disclaimer: Bleach tetap empunya akang Tite Kubo

Chapter 2: kebohongan

Hening. Kedua insan yang terlibat percakapan ini tidak bisa berkata-kata lagi. Terdiam akan apa yang telah terucap dari mulut mereka. "kita tolak saja pernikahan ini " satu kalimat yang berhasil membuat Ichigo bungkam. Dia menatap Rukia penuh arti, mencoba mencari celah. Celah yang mengatakan padanya bahwa Rukia terluka saat mengatakan itu. Tapi dia tidak bisa menemukannya, Rukia terlihat sangat tenang, santai, tak ada rasa sakit yang tergores di wajahnya.

Sesaat Ichigo kecewa. Akan tetapi apa yang dikecewakannya? Apa yang diharapkannya? Yah, tidak bisa dipungkiri. Dia ingin Rukia tidak bersikap setenang ini, setidaknya dia beradu argumen dulu sebelum mengucapkan itu padanya, membuktikan bahwa Rukia masih mencintainya seperti dahulu.

"Kau terlihat tenang sekali" sergah Ichigo tidak tahan lagi dengan tatapan tenang Rukia

"Jangan-jangan kau juga telah mencintai pria lain" ucapan terakhir ini nyaris tidak terdengar karena Ichigo berusaha menahan apa yang diucapkannya, dia takut Rukia benar-benar sudah melupakannya.

"Lalu aku harus apa?" dengan lembut dia menatap pria tampan yang terlihat rapuh dihadapannya itu.

"15 tahun Ichigo, itu bukan waktu yang singkat. Jadi aku tidak terkejut kalau kau mencintai gadis lain.." rukia berusaha melafalkan kalimat itu dengan tenang untuk menutupi hatinya yang hancur, perih.

Tapi Rukia tidak pernah kalah akan hatinya, pikirannya selalu mendominasi. Dengan mudah dia bisa bersandiwara. Dibelainya lembut pipi Ichigo, turun ke dadanya. Dia menggosokkan tangannya berulang disana seolah memberi kekuatan pada jantung Ichigo yang tidak melambat dentumannya.

"Tapi aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini" Ichigo menggenggam tangan Rukia yang menempel di dadanya.

"Aku tidak bisa menghancurkan impian keluarga kita, aku takut.."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Aku punya ide.. tapi.. akhhh, kau pasti berpikir aku gila, jika aku mengucapkan ini" ucapnya frustasi sambil mengacak rambut orange jabriknya.

Ichigo tercekat seketika, tangan kanannya yang menggenggam tangan Rukia dari tadi mendapat balasan. Rukia menggenggam tangannya, walau diam tapi Ichigo mengerti apa yang ingin disampaikan gadis ini. 'ucapkanlah' itu lah yang tergambar di wajah Rukia.

"Aku tetap ingin kita menikah, tapi.. aku mohon, bisakah kau mengizinkanku tetap menjalin hubungan dengan gadis itu. Karena aku sangat mencintainya. Dan aku berjanji tidak akan mencampuri urusanmu dengan pria lain.." Ichigo menatap Rukia yang terlihat serius dengan ucapannya. Terlihat dia tidak menganggap lucu pernyataan Ichigo.

"Bisakah kau menungguku?"

"Menunggu?" tanya Rukia balik tidak mengerti pertanyaan pria dihadapannya ini.

"Iya, menungguku. Mengumpulkan benih cinta antara kita berdua lagi."

"Lalu kau akan mencampakkan gadis itu?" tanya Rukia sinis

"Ya.. aku.."

"Egois sekali kau tuan Kurosaki" sela Rukia tidak bisa membendung rasa kesalnya pada orang yang tidak pernah berubah ini. Ichgo yang mendengar Rukia memanggilnya 'tuan Kurosaki' langsung terdiam.

"Baiklah.. aku akan mengikuti permintaanmu, tapi yang pertama. Soal permintaan untuk menunggumu, aku tidak yakin. Karena aku juga wanita, pasti tidak ada yang mau tersakiti. Saat aku merasa permainan ini patut untuk diakhiri, aku pastikan kita akan bercerai. Kau bebas hidup dengan wanitamu begitu juga denganku"

"Jadi menurutmu pernikahan kita main-main?"

"Lalu apa kalau tidak main-main? Bukannya kau yang menjadikannya main-main?"

"Jadi kau marah padaku?"

Suasana terasa semakin mencekat, mereka saling beradu mulut. Rukia yang menangkap rasa marah dari nada yang Ichigo lemparkan padanya terdiam sejenak untuk menghela nafas.

