A/N: Aiiihhhh... UAS selese! UAS selese! Akhirnya... Bisa juga lanjutin juga... Yeiiiy! Selamat membaca, ya!
Disclimer: Hetalia belong to Hidekaz Himaruya
Warning: Shonen-ai... Sedikit cipika-cipiki... Gore! Nggak tahu bener apa nggak! Typos and OOC.
Enjoy it!
"Apa kau bilang tadi, Ralph? Francis dan aku?"
Ralph hanya bisa menganggukkan kepalanya, jujur, sebenarnya tak hanya Francis dan Arthur yang akan diserang oleh dark creature itu. Memang sasaran utamanya hanya mereka, hanya saja… Siapapun yang ada dikelompok ini sudah pasti akan mendapatkan imbasnya juga.
"Aku tidak percaya akan ucapanmu, Ralph! Atas apa kau bisa bicara seperti ini!"
Perlahan Ralph melonggarkan cengkramannya pada kemeja Arthur, dia lalu beranjak pergi tanpa mengatakan apapun.
" Kalau kau tidak peduli padanya lebih baik aku tidak memberitahumu tadi," lanjutnya dan akhirnya benar-benar meninggalkan dirinya sendiri. Melangkahkan kakinya dan beranjak pergi menemui dark creature sialan itu dengan tangan kosong.
Sesaat setelah Ralph pergi, Arthur hanya mematung ditempatnya berdiri, matanya menerawang kearah dimana ada ledakan tadi, kalau dilihat… Memang ada dark creature yang menuju kemarkas mereka, dia harus segera mengambil tindakan bila dia tidak ingin Francis dalam bahaya. Selain itu, kakaknya sendiri, George juga Richard? Dia harus bisa melindungi keluarganya sendiri.
Sebuah langkah menuju dirinya sendiri dan akhirnya hembusan nafas itu menggelitik lehernya, rengkuhan hangat nampak diberikan padanya, seakan dia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
"Ada apa, mon cher?"
Arthur hanya bisa menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. Biar Francis jangan mengetahui masalah ini, dia harus bisa mengatasinya sendiri.
"Tidak ada apa-apa, bloddy frog!"
"Kau yakin, mon cher? Aku ragu…"
Hingga aksen itu masuk ketelinganya barulah ia menolehkan kepalanya, menatap kekasihnya lekat-lekat, mendekatinya dan meraih bibirnya lembut. Saat itu seakan dunia hanya milik mereka berdua. Hingga akhirnya dia sendiri yang memutuskan kontak tersebut dan membenamkan kepalanya di pundak kekasihnya.
"I love you, Francis"
Francis hanya bisa merengkuh tubuh mungil Arthur dalam pelukan hangat, tak menyadari adanya siasat Arthur. Dia pun ikut tersenyum didepannya. Selang beberapa lama, Francis dan Arthur tak kunjung melepaskan pelukannya, hingga akhirnya tubuh Francis tak lagi bisa menopang berat badannya dan hanya ada gelap dimata Francis. Kakinya yang tak lagi bisa menopang tubuhnya hingga akhirnya dipapah oleh Arthur menuju sofa terdekat dan dibaringkannya disana.
Sementara dia sendiri mengambil jubah putihnya dan beranjak menuju daun pintu. Mempersiapkan senjatanya sendiri dan bersiap keluar menghadapi musuhnya.
"Anggaplah tadi ciuman terakhir yang bisa kuberikan padamu, Francis,"
Lagi, matanya menerawang keadaan yang ada. Tangannya mengambil sebilah pedang dan ia berlari keluar dari markas teman-temannya, kemudian ia hanya bisa memegang kalung Salib yang ada dilehernya, digantungkannya kalung tersebut di dahan pintu dan menatap sekali lagi markas yang kini sudah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
"Hanya mukzizat yang bisa mempertemukan kita lagi,"
Seketika, ia berlari. Hingga tubuhnya ditelan kabut malam entah kemana, meninggalkan bulir-bulir airmata pengganti kenangannya malam itu.
Hetalia © Hidekaz Himaruya
DeAth © Bonnefoy Clementie
Tubuhnya tak lagi bisa merasakan mana itu sakit dan mana itu tidak. Dirinya sudah tidak bisa membedakan lagi mana itu gelap dan mana itu terang. Dirinya sudah tidak bisa lagi membedakan mana itu bau anyir darah dan mana itu harum bunga mawar. Dirinya sudah tidak lagi bisa membedakan mana itu mata pisau dan bola mata itu sendiri. Dirinya sudah tak tahu lagi apa itu lembut kapas dan keras kayu. Dirinya sendiri bahkan sudah tidak tahu bagaimana rasanya dibakar atau melepuh.
"Arrggghhh!"
Sementara sosok yang menyiksanya hanya bisa menyeringai. Lagi, dia menancapkan pisau pada punggungnya yang lalu dibalaskan dengan erangan kesakitan.
"Sakit, ya? Itu belum seberapa dengan sakit hatiku, bodoh!"
