Naruto milik Masashi Kishimoto

Warnings : AU, OOC, typos, No likey No dikey

-Sasuke (shy boy)

-Hinata (tsundere girl)

My Lovely Deary Pairy SasuHina

Chapter 2

.

JUST A THUMB MAKES ME NUMB

.

.

Suasana begitu riuh ketika Sasuke, Naruto dan Kiba masuk ke aula tempat Prom diselenggarakan. Suara yang mendominasi berasal dari para gadis yang terpukau kagum pada ketiga pemuda tampan itu. Namun tak dipungkiri bahwa nama Sasukelah yang paling histeris digemakan. Bahkan beberapa siswa laki-laki pun ikut terpana.

"Itu si Uchiha 'kan?" bisik seorang pemuda yang Sasuke tahu merupakan teman sekelasnya.

"Masa' sih? Dia beda sekali," sahut rekannya yang lain.

"Keren, bung!"

Susah payah Sasuke mencoba bersikap tenang seperti yang sudah diajarkan Itachi padanya jika menjadi pusat perhatian.

Harus bisa menguasai diri, begitulah sifat Uchiha ujar Itachi siang tadi padanya.

Sungguh, Sasuke berharap bisa segera menuju meja bar untuk menenangkan degup jantungnya yang heboh karena belum terbiasa diperlakukan layaknya bintang Hollywood. Rasanya seperti ada tangan-tangan yang mencengkeram erat kakinya tiap kali ia melangkah sehingga membuat langkahnya terasa berat.

"Sasuke, kamu oke?" tanya Naruto yang berada di depannya bersama Kiba. Kedua sobat Sasuke itu membalikkan badan mereka untuk melihat bagaimana reaksi Sasuke saat itu. Mereka sangat mengerti jika Sasuke merasa tidak nyaman dengan keadaan di sekitar mereka. Sasuke belum pernah menjadi pusat perhatian sebelumnya, ia cenderung menutup diri dari sekitarnya.

Kiba yang melihat tampang Sasuke yang terlihat tenang namun dipaksakan, bicara, "Bagaimanapun kamu harus menghadapi hal yang seperti ini," Kiba menjeda, "Keluarga Uchiha 'kan dihormati oleh semua orang, jadi kamu harus mulai terbiasa diperhatikan banyak orang, Sasuke," ucap Kiba sambil menepuk bahu sobatnya itu.

"Benar," jawab Sasuke singkat. Ia menundukkan kepalanya untuk menguatkan diri serta berusaha untuk mengisi dirinya dengan rasa percaya diri.

"Sikap pemalumu memang tidak akan langsung bisa berubah menjadi kamu yang lebih percaya diri, tapi selama aku dan Kiba masih di sisimu, kami siap membantu," perkataan Naruto barusan membuat Sasuke merasa lega. Ia merasa beruntung memiliki kedua sahabat yang begitu peduli padanya.

"Kita laki-laki, Sasuke, dan kita sudah menginjak umur 17 tahun. Tidak mungkin 'kan kamu terus berada di balik punggung kami?" Kiba tidak bermaksud untuk menciutkan kepercayaan diri Sasuke, ia hanya memberikan sedikit ketegasan agar rasa percaya diri Sasuke semakin terpicu.

"Betul! Laki-laki harus lebih berani," Naruto ikut menimpali dengan semangat. Di detik kemudian, ia memamerkan senyuman nakal lalu berbisik di dekat Sasuke namun Kiba pun masih mampu mendengarnya, "Laki-laki harus agresif."

Mata Sasuke melotot. Ia sudah mulai tahu ke mana arah pembicaraan sobatnya.

"Apalagi pada gadis seliar Hinata," Kiba ikut memanas-manasi suasana yang sebelumnya tenang, mengalir seperti air di pegunungan mulai berubah menjadi arung jeram. Mulai memacu adrenalin.

Sasuke memicingkan matanya kali ini. Tidak tahukah nama itu adalah sesuatu yang keramat baginya? Sebab seperti bara api yang tersentuh kulit walau sedikit akan terasa sangat panas. Begitu pula jika nama Hinata terdengar oleh Sasuke, maka rasa terbakar itu menjalar hingga ke wajahnya. Buktinya? Wajah Sasuke mulai matang.

"Hentikan omong kosong kalian," ujar Sasuke dengan suara pelan. Wajahnya menoleh ke arah lain untuk menghindari tatapan nakal kedua sobat jahilnya. "Menyebalkan," gumamnya.

"Hei, hei... Sifat Sasuke makin terlihat mirip Hinata, benar tidak? Akhir-akhir ini Sasuke mulai berani mengatakan kata-kata kasar pada kita," ucap Kiba diselingi kikikan geli.