"Sudahlah Ichigo, walaupun kita bertengkar, berusaha menolak pernikahan ini, takkan ada yang bisa menghentikan rencana kakekku dan kakekmu. Walau kita memaksa, yang akan jadi tumbal keegoisan kita adalah pasangan kita masing-masing, wanita yang kau cintai itu pasti akan tersakiti karena ulah kedua kakek kita."

"Benar juga katamu.." Ichigo menghela nafas panjang. Keluar sudah semua masalah yang dipikirkannya sejak kepulangannya dari Amerika. Dia takut Rukia akan marah pada keegoisannya. Tapi wanita dihadapannya ini tak pernah berubah, selalu terlihat teduh. Seakan bisa membaca pikiran orang hanya dengan menatap matanya.

"Lalu siapa gadis yang kau cintai itu?"

"Namanya Orihime, kami satu kampus di Amerika. Dia orang Jepang sih.." jawab Ichigo mengikuti jejak Rukia menuju halaman belakang yang sempat terhambat karena percakapan tadi.

"Lalu dia tau kau dan aku akan menikah?" tanya Rukia lagi sambil memainkan air di kolam ikan kesayangan Byakuya.

"Belum.. dan aku akan mengatakannya, percuma saja untuk ditutupi. Pasti dia akan tau juga, keluarga kita kan terkenal seantero Jepang." jawab Ichigo sesekali melihat Yuzu, Karin, dan Yuki yang terlihat girang bermain.

"Lalu kau yakin dia akan tetap menerimamu?"

"Pasti.. karena aku sangat mencintainya, dan dia tau itu. Akan kukatakan padanya, pernikahan ini hanya sementara, karena kau dan aku sudah sepakat akan bercerai kan?" tanya Ichigo santai, terdengar sangat ringan keluar dari mulutnya.

Rukia yang dari tadi berjongkok sambil memainkan air di kolam, terkejut dengan ucapan Ichigo. Lagi-lagi darahnya berdesir keras. Bertumpu di jantungnya, dentuman keras itu terasa sekali menjalar ke lutut yang tepat berada di depan dadanya.

"Begitu ya.." tanggapan singkat yang mampu diucapkan Rukia menutupi hatinya yang hancur. Dia tersenyum miris mengingat permintaan Ichigo untuk menunggunya. Menunggu apanya? Menunggu dia melupakan gadis itu? Yang benar saja.

"Waktunya makan malam.." ucapan Hisana yang setengah berteriak itu membuyarkan lamunan Ichigo dan Rukia.

Yuki dengan semangat berlari menghampiri ibunya itu dan dengan cekatan Hisana menggendongnya. Yuzu, Karin, dan pengasuhnya mengikuti Hisana berjalan menuju ruang makan. Begitu juga dengan Rukia dan Ichigo. Disepanjang perjalanan Yuki selalu melihat ke arah Ichigo, dia merasa paman disebelah tante Rukianya ini sangat nyentrik. Melihat gelagat kemenakannya itu, Rukia menggendong Yuki yang berjalan disebelah Hisana. Yuki sangat senang dan tanpa ragu dia mengelus rambut Ichigo. Ichigo yang berjalan di sebelah Rukia menjadi terkejut.

"Lambut paman sepelti jeluk" ucapnya dengan polos dan sukses membuat semua mata tertuju pada Ichigo dan Yuki.

Yuki yang tidak sadar menjadi pusat perhatian hanya tersenyum girang sambil mengelus-elus rambut Ichigo yang terasa lembut. Semua saling bertatapan, alhasil tidak ada satupun yang sanggup menahan tawa yang sudah diujung bibir dari tadi.

"Yuki, ini bukan jeruk namanya" ucap Ichigo menanggapi pernyataan Yuki sambil membelai lembut pipi chibi Yuki.

"Lalu apa paman?" tanyanya antusias.

"Itu kepala singa, ahahaha" jawab Rukia asal dan berhasil membuat Ichigo marah. Ichigo ingin mencubit Rukia tapi dengan sigap dia berlari menghindari Ichigo. Hasilnya terjadilah aksi kejar-kejaran antara Ichigo dan Rukia yang masih menggendong Yuki.

Orang-orang yang tadi masih di dalam ruangan pertemuan secara serempak melihat ke arah pintu yang terbuka. Terlihatlah disana Rukia yang menggendong Yuki saling tertawa dikejar oleh Ichigo. Mereka pun saling bertatapan.

