Happy Reading~~
"Aku punya banyak uang. Aku akan membayarmu asalkan kau bisa membuatku senang."
Itu seperti angin segar bagi Sasori saat Sakura dengan lantang berkata bahwa wanita itu akan membayarnya. Sudah dibayar, bisa bersenang-senang dengan tubuh Sakura pula.
"Kau tidak akan menyesal. Lagipula, kenapa gadis cantik sepertimu bisa berakhir disini?" Sasori membelai rambut Sakura di sebelahnya. Aroma khas rum menyeruak indera penciuman Sasori saat Sakura mulai bicara. "Ibumu akan marah, Babe."
Sakura yang setengah mabuk hanya tertawa renyah dan bersender di bahu Sasori. "Ibuku? Dia tidak akan peduli. Aku sudah lama dibuang!"
Itu adalah ungkapan sejujur-jujurnya dari Sakura. Mungkin ia menganggapnya, sang ibu telah membuangnya. Nyatanya, itu lebih mirip sebagai pengabaian.
Meja Sakura berseberangan dengan meja bar tempat Sasuke berdiri dan melihatnya sekarang. Sudah hampir seminggu Sasuke memperhatikan kehadiran gadis berambut merah muda itu datang ke tempatnya bekerja. Sakura datang memesan beberapa minuman berakohol dan Sasuke ada di sana untuk melayaninya.
Pada awalnya mungkin Sasuke memang tidak peduli. Tetapi, makin lama ia semakin tertarik kepada gadis itu. Tidak! Bukan tertarik, tetapi lebih ke simpati.
Sakura sering terlihat mabuk dan menari-nari di tengah deru musik yang menggila. Bukan untuk menarik perhatian siapapun, tetapi lebih untuk dirinya sendiri. Sasuke bisa tahu itu, Sakura terlihat seperti sedang melarikan diri dari suatu masalah. Terkadang, tak sedikit laki-laki bajingan yang memanfaatkan keadaan itu. Sakura membiarkan tangan-tangan laknat bermain liar di atas tubuhnya. Dan sialnya, Sasuke menjadi peduli karena itu dan mulai merasa jengah.
Kali ini Sasuke kembali dibuat memanas hanya karena Sakura membiarkan Sasori menyerang bibirnya dengan beringas. Sasuke tidak tahu kenapa, yang jelas nalurinya berkata bahwa ia harus segera menarik Sakura menyingkir dari sana.
"Sai! Bisa kau serahkan pesanan ini pada meja yang di sana? Aku masih ingin mengurus sesuatu," ujar Sasuke saat menyerahkan nampan kepada Sai yang kebetulan lewat.
"Urusan apa? Kalau bos melihatmu membuang waktu di jam kerja, dia akan marah," balas Sai jujur.
Sasuke menepuk pundak Sai. "Tenang saja, Dude. Relax!" Selanjutnya, ia melengos pergi menuju meja dimana Sakura dan Sasori berada.
Tanpa basa-basi, Sasuke merusak kegiatan mereka berdua dengan berseru keras memanggil nama Sakura. Itu membuat si gadis terkejut dan mengernyit. Awalnya ia akan marah, tetapi ia melihat Sasuke begitu tampan dan bergairah. Sakura mengurungkan niatannya.
"Kau memanggilku?" tanyanya enteng.
Sasuke membalas, "Apa disini ada banyak orang bernama Sakura?"
Gadis itu tertawa hambar seolah meremehkan Sasuke. "Jadi, kau ada perlu?"
"Kami tidak memanggil bellboy," sahut Sasori pada akhirnya. Sedikit merasa kesal karena kegiatannya terganggu oleh Sasuke. "Kami tidak membutuhkan apapun."
"Aku kesini bukan untuk melayani kalian," sahut Sasuke ketus, "Aku hanya ada urusan dengannya."
Sakura tersenyum miring saat Sasuke melirik terhadapnya. Tatapan Sasuke yang berkilat tegas itu membuat Sakura merasa tertantang akan suatu hal. Ia tahu Sasuke memiliki hal-hal yang lebih menarik jika ia mengenal pria itu. Dan membuatnya semakin terpikat dengan alibi bersenang-senang bersama pria semacam Sasuke. "Tunggu dulu! Kurasa aku tidak mengenalmu. Dari mana kau tahu namaku?" tanya Sakura basa-basi. Sejujurnya, ia tidak begitu mempermasalahkan hal itu.
Sasuke terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa Sasuke mengenalnya karena mereka belajar di universitas yang sama. Sasuke adalah senior Sakura di sana dan telah wisuda sekitar tiga bulan yang lalu. Dan hello, siapa yang tidak kenal dengan Haruno Sakura yang queenbee, merupakan anak dari seorang pendiri perusahaan otomotif terbesar di kota ini. Bullshit, jika Sasuke tidak mengenalnya. Kecuali Sakura yang tidak tahu siapa Sasuke, itu masih bisa dianggap wajar.
