Warming!

Maaf kalau saya nge-bacotnya disini, biar nanti para reader bisa tau apa-apa saja yang kurang fic ini. Ternyata di chap sebelumnya banyak yang salah paham ya? Sebenarnya Sakura belum suka sama Sasuke, dia hanya tertarik saja. Dan karena suatu alasan membuat dia menjadi ingin menangis. Di chap ini akan dibahas kenapa Saku nangis. Juga masalah sakura yang 'cengeng', banyak yang gak suka ya? Jadi, mulai sekarang saya akan rubah sifat Saku menjadi lebih tegar lagi.

Masalah Sakura-Hinata, disini mereka tidak ada yang 'angel' , yang angel itu justru si bukan berarti banci atau apa lah itu,,,Hehehe. Maaf jika saya banyak bacot disini, hehehehe.

Pilihan

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated : T

Pair: Sasuke U – Sakura H

.

.

.

.

.

Chapter 2

~OoO~

Bel pulang telah berbunyi. Satu persatu murid Konoha Akademi High School mulai meninggalkan sekolah. Namun, dikelas XI A1 masih ada dua orang yang setia bertengger di bangkunya, Sakura dan Ino. Ino yang sudah selesai merapikan buku-bukunya melirik kearah Sakura yang masih bengong ditempat duduknya. Alisnya mengernyi bingung melihat Sakura yang sejak tadi seperti mayat hidup. 'S-sakura kenapa?!' batinnya takut. Segera saja dia menghampiri Sakura dan menggebrak mejanya.

'BRAKK!'

"A-ah, iya ada apa?!" kata Sakura kaget. Ino sendiri yang melihatnya jadi terkikik geli. Rencananya untuk 'menyadarkan' Sakura sukses besar. Bahkan sekarang ia mendapat hiburan gratis dihadapannya. Wajah kaget serta blo'on Sakura menjadi hiburan tersendiri untuknya.

"Hihihihi, tidak ada apa-apa, Sakura. Aku hanya berniat mengagetkanmu saja. Habisnya dari tadi kau melamun terus, aku kira kau kerasukan setan, hiiiiii" ujar Ino sambil merinding.

"Kau ini ya?!" tuding Sakura pada Ino yang masih setia dengan kikikannya. Mata hijaunya melotot marah pada Ino, tapi bukannya takut Ino malah semakin gencar tertawa.

"Aha-hahahahhaha, Sakura, Sakura. Kau itu sangat tidak cocok marah, tau?. Wajah marahmu itu terlihat sangat imut~" Ino berusaha untuk mencubit pipi Sakura, namun berhasil ditepis oleh Sakura dengan keras.

" .Pipiku!" kata Sakura datar, sedatar-datarnya tembok.

"O-ok, ok. J-jangan marah begitu dong, Sakura. Aku kan berniat baik. Ekhm, sebenarnya aku kesini mau mengajakmu pulang bersama. Kau mau tidak? Aku juga ingin tau dimana rumahmu,"

Sontak saja Sakura tersentak kaget mendengar perkataan Ino. Tapi, untuk saat ini Ino tidak perlu tau rumahnya, "E-emmm, maaf ya, Ino. Lain kali saja, aku masih ada urusan, bye…" ujar Sakura dan berlalu pergi. Meninggalkan Ino yang cengo di tempatnya.

"Dasar, forehead!"

.

.

~OoO~

.

.

Sakura berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia sungguh kesal pada Ino yang membuat harinya yang indah menjadi berantakan. Untung saja tadi dia segera kabur, kalau tidak sudah pasti ia menjadi bulan-bulanannya Ino. Dan Sakura sangat-tidak mengharapkan hal itu terjadi. Apalagi kalau dibiarkan memasuki rumahnya, brrrrrr. Apajadinya nanti!

