Apa ini?
Di mana Luka saat ini?
Hei, kenapa tiba-tiba... Luka berada di tempat yang gelap ini? Di atas jembatan ini?
Luka tidak tahu. Jembatan ini terlihat begitu asing, sekaligus familiar. Ia seperti pernah berada di sini, tapi ia tidak ingat kapan persisnya.
Perasaan yang melingkupi hatinya saat ini membuatnya tidak menjadi lebih nyaman. Justru ia takut.
Tatapannya buram, begitu berkabut. Dan tempat ini lebih persis seperti setting di kebanyakan film hantu.
Tidak, Luka takut bukan karena tempat ini mengingatkannya dengan film hantu "Fog" yang ia tonton secara paksa bersama Luki minggu lalu.
Perasaan asing ini yang membuatnya seperti terjebak di dalam sebuah labirin hitam tanpa ujung. Ia pun gelisah.
Luka tidak kenal tempat ini. Ia mau pulang! Ia mau bangun!
Tapi, kenapa ia tidak kunjung terbangun juga?! Sekeras apapun Luka memejamkan kedua matanya!
Telinganya yang sensitif kemudian menangkap sebuah gelombang suara yang begitu pelan. Ia pun menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati ternyata ada orang lain di sana.
Namun belum sempat ia mengetahui siapa mereka, kemudian semuanya menjadi cerah dan terang-benderang. Dan ia akhirnya terbangun.
.
.
.
.
Guardian Spirit
Chapter 2. Ketika Keganjilan Itu Semakin Jelas.
Semua karakter yang ada di sini merupakan hak cipta milik Yamaha Coorporation beserta perusahaan-perusahaan pemiliknya. No commercial profit taken.
Warning : Ide pasaran. Sebisa mungkin IC, tetapi sepertinya malah OOC. Isi ngawur. ghost!Gakupo. human!Luka. slight KaitoMiku, dikit aja kok.
selamat membaca.
.
.
.
.
Luka pun tersadar dari tidurnya.
Mata biru lautnya spontan terbuka dan melirik ke arah kanannya, pada jam weker. Pukul 6 pagi, saatnya bangun.
Ia bangun dan merenggangkan bahunya sejenak. Menggeser tubuhnya hingga ia berada di tepi tempat tidur, dan kembali merenggangkan kakinya. Dilihatnya jendela kamar yang tirainya telah terbuka.
"... aku rasanya tidak pernah lupa untuk menutup tirai jendela sebelum tidur." Pantas saja tadi ia terbangun karena cahaya yang terang. Rupanya cahaya matahari yang masuk melalui jendela itu yang membangunkannya.
Luka terdiam sebentar. Ia memperhatikan jemari kakinya yang terlihat halus karena terawat, kemudian beralih pada langit kamarnya. Ia punya firasat adanya ketidakberesan pada tirai jendelanya itu, tapi ia sendiri tidak dapat membuktikannya karena tidak ada keganjilan lainnya yang dapat ia kemukakan mengenai praduganya terhadap—
"Yo, Megurine-san. Ohayou gozaimashita!"
—Gakupo. Baiklah, sekarang sudah jelas siapa pelakunya.
"Uwaaa! Bisakah kau berhenti mengagetkanku seperti itu!" Luka hampir terlonjak ketika ia mendapati tahu-tahu Gakupo sudah ada di depannya. Menyeramkan.
"Eh, maafkan aku. Aku hanya ingin bercanda, Megurine-san!" Gakupo menggaruk kepalanya dengan canggung, kemudian berhenti dan tersenyum kecil pada Luka. "Hei, Megurine-san. Hari ini Minggu, ada rencana mau kemana?"
"Hum, Minggu?" Oh, Luka baru sadar kenapa kemarin Luki begitu ngotot ingin menginap di rumah temannya. Hari ini Minggu, pantas.
"Iya."
"Ah, aku sendiri baru sadar hari ini Minggu. Jadi aku tidak tahu mau pergi kemana." ucap Luka. "Omong-omong, apa tirai itu kau yang buka?"
Gakupo tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Hum, iya."
"Bagaimana kau melakukannya? Bukannya kau itu tembus-pandang?"
