Terinspirasi dari ANBU karya THE Tazzy Devil. Silakan dibaca fanfic tersebut di situs ffn ini.

.

WARNING : Tidak ada lemon eksplisit. Rate-M untuk penggunaan bahasa dan beberapa tindakan menjurus(?).

Tindakan sedikit sadis di chapter ini!

.

Disclaimer : I only own the story

.

.

.

Lavender and Kitsune

.

.

.

CHAPTER 2

Hosh.. Hosh..

Setelah cukup lama menguras tenaga untuk berlari, sampailah dirinya di depan pintu gerbang mansion keluarganya. Dengan mengendap-endap pelan ia memasuki kompleks mansion tersebut dan mengambil jalan memutar hingga sampai di halaman samping di mana sebuah pohon tua bertumbuh. Menengok ke kiri dan kanan sebelum akhirnya memanjat pohon tersebut dan sampailah ia di balkon kamarnya. Setelah mengatur nafas sejenak, dibukanya jendela kamarnya yang sengaja ia biarkan tidak terkunci, tentu saja agar ia dapat masuk bukan?

Ia kunci jendela kamarnya dan segera merebahkan tubuh mungilnya yang cukup kelelahan di atas kasur.

"Huft.. Syukurlah akhirnya aku sampai juga di tempat paling nyaman ini."

Pikirannya menerawang pada kejadian yang baru saja ia alami. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal seperti itu. Sudah terlampau sering ketika ia pulang dari pekerjaannya dan mendapati dirinya diuntit baik secara sadar maupun tidak. Namun hasil pelatihan senbon yang menurutnya memuakkan itulah yang justru menyelamatkannya berkali-kali. Tetapi entah mengapa malam ini sedikit berbeda. Rasanya laki-laki tadi tidak benar-benar berniat jahat padanya. Apalagi menilik mata birunya yang sejernih samudera itu. Lalu dengan cepat digeleng-gelengkannya kepalanya membuat rambut indigonya bergoyang.

"Shit! Apa yang aku pikirkan? Jelas-jelas tadi dia berusaha memperkosaku."

Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan melepaskan pakaiannya lembar demi lembar. Kemudian melangkah ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Sungguh kebiasaan buruk. Saat membuka kran air hangat tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Tetapi sama sekali tidak bisa diingat. Berusaha mengorek-orek kembali pikirannya namun belum juga menemukan jawaban hingga akhirnya menyerah.

.

.

.

Berjalan dengan sedikit terseok-seok lelaki itu akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Sebuah flat sederhana bahkan bisa dibilang sedikit kumuh. Apa pedulinya? Ia hanya butuh tempat untuk tidur dan meletakkan barang-barangnya bukan tempat untuk ditinggali sepanjang hari. Namun baginya tempat ini tetaplah yang paling nyaman kedua setelah rumah ayahnya. Oh iya semenjak memutuskan untuk bekerja pada kepolisian, lelaki ini memilih untuk tinggal sendiri. Menyewa sebuah flat murah yang biaya bulanannya sangat kecil sehingga ia bisa menyisihkan upahnya untuk ditabung. Ditabung? Tentu saja. Suatu saat nanti ia pasti akan menjadi manusia normal bukan? Selain itu ia tidak ingin membuat ayahnya kerepotan mengurus dirinya. Meskipun ia tahu bahwa sang ayah sama sekali tidak merasa direpotkan. Bahkan ketika ia memutuskan pindah ayah berusaha menahannya. Walau pada akhirnya tetap mengijinkannya pergi dengan syarat ia mau menerima uang bulanan yang tidak seberapa yang diberikan oleh sang ayah.

BLAAMM

Membanting pintu kamar dengan kakinya, lelaki itu segera merebahkan diri di kasur kerasnya. Tentu saja setelah meletakkan tape recorder yang dibawanya di sudut ruangan.

Ng...

Tape recorder?

Melirik sejenak ke arah benda balok tersebut, lelaki itu terkekeh.

"Hahahahaha... Apa kau merasa kehilangan sesuatu, sayang?"

Ketika membayangkan raut wajah sang gadis saat menyadari tape recordernya tidak ada, lelaki itu tertawa semakin keras.

