Silahkan perhatikan WARNING terlebih dulu sebelum membaca.
Keputusan membaca ada ditangan anda -devilsmile-
WARNING !! (Warning penting untuk mengetahui apa saja yang tersaji dalam fict ini) :
Straight Pair (Pair normal, PainSakuDei), OOC (Perubahan sifat salah satu chara), Character PoV (Sudut pandang salah satu karakter), Disini Pain wajahnya tidak bertindik (mulus) dan Naruto tidak mempunyai kumis kucing di pipinya, lalu Sakura berponi jadi dahinya yang lebar itu tidak terekspose plus rambutnya yang hanya sepunggung (tanpa bando).
Summary :
Sakura Haruno, murid KHS yang mempunyai kemampuan beladiri yang tinggi. Kakaknya, Sasori Haruno adalah anggota kelompok yang paling ditakuti di seluruh sekolah yaitu Akatsuki. Sakura yang sama sekali tidak takut atau terkesan menantang kelompok tersebut dimasukkan ke dalam daftar Blacklist Akatsuki, itu berarti Sakura adalah musuh seluruh murid KHS. Apakah Sakura akan selamat dari Akatsuki ? Enjoy ! ;D
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Blacklist © Ryuku Zhank
Blacklist Chapter 2 : His Name
- - -
- - -
Normal PoV
- - -
- - -
"HANTUUUUUUUU-HMMPH!!"
"Ssssttt!! Jangan berisik!"
Sakura tidak bergerak. Keringatnya mengalir deras dari dahinya. Sakura berusaha melirikkan matanya kearah orang yang sekarang tengah membekap mulutnya. Karena matanya tidak menjangkau, akhirnya Sakura memilih untuk menggigit tangan orang tersebut. Alhasil orang itu meringis kecil. Sakura berlari dan mengambil jarak yang cukup jauh dibawah siraman lampu jalan.
"Siapa?"
Bayangan milik orang itu mendekat. Dari tempatnya berada, Sakura bisa melihat sepasang bola mata berwarna merah terang yang dimiliki bayangan itu.
"Aku..."
Bayangan itu semakin dekat hingga akhirnya muncul dibawah sinar lampu jalan.
"Pein..."
"Eh?! Mau apa kau?!"
"Mau pulang..."
Pein mendahului Sakura dan meninggalkannya dalam tingkat kebingungan yang tinggi.
- - -
- - -
Sakura's PoV
- - -
- - -
Pagi ini aku kembali beraktifitas sebagai pelajar. Sungguh aneh kalau mengingat kejadian yang semalam. Wajahnya polos seakan-akan dia orang baik... Tunggu ! Mungkin pura-pura baik. Ketika aku memasuki koridor sekolah menuju lokerku, para murid kembali menggerutu seakan-akan mereka mengetahui sesuatu. Terkadang ada yang tersenyum mengejek padaku juga ada yang menatapku dengan pandangan kasihan. Ada apa dengan mereka semua ? Apa ada yang salah denganku ? Apa bedakku ketebalan ? Tapikan hari ini aku tidak pakai bedak.
Aku berdiri dengan mantap didepan lokerku tanpa memperdulikan cemoohan mereka semua.
'CKLEK'
Sebelum membuka loker, aku sedikit punya feeling yang jelek. Dengan yakin dan percaya diri kuraih kenopnya dan kubuka dengan cepat.
'WUSSSSHHH!!'
'BUGGGHHH!!'
"Argh!!"
"Ahahahahaha!!"
Aku memegang pipiku yang terasa sakit. Ternyata dilokerku sudah mereka pasangi tinju buatan. Dimana saat kita tarik otomatis dia akan menyembul seperti orang meninju. Sial sekali mereka, aku sampai terpental menubruk loker-loker dibelakangku. Beberapa siswa juga mengetawaiku sambil mengucapkan ejekkan.
"Sakura! Kau tidak apa-apa?!" Tanya Ino saat melihatku masih terduduk lemah.
"Aku baik!"
Ino membantuku berdiri. Aku benar-benar tidak percaya kalau mereka berani melakukan ini semua. Karena kesal aku segera berjalan cepat menuju kelasku. Bodohnya ! Aku juga melupakan buku pelajaranku hari ini !
