Europe
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Aomine Daiki/Momoi Satsuki. Genre: Romance/Family. Rating: T. Other notes: ficlet/oneshot collection. 2/3.
(Keluarga Aomine dan keluarga Momoi mengadakan liburan bersama ke tiga negara di Eropa.)
#2 england: thames river
Sesekali Daiki bertanya-tanya, mengapa Satsuki bisa secepat ini dalam mengayuh pedal sepeda? Apakah semangat bisa mengalahkan perihal skill olah tubuh yang dia miliki? Sesekali pula dia harus menggowes sepedanya agar mereka tetap berjejer bersama di jalanan ini.
Daiki kembali menanyakan hal lain—tidak disuarakan, hanya terlihat melalui tatapan matanya yang merendah ke arah Satsuki—apakah hanya dirinya yang sedang terlalu malas atau Satsuki yang terlalu antusias?
Jalan-jalan di London dinikmati Satsuki dengan sepenuh hati, meskipun dia menjalankan sepedanya dengan sedikit cepat, dia tetap sempat memberi perhatian ke sekeliling dan bernyanyi-nyanyi dengan suara rendah. Sesekali pula dia berhenti mendadak—dengusan Daiki adalah bayaran untuk ini—untuk memotret beberapa objek yang dirasanya indah. Kamera DSLR yang tergantung pada lehernya tidak menghalanginya untuk bergerak bebas. Padahal, kelihatannya itu cukup menyakitkan; membuat pegal.
Satsuki melambatkan sepedanya—sebuah kelegaan untuk Daiki. Semoga saja dia merasa banyak objek yang bisa ditangkap lewat kameranya, sehingga dia akan berlama-lama di sini dan Daiki tak perlu kepayahan mengejarnya lagi.
"Dai-chan," panggilnya, telunjuknya mengarah agak sedikit ke tenggara dari tempat dia menepi. "Mau memutar tidak? Kelihatannya di sana agak ramai ..."
Daiki memicingkan mata. "Kurasa kita masih bisa lewat," matanya kemudian mengekori sebuah mobil sedan hitam antik yang melintas di samping mereka, kemudian tetap saja terus memasuki jalanan yang ramai dan cenderung padat merayap itu. Dia memastikan bahwa mereka baik-baik saja jika menembusnya. Lagipula, memutar itu merepotkan. "Ayo."
Meski pertentangan sudah siap diucapkan dan Satsuki telah hampir menyuarakannya, Daiki terus maju, dan akhirnya Satsuki mengalah.
Begitu mereka memasuki jalan itu, ternyata yang ditakutkan Satsuki bukan kenyataan. Padatnya jalan disebabkan oleh beberapa orang yang berada di tengah-tengah jalan dengan mawar-mawar di tangan mereka, dan mendekati beberapa pejalan kaki serta pengendara mobil maupun sepeda yang berhenti di lampu merah.
"Permisi," salah satu dari para penawar bunga itu mendekati Satsuki dan memberi salam dengan bahasa lokal. Daiki bersyukur bahwa Satsuki orangnya menarik, jadi dialah yang didekati terlebih dahulu. Kalau dirinya yang didekati? Bung, dia tidak membawa kamus saat ini!
"Ya?" mata Satsuki fokus pada bunga-bunga di pelukan si gadis berambut platinum yang sedang tersenyum padanya.
"Kami sedang mengadakan acara amal untuk membantu sebuah yayasan yang menampung anak-anak di bawah usia tiga belas tahun yang menderita kanker. Belilah bunga kami untuk membantu pendanaan yayasan."
"Boleh," Satsuki pun mengeluarkan dompetnya, mencari-cari lembar poundsterling—dengan nominal yang sama dengan apa yang tertera pada label bunga tersebut—di sela-sela lembar yen yang masih disimpannya. "Ini. Satu tangkai, ya."
"Terima kasih banyak," gadis itu mengangguk dan menyerahkan satu tangkai mawar merah jambu pucat untuk Satsuki. "Selamat menikmati perjalanan Anda, Nona Turis."
Satsuki membalasnya dengan senyuman belaka, lampu merah telah berubah jadi hijau dan dia sedang tidak punya stok kata-kata dalam bahasa Inggris untuk dia ujarkan sebagai jawaban.
Dia bersepeda dengan lebih pelan kali ini. Daiki mendeliknya. Apa sang kekasih sudah lelah? Apa wangi mawar mengubah psikologisnya sehingga dia menjadi lebih santai?
Satsuki berhenti di sebuah jembatan dan menepikan sepedanya semakin mendekati tembok semen pembatas jembatan yang tak tinggi itu. Dia hanya memotret satu kali. Kameranya masih dia pegang, setengah turun dari wajahnya, namun dia tidak memotret. Hanya memandangi sungai seakan menanti seekor paus pembunuh muncul mendadak dari sana.
"Kau kenapa?"
"Hmmm," Satsuki hanya bergumam, kata-katanya dikulum sejenak.
"Lapar?"