"Hehe, aku punya kemampuan khusus supaya bisa menggerakkan suatu benda yang ringan, Megurine-san."
Luka hanya mengerutkan dahi. Jawaban yang terkesan sedikit maksa, sebenarnya. Tetapi karena Gakupo itu hantu, jadi Luka hanya mengiyakan saja. "Sudahlah, kau tunggulah di manapun kau mau, asalkan bukan di sini. Aku mau mandi dulu."
"Mau kutemani?" Dan Gakupo lagi-lagi nyengir, sedikit—ehem—mesum.
"..."
"A-aku mengerti. Kutunggu di ruang tengah."
Mengalihkan tatapannya yang sebelumnya mematikan dari Gakupo, Luka kembali menghela napas. Sementara Gakupo masih ada di kamarnya, belum beranjak juga.
"Gakupo, bisakah kau tidak terlalu menggodaku? Aku masih merasa risih denganmu, tahu."
"... ah, baiklah. Maaf. Aku akan lebih menahan diri."
Sebelum Luka membuka pintu kamar, ia melirik sekilas pada Gakupo. "Hei, apa kau marah?"
"Apa Megurine-san sendiri marah?" tanya Gakupo membalikkan kalimat itu pada Luka.
Dan kalau dibilang marah, sebenarnya Luka sama sekali tidak marah. Sungguh. Ia hanya merasa tidak terbiasa dijahili oleh orang lain. Yah, Luki juga orangnya lumayan jahil sih, tapi itu lain cerita. Luki 'kan kakaknya, sedangkan Gakupo itu orang lain. Ehem, ralat. Gakupo itu "hantu yang baru saja ia kenal".
Ini hanya masalah terbiasa atau tidak.
"Tidak kok."
"Benarkah?"
"Iya. Sudahlah. Aku bukan orang yang bisa gampang marah."
"Kalau begitu, yang tadi malam itu apa...?" Gakupo terdiam sebentar, kemudian menyeringai. Seakan baru menyadari suatu hal.
"Apanya?"
"Tidak, bukan apa-apa."
"Apa! Jelaskan padaku!"
"Ups, ini rahasia, Megurine-san." Seringai misterius masih terpampang di wajah Gakupo. "Ah, tadi katanya mau mandi, Megurine-san? Tidak jadi?"
"Uhm, tentu saja jadi." Luka membuka pintu kamarnya setelah meraih handuk yang ada digantungan baju sebelah pintu. Ia yakin Gakupo pasti menyembunyikan sesuatu, tapi ia tidak mengurusinya lebih jauh lagi dan hanya membanting pintu kamarnya dengan sedikit keras.
"Oh, Tuan Putri Megurine penasaran...," Gakupo sedikit terkekeh, "... dasar tsundere."
Bukan tanpa alasan Gakupo mengatai Luka dengan sebutan itu.
.
.
.
.
"Kenapa bisa kebetulan sekali hari ini Minggu."
Luka kembali teringat, ia ada janji dengan temannya.
"Luka-san! Bagaimana kalau hari Minggu ini kita jalan-jalan? Yah, bareng Rin-chan juga!"
"Euhm, baiklah, Miku. Kebetulan aku tidak ada acara nanti."
"Oh, hari ini Megurine-san mau janjian sama temannya?" tanya Gakupo, melayang-layang di dekat Luka yang sedang... oke, berdandan. Ia sudah mandi dan sarapan tadi, jadi tinggal ganti pakaian dan sedikit berdandan saja.
Pakaian yang ia kenakan sekarang hanyalah baju kemeja putih yang dilapisi rompi hitam bermotif putih acak, mengenakan rok hitam dimana kakinya juga dibalut oleh stocking hitam sampai paha.
(Ups, hari ini Luka sedang buta warna pakaian.)
Dan jangan pikirkan bagaimana Luka sarapan. Karena masih terbawa rasa malas tadi malam, jadi Luka hanya memakan dua biji roti yang diberi selai, dan segelas susu. Baiklah, menu sarapan yang kelewat mainstream.
"Iya."
"Bukan janjian dengan pacar?"
"..."
"Baiklah. Abaikan ucapanku tadi."