"Yeah, kurasa Hinata memiliki pengaruh kurang baik pada sobat kita yang biasanya sopan santun ini. Tapi tak apa, seperti kataku tadi, laki-laki harus agresif."

Sasuke entah harus bersikap apa pada kedua sobatnya yang terus memanas-manasinya.

"Tapi apa Sasuke bisa agresif jika dihadapkan dengan si Hyuuga itu?" tanya Kiba pura-pura polos.

"Kalau menurutku, sifat agresif Sasuke tidak akan muncul begitu saja," Naruto menjeda, "Harus ada pemicunya, Kiba," di akhir kata-katanya, Naruto sengaja membisikkannya dengan nada sediktif.

"Cukup, kalian berdua!" Sasuke pun segera mendahului kedua sobatnya. Terkadang sikap mereka memang sangat menyebalkan. Beruntung Sasuke memiliki banyak porsi kesabaran, jika tidak Naruto dan Kiba sudah ia benturkan kedua kepala mereka satu sama lain seperti pertandingan Adu Domba.

"Omong-omong, aku belum lihat sosoknya."

Ucapan Naruto di belakangnya membuat Sasuke terdiam sejenak. Sasuke jelas mengerti siapa 'sosok' yang dimaksud Naruto. Hinata Hyuuga.

Sasuke memerhatikan sekelilingnya dan ia belum mendapati Hinata di aula itu.

"Mungkin dia datang terlambat dengan si Neji," jawab Kiba.

Lagi, Sasuke merasa dirinya tak mampu bergerak. Indra pendengarannya ia tajamkan.

"Sepupunya itu selalu protektif padanya," Naruto menyeringai kembali saat melihat Sasuke yang terdiam beberapa langkah di depannya. Ia tahu Sasuke sedang menguping, "Keluarga Hyuuga sering digosipkan incest."

Sasuke menyesal mendengar obrolan menyebalkan Naruto dan Kiba. Tidak bisakah mereka fokus membantu Sasuke menghilangkan sikap pemalunya dengan hal-hal yang lebih wajar? Bukan dengan memanas-manasinya dengan hal-hal mengerikan seperti itu!

.

Meninggalkan kedua sobat konyol mereka di antara kerumunan orang adalah pilihan terbijak menurut Sasuke. Ia sudah mulai kesal karena tingkah konyol Naruto dan Kiba, belum lagi beberapa gadis mendekatinya dengan tatapan nakal mereka.

'Mengerikan,' ucapnya dalam hati.

"Mau pesan minuman?" si bartender tiruan bertanya pada Sasuke.

Acara Prom Night adalah acara anak sekolah SMA jadi pihak sekolah tidak akan mungkin menyewa seorang bartender asli untuk mencekoki siswa-siswi mereka dengan minuman berkadar alkohol tinggi. Mau jadi apa anak-anak murid mereka setelah lulus nanti? Percuma 'kan kalau mereka belajar di sekolah yang berkualitas namun bermoral hancur? Pihak sekolah SMA Konoha tidak mau ada siswa-siswinya yang memiliki rumor buruk, maka dari itu peraturan di sekolah itu cukup ketat, namun mereka tetap menjamin siswa-siswi mereka merasa nyaman selama bersekolah di sana dengan fasilitas lengkap serta terpadu.

Sasuke mengangguk pelan merespon si bartender tiruan, "Aku pesan kopi putih, tapi jangan terlalu manis ya," katanya.

"Oke! Tunggu sebentar."

Tidak perlu menunggu lama, baru saja Sasuke hendak mengecek ponselnya, si bartender tiruan sudah menaruh pesanan Sasuke.

"Ini kopi putihmu, teman," ucapnya ramah. "Kamu terlihat sangat berbeda malam ini, Uchiha. Aku bahkan sempat tidak mengenalmu tadi. Tapi saat kuperhatikan lagi, ternyata memang kamu si Uchiha pemalu dari kelas 3-A."

Sasuke tidak merasakan adanya nada mengejek dari salah satu teman sekolahnya itu. Sasuke senang karena ia dipuji.

"Perubahan yang luar biasa, Uchiha," tambahnya. "Kamu tidak mengajak salah satu gadis untuk berdansa?"

Karena merasa suasana di antara Sasuke dan si bartender tiruan mulai akrab, tidak ada salahnya si bartender mengajak Sasuke mengobrol. Lagipula ia belum menemukan teman mengobrol sejak tadi. Membosankan jika hanya menonton orang-orang yang terlihat senang di aula itu.

"Tidak, nanti saja."

"Ada yang kamu tunggu ya?"

Sasuke ingin mengangguk namun suara dari belakangnya membuat Sasuke tak sempat merespon pertanyaan di bartender.

"Yo, Lee. Kamu jadi bartender, hah?" suara Naruto yang khas kerasnya terasa menusuk di gendang telinga Sasuke, sedangkan Kiba langsung duduk di sebelah kanan Sasuke lalu menepuk pundaknya pelan.

