Di dalam kegelapan, Ichigo mencoba untuk bangkit. Tak bisa, tubuhnya rasanya remuk, dan sialnya saat itu dia tidak memakai jaket untuk melindunginya dari gesekan aspal jalan. Sedetik kemudian Ichigo merasakan pandangannya mulai kabur, sang pemuda tersenyum miris. "Maaf Rukia."

Bleach : Tite Kubo

"Trust Me"

.

.

.

.

"Pada akhir zaman Heian, bermunculan berbagai klan samurai. Empat samurai yang paling kuat adalah klan Minamoto, klan Taira, klan Fujiwara dan klan Tachibana. Memasuki akhir abad ke-12, konflik antar klan berubah menjadi berbagai perang saudara..." suara Urahara-sensei terdengar bersemangat menerangkan Sejarah Jepang kepada murid-murid yang mungkin sebagian dari mereka terlihat bosan dan memasang wajah acuh tak acuh ataupun memasang wajah penuh konsentrasi.

Kuchiki Rukia memang terlihat menyimak pelajaran Sejarah yang diberikan oleh Urahara-sensei, terbukti dengan kristal violet miliknya yang terus menatap buku bersampul biru yang tergeletak manis di atas mejanya. Tak ada yang mengetahui bahwa sekarang pikiran gadis mungil itu sedang bekelana, memikirkan 'mantan' kekasihnya yang sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya. Sesekali ia melirik jam dinding di atas papan tulis ataupun pintu masuk, mungkin saja pemuda berambut orange itu datang terlambat karena suatu hal, misalnya saja bangun kesiangan.

Rukia tersentak. Kenapa lagi-lagi ia harus memikirkannya? Astaga! Ini tidak boleh terjadi. Rukia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan mencoba mengabaikan rasa cemas yang sedari tadi menggerogoti jiwanya.

"Srek"

Suara pintu bergeser sewaktu dibuka membuat seluruh perhatian penghuni kelas, tak terkecuali Rukia, beralih menatap seseorang yang baru saja datang. Grimmjow Jaegerjaques masuk dengan tampang lusuh, rambut biru terangnya terlihat berantakan dan di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka gores yang sepertinya baru saja diperban.

Pemuda itu berjalan menghampiri Urahara-sensei yang masih mengerutkan dahi. "Maaf sensei, saya datang terlambat."

"Ano, Jaegerjaques-san apa yang terjadi padamu? Kelihatannya kau kurang sehat, lebih baik kau pergi ke UKS sekarang."

"Tidak apa-apa sensei. Saya hanya terjatuh dari tangga," jawab Grimmjow singkat dan semakin membuat kening Urahara Kisuke berkerut. Tapi sepertinya dia tak mempermasalahkan hal tersebut, dan menyuruh Grimmjow untuk kembali ke tempat duduknya, sementara ia meneruskan pelajaran yang tadi sempat tertunda beberapa detik.

Rukia mengernyitkan alis, alasan Grimmjow benar-benar tak masuk akal. Diam-diam ia melirik tempat duduk Grimmjow yang berada di pojok ruangan, dan sekarang sang pemilik tempat duduk tengah tersenyum menatap dirinya. Rukia hanya tersenyum tipis dan kembali menatap buku di hadapannya sebelum ia dikeluarkan dari kelas dengan cara yang tidak hormat.

.

.

.

.

Pelan-pelan Rukia menghabiskan sekotak bentou yang ia bawa dari rumah. Angin musim dingin terasa begitu menusuk di tangan dan tubuh mungilnya, tapi sepertinya ia tak peduli. Rukia menantikan pelukan angin dingin ini untuk membekukan perasaannya. Ya, sudah dua hari ini tak ada yang menemaninya untuk makan siang di atap sekolah. Biasanya Ichigo akan duduk di sampingnya, memakan sebungkus roti kesukaannya sambil menatap Rukia. Lalu setelah itu, seperti biasa Rukia merasakan wajahnya panas dan mulai memukul Ichigo hingga adu mulut pun tak dapat dihindarkan. Gadis mungil itu tersenyum tipis, sepertinya ini akan menjadi hal yang rumit karena menurutnya kenangan bersama Ichigo sulit untuk dihapus dari pikirannya.

Makanan di kotak bentou sudah dingin, ketika ia tersadar dari lamunannya. Indra pendengaran gadis itu mendengar seseorang memanggil namanya.

