Naruto and All CharacterMasashi Kishimoto.
From Hell, To HellMiseta Harumi Kitara.
Rated : M for Lime in this chapter, later for Gore.
Genre : Crime, Suspense, Hurt/Comfort rather Romance or Drama? I don't care.
Warning : AU, Death Chara, OOC, Gore and Lemon, Not recomended for child, Gaje-ness, Alur yang nggak jelas, Miss Typos bertebaran kemana-mana dan dimana-mana, Pembunuhan diumbar-umbar, YAOI/BL atau apalah anda menyebutnya. Wanna leave it before something happen to you?
Summary : Di atas darah, kuatapi dengan kain putih peredam jeritan. Di bawah darah, kulapisi debu penghisap jejak kematian. Dengan cinta, kupersilakan kau menyeret nyawa korban. Dengan hukum, kusembunyikan dirimu di balik lindungan setan...
.
.
Don't Like, Please Click Back
.
.
Happy Reading, Minna! Enjoy...
.
.
.
.
Siapakah yang paling cerdas di antara kalian semua?
.
.
.
.
Sunagakure, 12 March 20xx. 2.00 p.m.
Sasuke menatap Kiba tak percaya. Hyuuga? Kalau tak salah gadis bernama Hinata Hyuuga itu adalah teman Naruto sewaktu kuliah. Mantan teman kekasihnya, setidaknya sebelum gadis itu ditemukan tewas secara mengenaskan. Ya, dia sangat ingat dengan gadis pemalu itu. Mata lavender khas keluarga Hyuuga tak mungkin dia lupakan, menatapnya dengan lembut. Tidak, sekarang bukan saatnya untuk mengagumi nona Hyuuga, sekarang saat bagi detektif berbicara. Didengarkannya setiap penjelasan panjang lebar sang Inuzuka, sesekali berpikir mencari simpul.
Simpul? Kalian pasti bertanya seperti itu. Setiap kali dirinya tengah terjebak dalam sebuah kasus, dicobanya untuk mencari motif terlebih dahulu, karena motif selalu menjadi jalan keluar terbaiknya. Namun penjelasan panjang lebar Kiba terlalu detail baginya, entah mengapa. "Kau mengenal Hyuuga?," kali ini bukan dirinya yang bertanya, melainkan pemuda berambut nanas di sampingnya.
Rupanya Shikamaru menyadari, matanya berkilat tak senang mendengar penjelasan Inuzuka yang panjang lebar. "Ya. Dia temanku semasa SMP, dan kami cukup dekat...," aku sang dokter bedah muda itu. Tak peduli Nara tengah mendengus kesal entah mengapa, dia tetap menceritakan bagaimana kedekatan dirinya dengan nona Hyuuga. Dari kisah itulah, Sasuke mendapat sedikitnya gambaran kehidupan sang korban. Dapat disimpulkan, Hinata adalah gadis pemalu yang jarang bersosialisasi. Setidaknya itu akan memudahkan dalam investigasi kasus ini.
Namun satu hal yang kembali memuat sang detektif berdarah Uchiha ini mengeluarkan suara untuk bertanya, bagaimana caranya Inuzuka mengetahui bahwa korban kali ini? Namun sama seperti sebelumnya, dirinya sudah didahului sang Nara yang bosan mendengar cerita panjang lebar dari sang ketua tim forensik.
"Oh, itu. Sebenarnya dulu sewaktu kami SMP, Hinata tak percaya bahwa kakaknya, Neji, adalah sepupunya. Maksudku, dia selalu percaya Neji adalah kakak kandungnya. Untuk membuktikannya, Hinata meminta ayahku untuk uji DNA. Sampel DNA itu yang kugunakan untuk mendeteksi bahwa dia korban kali ini..."
"Bukan, Kiba. Maksud pertanyaanku adalah bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan bahwa itu adalah Hinata Hyuuga sebelum kau mengetes DNA-nya?," tanya Shikamaru semakin dipuncak kesabaran. Mata cokelatnya benar-benar berkilat tak suka, menatap tajam pada sang pecinta anjing. Sedangkan Kiba sendiri, acuh tak acuh mendengarnya. Bahkan tak digubrisnya tatapan mengintimidasi itu. Sudahkah Sasuke katakan bahwa dia sedang tak dalam mood yang baik untuk melihat drama percintaan di saat seperti ini? Dia memang tak mengatakannya dan tak kan pernah mengatakannya, toh dia bisa dapat informasi yang cukup untuk memulai introgasi terhadap seluruh orang yang mengenal nona Hyuuga itu.