"Sepertinya tidak akan lama lagi kita akan mendapat cicit Yama jii" ucap Aizen

"Kurasa juga begitu, hahaha"

Semua orang di ruangan itu tertawa, ukitake, unohana, ishhin, kecuali Byakuya. Dia lebih memilih untuk geleng-geleng kepala menanggapi sikap antusias tinggi dari kakek-kakeknya ini.

Akhirnya Ichigo menangkap Rukia dan Yuki, dia mencubit gemas kedua pipi gadis-gadis itu. Sangat imut, sanggup menghapus ketegangan yang terjadi antaranya dan Rukia tadi. Acara lamaran dan makan malam berjalan dengan lancar. Akhirnya Keluarga Kurosaki pamit untuk pulang ke kediaman mereka.

Rukia berjalan lunglai menuju kamarnya. Cepat-cepat dia berbalik menuju kamarnya daripada harus berlama-lama bersama kakeknya. Pastilah sang kakek akan melantunkan banyak pertanyaan padanya. Sesampainya di kamar, Rukia langsung menukar pakaiannya. Dia harus pergi kerja. Ya, pekerjaannya adalah menjadi seorang penyanyi di club hotel keluarganya sendiri. Hotel itu adalah kepunyaan Rukia.

Selain sebagai pemimpin hotel, dia juga merupakan penyanyi tetap di club tersebut. Berdua dengan sahabat sekaligus pianis dan assistennya di hotel, Gin Ichimaru, mereka selalu menghabiskan malam di club tersebut. Keluarganya tidak ada yang menghalangi, karena Rukia tetap bertanggung jawab dengan tugasnya di hotel, anggap saja menyanyi di club sebagai tempat menyalurkan suara emasnya.

"Aku pergi dulu ibu, ayah" ucap Rukia mendapati ibu dan ayahnya masih diruangan tamu.

"Wah, tidak bisakah kamu tidak pergi hari ini Rukia sayang?" tanya Unohana berdiri dari duduknya.

Rukia menggeleng tanpa ragu "Bisa-bisa para tamu kesepian karena tidak mendengar suaraku.. hehe" jawabnya santai sambil mengedip pada ibu dan ayahnya itu.

"Jangan terlalu lama di club Rukia" sela Yamamoto yang berdiri di belakang Rukia.

"Baik kakekku sayang" ujar Rukia lalu menciumi kakeknya itu, dia tahu sekali bagaimana cara membungkam kecerewetan kakeknya itu. Alhasil si kakek hanya bisa terdiam lalu tersenyum, tidak sanggup melawan keras kepala cucunya ini.

"Aku akan langsung tidur di apartemen, jadi jangan menungguku pulang. Besok paginya aku akan ke rumah, aku pergi dulu, dadah.." ujar Rukia berlari kecil meninggalkan ayah, ibu dan kakenya itu.

Sesampainya di depan pintu, Rukia memasang sepatunya. Dia mendapati kakaknya, Byakuya berjalan perlahan ke tempat dia duduk.

"Apa Gin yang memaksamu untuk bekerja malam ini?" tanya Byakuya kurang senang harus melihat adiknya pergi bekerja malam-malam begini, yah walau masih pukul 8 malam.

"Bukan kak, ini tuntutan kerja" sanggah Rukia lalu berdiri dari duduknya setelah selesai memasang sepatunya itu.

"Aku akan mengantarmu" ucapan itu lebih tepat untuk disebut sebagai perintah daripada permintaan.

"Aku bisa pergi sendiri kak, aku kan sudah dewasa.." sela Rukia tidak mengindahkan perintah kakak nya yang tampan ini.

"Hahhh.." Byakuya menghela napas tidak sanggup melawan Rukia. Adiknya ini benar-benar orang yang keras kepala. Rukia tertawa geli melihat ekspresi kakaknya itu, seperti orang yang kecewa karena undian lotrenya tidak menang. Hahaha

"Aku pergi dulu kak" ucap Rukia. Dikecupnya lembut pipi kakak yang sangat disayanginya itu. Byakuya pun luluh dengan perbuatan adiknya itu, dia tersenyum.

"Aku berharap agar Yuki tidak mewarisi sikap keras kepalamu" ujar Byakuya sambil memukul lambat kepala Rukia dengan kepalan tangannya.

"Wah.. kak, sepertinya harapan kakak tidak akan terkabul, dia pasti akan mewarisi sifatku ini, hahaha" Rukia menjawab pernyataan kakaknya sambil melangkah meninggalkan rumah itu, dia melambai pada kakaknya itu sesaat sebelum menjalankan mobilnya. Byakuya tersenyum lembut sambil membalas lambaian Rukia lalu dia pun menutup pintu setelah kepergian Rukia.

