''CUT! Bagus Semuanya!" Teriak Naruto dengan semangat. Wajahnya tampak serius memperhatikan kembali ulangan adegan yang baru saja diambil. Para kru yang lain pun ikut memperhatikan juga.
Malam itu Naruto tengah melakukan syuting film dikawasan villa di puncak masih disekitar kota Tokyo. Beberapa hari ini Naruto memang tengah disibukkan dengan jadwal kegiatannya yang semakin padat. Bahkan sampai jam 8 malam ia masih sibuk di depan layar-layar komputernya bersama dengan kru-kru lainnya.
Sebelum ia melakukan take selanjutnya, Naruto menyempatkan diri untuk menelfon ke Manshionnya. Menanyakan keadaan Sakura kepada Tobi, penjaga anak angkatnya.
"Tobi, dimana Sakura?"
"Sedang nonton film kartun thu."
"Rewel tidak?"
"Tidak. Sakura saat ini sedang nonton sambil di temani Ayame."
"Coba suruh ke sini sebentar."
"Sakura-chan, ada telepon dari Naru-ji nih!" Terdengar Tobi berseru dari tempatnya. Sebentar kemudian suara Sakura pun terdengar jelas, menyiratkan kebahagian sendiri di hati Naruto.
"Sakura-chan, Naru-ji kayaknya telat pulang malam ini. Malam ini Sakura dirumah saja sama Ayame-nee dan Tobi-nii, ya."
"Memangnya Naru-ji pulangnya jam berapa?"
"Mungkin sekitar jam 2 atau jam 3. Disini masih syuting. Memangnya kenapa sayang?"
"Tidak apa-apa. Aku lagi nonton mickey Mouse nih, seru! Lucu lagi, Ji-chan."
Terdengar suara tawa Sakura yang menggelikan di hati Naruto.
"Tapi ingat, ya Sakura-chan... Jangan tidur malam-malam loh. Jam sembilan Sakura-chan harus sudah tidur. Ya, sayang?"
"Iya deh. Pokonya habis film ini aku langsung tidur."
"Suruh Ayame-nee temani Sakura-chan tidur, ya?"
"Aku tidak mau." Potong Sakura cepat. "Aku tidak mau tidur ditemenin Ayame-nee. Kalau Naru-ji tidak ada. Aku tidur sendirian saja."
"Memangnya Sakura-chan berani tidur sendiri?"
"Berani dong!"
Naruto terkekeh pelan. "Pintar... anak manis harus berani tidur sendiri, benar nggak?"
"Hi, hi, hi . . . " Sakura tertawa senang ketika mendapat sanjungan dari Ji-san kesayangannya itu.
Telepon itu adalah telepon kesekian kalinya malam itu. Hari itu Naruto menelpon Sakura dari tempat lokasi syutingnya lebih dari 10 kali. Walau hanya sebentar, tapi hati Naruto merasa lega kalau sudah tahu atau mendengar suara Sakura dalam keadaan baik-baik saja.
Malamnya sekitar jam 10, Naruto juga sempat menelpon ke Manshion, memastikan bahwa Sakura sudah tertidur dikamarnya.
"Baguslah kalau begitu. Tapi pintu kamar jangan kau tutup rapat-rapat ya, Tobi. Jagain saja dari depan pintu."
"Kau tenang saja, Sakura pasti kujagain. Kau fokus saja sama pekerjaanmu."
Semakin lega hati Naruto, semakin tenang pikirannya. Tak heran sehabis menelfon tadi, Naruto dapat berkosentrasi dengan pekerjaannya yang bisa dikatakan tidak ada habis-habisnya. Iruka sebagai asistennya sempat dibuat repot sendiri. Pekerjaan sebagai sutradara memang tidak ada mudah-mudahnya sama sekali.
Dan pekerjaannya itu sendiri baru selesai jam dua malam lewat.
Naruto menghentikan motor Gedenya ketika melihat seseorang perempuan yang tengah memperbaiki mobilnya yang mogok. Padahal jam sekarang sudah menunjukkan jam setengah tiga subuh. Jalanan sepi, dan tidak ada mobil yang berlalu lalang. Telihat gadis itu sedang menggerutu tidak jelas. Tampak sekali diwajah putihnya bahwa ia sedang kesal saat itu.
"Hei! Kau tidak apa-apa? Ada yang bisa kubantu?"
Gadis itu memutar badannya, menatap Naruto. Sesaat Naruto tampak terpaku melihat wajah cantik itu. Wajah itu cantik, sangat cantik. Wajah putih bersih, polos itu tampak sangat memukau Naruto apalagi dengan sepasang mata hijau bulatnya.
"Hei! Mobilku mogok." Gadis itu menunjuk mobilnya yang bagian kapnya terbuka. "Dan aku tidak tahu sama sekali tentang mesin."
Naruto memakirkan Motor Gedenya disamping jalan lalu menghampiri mobil gadis itu. "Sini biar kubantu."
Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Kau darimana? Kenapa malam-malam begini bisa ada dijalan seperti ini?" Tanya Naruto sambil menggulung lengan kemejanya.
"Aku sedang ada janjian sama temanku. Ke Club Konoha. Tapi tiba-tiba saja mobilku mogok."