Ya, seluruhnya. Tak ada satupun petunjuk yang didapatkan untuk menggiring para polisi menuju sang pelaku. Semua orang berpotensi menjadi pelaku pembunuhan sadis ini. Seluruhnya, tak terkecuali Naruto Namikaze. Mata onyx itu menutup sejenak, tak tertarik mendengar argumentasi dua pemuda di sampingnya. Namun saat itulah dirinya ingat, dicarinya benda kecil berbentuk tabung dengan cairan merah yang mengisinya di dalam kantung celananya. Kedua pasang manik senada warna itu menatapnya penasaran akan tabung kecil berisi darah tersebut. Sasuke memberikan tabung itu pada Kiba yang duduk di hadapannya.
"Apa ini?," tanya Kiba polos. Pertanyaan singkat itu hanya dibalas sebuah kerlingan mata dari sang Uchiha. "Darah. Aku mengambilnya dari genangan darah di TKP. Kupikir tak ada salahnya untuk memeriksa darah itu," ujar Sasuke tak mau repot jika Kiba menanyainya lebih panjang lagi. Pemuda Inuzuka itu mengangguk kecil sebelum kembali ke dalam ruang autopsi. Hening, setelah perginya sang Inuzuka tak ada yang mau membuka suara. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing, entah apa.
"Kalian ada di sini rupanya," suara khas milik Kakashi Hatake memecahkan keheningan yang ada. Mata hitamnya mencoba mendalami apa yang sedang dipikirkan kedua detektif muda di hadapannya. Sasuke dan Shikamaru hanya mengerlingkan mata sejenak, lalu kembali tenggelam dalam pikiran mereka. Benar-benar sikap acuh tak acuh itu sudah mendarah daging pada diri mereka. Kakashi hanya tersenyum gugup, benar-benar tak mampu mencairkan suasana saat ini.
Didudukinya bangku yang berhadapan dengan kedua detektif itu, tempat dimana Inuzuka duduk semula. Mencoba membaca situasi sekali lagi, dirinya hanya terduduk dengan kikuknya. "Hmm... Bagaimana kalau kalian istirahat terlebih dahulu, kalian pasti lelah setelah datang jauh-jauh dari Konoha...," ucapnya mencoba sekali lagi mencairkan suasana. Pasangan manik-manik berbeda warna itu menatapnya tajam, membuatnya merasa gagal mendinginkan kepala dua detektif muda ini.
Kakashi berlalu setelah pamit dengan kikuk pada kedua detektif itu, tak mampu menghalangi rasa haus akan petunjuk keduanya. Selepas kepergiannya, suasana di tempat itu semakin tegang. Namun Shikamaru-lah yang menyerah terlebih dahulu, sudah pening kepalanya menghadapi jalan buntu ini. "Sebaiknya kita istirahat dulu, seperti kata Kakashi...," ucapnya seraya bangkit dari duduknya. Tak disangkanya sang Uchiha setuju dengannya, ikut bangkit dan berlalu. "Kalau hasilnya sudah selesai, jangan lupa memberitaukanku," pesan Sasuke sebelum benar-benar pergi dari sana. Shikamaru hanya mengangguk malas menanggapinya. Setidaknya kini dia bisa istirahat sejenak, ya, hanya sejenak...
.
.
.
.
Jikalau kuberi kau sebuah pertanyaan, mampukah kau menjawabnya?
.
.
.
.
Sunagakure, 12 March 20xx. 2.45 p.m.
Kertas-kertas tak bersalah itu diremasnya menjadi sebuah gumpalan dan dibuangnya ke dalam bak sampah yang sudah penuh. Bertumpuk-tumpuk buku tengah mengelilingi tubuhnya yang terduduk di tengah ruangan. Tak beraturan, semuanya diletakkan begitu saja secara sembarangan sehingga terlihat bagai kapal pecah. Mendengus kesal, kertas itu disobeknya dan menyusul sampah-sampah sebelumnya. Sesekali dipijatnya kepala yang terasa pening, memikirkan nasib tugas akhirnya yang benar-benar menyita waktunya. Benar-benar menyita waktunya.
Naruto bangkit dari tempat duduknya, melenggang menuju dapur mencari air pelepas dahaga. Setelah meneguk segelas air yang menyegarkan, suara bel rumah menggema di seluruh ruangan, membuatnya mengumpat pelan. Siapakah yang berani mengganggunya di saat yang tak tepat seperti ini? Dengan langkah gontai, diseretnya tubuh itu menuju pintu. Melihat sejenak siapa yang tengah memencet bel rumahnya melalui jendela, Naruto berjingkrak senang saat mengetahui sang kekasihlah yang tengah memencet bel rumahnya.
