Previous Story :

Perlahan Naruto mendekat ke arah Hinata diikuti pandangan tidak suka dari kiba dan sakura. Langkahnya terhenti saat ia berdiri tepat di depan Hinata. Perlahan hinata mendongakkan wajahnya dan melihat senyum kemenangan di wajah naruto.

"Kau kalah. Sekarang kau harus menuruti kata-kataku." kata Naruto sementara Hinata hanya bisa diam.

Continue story :

Soundtrack : status palsu(Vidi Aldiano)

"Kau gak lupa perjanjiannya kan?"tanya Naruto

"Perjanjian batal! aku gak akan biarin kamu mempermainkan hinata!" awab kiba sambil menatap tajam ke arah Naruto

"Huh! munafik! Sebelum ngatain orang lain lihat dulu dirimu sendiri!" kata Naruto dengan sedikit membuang muka

"Apa maksudmu?!" kata Kiba dengan tangan mengepal bersiap memukul.

"Hentikan!" cegah Hinata yang tau dengan apa yang akan dilakukan Kiba.

"Kau jangan takut hinata! kami akan membantumu." kata Kiba dengan mimik muka serius

"Sudahlah! Ini masalahku. Kalian gak usah ikut campur." kata hinata

"Tapi hinata.."kata Sakura cemas

"Jangan khawatir sakura.. Aku harus konsisten dengan perkataanku. Janji harus tetap di tepati." kata Hinata

"Baguslah. Hanya pecundang yang mengingkari apa yang telah diucapkannya. " kata Naruto dingin

"Jadi apa maumu?" tanya Hinata

"Mulai sekarang, kamu jadi pacarku sampai batas waktu yang ku tentukan." kata Naruto dengan nada bicara yang super cool

"a..apa? Tidak bisa! Aku tidak mau." bantah hinata. Tentu saja Hinata keberatan karena menurutnya itu tidak sebanding dengan hadiah yang naruto tawarkan jika kelasnya menang. Dan lagi Hinata takut Naruto berbuat macam-macam padanya.

"Tidak ada bantahan! Kamu sendiri yang menyanggupinya tanpa syarat lain kan tadi. Atau... kau mau jadi pengecut yang mengingkari ucapanmu sendiri?" sindir naruto dengan sedikit penekanan di kata 'pengecut'

"Aku..." kalimat Hinata terhenti. Ia kehabisan kata-kata. Memang benar salahnya karena langsung menyetujui tawaran taruhan Naruto tanpa pikir panjang. Tapi dia tidak bisa menerima perintah Naruto begitu saja. Meskipun sampai sekarang ia belum pernah pacaran, tapi hinata sering membaca novel teenlit jadi sedikit banyak ia tahu kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada orang pacaran.

Naruto menghela nafas lalu berkata, "Tenang saja aku tidak akan macam-macam asal kau patuh. Mulai besok kau ku antar jemput ke sekolah."

Setelah itu Naruto pergi dengan santainya sedangkan Hinata masih mematung.

"tadi..dia bilang apa?" tanya hinata pada sakura dan kiba dengan ekspresi yang masih kebingungan. Sementara Kiba mengepalakan tangannya geram.

-oOo-

Jadi pacar naruto? Itu hal terburuk yang di alami hinata. Tak pernah terpikirkan olehnya Naruto akan menyuruhnya menjadi pacarnya. Ia pikir, paling hukumannya hanya mentraktir Naruto atau Naruto menyuruhnya menyanyi dan menari didepan umum atau Naruto menyuruh hinata mengaku kalah di depan umum. Ini benar-benar diluar bayangan Hinata. Naruto yang sangat hinata benci karna tidak menghargai kesempatan untuk sekolah padahal diluar sana masih banyak anak seusianya yang sangat ingin sekolah namun tidak bisa karena kendala biaya. Kini Hinata harus menjadi pacar orang tersebut. Malam ini Hinata sulit tidur karena terus memikirkannya.

Esok harinya, Naruto benar-benar menjemputnya ke rumah. Bahkan ia sempat mengirim pesan singkat agar hinata menunggunya. Hinata sempat bertanya-tanya darimana Naruto tahu alamat rumah dan nomor HPnya? Namun ia tidak berani bertanya pada Naruto. Setelah itu, Hinata selalu di antar jemput Naruto. Tapi hampir tak pernah ada percakapan di antara mereka. Hinata malas untuk memulai pembicaraan karena setiap kali Hinata bertanya tentang apapun hampir tak pernah di tanggapi naruto.

Terpaksa aku mencintai dirimu hanya untuk status palsu..

setengah hati ku jalani cinta karna aku tak.. suka denganmu...