"Yeah. Tadinya aku ingin mengajak Ten-Ten, tapi karena dia sudah diajak Neji, aku jadi tidak punya alasan lain untuk ikut bergabung di lantai dansa."

Sontak ketiga pemuda itu membulatkan mata mereka mendengar informasi yang dijelaskan oleh Lee, si bartender tiruan.

Kiba dan Naruto memandang Sasuke dengan tatapan jahil mereka.

Sasuke melirik ke kanan dan kirinya. Ia mulai merasa tegang sendiri. Kopi yang semula dinikmatinya mulai terasa aneh di indra pengecapnya.

"Kamu dengar 'kan?" Naruto menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.

"Neji pergi dengan Ten-Ten," Kiba merangkul Sasuke erat. Wajah Sasuke mulai memerah karena senang Hinata tidak pergi dengan Neji, sepupu gadis itu.

"Ah, itu mereka!" sahut Lee tiba-tiba.

Sontak ketiga sobat karib itu menoleh ke arah yang ditunjuk Lee.

Ternyata benar, Neji dan Ten-Ten pergi bersama. Penampilan mereka memancarkan aura sepasang kekasih hingga membuat Naruto maupun Kiba berdecak sebal karena merasa dikalahkan oleh si Hyuuga Sadako, panggilan akrab mereka untuk Neji.

Lalu seakan tersadar akan sesuatu, Naruto angkat bicara, "Lalu Hinata pergi dengan siapa?" Ia kembali memusatkan pandangannya pada Sasuke, begitupun dengan Kiba.

'Benar, Hinata pergi dengan siapa jika bukan dengan Neji? Siapa laki-laki yang datang bersamanya?' segala pertanyaan mulai bermunculan di kepala Sasuke dan itu membuatnya gelisah.

Karena merasa tidak nyaman dengan pemikirannya sendiri, Sasuke beranjak menuju ke toilet setelah pamit sejenak pada kedua sobatnya.

"Jangan lama-lama, Sasuke, nanti kamu ketinggalan bagian paling menariknya!" seru Naruto.

Yang dikatakan Naruto benar sebab sebentar lagi acara dansa yang ditunggu-tunggu akan dimulai. Bahkan beberapa orang sudah mulai mencari-cari pasangan dansa mereka.

.

Sasuke baru saja kembali masuk ke dalam aula lalu tiba-tiba sekitar sepuluh orang perempuan langsung menghambur ke arahnya. Sasuke panik. Ia terpojok. Ini adalah invasi! Serangan dadakan!

Mereka meminta Sasuke sebagai pasangan dansa salah satu dari mereka. Sasuke tidak bisa berkutik. Ia terperangkap! Gadis-gadis itu menyerangnya tanpa memedulikan posisi Sasuke yang terhimpit. Wajahnya memerah karena sesak dan malu. Sasuke tidak pernah menerima perlakukan sedekat dan sebringas dari perempuan seperti itu.

"Sasuke, ayo berdansa denganku!" ucap salah satu gadis berambut merah mencolok. Ia mendekatkan tubuhnya sambil merangkul tangan Sasuke.

Si Uchiha berjengit merasa sangat risih.

Lalu tarikan lain di sebelahnya. Gadis satunya mengikuti tingkah si gadis rambut merah yang tanpa aba-aba langsung memeluk sebelah tangan Sasuke.

"Denganku saja, Sasuke. Aku sudah berdandan amat cantik untuk bisa berdansa dengan laki-laki setampan dirimu," ucap gadis lain yang bermata biru. Lalu diikuti penawaran-penawaran menarik lainnya dari mereka.

Layaknya pedagang yang menawarkan barang-barang dagangannya dengan diskon besar untuk menarik perhatian pengunjung untuk membelinya.

Mereka memang tidak menawarkan diri dalam pengertian yang salah, mereka ingin si Uchiha pemalu bisa menjadi salah satu Pangeran mereka di lantai dansa malam itu.

Tarikan dan dorongan semakin gencar. Sasuke mulai panik, takut ia tak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Pandangannya menatap takut gadis-gadis yang menatapnya penuh harap.

"Maaf, Nona-nona, Sasuke sedang menunggu seseorang sayangnya."

Kali ini Sasuke menganggap suara Naruto yang biasanya membuat gendang telinganya sakit, berubah bagaikan Superman yang menolong orang dalam kesulitan. Sasuke kembali bernapas lega saat Kiba menariknya dari kerumunan perempuan.

Gadis-gadis itu berdecak sebal.

"Memangnya siapa?" tanya si gadis rambut merah pada Naruto. Gadis yang menurut Sasuke paling beringas. Wajahnya memang cantik, tapi mengingat sikapnya yang 'liar' membuat Sasuke memilih untuk menjauhinya secepat mungkin.