Sebenarnya tadi dirinya menolak untuk membiarkan sang kekasih untuk datang, namun entah mengapa kali ini dia sangat senang saat Sasuke datang. Mungkin dirinya butuh sedikit hiburan kali ini. Dibukanya pintu lebar-lebar sambil memberikan cengiran khas miliknya pada pemuda stoic di hadapannya. Ditariknya sang Uchiha masuk, tak peduli dengan wajah tanpa ekspresi di hadapannya. Sedangkan Sasuke sendiri tak begitu peduli dengan kelakuan kekasihnya. Mata onyx –nya tak pernah lepas dari sang terkasih yang tengah menariknya menuju ruang tengah. Hening, tak ada yang mau membuka suara, sementara Naruto terus menariknya.
Tumpukan buku yang berserakan tak teratur menjadi hal yang pertama kali dilihatnya dalam ruangan ini. Ah, rupanya Naruto benar-benar bersungguh-sungguh akan skripsinya saat ini. Dia tau rasa frustasi Naruto saat menghadapi tugas akhir satu itu, karena mungkin dia pernah rasakan. Err... sebenarnya hanya mengerjakan skripsinya saja yang ia rasakan, tidak dengan rasa frustasi. Sebenarnya dia seumuran dengan Naruto, namun karena saat sekolah dahulu dia selalu masuk kelas akselerasi bersama Kiba dan Shikamaru, hingga dia sudah bisa menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 2 tahun saja. Merasa dirinya hanya jadi pengganggu dalam acara sang kekasih, Sasuke bermaksud untuk pergi saja.
Menyadari bahwa Sasuke akan pergi lagi, Naruto langsung menguncinya dalam sebuah ciuman lembut. Sedikit kasar memang, namun tak jadi masalah bagi pemuda berdarah Uchiha ini. Baginya ciuman lembut―setengah kasar―itu merupakan sebuah ijin untuknya memulai 'permainan' baru. Dibalasnya ciuman Naruto, sesekali menjilat bibir bawah Naruto yang langsung memberikannya akses masuk. Direngkuhnya tubuh yang lebih kecil darinya itu mendekat, memeperdalam ciuman seperti halnya yang dilakukan Naruto yang mengalungkan lengannya di lehernya.
Mata biru itu menutup sempurna saat lidah sang kekasih menyapu seluruh bagian mulutnya. Mereka terus seperti itu, bertarung lidah hingga napas dalam paru-paru menipis, nyaris habis. Sebenang tipis saliva masih menghubungkan kedua lidah yang sempat beradu tersebut. Tak terasa panas itu menjalar keseluruh tubuh, membentuk sebuah garis tipis merah samar di kedua belah pipi masing-masing.
Merasa tempat ini tak layak untuk pergumulan mereka, Sasuke mengendong sang pemuda Namikaze menuju kamarnya di lantai dua. Mata biru laut itu hanya menatap wajah sang terkasih, tak peduli apa yang akan dilakukannya nanti. Sesampainya di kamar, Sasuke langsung membaringkan Naruto di ranjangnya. Tak peduli dengan tugasnya, toh dia sedang penat saat ini. Bermain-main dengan sang terkasih memanglah sebuah hiburan yang paling menyenangkan. Namun ingatlah, mereka tak melakukan itu tanpa ada dasar nafsu belaka, namun juga cinta yang tak terkira dalamnya.
Dicumbunya tengkuk sang kekasih, mencari sebuah titik kelemahan yang mampu memberikan sensasi tersendiri bagi sang Namikaze. Tangan-tangan berbalut kulit tan itu mengelus pelan rambut hitamnya, sesekali menariknya pelan. Entah mengapa, terbesit di benak Sasuke untuk mengintrogasi sang terkasih di saat dirinya dalam ekstasi bercinta. "Naruto...," panggilnya dengan nada serak nan berat, menatap biru laut yang setengah menutup di balik tirainya, sedangkan tangannya bergerilya melepas satu per satu kancing kemeja Namikaze.
Naruto hanya mengerang kecil saat Sasuke berhasil menemukan puncak di dadanya, merabanya perlahan dan memberikan sensasi nikmat tak terkira. "Aku sudah mendapatkan hasil autopsinya tadi―," ucap Sasuke sambil sesekali menarik nipple yang mulai menegang, "―dan korbannya adalah temanmu, Hinata Hyuuga..."
