皆の考えることを教えてください。
。
Seize The Day 2
Answer
。
。
。
Miiko merapihkan rompi seragamnya yang berwana cokelat susu. Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya dirunya gugup hanya karena ingin masuk sekolah. Entah sudah berapa menit ia lewatkan hanya dengan berdiri kaku di gerbang. Sapaan teman-teman yang dikenalnya terasa lalu lalang di telinga. Duh, jangan sampai hanya karena ini, ia bakal mengurungkan niatnya untuk kembali bertemu Tappei.
Satu langkah kaku baru saja diambilnya ketika sebuah seruan menyapanya, "Miiko, ohayou !"
"Mari-chan..."
"Kau ngapain sih? Mau jadi monumen sekolah?" Mari bertanya seraya menertawakannya. "Yaampun... pita seragammu berantakan tuh," katanya lagi lalu segera membantu merapihkan pita merah tersebut. Dalam hatinya, Mari jadi bertanya-tanya, tidak biasanya Miiko seperti ini pasti ada masalah entah dengan siapa! Pikirnya dalam hati yakin.
"Hairu yo!" (Yuk, masuk!) Ajak Mari. Miiko sebenarnya belum siap, tapi Mari sudah mendorong punggungnya, terus seperti itu sampai mereka sampai di koridor tempat loker.
"Shimura, Yamada, OHAYOU!" Ada Kenta yang melambaikan tangan dengan wajah tersenyum lima jari. Tappei di sampingnya hanya melirik dan mengangguk sekilas. Miiko mendadak sakit perut, ia langsung menunduk menutupi rona wajahnya sementara Mari membalas salam Kenta.
"Whoaaa Kenta! Rabureetaa o moratta no?" (Dapat surat cinta ya?) Mari mengintip isi loker Kenta, ada satu amplop warna pink cerah di sana. Miiko hanya melirik sekilas dan menghampiri lokernya sendiri. Kenta memang populer di sekolah mereka.
"Mau kau apakan?" Tanya Mari lagi.
"Apa lagi? Aku kan sudah punya Yukko~" jawabnya bangga. Cowok itu membuka flip ponselnya dan menunjukkan wallpapernya yang sedang berfoto berdua dengan Yukko, foto yang diambil tak lama setelah kencan mereka. Kenta mencium ponselnya, membuat ketiga orang lain yang memperhatikannya sweatdrop bersamaan.
"Coba Yukko bisa satu sekolah dengan kita ya," walau saat SMP mereka masih bersama, tapi untuk kali ini Yukko mengikuti saran orang tuanya untuk sekolah di SMA khusus perempuan di prefektur Chiba. Tidak dekat, tapi tidak jauh juga. Meskipun begitu, mereka berjanji akan sering ketemu di akhir minggu jika ada waktu. "Kau harus jaga hati, cowok populer!" Lanjut Mari memperingatkan.
Kenta terkekeh pelan. "Tentu saja! Dan jangan menyebutku seperti itu, Shimura! Predikat seperti itu kan lebih cocok untuk cowok ini!" Kenta menunjuk sahabat di sampingnya.
Tappei yang dari tadi tak memperhatikan sedikit kaget. Ia tanpa sadar sudah membuka kotak lokernya dan ada beberapa surat warna-warni di dalamnya. Ia mengambil sepatunya lalu segera menutup loker cepat hingga menghasilkan suara yang cukup keras. Ia menoleh ke sosok yang sedari tadi menjadi perhatiannya, mendapati Miiko yang segera membuang muka.
"Hari ini kau dapat lebih banyak dari kemarin ya Tappei? Dasar! Kepopuleranmu makin pesat saja!" Goda Kenta sambil menyikut-nyikut lengan Tappei.
Mendengar itu kegiatan Miiko mengambil sepatu terhenti. Jadi Tappei sering dapat surat? Kenyataan satu itu membuat Miiko merutuk dalam hati. Gadis itu tentu saja mengakui Tappei itu populer bahkan sejak SD. Tapi, memang semenjak SMP ada perubahan dalam diri cowok itu. Miiko mungkin sudah bangga pada tinggi tubuhnya yang tinggi semampai, tapi untuk Tappei, Tingginya menjulang hingga lebih dari dari 170 senti, Tubuhnya juga tegap dan sedikit berisi karena kegiatan olah raga, suaranya menjadi lebih berat dan wajahnya... dulu Miiko tidak tau harus berkomentar apa, tapi untuk sekarang Miiko akui Tappei pasti mampu membuat enam dari sepuluh perempuan terpesona padanya hanya dengan berdiri diam.