Dia menggeleng. Daiki maju sedikit untuk mencuri pandang bagaimana wajah Satsuki sekarang.
"Ada yang ingin kau beli lagi?"
"Tidak juga," Satsuki mengangkat bahu.
"Atau kau menunggu seekor ikan paus keluar dari sana?"
Satsuki tertawa sekali, pelan dan mulutnya hampir-hampir tidak terbuka. "Aku hanya sedang bertanya-tanya tentang sesuatu."
Sepertinya Satsuki kambuh, pikir Daiki. Dia harus memerintahkan otaknya agar berjalan lebih cepat kali ini, dia yakin. "Apa?"
"Pernahkah kau berpikir bahwa kau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri, bersenang-senang sendiri, dan hal itu sebenarnya hal sia-sia belaka—karena hidupmu jadinya tidak berguna sama sekali, karena kesenangan itu begitu cepat berlalu?"
Bagi Daiki yang sering hidup untuk dirinya sendiri, memanfaatkan waktu untuk memuaskan diri, hal itu cukup membuatnya seperti korban yang barusan ditusuk pisau belati oleh seorang penjahat kawakan. Meski dia sudah bukan lagi anak sekolah sekarang, dia kerap merasa bahwa dia tak berkepentingan dalam mengkontribusikan dirinya untuk sekeliling.
"Kau berpikir terlalu jauh."
"Aah, apa salahnya? Aku terpikir hal ini karena orang-orang tadi. Mereka relawan, lho, dan mereka rela menghabiskan waktu di jalan untuk menjual bunga untuk acara amal."
"Lupakan itu. Kau berpikir begitu hanya karena kau tidak pernah berpikir seberapa besar arti dirimu untuk orang-orang di sekitarmu," Daiki mengulurkan tangannya untuk mengusap bagian belakang kepala Satsuki. Salah satunya untukku, namun dia tidak mengucapnya gamblang.
Satsuki menunduk dan mengulum bagian dalam diturunkan dan dia memandangi sambil menyentuh bunga merah jambu yang barusan didapatnya. Daiki menjumput segenggam kecil rambut Satsuki dan membawakannya mendekati wajah gadis itu, yang sedang membaui mawarnya.
"Mirip dengan rambutmu."
Satsuki menoleh, "Oh—"
"Kurasa warna ini cocok untuk jadi bunga pelengkap gaunmu nanti."
Maka, bergantilah cara Satsuki memandang Daiki. Dia menahan tawanya. "Kurasa kau sudah tidak sabar untuk datang ke perancang busana begitu kita kembali ke Tokyo nanti."
"Terserahmulah."
Satsuki mencubit tangan Daiki, dan genggaman lelaki itu akan rambutnya pun lepas. "Gaunku putih, dan bunganya yang warna ini, lalu aku memakai mahkota dari mawar putih—bagaimana Dai-chan, setuju?"
Membayangkannya butuh waktu agak lama bagi Daiki tapi dia cukup puas ketika berhasil mengkhayalkannya. Mungkin dewi-dewi Yunani bisa kalah dengan penampilan Satsuki saat itu. Oh dasar lelaki pengkhayal yang sedang jatuh hati dan sebentar lagi akan menikah, mengkhayallah selagi kau belum disibukkan dengan persiapan pernikahan yang akan membuat kakimu berada di kepala dan kepalamu mencium tanah!
"Kurasa itu bagus."
"Bunga warna ini, ya ..." Satsuki menyentuhi tepian-tepian kelopak mawar yang telah mekar itu. Mawarnya memang buatan, tapi saking cerdiknya si pembuat, semuanya terlihat seperti nyata.
Tiba-tiba Satsuki tersenyum cerah. "Kau, tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Jangan berpindah satu inci pun. Aku tidak akan lama," dia mengayuh sepedanya dan memutarnya di hadapan Daiki.
"Oi—"
Satsuki sudah memacu kayuhannya secepat para pembalap sepeda. Daiki cuma bisa mengeluh dalam hati. Dia menepi dan menyandarkan sepedanya pada tembok jembatan, sedangkan dia sendiri duduk di atasnya sambil memandangi Sungai Thames yang tenang. Dia mungkin terlihat sepert seorang turis yang sedang tersesat karena kebingungan sendirian dan buta arah. Masa bodoh, orang-orang mengatainya pun dia pikir dia tak akan mengerti mereka.
Satsuki melakukan rencana rahasianya dengan waktu yang sudah dia janjikan. Tidak begitu lama, dia pun kembali dengan satu kantong kain bunga mawar yang sama. Daiki mengerutkan kening.
"Untuk apa kau beli sebanyak itu, hah?"
"Ini akan jadi buket bunga pernikahan kita!" Satsuki memeluk kantong kertasnya seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat satu plastik besar permen aneka rasa. "Hanya tinggal sedikit sentuhan dari floris langganan ibuku, maka dia akan makin cantik. Mungkin akan kutambahkan ivy dan bunga-bunga kecil warna putih di sekitarnya."