Naruto mengangguk, tangannya mulai sibuk mengutak-atik mobil gadis itu. Setelah beberapa menit kemudian, "Sepertinya mobilmu ada masalah dengan radiatornya," ucap Naruto.
"Benarkah?" Tanya gadis itu sambil ikut memperhatikan tangan Naruto yang memeriksa radiator mobilnya.
"Ya. Sepertinya mobilmu memang perlu di derek. Akan kutelfonkan tukang dereknya. Kebetulan dia temanku sendiri." Segera saja Naruto mengeluarkan handphonenya dalam saku celananya. Tidak lama beberapa saat Naruto pun telah selesai menelfon.
"Terimakasih err..."
"Namikaze Naruto," ucap Naruto memperkenalkan dirinya. Pemuda itu mengulurkan tangannya dan disambut dengan wajah bahagia gadis itu.
"Terimakasih Namikaze-san," Ucapnya. "Namaku Karin."
Naruto sempat berdesir ketika menjabat tangan putih mulus di depannya itu.
Gadis yang bernama Karin itu berhidung mancung, kulitnya putih. Matanya yang hijau tampak bulat dan indah. Berbulu mata lentik. Rambutnya yang panjang, mirip dengan bunga semi itu diikat ke belakang dengan asal-asalan, semakin membuat penampilannya tampak sexy malam itu. Saat itu Ia tengah mengenakan gaun mini berwarna biru dengan model strapless yang memperlihatkan lekukan tubuh dan juga dadanya. Lalu memakai sepasang sepatu hak tinggi yang bewarna senada dengan bajunya. Terlihat di pergelangan kakinya sebuah gelang kaki melingkar di atas tumitnya.
"Panggil saja Naruto. Kau mau pulang sekarang? Mobilmu nanti ada yang mengambilnya."
Karin mengangguk. "Hmm . . ."
"Bagaiamana kalau kutemani ke sana?" Usul Naruto.
Karin menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak usah. Aku bisa naik taksi saja nanti."
"Tapi ini sudah jam 2 pagi, lagi pula sekitar sini juga jarang ada taksi lewat." Naruto menutup kap mobil berwarna putih itu, lalu menatap wajah Karin.
"Tapi aku tidak ingin merepotkanmu. Aku sudah banyak merepotkanmu tadi."
"Tidak merepotkan kok."
"Tapi kulihat kamu tampak capek sekali."
"Tenang saja, aku tidak capek. Lagi pula bahaya gadis pulang malam-malam begini."
"Cewekmu bagaimana? Nanti cemburu lagi?"
Naruto terkekeh pelan. Ia segera menghampiri motornya disusul Karin dibelakangnya.
"Tenang saja aku tidak punya pacar alias bujangan lapuk."
Karin tertawa renyah ketika mendengar candaan dari Naruto, pria itu juga terlihat tertawa kecil. Ia lalu menyodorkan jaket kulitnya ke arah Karin dan diterima gadis itu setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih pada si empunya.
Tanpa banyak pertimbangan lagi, Naruto segera meluncur bersama Karin ke sebuah Club berbintang di kota Tokyo. Motor Gede itu dikemudikannya dengan santai, seolah-olah menikmati setiap perjalanannya. Sebab saat itu hati Naruto benar-benar ditaburi bunga-bunga indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Biasanya jika Naruto mengajak seorang perempuan jalan, rasa senang dihatinya tidak begitu besar. Dan entah kenapa malam ini ia merasa seperti orang yang paling beruntung dan paling berbahagia, terutama sejak berada di dekat Karin, si cantik yang punya gerak-gerik lincah dan energik itu.
Club Konoha adalah tempat hiburan malam yang sering ia kunjungi sewaktu ia belum setenar sekarang, waktu ia masih nakal-nakalnya dulu. Setelah itu ia belum pernah lagi datang ke Club itu.
"Jadi sejak kapan kamu sendiri."
"Yahh. Hampir dua tahun inilah. . ." Aku Naruto jujur, tanpa ada rasa malu sedikit pun.
"Terus, sejak kapan kamu jarang ke sini lagi?"
"Bukan jarang, tapi belum pernah datang lagi. Baru sekarang aku kemari lagi. Itu pun cuma sebentar. Kalau kamu sudah ketemu sama teman-temanmu, aku akan pulang."
"Kok begitu sih?" Karin tampak protes. Tangannya menahan pundak Naruto, hingga langkah pria itu menjadi pelan dan bertatapan dengannya.
"Kan cuma ngantarin kamu saja, Karin-chan."
"Kalau cuma begitu sih, ngapain kamu ikut ke sini? Aku berani kok datang sendiri ke sini tanpa diantarin siapa-siapa."
"Jadi harusnya bagaimana dong?" Pancing Naruto sambil tersenyum. Hatinya menjadi berdebar-debar tak menentu.
"Aku tidak mau kalau kamu cuma sebentar saja. Kamu harus keluar dari sini bersamaku. Kalau cuma sebentar, aku juga cuma sebentar."
"Kok begitu?" Naruto tertawa pelan.
Karin tampak bersungut-sungut seraya menuruni tangga lebar yang menunju ke lantai bawah Club Konoha.
"Pokoknya aku tidak mau kenal sama kamu lagi kalau kamu pulang tidak sama aku. Aku . . ." Karin berhenti melangkah. "Kita batalin saja deh, tidak usah masuk. Pulang saja sekarang."