Dan memikirkan itu membuat kening Miiko mengeryit. Kalau ia sudah punya banyak perempuan yang mengantri mendapatkannya, kenapa Tappei memilihnya yang notabene siswi biasa saja? Dadanya menjadi sesak seketika. Ia bergegas mengganti sepatu pantofel cokelatnya dengan sepatu canvas putih khusus untuk dipergunakan di dalam sekolah. Terburu, ia mengunci lokernya kembali dan memandang Mari.
"Aku ke kelas duluan,"
.
.
.
.
.
"Ta.. Tappei-kun! Boleh pinjam buku catatan ilmu sosialmu?"
Miiko yang sedang mengobrol seru dengan Mari menoleh ke sumber suara dengan nada manis terbata. seorang gadis berambut cokelat sebahu mengampiri meja Tappei. Siswi dari kelas sebelah, ada dua teman perempuannya menunggu di pintu kelas.
Tappei mengeryit tak mengerti. "Kan masih ada siswi lain yang bisa kau pinjami,"
Gadis yang mencoba meminjam itu tampak kebingungan. Ia melirik teman-teman dibelakangnya yang dari gesturnya, Miiko yakin sedang memberi dukungan. Gadis itu memainkan dua telunjuknya bersamaan. "Ano.. Ku-kudengar untuk mata pelajaran itu, catatan Tappei-kun yang paling lengkap!" Ujarnya mencari alasan.
Setelah menimbang-nimbang, walau masih terasa aneh, Tappei menyerahkan buku catatannya. Gadis itu tersenyum cerah, ia membungkuk terima kasih dan kembali dengan langkah riang, buku catatan Tappei di peluknya erat-erat, sementara Teman-temannya yang lain memberi tepukan pundak dan high five bergantian.
Miiko berdegup ngilu. Apa yang bisa menggambarkan perasaannya sekarang ini? Rasa kesal, marah, sedih, iri bercampur jadi satu. Tappei baik sekali. Miiko merenggut bagian depan seragamnya, kenapa sih dirinya ini? Kok tiba-tiba ia ingin sekali menangis keras, memukul Tappei karena mau-maunya meminjami buku untuk cewek yang jelas-jelas mengincarnya.
Kenapa? Perasaan apa ini? Apa ia menyukai Tappei? Tapi, bukankah Tappei tidak lagi menginginkan jawaban darinya? Tappei bahkan sudah menyuruhnya untuk melupakan pernyataan sepulang sekolah itu. Jadi, apa lagi yang bisa diharapkan Miiko?
.
.
.
.
.
.
"Ja, koko de wa owarimasu," (Kalau begitu, kita selesai sampai sini)
"Arigatou gozaimasu, sensei!" (Terima kasih, sensei).
Setelah seruan itu berakhir, guru berambut tipis itu berjalan keluar kelas. Para murid menghela nafas lega, beberapa di antara mereka mulai bergegas pulang, ada yang masih mengobrol dan juga memulai piket kelas. Seperti Miiko dan Mari. Ada lima orang yang piket hari ini, satu orang tidak masuk karena sakit, satu lagi ada urusan klub, dan satu yang lain membantu setengahnya dan pamit pulang lebih dulu karena urusan mendadak.
"Tappei-kun? Boleh minta waktumu sebentar? A-ada yang ingin kusampaikan dan juga mengembalikan buku catatanmu kemarin lalu," Siswi kelas sebelah yang dua hari lalu meminjam catatan Tappei kembali datang. Dengan wajah merah ia menghampiri Tappei dan mengajaknya keluar kelas.