Dan baru saja Naruto hendak menjawab pertanyaan gadis itu, Kiba bicara, "Hei, itu bukannya..."

Pandangan Sasuke dan Naruto mengarah ke pintu aula yang terbuka lebar. Di sana, masuk seorang gadis yang mengundang banyak decak kagum dan pandangan terpana. Gadis itu bagaikan seorang Ratu. Kehadirannya membuat gadis-gadis lain menatap iri karena kecantikannya malam itu seakan tak terkalahkan oleh gadis manapun.

Bagaimana tidak? Sosoknya yang bertubuh proposional mengenakan gaun mermaid kirmizi berenda kilau tampak begitu menggoda tatapan para laki-laki. Belum lagi wajah tegasnya yang cantik dipoles dengan riasan yang berani. Bibir seksinya menggetarkan hati laki-laki yang terlalu intens menatapnya, begitu merah merekah layaknya mawar dengan titik-titik embun. Seksi dan menyegarkan. Rambut indigonya tergerai lurus nan cantik, melambai dengan begitu indah tiap kali ia dengan sengaja menyibaknya.

Oh God, she's really hot!

Hinata sendiri sudah menemukan orang yang dicarinya. Di sana, di dekat pintu samping dan dikerubungi beberapa gadis serta kedua sahabat karibnya, Sasuke menatapnya. Hinata memberikan senyum samar padanya.

Sasuke tak bisa melihatnya karena jaraknya cukup jauh untuk melihat sudut bibir Hinata yang terangkat sedikit.

Baru saja Hinata ingin menghampiri Sasuke, langkahnya dihentikan oleh Toneri Otsutsuki yang mengajaknya untuk berdansa sebab lantunan musik klasik romansa mulai terdengar, mengajak para pasangan untuk saling berdekatan.

Hinata ingin menolak, namun ia tak memiliki kesempatan untuk itu karena Toneri sudah membungkukkan badannya bagai seorang Pangeran yang begitu mendambakan sambutan tangan sang Putri. Tapi ini Hinata, ia lebih cocok disebut Ratu dibanding Putri.

Akhirnya, Hinata pun terpaksa menyambut tangan Toneri.

Sasuke begitu panas melihat keberanian Toneri yang berhasil mengajak gadis yang membuatnya jatuh hati berdansa. Sasuke geram saat posisi kedua orang itu begitu dekat. Dalam hati, Sasuke mengutuk tangan dan mata si Otsutsuki yang berani menyentuh dan memandang Hinata dengan intens.

Sasuke menyadari dirinya sangat cemburu dan rasa itu sangat menjengkelkannya. Ditambah lagi Naruto dan Kiba yang ternyata sudah ikut berdansa dengan pasangan mereka masing-masing.

Sebenarnya Sasuke bisa saja ikut berdansa dengan gadis lain, namun ia tidak mau. Tidak, selain dengan si gadis Hyuuga. Sejak awal, Sasuke hanya ingin Hinata menatap dirinya saja, bukan laki-laki lain. Sasuke ingin Hinata menatap kagum pada pesonanya malam itu seperti gadis-gadis lain yang terpesona padanya. Namun keinginan Sasuke tidak tersampaikan. Hinata berdansa dengan laki-laki lain, bukan dirinya. Sasuke gagal mendapat perhatian khusus dari Hinata.

Dengan perasaan kesal yang menumpuk dipendam, Sasuke pun pergi keluar aula demi menenangkan segala kepenatan yang dirasanya. Dalam kesendiriannya di luar aula sambil menatap langit malam, Sasuke mulai menyalahkan dirinya sendiri.

"Kalau saja aku lebih berani mendekatinya tadi, kemungkinan sekarang ini akulah yang berdansa dengan Hinata," ucapnya kesal. Sasuke menghela napas kasar sambil menyibakkan poni rambutnya.

"Percuma aku minta bantuan Kak Itachi untuk penampilanku malam ini." Ia menundukkan kepalanya, merapikan penampilannya yang mengenakan tuxedo hitam dengan rompi merah bagian dalam dan pita dengan warna yang sama.

"Seharusnya malam ini adalah malam terbaik untukku." Matanya kembali menengadah ke langit, beberapa bintang memantulkan cahaya yang lebih terang.

"Aku adalah bintang redup. Sedangkan dia bintang yang bersinar terang." Senyum kepahitan muncul di bibir tipisnya. Sasuke merasa dirinya tak memiliki rasa percaya diri untuk mendekati Hinata.

"Yah, setidaknya aku berhasil menjadi pusat perhatian yang lain tadi." Meski begitu, tak bisa dielakkan bahwa yang diinginkan Sasuke adalah perhatian Hinata saja. Ya, cukup Hinata saja, tidak perlu banyak mata yang mengaguminya. Hanya Hinata.