"Kuchiki-san,"

Sepasang mata ametys milik Rukia menatap Nell yang kini tengah berdiri di depan pintu menuju atap sambil tersenyum ke arahnya. Gadis cantik itu membawa sekotak bentou dengan tempat berwarna hijau, persis seperti warna rambutnya. "Boleh aku makan disini?" tanyanya dan dijawab Rukia dengan sebuah anggukan.

"Ne, Kuchiki-san kau benar-benar putus dengan Kurosaki?" tanya Nell dan sukses membuat selera makan Rukia menghilang, walaupun sekarang di hadapannya ada sekotak bentou yang berisi sandwich isi timun dan telur kesukaanya.

"Ya," jawab Rukia sambil tersenyum tipis.

"Kau percaya pada legenda itu?" tanya Nell sekali lagi dan membuat Rukia menganggukkan kepalanya dengan mantap.

Gadis berambut hijau tosca itu menghela nafas. "Kulihat hubunganmu dengan Kurosaki baik-baik saja. Jangan hanya karena legenda itu, kau memutuskan hubungan dengannya. Kau tahu, hubunganku dengan Ashido memang kurang baik, lalu kami memutuskan untuk mencoba legenda itu, untuk mengetahui apakah takdir masih berpihak pada kami atau tidak."

"Kau salah Nell, hubunganku dengan Ichigo memang tidak baik apalagi setelah melihatnya berpelukan dengan gadis itu di perempatan Shibuya," ujar Rukia menerawang.

Nell tersenyum lalu memegang tangan Rukia erat. "Kau tahu waktu itu aku melihat Kurosaki berdiri di tepi perempatan dengan alis berkerut, wajahnya menampakkan ekspresi tidak suka dan ia menggerutu tak jelas. Aku hampir tertawa melihat ekspresinya, sesaat setelah lampu berubah menjadi hijau, ia berlari ke seorang anak perempuan berambut ungu yang terjatuh di omotesando. Kau tahu apa artinya? Kau dan Kurosaki belum mencoba legenda itu, memang kau sudah berjalan melewati perempatan Shibuya, tapi Kurosaki belum melakukannya karena ia mendadak menolong anak perempuan itu. Takdir belum berbicara Kuchiki-san."

"Benarkah itu Nell? Lalu kenapa Ichigo memeluk gadis itu?"

Nell mengangkat bahu. "Sebaiknya kau berbicara dan mendengarkan penjelasannya. Mungkin saja kau salah paham. Aku yakin Kurosaki sangat mencintaimu, dia rela melakukan apa saja untuk membuatmu tersenyum Kuchiki-san, seperti saat dia menerima tawaranmu untuk mencoba legenda itu. Walaupun dia tak suka, dia tetap melakukannya."

Rukia tersentak. Pikirannya kembali mengingat ekspresi Ichigo yang menunjukkan ketidaksukaan saat dirinya mengajak mencoba legenda itu, namun Rukia mengabaikannya, karena saat itu yang ada dipikirannya adalah benar atau tidaknya legenda perempatan Shibuya. Ya Nell benar! Selama ini Ichigo selalu menuruti kemauannya dan mengerti dirinya. Rukia bodoh, kenapa ia tak sadar dengan hal seperti itu dan lebih memilih percaya pada legenda aneh yang belum pasti kebenarannya?

"Jadi?" tanya Nell menunggu respon dari gadis mungil dihadapannya yang mungkin kini tengah kebingungan.

"Pulang sekolah nanti aku akan ke rumah Ichigo dan meminta maaf. Terima kasih Nell. Kau memang baik," kata Rukia tersenyum tulus.

.

.

.

.

Jarum jam dinding di depan kelas seolah tak bergerak dan berputar. Pelajaran terakhir yang tinggal lima menit, benar-benar membuat Rukia tak sabar. Bukan karena ia tak menyukai pelajaran Bahasa Jepang Modern ataupun Ochi-sensei yang menerangkannya, namun keinginannya untuk bertemu Ichigo dan meminta maaf membuatnya tak bisa berkonsentrasi seperti biasanya.

