Author's Note : Yes, I updated this fic ^^ Waduh, makasih banyak bagi yang sudah me review. Sudah terima balasannya kan? Yang review sebagai guest, maaf nggak bisa bales lewat PM :3

Awalnya fic ini mau kubuat oneshot aja. Karena kepanjangan, jadinya multi chap deh. Lets hope this fic won't reach over than 5 chapters.

Satu hal lagi, saya bukan psikiater maupun dokter yang tahu banyak tentang masalah penyakit amnesia (I'm just nothing but a student). Jadi, harap maklum kalau saya seenaknya saja mendeskripsikan alasan Fang yang hilang ingatan sebagian. But hey, this is a fanfiction, right? A site where we can unleash our imagination :D


Kepanikan sempat melanda Sekolah Rendah Pulau Rintis, ditambah lagi dengan api yang semakin membesar yang hampir membakar seluruh lapangan sekolah. Untunglah para pemadam kebakaran datang tepat waktu, dan dalam waktu kurang dari satu jam, kebakaran itu berhasil dijinakkan sebelum api sempat menjilati gedung sekolah.

Tidak ada korban jiwa, kecuali seorang anak dengan kepala yang terluka. Fang dengan segera dibawa ke UKS. Untung saja penjaga sekolah yang menyimpan semua kunci sekolah kebetulan sedang berada disana sehingga Fang bisa mendapatkan perawatan dengan segera. Lukanya memang tidak terlalu parah, tapi benturan yang diakibatkan oleh chandelier tadi pasti sakit sekali.

Yaya dan Ying dengan cepat membersihkan darah disekitar kepala korban dan membalutnya dengan perban. BoBoiBoy, pelaku yang menyebabkan Fang kecelakaan, sangat berharap temannya akan selamat karena jika tidak, ia pasti akan dihajar habis-habisan oleh para siswi –penggemar Fang- yang sedang menunggu diluar kamar.

.

.

.

Princess Boy

Chapter 2 : I am a Prince

Disclaimer : BoBoiBoy belongs to monsta

Warnings : some typos, eyd tidak sempurna, dialog bahasa Indonesia

Don't like, don't read

.

.

.

Si bocah lelaki berambut ungu terlihat sedang berdiri disuatu tempat yang asing baginya. Kepalanya ditolehkan ke segala arah, mencari petunjuk yang bisa menjelaskan dimana dia sekarang.

'Siapa aku?'

'Dimana aku?'

'Kenapa aku bisa ada disini?'

Ia berada di suatu ruangan besar, dengan beberapa perabotan mahal. Ditengah-tengan ruangan adalah seorang anak berambut pendek dan berpakaian kumal sedang mengepel lantai. Dari pakaian yang dikenakannya, Fang berkesimpulan anak itu seorang perempuan. Disamping gadis itu ada dua orang wanita muda yang sedang membentak gadis yang sedang mengepel.

Tidak ada satu pun diantara mereka yang menyadari kehadiran Fang disana. Dan entah mengapa, Fang merasa empati pada si gadis pembantu itu.

Keadaan sekitarnya tiba-tiba berubah drastic. Sekarang ia sudah berada di sebuah ballroom istana. Disampingnya berdiri seorang raja bertubuh luar biasa gemuk. Fang tidak mengenal raja itu tapi entah kenapa, ia memanggilnya ayah.

Tak lama kemudian, dua orang wanita muda angkuh yang ia lihat sebelumnya datang menghampirinya. Keduanya memperkenalkan diri sebagai Anastasia dan Drizella. Mereka mengajaknya untuk berdansa, tapi Fang terlanjur tidak menyukai mereka berdua.

Lalu entah darimana munculnya, matanya menangkap si gadis pembantu tadi berjalan kearahnya dengan penampilan yang jauh berbeda dengan yang tadi, dengan sebuah gaun putih berkilau dan mahkota yang bersinar. Tampak manis, memang. Fang mengulurkan tangan dengan sopan. Gadis cantik itu meraih tangannya dan mereka berdansa mengikuti alunan music dengan indah.