Kalah sebelum perang, itulah yang dirasakan Sasuke. Ia terus menyalahkan dirinya yang belum mampu bersikap lebih berani seperti yang sering dikatakan kedua sahabat dan kakaknya. Sasuke sudah tak tahu lagi bagaimana caranya untuk mendapat perhatian Hinata setelah ini karena ia merasa dirinya belum sepenuhnya siap menerima sifat keberanian itu sendiri.

"Sebaiknya aku pulang saja lalu bergumul tentang diriku sendiri," lagi ucapnya.

Pikirnya akan percuma saja jika ia berlama-lama di tempat itu karena hanya akan menambah kekesalan yang tidak bisa dilampiaskan pada siapa pun, kecuali dirinya sendiri.

Sasuke merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintarnya. Menghubungi supir pribadinya untuk menjemput.

"Ya, Tuan Muda?"

"Tolong jemput aku sepuluh menit lagi, Pak Kazuha. Aku di..."

"Sudah mau pulang?" ucapan Sasuke dengan supir pribadinya terusik.

Pemuda Uchiha itu kaget saat menyadari suara yang tidak asing baginya.

Hinata.

"Secepat ini?" tanya gadis itu lagi.

Sasuke kebingungan tak tahu harus bagaimana. Ini terlalu tiba-tiba! Sasuke tidak pernah memprediksi Hinata akan menghampirinya. Dan parahnya, Sasuke sudah meminta Pak Kazuha menjemputnya.

"Um... iya," jawab Sasuke pelan. Obrolan singkatnya dengan Pak Kazuha sudah diakhiri dan tak akan mungkin Sasuke membatalkannya. Ia tidak mau merepotkan Pak Kazuha. Dengan pelan, Sasuke memasukkan kembali ponsel pintarnya ke saku celananya.

Saat itu, Sasuke masih segan untuk menatap gadis di hadapannya.

"Kenapa?" Hinata bertanya lagi sambil mengambil langkah agar lebih dekat dengan si Uchiha pemalu.

Sasuke ingin sekali menjawab 'bukan urusanmu', tapi Sasuke tahu, perkataan semacam itu hanya akan menyakiti perasaan Hinata juga dirinya. Maka dengan segala macam emosi yang diredamnya, Sasuke menjawab, "A-aku mulai mengantuk."

Di lingkungan keluarganya, Sasuke adalah anak yang disiplin dan penurut. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan biasanya di jam begitu Sasuke sudah tidur atau terkadang mulai bersiap untuk istirahat setelah menyelesaikan tugas sekolahnya. Tapi tadi ia bohong. Ia sama sekali belum merasakan kantuk dan kemungkinan jika pulang pun Sasuke tidak akan bisa langsung tidur. Insomnia pasti menyerangnya.

Jawaban dari Sasuke terasa unik dan terkesan kekanakan untuk usia remaja 17 tahun bagi pendapat Hinata. Namun mengingat sifat Sasuke yang penurut, Hinata merespon dengan anggukan kepala tanda ia mengerti.

"Penampilan Sasuke malam ini sangat memesona," ucap Hinata. Gadis itu menatap lembut pemuda di depannya.

Sasuke terkejut. Barusan Hinata memujinya!

'Aku tidak salah dengar 'kan?'

Hinata kembali melangkah hingga jarak keduanya begitu dekat hingga bisa menghirup aroma tubuh yang memikat.

"Sadar tidak jika pakaian kita ini serasi?" mata lavender cantik itu menatap Sasuke.

Sasuke baru menyadari kalau pakaian yang ia dan Hinata kenakan memang serasi. Ia dengan tuxedo hitam-merahnya dan Hinata dengan gaun mermaid kirmizinya yang terlihat makin menggetarkan hati.

Hinata menyampirkan rambutnya ke sisi kiri bahunya. Tiap kedipan gadis itu seakan mengundang Sasuke untuk memerhatikan betapa lentik bulu mata itu.

Sasuke mulai salah tingkah karena jantungnya mulai menggila semenjak Hinata mengganggu obrolannya dengan supir pribadinya. Apalagi sekarang posisi mereka amat dekat. Mau tidak mau, jantung Sasuke semakin dibuat berpacu cepat sehingga meningkatkan kegugupannya.

Di detik berikutnya, Hinata meraih bagian depan tuxedo Sasuke dengan kedua tangan, jemari lentiknya meremas pelan.

Wajah Sasuke memanas.

"Berdansa denganku, Sasuke," ucap Hinata pelan, namun Sasuke dapat mendengarnya dengan jelas di tiap katanya.

