"Kau mengirim kue untukku?" tanyanya masih terselip nada kesal.
Aku menatapnya tidak percaya—mengibaskan tangan di depan wajah dinginnya, "Hello, bisakah anda menanyakan lebih lembut. Anda sedang berbicara dengan wanita."
"Kau membuat kue untukku?"
"Iya, lalu kenapa? Kau baru menanyakannya setelah satu bulan berlalu. Kau memakannya dengan wanita berkacamata itu? Lalu berci—!"
"Tutup mulutmu!" Bentak Sasuke padaku—meninju dinding di samping kepalaku.
Aku terdiam.
Apaan dia? Seenaknya saja memerintah—
Tak lama aku tertunduk, menggigiti bibir bawah—menahan tangis.
—ku?
"Hiks ..."
Kenapa aku kembali menangis? Aku sudah menangis sepuasnya di apartemen Naru—
Aku mengadah ketika dia menepuk ringan bahuku.
"Karin adalah sepupu jauhku. Aku tahu kau mencintaiku." aku hampir saja menampar wajah Sasuke saat wajahnya sejajar denganku—seperti hendak mencium?
Aku menggeleng, "Kau tahu sejak dulu. Kenapa selalu menolakku?"
Aku merasakan hembusan napas panas Sasuke menerpa kulit wajahku menjadi tidak teratur di sertai deheman pria berambut biru gelap itu—dia menahan tawa.
"Kau mengejarku seperti pencuri barang berharga ka—"
"Kau memang mencuri barang berharga dariku." potongku cepat.
Sudut bibir belahnya perlahan tertarik ke atas, "Hn?"
Blush.
Aku benci! Aku benci jika berdekatan dengannya seperti wanita bodoh! Lagi-lagi semua perkataanku mengalir begitu saja tidak terkendali.
"Kue itu enak. Aku melihatmu memeluk pria pirang, kekasihmu?" aku melamun cukup lama hingga tidak mengetahui Sasuke sudah menaiki anak tangga.
Aku menaiki tangga cepat, mengejar Sasuke—mencegatnya dengan membentangkan tangan.
"Hey—"
"Dia bukan kekasihku. Naruto sahabatku," aku melangkahkan kaki—mendekat padanya. "kalau tidak percaya aku ajak ke apartemennya."
"Hn," jawab Sasuke singkat.
"Itu maksudnya, iya?"
"Hn,"
"Sasuke!"
.
.
+ Naruto +
.
.
"Jadi ... kau mendukung cintanya?" tanya Shikamaru menguap lebar.
Aku mengangguk—terkesan pasrah.
"Kau gila Naruto! Aku tidak akan pernah mengerti pikiran bodohmu," Shikamaru menggelengkan kepala pusing—mengambil pemantik dalam saku jaket tebalnya.
"Kau tahu sendiri sifatku, Shikamaru. Aku ...," aku bingung mau membantah apa. Pada akhirnya aku terdiam mencengkram helaian rambut pirangku.
"Haah ... merepotkan. Salahmu sendiri menjawab hal itu." ungkapnya menghisap ujung rokok.
"Aku tahu! Teriakku kesal. "hanya saja, sulit sekali berbicara jujur masalah hati."
"Hm ...," pria berkuncir tinggi itu bergumam—berpikir keras. "Aku mencintaimu Sakura, apa kau mencintai—"
"Shika—" buru-buru aku memotong ucapannya.
"Dia menjawab 'iya' dan terjadilah ciuman, jika bisa membawa suasana mungkin kalian bisa bercinta saat itu juga. Itu tidak merepotkan, Naruto." Shikamaru menekankan kata merepotkan.
Aku tertawa keras-keras—mengungkapkan rasa frustasi masih dalam keadaan tertunduk. Aku tahu Shikamaru pasti sedang menatapku—tajam—konyol sekali.
"Mana mungkin Sakura menerimaku," aku tertawa kembali—menertawakan ucapanku tadi.
Shikamaru hanya mengangkat bahu—kembali menghisap rokok, "Mana kita tahu, kan?"
Kami terdiam cukup lama—memilih memandang langit yang kini berwarna oranye kemerahan sembari merokok tidak denganku. Aku benci rokok.
Berbagai jenis burung menghiasi langit—pulang ke sarangnya. Pulang—
—Ke Jepang.
Entah kenapa aku rindu rumah.
Kepala Ino menyembul di balik dinding batu bata, "Naruto, ada tamu. Sakura bersama pria tampan berambut biru gelap."
Kepalan tanganku mengeras.
Aku tahu sekarang. Cukup sudah hatiku di permainkan.
Seolah mengerti pikiranku buru-buru Shikamaru berkata tegas, "Naruto hentikan!"
