Untuk hinata, bagaimana kabarmu? Entah kenapa rasanya aku mau mencoba menulis surat. Kalau musim panas semakin dekat. Aku jadi teringat padamu. Apa hari ini langit disana juga terlihat indah? Kalau ingat tentangmu,aku jadi merasa sangat , aku merasa sangat bahagia karena kesepian ya?

Altair's Love Letter

.

.

Disclaimer : masashi kishimoto yang punya naruto bukan saya

Pairing : sauke uchiha & hinata Hyuga

Rate : K

Genre : Romance,Drama

Warning : OOC , TYPO , GAJE

.

.

Chapter 2

.

.

Suaranya menjadi sedikit berubah. Ditahun yang berbeda, entah sejak kapan tinggi badannya sudah melampaui tinggi badanku.

Aku juga terus memanjangkan rambutku hingga punggungku. Dengan begini dia tidak akan salah membedakanku dengan anak laki-laki lagi pikirku

Musim panas tahun ini sudah sudah menginjak 17 tahun. Ini adalah waktu dimana ia akan datang kembali kedesa ini. dan aku bisa bertemu lagi dengannya

"n-nenek apa aku terlihat aneh?" aku mencoba memakai yukata baruku yang tentu saja buatan nenekku, hidup sebagai seorang yatim piatu dan hanya hanya memiliki seorang nenek yang membesarkanku dari kecil membuatku terbiasa hidup sederhana

Aku tak ingin merepotkan nenekku yang hanya bekerja sebagai petani di pemberian nenek slalu aku pakai dan syukuri

"cocok, kok uhuk..uhuk..hinata memang pantas pakai apa saja" nenek duduk diundakan teras depan

"b-benarkah nek," aku mulai merasakan mukaku menghangat 'apa sasuke-chan juga akan menyukainya' pikirku

"a-ah tuan muda sasuke sudah datang tuh" nenek tersenyum padaku dan membuatku menjadi salah tingkah

"a-apa?!..t-tapi aku belum mengikat rambutku nek" terlambat kulihat sasuke-chan sudah berada didepan rumah

"selamat datang tuan muda sasuke"

" selamat siang nek,bagaimana kabar anda?" ia menyapa nenekku dengan ramah. Sebenarnya aku sedikit terkesima. Setiap tahun dia slalu menunjukkan perubahan

Ia berjalan kedapanku dan sedikit berjongkok menyamakan tinggiku "hinata,kau menciut lagi ya?"

"a-apa! S-sasuke-chan saja yang bertambah tinggi" Ia tersenyum sambil mengusap kepalaku "tahun i-ini berapa hari kau tinggal disini?"

"hmm..mungkin hanya seminggu kurang,mau bagaimana lagi kupikir suasana desa membuatku merindukan seseorang" ucapannya entah kenapa membuat mukaku memerah

Sejak dulu dia memang sudah terlihat keren. Dibandingkan dengan pemuda-pemuda seumurannya didesa ini yang memakai bakiak dan rok

"aku harus belajar,jadi tahun ini kau gak usah menemaniku" ia melipat tangannya "tapi..kalau kau ingin begitu,akan kupertimbangkan."

"e-eh..a-apa-apan itu!" dia slalu membuatku gugup jika didekatnya. "a-aku sangat ingin…" Aku menundukkan kepalaku dan berkata lirih hingga kupikir tak ada yang mendengarnya selain sasuke pikirku

"apa kau bilang,aku tak bisa mendengarnya?"

Selain itu masih ada satu hal lagi yang mengganjal pikiranku " y-ya sudah k-kalau gak mau" Kulihat Ia menahan tawanya,saat ibunya memanggil

"sasuke." Sapa ibunya uchiha Karin yang berdiri didepan pagar kayu rumah nenek "jangan terlalu gembira begitu?" ia slalu tersenyum ramah jika berada diluar rumah "tolong jaga kebangganmu sebagai keluarga uchiha"

"iya bu" sejak dulu saat dia bersama ibunya, matanya slalu terlihat sangat dingin. Seolah-olah membeku. Terkadang aku takut melihatnya dan entah kenapa hatiku merasa sedih

"nanti malam aku akan pergi menemuimu diam-diam" bisiknya padaku. Lalu Dia pergi bersama ibunya tanpa menoleh kebelakang.