"HAHAHAHAHA... Sepertinya kita akan segera bertemu lagi."

Setelah merasa puas tertawa, ia bangkit dari rebahannya dan berjalan ke kamar mandi.

.

.

.

TOK.. TOK..

"Hinata-sama, apakah anda sudah bangun?"

Suara lembut seorang pelayan di rumah megah Hyuuga mengusik pagi hari sang gadis indigo. Dengan pelan ia bangun dan duduk.

"Hai, Hitomi-san. Saya sudah bangun."

"Hiashi-sama dan Hanabi-sama menunggu anda di meja makan."

"Baiklah."

Beranjak dari tempat tidurnya, Hinata masuk ke kamar mandi. Setelah menggosok gigi, ia menyisir rapi rambutnya yang berantakan dan segera turun ke lantai satu untuk bergabung dengan keluarganya di meja makan. Belum sampai kakinya mendarat di undakan terakhir, dilihatnya sang ayah tengah menatap datar padanya. Menghembuskan nafas pelan Hinata mulai duduk di meja makan menghadap sang adik. Kemudian mereka memulai ritual sarapan mereka.

Setelah selesai sarapan seperti biasa Hinata hendak membereskan peralatan makan yang kotor ketika didengarnya Hiashi berbicara.

"Biarkan Hitomi yang mengurus. Ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu."

"Ha-hai otou-sama."

"Hanabi, pergilah dulu. Ini pembicaraan untuk ayah dan kakakmu."

Sang adik yang berrambut cokelat panjang tersebut bergegas meninggalkan ruang makan meskipun dalam hati ia merutuk. Setelah yakin Hanabi tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, Hiashi memandang Hinata dan mulai berbicara.

"Berapa usiamu?"

"Ma-masuk 16 tahun Tou-sama."

Meski terheran-heran dengan pertanyaan sang ayah, Hinata tetap menjawabnya. Hiashi mengangguk.

"Kau sudah dewasa. Ayah rasa sudah saatnya kau menikah."

Hinata hanya membelalakkan matanya tak percaya. Menikah katanya? Bahkan ia belum lulus sekolah. Lagipula ia masih ingin melanjutkan kuliah setelah SMA nanti. Apa ayahnya sudah tidak waras?

"Me-menikah? Ta-tapi-"

"Baiklah mungkin tidak sekarang. Tapi setidaknya bisa bertunangan terlebih dahulu."

"Tapi-"

"Apa kau ingin membantah ayah?"

"Ti-tidak."

"Hm.. Bagus. Kalau begitu aku anggap kau setuju."

"O-otou-sama. Hinata ingin melanjutkan kuliah setelah lulus SMA."

"Kau bisa tetap kuliah. Pertunanganmu tidak akan mengganggu kuliahmu bukan?"

Hinata hanya terdiam dan menatap nanar kepergian sang ayah. Ingin rasanya ia menangis, tapi percuma saja. Ia tidak akan pernah bisa meneteskan air mata lagi mungkin karena sudah terlalu kering kelenjar air matanya. Hinata sempat kepikiran bisik-bisik para pelayan di rumah Hyuuga yang didengarnya seminggu lalu.

"Hiashi-sama menganggap Hinata-sama sebagai sebuah kegagalan."

"Jadi Hiashi-sama merasa malu dan akhirnya memilih untuk menyerahkannya kepada keluarga Otsutsuki?"

"Sepertinya begitu. Aku merasa kasihan pada Hinata-sama."

Hinata merasa dunia benar-benar tidak berpihak kepadanya saat ini. Dengan tangan meremas dadanya yang terasa sakit, ia berlari menuju kamarnya dan mengunci pintunya. Sejenak matanya memandang datar foto besar seorang wanita cantik berrambut indigo yang dipasang di dinding kamarnya.

"Kenapa kaa-sama meninggalkan Hinata? Apakah Hinata berbuat salah sehingga kaa-sama tidak mau lagi mendampingi Hinata? Hinata butuh kaa-sama, Hinata rindu kaa-sama."

Lalu dihempaskannya tubuh mungilnya di atas kasur sebellum ia kembali terlelap.

.

.

.

"..ruto.."