Luka memutuskan untuk benar-benar mengabaikannya. Tangan-tangan rampingnya menggerakkan sisir itu pada rambut merah mudanya dengan perlahan, seolah takut jika sisir itu akan menyakitinya. Seusainya, ia pun memeriksa kembali wajahnya yang sudah tersentuh oleh beberapa alat kecantikan yang sederhana.
Dan ia kemudian mencoba mencari siluet Gakupo di cermin. Tapi tidak ada. Ya, Luka tahu itu sia-sia karena pemuda itu sendiri hanya berupa roh, bukan sesuatu yang bersifat padat dan memiliki bayangan.
Luka diam-diam merasa prihatin dan simpati—serta merinding dan ngeri—atas kondisi Gakupo. Dan tatapannya pun melemah.
"... Megurine-san cantik ya."
"Hah?" Luka sedikit terkejut dan menoleh ke belakang. Meskipun di cermin tidak ada Gakupo, di belakangnya jelas-jelas ada Gakupo.
Sungguh dinamika hidup.
Dan pemuda itu tersenyum lembut padanya.
"Iya, Megurine-san terlihat cantik." Gakupo mengulang pujiannya lagi. Dan tidak bisa Luka pungkiri, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya ketika mendengar kalimat itu ia dengar dari pemuda berambut ungu itu.
"Kau bohong."
"Kenapa aku harus berbohong?"
"Dan untuk apa kau mengatakan hal seperti itu tiba-tiba di saat begini?" Luka cepat-cepat merapikan peralatan kecantikannya, mengambil tas selempangnya, dan berjalan ke pintu kamar.
Itu hanya alibi.
Sebenarnya Luka merasakan adanya keanehan pada suasana hatinya saat mendengar pujian itu dari Gakupo. Tidak, mungkin itu hanya perasaan senang yang muncul ketika ada seorang lelaki yang memuji kecantikanmu.
Mungkin.
Lantas apa maksud di balik rona merah yang samar di wajah cantik milik Luka itu?
"Sudahlah. Kau mau ikut, tidak?"
"Ya, baiklah, Megurine-san."
Gakupo pun ikut berjalan menyusul Luka yang sedang membuka pintu kamar. Dan sempat terhenti ketika Luka malah membiarkan pintu kamarnya terbuka.
"A-ah. Megurine-san, maafkan aku. Tetapi aku tidak bisa menutup pintunya. Kau tahu aku bisa tembus, bukan?" Suara Gakupo pun menghentikan langkah Luka yang sedikit tergesa. Untung saja, dia baru sampai di anak tangga pertama. Jadi tidak terlalu jauh dari kamarnya.
"Oh iya. Aku lupa."
Gadis itu kembali ke pintu kamarnya. Menutupnya, menguncinya, kemudian ia pun kembali berjalan menuruni tangga rumahnya.
Dan tidak perlu menunggu waktu lama, Luka pun akhirnya sampai di stasiun dekat rumahnya, tempat janjian.
"Memangnya siapa saja temanmu yang ikut, Megurine-san?" Duh, Gakupo kumat kepo.
"Hum, setahuku cuma 2 orang. Dua-duanya perempuan...," jawab Luka sambil lalu. Pandangannya mengarah pada orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.
Dan rata-rata, mereka semua itu berbeda gender, dan saling pegangan tangan. Tunggu, sepertinya ada yang sejenis gender... ah, lupakan.
Duh, inilah kenapa Luka terkadang benci keluar rumah pada hari Minggu. Karena omong-omong, Luka itu jomblo—tetapi tidak pakai ngenes. Luka bukannya tidak laku. Dia lumayan populer kok, di sekolahnya.
Luka hanya tidak ingin mengurusi hal seperti itu.
Karena dia teringat akan sesuatu. Masa lalunya, tapi ia tidak begitu ingat. Hanya terlintas sekilas di pikirannya. Perasaan yang dengan begitu kuat menahannya untuk tidak buru-buru memasuki dunia percintaan. Dan karena hal itu, entah mengapa, Luka merasa dirinya sekarang sedang amnesia kecil.
"Ah, Megurine-san mau seperti mereka?" ucap Gakupo—yang sedang melayang di sampingnya—dengan suara yang meninggi dan bernada. Pertanda, dia mulai menggoda Luka lagi. Tentu saja yang Gakupo maksud "mereka" itu adalah orang-orang yang bergandengan tangan itu.