"Tidak penting! Kau harus ikut aku sekarang!" jawab Sasuke final. Memang itu tujuannya sejak awal, membawa Sakura pergi dari si berengsek Sasori.
"Hei, Man! Kau tidak bisa membawanya begitu saja. Dia perempuanku sekarang!" seru Sasori tidak terima, "Kita punya kesepakatan, kau ingat?" Suaranya agak merendah saat bicara pada Sakura.
"Oh, tenang, Honey. Aku belum bilang 'iya' 'kan?" Sakura kembali pada Sasuke, "Dan kau! Bahkan aku tidak tahu namamu. Apa aku harus pergi bersamamu?"
"Sasuke, dan kita pergi!" Sasuke mendekat dan menarik tangan Sakura tanpa aba-aba.
Sakura agak terkejut mendapat perlakuan Sasuke yang demikian, tetapi ia tidak menolak. Hanya karena bersentuhan dengan Sasuke saja, sudah membuat darah dalam dirinya berdesir. Ia menjadi panas dalam sekejap oleh pria di depannya.
Sasori menekuk wajahnya, marah, Sasuke menarik sumber uangnya pergi menjauh. Sasori berdiri dan mencegah kepergiaan keduanya. "What the fuck are you doing?"
"I know you tring to fucking touch her!" seru Sasuke lebih ketus.
Itu semakin membuat Sosori geram. Ia menarik kerah baju Sasuke, hampir memukulnya sebelum Sakura menghalangi mereka.
"Ayolah! Aku tahu kalian memperebutkan aku, tapi jangan berkelahi juga." Sakura menatap malas pada Sasori.
Pria berambut merah itu menggeram bersama decakannya yang terdengar setelahnya. "Kita punya kesepakatan, Sakura. Kau berhutang padaku 200 dollar."
"Kau bahkan tidak melakukan apapun!" sangkal Sakura. Nyatanya, Sasori memang tidak membuat Sakura merasa lebih baik. "Kau malah membuatku jengah!"
Itu sudah cukup membuat emosi Sasori naik ke ubun-ubun. Tangannya merespon cepat seperti apa kata hatinya, Sasori hampir memberi tamparan di wajah mulus Sakura jika saja Sasuke tidak menahannya.
"Enyahlah!" seru Sasuke memelintir tangan Sasori.
Pria itu menjerit kesakitan. Pergelangan tangannya seperti berputar 180 derajat karena ulah Sasuke. Perih dan nyeri. Jeritan Sasori membuat semua orang di kelab itu mengalihkan atensinya kepada mereka, Sasuke, Sakura dan dirinya sendiri.
"Sudah kuperingatkan." Sasuke melempar Sasori hingga pria itu tersungkur ke depan. Segera mungkin Sasori bangkit dan melarikan diri. Meskipun di dalam hatinya menyimpan dendam tersendiri terhadap Sasuke dimulai dari malam ini.
"Dasar, Jalang sialan!" seru Sasori untuk Sakura dan berlalu pergi keluar kelab.
"Kupikir dia tidak salah apa-apa," kata Sakura enteng. Ia bersedekap seraya menatapi kutek di kuku jemarinya. Ada beberapa yang rusak di sana.
Sasuke berbalik, menatap dingin kepada Sakura. "Kau bilang tidak salah apa-apa? Dia hampir memperkosamu!"
Sakura terpaku namun di detik berikutnya, gadis itu tertawa. Well, untuk apa Sasuke repot-repot memikirkan Sakura? Toh, gadis itu memang berharap demikian. "Lalu? Kenapa kau peduli?" tanya Sakura menggoda. Jemari telunjuknya bermain di dada Sasuke.
Sasuke menggeram buka karena terpikat, tetapi gadis di depannya itu terlalu meremehkan kecemasan Sasuke. Namun ada benarnya juga. Untuk apa Sasuke peduli terhadap gadis itu?
"Terserah!" kata Sasuke. Ia berniat pergi meninggalkan Sakura. Sebelumnya ia berkata, "Sebaiknya kau segera pergi dari sini."
"Kau mengabaikanku? Setelah kau merusak acara kencanku bersama Sasori dan kau pergi begitu saja?" Sakura menggerutu layaknya burung beo yang mencicit meminta makan. Lagipula, siapa si Sasuke itu? Beraninya membuang gadis cantik dan seksi seperti Sakura. Sebelumnya, belum ada yang pernah melakukan itu padanya, kecuali dua orang.
"Aku mau kerja!" kata Sasuke.