Siapa gadis ini? Pikir Fang.

Cinderella …

Tunggu, siapa itu yang bicara

Cinderella …

Namanya adalah Cinderella …

.

.

Cinderella … Cinderella …

Bibir Fang perlahan bergerak menggumamkan nama itu.

Cinderella … Cinderellaku …

"Semuanya. Fang sudah sadar." BoBoiBoy teriak senang.

Cinderellaku …

UKS Rendah Pulau Rintis itu langsung heboh begitu mendengar teriakan BoBoiBoy. Semua murid yang sengaja belum pulang berebutan mengintip kedalam kamar melalui jendela yang tirainya sengaja dibuka.

Ying, Yaya dan Gopal mengerjap. Keempat anak itu menatap wajah si bocah yang kepalanya dibalut perban dari dekat, berusaha mendengar apa yang sedang diucapkan.

"Apa!? Fang sudah sadar!" sebuah suara keras penuh semangat mengagetkan mereka. Papa Zola langsung mendekati Fang setelah mendorong tubuh Gopal dan BoBoiBoy kesamping dengan paksaan. Pakaian superhero miliknya yang super ketat itu sudah berganti menjadi seragam petugas medis bewarna putih.

"Tapi … tampaknya dia sedang mengigau." Ujar Yaya, sedikit khawatir.

"Hmm …" si guru mendekatkan wajahnya pada murid yang sedang terbaring diatas kasur. Ia meletakkan kedua tangan kekarnya di bahu Fang dengan lembut… sebelum akhirnya mengguncang tubuh lemahnya dengan kuat. "Oi, Fang. Bangun!" ia berteriak ditelinga anak itu. "Mau sampai kapan kau terus tertidur, hah!?"

BoBoiBoy dan Gopal dengan kompak menjatuhkan rahang dengan speechless. Begitukah tindakan yang tepat untuk menyadarkan orang yang sakit?

Ying langsung menahan lengan gurunya. "Cikgu, jangan dibegitukan dong."

"Kamu tak lihat cikgu sedang membangunkan Fang!" si guru tampak tak mau kalah.

"Memangnya tidak ada cara lain yang lebih lembut, ya?"

"Siapa disini yang petugas medis. Kau kah atau Cikgu." Papa Zola tampak memamerkan seragamnya, menunjukkan siapa yang sedang bertugas menangani pasien.

BoBoiBoy dan yang lainnya menatap guru mereka dengan bingung.

"Kok Papa bisa jadi petugas medis?" Tanya BoBoiBoy.

"Sebenarnya, menjadi petugas medis adalah cita-cita Papa sejak masih kecil..."

Flashback to Papa Zola's childhood.

"Murid-murid. Mari beritahu Cikgu, apakah cita-cita kamu." Sebuah suara tegas milik seorang guru terdengar dari sebuah ruang kelas.

Seorang anak mengangkat tangan. "Saya mau jadi pengacara."

"Saya mau menjadi dokter, Cikgu." Kata anak yang lain.

"Saya mau menjadi petugas kesehatan …" suara cempreng salah satu murid dengan sebuah topeng mata ikut menimpali dengan gaya yang berlebihan. "Saya akan merawat jiwa-jiwa kebenaran …"

End of Papa Zola's childhood

"… lalu saya akan memberikan suntikan pada semua penjahat yang sakit hingga hilang semua kesan kejahatan …." Si guru matematika mengakhiri kisahnya dengan singkat.

Dan seperti biasa, BoBoiBoy hanya memasang ekspresi malas. Cita-cita Papa Zola yang sesunguhnya … sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri.

"Masa?" tanyanya.

"Hah?! Apak kamu kira cikgu berbohong?!"

BoBoiBoy hanya mengangat bahu, tidak terlalu peduli dengan topic yang sedang dibicarakan.