"U-urusai."
"Nah, kenapa Megurine-san? Aku hanya bertanya."
"Pertanyaanmu itu sangat tidak penting, kau tahu."
Sebisa mungkin Luka menahan suaranya agar tidak meninggi, tapi pada akhirnya, suaranya malah terdengar ketus dan lirih. Dan itu justru membuat Gakupo terkekeh pelan. Melihat Luka seperti itu sungguh menyenangkan, bagi pemuda hantu itu.
"Apa yang lucu?"
"Tidak. Bukan apa-apa kok, Megurine-san."
"Luka-saan!"
Kedua kepala itu spontan menoleh ke asal suara, di mana ada seorang gadis berambut hijau teal dan pemuda berambut biru baja di belakangnya.
"Eh, Miku..." Mata Luka kemudian menyipit memperhatikan pasangan itu menghampirinya. "Kau tidak bilang kalau Kaito-kun ikut denganmu juga."
"Hehe, habisnya. Dia tiba-tiba ngotot mau ikut juga. Dan karena aku kasihan, jadi akhirnya kubiarkan saja dia ikut."
"Lah, Miku-chan, kenapa jadi gara-gara kasihan? Itu berarti sebenarnya kamu gak mau aku ikut dong?" Kaito menyahuti jawaban Miku yang tanpa dosa itu dengan ekspresi yang dibuat sok sedih.
"Bukannya begitu, Bakaito."
"Hei, Miku. Rin mana? Katanya dia ikut juga, bukan?" sela Luka.
"Ah, itu dia! Rin-chan tidak jadi ikut. Katanya Len-kun mendadak demam, dan dia tidak tega meninggalkannya begitu saja. Jadi yah, begitulah..."
"Oh." Meskipun tetap berekspresi datar, Luka diam-diam pundung di dalam hatinya.
Kenapa dunia begitu kejam padanya? Kenapa... dia harus berjalan sendiri sedangkan temannya Miku berjalan berdua dengan—ehem—gebetannya si Kaito. Kenapa? KENAPA? Apa karena selama ini Luka terlalu dingin jadi ditakdirkan jomblo begini?
Kalau ada Rin, 'kan bebannya jadi lebih ringan, gitu...
"Keke. Yang sabar ya, Megurine-san." Dan Gakupo yang dari tadi diam mendengarkan mereka, malah memperkeruh suasana dengan terkekeh seperti itu!
Luka tidak menjawab. Hanya melempar tatapan andalannya secara diam-diam pada Gakupo, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Miku-Kaito. "Eng, kita pergi sekarang?"
"Yup! Ayo, Luka-san!"
.
.
.
.
"Megurine-san, daripada kau berjalan sendiri begitu, kutemani jalan berdua ya."
Luka tidak menyahuti sementara Gakupo perlahan turun dari melayangnya dan berjalan di sampingnya. Ingin rasanya Luka meneriaki pemuda itu, mengatakan bahwa usahanya itu sia-sia karena pemuda itu sendiri tidak terlihat oleh siapapun kecuali Luka seorang.
Tapi suatu sudut di dalam hatinya tidak demikian. Hanya mengatakan, "Cukup dengan kau yang tahu, itu sudah cukup, bukan?"
Ah, Luka serasa punya dua kepribadian dalam satu tubuh. Ketika ia mengatakan hal negatif, ada seseorang di dalam dirinya yang membantahnya dengan hal positif. Mengerikan.
"Eh?! Megurine-san! Awas!"
DUAK!
Karena sibuk melamun, Luka jadi tertabrak tiang listrik. Duh, nasib.
"Eh, eh! Luka-san! Tidak apa-apa?!" Miku dan Kaito sigap menahan tubuh Luka yang sedikit limbung. Sementara itu, Luka menyentuh bagian tubuhnya yang sedikit mati rasa. Dahinya. Tidak persis di tengah sih, lumayan tertutup oleh rambut poninya.
"Uwaa! Luka-san! Dahimu!" seru Miku panik sambil menunjuk dahi Luka.