Sakura terus berjalan tak tentu arah. Mengabaikan bahwa dirinya masih belum begitu hafal jalan di Konoha ini. Semenit kemudian, Sakura merasakan perasaan asing saat ia melewati jalanan ini. Saat ia melihat banyak pepohonan di sekeliling jalan yang dilewatinya, tiba-tiba ia melihat ada sebuah danau yang terlihat sepi. Awalnya, Sakura berniat untuk bermain sebentar di danau itu, tapi saat ia melihat sekitarnya…

...saat itu juga ia baru menyadari bahwa dirinya tersesat.

'Damn, you're so stupid, Sakura! How do I get to go home? Oh, God!' batin Sakura panik. Ia mulai berlari disekitar danau yang luas itu. Berharap menemukan seseorang yang bisa mengantarnya pulang. Tapi malang nasibnya, setelah lama berlari Sakura tidak juga menemukan seorangpun yang bisa ia tanyai jalan pulang.

Sakura mencoba mengamati sekeliling danau 'tak berpenghuni' itu, berharap dapat menemukan sesuatu yang menarik yang bisa menghiburnya agar Sakura dapat tenang barang sebentar saja. Saat ia sedang menjelajahi sekitar danau, tiba-tiba matanya menangkap hal yang menarik. Sakura melihat ada sebuah bangku di bawah pohon Sakura dekat danau itu. Segera saja Sakura menuju bangku itu dan mendudukkan dirinya.

"Kalau dipikir-pikir, danau ini indah juga ya," ujarnya tersenyum, seakan dia sudah melupakan kenyataan bahwa dirinya sedang tersesat. Melihat air danau yang tenang itu, membuat pikirannya kembali saat ia menangis di sekolah karena Sasuke. Beruntung saat itu Sasuke tidak menemukannya menangis di halaman belakang sekolah, kalau tidak tamatlah riwayatnya!

Sungguh, sebenarnya bukan Sasuke yang membuatnya menangis. Melainkan karena Sakura mendengar perkataan Sasuke yang menyebut nama wanita lain dengan nada yang lembut. Bukan apa-apa sih, dia juga tidak cemburu, hanya saja ucapan Sasuke membuatnya teringat pada masa lalunya. Entah apa hubungannya.

*Flasback*

Seorang gadis duduk di salah satu bangku di sebuah taman yang cukup masih jam 5 pagi ,jadi wajar sajajika tidak ada orang bermain di taman. Tapi tidak dengan gadis ini, dia masih setia menunggu seseorang yang akan ditemuinya pagi ini.

Hawa yang dingin membuatnya semakin merapatkan jaket berudru , sekarang memang sudah memasuki musim dingin di Amerika. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundak sang gadis.

"Lama menunggu?" *Anggap saja pecakapan disini pake bhs. Inggris ya? Saya tidak pandai berbahasa inggris*

"Ah, tidak juga" jawab si gadis sambil tersenyum. Pemuda dengan iris lavender tadi segera mendudukkan dirinya disamping gadis gadis hanya menatapnya dengan tersenyum,"Hawa disini ternyata sangat dingin ya? Untung saja aku memakai jaket kesayanganku"

Hening. Tidak ada yang berbicara setelahnya. Jika biasanya keduanya sama-sama menikmati keheningan ini, membaut mereka merasa nyaman satu sama lain. Namun si pemuda beriris lavender ini sepertinya kali ini tidak begitu menikmatinya. Dilihat dari matanya yang bergerak-gerak gelisah. Si gadis pun menyadari perubahan sikap 'kekasihnya' pun menjadi bingung karenanya.

"Apa ada masalah? Dari tadi kulihat kau merasa tidak nyaman," tanya si gadis pada pemuda disebelahnya.

"Ya, aku memang sudah tidak nyaman lagi denganmu!" ujar pemuda beriris lavender itu tajam. Si gadis tersentak, baru kali ini dia dibentak oleh kekasihnya sendiri. Si gadis menatap bingung si pemilik mata lavender disebelahnya. 'Tidak, ini tidak benar!' batin si gadis menjerit.