#####

"Jadi rukia.. bagaimana acara perjodohanmu itu?" tanya Matsumoto Rangiku sambil mengelap gelas dengan telaten. Gadis cantik berdada besar ini adalah teman Rukia dari SMA, dia melamar menjadi bartender di hotel Rukia setelah tamat dari universitas. Kesukaanya terhadap wine membuatnya sangat ingin menjadi bartender, untungnya Rukia sangat mendukung dan mengajaknya bekerja di hotelnya tersebut.

"Pernikahannya akan diadakan lusa, jadi kalian terima saja undangannya"

"Waw, cepat sekali? Padahal kau baru betemu dengannya.. lalu gimana dengan si Ichigo itu?" tanya Rangiku lagi dengan antusias.

Dia melirik Rukia yang tetap setia memutar gelas minumannya yang berisi wine. Bukannya dia tidak mendengar, tapi dia lebih memilih diam daripada harus menjawab pertanyaan itu. Saat ini Rukia terlihat sangat rapuh, telihat dari pandangan matanya yang kosong. Gin yang duduk disebelahnya juga ikutan melirik Rukia. Dia tahu kalau temannya ini pasti sedang ada masalah.

"Tak bisa bekata saking senangnya ya?" ejek Gin memencet gemas hidung Rukia dan berhasil membuyarkan lamunan gadis itu.

"Ah, biasa saja.. tidak ada yang spesial" suara nya melemah mengucapkan kata-kata terakhir itu. Terdengar seperti ingin menangis. Gin dan Rangiku saling bertatapan dan tersenyum sambil menghela nafas.

"Kau tahu Rukia, kami akan selalu ada untuk mendengar masalahmu.. jadi jangan patah semangat begini.." ucap Rangiku sambil menuangkan tambahan wine ke gelas Rukia.

"Trims Ran chan"

"Kau pasti tidak semangat untuk menyanyi kan?" Gin mendengus melontarkan tebakan itu.

"Yah, tak apa juga sih, toh kita memang punya band tetap selain penampilan kau dan aku kan?" sambungnya lagi sambil mengusap lembut kepala Rukia. Gin tersenyum lembut, bukan seringai yang sering ditampakkannya. Orang yang diusap hanya diam lalu memandang pria yang selalu saja bisa membaca pikirannya ini.

"Wah, kau seperti peramal saja Gin, kenapa bisa tahu isi pikiranku?"

"Karena hanya aku yang mengerti kamu.. luar dan dalam" jawab Gin sambil mengadu keningnya dan kening Rukia lembut.

"Haaah.. kalian ini seperti suami istri saja" sela Rangiku yang mulai risih dengan hawa mesra yang mengalir dari dua sahabatnya ini.

Yah, bukan cemburu yang dirasakan Rangiku, tapi lebih tepatnya gemas. Dia gemas dengan takdir. Kenapa Rukia yang lebih terlihat hidup dan patuh jika dihadapan Gin harus dijodohkan dengan Ichigo? Walau dia tidak tahu bagaimana Ichigo itu, tapi dia yakin pria itu sudah membuat masalah dengan Rukia. Makanya sekarang Rukia terlihat sedih.

"Kau terlihat capek sekali Rukia, ayo kita pulang.." ajak Gin setelah menghabiskan minumannya.

"Ya baiklah" jawabnya disertai anggukan. Kalau boleh dikata, sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang sangat menurut pada papa nya. Selalu begitu, entah sihir apa yang diberikan Gin, Rukia selalu patuh dengan ucapannya.

"Jangan lupa, tidurlah di apartemen kalian masing-masing" cerocos Rangiku sambil tersenyum lebar dan mengedip nakal pada Gin dan Rukia.

"Kenapa? Kau iri Ran? Makanya sewa apartemen jangan jauh-jauh. Lihat aku dan rukia, apartemen kami bersebelahan" Gin selalu bisa menjawab tudingan nakal sahabatnya sejak SMA ini.

"Ga mau.. kalau dekat-dekat kalian terus, aku pasti bisa mati kepanasan dengan aura hot yang kalian pancarkan berdua, hahaha"

"Sudah ah, kalian ini ngomong apa?" ucap Rukia sambil mengibaskan tangannya di depan Gin dan Rangiku.

"Ayo pulang Gin, o iya. Ini kunci mobilku Ran.. Pakai saja kalau mau pulang. Maaf aku tidak bisa mengantarmu.. tapi besok pagi jemput aku ya, aku harus pulang ke rumah."