Kalimat Sasuke barusan diacuhkan Naruto yang dalam kenikmatan, tak peduli dengan kasus yang ditangani sang kekasih. "Naruto, kapan terakhir kali kau melihat nona Hyuuga?," tanya Sasuke frontal, lidahnya bergerak menjilati dada bidang sang Namikaze. Naruto mendesah pelan, tak menjawab pertanyaan yang terlontar. Melihat tak ada respon akan pertanyaannya, Sasuke mulai menghisap pelan nipple yang sudah merekah itu, "Jawab, Naruto..."
"Ahhnn~ Mmhh... Se-sekitar dua ha-hari yang lalu d-di taman kota... Shh..."
Sasuke tersenyum kecil, masih memainkan kedua nipple itu. Mata onyx –nya menelusuri setiap jengkal tubuh sang pemuda manis bermarga Namikaze ini. "Kau yakin, hm?," tanya Sasuke lagi, tangannya berpindah ke bagian bawah menuju 'sesuatu' yang sudah menegang namun terkekang di sana. Naruto mengangguk kecil nan lemah, dia sudah tak sabar lagi. Peduli setan dengan pertanyaan Sasuke, dia sudah tak tahan lagi.
Dibaliknya posisi, sehingga dirinyalah yang berada di atas sang Uchiha di hadapannya kini. "Hei, Naruto? Apa yang kau lakukan, hm?," tanya Sasuke sedikit kesal karena posisi mereka sudah berubah. Mata biru laut itu menatapnya seduktif, mengisyaratkan bahwa dirinya tak tahan lagi. "Ayolah, Sasuke... Aku membutuhkanmu...," ucap Naruto menggoda Sasuke di bawahnya. Sasuke menyeringai kecil, "As you wish..."
Dan kembali posisi berubah seperti sedia kala untuk dilanjutkan...
.
.
.
.
Siapakah yang paling kuat di antara kalian semua?
.
.
.
.
Sunagakure, 12 March 20xx. 2.57 p.m.
Kiba tengah menunggu hasil sampel darah yang diberikan Sasuke. Berkali-kali jari-jari itu mengetuk meja dengan tak sabar. Matanya membulat seketika saat dirasanya sebuah tangan besar merengkuh tubuhnya dalam sebuah pelukan. Dia tak tau harus apa saat ini, namun saat diciumnya aroma khas Shikamaru, dia hanya terdiam dalam pelukan. "Kiba...," panggilan yang terdengar seduktif itu terlantun dari bibir sang Nara.
Kiba terdiam, entah apa yang tengah dipikirkannya. Namun yang jelas itu malah membuat Shikamaru semakin jengkel. "Jangan pernah menceritakan tentangnya lagi, Kiba...," pinta Shikamaru to the point. Tak suka, dirinya benar-benar tak suka. Pada kisah seorang gadis yang pernah singgah di hati sang tercinta. Masa lalu, ya gadis itu adalah masa lalu. Yang kini telah mati terbujur kaku. Shikamaru tersenyum kecil, entah apa arti di balik senyuman itu, Kiba tak tau. Namun kali ini Kiba serius, tak mau dirinya membuat kesalahan barang setitikpun. Karena itu semua akan memengaruhi seluruh pemeriksaannya.
Ditepisnya tangan yang melingkar di pinggangnya, sehingga Nara terkejut dibuatnya. Bangkit dari tempat duduknya, Kiba beranjak menuju mesin di pojok ruangan. Mata cokelat itu tak berani menatap mata dengan warna senada sepertinya milik pemuda Nara walau sedetik saja. Takut, dia takut. Takut kehilangan Nara karena rasa cemburunya. Dia juga cemburu, dia tau. Dia cemburu pada gadis berambut pirang panjang yang menjadi assisten pemuda malas itu. Ino Yamanaka, siapapun tau siapa gadis cantik itu. Gadis cantik yang selalu menjadi mimpi buruknya akan kehilangan sang Nara. Dan entah mengapa, mulutnya tak berhenti bicara akan Hinata yang pernah singgah di hatinya beberapa tahun silam dengan mulusnya di depan Nara dan Uchiha. Mungkin ini balasan, mungkin saja. Dia juga ingin Shikamaru tau rasa cemburunya. Dan mungkin dia berhasil saat ini, tapi tetaplah terasa sakit baginya.
Mengenakan sarung tangan karet, Kiba mulai melihat hasilnya. Diambilnya tabung reaksi yang berada dalam mesin itu. Dengan sebuah kaca preparat, diteteskannya sampel darah itu dan diamatinya melalui mikroskop. Positif milik Hinata, namun sebagian bukanlah darah gadis Hyuuga itu. Entah mengapa ada sedikit yang menggumpal, sepertinya berbeda golongan dengan milik Hinata. Lalu siapa?
