Rina: Yak, update! Ternyata cerita yang bener-bener ngasal ini dapet review banyak! Saia jadi senang... *nangis bahagia*

Rin: Kenapa aku nangis melulu sih di fic ini? *protes*

Rina: Ayolah Rinny~ ntar kamu bakalan dapet waktu senang kok... tapi nanti!

Rin: Author... R-i-n-a... *amarah memuncak*

Rina: Kyaaa, tapi saya disclaimer sendiri saja...

Saya tak mungkin tak mungkin dan tak mungkin punya Vocaloid! Semuanya adalah milik pemilik mereka masing-masing!

Kalau begitu saya lari dulu! *lari gara2 Rin ngejar author Rina naek Road Roller*


Unknown POV


Kini aku dan keluargaku sudah berada di sebuah bandar udara. Aku menarik koperku dan dengan bersemangat berlari menuju pintu keluar terminal yang melayani kedatangan luar negeri. Aku melambaikan tanganku ke arah keluargaku yang tertinggal jauh dariku.

"Ayah, Ibu, ayo cepat!" teriakku sembari melambaikan salah satu tanganku pada mereka. Aku kini sudah hampir sampai di pintu keluar terminal itu.

Mereka hanya membalas lambaian tanganku dengan lambaian ringan yang ditujukan kepadaku dan berkata, "Jangan khawatir Teto, kau tak akan tertinggal apapun kok! Lagipula kita baru pindah hari ini!" ucap mereka dengan melambaikan tangan mereka padaku.

Kenapa aku sangat bersemangat seperti ini? Kalian, pasti ingin tahu kenapa aku benar-benar ingin cepat pergi dari bandara dan ingin segera sampai di rumahku yang baru. Atau lebih tepat kubilang lama. Karena aku pernah tinggal disini sejak aku lahir hingga umur 5 tahun.

Omong-omong perkenalkan, namaku Teto Kasane. Rambut berwarna merah dengan mata berwarna merah darah, kulitku berwarna putih bersih dan orang-orang bilang aku punya suara yang bagus.

"Apa dia mengingatku, ya?" pikirku. Aku melihat ke arah langit yang berwarna kemerahan, tanda bahwa sebentar lagi malam. Mungkin aku bisa dekat dengannya lagi besok. Dan lusa aku akan bersama dengannya lagi di sekolah. Dia bertekad untuk mendapatkannya.


Normal POV


Langit saat itu sudah mulai berwarna kemerahan, matahari juga sudah mulai beristirahat pada horizon. Saat itulah seorang gadis yang memiliki rambut Honey Blond tertidur di kamarnya dengan air mata yang masih tersisa di matanya.

Saat seorang lelaki yang memiliki rambut berwarna biru laut mengetuk pintu kamar gadis itu, dia merupakan kakak dari gadis itu, dan sekarang dia hendak membangunkannya. Namun, karena si gadis itu tidak menyahut, laki-laki itu memasuki kamar si gadis, dan mengguncang-guncang tubuh dari si gadis untuk membangunkannya.

"Rin, makan malam sudah siap, apa kau bisa bangun sekarang juga?" ucap laki-laki itu untuk membangunkan gadis itu.

Perlahan-lahan mata dari gadis bernama Rin itu terbuka,


Rin POV


"Ngh..." gumamku saat aku merasakan tangan yang halus mengguncang-guncang tubuhku. Namun, mataku terasa berat dan aku malas bangun.

"Rin, makan malam sudah siap, apa kau bisa bangun sekarang juga?" ucap pemilik tangan yang berusaha membangunkanku.

Aku membuka mataku perlahan-lahan, dan duduk di atas tempat tidurku, meski mataku masih sembap karena menangis lagi. Aku berhasil bangun dan melihat kakakku, Kaito, yang masih memakai celemek dan membawa es krim di tangannya.

"Bagus, kau sudah bangun sekarang. Apa kau bisa mengganti baju seragammu itu, dan segera turun untuk makan malam?" ucap kak Kaito masih dengan memakan es krimnya.

Aku hanya mengangguk, dan segera berdiri dari tempat tidurku, masih dengan memeluk boneka Keroro.

Kak Kaito sekarang sudah pergi dari kamarku dan mungkin, menungguku di ruang makan untuk makan malam. Aku tidak terlalu memperhatikan keadaan disekitarku dan hanya mengganti baju seragamku yang terlihat kumal, dengan sebuah kaos bergambar jeruk. Warnanya juga oranye.

Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh mukaku dan untuk menyembunyikan mataku yang sembab karena kebanyakan menangis. Aku melihat cermin, dan baik rambut maupun wajahku sangat berantakan sekarang.

Setelah merapikan rambutku sedikit dan membasuh wajahku, aku turun ke lantai bawah, dan melihat bahwa makan malam masih hangat. Dan sepertinya makan malam itu, baru jadi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Lama!" keluh kak Kaito yang membuka kulkas dan matanya sedikit terbelalak. Aku hanya berjalan menuju ke meja makan dan mengambil sebuah jeruk.

"Rin, jeruk jatahmu sudah habis, begitu pula dengan es krimku. Apa kau bisa membeli stok barang setelah makan malam? Aku sibuk belajar untuk ujian!" ucap kak Kaito.