Pintu kelas yang tertutup langsung saja kubuka dengan kasar.
"Saku--!!"
'FUUURRR!!'
"Ahahahahahahahaha!!"
Sialnya hari ini! Entah berapa karung tepung terigu jatuh menimpaku. Teman sekelasku juga mengetawaiku dengan lantang. Aku meniup rambutku sehingga terigu-terigu tersebut jatuh dari rambutku.
"Ino! Kenapa tidak bilang sih??!!"
"Aku lupa..."
Aku menghela nafas. Dengan emosi yang meluap-luap, aku menuju ruang TU. Sepertinya aku memang tontonan yang paling menghibur pagi ini. Seluruh siswa yang melihatku semuanya tertawa.
Aku memasuki ruang TU dengan emosi.
"Ya bisa kuban... ya ampun."
"Iruka-sensei, boleh aku minta seragam dan rok ukuran M?"
"I-iya. Ka-kau kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa." Jawabku ketus hingga membuat Iruka-sensei sedikit takut.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Iruka-sensei datang dengan plastik berisi seragam putri.
"Arigatoo, Iruka-sensei."
Aku langsung pergi sebelum Iruka-sensei membals ucapanku. Masih dengan emosi yang menguap aku menuju kamar mandi untuk membersihkan rambutku dari tepung-tepung ini, walaupun akan membuatku bolos di jam pertama.
- - -
- - -
"Menyebalkan..."
Aku duduk bersila diatap sekolah. Karena tidak mungkin aku masuk ditengah jam pelajaran yang sedang berlangsung. Rambutku juga masih basah dan masih sedikit lengket. Setidaknya ini adlah satu-satunya tempat dimana tidak ada yang bisa menemukanku. Selain itu angin diatas sini juga dapat membantu mengeringkan rambutku.
"Hebat sekali membolos dijam pertama."
Suara menyebalkan itu...
Jangan-jangan...
Aku menolehkan kepalaku kebelakang. Menemukan makhluk oranye sedang berdiri menatapku dengan mencurigakan.
"Mau apa kau?" Tanyaku.
Aku segera berdiri ketika dia mulai bergerak kearahku.
"Menemanimu." Jawabnya.
Aku terus mundur sampai tubuhku membentur penghalang seperti jaring-jaring yang sengaja dipasang untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. (baca : biar gak ada yang jatuh)
"Kenapa menghindar?" tanyanya.
Aku benar-benar terpojok. Apalagi saat ku berusaha melarikan diri, kedua tangan Pein segera memblokir bagian kiri dan kananku.
"Pergi!" Jeritku.
Pain semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Badanku yang hanya setinggi pundaknya itu tidak bisa mengelak darinya. Jantungku mulai berdegup kencang saat tubuhnya sudah merapat ketubuhku. Kedua tangannya tepat berada diposisi semula masih memblokirku. Aku memejamkan mataku berharap Sasori-nii atau siapapun datang menyelamatkanku. Tapi... tiba-tiba saja aku merasakan bibir Pain menyentuh bibirku dengan lembut. Aku membuka mataku dan benar! Dia menciumku!!
Tanpa kusadari air mataku mengalir dengan derasnya. Saat Pain membuka matanya dan melihatku menangis, dia terkejut. Matanya membelalak seakan tak percaya kalau aku ini sedang menangis.
- - -
- - -
Normal PoV
- - -
- - -
Sakura berlari menerobos Pein dengan berlinang air mata. Pein yang masih membatu hanya bisa mengikuti arah gerak Sakura yang menuju kedalam sekolah. Dia bisa melihat gadis itu berlari kemudian menutup pintu dengan keras. Pein yang mulai mencerna keadaan segera berlari menyusul Sakura.
Ketika dia membuka pintu, di anak tangga dia menemukan Sakura menangis dalam dekapan Deidara. Sakura menangis sejadinya didada pria pirang itu dan memeluknya dengan erat. Pein menggeram dan mengepalkan kedua tangannya. Ada sesuatu yang aneh didalam hatinya. Rasanya sakit, sesak dan perih...
- - -
- - -
Sakura masih membersihkan rambutnya yang kaku akibat tepung terigu tadi pagi. Setidaknya gadis pink itu dapat mengikuti jam pelajaran kedua setelah istirahat. Dan sekarang keadaan sekolah sudah sepi.