Malam harinya aku duduk didepan teras sambil memandangi langit malam sambil memegang dadaku yang semakin menghangat 'sasuke.. akan menemuiku, entah kenapa aku merasa ini kenapa? Kenapa begini'

"hinata." Bisik sasuke memecahkan lamunanku

"e-eh iya. K-kau sudah datang"

"aku berhasil kabur kesini. Ayo kita kesungai, aku mau lihat kunang-kunang"

"i-iya" aku tersenyum kaku. Dia terdiam dan menatapku lama. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.

"hari sudah gelap, kau boleh memegang tanganku kalau tak mau jatuh" ucapnya saat melewati jalan menuju bukit yang memang kurang pencahayaan

"i-itu tidak mungkin!,a-aku lebih tahu daerah sini! L-lebih baik sasuke-chan saja yang memegang tanganku"

"baiklah jika kamu kulakukan" tiba-tiba dia memegang tanganku dengan erat dan membuat mukaku memerah dan jantungku berdegug kencang

"k-kyaa.." pegangannya yang tiba-tiba membuatku reflek melepaskan pegangannya. Hal itu membuat keseimbangan tubuhku oleng dan kakiku terpeleset oleh jalanan yang memang becek.

Mukaku kembali dengan mudahnya ia menaruh tangannya dipinggangku untuk menahan tubuhku agar tak jatuh "makanya tadi kubilang pegang tanganku"

Aku bisa melihat wajahnya dari jarak sedekat ini. hembusan napasnya menerpa wajahku, baru kusadari matanya memiliki tatapan yang entah kenapa membuat jantungku berdegung kencang, hidungnya yang mancung hampir mengenai pipiku. Dan bibirnya melengkungkan senyum yang membuat mukaku slalu memerah.

"s-sasuke-chan l-lepaskan!" Tapi sesaat tadi aku melihat matanya terlihat sangat sedih

"yang benar nanti kau jatuh lagi lho!"

Selain itu entah kenapa… rasanya jantungku merasa sakit

"hinata." Aku membuka mataku ketika sasuke memanggil namaku "ayo kita naik kereta dan pergi kesuatu tempat yang jauh. Hanya kita berdua" aku menatapnya heran,kenapa begini?

"a-apa maksud sasuke-chan" ia memalingkan wajahnya "kalau kau bilang ingin melakukannya,maka aku tak akan keberatan melakukannya"

Ia merendahkan wajahnya dan berbisik ditelingaku "bagaimana?" mendadak jantungku terasa sakit.

"tapi..aku tak bisa pergi anehkan?" ia masih berbisik "aku masih sekolah,selain itu bagaimana dengan keluargaku"

Ia memegang kedua bahuku erat dan tersenyum. Dan entah kenapa senyumnya kali ini membuatku tak bisa berpikir jernih " hmpps.. kau lucu sekali hinata, lihat wajahmu" ia tertawa. Tawa yang membuat diriku sedikit merasa heran. Tak biasanya sasuke seperti ini "aku Cuma menggodamu saja"

"k-kau serius ya?" Dia memang berkata begitu. Dan tak menjawabnya

Altair's Love Letter

Musim panas berikutnya sasuke tidak datang. Aku tidak tau apa alasannya. aku hanya ingin bertemu dengannya. dan slalu menulis surat untuknya. Berlembar-lembar kertas kutulis semua hal disekitarku. Tapi tak ada satupun balasan darinya.

Sudah hampir musim panas ketiga dia tidak datang lagi kini menginjak 20 tahun. tiap tahun kondisi kesehatan nenek semakin menurun,uang tabunganku untuk pergi kekota dengan niat menemui sasuke sedikit demi sedikit habis untuk biaya pengobatan nenek.