Suara bel sekolah membuatnya hampir terlonjak mungkin karena kaget ataupun kegirangan. Setelah mengucapkan salam pada Ochi sensei, buru-buru Rukia memasukkan semua buku-buku pelajaran terkahir ke dalam tas berwarna biru gelap itu. Kegiatannya terhenti saat ia merasakan lengan kirinya ditarik seseorang. Rukia menoleh dan mendapati sepasang mata biru milik grimmjow menatapnya dengan khawatir. "Ada apa? Aku sedang terburu-buru Grimm."

Grimmjow menarik nafas sebentar. Sepasang mata biru miliknya terlihat tak seperti biasa. Sorot matanya seolah menyampaikan penyesalan. Entah itu apa, jujur Rukia tak ingin ambil pusing soal itu. Namun sepersekian detik kemudian, kalimat yang keluar dari mulut Grimmjow membuat dunianya seakan runtuh. Tubuh mungilnya bergetar dan ia tak bisa menahan air mata yang tiba-tiba saja melesak keluar dengan derasnya.

"Ichigo kecelakaan."

.

.

.

.

Derap langkah kaki Rukia bergema di lorong-lorong rumah sakit berwarna putih pucat itu. Beberapa orang melihatnya dengan pandangan heran dan kening berkerut-karena memang berlari di lorong rumah sakit itu dilarang dengan alasan mengganggu ketenangan, namun Rukia tak peduli. Baginya sekarang, Ichigo lebih penting.

"Ichigo kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit Karakura di kamar nomor 910. Kemarin lusa aku menolongnya ketika ia terjatuh dari motor akibat razia polisi di Akihabara. Dan aku harus menunggu dan memastikan polisi-polisi brengsek itu pergi terlebih dulu, sebelum aku membawanya ke rumah sakit. Kau boleh marah Rukia, memang semua itu salahku-mengajak Ichigo balapan liar padahal aku tahu dia sudah tidak lama melakukannya, tepatnya sejak enam bulan yang lalu sejak kau menerima pengakuan cintanya. Aku benar-benar minta maaf. Tetapi satu hal yag harus kau tahu, Ichigo mencintaimu, mencintaimu lebih dari apapun dan jangan kau ragukan hal itu."

Kata-kata Grimmjow saat pulang sekolah tadi terus terngiang di telinga Rukia. Nafasnya sesak karena terus berlari, sementara air matanya tak kunjung mau berhenti. Gadis mungil itu terus berpikiran bahwa semua yang terjadi adalah murni kesalahannya. Seharusnya ia tak mengajak Ichigo untuk mencoba legenda itu, seharusnya waktu itu ia tak memutuskan Ichigo tanpa mendengarkan alasan pemuda itu dan seharusnya-

Sedetik kemudian berbagai hal dan pikiran yang berkecamuk di otak Rukia mendadak hilang karena tak sengaja sepasang mata ungunya melihat seorang gadis yang tak begitu asing, baru saja keluar dari kamar nomor 910. Tidak salah lagi! Gadis itu, gadis berambut ungu yang dipeluk Ichigo di omotesando dekat perempatan Shibuya kemarin lusa. Lalu kenapa ia ada di sana?

Seperti Rukia, gadis yang bernama Senna itu sedikit terkejut melihat seorang gadis mungil berambut raven hitam, pipinya yang putih masih menampakkan bekas air mata yang mungkin belum dihapusnya, matanya bulat, besar dan indah. Tak lama kemudian ia tersenyum, inikah yang dimaksud sepupu bodohnya itu-gadis mungil yang selama ini membuat seorang Kurosaki Ichigo yang imun terhadap gadis-gadis mendadak berubah dan nekat berbuat apa saja?

"Kau Kuchiki Rukia?" tanya Senna ketika baru beberapa detik yang lalu ia sampai di hadapan Rukia yang masih terlihat bingung harus berbuat apa. Dan Senna tahu, ia harus melakukan sesuatu. Ya, sedikit bersenang-senang tak apalah, hitung-hitung sedikit pembalasan pada gadis mungil itu akibat perlakuannya pada Ichigo, sepupunya.

Rukia sedikit tersentak, gadis manis itu mengetahui nama lengkapnya. "Bagaimana kau ta-"

"Ichigo yang menceritakannya padaku. Perkenalkan aku Senna, sepupu Ichigo dari Kyoto. Kenapa kau baru datang sekarang Kuchiki-san? Ichigo sangat membutuhkanmu sejak dua hari yang lalu ia dirawat disini, tapi sekarang ia-" Senna tak meneruskan perkataannya dan lebih memilih untuk menunduk, menatap lantai rumah sakit berkeramik putih yang terlihat bersih itu.