-Vidi Aldiano-Status palsu-

Hinata bingung harus bagaimana. Mau tidak mau Hinata menuruti kemauan Naruto karena sejak awal itu sudah jadi perjanjian mereka. Tapi setidaknya Hinata bersyukur karena Naruto benar-benar menepati janjinya. Ia tidak macam-macam pada Hinata. Selama menjadi Pacar Naruto, Hinata hanya diantar jemput ke sekolah dan beberapa kali mendapat pesan dan telepon dari Naruto menyanyakan dia sedang berada di mana. Walaupun sempat suatu pagi Naruto membuat Hinata jengkel karena bekal yang ia buat untuk dimakan bersama Kiba dan Sakura direbut oleh Naruto. Sejak saat itu Naruto menyuruhnya membuat bekal hanya untuk dirinya.

"Ne... Naruto... sampai kapan perjanjian ini berlaku?" tanya Hinata suatu pagi saat perjalanan menuju sekolah. Naruto tidak pernah menyebutkan batas waktunya. Tentu itu sangat merugikan Hinata jika terus dibiarkan. Tidak mungkin Hinata terus-terusan menyandang status palsu sebagai pacar Naruto. Suatu saat Hinata juga ingin menikah dengan orang yang ia cintai dan mencintainya. Dan itu tidak akan terjadi selama dia masih menjadi pacar palsu Naruto.

Naruto sempat diam beberapa saat sampai kemudian ia berkata dengan nada dingin, "Sampai aku menyuruhmu berhenti."

Tanpa Hinata sadari, tangan Naruto mencengkeram keras setang motornya saat hinata menanyakan pertanyaan itu. Dibalik helm yang dikenakan Naruto terlihat ekspresi jengkel bercampur kecewa di wajahnya.

Dua minggu setelah mereka pacaran, sepulang sekolah Kiba menghadang Hinata saat keluar kelas. Teman-teman mereka sudah pulang semua. Kini hanya ada Hinata dan Kiba di depan kelas. Hinata hendak bertanya namun urung saat tiba-tiba kiba dengan lantang berkata, "Kimiko ai shiteru (I love you), hinata.. kamu mau kan jadi pacarku?"kata Kiba
Hinata sempat kaget dengan pernyataan Kiba. Beberapa saat ia terdiam. Lalu berkata, "Kiba..gomenasai..aku.."

"Kenapa? Apa karena Naruto? tenang saja Hinata. Aku akan melindungimu darinya. Mulai sekarang kau tidak perlu mematuhinya lagi."

"Aku tidak bisa, Kiba.. Janji tetaplah janji. Dan janji harus d tepati..gomenne.."

"Sampai kapan? Dia bahkan tidak menyebutkan sampai kapan kamu harus terus mematuhinya! Apa kamu mau seumur hidup terikat dengannya?" tanya Kiba dengan sedikit membentak

"A.. aku juga tidak tahu.. Mungkin saja sebentar lagi dia akan bosan.." Jawab Hinata masih tetap berpikir positif karna hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja.

"Bagaimana dengan perasaanmu Hinata? Kau juga menyukaiku kan?" tanya Kiba penuh harap

"Gomenasai... Aku hanya menganggapmu sebagai teman baikku..." jawab Hinata

Mendengar jawaban Hinata membuat Kiba mundur selangkah ke belakang. Ia memalingkan wajahnya lalu berkata,

"Huh! bilang saja kamu juga suka Naruto!"bentak Kiba yang kemudian berlari pergi.

"Kiba! tunggu!" Hinata hendak mengejar Kiba namun getar HP nya menghentikan langkahnya. Nama Naruto Uzumaki muncul di layar ponselnya menunggu untuk di jawab.

Hinata mengangkat panggilan telepon dari Naruto. Setelah berbicara sebentar, Hinata mematikan sambungan teleponnya lalu berjalan menuju gerbang depan. Ternyata Naruto sudah menunggunya di depan gerbang sekolah. Akhirnya Hinata batal mengejar kiba. Sebab naruto kalau marah menyeramkan. Saat kejadian naruto merebut kotak bekalnya, hinata sempat membantah lalu naruto membentaknya. Hinata masih sangat ingat ekspresi marah yang ditunjukkan Naruto saat itu sangat menyeramkan. "Sekali lagi kau membantah, aku akan menghukummu!" ucap naruto di tengah kemarahannya. Akhirnya Hinata tidak membantah lagi dan sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tapi kali ini suasananya benar-benar tidak menyenangkan. Hinata bahkan takut hanya untuk memikirkan hukuman apa yang mungkin diberikan naruto padanya kalau dia masih membantah. Soal Kiba, akan Hinata urus nanti, yang penting dia selamat dari kemarahan Naruto.