Memang tidak terlalu banyak tapi cukup membuat kondisi nenek bisa menjadi lebih baik. Mungkin aku memang tak bisa bertemu lagi dengan sasuke. Saat semuanya terlihat baik-baik saja, hatiku pun mulai kembali semula seperti saat sasuke belum datang kedesa sampai suatu pagi nenek memaggilku dan menyuruhku duduk dihadapannya

"kesini sebentar hinata?"

"i-iya ada apa nek?" aku duduk dihadapannya. Dan menatapnya heran ketia beliau menyodorkan sepucuk surat padaku

"a-apa ini nek?"aku bertanya dengan penasaran

"ini…ada lamaran untukmu,bagaimana menurutmu?"

Apa? A-apa Aku akan dinikahkan. Nenek tersenyum padaku dan menyerahkan surat lain lagi padaku
" yang ini surat dari tuan muda sasuke"

Tubuhku bergerak sendiri mengambil surat dari tangan nenek dan langsung membukanya. Mungkin ini tidak sopan tapi Nenek seakan mengerti dan memilih beranjak dari duduknya masuk kedalam membiarkan aku membaca isi surat ini sendiri

Untuk hinata, bagaimana kabarmu? Entah kenapa rasanya aku mau mencoba menulis surat. Kalau musim panas semakin dekat. Aku jadi teringat padamu. Apa hari ini langit disana juga terlihat indah? Kalau ingat tentangmu,aku jadi merasa sangat , aku merasa sangat bahagia karena kesepian ya?

Itu isi suratnya,kupikir perasaanku sudah lama mati dan tidak ada lagi. Hatiku kembali menghangat Saat membacanya. Aku coba membalikkan suratnya ternyata ada satu lembar tulisan lagi. Aku tersenyum mengingat ia menulis banyak untuk membalas suratku slama ini

Kau tahu hinata,kupikir ibuku yang sekarang memang ibuku yang asli tapi ternyata itu salah. Ibuku sudah meninggal saat aku berumur 3 tahun, aku baru menyadarinya saat umurku baru menginjak 17 tahun,mungkin terlahir dikeluarga uchiha kadang membuatku merasa menyesal.

kudengar saat menikah dengan ayah,ibu tak bisa memiliki putra,dan ibu pasti merasa sangat menderita karena harus menjaga nama baik dan harga diri keluarga yang sangat tinggi. Selain itu kudengar sejak ibu menikah hidupnya menjadi menderita

entah kenapa saat membacanya mataku terasa semakin memanas,hatiku terasa sesak.

sejak anaknya meninggal ibu slalu mengganggapku sebagai baru sadar mengapa dari dulu kakak laki-lakiku sangat membecinya. Ibu slalu terlihat membenciku ketika aku masih kecil.

kakakku slalu marah akan hal mengancam ibuku untuk mengusirnya pergi dari rumah,saat itu aku belum mengerti apa-apa dan menangis melarang kakak melakakukannya,kupikir ibu adalah seseorang yang penting bagiku. Dan aku tak ingin membuatnya bersedih

Setelah kejadian itu Ayah marah dan mengusir kakak begitu saja. Dan sejak saat itu aku tumbuh menjadi anak yang patuh dan tak ingin mengecewakan ibuku.

ketika pembagian harta saat ayahku meninggal, entah kenapa ibu menjadi lebih keras padaku dan slalu memaksaku melakukan apa yang diperintahnya. Sepertinya dia menggunakanku untuk membalas dendam ayah karena hanya kepada kakak dan aku beliau memberikan sebagian besar hartanya.

Aku memang tidak pernah mempermasalahkannya. bagiku seorang manusia hanya sebatas garis keturunan,kehormatan dan warisan yang dimilikinya. itulah yang selama ini kuanggap benar

Apa kau masih ingat? Dihari kita pertama kali bertemu,kau kembali berkata "mau main denganku"

Aku merasa sangat senang,karena dengan sifatku yang seperti ini,aku susah mencari teman. Dan Saat itulah cara menilaiku terhadap orang lain runtuh dengan mudahnya. Lalu,aku merasa bimbang. Dan sejak saat itu, setiap tahun aku slalu datang kedesa

Aku ingin menemuimu.

