TAEHYUNG'S POV

"Hei, semuanya!" sambut Jungkook sambil menarikku ke sebuah meja bundar di perpustakaan, di mana terdapat 5 laki-laki melihat ke arah kami sambil mengangkat alis.

"Siapa itu, Jungkook?" tanya seseorang dari 5 laki-laki itu.

"Hyung, kenalkan. Dia adalah Kim Taehyung, yang sekarang menjadi roommate-ku dan penyihir api baru."

Sebuah bola salju terlempar ke arahku dan mengenai mata kananku. Wow, aku tidak pernah mengira terkena bola salju akan terasa sesakit ini.

"Yo, aku Suga. Aku penyihir es," ucap seorang laki-laki berambut biru mint, "dan ups, maaf."

Mataku disembuhi oleh seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berambut pink. Ia berkata, "Apakah kau tidak apa-apa? Maafkan Yoongi, dia memang selalu seperti itu."

"Siapa Yoongi?"

"Min Yoongi itu nama asli dari Suga. Semua orang memang memanggilnya Suga, tetapi aku selalu memanggil nama aslinya," jelasnya. "Ngomong-ngomong, aku Kim Seokjin, penyihir penyembuhan."

Ketika aku hendak membungkukkan tubuh, tiba-tiba tanah tergoyang dan aku pun panik karena aku kira ada gempa bumi.

"APAKAH ITU GEMPA BUMI? KITA HARUS-"

Tetapi, tiba-tiba berhenti bergoyang. Seokjin hanya tertawa sambil menepuk-nepuk pundakku. "Tenang saja, itu bukan gempa bumi."

"Maaf, semuanya, tadi aku terjatuh," ucap seseorang dengan sweater yang membalut tubuh tingginya.

"Itu Kim Namjoon, dia penyihir tanah. Entah apa yang sedang ia lakukan, sepertinya ia memang terjatuh dan menyebabkan tanahnya tergoyang," kata Seokjin sambil tertawa kecil, "dan dia manis sekali."

Oh hoh, apakah Seokjin mempunyai a thing untuk Namjoon?

Tiba-tiba angin berhembus dengan kencang. "Hei, kau anak baru!" ucap seseorang sambil berterbangan kesana-kemari.

"Oh, hei!"

Dia mendarat tepat di sampingku. "Aku Jung Hoseok, penyihir angin."

"Senang bertemu denganmu, Hoseok sunbae."

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Laki-laki itu bertubuh lebih pendek dariku dan mempunyai pipi yang tembam.

"Apakah kau haus?" tanyanya.

Aku mengangkat alis. Pertanyaannya cukup membuatku tertawa kecil. Aku menjawab, "Eh... agak."

"Kau mau minum?"

"Boleh saja."

Laki-laki itu mengambil gelas dari atas meja, kemudian menuangkan air dari tangannya sendiri. "Nih," katanya sambil memberiku gelas itu.

Aku meminum air itu. Laki-laki itu hanya tertawa canggung sambil mengusap leher bagian belakangnya. "Maaf jika aku sangat random. Aku Park Jimin, penyihir air."

Jimin memang mempunyai wajah yang imut dan lucu, tetapi... wah, badannya cukup kekar. Lihat saja pembuluh darah yang muncul di permukaan kulitnya. He's a real man.

"Hyung, kau sebaiknya panggil mereka semua dengan hyung, kecuali Jimin hyung, dia seumuran denganmu."

"Kenapa? Bukankah seharusnya aku panggil mereka dengan sunbae?"

"Kau akan berada di lingkaran pertemanan kami."

"Tunggu dulu, Jungkook," kata Hoseok, "kau yakin anak ini masuk ke dalam grup kita? Maksudku, kita bahkan belum mengenal dia dengan baik."

"Kenapa tidak? Aku suka dengannya," ucap Seokjin dan Yoongi.

"Dia terlihat baik kok," kata Jimin.

Ah, aku merasa terhormat. Tetapi tiba-tiba saja Hoseok sudah berada di depanku dan melihatku dari kepala sampai kaki, seakan-akan sedang menghakimi penampilanku. Jujur saja, aku takut kalau Hoseok tidak akan menyukaiku sebagai temannya, tetapi aku salah.

"Kim Taehyung, selamat datang di BTS!!" ucapnya sambil memelukku dengan erat.

"Ah, terima kasih. Aku merasa terhormat berada dalam satu lingkaran pertemanan dengan senior-seniorku, seseorang sebayaku, dan kepala mahasiswa sekolah ini," kataku sambil tersenyum.

"Apakah kau murid pindahan atau junior tahun pertama?" tanya Namjoon.