Tawa Naruto semakin panjang. Ia mencolek pipi mulus Karin yang putih itu.
"Jangan ngambek dong!" Naruto lalu menyambar tangan mungil Karin dan mereka masuk ke Club Konoha sambil saling bergenggaman tangan.
Sampai di dalam sana Karin tampak kebingungan mencari teman-temannya. Mereka berdua dapat tempat duduk di sudut bar, agak gelap. Karin meminta ijin pamit mencari teman-temannya disisi lain. Naruto hanya menganggukkan kepalanya dan tetap berada di tempat duduknya. Beberapa saat gadis itu kembali lagi sambil mengoyang-goyangkan badannya mengikuti irama musik musik DJ yang menghentak-hentak itu. Gadis itu sedikit meninggikan nada bicaranya supaya dapat di dengar Naruto. Wanita berusia 26 tahun itu melontarkan kedongkolannya.
"Sialan! Mereka baru saja pergi dari sini lima belas menit yang lalu."
"Kata siapa?"
"Waitress yang ada di dekat pintu masuk tadi."
"Mereka pindah tempat atau pulang?"
"Kata waitress itu tadi, mereka ribut-ribut bicara soal pindah tempat. Tapi nggak tahu kemana mereka pindahnya."
"Mau menyusul mereka?" Tawar Naruto.
Karin menggeleng. "Tidak usah. Atau. . . Nanti aja. Aku mau minum, boleh tidak?"
"Asal jangan sampai mabuk."
"Tenang saja. Aku bisa mengontrol diriku." Lalu gadis itu pun memesan minuman kepada seorang batender.
Diam-diam Naruto merasa salut dengan gadis yang baru di kenalnya itu. Bukan hanya supel dan cuek, tapi gadis itu juga mempunyai pergaulan yang luas dan gaya hidup cenderung high class. Mungkin saja gadis itu terlahir sebagai jetset yang sudah tidak asing lagi dengan berbagai macam jenis minuman berakohol.
Ada rasa bangga tersendiri di hati Naruto manakala Karin meminta izin padanya lebih dulu sebelum memesan minuman. Sikap tersebut menimbulkan kesan seolah-olah Karin sangat menghormati teman barunya, dan tidak ingin dikecam negatif. Permintaan izin minum itu juga membuat hati Naruto semakin ceria, hubungannya terasa lebih akrab lagi, sehingga Naruto pun tidak ingin membuat gadis itu kecewa oleh keputusannya.
"Kamu mau minum Vodka?" Tawar Karin.
"Tidak. Aku tidak kuat minum minuman keras. Aku minum bir hitam saja."
"Tapi jangan banyak-banyak, ya? Nanti perutmu buncit lagi!" Canda Karin. Gadis itu tampak semakin riang, dan lebih lincah lagi ketimbang sebelum masuk ke Club.
"Turun, yuk?" Gadis itu mengajak Naruto bergoyang dilantai disko.
"Nanti aja. Badanku belum panas."
"Ambil korek, bakar! Nanti juga panas." Canda Karin. Naruto terkekeh geli. "Aku turun ke sana sendiri boleh tidak?"
"Kalau mau goyang disini aja, jangan turun kesana. Nanti di gangguin cowok-cowok kurang ajar."
"Siap bos," ucapnya sambil turun dari kursi tinggi, dan ia bergoyang-goyang di samping Naruto. Benar-benar tidak mau ke arena, seakan-akan sangat menghargai keputusan Naruto. Hal itu tampak membuat Naruto bahagia berada di samping gadis manis itu. Kalau tadi rambutnya diikat asal-asalan kini rambutnya telah tergerai, panjang, harum dan lembut.
Lama-lama Naruto meras kasihan melihat gadis itu, soalah-olah ia membatasi kebebasannya. Maka dari itu ia segera turun, dan membawa gadis itu ke arena. Mereka bergoyang disana dengan penuh semangat dengan hati yang berbunga-bunga indah sekali.
Katika mereka kembali ketempat duduk semula, Naruto menawarkan perhatian khusus untuk menyenangkan hati gadis itu.
"Mau menyusul teman-temanmu sekarang?"
"Tidak usah. Aku suka disini aja."
"Tapi kamu tidak punya teman pulang. Mereka . . ."
"Kan ada kamu?" Sahutnya sambil tersenyum. Terlihat nafasnya masih agak ngos-ngosan. Karin meneguk minumannya. Ia memesan Vodka lagi.
"Aku senang bersamamu disini, jadi buat apa nyusul teman-temanku. Nanti disana kamu jadi rebutan teman-temanku lagi. Dan aku tidak senang melihatnya."
Naruto menyeringai. "Apa benar aku bisa membuatmu senang?"
Karin mengangguk, pipinya tampak merona membuat Naruto tampak gemas, ingin mencubit pipi mulus itu. "Hmm. . . Aku senang sekali dapat teman sepertimu. Tidak tahu kenapa perasaanku malam ini jadi gembira dan bahagia sekali. Aku seperti mendapat semangat baru dari ketepurukanku."
"Terpuruk? Memang kamu ada masalah apa? Boleh aku tahu?"
"Boleh. Tapi bukan disini tempatnya. Berisik. Aku bisa kehabisan suara untuk menjelaskannya. Habis, meski pakai ngotot segala sih."