Lagi, pisau ditancapkan, lagi, rambutnya dijambak kasar, lagi harga dirinya dipermalukan, lagi, bau anyir darah menelusuri hidungnya, lagi, wajah itu menyeringai, lagi, dirinya hanya bisa diam, tidak mampu melawan. Lagipula apa gunanya melawan? Toh, dia sendiri sudah tidak mempunyai tenaga. Dia hanya bisa pasrah dan menunggu orang lain menolongnya.
"Kau tidak tahu bagaimana rasa sakit hatiku ini saat melihat kekasihku sekarat hanya gara-gara kau!"
Kembali, kakinya menghajar tubuhnya tanpa ampun.
"Kau tidak pernah tahu betapa aku sakit hati saat semua orang melihatmu dan memalingkan wajah mereka dariku!"
Lagi, mata pisau masuk, merobek dagingnya sendiri.
"Kau tidak tahu sakit hati ini saat mereka menatap sinis padaku! Jawab aku! Aku tidak butuh kau diam seperti ini!"
Lagi, pipinya sendiri ditampar.
"Jawab aku! Jawab! JAWAB!"
Kayu menghajar punggungnya lagi. Menghajarnya tanpa ampun, sehingga ia mengetahui sosok yang menghajarnya kini menangis. Terisak pelan.
"Vee~~ fra… Fratello?"
"Diam Feli! DIAM!"
Lagi, kayu mendarat di perutnya, menambah satu luka baru. Tapi, itu tidak berarti dibandingkan dengan luka yang menancap dihatinya. Ia tidak percaya, kakaknya sendiri. Kakak yang sangat ia sayangi ternyata tega menyiksa adiknya sendiri.
"Kau pikir aku yang hampir membunuh Antonio? Bukan, Feli! Itu tanganmu! ITU TANGANMU!"
Lagi, tendangan menghampiri perutnya.
" KAU YANG HAMPIR SAJA MEMBUNUH ANTONIO! KAU PUAS MENGANGGU HIDUPKU, FELI! JAWAB!"
Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk bisa menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari kakaknya sendiri."Fra… Fratello! M.. Ma-Maaf…"
"Hanya dua kata untuk membayar semua kesalahanmu itu, Feli? Hanya dua kata, hah? Orang sepertimu lebih baik mati! Aku menyesal menjadi kakakmu!"
Moncong handgun diarahkan padanya, sementara dia sendiri hanya menunggu rasa sakit menyerangnya, menghajarnya tanpa ampun. Namun, apa yang ia cari ternyata tidak ada. Rasa sakit itu tak datang.
"Lovino! Apa yang kau lakukan!"
Suara itu?
"Brengsek! Lepaskan aku, Alfred! Lepaskan!"
Sementara dia sendiri meronta-ronta, matanya perlahan melihat seorang pemuda berkacamata yang ada disamping kakaknya. Hingga akhirnya dia mengusir kakaknya menjauh dan menghampiri dirinya sendiri.
"Feli? Demi Tuhan! Kau tidak apa-apa, kan?"
Sosok pemuda yang dipanggil Alfred itu hanya bisa memapah Feliciano, sementara dia sendiri hanya menyunggingkan senyum.
"Al… Alfred… -uhuk- ke… Kenapa Khhaauu…-uhuk- kemari?"
"Feli! Kaku masih saja berkata begitu, tentu saja karena kau itu kekasihku, bukan?"
Dia sendiri hanya bisa membalasnya dengan senyumnya sendiri. Memang dia tahu kalau kapasitas tubuhnya tidak bisa melebihi ini. Tangannya perlahan menggenggam erat jemari Alfred.
"Al… Kumohon… Tol-Tolong…-uhuk- lanjutkan… Lanjutkan hidupku… Lanjutkan… Senyumanku… Uhuk Uhuk… Untuk dunia…"
"Feli! Kau bicara apa, sih?"
"Tolong, Al… Ku-Kumohon…"
Hingga akhirnya tangannya terkulai lemas dan matanya tertutup, mengakhiri kehidupannya sebagai seorang The King of Light.
Sejenak, Alfred menegakkan kepalanya, demi apapun, kenapa dia bisa mimpi seperti ini? Dia sudah berusaha melupakan segalanya. Ia pun mencoba untuk berdiri, menggerakkan kedua tangannya dan berjalan. Tapi, saat dia baru saja berdiri.
"Istirahat atau kubunuh kau!"
Alfred hanya bisa cemberut mendengar nada itu, daritadi memang ia tidak melihat adanya kehadiran dari gadis ini, tentu, mengingat kedua matanya yang diperban saat ini. Entah diperban untuk apa dan oleh siapa.
"Nataly? Ngapain kau kemari? Kalau ketahuan kakakmu, kau bisa dibunuh, lho!"
Terdengar suara tawa dari arah kanannya. Tentu dia tahu, ini pasti suaranya."Biarkan saja, toh, kau tahu bukan apa jabatanku disana? Aku hanya menjadi mata-mata. Sekali-kali menjadi musuh dalam selimut bagi mereka tidak masalah, bukan?"
Lagi-lagi Alfred hanya bisa tersenyum tipis. Tiba-tiba hidungnya mencium wangi makanan. Bukan Hamburger pastinya.
