Tittle : Wishes
Cast : Kim Mingyu - Jeon Wonwoo.
Genre : Romance
Rating : K+
Selamat membaca!
Untuk Kim Mingyu,
Kau tahukan apa yang harus kau perbuat?
Minggu ini Wonwoo seperti tertimpuk batu lalu kehujanan kerikil. Sakitnya sekali, tapi kekesalan kecil-kecilan yang terus dirasanya membuat Wonwoo pusing saking kesalnya.
Tugas kuliah, dosen menyebalkan, barang ketinggalan, sampai urusan adik kecil beranjak besar yang ia sayangi tapi ya, hm. Wonwoo tidak ingin mengumpat jadi bayangkan sendiri. Wonwoo menghela nafas untuk kesekian kalinya. Ia bisa gila jika seperti ini terus.
Rasanya ingin cepat-cepat lulus kuliah, cepat kerja, cepat carikan pacar untuk adiknya supaya tidak menggangu Wonwoo terus-terusan.
Atau mungkin cepat-cepat menikah dengan Kim Mingyu lebih menarik?
Wonwoo mengetukan pensil yang ada ditangannya ke keningnya sambil bertopang dagu dengan tangan yang satunya. Heran, kenapa ia masih bisa berfikir tentang pacar hitamnya di saat penat begini. Tapi memang obat penenang -atau kepanjangannya pelarian ke rasa senang- paling ampuhnya cuma Kim Mingyu.
Tidak mungkin ia menceritakan semua keluh kesahnya pada eomma appa yang sangat mudah khawatir dengan anak-anaknya, mereka akan dengan senang hati membantu menyelesaikan semua masalah anaknya. Memang maksudnya baik, tapi kadang Wonwoo lebih suka menyelesaikannya sendiri. Wonwoo, kan, bukan anak kecil lagi. Pernah suatu saat Wonwoo cerita tentang gurunya saat sekolah dasar yang membuat wajahnya sebagai bahan candaan karena terlalu keesokan harinya, gurunya langsung meminta maaf padanya, sikapnya pun jadi berbeda. Itu malah membuat Wonwoo risih.
Temannya? Mereka cukup kenal dengan Wonwoo yang tersenyum saat senang dan diam saat sedih, tidak akan memaksa Wonwoo cerita jika Wonwoo tidak ingin cerita, tapi tentu saja mereka akan selalu ada jika Wonwoo ingin cerita. Tapi sekarang sahabat-sahabatnya sedang sibuk. Entah pacaran, mengejar dosen, ada kelas, bahkan mempersiapkan pernikahan mereka. Hm.
Tapi mungkin menikah dengan Kim Mingyu memang menarik.
Wonwoo jadi membayangkan bagaimana rasanya setiap bangun pagi disuguhi pemandangan indah Mingyunya yang tampan dan hitam. Pasti mood Wonwoo akan baik setiap hari. Belum lagi Wonwoo pasti sangat sehat karena jantungnya akan bekerja dengan sangat baik tanpa harus olahraga, efek Kim Mingyu memang segitu besarnya. Dan mungkin ada olahraga lainnya?
Bagaimana kalau Wonwoo sakit lagi?
Wonwoo terkekeh mengingat kejadian saat ia sakit hingga Mingyu lari panik sana-sini mencari obat penurun panas padahal Wonwoo hanya pusing hingga wajahnya pucat, tidak demam. Mengunjunginya secepat mungkin begitu Mingyu menyelesaikan kelasnya. Menjejalinya dengan makanan favorit Wonwoo hingga ia sembuh bahkan setelahnya untuk memastikan Wonwoo tidak jatuh sakit lagi. Pensilnya yang tadi mengetuk-ngetuk pelipisnya sudah berada diantara gigi-giginya. Astaga ia jadi gemas sendiri karena pikirannya tentang Kim Mingyu.
Apa setelah menikah nanti Mingyu tetap akan mengajaknya kencan? Tapikan Wonwoo harus mengurus keluarga beserta rumahnya nanti. Eomma pasti marah jika tahu Wonwoo tidak bisa mengurus anaknya dengan baik. Ah kencan dirumah juga sepertinya lebih enak. Lagipula Mingyu jago memasak. Wonwoo bisa meminta apapun makanan yang ia inginkan. Mingyunya memang sangaaat baik.
Lalu,
Apa anaknya akan tampan seperti Mingyu? Wonwoo hanya berharap anaknya tidak mengikuti wajah Wonwoo yang menurutnya sendiri menakutkan. Tapikan Wonwoo laki-laki. Bagaimana cara laki-laki melahirkan? Memang sudah ada male pregnancy tapi bagaimana cara keluarnya? Jadi penasaran. Tapi, bagaimana rasanya menjadi ibu? Wonwoo takut anaknya seperti dirinya, yang kadang tengil kadang sangat diam hingga membuat eomma pusing. Tapi semoga anaknya tidak setengil Mingyu.
Drttt.
Suara ponsel Wonwoo membuyarkan lamunan masa depan indahnya. Ia mengintip sekilas dan menemukan Kim Mingyu menelfonnya. Jadi ingat seharusnya Mingyu datang sekitar...
Wonwoo mengecek jam di tangannya.
30 MENIT YANG LALU.
Selama itukah Wonwoo melamun?
Sudah ah. Mingyunya nanti saja. Toh ia telat juga sudah biasa. Wonwoo mau melanjutkan tugas dari dosen tersayangnya yang disayangkan memberi tugas melulu.
Wonwoo menegakkan badannya dan menetapkan targetnya untuk menyelesaikan tugasnya dalam 1 jam kedepan. Mumpung ada wifi gratis dan cafenya juga nyaman. Kembali memfokuskan dirinya ke laptop didepannya.
Lulus tahun ini, Wonwoo. Ingat itu.
Belum juga Wonwoo mengetik satu paragraf.
"Chagiyaa~"
Raksasa hitam menubrukan tubuhnya di bangku sebelahnya lalu meringsek mendekat ke arah Wonwoo.
Wonwoo menghela nafasnya. Bersiap untuk mode sok ngambek karena Mingyu terlambat lagi.
"Maaf, tadi jalanannya macet sekali. Dan aku harus ke rumah eomma dulu."
Alis Wonwoo naik, biasanya Mingyu akan mengajaknya jika ke rumah eomma.
"Eomma titip ini untukmu."
Mingyu mengeluarkan sesuatu dari ransel navynya. Pie susu buatan eomma Mingyu yang rasanya bintang 10. Mata Wonwoo berbinar sedangkan Mingyu nyengir lebar.
Yasudahlah. Pie susu calon mertua tidak boleh diduakan, apalagi oleh tugas. Anaknya mungkin boleh. #eh
Wonwoo menutup laptopnya dan merebut sekotak pie susu di tangan Mingyu.
Selamat tinggal tugas.
Mingyu memang obat paling ampuh untuk Wonwoo.
1. Ini cuma muncul waktu lagi ngelamun coretjorokcoret.
2. Sebenernya ga ada maksud untuk disambungin sama yang pertama tapi kalau mau anggap aja ini ceritanya masa-masa kuliah-life nya meanie.
3. Kemarin aku terima request plot dari Nikeisha Farras. Makasih banyak sarannyaaa, aku bakal post secepat mungkin
4. Review ya!