"Pergi saja Tappei, biar kutunggu. Aku mau beli jus dulu di kantin!" Teman seperjalan pulangnya, Kenta hanya mengacunginya jempol. Tappei cemberut. Bukan itu masalahnya, ia memandang Miiko yang menyapu sudut kelas. Ia akhirnya mengikuti gadis itu keluar, tanpa tau Miiko mencuri-curi pandang ke arahnya.
"Kau aneh, Miiko"
Kelas sudah sepi, Tappei dan Kenta pergi karena itu kini hanya tinggal Miiko dan Mari. Gadis Shimura itu menyudahi kegiatan melap jendela dan duduk di kursi paling depan, memperhatikan Miiko yang kini menyibukkan diri menghapus papan tulis.
"Kau aneh, Miiko" ulang Mari.
"Aku biasa-biasa saja,"
Mari menggeleng, "Tidak. Sudah dua hari ini sikapmu aneh. Yang lain mungkin menganggapmu biasa saja, tapi aku sudah berteman denganmu sepuluh tahun." Mari senang Miiko menghentikan kegiatan piketnya, itu tanda bahwa gadis Yamada ini mendengarkannya. "Kau ada masalah?" tanya Mari langsung.
Miiko terdiam sejenak kemudian mengangguk. Sahabatnya memang tau segala hal tentang dirinya "sedikit,"
"Dengan siapa? Tappei?"
"Kau seperti Momo" kata Miiko. Memang, pertanyaan Mari tepat seperti Momo saat itu.
Mari membuang nafas. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan. "Benar ya? Habis sikapmu beda dengan Tappei belakangan ini. Kalian jadi jarang menyapa, menatap pun tidak. Tapi aku juga tau kalian berdua saling memperhatikan satu sama lain,"
Ucapan Mari tepat sasaran. Mungkin karena ia terbiasa memikirkan cerita untuk debut komik-komiknya, ia jadi lebih peka dengan keadaan sekitar, ya? Pikir Miiko. Tapi Miiko tetap diam di tempat, menimbang-nimbang kalimat seperti apa yang tepat untuk situasinya saat ini.
"Apa tunggu Yukko saja? Memang sih, kalau ada masalah seperti ini dia yang lebih bisa memberi nasihat baik,"
"Bukan, Bukan seperti itu Mari-chan," sela Miiko. Ia tidak ingin Mari menganggap dirinya tidak penting hingga harus ada Yukko dulu baru bisa cerita. "Aku hanya bingung saja..". Mari menaikkan sebelah alisnya, meminta penjelasan lebih.
"Tappei... bilang suka padaku,"
Dua pasang mata Mari seketika melebar tak percaya, mulutnya menganga. Sungguhan nih?! Jeritnya dalam hati. "SUNGGUHAN?!" Pekiknya keras tak bisa ditahan. Miiko lekas-lekas menutup mulutnya, tapi ia bisa melihat sahabatnya ini tersenyum. Akhirnya, mereka berdua bisa bersama juga.. tapi tunggu- "Loh?! Terus kenapa Tappei mau saja diajak anak kelas sebelah tadi?!" tanyanya cepat. Miiko tak menjawabnya dan hanya menunduk. Uh-uh, sekarang Mari tau permasalahannya.
"Miiko sudah menjawabnya?"
"Belum sempat"
"Terus kau akan jawab apa nanti?"
"Tappei menyuruhku melupakannya,"
Mari menepuk keningnya. Kenapa sih, sahabatnya yang satu ini bisa begini bebal soal percintaan? Tappei pun juga sama saja.. walau perhatian, cowok itu selalu pura-pura tidak peduli. Dasar! Apa untungnya sih bersikap apa nama kerennya? Oh iya, tsundere!
"Jadi perasaan Miiko sekarang bagaimana?" tanya Mari lembut. Oke, kesampingkan soal betapa jengkelnya ia sekarang pada dua makhluk ini. Ia sudah sadar bagaimana perasaan Tappei dari dulu, sekarang tinggal Miiko saja. Yang ia lihat memang Miiko termasuk cewek enggak peka dalam urusan cinta. Miiko itu manis, sangat sangat manis bahkan, dan yang suka padanya pun tidak sedikit tapi ya seperti itu, cowok-cowok yang menyukainya sudah patah hati duluan karena selalu dianggap teman, contohnya saja Yoshida Ikuya yang akhirnya menyerah dan sekarang mencari tambatan hati baru yaitu Haruna.