Tidak—
Aku tidak perduli dengan berbagai macam perkataan sahabatku.
—Bisa kuhentikan.
Memutar kenop pintu, aku di sambut senyuman 'janggal' dari Sakura. Aku tidak perduli—berjalan melewati tubuhnya.
Duagh!
Pria itu terjatuh tersungkur—tubuh besarnya berbenturan pada dinding cat putih—aku menduduki perutnya—menghujami berbagai macam pukulan dan hantaman ke rahang kerasnya.
Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan!
"Naruto hentikan!" Teriakan Sakura tertelan suara benturan antara kepalan tanganku ke pipi pria itu.
Aku ingin dia merasakan—
Pria bermata onyx itu hanya diam—menyeringai penuh meremehkan membuatku mendengus—bangkit berdiri—berjalan menuju apartemen.
—Aku tidak bisa—
Brakk!
—Menyakiti sahabatku sejak kecil.
"Naruto!" Terdengar jeritan Sakura serta ketukan pintu cukup keras.
Tidak peduli.
Aku tidak mengerti dengannya. Semua perhatian aku berikan tetapi agaknya dia tidak pernah melihatku sebagai pria—sahabat tidak lebih.
Hidup ini penuh pilihan. Mendapatkan satu lalu melepaskan yang lain—tidak! Sakura tidak bisa memilih. Andai saja aku di beri pilihan untuk kembali ke masa lalu, pasti aku akan memilih hal tersebut. Di mana tempat pertama kali bertemu, aku ingin mengulang semuanya—lebih memilih tidak memeperdulikannya dan memkan Ramen. Aku pria lemah. Melihat wanita menangis adalah kelemahanku lagipula aku tidak bisa lepas dari daya tariknya—semua yang menyakitkan akan terulang kembali.
Kalian boleh tertawa sepuasnya—mentertawakan kehidupan cintaku. Tetapi tetap tidak akan mengubah apa pun.
Sekarang aku tahu, aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuknya—
"Naruto!"
—sebagai sahabat.
Sial!
.
.
Kau tahu hey, gadis pecinta Telenovela? Aku mencintaimu sampai seperti ini!
Kau pasti akan berkata, seperti inikah kau mencintai wanita? Frustasi sekali!
Maka jawabanku, iya.
Aku frustasi karenamu.
.
.
+ Sakura +
.
.
Wajah Sasuke sudah seperti boneka rusak—darah mengucur perlahan mencorengkan wajah putihnya—tetapi anehnya itu tidak mengurangi ketampanannya, itu menurutku. Sedikit saja sentuhan handuk hangat di sekitar luka wajah—membuatnya tersentak walaupun tidak mengucapkan apa pun hanya sebuah isyarat—tatapan mata onyx yang amat menyakitkan hatiku.
Tidak ada yang ingin memulai percakapan—semua sibuk di pikiran masing-masing termasuk aku. Aku masih bingung dengan penyerangan Naruto—semua terjadi begitu cepat—aku hanya melihat dalam keadaan syok—Naruto sangat marah melihat kedatangan Sasuke.
Namu anehnya Sasuke hanya memberi sebuah seringai—sebuah telepati—senyuman dan sebuah kepalan tinju terulur padanya dalam keadaan babak belur—seperti baru bertemu kembali setelah sekian lama berpisah? Haah ... entahlah, aku tidak mengerti pria.
"Kurasa—"
Semua menoleh ketika Shikamaru memulai percakapan.
"—setelah mengurus pria ini, kau juga harus mengurus pria pirang bodoh itu, Sakura." lanjutnya menguap lebar.
Aku sempat berhenti menempelkan plester di luka Sasuke, "Untuk apa? Si bodoh itu hanya melakukan—"
"Hentikan!" Potong gadis tepatnya kekasih Shikamaru bernama Ino dengan nada meninggi. Dia menunjuk diriku. "berhentilah sandiwara, Naruto selama ini—"
"Ino hentikan," potong Shikamaru kali ini, memegangi pergelangan tangan Ino yang sedari tadi menunjukku. "kau tidak usah—"
"Lepaskan!" Bentak gadis itu tak kalah keras. "seseorang harus menyadarkan gadis bodoh ini."
Apa dia bilang? Bodoh? Aku bodoh? Yang benar saja!
"Semua kebenaran tentang Naruto." Ino berbicara seperti gertakan untukku.
"Biarkan Naruto saj—"
"Tidak! Tidak akan kubiarkan sepupuku kembali sakit hati," potong Ino kembali. Pipinya memerah menahan amarah membuatku menelan ludah.
Jadi dia sepupu Naruto?
"Merepotkan," kalimat singkat Shikamaru lantas membuat tubuh Ino yang sedari bergetar hebat—melemas. Mungkin kalimat itu secara tidak langsung ucapan mengalah dari pria berkuncir tinggi tersebut.