Air mataku mengalir begitu saja ketika aku selesai memabaca menggenggam erat rusat dari sasuke. Apa slama ini dia sangat menderita. Kenapa hatiku merasa sakit ketika mengetahui apa yang telah dialaminya selama ini

Sasuke POV

Aku menatap ibuku tanpa kata. seminggu lalu mendadak ia memberitahuku untuk mengirimkan surat lamaran pada anak dari temannya. Tentu saja aku menolaknya halus tapi ibu tak menerimanya. ia bahkan membuat suratnya sendiri untuk mengadakan pertemuan untuk mengaturku bisa bertemu dengan anak dari temannya itu.

"sasuke kau sedang apa? Cepat tentukan pakaianmu?" dia masih betah memilih baju yang ada didalam lemariku. Sebenarnya aku kesal ibu masuk tanpa ijin pribadiku. saat aku tahu bahwa ia hanya menjadikanku sebagai bonekanya

Aku tak bisa berkata ataupun melarangnya tubuhku seakan kaku begitu saja. Mungkin karna aku sudah menganggapnya sebagai ibuku sendiri selama 14 terakhir ".."

"sebentar lagi kau akan mendapatkan seorang istri,jadi kau harus terlihat berwibawa" wanita berambut merah bata itu masih memilih baju yang ada dilemariku "ya,yang ini juga bagus"

Sasuke bosan melakukan apa yang ia perintahkan, kualihkan pandanganku keluar jendela, sebentar lagi musim panas akan tiba. Entah kenapa ingatanku kembali terbayang wajah hinata. Dan tanpa sadar mengucapkannya

"musim panas ya?"

"kau tau sasuke!kita tak akan kembali kedesa itu,ibu punya rencana akan menjual rumah yang ada disana" wanita tua itu memilih baju hitam untukku "ibu pikir banyak serangga aneh yang hidup disana" apa? Entah kenapa Aku merasa marah ketika mendengarnya

aku menatap ibu dingin dan sepertinya tatapanku tak membuatnya gentar " ngomong-ngomong, anak perempuan yang akrab denganmu itu,katanya sudah ada yang melamar.." apa?

Entah kenapa pikiranku mendadak melayang entah kemana "begitu ya…lalu kenapa?" ingin rasanya aku pergi dari sini dan menemui hinata langsung

"tidak ada apa-apa,sudahlah kau sebaiknya memilih baju sendiri"

Aku menghela napas "tuan muda sasuke.." tiba-tiba ayame salah seorang pelayan rumahku memanggil-manggil diriku. aku menatapnya "ada tamu untukmu?"

Aku mengangkat alisku heran "siapa?" 'ya siapa yang bertamu disiang bolong begini pikirku

"anak perempuan,sikapnya aneh dan memiliki logat daerah,apa sebaiknya aku usir saja tuan" mungkin teman satu sekolahku dulu saat ayame mengatakan logat daerah. Ya aku memang memiliki banyak teman sekolah dari luar

Tapi tetap saja itu tak mengubah apapun yang hanya menjadi boneka ibuku "tak usah aku akan menemuinya"

aku beranjak dari kamarku dan turun kelantai bawah, saat aku terkejut dengan apa yang kulihat,mungkin ini mimpi disiang bolong, karna gadis yang sejak tadi ada dalam pikiranku kini berada dihadapanku,hinatanya. Dikonoha bukan didesa tempat aku biasa bertemu dengannya

End POV

Altair's Love Letter

Mungkin aku adalah gadis yang nekat ketika diriku melangkah pergi secara diam-diam dari rumah kemarin sore ketika nenek memberitahukan surat lamaran itu padaku. setelah menerima surat itu entah kenapa aku sangat ingin bertemu dengan sasuke hingga membuatku nekat datang menemuinya kekota hanya untuk menemuinya.