Rona merah semakin membakar wajahnya diikuti denyut jantung yang menggebu-gebu dengan heboh. Sasuke ingin sekali menjawab iya, tapi ia takut jika ia bersuara akan terdengar gagap. Jadi akhirnya Sasuke memilih untuk mengangguk.

Sudut bibir gadis Hyuuga itu terangkat, ia tersenyum.

Sasuke semakin dibuat tak berkutik. Hinata mengajaknya berdansa meski dengan suara lantunan musik sayup-sayup terdengar. Seharusnya Sasuke ikut melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Hinata, namun entah kenapa fungsi gerak tangannya tiba-tiba seperti mati rasa. Tak bisa digerakkan.

Efek dari gadis Hyuuga itu memang 'mengerikan'.

Karena Sasuke tidak kunjung merespon, akhirnya Hinata berinisiatif meraih kedua pergelangan tangan Sasuke agar mereka bisa segera berdansa. Ia letakkan kedua tangan maskulin itu di antara sisi pinggangnya. Hinata berjengit merasakan dinginnya jemari-jemari Sasuke di kulitnya yang terbuka. Meski begitu, dalam hatinya Hinata bersorak menyadari betapa gugupnya Sasuke terhadapnya. Dan sensasi dingin dari jemari itu membuat Hinata semakin tertarik untuk menggoda si Uchiha.

Panas dan dingin. Itu yang dirasakan Sasuke saat itu. Panas dirasakan di bagian dada hingga ke kepalanya, namun dingin dirasakan di antara jemari-jemari tangannya. Sepertinya kesepuluh jari tangannya mulai membeku. Dan parahnya, Sasuke tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat jemari-jemarinya menyentuh kulit Hinata yang terbuka. Sasuke baru menyadari jika gaun yang dikenakan Hinata ternyata backless. Dengan hati-hati Sasuke menempelkan jemarinya, ia tidak mau dikira mencari-cari kesempatan. Bagaimanapun seorang Uchiha harus bisa menjaga harga diri serta orang yang dikasihi.

Tapi tetap saja, ini pertama kalinya Sasuke bersentuhan dengan seorang gadis dalam jarak yang bisa dikatakan amat dekat, ditambah lagi gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Hinata Hyuuga, pujaan hatinya.

Geez! Muka Sasuke semakin matang merasakan betapa halusnya kulit Hinata.

'Menyingkir dari otakku, pikiran aneh!' rutuk Sasuke dalam hati yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya pikiran-pikiran nakal.

"Kamu menikmati acara ini?" tanya Hinata. Sedari tadi selalu Hinata yang mengajukan pertanyaan. Namun ia sama sekali tidak keberatan, toh Sasuke harus banyak beradaptasi dengannya, apalagi dalam situasi seperti itu. Sasuke itu pemalu, ingat?

Dan itu yang Hinata sukai darinya.

"Um... i-iya," jawab Sasuke singkat. Bukan karena ia malas menjawab, tapi karena memang lidahnya terasa kaku untuk melontarkan banyak kata. Dengar sendiri 'kan, bahkan ketika menjawab kata 'iya' saja dirinya tergagap-gagap.

Hinata mengangguk. Keduanya mulai bergerak perlahan mengikuti alunan musik yang terdengar dari dalam aula.

"Menurutmu, malam ini apa aku cantik?" bukan ingin disebut narsis atau gila akan pujian, Hinata bahkan tak akan pernah mau menanyakan hal semacam itu terhadap siapa pun. Terkecuali pada Sasuke tentunya. Dan alasan kenapa ia bertanya begitu, ia hanya penasaran dengan pendapat Sasuke terhadap penampilannya.

"Um..." si Uchiha kebingungan mencari-cari kata yang tepat untuk menjawabnya. Ia heran, ke mana perginya suku-suku kata yang seharusnya sangat mudah untuk diucapkannya?

Hinata mengunggu dengan sabar. Tangan kanannya mulai bergerak naik menuju rambut gelap Sasuke. Helaian rambut itu terasa begitu halus di jemarinya. Dan kedua mata lavendernya tak pernah meninggalkan wajah Sasuke yang sudah semerah apel Fuji. Menurut Hinata, wajah Sasuke yang merona malu sangat imut seperti bayi marmut!

"Ya?" Hinata mencoba membantu Sasuke mencari-cari jawabannya, dengan aksen sedikit memaksa.

Setelah menunggu sepuluh detik, akhirnya Sasuke menemukan kata-katanya, "Hi-Hinata cantik," ada rasa lega ketika mengucapkannya namun ia belum puas. Maka Sasuke kembali menambahkan, "Sangat cantik." Kali ini tak ada gagap di kalimat bagian terakhirnya. Sasuke menyoraki dirinya sendiri, bangga pada dirinya yang berhasil menemukan jawaban serta kepercayaan diri untuk menatap Hinata tepat di kedua mata lavendernya yang memukau bagai intan.