Naruto dan Karin tertawa bersama.
"Jadi mesti dimana tempat yang cocok untuk menjelaskannya."
"Nanti aku kasih tahu. Sekarang aku mau turun lagi, ah"
"Disini aja. Tidak usah ke bawah."
"Iya. Tidak ke sana kok."
"Biar kalau haus mudah ambil minum nanti."
Karin mengangguk, lalu bergoyang kalem namun penuh keceriaan sama dengan yang tadi. Naruto tersenyum-senyum memandangi Karin sambil manggut-manggut di atas bangkunya. Sebentar-sebentar Karin mendekat, berbisik, lalu bergoyang lagi.
"Aku belum punya kartu namamu. Boleh minta?" Naruto memberikannya. Karin bergoyang lagi, lalu mendekat kembali dengan tangan bergelayutan di pundak Naruto. "Nanti kamu akan mengantarkan aku pulang kan?" Naruto mengangguk lagi sambil mengikuti irama musik. "Atau kita tidak usah pulang saja?"
"Terserah," seru Naruto mengimbangi suara musik. Karin mencibir lucu, lalu tertawa sendiri. Tawa itu menimbulkan kesan bahwa kata-katanya tadi hanya bercanda. Naruto pun tidak terlalu menggapi perkataan tadi. Ia biarkan gadis itu berjingkrak-jingkrak dalam batas yang wajar. Tidak berkesan norak. Namun agaknya Karin menikmati suasana happy itu, sampai akhirnya keringatnya tampak bercucuran.
Naruto mengangkat gelas minuman Karin, lalu menyodorkannya. Gadis itu berhenti bergoyang dan meneguk minumannya sesaat. Naruto mengambil tissu dan mengeringkan keringat dikening Karin. Gadis itu tampak tidak menghiraukan sikap kelembutan Naruto yang berkesan romantis tersebut.
"Kamu benar-benar bisa pulang pagi?" Tanya Karin.
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau pulang pagi. Habis menyenangkan sekali disini bersamamu. Cuma . . . Apa kamu nggak punya tanggungan di rumah?"
"Oh!" Naruto tiba-tiba saja teringat sesuatu."Aku harus telepon ke rumah dulu. Soalnya aku punya anak."
"Oh, ya...?!" Karin terpekik kaget. "Anak? Apa kau sudah . . ."
"Tenang saja. Dia anak asuhku." Naruto tertawa geli melihat ekpresi Karin yang tampak kaget. Menurutnya itu lucu. "Kalau dia tidurnya nyenyak, bisa saja aku pulang pagi. Tapi kalau dia rewel, aku tidak tega pulang pagi. Kasihan dia. Kapan-kapan kuceritakan soal anak itu."
Tiba-tiba saja Naruto teringat Sakura, sehingga ia harus keluar sebentar dan menelpon ke manshionnya. Tobi yang menerima telepon tersebut. Nada suaranya tampak tegang.
"Naruto . . . Sebaiknya kau cepat pulang."
"Memang ada apa Tobi?" Naruto jadi ikut-ikutan tegang. "Sakura bagaimana? Dia masih tidur?"
"Justru itu..." Suara Tobi tampak mulai panik.
"Ada apa dengan Sakura, Tobi?!"
"Sakura menghilang."
"Hahh. . . ?!" Naruto mendelik kaget. Saat itu Karin menyusul keluar ruangan, mendekati Naruto dengan pelan.
"Maksudmu hilang bagaimana?!" Bentak Naruto ikutan panik juga.
"Aku juga tidak tahu perginya kemana. Sekitar 30 menit yang lalu aku memeriksa ke dalam kamar, ternyata Sakura sudah tidak ada di tempat tidur."
"Periksa kamar mandi."
"Sudah. Tapi tidak ada. Aku dan Ayame dan semua pembantu sudah mencarinya kemana-mana, tapi Sakura tetap tidak ada."
"Kenapa kau bisa kehilangannya sih. Bagaimana caramu menjaganya." Naruto mulai marah-marah. "Pintu depan sudah kau kunci."
"Semua pintu dan jendela sudah terkunci rapat semuanya. Aku sendiri heran, lewat mana Sakura bisa pergi keluar rumah. Sebaiknya kau pulang cepat deh."
"Dasar bodoh. Menjaga anak tidur saja masa tidak bisa sih. Ya, sudah. . . Aku pulang sekarang."
Karin tidak berani menegur Naruto, ketika melihat wajah tampan itu kelihatan sedang marah besar. Mereka saling bertatapan sejenak, sementara tangan Naruto memasukan smartphonenya ke dalam saku celananya.
"Gomen, Karin-chan. . . Aku harus pulang sekarang juga."
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di rumah?" Tanya Karin yang ikut cemas.
"Anakku hilang. Sekarang tidak tahu dimana. Aku benar-benar sedih dan kecewa sekali kalau sampai Sakura benar-benar hilang."
"Apakah kamu sudah menyuruh orang-orang di rumahmu mencarinya?
"Aku tidak dapat percaya dengan mereka. Harus aku sendiri yang mencarinya. Aku sangat menyanyangi anak itu, Karin. Maaf Aku harus pulang.