"Wakaranai...," (tidak tau)
"..."
"Tapi saat tau Tappei dapat banyak surat, aku jadi kesal." jelasnya membuat Mari menahan senyum. "Waktu anak kelas sebelah itu mendekatinya, Aku jadi makin sebal. Aku ingin marah dan mengomelinya tapi disaat bersamaan juga ingin menangis karena iri," Miiko menggigit bibir.
"Miiko," Mari menepuk pundak gadis itu lembut. " Aku enggak tau ini bisa mengangkat beban pikiranmu atau tidak, tapi Aku bisa bilang; kalau Tappei itu baik. Dan untukmu, aku enggak memaksa tapi ikuti kata hatimu aja. Pilih, jawab dan lakukan apa yang menurutmu benar, apa yang bisa membuatmu bahagia," gadis Shimura itu tersenyum sekali lagi dan memeluk sahabatnya. Cukup lama berpelukan seperti itu sampai Kenta datang dengan kotak jus ditangan.
"Kalian belum pulang? Belum selesai piket?"
Tak lama, Tappei datang dan sedikit terkejut melihat dua sahabat itu masih di kelas. Mari yang melihat ada kesempatan segera berpura-pura mengambil dompet dan menarik Kenta paksa. "Temani aku beli jus di kantin, Kenta!" katanya memerintah.
"Ehh? Tapi aku kan baru saja-.." ucapan Kenta terpotong karena Mari menutup mulutnya.
"Miiko! Tunggu aku di sini! Oh ya, jangan lupa tulis laporan di buku piket ya!" Seru Mari masih dengan menyeret Kenta keluar kelas.
Miiko bisa melihat kedipan centil Mari dari kejauhan. Sial, ia ditinggal sendirian.. bersama Tappei, Mari pasti sengaja! Miiko menggeleng, ia tidak boleh bertingkah konyol, lebih baik ia meneruskan piketnya yang sempat tertunda. Papan tulis sudah hampir bersih, tapi bagian paling atasnya tidak bisa dijangkaunya, meski sudah berjinjit sekalipun.
"Dasar pendek," ejek Tappei. Ia menghampiri Miiko, mengambil papan penghapus dan menghapus bagian atas papan tulis dengan mudah.
"Percuma minum susu banyak, kalau papan tulis segini saja kau masih belum sampai!"
Miiko yang tersulut jadi tidak mau kalah, "Enak saja! Tinggiku sudah seratus enam puluh tiga sekarang!"
"Ya, tapi tetap lebih pendek dariku! Dasar pendek!" Ejek Tappei lagi.
"Kakimu yang seperti galah!"
"Artinya kakiku jenjang semampai!"
"Bodoh!"
"Idiot"
"Jelek!"
"Kecil!"
"Tubuhku sudah enggak kecil lagi!" Serunya. Bibir Miiko mengerucut lucu sementara dua pipinya menggembung. Sebenarnya Tappei gemas ingin mencubitnya, tapi ia coba menahannya.
"Akhirnya kau bica padaku juga,"
Miiko tersentak. Ia menoleh dan mendapati Tappei tersenyum padanya. Hatinya berdesir lagi. Tak ingin mengalah pada emosinya, Miiko mencoba menghirup nafas dalam, menenangkan sikapnya lalu berbalik duduk di kursinya, mengisi laporan di buku piket harian. Dan tanpa diduga Tappei mengikutinya, memperhatikan Miiko yang tengah menulis dengan seksama.
"Jangan dipikirkan lagi pernyataanku waktu itu,"
Miiko tercengang dibuatnya. Tangannya berhenti menulis, wajahnya kian menunduk. Kenapa Tappei harus membahasnya sekarang? Di sini?
"Aku sudah tau jawabanmu," ucapan Tappei membuat Miiko berani menengadahkan kepalanya menatap Tappei. Cowok itu melanjutkan lagi, "Kalau kau tidak menyukaimu, seharusnya kau bicara langsung padaku. Ini semua salahku, harusnua aku tidak bicara yang macam-macam kalau semuanya jadi seperti ini. Kalau pertemanan kita dari dulu sampai berubah seperti ini hanya karena aku-..."