Gadis berambut merah muda itu hanya menyentuh memarnya, dan sedikit mengernyit. Sebenarnya ini lumayan sakit. Tapi karena dia tidak mau membuat Miku dan Kaito khawatir, jadi dia memutuskan untuk berbohong. Dia pun melepas pegangan Miku dan Kaito di tangannya. "Sudahlah, ini hanya memar kecil. Nanti sembuh sendiri kok."
"Tapi memarnya merah sekali, Luka-san. Kurasa itu pasti sakit sekali." Pemuda Shion itu berucap sedikit mengernyit, seolah bisa merasakan rasa sakit itu.
"Kubilang tidak sakit, ya tidak sakit." Luka ngeyel dengan kebohongannya.
"Uhm, baiklah. Kalau benar-benar sakit, bilang ya, Luka-san." Mereka bertiga—plus Gakupo yang terdiam melihat memar di dahi Luka—pun melanjutkan perjalanan mereka lagi.
.
.
.
.
"Fuah, lega sekali bisa berbelanja lagi setelah sekian lama."
Kini mereka ada disebuah rumah makan. Setelah berkeliling di komplek pertokoan dan membeli beberapa barang. Dari yang paling penting, sampai yang paling tidak penting.
Dan kini makanan yang ada di atas piring-piring itu telah tandas dihabiskan oleh ketiga orang itu.
"Miku-chan, apa orang tuamu tidak keberatan dengan belanjaanmu yang, uhm, agak banyak ini?"
Iya, Miku membeli barang-barang sampai harus menenteng 3 kantong belanjaan. Luka sendiri hanya satu kantong, itupun berukuran kecil.
Jawabannya cukup sederhana; Luka sedang kekurangan uang. Jadi, ia hanya membeli apa yang paling penting saja.
"Hum, tidak apa-apa! Mereka takkan marah kok!"
Luka tersenyum mendengar pernyataan polos itu. Ah, orang tuanya sendiri tidak begitu suka jika Luka pulang-pulang, sudah menenteng begitu banyak kantong belanjaan. Keluarganya yang sederhana sudah mendidiknya untuk tidak boros semenjak dia masih kecil.
Gadis beriris mata biru laut itu hanya memutar-mutar sedotan di dalam minumannya. Tampak sedikit bosan. Dia terpikir kembali, tadi dia seolah hanyalah seorang kacung saja, karena hanya mengikuti kemana Miku dan Kaito pergi. Mereka berdua sendiri gandengan tangan. Yah, meskipun Miku selalu berusaha untuk tidak mengabaikan Luka dan menarik gadis berambut merah muda itu untuk berjalan di sampingnya.
Dan sekali lagi. Luka sedikit benci jika harus berjalan sendiri begini.
(Dan Gakupo mendengar suara rintihan hati itu. Ya, ia mendengarnya walau dalam hening.)
"Tidak terasa, sudah jam setengah 4. Kalian sudah berjalan-jalan begitu lama. Apa kalian mau pulang?" tanya Kaito memperhatikan jam tangannya.
"Oh! Benar juga! Aku lupa! Aku harus pulang jam 4!" Miku mendadak berdiri, dan menarik tangan Kaito. "Bakaito, Luka-san, ayo kita pulang!"
"Bakaito janai yo, Miku-chan."
"Hm. Kau pulang duluan saja. Aku masih mau di sini."
"Oh, benarkah? Baiklah. Kami pulang duluan ya, Luka-san."
Tidak perlu menunggu waktu lama untuk kedua orang itu keluar dari rumah makan tersebut. Meninggalkan Luka sendiri—berduaan dengan Gakupo yang tembus-pandang.
Ternyata Gakupo yang dari tadi sempat terlupakan itu sedang duduk di kursi kosong sebelah Luka. Ya, Luka sendiri yang menyuruh Gakupo untuk duduk di situ.
"Megurine-san?" Luka bisa mendengar Gakupo memanggilnya di samping.
"Apa?"
Ah, Luka tidak peduli jika ia dianggap sinting karena berbicara sendiri sekarang di tempat umum. Ia hanya sedang suntuk, dan bosan. Ia malas pulang, karena sama saja ia sendiri di sana.
Tapi mungkin memang lebih baik dia pulang saja.
"Aku tahu memar itu masih sakit, bukan?"