Karin mengangguk mengerti. Ia tersenyum ramah. "Ya, aku bisa memahami perasaanmu. Kamu pulang saja. Biar aku nanti pulang naik taksi sendiri."
"Bagaimana kalau aku mengantarmu terlebih dahulu, baru aku kembali ke rumah?"
Karin menggeleng. "Tidak usah. Kamu pasti semakin tidak tenang kalau harus mengantarku pulang. Lebih baik aku pulang sendiri. Toh lain waktu kita bisa bertemu lagi dan kau bisa antarkan aku pulang."
"Terimakasih atas perhatianmu, Karin-chan," Naruto mengelus kepala gadis di depannya itu dengan lembut. Karin menyunggingkan senyum tipis.
"Hati-hati dijalan, Naru. Jangan ngebut-ngebut di jalan." Bisik Karin.
Naruto mengangguk.
Siang itu sekitar jam 3 siang, Naruto memutuskan untuk pergi ke kantornya Ino. Kedatangannya siang itu untuk membicarakan misteri tentang hilangnya Sakura tadi malam. Ia sangat mengharapkan jawaban pasti dari gadis cantik yang mirip boneka itu.
"Bukankah sudah ku bilang bahwa anak itu bukan bocah sembarangan. Kau perlu hati-hati dan waspada terhadap kemungkinannya yang terus bikin kamu khawatir."
"Ya, aku ingat. Beberapa waktu yang lalu kau bilang, gadis itu akan menunjukkan sikap aneh setelah 40 hari ikut bersamaku. Apakah hilangnya waktu itu adalah yang kau maksudkan, Ino-chan?"
"Mungkin. Bukan hanya itu saja, mungkin masih ada perkembangan aneh lainnya yang akan kau temui dari anak itu."
Pemuda berambut blonde itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya penuh keseriusan. Agaknya misteri hilangnya Sakura merupakan kasus yang harus ditanggapi serius, dan ia tak pernah punya waktu untuk bercanda.
"Sekarang dimana anak itu?" Tanya Ino.
"Di rumah. Kusuruh Tobi dan Ayame menjaganya baik-baik. Tidur pun harus dijaga, tidak ku izinkan mereka meninggalkannya walau sedetik pun. Aku takut peristiwa semalam terulang kembali. Aku benar-benar takut kehilangannya."
Ino mengangguk mengerti. Sahabat blondenya itu memang sudah terlanjur sayang pada anak temuannya itu. "Jadi, semalam saat kau datang, Sakura masih hilang?"
"Tidak. Dia sudah ada dikamar. Dia tidur nyenyak sekali. Pakaian dan kakinya tidak kotor sama sekali."
"Kau menjaganya sampai pagi?"
"Ya. Aku menjaganya sampai pukul 5 pagi. Dan dia tidak hilang seperti yang dikatakan Tobi. Makanya aku jadi sangsi pada pengakuannya. Jangan-jangan Tobi membohongiku."
Lalu Naruto mendesak agar Ino dapat memberikan analisa yang positif tentang peristiwa hilangnya Sakura itu.
"Pertama-tama aku ingin tahu, apakah Sakura memang hilang dari rumah pada malam itu sebelum aku pulang?"
Ino terdiam sebentar. Pandangan matanya lurus kepermukaan meja. Kekuatan supranaturalnya digunakan untuk melihat waktu yang lalu, ketika Tobi dan para pembantu sibuk mencari Sakura.
Beberapa saat kemudian Ino menganggukkan kepalanya.
"Ya. Apa yang dikatakan Tobi memang benar. Sakura memang hilang. Dia muncul lagi saat kau tiba pintu gerbang."
"Benarkah?" Gumam Naruto. Pemuda itu tampak disibukkan oleh kebingungan hatinya. Detak jantungnya menjadi cepat, timbul rasa cemas dan sedih membayangkan keadaan Sakura sebenarnya. Pernyataan Ino menurutnya merupakan suatu kenyataan yang harus dipercayai kebenarannya, karena ia tahu, Ino tidak mungkin membohonginya apalagi menipunya.
"Jika memang benar begitu, lalu kemana perginya Sakura pada malam itu? Apa yang membuatnya menghilang secara tiba-tiba tanpa jejak sedikit pun."
"Itulah yang ingin ku cari tahu. Karena melacak persoalan seperti itu butuh waktu tersendiri bagiku. Tapi apa yang membuatnya bisa lenyap dari pandangan mata Tobi, mungkin bisa ku jelaskan bahwa hal itu dikarenakan adanya kekuatan yang besar pada diri anak itu."
"Kekuatan besar?" Naruto semakin tegang, matanya terbelalak dengan lebar mendengar penuturan Ino barusan.
Ino buru-buru menetralisir agar tidak terlalu menyinggung perasaan Naruto seperti di Mall lalu.
"Sebaiknya bawalah anak itu padaku. Supaya aku bisa lebih mudah menelusuri siapa dirinya sebenarnya."
"Bagaimana kalau nanti malam kubawa Sakura ke rumahmu?"
"Hm . . . Aku ada dirumah setelah jam delapan malam. Aku akan menunggumu dan anakmu."
Rasa penasaran Naruto membuatnya tak ingin menunda kesempatan membawa Sakura menemui Ino. Maka dari itu jam tujuh malam tiba, ia sudah mempersiapkan diri dengan mengikutsertakan Tobi pelayan khusus keperluan gadis kecil itu.