Dan saat kutemukan lokasi rumahnya yang aku dapat dari temanku kiba,aku langsung pergi kesini, kekota besar konoha. Tak pernah kubayangkan rumah sasuke akan sebesar ini. aku tau dia adalah anak dari keluarga kaya. Tapi tak pernah membayangka rumahnya sebesar ini.

Kupikir Rumahnya yang ada didesa sudah sebesar itu apa lagi yang ada dikota,aku memang naif ketika berpikir rumah sasuke takan sebesar ini.

Saat aku mengetuk pintu rumahnya seorang pelayan datang membukakan pintu dan menanyakan apa menjawabnya dengan canggung ingin menemui sasuke.

Akhirnya aku bisa bertemu! Aku memang bisa bertemu, tapi… apa dia marah padaku? kulihat ia terlihat terkejut ketika melihatku. Apa aku datang diwaktu yang tidak tepat pikirku

dia menatapku dengan pandangan dingin tak seperti sasuke yang aku kenal. Apa ini mungkin karena aku datang seenaknya, tapi dia sudah menulis surat untukku.

"ada perlu apa?" ia bertanya begitu itu membuatku salah tingkah

"a-ah s-sebenarnya, tak bisa dibilang keperluan sih.." aku melihat ibunya turun dari tangga dan menatap kami berdua. Aku semakin gugup apalagi pandangan sasuke yang membuatku tak nyaman "a-aku…"

"kalau begitu, pulanglah…."sasuke memangdangku lekat "kau menggangguku"

Entah kenapa hatiku terasa perih ketika mendengarnya "a-ah begitu? Pasti begitu, ya" mungkin aku terlalu berharap lebih. Aku membungkukkan badanku "m-maaf, s-selamat tinggal"

Aku berbalik dan meningglkan sasuke. Hatiku sakit bahkan aku masih bisa mendengar saat ibunya mengatakan bahwa ia tak menyukaiku dan sasuke tak menjawab apapun.

Aku berjalan pulang dengan wajah lesu. Sudah kuduga dia marah, aku datang seenaknya begini. setelah ini apa yang harus aku lakukan, mungkin nenek akan kecewa ketika menyadariku pergi tanpa bilang.

Mungkin memang tak ada kesempatan untukku,pikiranku melayang sesaat sampai seseorang yang menarik tanganku tiba-tiba

"kya..hupp" mataku terbelalak siapa? Wajah panikku mungkin terlihat jelas ketika dia membekap mulutku dari belakang dan menarikku kegang sempit disamping ini aku bahkan tak punya seeorang yg ku kenal disini

Aku menangis mengetahui aku akan jadi sasaran orang jahat dikota ini,sampai suara seorang yang aku rindukan terdengar

"ssttt…hinata ini aku"

" s-sasuke..hiks..hiks.." aku memeluknya erat tanpa sadar. Entah kenapa hatiku merasa tenang ketika tau bahwa itu adalah sasuke

"kenapa kau menangis hinata? Maafkan aku soal yang tadi…"

"hiks.."

"kenapa kau ada disini?" dia menghapus air mataku dengan ibu jarinya

" a-aku datang karena ingin bertemu denganmu,a-aku juga sudah menulis begitu disuratku"

"surat?tapi kenapa kau datang sendirian?perjalanan dengan keretanya lama selain itu jalannya juga jauh"

"t-tidak apa-apa karna aku ingin bertemu denganmu?"

"pasti orang-orang desa terutama nenekmu akan khawatir, bagaiman kalau mereka pikir kau kabur dari rumah,"

"a-aku akan segera pulang setelah bertemu denganmu.."

"jangan!untuk hari ini, tetaplah disini saja? Aku sudah menyiapkan penginapan untukmu"

"a-ah tapi…"

"tetaplah ?"