Shikamaru yang memperhatikannya sedari tadi akhirnya angkat bicara. "Bagaimana, Kiba?," tanyanya tenang, bagai kejadian tadi tak pernah terjadi. Kiba menggeleng pelan, dahinya berkerut bingung. "Sepertinya ada darah orang lain di sini...," jawabnya menatap Shikamaru untuk yang pertama kalinya di ruangan ini. Matanya menatap serius, benar-benar takut akan darah itu. Jika darah itu milik sang pelaku, mungkin akan menguntungkan. Namun jika itu adalah darah orang lain? Maka jawabannya adalah ada korban lain selain Hinata Hyuuga.
Ini akan semakin merepotkan kepolisian. Satu kasus, dua korban, akankah korban yang satunya bisa ditemukan? Kalau iya, maka apakah kondisinya akan sama seperti Hinata? Akan semakin sulit jika korban berikutnya ditemukan dengan kondisi yang menyerupai korban sebelumnya. Shikamaru memijat keningnya yang sudah pusing memikirkan kasus ini. Benar-benar merepotkan pembunuh satu ini. Datang membawa korban, pulang tanpa meninggalkan jejak. Sama sekali tak ada bukti, sangat rapi dan sempurna. Apalagi setelah pernyataan bahwa korban sebelumnya hanya dibunuh dengan sebuah kapak.
Tunggu dulu. Kapak? Berarti kapak yang digunakan bukanlah kapak yang biasa digunakan untuk menebang pohon. Kapak ini harus lebar, kapak ini harus besar. Dengan ketajaman yang sangat mengkilat, kapak ini haruslah sedikit lebih tipis di ujungnya. Tidak, bukan gergaji. Ini kapak, dengan pisau datar tak bergerigi, sehingga tubuhnya akan mudah dipotong rapi seperti pisau para pemotong daging. Dan untuk melakukannya dibutuhkan sebuah tempat untuk membaringkan korban untuk memotongnya. Gudang usang itu tak mungkin jadi saksi bisu pembunuhan itu, karena tak terdeteksi adanya bekas goresan kapak yang dalam.
Kemungkinan besar pembunuhan ini dilakukan di luar gudang itu. Kemungkinan besar pembunuh hanya membuat gudang itu menyerupai sebuah tempat pembunuhan dengan menyiram darah sang korban. Benar juga, itu bisa menjelaskan mengapa bagian leher dimana mayat disandarkan ke dinding tak tampak bercak darah, karena pembunuh memposisikan leher nyaris putus korban menyatu dengan bagiannya seperti sedia kala. Ya, kemungkinan besar darah itu disiramkan pada korban. Kalau begitu...
"Kiba, apa sewaktu kau memeriksa mayatnya darahnya nyaris habis?"
"Tentu saja, luka besar seperti itu pasti menyababkan perdarahan hebat."
Gotcha! Itulah jawaban yang diinginkan Shikamaru. Berarti pelaku menadahi darah korban selagi memutilasinya. Setelah darah terkumpul, pastilah digunakannya untuk menciptakan sebuah tempat pembunuhan. Namun karena darah itu banyak yang terciprat di tempat pembunuhan yang sebenarnya, maka pelaku akan menggunakan darah tambahan. Dan pembunuh itu tak kan menyia-nyiakan darahnya sendiri untuk membuat tempat pembunuhan palsu itu. Dia akan membunuh lagi, menadahi darah korban berikutnya untuk menambah pasokan darah yang dibutuhkannya untuk disiram pada korban sebelumnya. Ya, itu pastilah kebenarannya. Ya, itu pastilah kunci gerbang misterinya.
.
.
.
.
Jikalau kuberi kau benang merah penghubung jiwa, mampukah kau memutuskannya?
.
.
.
.
Sunagakure 12 March 20xx, 2.59 p.m.
Dua tubuh terbaring lelah di balik selimut putih itu. Pergumulan yang berakhir beberapa detik yang lalu itu membuat dua sejoli dimabuk cinta itu kelelahan, menguras tenaga mereka berdua. Tak sempat diri menutup mata untuk beristirahat, sebuah panggilan dari ponsel Sasuke menyadarkannya kembali. "Halo?," ucapnya setelah berhasil menemukan ponselnya di antara tumpukan baju yang berserakan di lantai.
"Aku sudah mendapatkan beberapa penemuan bagus... Hasil tes darah itu juga sudah keluar."