"Lantas? Diobati pun, rasanya akan tetap saja sama."
"Tentu saja berbeda, Megurine-san. Setidaknya setelah diobati, lukanya akan lebih cepat sembuh."
"Kenapa kau begitu memperhatikan lukaku sampai segitunya?" Suara Luka terdengar sedikit meninggi. Ia tidak mengerti kenapa Gakupo begitu cerewet mengenai luka di dahinya—
"Karena aku mengkhawatirkanmu, Megurine-san."
Gadis itu pun melirik pada Gakupo yang ekspresinya sulit ditebak oleh Luka. Apa itu? Ekspresi cemas? Ekspresi seolah dia juga ikut merasakan luka tersebut?
Luka merasakan gemuruh di dadanya.
"... sudahlah. Aku mau pulang." Luka berdiri, dan berjalan menembus Gakupo tanpa dosa. Tapi ia tidak peduli. Toh, Gakupo sendiri tidak keberatan dan tidak merasa sakit karenanya.
Dan pemuda itu hanya mengikuti kemana Luka berjalan.
Tiba-tiba sebuah bunyi dering memecah konsentrasi berjalan Luka. Ia berhenti dipinggir jalan, dan memeriksa ponselnya.
Itu pesan dari Luki.
"Luka-chan, kau di mana? Aku sudah di depan rumah nih. Aku gak ingat bawa kunci cadangan rumah."
Hah, ada-ada saja Luki ini.
.
.
.
.
Tapi tunggu sebentar. Kalau Luki sudah pulang, itu berarti Luka harus semakin hati-hati jika ingin mengobrol dengan Gakupo.
Setidaknya Gakupo masih aman, karena Luki sendiri tidak bisa melihat hantu. Setahu Luka sih.
"Luka-chan! Kau kemana sajaa? Kupikir kau ada di dalam rumah!" protes Luki ketika Luka menampakkan dirinya dari balik pintu pagar mereka yang tinggi.
"Aku hanya ingin cari angin. Makanya, lain kali jangan lupa bawa kunci cadangan."
Luki hanya memutar bola matanya 90 derajat ke arah kiri. "Uh, iya deh."
Dan Luka mengangkat sedikit kedua bahunya, sebelum akhirnya mengambil kunci rumah dari tas selempangnya, dan membuka pintu rumah dengan kunci tersebut. Mereka masuk ke dalam rumah, dengan Gakupo yang ikut masuk tanpa Luki sadari dan ketahui.
"Luka-chan, kau sudah makan?"
"Sudah tadi. Memangnya kau sendiri belum?"
Sekedar catatan. Luka bukanlah seorang tipe adik yang baik, karena ia bahkan nyaris tidak pernah memanggil Luki dengan sebutan "Kakak", "Nii-san", atau yang mirip-mirip seperti itu. Jangan tanya kenapa harus begitu. Tanyalah pada Luka sendiri.
"Uwaa, padahal kukira belum. Aku sendiri belum makan."
"Kau berharap bisa sekalian numpang makan denganku, bukan?" ucap Luka sarkastis, tahu persis kebiasaan kakaknya yang tidak mau rugi bahkan pada adiknya sendiri.
Dan Luki hanya cemberut mendapat sindiran itu. "Bukan gitu..."
Luka menghela napas perlahan, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya. Dan menyerahkannya pada Luki. "Aku berani bertaruh kau bisa mengirim SMS padaku itu karena kau minta pulsa dari temanmu. Ini, belilah makan di luar. Aku tidak masak apapun dari tadi malam."
Mata biru laut Luki yang hampir serupa dengan milik Luka itu pun berbinar-binar. "Hah, tumben baik banget. Makasih ya, Luka-chan adikku yang baik!" seru Luki langsung menerjang Luka dan memeluknya. Untung saja Luka sudah bisa menduga hal itu akan terjadi, jadi ia bisa antisipasi dan tidak limbung.
"Iya, iya. Sudahlah, cepat pergi sana sebelum kau mati kelaparan di sini."
"Hum, baiklah!" Kemudian dapat Luka lihat, pemuda berambut merah muda itu sedikit mengernyitkan dahi. "Dahimu kenapa, Luka-chan? Habis terbentur dinding atau sesuatu?"