"Natalia! Kau kemari membawakanku makanan?"
"Jangan ngigau, deh. Itu bukan aku yang bawakan makanan. Tapi…"
"Alfred! Nih, kubawakan bubur ayam. Kau makan, ya!"
Oh, ia pikir Natalia yang membawakannya makanan, ternyata Satrio. Terdengar suara detingan mangkuk saat nampan berisi mangkuk yang berisi bubur berikut dengan air putih ditaruh diatas meja.
"Ehm, biar Natalia saja yang menyuapimu, ya! Aku ada urusan sama Den! Permisi,"
Terdengar suara debuman pintu pertanda Satrio sudah keluar dari kamarnya. "Nataly! Kau tidak keberatan untuk menyuapiku, bukan?"
"Tidak! Tentu saja aku terpaksa!"
Selagi menyuapi Alfred, Natalia kemudian berkata,"Alfred! Kurasa saat ini White Prince tidak ada masalah. Dari pembicaraan kakakku kemarin, aku merasa kalau yang diincar oleh kakakku untuk dijadikan anggota olehnya adalah Arthur dan juga Francis,"
"Baguslah kalau White Prince tidak dalam bahaya. Aku tidak terlalu memikirkan masalah Prince soalnya. Lagipula kurasa Arthur dan Francis pasti bisa menjaga diri mereka sendiri,"
"Entah kenapa aku merasa kalau mereka berdua pasti dalam bahaya sekarang!"
"Kau tenang saja, Natalia! Pasti ada yang membantu mereka, kok! Kau tidak perlu khawatir,"
Natalia seakan menghentikan tangannya."Siapa?"tanyanya heran.
"Rahasia! Tapi, aku yakin kalau ada yang menolong mereka, kok!"
Sosok yang dimaksud Alfred tentu saja saat ini hanya bisa mengintip dengan perasaan geram. Rambut merahnya seakan mengerti emosi yang dideritanya kini.
'Cih! Sialan kau, Alfred!'
"Apakah kau tahu apa yang menyebabkan anggota kita banyak sekali yang keluar dari sini, Kiku-chan?"
Kiku hanya melihat Ivan diam dan tidak berekspresi.
"Ah, Kiku-chan tidak asyik! Sekali lagi kutanya, apakah kau tahu kenapa banyak sekali anggota yang keluar dari organisasi ini?"
Sekali lagi Kiku hanya bisa diam dan tidak bersuara, tidak membalas perkataan Ivan, matanya terkatup tanpa pernah terbuka. Orang yang melihat Ivan saat ini tentu menganggapnya gila, tentu, dia bercakap-cakap dengan mayat yang ditabungkan yang diusahakan untuk selalu hidup.
"Kiku-chan…"
Entah kenapa sekarang suara ini terdengar begitu menyayat, terlihat dari wajahnya kalau ia terisak.
"Kenapa, da?"
Dielusnya perlahan dinding tabung dengan tangannya yang dingin. Bulir-bulir airmata dengan leluasa menjelajahi seluruh isi wajahnya.
"Kenapa kau tinggalkan aku, Kiku-chan…"
"Aku… Pasti akan menyiksa orang yang sudah berani membuatmu seperti ini, Kiku-chan. Aku menjamin, hidupnya ada didalam tanganku!"
~To Be Continue~
A/N: Aissshhhh… Fail… Failll…. ArrggghhhH! Kenapa harus jadi begini! Kenapa? Udah UAS Jeblok, kaya apaan, dah! Rasanya pengen meluk aspal jadinya!
Lupa, disini ada Human Name-nya:
Indonesia: Satrio Malik Al-Fatah(Kalau ada yang pernah baca Relive pasti inget kalau ini nama yang saya kasih buat Indonesia disana)
Netherlands: Van Den Capeller
Wokeh, saatnya balas review:
Greylady89: Aishhh… Nggak nyangka bakalan review punya aku lagi… Huhuhu… Mau nangis deh rasanya. Ngomong-ngomong, judulnya emang nggak dikasih tanda baca, kok! Cuma aku lagi males aja, jadinya satu aku kasih huruf kapital, deh! Typo banyak bertebaran, ya? Ho-oh! Bener banget itu! Kalau bisa, minta tolong dong dikasih tahu dikit aja… Typonya dimana! Wokeh! He? Cendol? Didepan sekolah juga ada. Beli aja! #lho. Ini lanjutannya, selamat menikmati, ya!
Voodka:RussAme? Mau? N'tar saya bikinin! Disini emang ada RussAmenya, kok. Tunggu aja… Ah, nggak, kok. Kau nggak nyampah di kolom review… Silahkan menikmati Chapter 2nya! Review kembali, oke!
Miss Celesta: Keren? Karya bahlul ini dibilang keren? Makasiiihhhhh….. #peluk. Doyan Fruk? Sama dong! Suka sama cerita ini? Makasih, ya! Hmmm… Silahkan kembali review.
Oke, seperti biasanya… Review tidak mencapai… Ehm 5… Cerita tidak akan saya lanjutkan!
From Melody to Melody,
Bonnefoy Clementie