Mata kelam Sasuke terbelalak kaget, secepat inikah? "Kau menemukan apa?," tanyanya penasaran dengan nada yang cukup keras, sehingga membangunkan Naruto yang tengah terlelap. "Datang saja ke―." Panggilan lainnya masuk sehingga membuat Sasuke harus menghentikan kalimat Shikamaru. Dialihkannya sementara panggilan dari Shikamaru, saat melihat nama pemanggil baru yang tertera di sana. "Ada apa, Sakura?," tanyanya pada penelpon yang baru saja menghubunginya. "Sebaiknya kau segera ke Kantor Kepolisian Suna, sudah ada beberapa orang yang akan kita introgasi...," ucap gadis di seberang sana melaporkan. Sasuke mengangguk kecil, "Aku akan segera ke sana...," ujarnya sebelum kembali ke pemuda Nara yang tengah menunggunya. "Sebaiknya kita langsung ke Kantor Kepolisian. Kita akan mulai mengintrogasi beberapa orang...," ucapnya yang hanya dibalas dengan desah napas panjang dari pemalas itu.
Setelah memakai kembali pakaiannya, Sasuke hendak pergi jika saja Naruto tak memanggilnya. "Kau akan pergi, Sasuke?," tanya Naruto dengan nada sebal. Padahal baru saja Sasuke datang dan kini harus pergi lagi. Padahal baru saja dia merasakan kehangatan sang kekasih dan kini dia akan ditinggal lagi. Dengan sebuah senyuman terpoles di wajahnya, Sasuke mendekat pada Naruto. Dikecupnya sekilas bibir pemuda Namikaze itu. "Aku ada tugas, Naruto... Kumohon, mengertilah...," ucapnya dengan nada kasih di setiap katanya.
Naruto akhirnya mengangguk dan tersenyum kecil walau sedikit dipaksakan, membuat Sasuke senang dan kembali mengecup bibir pemuda manis itu. "Naruto, boleh aku minta air? Aku haus...," pintanya sebelum beranjak dari kamar. Naruto mengangguk kecil dan berkata, "Ambil saja di dapur. Aku akan segera menyusulmu."
Sasuke tersenyum kecil sebelum akhirnya turun ke lantai dasar menuju dapur. Dapur rumah Naruto berada di dekat ruang tengah, sehingga membuat Sasuke sedikit kewalahan berjalan di antara buku-buku yang berserakan di sana. Tepat saat Sasuke berada di depan dapur, matanya tertuju pada sebuah ruangan yang berada di ujung koridor. Naruto selalu melarangnya untuk mendekati ruangan itu. Katanya ruangan itu hanya gudang, namun karena tak sempat Naruto membereskan barang-barangnya, jadilah ruangan itu kosong. Rasa penasaran Sasuke semakin tumbuh, mengapa Naruto tak menggunakan ruangan kosong itu sebagai ruang kerja? Jika ruang itu bisa dijadikan ruang kerja, bukankah Naruto tak perlu repot untuk membereskan ruang tengahnya yang menyerupai kapal pecah?
Kecurigaan Sasuke semakin bertambah saat dirinya berada dalam jarak satu meter dari ruangan itu. Bau anyir khas darah menyengat pernapasannya, dan dia yakin bau itu berasal dari ruangan kosong itu. Tangannya meraih kenop pintu, bersiap memutar dan membukanya hingga...
"Sasuke? Apa yang kau lakukan di sana?"
Pertanyaan yang terlontar itu membuat Sasuke sedikit tersentak kaget, mata onyx –nya langsung beralih pada mata sapphire sang Namikaze. "Tidak ada. Hanya penasaran dengan ruangan ini...," ucapnya santai, masih terkejut dalam hati. Naruto hanya mengangguk kecil, "Di sana tidak ada apa-apa... Oh, iya. Kau kan harus ke Kantor Kepolisian?," tanya Naruto mencoba mengingatkan. Pemuda Namikaze itu masih berdiri di dekat dapur, tak berjalan mendekati Uchiha. Sasuke menghela napas, sebelum akhirnya mengikuti langkah Naruto menuju depan rumah.
.
.
.
.
Cintaku ini tak terbatas bagai benang penghubung langit dan bumi, sayang...
.
.
.
.
Sunagakure, 12 March 20xx, 3.10 p.m.
Shikamaru dan Kiba sudah sampai terlebih dahulu dibandingkan Sasuke. Mereka masih menunggu kedatangan detektif Uchiha itu, ditemani seorang Inspektur muda Kepolisian Suna. Mata mereka semua langsung tertuju pada pemuda berambut eksentrik yang sedari tadi ditunggu. "Kau terlambat, Sasuke...," sindir Kiba pada sang Uchiha yang baru saja sampai. Sasuke tak menggubris kalimat Inuzuka dan berkenalan dengan Inspektur muda itu.