"B-bukan apa-apa."
"Rasanya sakit?"
"Tidak sakit kok."
"Benarkah?"
"Iya." Luka hanya tidak ingin orang lain mengkhawatirkannya. Makanya dia berbohong. Padahal memarnya itu sekarang lagi nyut-nyutan.
Dan sebagai seorang calon aktris yang baik, Luka dituntut untuk pandai berakting. Meskipun bukan berarti harus begini juga.
"Baiklah. Aku berangkat, Luka-chan!"
Terkadang Luka bingung, sebenarnya di antara mereka itu mana yang lebih pantas jadi kakak dan mana yang lebih pantas jadi adik?
"Kalian sungguh kakak-adik yang menarik." Gakupo akhirnya bersuara kembali setelah memastikan Luki telah keluar dari rumah kediaman Megurine.
"Lalu?"
"Tidak apa-apa." Gakupo mengikuti Luka yang berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa. Ia pun duduk di sampingnya. "Hanya saja... kau yang dingin dan kakakmu yang agak hiperaktif itu... begitu kontras."
"Saudara kembar bahkan tidak sama sifatnya," jawab Luka sekenanya, memeriksa belanjaannya.
"Iya sih." Tatapan Gakupo kembali terpaku pada memar di dahi Luka untuk kesekian kalinya. "Megurine-san..."
"Apa?"
"Tidakkah kau obati luka memarmu ini?"
Luka kembali melirik Gakupo dengan tatapan tajam, kemudian ia berdiri dan berjalan menuju kotak obat yang tertempel di dinding dekat jalan menuju dapur. "Lihat, aku ingin mengobatinya, kau puas?"
Gakupo tidak menjawab, selagi ia memperhatikan Luka yang kembali duduk dengan obat dan air minum di tangannya.
Gadis semampai itu pun memasukkan obat tablet itu ke dalam mulutnya, dan disusul dengan air minum.
Seusainya, mereka pun hanya berdiam diri.
"Hei, Gakupo."
"Iya, ada apa, Megurine-san?"
"Kenapa kau berpikir Kaito bisa ingin mengalami hal seperti yang kualami ini? Maksudku, apa maksudmu dengan 'rata-rata orang yang terobsesi dengan ilmu gaib pasti akan merasakan hal seperti itu'?" Rupanya Luka masih terpikir oleh hal itu.
"Yah, itu setahuku sih... Bahkan, kau tahu? Ada orang yang sengaja mengarang cerita hantu yang tidak pernah terjadi hanya sekedar karena ingin dianggap hebat, tapi hal itu malah membuatnya yang merugi karena dialah yang sungguh bertemu dengan hantu tersebut. Dan ada juga yang berharap mengalami kejadian hantu yang mengerikan, sehingga dia sengaja melakukan suatu ritual yang membuatnya malah terjebak dalam labirin yang lebih mengerikan dari yang ia bayangkan."
"Oh..." Walaupun sebenarnya Luka tidak begitu percaya, tetapi ia lebih memilih untuk mempercayainya saja untuk saat ini.
Kemudian hening lagi.
Dan sambil meminum minumannya lagi, iris biru laut Luka menangkap ada sesuatu yang salah dengan pemuda itu.
"Ada apa? Kau seperti ingin mengatakan sesuatu."
"Hum, lukamu itu masih terasa sakit?"
"Masih lumayan sih, tetapi sudah lebih baik daripada tadi."
Kemudian tanpa ada yang menyadari apa yang sebenarnya terjadi, tahu-tahu Gakupo mendekat pada Luka.
Dan mencium kening itu—lebih tepatnya, pada bekas memarnya—dengan perlahan dan penuh perasaan. Hanya sebentar dan tidak begitu dalam.
Gakupo.
Mencium.
Dahinya.
Kemudian setelah tersadar, Gakupo dengan segera mengakhirinya dan menatap Luka lekat. "Apa sudah menjadi lebih baik? Ah, anggap saja itu sebagai permintaan maafku karena tadi aku gagal menghentikan insiden itu. Aku janji takkan membuat hal seperti itu terulang lagi dengan cara apapun."
"..."