Sakura hanya melongo, Sasuke benar-benar meninggalkannya. Ia hanya menatap punggung lelaki itu berangsur menjauh. "Sasuke!" panggilnya keras, lelaki itu tetap mengabaikannya.
"Pulanglah!"
Hanya kata itu yang Sakura dengar terakhir kali sebelum Sasuke benar-benar pergi menuju meja bar. "Kau pikir kau bisa membuangku begitu saja? Never mind!"
..o0o..
Sasuke berdiri dan menyimpan beberapa botol vodka di pantry bar. Pria itu tetap saja bekerja meskipun di kepalanya hanya dipenuhi oleh sosok Sakura.
Apakah gadis itu sudah pulang?
Atau gadis itu berhasil keluar sebelum diperkosa oleh para bajingan?
Terbersit rasa bersalah dalam diri Sasuke. Kenapa ia meninggalkan Sakura begitu saja tadi, padahal baru saja gadis itu terlepas dari si berengsek Sasori. Toh, masih ada si berengsek-berengsek lainnya seperti Kiba, Neji, Pain bahkan Sai. Terkadang teman kerjanya itu bisa juga menjelma menjadi pria berengsek.
Jelas, wanita cantik seperti Sakura hanya akan berakhir di tangan para pria berengsek seperti mereka.
Terlalu sibuk dengan pemikirannya, Sasuke sampai tidak menyadari kehadiran Sai di sampingnya.
Sai menepuk pundak Sasuke, "Oi!"
Sasuke menoleh cepat, Sai sudah memasang wajah datarnya. "Kau disuruh sama si Bos. Antar sebotol vodka dan sekotak tisu ke kamar 2B." Sai memberikan sekotak tisu kepada Sasuke, pria itu menyambutnya.
"Kenapa aku?" tanya Sasuke. Biasanya bukan tugasnya pergi ke kamar-kamar yang isinya orang horny semua.
"Mana kutahu!" sahut Sai menggedikkan bahu. "Sudah sana, cepat! Ini Bos langsung yang minta lho!"
Segera Sasuke menyiapkan nampan berisi satu botol vodka beserta satu gelas kosong. Satu tangan lainnya menggenggam satu kotak tisu. Sasuke berjalan melewati lorong redup cahaya menuju kamar nomer 2B.
Sepanjang jalan Sasuke melewati kamar-kamar, ia bisa mendengar suara desahan yang mengganggu telinganya oleh pengunjung yang menyewa kamar itu. Ini dia yang membuat Sasuke malas menginjakkan kaki di area ini, terlalu banyak bajingan dan jalang bercinta di dalam sana.
"Ahn..."
"Holly shit! Kenapa harus aku, sih?" Sekali lagi, Sasuke mengumpat setelah mendengar suara menjijikkan keluar dari arah kamar 1C. Sejujurnya, ia bukanlah salah satu dari mereka, pria-pria berengsek yang suka bercinta dengan sembarangan perempuan. Sasuke itu orangnya konsisten. Meskipun ia harus melakukan seks, itupun hanya bersama satu orang perempuan. Dan itu tidak main-main, Sasuke akan dengan senang hati menyentuh perempuan yang ia cintai.
Katanya, cukup satu seumur hidup. Dan akan kubawa sampai mati.
Tok tok!
Tangannya yang bebas mengetuk pintu kamar 2B dengan tidak sabar. Beberapa kali Sasuke mengetuk pintu, namun tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.
"Halo! Saya bellboy yang membawa pesanan Anda," ujar Sasuke keras. Berharap orang di dalam kamar itu mendengarnya.
Sasuke masih setia menunggu seseorang membuka pintunya. Tak lama dari itu, Sasuke bisa melihat gadis bersurai merah muda berdiri di gawang pintu, menyeringai ke arahnya. "Kau?"
"Tepat waktu! Aku memang sudah menunggumu," sahut Sakura enteng.
Sasuke membalas dengan tatapan tak percaya, "Apa yang kaulakukan disini?"
"Menunggumu datang."
"Gila!" Sasuke menggeleng dan menyerahkan nampan di tangannya pada Sakura. Gadis itu merespon baik gerakan Sasuke, menyambut nampan meski agak terkejut.
"Kau mau kemana?" teriak Sakura. Sasuke terlihat akan melarikan diri lagi.
"Aku menyesal menyelamatkanmu!" teriak Sasuke sambil berjalan menjauh.
Sakura tergesa-gesa meletakkan nampan di tangannya ke atas nakas. Ia segera mengejar Sasuke yang terus saja berjalan. Gadis itu berlari kecil, tangan mungilnya menarik satu lengan pria itu hingga mereka berdua sama-sama kehilangan keseimbangan.
Sakura berakhir menabrak dinding di belakangnya. Dan Sasuke menabrak dirinya. Sasuke bisa merasakan sesuatu menghimpit dadanya yang datar. Itu dada Sakura!