'Aku harus melupakan semua yang terjadi hari ini. Ditinju mainan, kejatuhan tepung dan dicium oleh Pein?'
Wajah Sakura memerah ketika mengingat perstiwa ciumannya dengan Pain.
'Kyaaaaaaa!! Aku tidak boleh mengingat itu!!'
Sakura segera mengambil tasnya dan keluar dari kamar mandi. Ketika dia sampai dihalaman depan, beberapa siswa meggerubunginya. Ada yang memegang balon air, fire extinguish dan tepung lagi?
Sakura terlihat bingung karena mereka semua memasang wajah yang mengerikan.
"LEMPAR!!"
Siswa-siswa yang memegang balon air segera melempari Sakura begitu juga dengan yang memegang tepung dan pemadam api. Siswa yang memegang pemadam api menyemprotkan isinya tepat dibawah saja Sakura yang saat itu sedang menunduk.
Sakura merasakan sakit yang luar biasa pada kepala dan hidungnya yang sudah sesak akibat aroma pemadam api.
"Uhuk-uhuk!!"
"Rasakan ini!!"
'ZRUUUURRR!!'
"Hen-tikan !! Uhuk-uhuk!!"
"Lempar!!"
Mereka semua tidak ada henti-hentinya melempari Sakura dengan properti yang mereka bawa. Hingga akhirnya Sakura merasakan matanya mulai remang dan rasa lemas menguasai tubuhnya. Sakura yang sudah tidak punya kekuatan untuk tetap berdiri akhirnya tumbang. Untung saja Sakura tidak terjatuh menghantam tanah kasar. Dia jatuh dipelukkan orang yang memeluknya tadi pagi.
Semua murid berhenti melemparinya saat Sakura jatuh kedalam pelukkan seorang anggota Akatsuki. Mereka semua menunduk seperti merasa bersalah dan membuka jalan bagi sosok tersebut. Laki-laki itu mengangkat Sakura dengan 'bridal', tidak perduli bila bajunya basah ataupun menjadi putih akibat keadaan Sakura. Sosok itu kembali membawa Sakura kedalam sekolah tepatnya membawa Sakura kedepan orang yang telah merencanakan semua ini.
"Kau berbohong pada Sasori." Ucap orang tersebut.
"Dia ada didalam daftar Blacklist. Deidara, biasanya kau tidak pernah ikut campur dalam masalah seperti ini. Ada apa denganmu ?" tanya sang tersangka.
Deidara geram. Kalau saja dia tidak sedang menggendong Sakura, tentunya Pain akan habis ia hajar.
"Aku harap kau tidak melukainya lagi." Ketus Deidara.
Dia berbalik dan meninggalkan Pain yang kembali merasakan sakit dan perih didalam hatinya.
- - -
- - -
Haruno's House...
- - -
- - -
Sakura membuka matanya. Dia melihat sekeliling dengan khidmat.
'Kamar? Berarti aku ada dirumah'
Sakura mengangkat tubuhnya menuruni tempat tidur. Parlahan ia menatapi keadaannya sekarang. Sudah bersih dan rapih lengkap dengan piyama kelinci merekat ditubuhnya. Dia ingat jelas kalau beberapa saat yang lalu dia baru saja dijadikan pancake mentah oleh teman-teman sekolahnya.
Dengan lambat, Sakura membuka pintu kamarnya dan keluar. Dia menoleh kedapur dan mendapati kakaknya sedang memasak dengan menggunakan celemek pada tubuhnya. Saat Sasori melihat Sakura yang sedang berdiri lemas menatapinya, Sasori segera berlari dan memeluk adiknya yang tercinta itu.
"Sakura!!!!! Kau baik-baik saja kan???!!!" Tanya Sasori histeris.
"Siapa yang membawaku pulang ?"
Sasori melepas pelukkannya dan menatap Sakura dengan sendu.
"Deidara yang mengantarkanmu pulang. Dengar Sakura, aku akan buat perhitungan dengan Pain. Besok kau tidak perlu kesekolah, beristirahatlah." Jelas Sasori.
"Kalau nanti Nii yang diincar bagaimana?"
"Biar saja. Yang penting kau aman."
