Naruto ยค Masashi Kishimoto
Heart
Heart bab 2
DEG
"Apa katamu? Aku murahan?" teriak Sakura di depan wajah Sasuke.
Sasuke yang mendapat teriakan keras dari Sakura hanya mendengus pelan dan menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura.
"Hn. Kau mu-ra-han, nona Haruno!" kata Sasuke yang kini berbalik membelakangi Sakura -menghadap hamparan kota yang terlihat dari atap sekolah yang dipijakinya.
"Tarik kembali kata-katamu itu, cupu? Berani sekali kau sekarang denganku, hah!" timpal Sakura yang mendorong kasar bahu Sasuke untuk memaksanya menghadap ke arahnya.
"Buat apa? Toh, itu semua benar, kan?" kata Sasuke datar dengan wajah tenang yang selama ini dimilikinya.
Selama setahun ini sejak ia sekelas dengan Sakura, Sasuke cukup sabar. Sudah banyak puluhan bahkan ratusan bully-an yang dilakukan gadis dihadapannya ini kepadanya. Selama itu, ia tak pernah melawan ataupun memberontak. Tapi kali ini, kesabarannya sudah habis.
Seorang Uchiha yang dulunya selalu dipuja bahkan dihormati kini diinjak-injak harga dirinya oleh gadis ingusan yang manja dan kekanak-kanakan.
Andai gadis itu tahu kalau dia seorang Uchiha, pasti perempuan itu tak akan berani membully-nya. Dirinya yakin, jika ia menunjukkan identitasnya, gadis dihadapannya ini pasti akan mengejar-ngejar dirinya dengan mata yang berseri-seri ria seperti ia melihat pangeran berkuda putihnya.
'Cih, mudah ditebak!' pikirnya sombong.
Sasuke -sang Uchiha bungsu- terpaksa menyamarkan identitasnya karena ingin hidup tenang. Tapi nyatanya, rencananya sia-sia. Bukan kehidupan tenang yang ia dapatkan melainkan suatu hal yang korban-korbannya dulu pernah rasakan.
Ya, pembully-an.
Dulu, waktu dia duduk di bangku SMP, ia menjadi orang yang populer di kalangan remaja seusianya. Wajahnya yang tampan dan auranya yang memikat membuat ia menjadi pangeran sekolahnya dulu. Hampir setiap hari, ia dikerubungi dan mendapatkan hadiah yang menurutnya menjijikkan dari para fansnya yang mayoritas perempuan itu. Setiap ia melangkah, ia sama sekali tak mendapat kebebasan.
Tak si rumah.
Tak di sekolah.
Semuanya sama.
Ia ingin sekali menghirup udara kebebasan. Dan pernah terlintas ia ingin menjadikan dirinya seperti ini. Ya, semuanya sudah terkabul. Tapi, lagi-lagi ia harus berusaha lagi tuk bersabar.
Lulus SMP, ia mulai pindah bersama orang tuanya. Karena tuntutan kerja sang ayah yang bekerja sebagai seorang dokter dan harus dipindahtugaskan ke luar kota, akhirnya ia terpaksa harus ikut karena ia tak mungkin tinggal di kota Amegakure yang ia yakini ia tidak mempunyai sanak saudara disana.
Ya, dia dulu tinggal di Amegakure dan sekarang ia menetap tetap di Konoha.
Dulu, ia suka sekali membully orang-orang yang menurutnya mengganggu dan penakut. Melihat ketakutan yang dipancarkan dari wajah orang-orang yang dibully-nya itu menjadi kesenangan tersendiri bagi Sasuke.
Bersama Naruto -sahabat dari kecilnya, ia melakukannya dengan senang hati. Sahabatnya itu begitu sama dengan dirinya. Hanya berawal dari keluarga, mereka menjadi badungan seperti itu.
Tapi, Sasuke pernah berpikir. Mungkin ini semua adalah karma. Dulu perbuatan yang dilakukannya kini dilakukan oleh Sakura. Dirinya kini merasakan apa yang dirasakan korban-korbanya.
'Ternyata tidak mengenakkan,' begitulah pikirnya.
Dan sekarang, ia tidak akan menuruti semua perkataan yang dikatakan oleh gadis di depannya itu.
"Dengar ya, cupu! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja karena hal ini! Akan kupastikan kau akan menyembah -memohon kepadaku karena perbuatan yang telah kau lakukan itu!" desis Sakura yang tengah mencengkeram kerah baju Sasuke kuat.