Suara bariton yang terdengar sama sekali tidak merdu menghampiri gendang telinganya. Dengan malas dibukanya kelopak mata yang rasanya beratnya jadi tambah berkilo-kilo (lebay).

"Ayah.."

"Dasar pemalas. Sudah jam 9 dan kau belum bangun?"

Naruto mendudukkan dirinya menghadap sang ayah yang telah terlebih dahulu terduduk di tepi ranjang. Kedua tangannya mengusap pelan wajahnya.

"Ayah sudah siapkan sarapan untukmu. Makanlah dulu."

"Ayah mau langsung pulang?"

"Tentu saja tidak. Ayah akan bereskan tempat tinggalmu yang mirip kapal pecah ini."

Naruto hanya nyengir kuda sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Maaf ayah, aku sibuk sekali beberapa hari ini."

"Hm.. sebenarnya ayah penasaran apa pekerjaan sambilanmu itu? Tapi kalau kau memang belum ingin membicarakannya ya sudah."

"Aku hanya malu ayah. Tapi kalau nanti sudah siap aku pasti akan bercerita."

Naruto berdiri dari tempat tidurnya dan bergegas menuju ruang tengah untuk makan sementara sang ayah memulai kegiatan kerja baktinya.

Drrt.. Drrt..

Getaran dari Hpnya membuat Naruto menghentikan kegiatan makan dan tangannya mulai membuka aplikasi pesan teks.

"Anak bebek 2 terlihat berkeliaran di pusat kolam K. PS : Putaw!"

Secepat kilat Naruto bangun dari posisinya dan berlari ke kamar. Memasukkan segala benda yang ia butuhkan dalam sebuah tas ransel usang. Kemudian berlari menuju ke pintu depan sebelum mendengar teriakan sang ayah.

"Kau mau kemana Naruto?"

"Maaf ayah, aku baru ingat jika ada janji dengan teman. Dia sudah menunggu lama. Aku mencintai ayah. Ittekimasu."

"Itterashai." Jawab ayahnya disertai dengan gelengan kepala."

.

.

.

"Halo Kitsune.."

"Halo bos ternyata anak bebek membawa 2 temannya untuk berenang. Perintah?"

"Putaw."

"Hai."

Lelaki dengan helaian rambut kelam tersebut bergerak pelan mengintai mangsanya. Kali ini ia tidak menggunakan topengnya karena akan sangat mencolok bukan saat siang hari tiba-tiba ada pahlawan bertopeng muncul di kota? Ia hanya menggunakan tudung jaket hitamnya hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Mata birunya menatap tajam ketiga mangsanya yang sedang terlibat percakapan serius. Entah apa yang mereka bicarakan, lelaki rubah ini tidak peduli. Ia hanya diberi perintah untuk menebas habis tiga orang laki-laki yang bahkan tampaknya tidak berbahaya. Hey, kita tidak bisa menilai buku hanya dari sampulnya bukan?

Sesaat kemudian lelaki pertama yang bertubuh pendek dengan rambut pirang panjang yang diikat tinggi pergi memisahkan diri. Kitsune mengikuti pergerakan lelaki tersebut hingga sampai ke sebuah gedung tua yang tampaknya sudah tidak pernah dimanfaatkan lagi. Sebelum sempat lelaki itu memasuki gedung, katana Kitsune telah membelah kulit lehernya dan membuatnya tumbang. Bergerak secepat kilat, Kitsune menyusul kedua bebek yang tersisa dan dengan bantuan GPS berhasil menemukan mereka sedang duduk di bawah pohon tua di taman kota.

Mempertimbangkan suasana taman kota yang masih ramai-mengingat ini hari Minggu- Kitsune memutuskan untuk memanjat pohon tersebut diam-diam. Selanjutnya menebas leher mereka dalam sekali ayunan katananya. Beruntung ada mobil ambulans yang melewati taman ini hingga menyamarkan teriakan kedua korban.

Selang beberapa menit setelah menutup wajah korbannya dari atas dengan jaket hitam yang ia kenakan, Kitsune melompat turun dari pohon dan mulai berjalan mengitari taman. Ia berhenti duduk di bangku panjang yang kosong. Kemudian mengeluarkan Hpnya dan dengan gerakan cepat mengetik pesan.