"Begitu," respon Hinata singkat.

Hinata mulai merasakan adanya kepercayaan diri pada Sasuke dan itu bagus. Tapi untuk saat ini, Hinata masih ingin dirinya yang mendominasi keadaan. Maka dengan gerakan tiba-tiba namun perlahan, Hinata menggerakkan tangan kanannya yang semula memainkan helaian rambut Sasuke, beralih menuju leher, lalu kembali naik hingga menemukan sudut wajah Sasuke.

Sasuke yang baru saja menemukan sedikit kepercayaan diri serta keberanian digantikan kembali oleh kegugupannya yang bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Jantungnya semakin berdegup kencang dan itu terasa hingga ke gendang telinganya.

Jarak mereka terlalu dekat! Bahkan tubuh mereka sudah menempel satu sama lain.

Sasuke ingin memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan maut Hinata. Sayangnya, ia tidak mampu. Ia sudah terhipnotis untuk terus menatapnya hingga gadis itu sendiri yang memutuskan interaksi pandangan keduanya.

"Aku suka Sasuke," tiap gerakan bibir merah nan seksi itu membuat tubuh Sasuke kembali mati rasa. Ditambah lagi gerakan jemari lentik Hinata yang mulai menyentuh kulit wajah Sasuke, mengelusnya hingga membuat wajah si Uchiha tambah memerah.

Jika bukan karena jati dirinya yang seorang Uchiha, mungkin sudah sejak tadi Sasuke tak bisa mengendalikan dirinya. Beruntung Sasuke masih ingat siapa jati dirinya. Ya, beruntung.

Hinata menyeringai dalam hati. Ternyata Sasuke masih bisa bertahan sampai sejauh ini.

'Coba lihat, apa yang akan terjadi setelah ini?'

Mereka sudah tidak lagi bergerak mengikuti alunan musik sejak beberapa menit lalu dikarenakan keduanya terlalu fokus dengan aksi tatap-menatap. Lagipula Hinata sudah tidak terlalu menikmati dansa sebab ada hal yang lebih membuatnya excited untuk ia lakukan.

Kini, satu ibu jari Hinata mulai bertingkah lebih berani. Ditelusurinya wajah rupawan milik si Uchiha. Mulai dari alis, matanya yang langsung menutup begitu mendapat sentuhan lembut.

'Dia seperti putri malu,' pikir Hinata yang ingat akan salah satu tumbuhan yang peka terhadap rangsang jika terkena sentuhan.

Lalu hidung mancung Sasuke. Oh, Hinata menahan dirinya untuk tidak menggigiti bagian itu!

Sasuke masih terpejam. Malu untuk membuka matanya sekaligus menikmati tiap sentuhan seduktif yang Hinata lakukan.

Terakhir gerakan ibu jarinya berhenti di sudut bibir tipis Sasuke yang merah muda.

'Tunggu!' ucap Hinata dalam hati. Dengan susah payah Hinata mencoba mengatur detak jantungnya.

Di bagian ini, Sasuke sudah tidak bisa mengendalikan kegugupannya. Ia hampir kehilangan pikiran-pikiran sehatnya. Sentuhan Hinata benar-benar mematikan!

Masih belum puas, Hinata menggerakkan kembali ibu jarinya. Meniti di bagian permukaan lembut bibir tipis si Uchiha.

Entah disadari atau tidak, Sasuke mendesah pelan saat merasakan sedikit tekanan di bibir bawahnya oleh nakalnya ibu jari Hinata.

Hinata menyeringai, "Sasuke, lihat aku," ucap Hinata dengan nada menggoda.

Seperti mantra, Sasuke pun membuka kedua matanya dan langsung menatap wajah Hinata yang begitu dekat dengan wajahnya hingga ujung hidung mereka pun saling bersentuhan.

Ibu jari Hinata masih setia berada di bibir Sasuke, lalu diikuti oleh jemari tangan lainnya yang menyentuh sisi wajah Sasuke. Dengan amat pelan, tangan kiri Hinata mendekatkan wajah Sasuke ke wajahnya.

"Aku sangat menyukai Sasuke," kata-kata itu terdengar jelas di indra pendengaran Sasuke. Begitu jelas hingga membuat pikiran melayang dan hatinya mengawang. Namun di detik selanjutnya, jantung Sasuke seakan terkena sengatan listrik yang membuatnya syok luar biasa.

Si gadis Hyuuga mencium bibirnya!

Sasuke mematung, tak bergerak dengan mata membulat lebar, hanya jantungnya saja yang berdegup-degup hingga ke gendang telinganya. Selain dari itu, tak ada bagian dari tubuhnya yang bergerak. Bahkan sepertinya darahnya sudah menumpuk di area wajahnya saja.