"Buktikan, kalau kau bisa!" timpal Sasuke lirih sambil menatap intens emerald Sakura.
Dengan seringai yang dulu selalu ditunjukkannya, kini ia memunculkannya kembali di hadapan seorang Haruno Sakura.
"Cih!" umpat Sakura kasar dan melepaskan genggaman kasarnya pada kerah Sasuke. Sakura begitu muak dengan culun yang satu itu! Berani sekali dia sekarang!
"Awas ya, cupu!" teriak Sakura yang mendorong bahu Sasuke kasar sampai-sampai Sasukrme berhasil menggeser kakinya mundur beberapa langkah.
Sasuke sudah meninggalkannya dengan bantingan pintu kasar. Dirinya kemudian mendecih pelan.
'Haruno! Cih!'
Sasuke masuk ke kelasnya dalam tenang. Beberapa pandangan, menusuknya tajam. Berbagai pandangan 'berani sekali kau ini!' juga ia dapatkan hampir di penjuru penghuni kelas XII A itu.
Ketika akan duduk di bangkunya, sebuah kaki tiba-tiba menjulang di hadapannya. Untung dengan sigap ia bisa menghindarinya. Kalau tidak, bisa-bisa ia sudah jatuh terjerembab di lantai yang dipijakinya itu. Sedikit melirik, ternyata Sang Pangeran KHS-lah yang telah melakukannya. Disampingnya, sang primadona tengah menyeringai licik.
Tak ingin ambil pusing, ia akhirnya melangkahi kaki tersebut dan mendudukkan pantatnya di kursinya.
Sebentar lagi, guru terkiller di sekolahnya akan masuk. Ia tak ingin mencari gara-gara dengan dua makhluk di hadapannya. Bisa-bisa, urusannya semakin runyam.
"Ohayou..."
Tiba-tiba pintu terjeblak lebar. Menampilkan seorang laki-laki yang sudah terkenal sejak dulunya di sekolah itu karena kekejamannya -bukan kejam lebih tepatnya guru galak plus sangar.
"Ohayou, sensei!" ucap mereka serempak.
Tubuh-tubuh yang tadinya rileks kini terlihat menegang karena gugup. Suara-suara kecil yang tadi berbaur menjadi satu kini hilang tak berbekas.
"Kumpulkan tugas yang kemarin! Sasuke, ambil buku mereka semua!" kata sang sensei -Orochimaru- selaku guru matematika terkiller mereka.
Sasuke yang merupakan asisten Orochimaru a.k.a murid kesayangannya pun bangkit berdiri. Diambilnya satu per satu buku yang telah berisikan tugas-tugas yang diberikan Orochimaru-sensei.
Ketika akan mengambil buku Sakura. Gadis itu tiba-tiba menjatuhkan buku tugasnya di dekat kakinya. Sontak perlakuan Sakura membuat rahang Sasuke mengeras.
"Ambil, cupu!" ucap Sakura santai.
Lama Sasuke berdiri. Sang guru pun sudah memanggilnya -tanda tak sabar karena menunggu Sasuke yang tak kunjung memberikan buku-buku tugas murid-muridnya.
Dengan setengah hati, Sasuke akhirnya menunduk -mengambil buku Sakura.
"Ingat, cupu! Kau akan lebih menunduk dan mencium kakiku lain kali. Ini belum seberapa!" bisik Sakura diiringi seringai dari Garaa yang sudah duduk di samping jendela -tempat yang sebelumnya ditempati Sakura.
" Kita lihat saja nanti, Haruno! Siapa yang akan mencium kaki siapa? Aku atau kau!" timpal Sasuke yang kemudian berbalik menuju meja Orochimaru-sensei.
Sakura sedikit meringis dan kemudian menyeringai kecil.
'Menarik,' pikirnya.
Dan dengan hal itulah, kini bendera perang mereka kibarkan berdua.
TBC
Saki_ Ini udah lanjut. Tapi kalau masalah panjang, aku nggak bisa . gomene..
Rara_ ini udah lanjut XD
NN_yah, mau gimana lagi. Itu udah menjadi bagian alurnya. Hehe
Laler_bzzzt! Bzbzbzbt... XD
Nggak tahu bahasa kamu aku.. hhh
UchiHaruno Misaki_Ini udah lanjut. JFY kapan ya? Udah aku buat sih, tinggal publish. Doain aja ya biar bisa update JFY. Hehe.
Ok. Terima kasih atas revieuw, fav, dan follow kalian. Maaf kalau ceritaku kurang memuaskan.
Sign,
Trie rake-chan :D