"Murid pindahan. Aku dipindahkan dari Gangbo ke Seolbi."

"Seperti apa sekolah lamamu?" tanya Hoseok.

"Cukup menyenangkan, tetapi tidak terlalu spesial. Sekolah lamaku tidak dikhususkan untuk para penyihir seperti Yeol-Woo, tetapi juga didirikan untuk makhluk mistik lainnya, seperti monster, malaikat, peri, iblis, kurcaci, dan lainnya."

"Lho, bukankah itu justru spesial? Sekolah lamamu terdengar sangat menyenangkan, apalagi kau juga berinteraksi dengan makhluk-makhluk itu," kata Jimin.

"Memang kami berinteraksi dengan makhluk lain, tetapi sekali kau bermasalah dengan mereka, akan ada perperangan antara jenismu dengan jenis mereka. Aku pernah terlibat dalam perperangan penyihir vs. iblis karena ulah temanku."

Mereka terlihat terkejut dan mata mereka yang terbuka lebar. Ekspresi mereka adalah campuran dari 'wow itu keren sekali' dan 'wow itu mengerikan'.

"Ngomong-ngomong aku ingin melihat kemampuanmu," kata Yoongi, "lelehkan kepingan salju ini."

Kepingan salju yang Yoongi tunjukkan bukanlah kepingan salju biasa, melainkan kepingan salju yang sangat besar. Aku mulai mengucapkan mantera yang aku pelajari di sekolah lamaku. Sebuah api mulai muncul dan aku juga mulai melelehkan kepingan salju itu. Karena api itu tidak cukup kuat, aku mengucapkan mantera lain.

Oh akhirnya kepingan salju itu meleleh juga.

"Keren," kata Yoongi, "bagimana bisa tidak pernah ada penyihir api di grup ini?"

"Taehyung daebak," kata Seokjin, "kau bisa membuat Yoongi memujimu."

"Maksudnya?"

"Yoongi tidak pernah memuji apapun dan siapapun, kecuali untul hal-hal yang memang ia anggap menakjubkan atau luar biasa."

Yoongi tertawa kecil. "Oh ayolah, aku tidak pernah berteman dengan penyihir api. Kau tahu sendiri penyihir es tidak mempunyai hubungan yang cukup baik dengan penyihir api."

Aku mengangkat alis. "Benarkah? Kenapa?"

"Dulu pernah ada perperangan antara penyihir api dan penyihir es. Kejadiannya memang sudah lama sekali di masa lalu, tetapi dampaknya cukup parah," jawab Yoongi, "sampai-sampai senior kami tidak memperbolehkan kami untuk berteman dengan penyihir api. Tetapi setelah senior-senior itu lulus, kami diam-diam berinteraksi dengan penyihir api."

"Oh, syukurlah."

"Memangnya kenapa? Apakah ada penyihir es yang membuatmu tertarik?" tanya Hoseok.

"T-Tidak. Aku bahkan tidak tahu siapa-siapa di sekolah ini selain kalian."

Bel tiba-tiba berbunyi. Raut muka para hyungs menjadi sangat ceria.

"Yo, waktunya makan malam! Ayo ke kantin," kata Yoongi yang langsung pergi meninggalkan perpustakaan.

"Makan bersama kami, Taehyung," kata Jimin.

"Oh, ya, tentu saja," balasku.

Mereka semua pun pergi menuju kantin, tinggal aku dan Jungkook yang menatapku sambil smirking.

"Jujurlah padaku, hyung."

"Tentang apa?"

"Apakah kau tertarik dengan salah satu penyihir es?"

Aku menelan ludah. "T-Tidak. Kan aku sudah bilang, aku tidak mengenal siapa-siapa selain kalian."

"Aku tahu kau berbohong."

Aku menghela napas. "Kau tidak akan berhenti bertanya sampai aku menjawab pertanyaanmu ya?"

Jungkook mengangguk dengan semangat. Ah, aku tidak tahan dengan kelucuan anak ini.

"Baiklah, aku beritahu," kataku, "dan sebenarnya bukannya aku tertarik, tetapi tadi aku melihat seorang gadis yang sangat cantik di sekitar Gedung Es."

"Apakah kau yakin dia penyihir es?"

"Dia mempunyai rambut berwarna putih-biru dan dia bisa membuat kepingan salju. Apakah dia tidak terdengar seperti penyihir es?"

"Omo, hyung," ucap Jungkook yang tiba-tiba melebarkan matanya.

"Ada apa?"

"Kau baru saja jatuh hati pada gadis terdingin di sekolah ini," katanya, "dan gadis itu bernama Kim Dahyun."