Butuh beberapa detik bagi Luka untuk sekedar menyadari ciuman itu. Ia tidak merasakan keberadaan benda lembut itu di dahinya—ingat, siapa Gakupo itu—tapi ia bisa merasakan kehangatannya.
Rasa hangat sebagai perwujudan dari perasaan yang Gakupo curahkan di dalamnya.
Oh, tidak. Luka tidak tahu perasaan apa itu. Dan tidak ingin tahu.
Sungguh, ia tidak ingin tahu. Kenapa semua ini terasa begitu familiar?
"A-apa... APA-APAAN YANG KAU LAKUKAN ITU, HAH!"
Kemudian semua kegalauan itu pun tumpah dalam sederet kalimat sumpah-serapah dari Luka. Tapi Gakupo yakin ia lihat wajah itu sangat merah dan tidak menunjukkan gejala-gejala bahwa gadis itu tidak menyukainya.
Yah, biarlah Gakupo menjadi sok tahu untuk kali ini.
.
.
.
.
"Fuah! Aku langsung pulang begitu sadar sudah senja. Ah, yang itu tadi enak sekali makanannya." Luki ber-monolog sambil duduk diatas karpet di depan TV, baru saja pulang dari acara makan mendadaknya tadi. Kemudian ia melirik Luka yang sedang berbaring di atas sofa.
"Luka-chan, apa kau tahu sampai kapan ayah dan ibu pergi?"
"..."
"Luka-chan?"
"..."
"Hello? My sweety imouto? What's happening with you?"
"Diamlah."
"Eh?!"
Luki sebenarnya sudah terbiasa mendapat respon dingin nan judes dari adiknya tersebut, tapi ia rasa kali ini ada yang salah dengan Luka. Maka dari itu, ia pun mendatangi Luka yang sedang berbaring di sofa dengan posisi telungkup, dan mencoba untuk melihat wajahnya walau tertutup oleh helaian rambut panjangnya.
"Luka-chan? Ada apa? Kalau ada masalah, mungkin mau curhat? Gak apa-apa, gratis kok."
"..."
"Eh, kenapa jadi diam lagi..."
"..."
Luki yang tidak kunjung mendapat respon apapun dari Luka pun, hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh, dan kembali duduk di atas karpet sambil menonton TV.
"..."
(Walaupun tidak ada yang menyadari, wajah Luka sekarang sangat memerah, tanpa disadari oleh si subjek. Dan mumpung Gakupo sedang menghilang entah kemana sehabis dia omeli tadi sore, Luka ingin bergalau sepuas-puasnya terlebih dahulu.)
.
.
.
.
Luka akhirnya capek sendiri. Jadi tanpa peduli di mana hantu itu berada sekarang, ia memutuskan untuk tidur duluan.
Dan ketika terlelap tertidur, seberkas memori melesat didalam kalbunya. Menghentak kesadarannya.
"Gakuto-kun, kau jahat!"
.
.
.
.
bersambung.
Balasan review (lagi ngehemat kuota, jadi gak bisa balas satu-satu ._.) :
- Kurotori Rei. Yah, itu 'kan karena Kaito-nya aja yang sedikit aneh. Jadi dia setidaknya pengen merasakan pengalaman spiritual seperti Luka juga... makasih udah RnR ^^
- Akari Hikari. Ini udah lanjut. Lumayan cepet 'kan? Gak sampai seminggu? Hehe, makasih udah RnR :D
- Yamashii Raura. Makasih, makasih udah RnR juga ^^
A/N : Update yang cepat akibat dari mood yang sedang terlampau bahagia. Jadi, mumpung lagi seneng luar biasa karena suatu anime, saya pun cepat-cepat mengetik dan jadilah tidak sampai satu minggu.
Tetapi gak tanggung juga kalau malah jadi makin aneh dan ada bagian yang mungkin agak rumpang karena kurang deskripsi. Maaf ._.
Chapter 3 adalah chapter terakhir, sudah saya tetapkan daripada ntar kepanjangan... kecuali kalau ada perubahan rencana :D
Oke, terimakasih buat yang sudah bersedia membaca fanfic ini, apalagi memberi review. Jadi, mind to review?
(13082015. Perbaikan kata "di" dan segala macam masalah EYD.)