"K-kenapa?"

" Sakura. Aku ingin kita putus, untuk sementara ini!" ujar pemuda tadi kepada gadis yang dipanggil Sakura. Sakura yang mendengarnya pun kaget setengah mati .Sungguh, ingin sekali ia menangis pada saat itu juga, menumpahkan segala kekecewaannya. Tapi dia tidak bisa! Sakura tidak akan menangis, ia sudah berjanji akan menjadi wanita yang tegar dan ia tidak akan mengikari janjinya.

"Kenapa, Noah? Apa alasanmu melakukan itu? Selama ini kita baik-baik saja,kenapa tiba-tiba kau memintaku untuk putus?" tanyanya dengan nada getir. Pemuda yang dipanggil Noah itu pun bangkit dari duduknya, berniat meninggalkan Sakura. Ia sempat melirik gadis yang 'sangat dicintainya' itu.

"Karena wanita itu membutuhkanku, Sakura. Aku tidak mungkin meninggalkannya disaat dia sedang sakit. Maafkan aku" ujar Noah sambil berlalu pergi. Meninggalkan Sakura yang mematung menatpnya.

Tes. Sesuatu berwarna bening jatuh membasasi pipi Sakura. Meliuk-liuk seolah menggoda nasib Sakura yang malang.

Tes. Tes. Tes. Dan semakin lama, semakin deras. Sakura masih terpaku, menatap kosong sekelilingnya. Hanya satu yang terlintas diotaknya,

Cinta pertamanya, hancur berantakan.

*End of flashback*

Sakura tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar suara tawa seseorang. Penasaran, ia pun mencoba mencari asal suara itu. Kemudian dia bersembunyi dibalik salah satu pohon dekat suara itu berasal. Disana, di pinggiran danau itu, terlihat dua orang sejoli sedang bercanda dan tertawa sambil bermain air. Ah, tidak! Sebenarnya hanya si pemuda saja yang bermain air, sedangkan si gadis sedang tertawa di kursi rodanya. Mereka terlihat sangat mesra, meskipun si gadis tidak lagi dapat menggerakkan kakinya. Ya, gadis itu lumpuh.

Tapi tunggu, sepertinya Sakura mengenal model rambut pemuda itu.

"Model rambutnya seperti pantat ayam," gumamnya dengan suara kecil. Sakura masih tetap bersembunyi di balik pohon sambil memperhatikan pemuda berambut pantat ayam itu.

Tunggu? Pantat ayam? Bukankah itu…

"Eh? Itu Sasuke? Huaaaaa, akhirnya ada juga seseorang yang bisa kutanyai jalan pulang" katanya senang. Segera saja dia menghampiri Sasuke yang sedang bercanda dengan seorang gadis cantik berambut indigo. Si gadis terlihat sangat senang dan bahagia, senyumnya pun terukir sangat lebar. Membuat matanya menjadi menyipit. Dan saat ia berhenti tertawa, saat itulah Sakura melihat mata indah milik si gadis indigo tersebut.

"Matanya… lavender.. " Sakura tercengang melihatnya, tenggorokannya pun terasa tercekat. Bahkan sekarang, kakinya sulit untuk digerakkan. 'N-Noah..? Mata itu.. itu..'

Gadis indigo tersebut memandang kearah Sakura yang saat itu masih terdiam di tempatnya berdiri. Sepertinya tadi dia mendengar Sakura menyebut nama seseorang. Mungkinkah dirinya?

"Maaf nona, kau mencari siapa?" Tanya gadis indigo itu lembut. Senyumnya yang manis membuatnya terlihat semakin anggun dan mempesona, meskipun ia seorang yang lumpuh. Sasuke yang mendengar temannya berbicara pun menoleh kearahnya. Alangkah terkejutnya ia melihat Sakura yang berada tak jauh dari tempatnya.