Deg! Rukia harap indra pendengarannya tadi sedang tak berjalan normal dan salah menangkap sumber bunyi dari perkataan Senna barusan. Jujur kata-kata itu membuat ia takut, sangat takut. Oh Kami-sama, apa Ichigo? Tidak! Rukia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan berusaha menahan tangisnya yang memaksa untuk keluar lagi. Kaki mungilnya segera mengambil langkah seribu, berlari meninggalkan Senna dan langsung membuka paksa pintu kamar nomor 910, mengakibatkan sedikit suara gaduh.

"BRAAK"

Kristal violet itu membulat tatkala melihat sosok orang yang begitu dikasihi dan dicintainya terbaring di atas ranjang. Beberapa bagian tubuhnya diperban, dan matanya, mata coklat musim gugur yang selalu menghangatkannya kini terpejam. Gadis mungil itu mengambil langkah untuk mengamati dan melihat lebih dekat.

Kerutan permanen di dahi Ichigo tak berubah, bahkan saat dia sedang tertidur atau-. "Ichigo bangun! Kau dengar aku? Jangan seperti ini, jangan membuatku takut," seru Rukia sambil memeluk Ichigo erat, membenamkan kepalanya di dada bidang milik Ichigo yang terbalut pakaian rumah sakit berwarna biru langit. "Maaf, maafkan aku. Seharusnya aku percaya padamu, bukan pada legenda konyol itu. Bangun mikan bodoh! Jangan tinggalkan aku," tangis Rukia pecah.

Sedetik kemudian, Rukia merasakan ada tangan seseorang yang mengusap rambutnya dengan lembut dan saat itu juga Rukia mendengar detak jantung Ichigo yang tidak normal-karena berdetak begitu cepat. Mata violet besarnya perlahan mendongak dan mendapati kekasihnya sedang tersenyum mengejek ke arahnya. "ICHIGOO BODOHH."

BUUK!

"Aww, apa yang kau lakukan Rukia pendek? Beginikah sikapmu pada seorang pasien? Lenganku ini masih sakit, kenapa kau pukul bodoh?" seru Ichigo terduduk sambil mengusap lengan kanannya yang terbalut perban.

"Itu salahmu, kau membohongiku dengan berpura-pura mati," elak Rukia sambil berkacak pinggang. Seperti biasa ia tak akan pernah mau kalah.

"Hei, siapa yang berpura-pura mati? Aku tadi sedang tidur dan kau tiba-tiba saja masuk dan membuka pintu dengan kasar lalu mengguncang-guncang tubuhku. Sebegitu cemaskah kau padaku eh?" Ichigo tersenyum menyeringai.

Oh Kami-sama! Jujur Rukia merindukan senyuman yang hanya ditujukkan padanya itu. Ya, tanpa berpikir dua kali, Rukia segera menerjang dan memeluk Ichigo erat. "Maafkan aku Ichi," ucapnya lirih.

"Hnn," Ichigo tersenyum dan balik memeluk Rukia erat. Sepasang mata coklat itu menutup, merasakan kenyamanan dan kehangatan yang memancar dari tubuh gadis mungilnya. "Kau tahu aku benar-benar ingin mengucapkan terima kasih pada Grimmjow dan polisi-polisi itu, kalau bukan karena ajakan Grimmjow dan kejaran polisi brengsek itu mungkin kau tidak akan memaafkanku."

Rukia menggeleng dan melepaskan pelukannya, membuat Ichigo mendesah kecewa. Gadis itu tertawa kecil melihat ekspresi cemberut Ichigo yang membuat kerutan di dahinya bertambah berlipat-lipat. "Tidak juga. Walaupun kau tidak kecelakaan dan tidak dikejar polisi-polisi itu aku tetap akan memaafkanmu. Kau tahu kenapa? Karena aku mencintaimu Ichi."

"Hmm, sepertinya kau sudah berbakat menjadi seorang perayu yang handal," ucap Ichigo sambil mengacak rambut Rukia pelan dan membuat Rukia tertawa

.

.

.

.

