a BTS fic

Friendzone.

.

.

Cast (s) : Maknae Line Bangtan Boys

Kim Taehyung, Park Jimin, Jeon Jungkook

Pair : MinV!, KookV!, other.

Anggap saja mereka disini seumuran *ketawa sumbang*

Last chapter.


Menginjak ke tahun ketiga, Jungkook dan Jimin sama sama masuk tim inti club sepak bola sekolah mereka, beberapa kali mengantongi gelar juara untuk membanggakan nama sekolah. Berdampak pada fans mereka yang semakin membludak tak terelakan. Pun dengan Taehyung, setelah survive dari mata rubah Oh Sehun dan akhirnya laki-laki itu lulus tanpa berhasil menyentuhnya, Taehyung kini populer menjadi senior di club nya dengan penuh kharisma dan canda tawa. Senandungnya dengan alat musik jazz itu tidak main-main menyita perhatian gadis-gadis adik kelas labil dan juga uhm.. laki-laki yang mempertanyakan ke manisannya. Taehyung manis?Uh, mereka belum tahu saja kalau itu hanya cover karena Taehyung adalah tujuh puluh persen perseratus memiliki jiwa berandal, tukang cabut, tukan ngeyel, dan juga cerewetnya agak aneh.

Suatu malam di penghujung bulan oktober, Taehyung yang suka kamarnya redup melihat adanya cahaya masuk ke celah jendela depannya dari arah balkon, cahaya itu bergerak-gerak ke seisi kamarnya. Taehyung bangkit dari acara malas-malasan sambil membaca webtoon. Ini belum larut, masih jam setengah delapan malam omong-omong. Dia menilik ke balkon untuk tau ternyata cahaya itu berasal dari rumah seberangnya, rumah Jimin. Disana, dibalkon seberang, Jimin melambai sambil tersenyum bodoh, sebelah tangannya masih menggoyangkan senter yang cahayanya kadang menusuk mata Taehyung. Lagu Until The Day I Die teralun di ruang kamar Taehyung, nada dering untuk telpon masuk. Taehyung langsung meng-close webtoon nya dan mengangkatnya tanpa melihat nama pemanggilnya. Jimin disana menempelkan telinga ke ponselnya, sudah tahu bukan siapa yang menelepon Taehyung.

"Dasar sial, kau kurang kerjaan apa?" itu Taehyung menatap Jimin lurus dari balkon kamarnya ke balkon kamar Jimir tepat di seberangnya.

"Hai, Taetae, aku butuh bantuanmu."

"Bantuan apa, Chim? Dan tolong matikan sentermu, mataku sakit brengsek."

"Ajari aku belajar bahasa inggris, please? Besok aku ulangan dan aku sudah buntu untuk belajar sendirian." Jimin merajuk, dari ponselnya Taehyung bisa mendengar kekehan tipis Jimin dan bunyi klik senter dimatikan.

"Kau payah, aku tahu itu. Kenapa tidak minta diajarkan Jungkook?"

"Konyol kalau aku menggantungkan harapanku ke orang yang hanya bisa berkata Pardon sambil pasang muka songong. Ayolah, kalau sains aku akan percayakan dia, tapi kalau English, aku lari padamu Tae."

Taehyung tergelak tawa. "Oke, tinggal kemari saja, tidak perlu seperti romeo begitu."

"Oh, kau mau jadi julietnya rupanya?"

"Jangan banyak bicara, kemari dan bawa biskuit rasa keju baru kau akan kumaafkan setelah mengataiku seperti wanita."

"Aih, galaknya julitaehyungie." Jimin masih mencoba usil.

"Kuingatkan, kau, Jim. Aku masih bisa menjerumuskan ilmu bahasa inggris yang salah." Taehyung memutar bola mata jengah, akhir-akhir ini Jimin suka sekali menggodanya dengan sebutan-sebutan aneh.

"Iya bangsat, aku kesana." Jimin terkekeh lagi.

Acara belajar berjalan mulus dengan Taehyung sebagai tutor sementara. Dia agaknya merasa lebih berguna sekarang karena biasanya dia suka merecoki Jimin untuk mengajarinya matematika.

Kamar Taehyung cukup luas, ada karpet beludru warna abu yang tergelar dibawah meja bulat dengan tinggi rendah, didepan meja itu tersuguh serangkaian speaker, televisi, play station, lalu di ujung kanan tersimpan rak buku dan lemari pakaian. Kasur Taehyung bisa muat dua orang, ini diantisipasi oleh orang tuanya karena Taehyung kalau tidur suka kemana-mana.