Hinata, si gadis Hyuuga bersorak-sorak dalam hatinya. Ia sukses membuat si Uchiha tak berkutik. Ternyata memang mudah membuat Sasuke gugup tingkat akut. Dengan sedikit sentuhan seduktif, Sasuke dengan mudahnya terjerat. Hinata sangat menikmatinya.

Tapi apa yang mendasarinya melakukan tingkah nakalnya terhadap Sasuke bukan karena iseng, tapi karena Hinata memang menyukai Sasuke. Sikap gugup dan pemalu itulah yang memicu tingkah nakalnya untuk ia lakukan terhadap si Uchiha pemalu.

Hinata memberikan tekanan lembut pada bibir Sasuke dengan alasan agar warna gincu merah kirmizinya membekas jelas di bibir tipis Sasuke. Dengan kata lain mencapnya seperti surat yang diberi stempel! Tanpa stempel surat resmi tidak akan sah. Begitu juga dengan Sasuke, jika tidak menciumnya berarti ungkapan perasaan Hinata belum terselesaikan.

"There you go," ucap Hinata menyelesaikan misinya. Bibirnya menyeringai puas melihat ekspresi Sasuke yang seperti kehilangan akal sehatnya dengan wajah seperti gurita rebus.

"Dah, Sasuke," gadis itu pun melenggang pergi dengan langkah anggun seperti ketika ia masuk ke dalam aula beberapa waktu yang lalu. Beberapa langkah kemudian, gadis itu berbalik sejenak untuk memberikan kedipan nakal dan blowing kiss untuk pemuda yang masih mematung.

Ah, si gadis Hyuuga itu memang mematikan!

"Sasuke, di situ kamu rupanya! Kami mencari-carimu sejak tadi, tahu!" itu suara Naruto. Sasuke tidak menoleh dan tubuhnya masih belum bisa digerakkan. Sejak tadi ia merasa sekujur tubuhnya terasa kaku tapi begitu sosok Hinata menghilang dari pandangannya, tubuhnya terasa agak lemas. Sasuke tidak bisa memikirkan apa-apa, pikirannya beterbangan entah ke mana, mungkin mengikuti Hinata.

Ah, Hinata...

Karena otaknya sudah blank, akhirnya Sasuke jatuh pingsan.

"Sasuke!" Naruto berteriak melihat sobatnya yang tiba-tiba tak sadarkan diri dengan wajah merah matang.

"Naruto, Pak Kazuha mencari Sasuke untuk menjemp..." ucapan Kiba terpotong yang datang dari arah belakang mereka. "Hei, Sasuke kenapa?" tanyanya heran sekaligus khawatir.

"Dia mabuk," jawab Naruto polos.

Sebab apa lagi yang membuat Sasuke jatuh pingsan dengan wajah merah kalau bukan karena mabuk minum alkohol?

Kiba pun segera membantu Naruto yang memapang Sasuke yang tak sadarkan diri untuk membawanya keluar aula, tempat Pak Kazuha menjemput sang Tuan Muda.

Begitu mereka memasukkan Sasuke ke dalam mobil si Uchiha, Pak Kazuha bertanya khawatir, "Kenapa dengan Tuan Muda?"

"Dia mabuk," jawaban Naruto sama seperti jawabannya tadi.

Pak Kazuha mengangguk mengerti. Anak muda, pikirnya. Tapi kemudian, Pak Kazuha menyadari ada sesuatu yang janggal pada wajah Tuan Mudanya.

"Bukannya itu..." dengan sengaja Pak Kazuha tidak melanjutkan ucapannya.

Kiba dan Naruto mengikuti arah yang ditunjukkan Pak Kazuha. Keduanya kaget dengan mata membulat lebar melihat bekas noda gincu merah di bibir tipis Sasuke. Mereka tidak menyadarinya tadi.

"Jangan-jangan..." ujar keduanya bersamaan.

Coba tebak apa isi pikiran mereka!

.

.

END of Chapter 2

*kirmizi : warna merah tua

*gincu : lipstik

.

Ini dia, chapter 2-nya yang dinantikan. Dah cukup panjang kan? Maaf kalo ada typo, saya lagi males ngedit ulang. Lanjutan ngetik sekali jadi. Perjuangan bikin chapter 2 cukup melelahkan karena ada si Emud yg suka gangguin, makanya baru bisa update sekarang. Geez, moga kembali terhibur meski ga sesuai ama Humor yg kecantum. Tapi moga Romance-nya agak lumayan. Hehehe...

Makasih buat mynameisyes, ana, sasuhina69, Miyuchin2307, mprill Uchiga, aminatazzahra, onyx dark blue, Lia330, Anindita616, sabrina., Fleur Choi

Soba-sobat yang udah review, follow, bahkan favorit fic saya. Pleus, silent readers. Makasih banyak!

Salam hangat,

Bernadette Dei