"Kita mau pergi kemana, Naru-ji?" Tanya Sakura dengan polos.
"Kita akan pergi ke rumah Ino-nee. Sakura-chan masih ingat tidak dengan Ino-nee yang dulu pernah kita ketemu di Mall dulu?"
Wajah mungil manis itu mengangguk dengan wajah murung.
"Yahh, kirain Sakura mau di bawa jalan-jalan ke taman bermain. Katanya Naru-ji mau bawa Sakura kesana dulu."
"Pulang dari rumah Ino-nee, kita bisa langsung ke sana."
"Kenapa mesti kerumah Ino-nee sih."
"Memangnya Sakura tidak suka ketemu sama kakak cantik."
"Sakura malu." Gerutu anak itu sambil bersungut-sungut.
"Kenapa mesti malu?""
"Habis, kakak cantik itu suka pandangi Sakura sih. Sakura kan jadi malu, Naru-ji. Memangnya Sakura boneka dari kayu, kok dipandangi terus tanpa berkedip."
Naruto tertawa sambil mengusap-usap kepala gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang. Rupanya bocah itu salah mengartikan arti dari tatapan Ino tapi hal itu bukan penghalang untuk tetap ke tempat Ino. Naruto tetap menyuruh Tobi bersiap-siap ikut mendampinginya bersama Sakura.
Tapi diluar dugaan, mobil Toyota Fortuner warna putih milik Naruto ternyata mogok. Mesinnya mati total. Entah bagian apanya yang rusak. Yang jelas, mobil itu tidak bisa di starter berkali-kali. Padahal baru sebulan lalu dia beli.
"Sialan! Kenapa mobil ini mati sih?" Gerutu Naruto sambil memeriksa bagian mesin mobil. Dan ternyata semua bagian mesin mobil dalam kondisi baik. Tidak ada yang bermasalah satu pun. Tapi yang aneh mobil itu masih tetap tidak bisa di hidupkan. Terpaksa Naruto menggunakan mobilnya yang lain. Kali ini mobil Ferarri 559 GTB Fiorano bewarna merah, dan kejadian hal yang sama pun terjadi. Naruto pun semakin terheran-heran di buatnya. Sebelum ia lanjut ke mobilnya yang lain, tiba-tiba Hp-nya berdering. Dan ternyata Iruka yang menelfonnya.
"Ada apa, Iruka-nii?"
"Kau dimana baka! Kau tidak ingat malam ini kau ada janji dengan beberapa klien."
"Ahh. . . Maaf Iruka-nii, aku sedang ada urusan penting saat ini."
"Penting apa? Kau tahu kan, kalau janjimu itu tidak bisa dibatalkan seenak jidatmu."
"Aku tahu," Naruto menggeram kesal. Tampaknya malam ini ia harus membatalkan janjinya pada Ino. "Saat ini mobilku mogok. Kirimkan orang untuk menjemputku."
"Loh, bukankah mobilmu banyak? Kenapa tidak pakai salah satunya?"
Naruto melirik mobilnya. "Mobilku mogok semua. Cepat kirimkan aku mobil sekarang juga." Teriak Naruto kesal.
"Ckk," tampak disebrang sana Iruka mendecak kesal tapi juga kebingungan mendengar mobil-mobil mewah Naruto mogok semua. "Baiklah dalam waktu 20 menit akan ada yang menjemputmu. Ku harapa kau cepat datang."
"Ya."
Naruto mendesah jengkel. Iruka benar-benar mendesaknya agar datang ke kantor. Pasti urusan itu memakan waktu lama. Tak mungkin hanya satu atau dua jam, kalau harus membawa Sakura, terlalu malam nantinya. Lagi pula gadis kecil itu sejak tadi sudah menguap berkali-kali.
"Naruto, Sakura kayaknya sudah mengantuk tuh," kata Tobi. Naruto mendesah lagi. Serba salah.
"Ya, sudah . . . Suruh tidur saja. Besok saja perginya," kata Naruto. Meski Tobi sudah menyuruh Sakura tidur, tapi gadis kecil itu belum mau beranjak dari sofanya. Terpaksa Naruto membujuknya, barulah Sakura mau pindah ke ranjang.
"Naru-ji mau ke rumah Ino-nee sendiri?"
Naruto menggeleng. Pria itu menyelimuti Sakura hingga sebatas dada gadis kecil itu "Tidak jadi. Besok saja pergi ke rumah Ino-nee. Naru-ji malam ini ada urusan mendadak dan harus diselesaikan malam ini. Makanya, Sakura tidak usah ikut, ya? Sakura sudah mengantuk dan matanya juga sudah merah tuh." Tunjuk Naruto pada mata Sakura.
Sakura mengangguk patuh. Anak itu menguap sekali. "Sakura dirumah aja deh, Naru-ji. Tapi jangan lupa pulangnya bawakan Sakura strawberry dan humberger, ya?"
"Iya. Naru-ji akan bawakan Sakura strawberry dan humbergernya, asal Sakura janji tidak akan kemana-mana."
"Iya." Sakura mengangguk, lalu menguap lagi.
"Tobi," panggil Naruto. "Tungguin anak ini sampai aku kembali. Jangan ada yang tidur!"