"Kau," geram Sasuke. Ia berniat untuk menarik diri namun Sakura secepat kilat menempelkan bibirnya ke bibir Sasuke.
Mata pria itu terbuka lebar dan termangu. Itu memudahkan Sakura untuk memainkan lidahnya di dalam mulut Sasuke. Sasuke kesulitan meneguk air liurnya jika Sakura terus saja melumat bibirnya seperti itu. Niatannya, Sasuke tidak ingin membalas. Namun kodratnya sebagai lelaki tidak mungkin dapat ditentang, ia akan tetap tergoda jika ada perempuan secara terang-terangan menyerangnya bibirnya dengan penuh napsu menggoda. Itu bagai saklar yang menyalakan hasrat terpendam dalam diri Sasuke.
Tanpa aba-aba lagi, Sasuke sudah melilit pinggang Sakura dengan lengannya. Sementara Sakura melilit lengan di leher Sasuke, sesekali meremas rambut pria itu yang hitam berkilau.
Bibirnya masih tak mau diam, terus bergerak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Di satu sisi, Sasuke merasa dadanya membuncah naik dan hampir meledak. Rasa ciuman Sakura benar-benar membuatnya gila.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Sakura. Gadis itu bahkan merasa bibir Sasuke adalah yang termanis dari sekian banyak bibir yang ia rasakan. Menggairahkan dan membuat Sakura ketagihan. Ia pasti akan mencari bibir itu lagi di kemudian hari.
Erangan Sakura tertahan saat Sasuke menggigit lemah bibir bagian bawah Sakura. Gadis itu menarik diri sementara untuk mendapatkan oksigennya.
Sakura bernapas satu-satu. "Kau menakjubkan."
"Ini salah!"
Sakura tidak ingin mendengar ocehan Sasuke lagi. Ia kembali menyatukan bibir mereka, Sasuke tanpa sadar menyambut ciuman itu dengan hati terbuka.
Kedua bibir itu kembali beradu sampai ke titik dimana mereka menginginkan yang lebih dari itu. Sasuke sekuat hati menolak keinginan dalam dirinya, namun Sakura tampaknya mampu menyangkal keraguan pria itu.
Sakura masih ingin bermain-main. Itu cukup untuk membuatnya lupa akan masalah batin yang ia rasakan akhir-akhir ini. Bahkan, di tahun-tahun terakhir.
Sasuke dapat merasakan tangan Sakura berjalan di bagian penting tubuhnya. Pria itu menggeram karena hal itu.
"Kau..."
"Kau yang membawaku ke sini. Kenapa sekarang kau terlihat menyesal?"
"Aku berniat untuk menyelamatkanmu, tapi kau terlihat akan mencelakaiku."
Gadis itu menggigit bagian bawah bibir pria itu sebelum berkata, "Anggap saja itu sebuah insiden yang menyenangkan."
Pria itu hampir frustrasi. Jika ia ingin, ia bisa saja menanggalkan semua pakaian di tubuh wanita itu sekarang juga. Namun, ia tahu, kapan ia harus menjadi liar dan terkendali di waktu yang berbeda.
"Pergilah!" katanya dingin.
Sang wanita tertawa. "Kau ingin membuangku?"
"Aku sudah biasa dibuang," bisik Sakura.
"Aku tidak akan pernah membuang gadis manis sepertimu," sahut Sasuke.
Sakura membalas, "Kalau begitu, sentuh aku!"
"Kau terlihat percaya diri sekali, eh?" Sasuke meremehkan gadis itu tanpa alasan. Ia rasa, memang sepantasnya ia bermain-main juga.
"Kenapa? Apa aku tidak membuatmu tergoda?"
Sasuke menyeringai dan menyatukan napas keduanya dengan mempersingkat jarak. "Tidak," bisiknya.
"Kau mengajakku berperang?" gerutu Sakura, mulai tersulut emosi.
Kali ini Sasuke mengeluarkan jurus andalannya. Ia melumat bibir gadis itu lebih beringas dari yang pertama. Bergerak liar seperti dapat menghisap seluruh oksigen yang tersimpan pada diri gadis itu.
Nyatanya, Sakura terengah hanya karena Sasuke mengulum bibirnya luar biasa menggoda. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan rasanya Sakura akan meledak. Sesuatu berkedut di bawah sana membuatnya gila. Dan itu hanya gara-gara Sasuke, si pria tampan dengan sejuta keajaiban yang sama sekali tidak Sakura ketahui.
Sasuke melepaskan bibir Sakura diakhiri suara cecapan.
Sasuke menarik satu sudut bibirnya, tersenyum miring. "Mau ngajak aku perang? Kalau aku ajak kamu perang di atas ranjang, baru tahu rasa!"
...peace (づ3)づ TBC