Sasori mengelus rambut Sakura, kemudian menggiring adiknya itu menuju meja makan.
- - -
- - -
Night...
- - -
- - -
Sakura duduk ditepi jendela kamarnya sambil menatapi langit yang begitu heboh dengan perhiasannya. Sakura merasa nyaman berada dirumah. Karena cuma rumah tempat yang aman.
Sakura berulang kali menghela nafas. Dia tidak menduga ketika namanya tercantum di Blacklist, kehidupannya berubah drastis.
Sebuah angin sejuk membuyarkan pikirannya. Sakura terbuai akan sejuknya malam. Sakura melihat-lihat pemukiman yang sudah sepi dan rumah-rumah yang telah gelap.
'WUUSSHH...'
Sebuah pesawat kertas mendarat sempurna di pangkuan Sakura. Perlahan Sakura membuka kertas tersebut. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui isi surat pesawat kertas tersebut.
'You're mine, Baby...
You can't stay away from me,
I always wait you...
With love, Pain'
Sakura meremas surat tesebut dan celingukkan mencari Pain. Karena gelapnya malam, Sakura tidak bisa mendapati lokasi Pain berada. Sakura hanya bisa pasrah kalau Pain selalu mengganggunya. Asalkan Sakura tahu apa yang terbaik untuknya, dia pasti akan jalani semua itu.
Sementara itu disisi lain, sosok lelaki bermata merah dengan rambut oranye-nya yang menyala terang tengah memperhatikan subjek yang baru saja ia kirimi surat berbentuk pesawat. Entah serius atau tidak, tapi mata sang pelaku menyiratkan harapan yang tinggi dari sang subjek.
'Sakura...'
- - -
- - -
Morning...
- - -
- - -
"Pokoknya Sakura hari ini kau dirumah ! Jangan keluar atau kemanapun!" Atur Sasori.
"Tapi hari ini kan aku ada kerja sambilan."
"Pokoknya tidak!" tegas Sasori membuat Sakura terkejut.
"Tapi..."
Sasori menghampiri Sakura dan memegang pundak Sakura.
"Kunci rumah. Pein pasti tahu kalau kau tidak masuk, atau mau ku kuncikan saja?"
"I-iya..."
"Pein itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jadi berhati-hatilah."
Sasori keluar dan mengunci pintu rumah kecil tersebut. Sakura terdiam, dengan berat ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, Sakura kembali duduk ditepi jendela sambil sesekali memandangi anak-anak sebayanya pergi kesekolah ataupun kesibukan orang yang lainnya. Angin sepoi-sepoi membuat gadis itu mengantuk perlahan dia mulai memejamkan matanya, menikmati buaian sang angin.
A few minutes later...
'Tok-tok-tok'
Sakura terbangun dari tidur lanjutannya setelah dia mendengar seseorang mengetuk pintu. Dari jendela kamarnya dia melongo untuk melihat siapa yang datang. Oarng dengan topi hitam sambil membawa paket.
'Pengantar barang sepagi ini?' batinnya setelah mengetahui kalau sekarang masih jam 8 pagi.
- - -
- - -
Sakura's PoV
- - -
- - -
Aku menuruni tangga untuk mengambil kunci cadangan pintu rumah.
'Cklek'
Aku membuka pintu dan menemukan sosok laki-laki dengan sebuah paket ditangannya.
"Paket?" Tanyaku.
Orang ini menunduk seakan tidak mau menunjukkan wajahnya padaku. Sedikit kulihat bercak oranye dikepalanya, rambutkah ?
"Hai Hime-chan, doozo!" Katanya sambil menyodorkan paket tersebut.
"Hmm... Terima kasih ya!" Ucapku.
Orang itu hanya mengangguk kemudian pergi. Warna rambutnya yang sama seperti Pain? Lho? Pain??!! Ti-tidak mungkin. Dia pasti sekolah hari ini.
Aku menekan emosiku sebentar untuk kembali masuk kerumah dan menguncinya. Aku mendudukkan diriku disofa dan mulai menggerayangi paket tersebut. Kubuka bungkus paket tersebut dan ternyata didalamnya ada dua boneka beruang yang saling berpelukkan. Yang satu berwarna oranye dan yang satu lagi warnanya pink.