Tapi ternyata, metode 'kasar' yang digunakan guru itu berhasil membangunkan Fang.

"Ugh." Bocah itu menggerakkan kepalanya sebentar sebelum akhirnya, dengan amat perlahan, membuka kedua irisnya. Rasa sakit segera menjalari seluruh badannya yang masih dibalut dengan kostum tokoh pangeran yang ia perankan tadi.

BoBoiBoy, Gopal, Ying, Yaya dan Papa Zola mengawasi Fang dengan was-was ketika anak itu mulai bangun.

Fang mendesah lemah. Pandanganya berpindah dari langit-langit kamar ke lima sosok yang menatapnya balik dengan senyuman yang lebar.

"Hai, Fang!" Gopal langsung mendekatkan wajahnya seperti seorang elang yang sedang menyambar anak ayam. "Kau ok?"

"Huh?" Yang ditanya hanya merespon dengan memiringkan kepala dengan bingung.

Yaya tersenyum. "Kayaknya dia baik-baik saja deh."

BoBoiBoy mendekat. Wajahnya menunjukkan raut penuh penyesalan. "Fang, uhm, maaf ya. Gara-gara aku kau jadi begini."

"…Fang?"

"Iya. Perisai taufan ku tadi sudah membuatmu dihantam oleh tiang kayu sehingga kau jadi terluka seperti ini."

Fang mengangkat sebelah alis. Mulutnya terbuka sebentar namun ditutupnya kembali seolah-olah lupa apa yang mau diucapkan. "Oh, ya?" katanya kemudian. "Masa sih?"

Sekarang, BoBoiBoy yang menjadi bingung. "Ehm … iya. Kau … kau lupa ya, Fang?"

"Siapa Fang?"

"Nama kau lah." BoBoiBoy menjawab pertanyaan si penanya. Pertanyaan bodoh.

Si pemilik nama Fang tertawa kecil. Sekilas, ia tidak tampak seperti orang yang kepalanya baru saja dihantam tiang kayu dan chandelier besar. "Bicara apa kau, Cinderella. Sejak kapan namaku menjadi Fang."

"HAH?!"

Dan bukan hanya BoBoiBoy. Semua orang yang berada diruangan itu, termasuk para siswi yang mendengar percakapan mereka sekarang ikut dibuat bingung.

"Namaku kan Charming," Fang melirik Gopal. "Benar kan, Ayah?"


~Princess Boy~


Adu Du dan Probe sudah kembali ke markas kotak dengan wajah menghitam dan pakaian penyamaran yang hangus terbakar. Computer dan Kambing yang menyambut mereka hanya menggeleng sedih. Tanpa diberitahu sekalipun, mereka tahu apa yang terjadi. Rencana gagal total.

"Ini semua gara-gara kau, Probe!" si alien terus mengoceh. "Rencana aku untuk memanggang BoBoiBoy menjadi sia-sia!" ia melempar cawan penyok ke arah si robot tempur. Probe yang sudah berpengalaman akan hal itu langsung menghindar ke samping. Cawan itu menghantam dinding dan memantul kembali kearah si pelempar tepat diwajah.

"Sabar, Incik Bos." Computer mencoba menenangkan bos yang sedang marah. Sebuah benjolan terbentuk di kepala kubusnya.

"Maaf, Incik Bos. Aku terhanyut dalam drama Cinderella tadi." Probe meminta maaf, tidak menatap bosnya.

Adu Du mengatur napasnya, berusaha mengendalikan emosinya yang meledak-ledak. "Ide kau dari dulu memang tidak ada yang berhasil. Terpaksa aku harus cari ide sendiri untuk memusnahkan BoBoiBoy."

Si alien melipat kedua tangan dipunggung dan mondar-mandir di tempat dengan geram.

.

1 jam berlalu dan Adu Du masih dalam posisi yang sama.

.

"Sudah dapat idenya, Incik bos?" Tanya Probe.