Senna tersenyum saat melihat dari pintu kamar Ichigo yang sedikit terbuka dan menampakkan sepasang kekasih itu bertengkar kembali seperti biasa.

"Sepertinya rencanamu berhasil dan jangan mengintip mereka. Itu tidak sopan," ucap seseorang tepat di belakang Senna.

"Eh, Grimmjow! Hmm, tidak juga, kalau bukan karena kau yang berpura-pura mendekati Rukia untuk membuat sepupu bodohku itu cemburu lalu mengajak Ichigo balapan dengan syarat agar kau menjauhi Rukia, mungkin rencanaku untuk mempersatukan mereka tak akan berhasil. Dan sepertinya, Kami-sama mendukung rencana kita lewat polisi-polisi itu, jadi aku tak perlu menyuruhmu untuk berbohong pada Rukia untuk mengatakan bahwa Ichigo kecelakaan setelah kalian balapan. Benar kan? Lagipula, aku merasa bersalah saat Ichigo mengatakan putus dengan kekasihnya gara-gara aku."

Pemuda berambut biru itu tersenyum dan mengacak pelan rambut kekasihnya. "Dasar kau ini! Benar-benar menyebalkan. Nanti kita harus memberitahu Ichigo tentang hubungan kita, aku tak mau ia salah paham terus karena mengira aku menyukai Rukia." Senna tertawa kecil dan memeluk pemuda berambut biru itu dengan erat.

End

.

.

.

.

Distrik kota Tokyo-Shibuya- masih sama seperti seminggu yang lalu, saat Rukia terakhir kali kesini bersama Ichigo. Ada sebuah patung anjing di salah satu pintu keluar stasiun Shibuya. Patung ini didirikan untuk mengenang Hachiko, anjing ras Akita yang sangat terkenal akan kesetiaannya. Sewaktu membuat janji untuk bertemu di Shibuya, orang-orang sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachiko. Salju masih terlihat menumpuk di beberapa ruas jalan dan beberapa orang petugas kebersihan tengah sibuk menyingkirkan salju-salju itu. Rukia mengeram kesal, saat melihat jam yang melingkar manis di tangannya. Ichigo, kekasihnya itu seperti biasa datang terlambat dari jadwal yang telah mereka tentukan.

Tak beberapa lama kemudian, orang yang ditunggu itu pun akhirnya tiba. Dari kejauhan, Rukia melihat seorang pemuda berambut orange tengah berlari terburu-buru ke arahnya. Hell, yeah siapa orang di Tokyo yang mempunyai rambut asli nan mencolok seperti kekasihnya itu? Jawabannya tentu tidak ada, kecuali orang itu sedang mengikuti cosplay di Harajuku sehingga membuat warna rambutnya harus dicat menjadi seperti buah jeruk.

"Hosh hosh, maaf Rukia," ujar Ichigo sambil menunduk, memegang kedua lututnya. Tubuhnya bersimbah peluh dan berkilau saat terkena sinar mentari pagi. Rambut orange jabriknya, jaket ungu tua serta kaos lengan panjang berwarna biru terlihat lusuh dan sedikit berantakan.

Rukia merengut dan menggembungkan kedua pipinya. "Dasar selalu saja begitu. Kau tahu aku tak akan mudah untuk dirayu agar mau memaaf-, lho! Hei, kita mau kemana Ichigo?" teriak Rukia frustasi, saat tangan kekar Ichigo menarik tangan mungilnya beranjak dari tempat itu, membuat orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka, menatap dengan alis berkerut dan dengan pandangan yang sulit untuk dimengerti.

Tangan mungil Rukia sedikit bergetar saat mengetahui bahwa Ichigo mengajak mereka ke sebuah tempat yang sangat tak asing baginya -perempatan Shibuya- yang khas dengan ribuan orang menyebrang dan juga baliho-baliho besar yang terpampang dengan manis di sekitar perempatan. "Ichigo, kenapa kita kesini? Bukankah rencana kencan kita hari ini ke Chappy Wonderland?," tanya Rukia pelan sekali.