Apa-apaan ini?! Tanyaku dalam hati. Kemudian aku kembali mengobok bungkusan paket tersebut dan menemukan secarik kertas.
'Semoga kau suka...
Pein...'
Pein?! Dia tahu aku tidak sekolah! Mati aku!
"AAAAAAAAAAARRRRGGGHHH!!"
- - -
- - -
Aku membanting diriku kekasur juga membanting boneka itu ke lantai. Aku tidak mengerti apa maksudnya memberikan boneka itu padaku. Sejenak aku memandangi boneka itu. Terlintas suatu cara yang bisa membuat Pain hanya mengerjaiku saat aku disekolah bukan dimanapun.
Aku bangkit menuju laci kecil dihadapan tempat tidurku. Aku mengambil gunting, jarum jahit beserta benang putihnya. Yang akan kulakukan adalah membelah boneka itu dan mengembalikannya pada sang pemilik.
Sambil terus membelah boneka itu, aku melirik jam yang sudah menunjukkan jam pulang sekolah itu berarti sebentar lagi Sasori-nii pulang. Saat aku selesai membelah boneka itu menjadi boneka beruang yang terpisah, aku menatap kedua boneka itu seperti terlihat sedih. Entah kenapa boneka-boneka itu Sepertinya sedih saat aku pisahkan. Aku harap tidak ada hubungannya dengan aku dan Pain.
"Nah, boneka manis aku akan menjahitmu. Maaf ya aku memisahkanmu darinya, kalau waktu mengijinkan pasti suatu saat kalian akan bersatu lagi." Kataku pada kedua boneka beruang itu.
"Saku!! Kakak pulang!!"
Nah, makhluk itu sudah pulang rupanya. Jangan sampai dia melihat boneka-boneka ini ataupun saat Pain datang kemari. Aku segera turun untuk menyambut Sasori-nii.
"Bagaimana rasanya dirumah sendirian?"
'Menyebalkan'
"Biasa saja." Kataku bersamaan dengan membatin.
Inilah saatnya kapan lagi aku bisa mengembalikan boneka ini kalau tidak sekarang. Daripada mengembalikannya disekolah bisa-bisa aku jadi bahan ejekkan atau sengaja melakukan hal itu agar namaku terhapus dari daftar Blacklist.
"Nii, aku boleh pinjam handphone-mu?"
"Boleh. Untuk apa?" Tanyanya sambil menyerahkan handpone miliknya.
"Untuk apa saja boleh!" Ucapku sambil berlari kekamar.
Aku menutup pintu dan menguncinya. Kemudian tiduran dikasur sambil membuka kontak hp Sasori-nii. Aku membuka grup kontaknya yang berjudul 'Akatsuki', kubuka dan terpampanglah nama Pain disana. Dengan cepat aku mengambil hp-ku yang terlantar dibawah bantal kemudian menyalin nomor tersebut ke hp-ku.
Aku meletakkan hp Sasori-nii dan mulai berkutat dengan hp-ku.
- - -
To : Pain
Ini Sakura. Aku mau bertemu ditaman malam ini pukul tujuh, bisa?
- - -
Send...
Successful!
- - -
Huhuhu... sekarang tinggal menunggu balasannya. Aku mulai bosan menunggu balasan dari Pain yang terhormat itu. Bahkan aku mulai menguap. Kalau begini aku keburu tidur siang, sial!
'DRRTT-DRRTTT'
Hp-ku bergetar dan wow!
- - -
From : Pain
Baiklah bungaku. Aku akan menunggumu disana...
With kiss, love and hug... Pein
- - -
Menjijikkan. Sepertinya dia tidak bisa menghapus kata-kata penutup itu dari kamusnya. Aku benci ! Aku lebih suka saat Dei-san meng-smsku dengan kata-kata yang lembut, tidak seperti sms-nya ! Kalau begini aku harus cepat-cepat ganti nomor. Aku bangun dari tempat tidur sambil membawa boneka beruang oranye yang tadi dan tidak lupa mengambil tas kecilku yang kugantung dibelakang pintu, kemudian aku keluar menuju Sasori-nii.
"Kak! Aku pergi!"
"Ya...!"
"Lho? Oi!!"