"Kenapa harus dijemput Rangiku? Aku saja yang mengantarkan"

"Jangan.. pokoknya jangan, nanti kakekku marah"

"Jadi kakekmu belum juga bisa menerimaku sebagai sahabat dekatmu?"

"Bukan hanya kakek, ayah dan kakak juga"

"Dasar mereka itu benar-benar Rukia complex ya"

"Sama dengan mu Gin, Rukia complex. Tapi kau harus cepat-cepat menghilangkannya, kan sebentar lagi Rukia akan menikah.." sela Rangiku kembali mengedip penuh ejekan pada Gin.

"Ya.. ya.. aku akan berusaha.." ujarnya santai sambil menggaruk-garuk rambut silver yang terlihat sangat lembut itu.

"Nah, ayo berangkat.." Rukia menarik lengan Gin menjauhi Rangiku. Dia melambaikan tangan pada Rangiku dan beberapa orang yang dia kenal di club itu. Rukia tidak risih dengan ucapan Rangiku yang menggodanya dengan Gin, karena hal itu sudah menjadi makanannya setiap mereka bersama.

Ada sebuah ikatan perasaan antara Rukia dan Gin yang tidak bisa Rukia artikan. Perasaan nyaman. Tapi bisakah satu perasaan itu dikatakan cinta? Rukia belum menemukan jawabannya. Walau begitu, Gin tetap menyayangi Rukia. Menjadi teman berbagi senang dan sedih dengan Rukia. Walau dia tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya yang dalam pada Rukia, orang awam pun bisa tahu bagaimana perasaan pria tampan ini pada Rukia. Salah satunya senyum, hanya pada Rukia dia menampakkan senyuman lembut bak malaikat, sedangkan pada yang lain? Dia sanggup membuat orang yang didekatnya bergidik ngeri melihat seringaian lebarnya itu, khas Ichimaru Gin.

Gin tidak mau mengungkapkan perasaannya pada Rukia secara lisan, cukup dengan tindakan. Dia tahu betapa gadis yang dicintainya ini sangat menjaga janji dengan teman semasa kecilnya Ichigo Kurosaki, bahwa mereka akan menikah suatu saat nanti. Mungkin kalau orang mendengar itu hanya janji janjian yang diucapkan oleh anak kecil saja, tidak ada yang spesial. Tapi Rukia, dia tidak pernah mengkhianati Ichigo. Dia tidak pernah pacaran. Dia tetap teguh memegang janjinya. Jadi tidak heran dia terlihat sangat terpukul akan kenyataan bahwa Ichigo mencintai gadis lain selain dirinya.

"Apakah bagi pria mencintai gadis lain dan melupakan gadis yang pernah dicintainya sangat mudah?" tanya Rukia memecah keheningan di dalam mobil Gin.

Gin langsung mengerti arah pembicaraan Rukia dan siapa yang dia maksud. Pasti Ichigo. Dia menghela nafas lalu berkata

"Cinta datang karena terbiasa"

"Hm.. begitu ya" dia berusaha tegar mendapati jawaban Gin yang singkat dan padat itu. Padahal dia berharap Gin mengucapkan kata-kata muluk yang bisa menegarkan hatinya bahwa Ichigo pasti masih mencintainya seperti dulu.

Gin menggenggam tangan Rukia lembut "Aku pasti akan selalu setia menjadi sandaranmu. Jadi jangan pendam masalahmu sendiri ya.." pinta Gin menatap Rukia dengan lembut, sangat lembut.

Rukia tersenyum kecut sambil melihat ke kaca sebelahnya. Tuhan benar-benar sedang mempermainkannya. Orang yang dicintainya dari dulu sampai sekarang dengan mudah melupakannya dan mencintai gadis lain. Lalu Gin, kenapa dia tidak juga bisa membuka hati untuk pria sebaik ini? Dia berusaha, tapi tetap saja langkahnya selalu tercekat mengingat janji manisnya dengan Ichigo kalau mereka akan hidup sebagai keluarga yang saling menyayangi.

Tuhan.. sesakit inikah cinta?

TBC

RnR please XD
maaf, belum ada adegan yang menggigit antara Ichigo ma Rukia :'( *digeplak
kenapa aku malah milih Gin yang dekat dengan Rukia?
ya.. ingin beda aja, hahaha XD
ginxrukia bagus juga tuh... * di deathglare ma ichiruki fc dan ginrangiku fc..
gomme minna ;D

tetap REVIEW yah ;D