Adu Du hanya meliriknya tajam.

"Oh, belum ya?" robot ungu itu memainkan jemari robotnya, merasa sedikit kasihan dengan majikannya. Padahal yang ia butuhkan hanyalah satu keberhasilan saja dalam melawan musuh utama mereka yang tak lain adalah anak SD.

Alien berkepala kotak itu memasang wajah masam. Ia duduk diatas lantai sambil memeluk lutunya. Ketiga anak buahnya saling berpandangan. "Haaah … kenapa aku tidak bisa megalahkan si BoBoiBoy itu." keluhnya.

"Mungki Incik Bos kurang tampan?" Probe asal bicara, yang mana langsung mendapat sebuah jitakan keras dikepala.


~Princess Boy~


"Anastasia … Drizella … ? Kalian juga ada disini?" Fang menyapu matanya kesegala ruangan. "Ini dimana sih? Bukan di istana, kan?"

Gopal mendekatkan dirinya ke BoBoiBoy, berbisik. "Kenapa dengan si Fang tuh?"

Tak perlu orang dengan IQ tinggi untuk menyadari apa yang terjadi. Benturan keras di kepala. Linglung. Tidak ingat identitas dirinya. Sudah pasti ia mengalami amnesia.

"Uhm … Fang?" panggi Yaya pelan. "Kau tidak ingat dengan semua insiden tadi, ya?"

"Sudah kubilang namaku Charming." balas Fang, hampir membentak.

"Hei! Kau bukan si pangeran Charming." Jelas Ying dengan logat Chinese nya. "Itu kan cuma peran mu saja di drama Cinderella!"

"Apa katamu, Anastasia?!" sekarang Fang terdengar marah. Ia bangkit dari kasurnya dan berdiri tepat dihadapat si gadis China. "Lancang sekali kau berbicara begitu dengan seorang pangeran."

"Eh, sudah-sudah." BoBoiBoy melerai. "Cikgu, bagaimana nih?"

Papa Zola mengusap dagunya, memperhatikan Fang dengan seksama. "Hmm … kalau cikgu lihat, sepertinya, dia ini sedang dirasuki roh jahat." Si guru aneh itu menyambar segelas air, meneguk isinya dan memuncratkannya kembali ke wajah Fang. "Pergilah kau setan … keluarlah dari tubuh murid Kebenaran …"

"Argh, apa-apaan ini?!" Fang menepiskan air di wajahnya. "Siapa kau? Berani-beraninya menyiram air pada seorang pangeran sepertiku?"

"Hmm … jadi kau tidak mau keluar ya," Papa Zola masih berpikir Fang sedang dirasuki. "Baiklah, kalau begitu, Cikgu akan menggunakan metode yang lebih kasar lagi!" kedua tangannya mengambil sapu lidi yang kebetulan ada di pojokan dan memukul beberapa kali ke bocah yang malang. "Keluar, keluar, keluar."

"Aduh, Oi, sakit tau!"

"Jangan, Cikgu." Yaya dengan cepat merampas sapu lidi dari tangan gurunya. "Kasihan Fang. Dia itu kan lagi amnesia, bukan dirasuki roh jahat."

Fang mengusap-usap kulitnya yang kini kemerahan akibat goresan dari sapu lidi itu.

"Oh, hilang ingatan ya?" Papa Zola tampak berpikir. "Masalah berat nih."

"Tapi, kenapa cuma drama Cinderella saja yang dia ingat?" Tanya Ying. "Hal yang lainnya tidak bisa diingat."

"Bagaimana kalau besok kita bawa ke dokter?" usul BoBoiBoy.

"Dokter apa? Pulau Rintis ini kota kecil," oceh Gopal. "Mana ada dokter disini. Yang ada palingan cuma dokter gigi."

"Terus, bagaimana dong."

Fang menghadap ke Gopal. "Ayah. Sebenarnya apa sih yang sudah terjadi?"

"Woi, sejak kapan aku menikah dengan ibumu."