"Aku tahu," jawab Tobi mengerti. Semenjak peristiwa hilangnya Sakura, Naruto lebih protektif lagi pengawasan pada gadis kecil tersebut.
Sebelum mobil yang menjemputnya datang, Naruto mencoba sekali lagi mobil Ferarri 559 GTB Fiorano mewahnya, hadiah ulang tahunnya dari kedua orangtuanya. Dan ternyata mesin mobil itu dapat hidup dengan mudah, seperti tidak mengalami kerusakan sedikit pun, Naruto menjadi menggerutu sendiri.
"Brengsek! Tadi tidak mau nyala, sekarang udah giliran mau pergi ke kantor bisa nyala dengan mudah. Dasar mobil brengsek!"
Mobil merah itu akhirnya meluncur ke kantornya. Dalam perjalan ia sempat menelpon Iruka untuk tidak menjemputnya, karena ia sudah berangkat diluan dengan mobilnya. Setelah itu ia menelfon Ino.
"Gomen Ino-chan, aku tidak bisa datang malam ini, besok malam saja."
"Kenapa? Diganggu olehnya, ya?"
"Ada yang harus kuselesaikan di kantorku sekarang juga."
"Oo. . . Ku kira kamu diganggu oleh si kecil Sakura."
Naruto terperanjat kaget mendengar ucapan Ino itu. Sadar kemungkinan hal itu bisa saja terjadi. Tapi ia tidak berani mengambil kesimpulan bahwa mogok mobilnya adalah gangguan dari Sakura. Naruto merinding. Menurutnya, jika Sakura memang benar bisa melakukan hal semacam itu, maka kemungkinan besar bocah itu akan melakukan gangguan yang lebih aneh lagi dari yang tadi. Mungkin saja bisa membuat mobil-mobil di rommnya itu meledak sewaktu-waktu.
'Apa yang kau pikirkan Naruto'. Naruto menetralisir dirinya semdiri. 'Sakura tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Ingat Sakura manusia biasa. Manusia biasa.' Pikirannya segera difokuskan pada pekerjaannya begitu memasuki areal perkantorannya. Saat ia turun dari mobilnya, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Naruto . . . !" Orang itu tampak menghampiri Naruto.
"Karin?" Ucap Naruto kaget. Ia tidak menyangka bahwa dirinya bisa bertemu dengan gadis yang belakang ini memenuhi isi kepalanya. "Kau ada disini? Sejak kapan?"
"Baru saja."
"Kamu sama siapa?"
"Oh, aku sama temanku tadi. Aku menemaninya karena ada yang ingin diurusnya disini."
Naruto mengangguk. "Masih lama menunggu? Kalau masih lama sebaiknya kau ikut ke ruanganku."
"Apa tidak apa-apa. Nanti aku menganggumu lagi. Sepertinya kau tampak sibuk."
"Tenang saja. Tidak mengganggu kok. Ayo!"
Naruto segera menggandeng tangan putih mulus itu. Sepanjang perjalanan mereka menuju keruangan Naruto, semua orang memandangnya. Lebih tepatnya memandang Karin yang sangat cantik itu. Sesampainya diruangan, Naruto segera memperkenalkan Karin kepada Iruka dan yang lainnya.
Selama pembicaraan masalah pekerjaan, Karin tidak ikut bagian. Ia duduk disamping Naruto sambil memainkan smartphonenya. Sesekali ia akan ikut menimpali, memberikan sedikit masukan. Setelah urusan pekerjaan itu selesai, Naruto menawarkan Karin untuk makan malam bersamanya dan juga tamu-tamuya. Dengan halus karin menolak dengan alasan ia harus segera pulang, karena temannya sudah menunggu. Naruto mengangguk mengerti walau hatinya tampak sedikit tak rela Karin pergi. Pria itu mengantar Karin sampai depan kantornya. Tapi sesampainya disana temannya Karin itu sudah tidak ada. Setelah gadis itu menelfon ternyata temannya sudah pergi meninggalkannya karena terburu-buru. Jadi dia disuruh menunggu di hotel tempat ia menginap bersama temannya.
"Biar aku yang mengantarmu." Tawar Naruto.
"Tidak usah, aku sudah banyak merepotin kamu."
"Aku tidak meresa direpotin kok. Ayo ku antar. Lagi pula urusanku juga sudah selesai disini. Makan malam bisa kapan-kapan saja."
"Baiklah. Kalau kau yang meminta."
Naruto tersenyum senang. Ia segera membawa masuk gadis itu ke mobilnya. Karin terkikik geli melihatnya.
.
Tanpa sepengetahuan Naruto, Ino Yamanaka malam itu datang ke manshionnya. Ia datang berdua bersama Sasuke. Kekasihnya.
"Bukankah si dobe tadi menelfonmu bahwa dia tidak ada di manshionnya, kenapa justru harus datang ke sana?" Tanya Sasuke yang malam itu menjadi sopir bagi gadis cantiknya.
"Justru aku ingin tahu apa yang dilakukan gadis kecil itu jika Naruto tidak ada dirumahnya."
"Apa benar gadis kecil itu berbahaya?"
"Entahlah. Yang jelas aku bisa merasakan gelombang kekuatannya yang cukup besar. Aku penasaran sekali ingin tahu siapa dia sebenarnya?"
"Apa tidak bisa kau melacaknya saja dari rumah?"