Gadis itu mendengus kasar—menatapku seperti buronan kelas kakap, "Naruto ... mencintaimu sejak dulu."
Eh?
"Jelas sekali terlihat," Sasuke yang sedari tadia diam ikut berbicara. "sejak sekolah dasar bodohnya tidak menghilang. Bahkan sudah pindah di New York tetap bodoh."
Eh? Sahabat? Jadi Sasuke sahabat Naruto sejak kecil? Pantas saja Sasuke tidak membalas pukulan Naruto! Padahal Sasuke masuk seni bela diri di kampus.
Tetapi yang membuatku lebih syok Naruto mencintaiku? Mencintai—
"Ini kenyataan." kala itu Shikamaru menyalakan rokok
—ku?
"Jangan bercanda." kataku masih dalam keadaan melamun.
"Hahaha ...," seketika gelegar tawa Ino memenuhi ruang tamu apartemen miliknya. "aku bingung kenapa Naruto bisa jatuh cinta padamu."
"Aku tidak perca—"
"Kami hanya berbicara kenyataan yang ...," Shikamaru memberi jeda untuk menghisap rokok. "merepotkan."
Aku—
"Tidak mungkin."
Ino menatapku tajam sebelum memulai berbicara, "Saat Shika ketahuan selingkuh dariku. Naruto berusaha keras menghentikan kepergianku untuk menemui Shikamaru di LA. Tentu saja aku menolak tapi dia bersikeras melarang kepergianku. Kau tahu apa yang dia bilang?
Naruto tidak cerita tentang itu—aku menggeleng.
Hening sesaat.
Ino meneguk air putih—mengusap bibirnya yang sedikit belepotan air, "Kau tidak tahu Ino, kau akan mengalami hal yang sama sepertiku—mengetahui kebenaran. Orang yang kau cintai hanya meninggalkan sebuah kehangatan di ranjang—meninggalkan lubang sakit hati sebesar Grand Canyon. Sungguh, aku menyayangimu dan tidak ingin kau terluka sepertiku," ketika bercerita suaranya serak—menatap lantai kayu sembari tersenyum. "meski sudah berbicara begitu aku tetap bersikeras! Dan yah ... aku mengetahui semuanya."
Aku menjatuhkan tubuh di samping Sasuke sembari menghela napas.
Tidak ada yang berbicara.
Semilir angin musim dingin mulai terasa—tirai jendela hijau lumut bergerak menari-nari menimbulkan suara gemerisik—hanya suara itu yang menemani rasa bimbang di hati.
.
.
+ Normal +
.
.
Cklek.
Kepala Sakura menyembul di balik pintu—mata emeraldnya bergerak gelisah—menyapu seisi ruangan apartemen sahabatnya. Ia menoleh ketika mendengar suara serak Naruto.
"Hey, Sakura. Ada apa?"
Sakura menutup pintu perlahan—ia melangkahkan kaki ringan—duduk di depan Naruto yang sedang duduk menekuk lutut.
Tidak ada yang memulai pembicaraan atau sekedar saling menatap satu sama lain—kedua insan itu sibuk menunduk—bergulat di pikiran masing-masing.
Naruto yang merasa tidak suka kesunyian akhirnya berkata, "Maaf, soal Sasuke."
Kala itu Sakura memandangnya—ada rasa bahagia saat pria itu memulai percakapan.
"Tidak apa-apa. Naruto aku ingin bertanya padamu. Aku ingin kau menjawab yang jujur, iya?"
Suasana mencair ketika Naruto tertawa, "Apa yang tidak untukmu Sakura. Kau ingin bertanya apa?"
Sakura tahu sekarang. Pria ini selalu ada untuknya—tersenyum penuh kehangatan meski di dalam menyimpan rasa sakit hati padanya amat dalam. Sebuah senyuman untuk menutupi rasa pahit dalam hati.
"Sasuke mengajakku bercinta. Bagaimana menurutmu?"
Pria pemilik bola mata shappire itu menatapnya tanpa kata-kata sesaat.
"Tidak!" Tandasnya tanpa sadar. "maksudku kalian baru menjadi sepasang kekasih, kurasa itu terlalu cepat."
Kali ini Sakura memberanikan diri mendekatinya—mencondongkan wajahnya sampai sejajar, "Kalau kau menolak aku bercinta dengannya—"
"Ya?"
"Ayo, cinta denganku."
"..."
"..."
"Hmmph. Jangan meminta yang aneh-aneh," jawab Naruto menutupi mulutnya—menahan tawa. Ia menolak tatapan emerald sang gadis di cintainya itu.