"Mission Accomplished!"

Sambil berusaha mengatur nafasnya ia memejamkan matanya. Berharap dapat sedikit memberikan ketenangan setelah menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun ia begitu menyukai pekerjaannya, tetap saja beberapa saat setelah melakukan pekerjaan itu ia merasa ada yang menusuk hatinya dengan jarum jahit kecil. Biasanya ia hanya perlu beberapa menit untuk kembali tenang. Niatnya sih perlu ketenangan, tetapi suara berisik di sampingnya membuatnya sedikit kesal.

"Ah.. Gomen, aku tidak tampil hari ini."

Merasa familiar dengan suara merdu barusan, lelaki rubah itu membuka matanya. Matanya melirik ke arah suara. Sesaat kemudian ia menyeringai lebar.

"Huft.. merepotkan sekali. Kupikir mereka tidak mengenaliku."

Gadis yang memakai jaket ungu pudar tersebut duduk di bangku yang ia duduki meski agak jauh. Ia tidak melihat helaian indigo yang sempat ia kagumi semalam saat ia menguntit gadis ini. Hari ini sang gadis memasukkan rambutnya ke dalam tudung jaket. Sejenak mata birunya mengamati lebih inten pemandangan di hadapannya. Semalam tidak terlalu jelas, tetapi hidung mungil itu, kulit wajahnya yang putih itu, oh ya bibir peach yang sedang mengerucut itu benar-benar menggodanya.

"Huft.. sialan! Gara-gara stalker itu aku jadi kehilangan tape recorderku. Padahal dua kaset berharga ku ada di sana. Hahhhh..."

Mendengar gerutuan sang gadis membuat Kitsune semakin melebarkan seringaiannya. Perlahan ia menggeser duduknya mendekati sang gadis.

"Kau mau kaset itu kembali?"

Gadis Lavender itu seketika membelalakkan mata-di balik kacamata hitam-nya. Dengan gerakan patah-patah ia menoleh ke kanan di mana ada pemuda itu. Sepertinya hari ini entah hari keberuntungannya atau justru hari sialnya.

"Kau.."

Dilihatnya pemuda berrambut hitam itu menatap lurus ke arahnya, bibirnya menyeringai. Itu yang membuatnya kesal.

"Kau yang semalam?" teriak Lavender.

"Pelankan suaramu kalau kau ingin barangmu kembali."

Gadis itu diam dan mengumpat dalam hati. Sebenarnya bisa saja ia membeli recorder yang baru. Tapi ia tidak bisa melakukannya. Recorder itu adalah tipe kuno yang sudah tidak diproduksi lagi. Bukan hanya itu, benda itu sudah ia anggap sebagai jimat keberuntungan yang selalu membawa kebahagiaan untuknya. Mungkin karena merupakan hadiah terakhir yang ia terima dari kaa-samanya saat ia berulangtahun kelima. Benar bukan? Benda itu adalah benda bersejarah sekaligus kenangan berharga dari sang Ibu.

"Jadi?"

Kata bernada tanya dari pemuda itu membuat lamunannya buyar. Mendesah kesal ia memandang tajam si pemuda. Meskipun itu percuma karena yang pemuda itu lihat hanya kacamata hitamnya saja.

"Tolong kembalikan! Aku membutuhkannya." Ucapnya dengan nada lembut yang dibuat-buat.

"Mengingat apa yang kau lakukan padaku semalam, mengapa aku harus mengembalikannya?"

"Karena itu milikku."

"Tapi kau sudah meninggalkannya dan aku memungutnya. Jadi benda itu sekarang milikku."

Gadis lavender itu mulai mengacak tudung jaketnya frustasi. Sambil memejamkan matanya, sejenak ia menghela nafas dalam.

"Baiklah, apa maumu?"

"Aku ingin membicarakannya baik-baik tetapi tidak di sini. Mungkin sambil makan siang? Anggap saja kau mentraktirku sebagai ucapan terimakasih karena telah memungut recordermu."

"Kau mau memerasku?"

Pemuda itu hanya mengendikkan bahu dan kemudian berjalan menjauh. Gadis itu terpaksa mengikutinya setelah mengeluarkan erangan frustasi.