Meskipun begitu, Hinata tetap tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Pikirannya tetap dipenuhi kejadian tadi besama Kiba. Ia tidak ingin kehilangan salah satu sahabatnya yang berharga. Hinata keluar dengan lesu,muka kusut dan pandangan sedih bercampur bingung. Sebenarnya Naruto menyadarinya tapi ia tidak menanyakan apapun.

"Kenapa lama? ayo cepet naik!" komentar Naruto

"gomen ne.." jawab Hinata lirih

Lalu hinata naik ke motor Naruto tapi kemudian turun lagi dan berlari ke dalam sekolah saat menyadari sesuatu.

"Tunggu sebentar ya?! dompetku ketinggalan!"teriak Hinata yang terus berlari

Naruto hendak menghentikan, tapi Hinata terlanjur pergi.

"hh…firasatku buruk.."gumam Naruto

Hinata terus berlari agar tidak membuat Naruto terlalu lama menunggu. Di persimpangan dekat dengan aula, Hinata mendengar suara tawa yang sangat keras dari beberapa orang. Langkahnya terhenti refleks hinata bersembunyi di balik tembok sambil mengintip siapa yang bicara.

"Hahahaha….jadi kau gagal Kiba?"kata salah seorang dari mereka yang sepertinya bukan murid SMU Shibuka.

"Itu semua kan gara-gara Naruto"kata Kiba nge les

"Hahaha…gagal tetep saja gagal! Dulu kamu yang sesumbar bisa dapetin Hinata! Sekarang mana buktinya?" kata salah seorang dari mereka sambil meledek ke arah Kiba

"itu kan kalau tidak ada Naruto!" bantah Kiba

"Masa' kamu kalah sama Naruto?! Yang jelas kamu harus bayar sesuai kesepakatan taruhan kita."

Hinata berdiri mematung. Ia tidak bisa percaya dengan apa yang barusan di dengarnya. Kiba yang selama ini menjadi sahabat baiknya ternyata tega menjadikannya sebagai objek taruhan. Emosi hinata memuncak. Lalu Hinata mendekati Kiba dengan berusaha menahan air matanya. "KIBA!" bentak Hinata yang kemudian mendekat. "Hi..Hinata..sejak kapan kamu di sini?" tanya Kiba yang jadi salah tingkah."Apa hinata dengar semuanya?" pikir Kiba

PLAK!

Hinata menampar kiba."Brengsek!" kata Hinata yang kemudian pergi

-oOo-

Back sound = Naruto-SAS(Sadness and Sorrow)

Hinata mendekati naruto dengan kepala tertunduk. Ia menyesal sempat khawatir dengan perasaan Kiba. Bagaimana bisa Kiba setega itu padanya? Mereka sudah berteman sejak SMP. Hinata bahkan pernah menaruh perasaan lebih padanya terutama saat dimana Hinata mengalami salah satu masa tersulitnya. Senyuman Kiba saat pertama kali mereka berkenalan dulu sempat berhasil membuatnya jatuh hati. Apalagi saat kiba dengan berani menemaninya dihukum di depan kelas saat Masa Orientasi. Ia sempat senang saat tadi Kiba menyatakan perasaannya. Walaupun ia hanya menganggapnya sebagai sahabat baik kini. Tapi ternyata itu hanya demi sebuah taruhan? Air mata yang sedari tadi Hinata tahan akhirnya berhasil lolos. Hinata menangis. Untuk pertama kalinya dia bersyukur kalah taruhan dari Naruto. Langkahnya terhenti. Ia tidak ingin terlihat menangis oleh siapapun. Tapi beberapa kali menyeka air matanya tetap tidak berhenti mengalir. Naruto yang melihat Hinata, langsung berlari kecil mendekatinya.

"Apa yang terjadi?" tanya Naruto lembut saat sudah berdiri dihadapan Hinata

"hiks..hiks..." Hinata hanya menangis dan menutupkan kedua tangannya ke wajah. Naruto sempat ragu, namun kemudian ia memeluk Hinata berusaha menenangkannya.

"Apa karena Kiba?" tanya Naruto pelan

Hinata terhenyak. Ia bertanya-tanya kenapa Naruto bisa tahu? Tapi hinata tidak menanyakannya dan hanya mengangguk.

Saat Hinata sudah sedikit tenang, Naruto menuntunnya ke motor dan mengajaknya ke suatu tempat

To Be Continue

Emina