"Sakura?" Tanya Sasuke pada Sakura yang masih setia terdiam di tempatnya berdiri.

"A-ah, iya.. S-Sakuke" seolah baru tersadar dari mimpi, Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat Sasuke sudah ada dihadapannya beserta seorang gadis indigo yang menatapnya bingung. Kembali Sakura melihat mata gadis indigo itu, namun kali ini ia tidak terkejut seperti tadi. Nampaknya ia sudah dapat mengontrol dirinya.

"Kenapa kau ada disini? " Sasuke kembali bertanya pada Sakura. Dan kali ini segera dijawab oleh Sakura.

"Se-sebenarnya aku tersesat. Aku tidak tau jalan pulang, dan ketika aku mendengar suara tawa seseorang aku segera kesini dan melihat kalian disini," ujar Sakura cepat. Ia kembali melihat kearah gadis indigo itu. 'Bagaimana mungkin dia memiliki mata yang sama persis seperti Noah? Apa dia ada hubungan darah dengan Noah?' batinnya bingung. Alisnya bertautan lucu, yang malah terlihat seperti sedang cemberut.

"Kenapa kau selalu melihat mataku, nona? Ada yang salah dengan mataku?" Tanya gadis indigo itu pada Sakura. Heran juga sih, setiap melihat kearahnya, pasti matanya yang selalu dituju. Tapi pandangannya tidak focus, melainkan seolah-olah mencari kebenaran di mata gadis indigo itu.

"Eh? Tidak kok, hanya saja matamu itu mirib seseorang, hehehehe" kata sakura tertawa garing.

"Sou ka… Sasuke-kun mengenal gadis ini?" gadis indigo itu kembali bertanya pada Sasuke. Sasuke hanya mengangguk dan melihat Sakura.

"Dia murid baru disekolahku, kebetulan dia sekelas denganku. Sakura, perkenalkan ini Hinata, sahabatku." Kata Sasuke dengan nada datar khas-nya. Saking datarnya, Sasuke jadi lupa menyebutkan marga Hinata.

"Salam kenal, Hinata-chan" kata Sakura sambil mengulurkan tangannya pada Hinata. Hinata pun menerima uluran tangan Sakura dan tersenyum.

"Salam kenal, Sakura-chan" jawab Hinata sambil tersenyum. Sakura yang melihat senyum Hinata pun terpukau untuk kedua kalinya. Sedangkan Hinata, menatap kagum kearah Sakura. Bagi Hinata, Sakura adalah gadis yang sangat cantik dan sempurna. Bibir tipisnya, kulit putihnya, tubuh indahnya dan jangan lupakan kaki jenjangnya yang bisa membawanya kemana-mana. Tidak seperti dirinya, yang bisanya hanya menyusahkan orang saja.

"Kau sangat cantik, Sakura-chan" kata Hinata tulus. Pipinya bersemu merah saat mengatakan hal itu, entah apa sebabnya. Sakura yang mendengarnya pun juga ikut bersemu. Baru kali ini dia mendengar seseorang mengatakan dia cantik dengan nada yang lembut dan tulus.

"Terimakasih, kau juga" dan akhirnya percakapan kedua gadis itu pun dimulai. Melupakan bahwa ada seorang pangeran tampan yang sedang marah karena diacuhkan. Upss,

.

.

~OoO~

.

.

Seorang pelayan menghampiri tiga orang remaja yang baru saja memasuki café, "Mau pesan apa?" Tanya si pelayan tersenyum.

"Kau mau pesan apa, Sakura-chan?" Tanya Hinata pada Sakura saat mereka sudah sampai di café dekat danau tadi. Ya, Hinata dan Sasuke memang berjanji akan mengantarnya pulang, tapi entah bagaimana sebabnya sekarang ia bisa duduk di café ini bersama dua orang ini.

"Aku pesan Beef steak dan jus strowbery saja. Kalau Hinata?"