"Kukira kau akan memesan bunga segar."
"Kurasa tidak. Yang kali ini lebih berharga lebih dari bunga segar."
Salah satu alis Daiki terangkat. Satsuki memarkirkan sepedanya di belakang sepeda Daiki, namun dia tetap berdiri di samping sepedanya, "Kita akan membuat pernikahan kita bermanfaat untuk orang-orang yang membutuhkan. Kita membeli ini sama saja dengan menyumbangkan uang untuk mereka, bukan? Uang biaya pernikahan yang disumbangkan sebagian dan mendapat balasan berupa bunga mawar merah muda yang cantik, tidakkah itu manis, Dai-chan?"
Langit London cerah di akhir Juni ini, namun Daiki lebih menikmati cerahnya cahaya pandang Satsuki yang sedang dipersembahkan hanya untuknya detik ini.
"Dan para pembuat mawar ini juga akan mendapatkan kebaikan karena mereka turut mempercantik pernikahan kita. Wow, kurasa ini keputusan terjenius yang pernah kubuat dalam hidupku dua puluh tiga tahun ini," Satsuki tertawa lepas, menertawakan kebanggaan dirinya yang berlebihan. Ya, dia merasa kata-katanya konyol namun memaksudkannya sebagai humor untuk Daiki adalah tujuannya.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu," Daiki menggaruk kepalanya sendiri. Kulit kepalanya mendadak gatal. Apa karena terlalu banyak berpikir?
"Tapi dengan jalan pikiran inilah," Satsuki menunjuk pelipisnya sendiri, "Kau akan hidup selama bertahun-tahun ke depan, Dai-chan. Seorang istri adalah pengatur untuk suaminya. Bersiap-siaplah," dia tergelak lepas.
Satsuki kemudian menaruh kantong kertas berisi bunga itu ke pangkuan Daiki. Dia mengangkat kameranya, Daiki mendengus. Satsuki tertawa-tawa sambil menempatkan kembali benda itu secara paksa. "Wajahmu sedang lucu-lucunya, Dai-chan. Sumpah! Aku harus memotretnya!"
"Tch, hentikan, bodoh," Daiki menutupi lensa kamera Satsuki, namun Satsuki tak berniat berhenti untuk menggodanya, sampai Daiki benar-benar menyerah untuk membiarkan Satsuki akhirnya memotret dirinya. Tetapi, dengan syarat, wajahnya tidak menghadap kamera. Tetapi tetap bagus menurut Satsuki—karena terlihatnya amat natural dan sungai sebagai latar belakangnya amat mendukung pose Daiki.
Satsuki lelah mencandai Daiki, puncak jembatan adalah tujuannya untuk ikut menenangkan diri di sisi Daiki. Kantong karton telah kembali ke pelukannya.
"Dengan ini ... kurasa aku bisa membuat hidupku jadi lebih bermanfaat dengan membantu mereka."
Daiki mencondongkan tubuh dan menempelkan bibirnya ke pipi Satsuki, "Kau sudah menjadi manfaat yang besar untuk seseorang."
"Tapi akan lebih baik kalau untuk lebih banyak orang."
Daiki mundur dan mengembuskan napas panjang. Satsuki memang keras kepala untuk beberapa hal. Dasar perfeksionis.
"Tentu saja, kau ada di prioritas nomor satu," Satsuki memperbaiki mood Daiki yang di matanya terlihat mulai memburuk dengan membayar lagi ciuman tadi di bibir Daiki.
Langit London mulai memanas, dan Satsuki pun melipat bagian atas kantong kertas tadi untuk melindungi mawar-mawar di dalamnya agar tidak pudar karena panas. Mereka lanjut bersepeda lagi, berdua, sesekali berhenti di beberapa destinasi dan meminta pejalan kaki lain untuk memotretkan mereka di tempat-tempat tertentu yang Satsuki rasa menarik.
"Mm, kurasa foto-foto ini bisa kita jadikan foto untuk disertakan di undangan," Satsuki, sebelum berangkat mengayuh sepeda lagi, melihat-lihat hasil potret mereka.
"Tidak mau mengadakan acara khusus untuk pre-wedding?"
"Kita akan sibuk lagi begitu tiba di Tokyo, Dai-chan. Yang ini juga cukup bagus."
"Hn."
Satsuki tidak berhenti tersenyum hingga sampai ke penginapan lagi.
A/N: waw keju sekali #abaikan hmmm yeah inggris itu salah satu negara favoritku di eropa. hai arthur kirkland tolong undang saya ke negaramu, tanggal ulang tahun kita kan sama ayo kita rayakan bersama #ABAIKAN well, ada yang tebakannya bener ya di kotak review chapter kemaren? selamat buat flowers lavender! :3 sad to say, chapter ketiga adalah chapter terakhir, ngga semua negara favoritku di eropa bisa masuk karena alasan tertentu. hiks. #hilebe
thanks udah baca! o/
(hayo chapter depan negara mana yaaaa?)