"a-aku mengerti,aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Kupikir 'harus bagaimana' kalau aku tak bisa bertemu denganmu,t-tadi aku merasa takut,tapi sekarang aku merasa senang" aku senang ketika bisa melihat wajahnya dari dekat lagi "surat yang datang darimu terlihat sedang menangis,hehe..jangan t-tertawa ya?...tapi sejak kecil aku seperti bisa mengerti isi hati sasuke-chan,aku mengerti seolah-olah bisa kusentuh sendiri"

Kulihat sasuke manatapku,dan aku tersenyum membalasnya "o-oh ia apa malam ini ada festival?kangennya.. a-aku ingin kita bisa pergi berdua lagi"

"baiklah nanti malam kau kujemput"

Altair's Love Letter

Festival dikota besar memang tak sebaik didesa ,tapi jika dilihat dari banyaknya penjual dan stan-stan yang menjual berbagai macam makanan dan pernak pernik dikota memang yang paling ramai.

Aku berjalan melihat-lihat disetiap stan tanpa membeli apapun Sasuke bilang akan datang saat festivalnya selesai. Apa mungkin dia bukannya tak datang tapi tak bisa datang ya? Pasti nenek cemas padaku. aku pergi dari rumah diam-diam, semuanya jg pasti cemas. Aku akan pulang besok.

Dor

"hei, kau jago menembak ya?"

Aku jadi teringat saat sasuke ketika melewati stan tembak-tembakan. Aku sangat rindu padanya, aku ingin bertemu untuk..yang terakhir kalinya…

Dukk

"a-ah maaf" kulihat seseorang dengan topeng rubah berdiri dihadapanku dan terus menghalangi jalanku. "k-kau siapa?" bukannya menjawab orang itu malah menarik tanganku. 'apa kau sasuke?tapi…kenapa pakai topeng' aku terus mengikuti langkah kakinya yang terus menarikku keluar dari kerumunan festival 'sebenarnya kau bersembunyi dari apa?' batinku

Dia tak berkata-kata dan hanya menunjuk keatas langit "bintang" ucapku "a-ah a-aku mengerti!vega dan altair, kan?"

Setelah mengucapkan itu sasuke menarikku kedalam pelukannya "e-eh " Ia membuka topengnya dan memandangku lekat. Matanya yang hitam pekat memandangku

"s-sasu.." ucapanku terhenti ketika bibirku tertahan oleh sesuatu yang lembut dan hangat. Mataku melabar saat menyadari sasuke tengah menciumku. Tangannya bahkan menekan pelan belakang kepalaku

Ciumannya begitu lembut. Mataku sampai terpejam erat dibuatnya. aku memang belum pernah melakukannya. Jadi aku tak tau harus bagaimana saat Ia terus menekan bibirku bahkan sesekali menggigit bibirku, aku tersentak kaget ketika kurasakan lidahnya masuk kedalam mulutku,rasanya jantungku bertegung semakin kencang. Dan ribuan kupu-kupu sepertinya akan keluar dari perutku.

Hummps

ia terus mencium bibirku,bahkan sebelah tangannya kini telah beralih memegang pinggangku erat. Kurasa bibirku mulai membengkak dan nafasku mulai sesak, seakan mengerti Sasuke melepaskan ciumannya. Tanpa berkata apapun ia memelukku erat dan mengucapkan kata-kata yang membuatku terpaku

"apa yang kau lakukan hinata?kau membuatku slalu ingin bersamamu"

"s-sasu.."

"aku mencintaimu hinata,sejak kecil aku sudah mencintaimu,dan setelah ini pun akan tetap begitu."

Ia melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku. Aku menatap matanya heran "aku bisa melihat isi hatimu,sebenarnya…sasuke datang bukan untuk mengatakan itu kan?kau seperti ingin mengucapkan…" tanyaku tanpa sadar "s-salam perpisahan?"

Entah kenapa pandanganku seperti kosong saat ia membenarkan hal itu "kau benar,aku..memang ingin mengucapkannya jadi…" Hatiku terasa sakit saat ia mengucapkannya "selamat tinggal hinata"

.

.

.

Chapter 2 end

Sebelumnya saya salah menuliskan kata-kata terakhir, seharusnya bukan discontinue tapi to be continue. Duh jadi malu sendiri , kenapa bisa ya? Tapi saya bersyukur ternyata masih ada yang mau membaca ff karyaku. Hiks..hiks.. nangis terharu (T-T)

Ok See you next time