"Ayah? Kenapa kau bicara seperti itu?" si bocah berambut ungu beralih menatap anak bergaun putri kerajaan, kebingungan masih tampak jelas tergambar di wajahnya. "Cinderella. Ada apa ini sebenarnya? Bukankah tadi aku sedang berdansa denganmu?"

BoBoiBoy menghentakkan kaki dengan kesal. "Ish, kau ni. Yang tadi itu kan cuma drama. Lagi pula kau tidak lihat aku ini anak lelaki?"

"Kau? Anak lelaki? Pfftt … ayolah, Cinderellaku. Mana ada anak lelaki yang memiliki wajah secantik dan suara semanis ini."

Saat itu, BoBoiBoy benar-benar berharap bukan Fang yang mengatakan itu.

Cinderella ku …

Wajah cantik …

Suara manis …

Kalimat-kalimat itu membuat tubuh si pemilik kuasa elemen merinding. Hiiyy … mungkin kata-kata itu akan terkesan lebih indah ditelinga jika Ying atau Yaya yang mengucapkannya.

Ya, dia memang masih mengenakan gaun Cinderella. Nyatanya, tak ada satupun dari mereka yang sempat berganti kostum. Riasan wajah pun belum dihapus. Karena itu kah Fang mengira dia perempuan? Apalagi rambut hitamnya yang sebatas leher itu sebenarnya cukup panjang untuk ukuran anak cowok pada umumnya. Haruskah ia menanggalkan gaunnya sekarang untuk menunjukkan bahwa ia lelaki tulen?

Tidak mungkin. BoBoiBoy tidak mengenakan singlet dibalik gaun itu, yang mana amat disesalinya. Lagipula, ia tidak ingin terlihat telanjang di depan dua teman perempuannya.

"Dengar Fang," Yaya yang berbicara. "Kau sedang mengalami hilang ingatan. Kita semua pahlawan super," Yaya memperlihatkan jam tangannya. "Kami disini semua adalah teman mu. Dan dia ini," tangannya menunjuk BoBoiBoy. "bukan Cinderella. Kau hanya salah—"

"Diamlah Drizella!" Fang membentak si ketua kelas. "Jangan berani menipu ku. Aku tahu kau dan saudarimu itu bukan orang baik-baik. Dasar gadis angkuh!"

"Apa katamu?!" Yaya menjadi berang. Tangannya terkepal siap memberikan tinjuan.

"Hei, Jangan!" si guru matemaika dengan sigap menghentikan Yaya. "Kau mau memukulnya? Cikgu tidak mau melihat anak didik Kebenaran berkelahi di sekolah!"

Si gadis berhijab pink menurut, menghentikan aksinya. Entah mengapa, ia memang mudah emosi jika sudah berada di lingkungan sekolah.

"Kita harus mencari cara untuk mengembalikan ingatan Fang." Gumam Ying.

"Ha! Aku tahu caranya!" seru Gopal. Tanpa disangka, anak gempal itu langsung melayangkan sebuah pemukul baseball yang didapat entah darimana dan menghantamkannya tepat ke kepala anak yang sedang mengalami amnesia. "Kiyah!"

"Jangaaaan ...!"

Dalam sedetik saja, Fang kembali jatuh pingsan.

Empat pasang mata melirik tersangka pemukul dengan tatapan kesal.

"Gopaaaal …"

.

.

.


Author's Note : Pointless chapter? I know. Chapter ini ditulis pas M4dG4rl lagi kurang enak badan sih, jadi kreativitas dalam mengolah kata-katanya juga asal-asalan :3 Mungkin kalian melihat saya sudah menggunakan bebeapa kata yang sama T_T (*prays*Oh, creativity, please come back soon). Dan berhubung M4dG4rl bakalan sibuk dengan ujian dan presentasi, so I'll take a break for a while from writing until my major exam's over and inspiration comes. But I'm still on as both readers and reviewer.