Sakura terus berlari menuju tempatnya bekerja. Tidak peduli berapa orang yang telah ia tabrak saat itu. Yang ada dipikirannya adalah menuju tempat kerja, menyelesaikan tugasnya, menemui Pein dan menghajarnya habis-habisan dan mengganti nomor selulernya yang baru. Sungguh schedule yang rumit.
"Halooooo!!"
"Halo Saku... Lho?"
Sakura berlari tanpa mengindahkan Kin yang sedang mengelap meja. Dengan kecepatan ala koboy, Sakura segera mengganti pakaiannya ke pakaian seragam.
"Sakura kamu kenapa sih?" Tanya Kin penasaran.
"Ti-tidak kok!"
'Dia aneh...'
Untuk yang kesekian kalinya Maid Café kebanjiran pelanggan. Sakura, Kin dan Temari harus berpindah dari satu meja ke meja lain tanpa henti.
"Oh. Baiklah, kami akan segera mengantar pesanan anda. Sakura!"
Sakura melongo kearah Kabuto yang sedang memanggilnya. Dia menghampiri cowok berkacamata itu dengan penasaran.
"Ada apa Kabuto-san?"
"Ada pesanan. Tolong kau antarkan ini ke taman kota ya !" Kata Kabuto sambil menyerahkan sebuah bungkusan berisi kue coklat berbentuk hati.
"Untuk siapa?"
"Dia bilang namanya Nagato."
Sakura hanya ber'oh' saja sambil mengambil bungkusan tersebut dari tangan Kabuto.
"Yang cepat ya!"
"Yosh!"
Setelah menerima bungkusan dari Kabuto, Sakura segera keluar dari Café menuju taman yang lokasinya tidak jauh dari tempat kerjanya. Sesampainya disana, Sakura kebingungan sendiri mencari orang yang memesan kuenya.
"Hah? Aku lupa bertanya tadi. Bagaimana ini?"
Sakura melangkahkan kakinya mengililingi sekitar taman. Tidak ada yang menegur ataupun yang memanggilnya. Padahal dia tetap memakai seragam kerja. Sakura kehabisan tenaga dan memilih untuk duduk dibangku taman. Sakura menghela nafas panjang dan menaruh bungkusan itu diatas bangku.
"Kalau begini sama saja."
"Oi! Lama sekali!"
Sakura membelokkan kepalanya kearah kiri dan menemukan Pein berdiri disitu. Sakura yang reflek segera berdiri sambil membawa bungkusan tersebut.
"Maaf ya! Aku bukan mau mencarimu!"
"Bukannya kita mau ketemuan?"
"Aku mau mengantarkan pesanan!"
"Kemarikan..."
"Eh? Ja-jadi kau yang me-mesan i-ni?"
"Iya."
'Dia...dia yang menyebabkan penderitaanku disekolah! Aku membencinya!'
Tanpa berdosa Sakura menjatuhkan bungkusan berisi kue tersebut. Pein tersentak kaget melihat sikap Sakura.
"Apa yang kau lakukan?"
"Bukan urusanmu!"
Sakura melangkah pergi dengan emosi yang meledak-ledak. Beberapa orang yang berada disana bingung juga kaget dengan apa yang mereka lihat.
- - -
- - -
Closing Hour
- - -
- - -
"Aku pulang ya!!"
"Hati-hati Sakura!!"
Sakura dengan lesu melangkahkan kakinya menuju rumah tercinta. Dimana nanti saat dia pulang akan menemukan sosok overpro yang menantinya. Saat hampir setengah perjalanan, tiba-tiba saja handphone Sakura berdering. Sakura membuka handphone-nya dan...
- - -
From : Pein
Aku mau bertemu bisa?
- - -
Sakura membalas sms itu dengan kesal.
- - -
To : Pein
TIDAAAAAAAKKK!!!!
-
Sent...
Successful!
- - -
Sakura kembali meneruskan perjalanannya. Langkah kakinya kembali terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Sakura! Kalau aku ingin pasti ingin!"
Sakura menoleh kearah samping kanannya. Mata hijaunya menemukan Pein tengah bersandar pada tembok dengan senyum jahil tercetak diwajahnya.
'Kenapa dia bisa tahu?!'
Sakura menghela nafas panjang kemudian menatap Pein penuh kebencian juga pasrah.