Seperti menyadari kegelisahan gadis mungilnya, Ichigo menggenggam tangan Rukia lebih erat dan menatap sepasang amethys itu dengan sepasang amber miliknya. "Bukankah kau dulu ingin sekali membuktikan legenda ini? Sebelum kesana, kita akan mencoba kembali legenda itu. Jangan khawatir pendek, kita pasti akan bertemu di tengah-tengah perempatan," ujar Ichigo mantap dan sedikit menunduk untuk mencium kening Rukia. "Kau percaya padaku kan? Walaupun tubuhmu mungil dan mungkin akan tertelan lautan manusia di perempatan nanti, aku pasti akan menemukanmu."

Rukia mengangguk pelan dan tersenyum tipis saat merasakan kehangatan di telapak tangannya mulai memudar saat Ichigo melepaskan genggamannya. Sepasang kristal ungunya terus mengawasi pemuda berambut orange mencolok itu yang kini telah menyeberang duluan -untuk menanti di sisi lain perempatan- dan mulai hilang tertelan puluhan atau mungkin ribuan arus manusia.

.

.

.

.

Ketika melihat lampu perempatan telah berubah warna, Kuchiki Rukia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Sepasang kaki mungilnya mulai bergerak maju dengan ragu mengikuti langkah setiap orang di sekelilingnya. Ia meremas ujung syal rajutan berwarna merah muda yang kini dipakainya untuk mengurangi kegugupan dan ketakutan, sesekali sepasang mata besarnya mencoba mencari dan melihat sekeliling untuk menemukan sosok pemuda berambut orange mencolok itu. Tak ada! Oh Kami-sama Rukia mulai merasa takut, entahlah ia takut legenda itu memang benar atau ia takut Ichigo akan membohonginya lagi. Kristal violet itu sedikit mengerjap dan Rukia merasakan sesuatu yang basah mengalir pelan melewati kedua pipinya.

"Ichigo, Ichigo, Ichigo," bibir mungil Rukia terus mengucapkan nama pemuda itu, berharap sang pemuda bisa mendengarnya walaupun rasanya itu sangat mustahil. Sedetik kemudian, Rukia berdiri mematung, seakan tak peduli dengan tubuh mungilnya yang sedikit sakit saat beberapa orang tak sengaja menabraknya. Kedua telinga Rukia pun seakan tuli, tak mendengar beberapa orang yang mengumpat ataupun meminta maaf. Pandangannya tertuju pada satu titik. Ya satuk titik! Pemuda itu, Ichigo ada beberapa meter dihadapannya dan kini sedang tersenyum ke arahnya.

"Ichi," Rukia tak mampu berkata apa-apa karena terlalu bahagia, segera saja ia berlari, memeluk Ichigo erat dan sedikit terisak saat ia membenamkan kepalanya di dada pemuda itu.

Ichigo sedikit gugup, wajahnya terasa panas dan mungkin sekarang sudah memerah hebat karena pandangan orang-orang yang menyeberang kebanyakan mengarah kepada mereka dan tersenyum simpul. Pemuda itu segera menuntun Rukia ke tepi perempatan. "Sudah kubilang kan aku pasti menemukanmu, lagipula kenapa kau menangis tadi? Dasar cengeng!" gerutu Ichigo sambil mengusap pipi Rukia yang masih basah.

Gadis mungil itu malah tersenyum lebar. "Aku sudah tidak apa-apa. Sekarang ayo kita keliling Chappy Wonderland setelah itu kau mentraktirku es krim chappy dan juga makan siang berbentuk chappy yang ada disana," kata Rukia girang sambil menarik-narik tangan Ichigo untuk mengikutinya.

Hah! Ichigo menghela nafas kesal, sebenarnya ia berpacaran dengan anak kecil atau siswi SMA maniak chappy yang mirip anak kecil?

Really end

Author's note

Maaf kalau ceritanya membuat bingung dan maaf author terlambat untuk mengupdate. Hmm, disini author memakai Senna sebagai sepupu Ichigo karena menurut author Senna itu mirip sekali dengan IchiRuki, rambut ungu mirip mata Rukia dan juga mata orange mirip rambut Ichigo. Selain itu, perawakannya memang agak mirip Rukia tetapi sifatnya mirip Ichigo *kicked & slapped*

Special thanks to: Searaki Icchy La La La, Arashi arashi For Dream , ChappyBerry, vvv, ojou-chan, Jee-eugene, Bad Girl

Yang terakhir, selamat hari ibu yang jatuh pada tanggal 8 Mei kemarin disini. Salam untuk ibu kalian di rumah ya. Terima kasih sudah membaca dan mereview^^