"Sama kaya Sakura-chan, hehe" kembali Sasuke diacuhkan oleh kedua gadis cantik ini. Sepertinya mereka cepat sekali akrabnya, dan akibatnya Sasuke pun diacuhkan. Poor Sasuke.

"Ekhm, tidak ada yang menawariku?" Tanya Sasuke sangat-amat datar. Sepertinya ia sangat kesal kali ini. Sakura dan Hinata yang melihatnaya pun jadi tertawa, membuat Sasuke mengernyitkan alisnya bingung.

"Ya sudahlah, aku pesan lasagna dan jus tomat saja." Dan pelayan itu segera mencatat pesannya mereka dan pamit pergi.

Sakura melihat kearah Sasuke dan Hinata, sebenarnya dari tadi dia ingin sekali bertanya apakah mereka berdua pacaran? Sasuke dan Hinata terlihat sangat sempurna untuk menjadi pasangan kekasih, begitulah pikir Sakura. Akhirnya setelah membulatkan tekad, Sakura pun bertanya pada Hinata.

"Hinata-chan pacar Sasuke?" tanya Sakura dengan nada riang. Sasuke yang mendengarnya pun kaget. Dia kira Sakura akan bertanya begitu dengan nada sedih, ternyata tidak. Malah Sakura terlihat sangat antusias mendengar jawaban Hinata.

"T-tidak kok, kami t-tidak berpa-pacaran," jawab Hinata gugup. Pipinya bersemu merah, dan matanya bergerak gelisah membuatnya terlihat sangat manis.

"Wah… Sayang sekali. Padahal aku berharap kalian berpacaran lo.. Kalian terlihat serasi" ujar Sakura semangat. Hinata pun menjadi semakin memerah wajahnya mendengar perkataan Sakura. Ia tidak menyangka, ada orang yang mengatakan dirinya dan Sasuke serasi.

Hinata senang, tentu saja. Ada sebagian hatinya yang juga mengharapkan apa yang dikatakan Sakura terkabul. Tapi, itu tidak mungkin. Dia dan Sasuke adalah sahabat sejak kecil, dan Hinata tidak mau merusak persahabatan ini karena perasaan egois Hinata. Tapi, perasaannya sudah tidak bisa ditahan lagi. Sudah lama sekali ia memendam perasaan tabu ini, dan suatu saat nanti ia berharap dapat mengucapkannya pada Sasuke.

Mengatakan bahwa seorang Hyuuga Hinata, mencintai sahabatnya sendiri, Uchiha Sasuke.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

A/N

Yep, inilah chapter 2nya. Maaf kalau jelek dan kurang memuaskan ya? Oh ya, Ratih juga buat OC disini. Dan dia disini berperan sebagai *titttt* nya Hinata. Hehehehe, maaf kalau jelek yah..

Saya mengucapkan terimakasih buat semuanya yang udah meriview fic abal Ratih. Meskipun ada flame-nya juga. Gak apa-apa kok, itu bisa jadi motovasi Ratih. Tapi satu hal yang ingin Ratih sampaikan, sampai kapanpum Ratih gak akan menghapus fic ini. Meskipun riviewnya flame semua, hehehehehe.

Oh ya, satu lagi. Disini Ratih buat Hinata gak gagap kayak beberapa fic lainnya. Kenapa? Karena menurut Ratih, Hinata itu kuat. Hanya cara hidupnya saja yang membuat dia terlihat lemah. *Maksudnya dimanjakan dan dianggap nona besar Hyuuga di clannya*

Terimakasih pada : Hanna Hoshiko, Febri Feven, aprilia yasir, Eysha 'CherryBlossom, KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, PinKrystal, Guest, NaraGirlz, kihara, Ai, Saveria, uchiha saara, , dan semuanya yang udah bersedia baca fic abal Ratih, hehehehehe.

Bersediakah meriview lagi?

Salam hangat,

Ratih-chan