Kalimat Tappei menggantung. Tapi kemudian ia mengusap kepala Miiko seraya tersenyum sedih. "Maafkan aku. Aku akan mencari Kenta dan pulang sekarang, kuharap besok hubungan kita tidak kaku seperti ini lagi," lanjutnya.
Tidak seperti ini yang Miiko harapkan. Karena itu, ia segera menarik seragam Tappei agar cowok itu berhenti melangkah pergi. "Aku.. Aku juga tidak ingin seperti ini..-
"Tapi aku senang Tappei menyatakan perasaanmu padaku, aku sampai tak bisa berhenti memikirkannya, jantungku berdebar dua kali lebih cepat, mulutku rasanya seperti ditarik untuk tersenyum setiap saat dan ketika Tappei sudah membuatku seperti itu, Tappei bilang jangan memikirlannya?"
"..."
"Aku sakit hati. Aku benar-benar mengira kau berencana mengerjaiku habis-habisan. Aku ingin marah tapi tidak bisa. Rasa kesalku muncul lagi saat melihat surat-surat untuk Tappei dan sikap anak kelas sebelah itu padamu!" Rasa-rasanya semua kalimat itu Miiko ucapkan dalam satu tarikan nafas. Perasaannya keluar begitu saja tanpa bisa ditahan. Ia ingin Tappei tau bagaimana Miiko menjalani hari setelah pernyataan itu dengan perasaan yang bermacam-macam.
Tappei yang terpana, berbalik menghadap Miiko. Dilepaskannya tarikan Miiko pada seragamya dan menggenggam satu tangannya erat. "Sudah kubilang aku serius denganmu. Sudah kubilang semua orang tau bagaimana perasaanku padamu, sudah kukatakan... Miiko,"
Miiko merona mendengar nama kecilnya. Baru kali ini Tappei memanggilnya seperti itu. Rasa hangat melimpah ruah melingkupi hatinya. Tappei menyebut namanya, Dia memanggilnya 'Miiko'.
"Jadi Kau juga suka padaku?"
Miiko menatapnya ragu. "Bu..Bukankah Tappei sudah bersama anak kelas sebelah itu?"
"Cemburu?" Tanyanya menggoda yang langsung mendapat tatapan tajam dari Miiko. "Aku menolaknya." Rasa lega menghampiri Miiko "Karena aku sudah punya orang yang kusukai,"
"..."
"Jadi kutanya sekali lagi. Miiko, apakah kau juga suka padaku?" Rona di wajah Miiko semakin memerah. Dirasakan genggamn Tappei pada tangannya mengerat, mata cokelat cowok itu menatapnya penuh harap, meminta kepastian. Miiko menggigit bibir, perasaannya sekarang ini sudah jelas. Dengan perlahan Miiko mengangguk malu, membuat Tappei tersenyum lebar. Ia luar biasa puas mendapati pujaan hatinya sejak dulu akhirnya membalas perasaannya.
"Jadi.. kita pacaran?"
"Hah?"
"Yah.. kalau sudah saling suka, biasanya orang-orang akan pacaran kan?"
"Tappei tidak memintaku. Kau hanya menyatakan rasa sukamu saja,"
Tappei mendengus. Memang apa bedannya menyatakan suka dan meminta jadi pacar? Tapi Tappei yang mengerti akan melakukannya. Kalau itu yang diminta Miiko untuk kepastian hubungan mereka sekarang. Ia mengambil satu tangan yang lain dan menggenggamnya lagi. Ditatapnya Miiko lekat, wajah yang selalu datang dimimpi mimpinya ini manis sekali. Katakan ia berlebihan, tapi Miiko memang selalu bisa membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi, berkali-kali.
"Sukiatte kudasai," (Berkencanlah denganku)
"Tappei.."
Miiko mengangguk. Dan detik itu juga Tappei menarik gadis itu kepelukannya.
。
。
。
A/N: Sudah lanjut. Semoga masih berkenan. Saya upload lewat handphone, karena itu mohon maaf atas segala kekurangannya. Selebihnya terima kasih.