"Baiklah. Katakan apa maumu?"
"Begini. Akatsuki akan mengadakan malam perayaan Valentine, kau mau bersamaku?"
'Va-Valen-Valentine...?'
Mata Sakura membelalak, kepalanya tertunduk dan tubuhnya gemetaran.
- - -
- - -
Flashback
- - -
- - -
Saat itu adalah hari Valentine sekitar 1 tahun yang lalu. Sakura yang sedang ceria dan gembira datang ketempat kerjanya dengan sikap yang menurut Kin tidak normal. Beberapa kali Sakura ngelantur saat bekerja juga berbicara sendiri.
"Sakura! Kamu udah gila ya?!"
Kin mengguncang-guncangkan bahu Sakura dengan kasar. Sakura hanya tersenyum aneh membuat Kin semakin yakin terhadap kesimpulannya sendiri.
"Aku tidak gila! Aku hanya senang!!"
Kin berhenti mengguncang Sakura dan mulai heran kembali.
"Senang?"
"Benar! Hari ini aku dan Sasuke-kun akan pergi berdua saja!"
"Oh, kencan Valentine ya?" Celetuk Temari yang tiba-tiba muncul.
"Iya! Haaaahhhh... Senangnya..."
Setelah selesai bekerja, Sakura segera pamitan menuju tempat bertemunya ia dengan Sasuke. Saat sampai disana, Sasuke masih belum menampakkan diri. Sakura akhirnya memilih untuk menunggu diluar kafe dan duduk disalah satu meja dikarenakan didalam sudah penuh.
Beberapa menit Sakura menunggu tapi Sasuke tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
'Priwiiiiiiiiiiiiiit!!'
Sakura menoleh kekanannya dan menemukan Sasuke berada diseberang jalan. Sakura berdiri dan melambai pada kekasihnya itu. Saat Sasuke menyeberang, cowok emo itu tidak mengetahui kalau dari arah kirinya ada mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi.
'Jgaaaaaaarrrr!!'
"SASUKEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!"
- - -
- - -
End Of Flashback
- - -
- - -
Sakura jatuh terduduk lemas. Badannya masih gemetaran mengingat peristiwa 1 tahun yang lalu itu. Pein yang terkejut segera memanggil nama Sakura untuk menyadarkan gadis itu bahkan sesekali ia mengguncang pelan bahu Sakura.
"Sakura kau kenapa?"
Sakura tidak merespon. Perlahan airmatanya turun, Pein tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tetapi muncul suatu inisiatif di otak Pein. Perlahan ia mengangkat kepala Sakura agar Sakura bisa menatapnya. Air mata Sakura semakin mengalir deras disaat gadis itu melihat Sasuke dihadapannya bukanlah Pein. Reflek Sakura memeluk Pein yang ia kira adalah Sasuke.
"Huhuuu...Sasuke-kun...hiks-hiks...huu..."
Tadinya Pein berniat untuk membalas pelukkan Sakura tapi mendengar Sakura menyebut nama 'Sasuke', Pein mengurungkan niatnya.
'Sasuke ya?'
- - -
- - -
ToBeCo...
- - -
- - -
Saatnya Review Reply !!
Shiroi Yuri : Pairnya ? Baca aja terus, hehehehe... repot jelasinnya -dijedotin-
Nakamura Kumiko-chan : Ya makasih ! Keep read !!
Ruki_ya : Ok Ok ! Arigatoooo !
Haruchi Nigiyama : Ya begitulah... Sankyuuuuu !
Naru-mania : Ok ! Nih apdet, thanks yap !
Angga Uchiha Haruno : Ok ok ! Makasih makasih !!
Uchiha Ry-chan : Yap yap! Makasih ya !!
Hikari 'Sakura' Sakuragi : Yah benar! Makasih!!
Tsukimori Raisa : Hah? Dango? Makanan? Aku tak tahu apa itu! Tolong jelaskan ya!
Sebenarnya saia mencomot -parah!- beberapa adegan yang ada ditipi. Seperti adegan sinetron, film, sinema asia, ato adegan dikaset pees saia. Hehehehehe... -digoreng reader-
Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca fict saia yang tidak bagus dan terkesan aneh ini. ALIGATOOOOOOOOOOOOOO!!!!