Aku yang mengupas sebuah jeruk yang ada di meja makan hanya mengeluh, "Eeh, kenapa aku terus sih?" keluhku pada kakak sambil memasukkan sepotong jeruk ke dalam mulutku.

"Aku kan sudah masak, setidaknya kau keringkan bekas air matamu yang tersisa itu dengan jalan-jalan keluar sekaligus membeli stok makanan." balas Kaito dengan sedikit menambah bagian yang tidak enak pada perkataannya.

Aku merasa digertak, dan aku akhirnya mengiyakan pekerjaan itu, aku dan kak Kaito kemudian makan malam bersama. Kami makan masakan dari kak Kaito yang tidak terlalu enak juga tidak terlalu buruk.

Setelah selesai aku mengenakan sandalku yang memiliki motif jeruk dan berwarna putih, bukan oranye, karena saat beli, yang warna oranye sudah sold out dan yang ada hanya warna putih.

"Aku pergi!" ucapku saat aku membuka pintu dan keluar dari rumah. Dari jauh aku bisa mendengar suara kak Kaito mengucapkan balasan perkataanku.

Langit yang cerah penuh bintang terhampar di atas kepalaku. Aku memandangi langit sekilas dan berjalan kembali menuju ke supermarket, saat ada seseorang yang memiliki warna rambut yang sama dengan teman masa kecilku.

Aku spontan berbalik dan melihat orang yang melewatiku tadi, namun tidak, dia bukan orang yang aku cari. Orang yang kucari merupakan teman masa kecilku yang tiba-tiba menghilang. Karena aku teman ba- ah, bukan, sahabatnya, dia tak ingin melihatku menangis saat dia pindah meninggalkanku. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang.

(Esoknya...) Hari ini sekolah masih berlalu seperti biasa, dan aku menjaga jarak dengan Len juga Miku. Bukan karena aku membenci mereka berdua, namun saat aku melihat Miku, aku merasa bahwa aku gagal sebagai seorang teman karena aku jatuh cinta pada pacarnya, aku teman yang buruk bukan?

Len? Ah, dia hari ini dihukum oleh guru killer karena dia tidak mengerjakan PR-nya dan mengumpulkan notes kosong. Saat dia ditanya, dia hanya berkata, "Karena tak ada gunanya kita mempelajari orang yang mati, aku tak mengerjakannya." begitu katanya.

Tentu saja dia dihukum untuk membesihkan kelas sepulang sekolah selama seminggu penuh, dan Miku berakhir harus membantunya. Saat aku melihat mereka, dadaku menjadi sakit. Ternyata memang tak ada celah untukku untuk menghalangi hubungan mereka berdua.

Aku berpikiran untuk mengikuti klub untuk mengalihkan pikiranku. Namun, aku tak menemukan klub yang cocok untukku ataupun yang ingin kumasuki. Dan cuaca juga sudah mulai menandakan bahwa kami sudah memasuki musim gugur. Hanya dua bulan hingga Festival Kebudayaan dilaksanakan.

Saat aku sampai dijalan yang merupakan rute pulangku. Aku melihatnya lagi, dia kini memiliki tinggi yang sama denganku, dulu kami terlihat sama, kecuali warna rambut dan mata kami, dan kini perbedaan itu semakin jelas, dan aku mengingat dia dengan sangat jelas meski sudah 11 tahun.

"Aku pulang Rin-chan!" ucapnya dengan senyum yang selalu tampak diwajahnya.

Rambutnya kini diikat dua ke samping, dan rambutnya kini bergelombang. Saat aku melihatnya lagi, tanpa sadar aku menjatuhkan tas yang kubawa dan mengatupkan kedua tanganku di depan mulutku.

"Teto-chan! Kapan kau pulang?" tanyaku. Air mataku tergenang di pelupuk mataku, aku tak bisa menahannya dan aku segera berlari memeluknya.

Teto juga memelukku kembali. Sepertinya dia senang bahwa aku mengingatnya, meskipun dia pindah tanpa berkata apapun padaku... Tentu saja aku mengingat Teto, karena dia merupakan sahabat terbaikku saat kami masih berumur 5 tahun.

"Rin-chan, kau mengingatku ya..." ucapnya.

Aku hanya mengangguk pelan saat aku masih memeluknya. Sesaat, hanya sesaat, aku melupakan perasaan yang tak mungkin terbalas terhadap Len. Dan aku menangis bahagia karena dapat bertemu lagi dengan Teto.

Tak lama kemudian, Teto melepaskan pelukanku dan kemudian dia berkata, "Besok, aku akan pindah ke sekolahmu Rin-chan. Kita berteman lagi seperti dulu,ya?" ucap Teto.

Aku hanya mengangguk meski air mataku masih mengalir, namun, aku senang Teto kembali. Setelah aku menhapus air mataku, aku dan Teto berjalan bersama menuju rumah kami masing-masing, ternyata rumah Teto terletak disamping rumahku. Seperti saat kami masih berumur 5 tahun...


Rina: Nah, karena chapter 2 agak pendek begini, saya mohon maaf dan meminta review na!

Rin: Awas kau Author! *ngejar2 author Rina naek Road Roller*

Teto: Lho, saya dapet bagian y disini...

Rina: hwaaa maafkan saia! Dan sampai jumpa lagi di chapter 3! *lari sambil nangis2*