"Seandainya bisa, aku pasti sudah melakukannya. Anak itu benar-benar hebat. Aku tidak bisa meneropongnya dari jauh. Hanya bisa terdeteksi jika berada dalam jarak dekat saja."
Tidak beberapa lama akhirnya mobil Porsche 991 Carrera 2S Cabriolet warna putih yang dibawa Sasuke sampai di depan gerbang manshion Naruto. Ino mengkerutkan dahinya melihat pintu gerbang terbuka, sementara di manshion itu tampak terlihat sepi.
"Ada sesuatu yang tidak beres!"
"Maksudmu?" Tanya Sasuke bingung. Ino tidak menjawabnya. Gadis berambut blonde itu langsung keluar dari mobil, sedangkan Sasuke memakirkan mobilnya. Setelah itu Sasuke pun berlari kecil menyusul sang kekasih yang sudah berada di teras manshion Naruto. Tampak disana ada Tobi dan Ayame.
Wajah Tobi tampak tegang dan khawatir di saat bersamaan. Pasti telah terjadi sesuatu dan bisa Ino bisa menebak, sesuatu itu berkaitan dengan si kecil Sakura.
''Sakura hilang lagi, Ino. Sakura adalah . . ."
"Ya, aku tahu," sahut Ino cepat. "Dimana tempatnya menghilang tadi?"
"Tadi dia tidur diranjang, tapi . . . Tapi tiba-tiba lenyap begitu saja saat aku menengok ke kamar ini. Aku pasti akan di hajar sama si Naruto."
Ino tidak menjawab keluhan pemuda yang memiliki warna rambut yang sama seperti dirinya, melainkan ia langsung memeriksa kamar ditempati tidur oleh Sakura. Sasuke pun ikut masuk kedalam kamar tersebut.
Ino berdiri di samping ranjang Sakura, meraba kasur itu. Matanya terpejam, ia bisa merasakan getaran yang tertangkap oleh tangannya. Jejak Sakura. Ia memuasatkan pikirannya untuk mencari keberadaan gadis kecil itu.
"Dia sudah pergi dari sini," kata Ino dengan nada datar, seolah-olah tidak ditunjukan oleh siapa-siapa.
Masih sambil menutup matanya, tangan Ino tampak mengambang, mengikuti getaran yang terpantau oleh kekuataannya. Hingga akhirnya tangan Ino itu menempel pada dinding dekat pintu.
"Dia keluar menembus dinding."
"Menembus dinding?" Tobi terbelalak kaget. Tubuhnya bergidik ngeri. "Apa jangan-jangan anak itu di bawa lari hantu?"
"Mudah-mudahan itu tidak benar. Kita bisa di mampusin sama Naruto-sama kalau sampai Sakura-chan dibawa hantu, Tobi-kun," ucap Ayame takut-takut yang sudah hampir menangis.
Ino tidak menjawab, gadis itu keluar teras diikuti mereka secara serempak. Tapi diteras kedua tangan Ino terangkat bebas, matanya terbuka, napasnya dihempaskan saat menatap Sasuke.
"Hilang. . ." Katanya dengan nada sedikit kecewa. "Sampai disini aku tidak merasakan getarannya lagi."
"Berarti anak itu memang keluar dari manshion ini?" Tanya Tobi.
Sambil melangkah masuk kembali ke ruang tamu, Ino berkata," dia memang keluar, meninggalkan rumah ini. Ada yang membawanya. Tapi aku tidak bisa melacak. Siapa yang membawanya pergi."
"Hantu. . .?" Bisik Tobi pelan sekali. Wajah pemuda itu sudah sedemikian pucatnya.
"Mungkin saja hantu, atau roh iblis, atau roh dari orang tuanya sendiri."
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Nona Ino? Kami semua pasti disalahkan oleh Naruto-sama atas hilangnya Sakura kecil," ucap Ayame.
"Tenang saja. Aku akan menjelaskan semuanya pada Naruto nanti agar ia tidak marah-marah pada kalian." Ino menepuk-nepuk pundaknya Ayame pelan, memberikan ketenangan. Tepukan itu sendiri mengandung hawa sakti yang dapat membuat ketakutan dan kesedihan Ayame berkurang sedikit demi sedikit. Tepukan itu juga diberikan pada yang lain.
"Sebaiknya kita susul Naruto, Sasuke-kun!"
"Hn," jawab Sasuke sambil menganggukkan kepalanya setuju dengan rencana Ino.
"Apa aku dirumah saja, Ino?" Tanya Tobi.
"Ya. Kalian tetap di manshion saja, dan terus perhatikan tempat tidurnya Sakura. Aku yakin bocah itu akan muncul lagi dalam keadaan tidur seperti semula. Jangan lakukan apapun kalau dia kembali. Bersikaplah seperti biasa saja."
Tobi mengangguk mengerti. "Baiklah. Terimakasih banyak atas bantuannya."
Ino tersenyum. Ia lalu mengajak pergi Sasuke dari manshion itu ke kantor Naruto. Aroma wangi mawar yang ditinggalkan Ino di manshion Naruto membuat perasaan penghuni manshion itu lebih tenang lagi. Seolah-olah ada kedamaian dan ketentraman di hati mereka semua.
.
.
.
.
TBC
A/N: Lemon di chap depan.
