Naruto by Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC(maybe), alur kecepetan, dll.

Pair: SasuSaku

Mohon maaf jika ada kesalahan dlm penulisan, senpai (_ _) *sungkem*

Summary:

Baik bintang maupun manusia awalnya hanyalah titik-titik yang terpisah. Begitu mereka saling berhubungan, cerita pun akan tercipta. / Perasaan ini tersampaikan pada waktu yang salah. Aku harap dia kembali. RnR?

Chapter 2

.

.

.

Roda kehidupan terus berputar. Kesedihan datang menghapiri tak peduli kita siap atau tidak menyambutnya. Kini Sakura Haruno harus siap menerima kenyataan bahwa orang-tuanya telah berpisah. Hak asuhnya jatuh ketangan sang ibu.

Sakura sudah cukup dewasa untuk mengerti apa arti perceraian. Keluarga harmonis yang diidamkan semua orang hanyalah sebatas angan. Dalam hati ia menerimanya, menerima takdir ini. Akan lebih perih lagi jika ibunya terus diselimuti kesedihan.

Sakura tidak menyangka, kelakuan lelaki bisa sekeji ini. Menelantarkan anak dan istrinya ketika mendapat kesenangan yang baru. Merubah ulang pola pikir Sakura tentang kehidupan, benar ini saatnya dia berada diposisi bawah. Posisi pahit kehidupan.

Pergi meninggalkan kota Konoha, meninggalkan jejak-jejak kesedihan. Ia masih ingat betul bagaimana raut kekecewaan ibunya saat mengetahui kelakuan asli ayahnya selama ini dengan sekretarisnya. Tinggal di rumah sederhana, sebut saja apartemen. Tidak mudah menemukan rumah di kota besar tanpa perencaan yang matang. Yang terpenting adalah hati, yang tentram dan menghapus segala duka.

Sakura telah terdaftar sebagai siswi sekolah menengah atas di Tokyo, kota tempat tinggalnya yang baru. Kota metropolitan yang penuh kelap-kelip. Sekolah baru, seragam baru, teman-teman baru, persaingan baru, jalan pulang baru, tempat bermain baru, dan banyak hal lainnya. Bukankah sekolah adalah rumah kedua? Ia sangat tidak sabar.

Pagi ini dijalani dengan penuh semangat, semuanya berjalan dengan lancar. Tidak terlambat bangun, tidak juga tersesat. Dia juga dengan mudahnya menemukan ruang guru setelah bertanya kepada petugas keamanan.

"Selamat pagi. Sa-salam kenal. Nama saya Sakura Haruno. Saya berasal dari Konoha. Mohon bantuannya.." Sakura membungkukkan badannya saat pengakhiri perkenalannya. Tangannya terasa dingin setelah mengucapkan semua ini di depan kelas. Dikelasnya, dia mendapat teman-teman baru yang cukup ramah. Namun dia belum bisa berbaur dengan murid laki-laki. Mungkin butuh beberapa waktu lagi, dia bukanlah tipe pendiam. Jalan pulangnya banyak dihiasi dengan toko-toko yang berjejer. Apa ada taman di kota sibuk ini?

Rasanya rumah tidak terasa makin dekat setelah berjalan sejauh ini. Akhirnya Sakura baru menyadari, dia tersesat. Tak pernah terpikirkan setelah dia sukses sampai di sekolah pagi tadi, sorenya akan seperti ini. Berbagai belokan sudah dia coba, kadang ragu karena rasanya semakin asing atau bingung karena kembali lagi ke jalan yang pernah dilewati.

Senja hampir datang. Sakura benar-benar panik. Kakinya juga terasa pegal dan sakit. Enggan rasanya untuk bertanya, di kota ini semua berjalan lurus dengan langkah yang cepat. Rasa sungkan untuk mengganggu aktivitas mereka. Di jalan yang masih terasa asing, dia menemukan sebuah taman kecil. Terbilang kecil jika dibandingkan taman-taman di kota asalnya.

Hal yang tak terduga kembali lagi dia rasakan. Menemukan sosok pemuda berbaju seragam sekolah di sebuah taman. Rasanya tidak ingin menyamakan kejadian ini dengan yang telah lalu. Namun tak dapat dipungkiri, sosok yang kini ada didepannya identik dengan..