"Naruto kau bahkan tidak melihatku! Kau selalu berbohong jika tidak menatap lawan bicara." omel Sakura menggembungkan pipi—kesal.
Naruto nyengir menatapnya, "Kita hanya sahaba—!"
"Sahabat bisa jadi cinta kan?" potong Sakura—bibirnya setengah tertarik.
Dengan cepat pula Naruto menggeleng, "Tidak. Kau salah, tidak sepenuhnya bisa seperti itu."
Sakura diam seribu bahasa.
Bibir Naruto terbuka hendak mengucapkan sesuatu namun kembali terkatup rapat saat Sakura kembali berbicara.
"Jika kita di Negeri dongeng putri salju. Aku terpilih menjadi putri salju maka kau akan memilih menjadi apa?" Sakura tahu pasti sahabatnya ini akan menjawab pange—
"Kurcaci." kata Naruto polos.
—ran—apa?
"Katakan alasanmu." tuntut Sakura.
Naruto terbatuk lalu berdehem layaknya seperti ingin bercerita panjang, "Walaupun tidak bisa berperan menjadi pangeran tetapi aku selalu setia berada di sampingmu—berbagi kehangatan, berbagi susah dan senang bersama. Dan menangis—menunggu kau membuka mata emerald jernihmu ketika tertidur panjang akibat memakan apel beracun. Walaupun tidak bisa bahagia bersamamu, kurcaci adalah sahabat terdekat putri salju selama pengasingan. Kurcaci selalu bahagia jika putri salju pun bahagia. Hanya melihat bagiku sudah cukup, aku akan selalu bahagia jika kau pu bahagia Sakura," Ia mengambil napas sebanyak mungkin setelah berbicara panjang lebar.
Bukan—
"Hiks ..."
—sungguh bukan itu yang ingin Sakura dengar.
"Sakura kenapa mena—!"
Beban bobot ranjang bertambah—ucapan Naruto terhenti karena Sakura memeluknya—berbaring bersama dalam keadaan gadis itu di atas tubuhnya.
"Kalau begitu aku jadi kurcaci juga."
Mata shappirenya tertutup bersamaan dengan tangan besarnya terulur menyematkan anak rambut merah muda yang menutupi wajah gadis yang amat di cintainya—kembali membuka mata.
"Nanti kau tidak can—" perkataannya terhenti begitu jari telunjuk tegak Sakura tertempel tepat di belahan bibirnya.
"Kiss or Kick?"
Kelopak daun berguguran—terbang ke langit tertiup angin musim dingin dan turun dengan lembut di tanah. Rona senja kemerahan menjadi saksi bisu sebuah ciuman di kening.
"Kiss,"
Sakura yang merasa kegiatan Naruto hanya berhenti di kening akhirnya berkata, "Kenapa hanya di kening?"
Naruto nyengir, "Aku akan mempertahankan kesempurnaanmu sampai menikah,"
—Itulah sebuah jawaban darimu.
"Terima kasih sudah menunggu dan mencintaiku."
"Hm," seelahnya ia kembali mencium Sakura—di kening.
.
.
Aku berharap nanti ke depannya baik-baik saja. Hanya aku dan Sakura tidak ada seorang pun di antara kami.
.
.
"Akhirnya kau merelakan Sakura untuk sahabat kecilmu Naruto, eh?"
"Hn,"
Karin membenarkan letak kacamata kotaknya, "Bukankah kau juga menyukai Sakura? Kenapa langsung menyerah?"
"Aku tidak bisa terus mengikuti ego, sekarang pun perasaan Sakura tidak menjamin untukku,"
Gadis berambut semerah darah itu terdiam memadang punggung sepupunya yang sedikit bergetar
"Cinta itu rumit," Sasuke mengadah—memadang kosong rona merah di langit. "aku turut bahagia untuknya."
Kala itu Karin tersenyum—melangkahkan kaki menuju sepupunya yang berada di ujung atap rumah—ikut memandang langit sembari menyesapi secangkir teh hangat, "Iya, cinta memang rumit. Kuharap kau mendapat yang lebih baik darinya."
.
.
(Complicated)
End
.
.
Thanks for reading.
Proyek fic baru American Pie collab with my brothers
Summary : Naruto dan Shikamaru di tugaskan mencari pendapat beberapa orang tentang sex/"Apaan sih! Segala mencari pendapat sex langsung saja praktik!/"Sial! Kenapa malah ketemu bencong. Merepotkan."
Romance/Humor akan datang mengguncang NaruSaku :P
.
.
Note Gaje :
Malam ini ada konser Katy Perry^^ ayo siapa yang nonton? Kita jejingkrakan bareng di sana!^^ Pastikan kamu penggemarnya nonton konsernya, mungkin saja mendapat CD gratis album baru dari Katy Perry seperti konser A7x dulu :)