"Sasori Sabaku... Senang bisa bertemu denganmu, Sasuke Uchiha..."
"Hn. Aku sudah tau kau dari Sakura..."
"Hm? Benarkah?"
"Ya, dia selalu bercerita tentangmu."
Sasori tersenyum kecil, sebelum akhirnya mereka diajak menuju ruang introgasi. Ruangan itu masih sepi, rupanya polisi Sunagakure sudah melakukan beberapa introgasi pada orang-orang itu sebelum mereka datang dan memberikan orang yang mencurigakan untuk diintrogasi kembali oleh kedua detektif muda itu. "Jadi, apa yang kau temukan?," tanya Sasuke dengan nada tertarik pada pembicaraan mereka di telepon tadi.
Shikamaru menatap Sasuke sejenak, sebelum akhirnya berbicara. "TKP itu bukanlah tempat eksekusinya. Tempat itu hanya dibuat seperti tempat eksekusi dengan menyiramkan darah pada korban. Dan aku yakin korbannya tidak hanya Hinata saja karena darah untuk membuat TKP itu kurang kalau hanya menggunakan darah milik Hinata..." Sasuke diam mendengarkan, mencoba mencerna penjelasan Shikamaru. "Masalah alat yang digunakan, aku yakin pastilah sebuah kapak besar yang menyerupai tajamnya sebuah pisau potong daging. Dan Kiba juga bilang, darah dan mayat mengalami pembusukan yang bervariasi."
"Maksudmu?"
"Yeah... Korban dibunuh sudah kurang lebih seminggu yang lalu, sedangkan darahnya karena campuran sepertinya diawetkan dan baru terkontaminasi udara sekitar dua hari yang lalu. Itu menjelaskan banyaknya orang yang diintrogasi mengatakan bahwa mereka terakhir kali melihat Hinata sekitar seminggu yang lalu..."
Sasuke mengernyitkan dahinya. Seminggu yang lalu? Kenapa Naruto mengatakan dia melihat Hinata sekitar dua hari yang lalu? Kecurigaan Sasuke semakin menguat pada Naruto setelah mencium bau darah dari ruangan kosong di rumah sang terkasih, apalagi setelah dia mengingat kejadian 4 tahun yang lalu. Kejadian yang benar-benar tak Sasuke duga sebelumnya, namun tetap dirahasiakannya agar sang terkasih mampu hidup tenang. Ya, dia melindungi Naruto dari jerat hukum di kala itu. Namun, jika benar pelaku pembunuhan ini adalah Naruto, akankah dia melindunginya lagi? Atau haruskah dia melindunginya lagi?
Namun Sasuke masih berpikir positif, Naruto mungkin saja salah lihat orang dan mengira itu Hinata. Namun bagaimana dengan bau darah dari ruang kosong itu? Tak mungkin jika Sasuke salah mendeteksi bau anyir khas yang menyengat itu. Teringat musim panas lalu, Sasuke tersenyum kecil. "Naruto, kau suka mengumpulkan mayat hewan yang sudah diawetkan, bukan?," batinnya mengingat kebiasaan aneh Naruto yang suka berburu dan mengawetkan hewan liar.
Seorang pemuda berambut cokelat panjang memasuki ruangan itu. Mata khas seorang Hyuuga-nya menatap tajam kedua detektif yang akan mengintrogasinya. Dia duduk di kursi yang sudah disediakan, tepat di hadapan Uchiha dan Nara. "Jadi anda adalah..."
"Neji Hyuuga, aku sepupu Hinata..."
.
.
.
.
Percayalah, kau boleh menguji seberapa murni cintaku ini. Apapun maumu, akan kulakukan, sayang. Aku rela...
.
.
.
.
Sunagakure, 12 March 20xx, 3.00 p.m.
Tepat setelah kepergian Sasuke, Naruto berjalan menuju dapurnya dengan langkah ringan. Ah, rupanya dia bukan menuju dapur, tapi ruangan di ujung koridor. Dibukanya pintu kayu itu perlahan, gelap sekali. Tak ada penerangan di sana, namun Naruto tetap melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. "Hampir saja kau ketahuan, Karin...," ucapnya entah pada siapa setelah ditutupnya pintu itu, "Aku tak kan bisa menjelaskan segalanya kalau Sasuke berhasil menemukanmu..."