"Ano, maaf mengganggu. Aku tersesat, a-aku baru disini, lalu aku, aku boleh minta tolong padamu?" ucap Sakura, tanpa menegur seseorang yang dikenalinya. Ia takut dugaannya salah, bisa saja hanya kebetulan mirip. Yang terpenting adalah jalan pulang.

"Hn. Mana alamatnya?" jawabnya dengan dingin. Sangat diragukan kalau dia ikhlas menolong gadis malang ini. Sangat berharap kemuliaan hatinya bisa terbuka.

"Aku lupa meminta nama alamat pada ibu. Hm.. Begini, aku tinggal di sebuah apartemen. Ya, apartemen! Didekat jalan menanjak, ada minimarket juga." jelas Sakura seadanya. Dia hanya diam, tampak berpikir.

"Keteranganku masih kurang membantu ya.."

"..."

"A-aku.. Benar-benar tidak tahu apa-apa lagi... Maaf merepotkanmu. Kau bisa pergi sekarang kalau kau mau." ucap Sakura pasrah seraya menunduk. Bagaimana mungkin ada yang mau mengantarkannya ke arah yang tak pasti, buang-buang waktu saja. Pemuda yang masih berseragam sekolah itu melangkah pergi. Sakura menahan tangisannya setidaknya sampai orang itu benar-benar pergi.

"Ikuti aku." dua kata yang sangat mengejutkan. Dengan cepat dia menyusul langkah pemuda itu. Sangat bersyukur pada Kami-sama yang telah melelehkan hati es untuk menolongnya.

Sakura hanya terdiam selama perjalanan. Cukup jauh, rasanya ingin bertanya apakah dia sudah tau tempatnya apa masih mencari. Dia percaya laki-laki itu adalah anak baik, akan membawanya ke rumahnya bukan ke markas penjahat atau apalah. Apa ada penculik setampan ini?

Akhirnya jalan yang Sakura kenal mulai nampak, ajaib sekali orang ini bisa mengantarnya dengan benar. Senyuman tercetak dalam wajahnya. Pemuda itu mengantarnya persis didepan apartemen.

"Terima kasih banyak, kamu sangat membantuku. Perkenalkan. Aku Sakura Haruno. Namamu siapa?"

"Sasuke Uchiha" ucapan itu adalah pemastian bagi dugaan Sakura sejak ditaman tadi. Torehan masa lalu pun menguar. Sebelum hal itu terucapkan, ibu Sakura muncul tiba-tiba.

"Sakura-chan! Kemana saja kamu?! Malam-malam begini baru sampai rumah? Ibu khawatir, sayang.." pelukan ibunya langsung dirasakan Sakura.

"Aku tersesat, Bu. Uchiha-san telah mengantarku pulang"

"Selamat malam, oba-san. Nama saya Sasuke Uchiha." bungkuk Sasuke hormat.

"Maafkan putriku yang merepotkanmu. Sasuke ikut makan malam bersama ya? Mohon jangan ditolak. Sakura, ajak dia masuk apartemen." kata Ibu Sakura yang langsung masuk ke dalam gedung apartemen.

Dengan bisu Sakura berjalan memasuki apartemen diikuti oleh Sasuke. Dalam hati Sakura lega karena Sasuke mau menurut. Setidaknya rasa terimakasihnya dapat tersampaikan jika Sasuke ikut makan malam bersama.

Berbagai macam makanan tersaji di meja makan. Meski sederhana namun sangat menggugah selera. Hari sudah semakin malam, ibu Sakura menanyakan perihal tempat tinggal kepada Sasuke.

"Aku juga tinggal di apartemen ini, dua pintu sebelah kanan dari kamar ini. Aku tinggal sendiri, kedua orang tuaku sudah tiada dan kakaku sedang mengurusi pekerjaannya." jelasnya.

"Benarkah? Kalau begitu jangan sungkan-sungkan datang kemari." balas ibu Sakura ramah.

Sakura tahu dia tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Kejadian sore tadi hingga makan malam tadi terus membayanginya. Tidak menyangka dirinya akan bertemu lagi dengan Sasuke.

Keadaan cepat berubah seiring dengan berjalannya waktu. Perasaan Sakura tetap sama, apakah salah jika dia masih tetap berharap?

TBC

Review?