.

.

.

"Hei! Boleh aku tanya namamu?"

"Kenapa? Kau penasaran?"

"Cih, Bukan! Hanya saja aku tidak enak jika memanggilmu dengan "hey" saja."

"Kitsune."

"Apa?"

"Aku biasa dipanggil Kitsune."

Sejenak sang gadis terdiam, pikirannya menerawang. Kitsune no Anbu? Penduduk kota ini mengenal nama itu meskipun tidak pernah tahu wujudnya, termasuk gadis ini tentu saja. Tapi ia tidak yakin. Dalam bayangannya Kitsune no Anbu pastilah seorang pria dewasa yang gagah, berkharisma dan menawan. Membandingkan dengan pemuda di hadapannya, gadis ini tertawa keras membuat si pemuda menoleh dan menatap bingung padanya.

"Apa yang lucu?"

"Pftt.. Tidak ada. Kenapa orang memanggilmu Kitsune?"

"Entahlah mungkin karena aku gagah seperti Kitsune no Anbu?"

"Keh.. Percaya diri sekali. Justru karena cengiranmu mirip rubah makanya kau dipanggil Kitsune."

Jawaban gadis ini membuat Kitsune tertawa.

"Kau sendiri?"

"Hah?"

"Namamu?"

"Lavender Princess."

Dan meledaklah tawa nista si pemuda. Sambil memegang perutnya yang sakit akibat tawa yang tak terkendali Kitsune menepuk keras bahu gadis itu hingga hampir terjungkal.

"Sialan! Apa yang kau tertawakan?"

"Hahahahaha.. Pffttt... Seharusnya bukan Lavender Princess tapi Lavender Witch."

"Apa masalahmu?"

"Princess tidak ada yang garang sepertimu nona.."

"Cih!"

"Lihat! Kita sudah sampai."

Keduanya telah sampai di depan sebuah kedai ramen Ichiraku. Lavender benar-benar cengo. Dia kira pemuda ini akan memerasnya untuk makan di restoran mewah. Ternyata ramen Ichiraku, sederhana sekali, membuat gadis itu tersenyum manis. Senyuman tulus sang gadis tidak luput dari mata tajam Kitsune.

Lalu perasaan aneh menyelimuti hatinya. Bagaikan ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya. Detakan kencang jantungnya bahkan berlipat-lipat dibandingkan saat dia nyaris terbunuh dalam pekerjaannya. Oh bahkan rasanya sangat berbeda. Baru kali ini ia merasakan perasaan yang seperti ini. merasakan hangat menjalari pipinya, Kitsune mengalihkan pandangannya.

"Hei Sune-kun."

Twitch!

Semua euforia yang baru saja ia rasakan langsung rontok begitu mendengar panggilan sang gadis kepadanya.

"Hei! Kau memanggilku apa penyihir?"

"Hm.. Kau sendiri barusan memanggilku apa?"

"Ah sudahlah, ayo masuk."

Keduanya menarik bangku tinggi yang disediakan kedai itu.

"Oo-san, ramen jumbo 2 porsi."

"Hei, aku bahkan belum bilang aku mau makan apa?"

"Hah? Tinggal bilang saja kan?"

"Tapi kau sudah memesankanku?"

"Tidak, itu dua porsi untukku."

Gadis itu hanya bisa cengo sebelum akhirnya sadar.

"Huft.. baiklah, aku pesan miso ramen porsi standar saja."

Lavender mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kedai. Suasana di kedai ini sangat menyenangkan. Meski hanya kedai kecil tetapi sepertinya masakan yang disajikan benar-benar berkualitas. Di sisi lain dia merasa senang dan bebas. Kehidupannya benar-benar sempurna.

"Jadi kau sudah siap bernegosiasi?"

Lavender menoleh, menatap mata biru pemuda rubah itu.

"Hm.. Apa tawaranmu?"

"Aku mau kau jadi pembantuku selama tiga bulan!"

.

.

.

TBC

.

.

.

Aduh.. Aneh ya? Nai kok nggak PD bikin yang beginian ya? Perlu dilanjut gak atau dicut aja?

Hehehe Review please.. Arigato