Hening. Kalimat Naruto bagaikan angin lalu, diabaikan begitu saja. Naruto terus bergerak masuk ke dalam ruangan gelap itu. Tangan berbalut kulit tan –nya menyentuh sesuatu di dinding ruangan itu. "Ah, Sasuke pasti akan marah kalau tau, gara-gara aku lupa membersihkannya...," gumamnya sambil mengusap benda entah apa itu. Dijilatnya jari yang baru saja digunakannya untuk mengusap benda itu, sepertinya Naruto sangat menyukainya. "Hmm... Salahmu juga sih, untuk apa menggangguku saat seperti ini...," ucapnya lagi, kini tangannya menemukan sebuah tabung yang berisi entah apa di dalam ruangan itu. Dikocoknya tabung itu dengan gembira, bagai anak kecil yang mendapat sebuah mainan Chrismast in Crystal. "Terima kasih untuk hadiahnya, aku suka lho!," ucapnya lagi masih tak ditanggapi apapun oleh yang diajak berbicara.
Selangkah demi selangkah, Naruto berjalan lebih dalam. Rupanya ruangan itu lebih luas dari yang terlihat. Krakk! Entah apa yang diinjak Naruto sehingga patah. "Ops! Maafkan aku, Karin... Aku mematahkan kacamatamu...," ucapnya sambil memungut kacamata yang remuk diinjaknya. Walaupun gelap, Naruto masih mampu melihat kacamata pecah itu. "Yaah... hancur...," ucapnya kecewa. Kakinya bergerak menuju sudut ruangan, ditekannya sakelar lampu yang membuat pandangan menjadi lebih terang. Ruangan itu dipenuhi berbagai macam benda. Ada seekor beruang cokelat besar mati yang diawetkan dengan badan diposisikan berdiri tegap, siap menyerang siapapun yang masuk. Lalu ada hewan-hewan yang diawetkan lainnya seperti serigala hutan, rusa Elk, musang dan lain sebagainya. Selain itu ada juga peralatan semacam gergaji mesin, pisau dapur, pisau bedah hingga sebuah kapak raksasa yang tergantung di sana.
Sebuah kapak raksasa yang didapatkannya dari Spanyol, berbentuk unik dan sangat tajam namun masih ternoda darah. Darah merah kental itu mulai memudar warnanya. Rupanya yang baru saja dijilat Naruto adalah darah yang masih menodai kapak raksasanya, terlihat dari bekas tangan Naruto yang mencoba membersihkannya. Sedangkan tabung yang dikocok Naruto adalah sebuah tabung berisi cairan pengawet dengan beberapa benda di dalamnya seperti jantung dan sebuah bola mata dan berlabel 'Hinata'. Namun Naruto tidak takut akan benda-benda yang tergolong menyeramkan itu, dirinya kini tengah sibuk menyatukan kembali kacamata yang baru saja diinjaknya. Setelah menyatu dirinya berjalan menuju kapak raksasanya. Tepat di bawah kapak itu, sebuah kepala seorang gadis diletakkan di atas meja. Mata gadis itu memutih semua memancarkan ketakutan yang teramat, namun wajahnya tetap dijaga Naruto agar tak tergores sedikitpun.
Diletakkannya kacamata itu di batang hidung gadis itu sehingga gadis itu memakai kacamatanya. "Nah, sudah selesai! Jangan marah, ya? Kau kan teman curhatku...," ucap Naruto masih dengan senyumannya pada kepala itu. Naruto berbalik, mematikan kembali lampunya dan menutup pintunya. Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, pemuda Namikaze itu sempat berbisik. "Adios, mi amigo..."
.
.
.
.
Membunuhmupun akan kulakukan, sayang. Aku rela...
.
.
.
.
.
.
~Tsudzuku~
.
.
A/N : Ayeeeyy! Akhirnya selesai chapter duanya!#nari gaje. Maaf jika lama, saya sendiri illfeel menulisnya... OK, mari kita balas review dulu!
Haruka Hayashibara : Ini saya sudah update. ^.^
Fengtian Mai : Ahahaha... Saya memang suka menakut-nakuti anda, kak Tian Mai! Eh, makasih lho doujin Yaoi-nya. Sugoi! Kakak sendiri gimana itu laptopnya, kok bisa meledak sih? Wkwkwk... Aku dikasih tau kak Tian Lou pas kelulusan SMA!#digebukin Tian Mai.
mrs. asuka : Iya, memang Hinata harus jadi korban pertama. Biar kerasa gimanaaaa gituuu~. Naruto, ya? Udah kejawab di chapter ini, kan?
Neka-neko miaw : Gore-nya tenang saja. Setiap pembunuhan akan berbeda-beda, kok, walau masih sama-sama dimutilasi. Tapi saya nggak jamin bakal serem banget, karena sayanya penakut#ngaku.
OK, sudah semua? Baiklah, akhir kata : RnR, please?