Beberapa bungkus cemilan berserakan, buku-buku masih terbuka dan sedikit terlipat dibeberapa ujung sisinya, karpet kotor oleh remah keripik kentang dan sisa penghapus, satu piring lebar bekas kukis jahe dan dua mug susu cokelat yang tinggal separuh dibiarkan. Jam setengah sebelas malam. Pemilik kamar terlihat KO terlentang bebas diatas kasur dan tamunya masih sibuk membongkar isi leptop Taehyung.

"Kau ada Mockingjay Part 2 tidak, Taetae?" Jimin bergerak mencolokan flashdisk putih yang dibawanya ke leptop Taehyung.

"Ada sepertinya, cari di Data disk E lalu masuk folder Movies." Taehyung menyahut, kekuatan daya matanya sudah tinggal beberapa watt saja, membuka dan menutup tapi kakinya masih menggantung bergerak-gerak diujung kasur.

"Kau sudah mengantuk?"

"Uhm, kau kapan pulang, ini sudah larut."

Derit kasur terdengar selanjutnya karena beban diatasnya bertambah. Jimin berguling setelah meninggalkan leptop Taehyung bekerja mengkopi film Mockingjay part 2 incarannya. Dia berbaring dekat sekali dengan Taehyung. "Aku tidur disini saja kalau begitu."

"Malas sekali kau berjalan menyebrang sepuluh meter." Taehyung sudah benar-benar menutup mata, menghiraukan tangan Jimin yang mengelus-ngelus surai cokelat halusnya.

"Boleh ya, tidurlah nanti bukunya aku yang bereskan."

"Uhm, ingat tidak Jim, biasanya kita menginap tidur bertiga seperti sarden."

"Ingat, Tapi saat ini hanya ada aku dan kau saja."

Setelah itu yang terdengar adalah hembusan nafas teratur dan dengungan pendingin ruangan yang di setel rendah. Jimin bangkit dari kasur, membereskan bukunya, mematikan laptop hingga membersihkan kekacauan cemilan mereka. Beringsut lagi menarik selimut tebal Taehyung dan menggeser sedikit tubuh pemuda rambut cokelat itu. Gumaman lucu terdengar samar di sela bibir Taehyung yang sedikit terbuka, mengigau. Yang berambut pirang kemudian ikut menyelip kedalam selimut tebal itu, tersenyum lagi lalu mencoba mengelus-elus puncak surai cokelat halus temannya agar makin nyenyak menyapa alam mimpi.

Dalam jarak sedekat ini, Jimin menyadari kalau bulu mata Taehyung sangat panjang, alisnya cokelat tua tebal sekali walau biasanya tertutup oleh poninya, turun lagi untuk mengamati hidung Taehyung yang mancung sempurna, Jimin menelan ludah agak kesulitan saat matanya mampir menatap bibir Taehyung. Bibir yang selalu cerewet dan berkata sesukanya itu terkatup damai, warna merahnya masih terlihat diredupnya kamar Taehyung. Turun kebawah lagi, leher dan garis tulang selangka Taehyung terekspos bebas. Jimin otomatis langsung memutar badan membelakangi taehyung karena terlalu banyak melihat. Berdoa dalam hati agar dia bisa tidur tenang dan tidak melakukan perbuatan aneh-aneh. Malam ini terasa lebih panjang bagi Jimin.

.

.

"Heh pendek, apa yang kau lakukan disana?"

Pagi-pagi suara Jungkook mendobrak kesadaran Jimin yang masih dalam mode ngantuk membuka jendela samping kamar Taehyung, jendela itu langsung menghadap jendela kamar Jungkook. Mereka bertetangga, masih ingat?

"Ini terlalu pagi untuk membuat telingaku budeg, Jungkook-ah. Kecilkan suaramu dasar kingkong."

"Jawab aku, kau menginap semalam? kenapa tak ajak aku?" Jungkook baru selesai mandi, rambut basahnya terlihat sedang dikeringkan dengan handuk di tangan kanannya. Satu jam lagi adalah waktu untuk berangkat sekolah.

"Aku semalam belajar sampai larut, lalu ketiduran disini. Aku bukannya main nginap-menginap tanpa sebab."

"Oh, mana Taehyung?"

"Sedang mandi."

"Kalau begitu kau cepatlah pulang dan siap-siap nanti kita telat."

"Ini aku juga mau pulang—"

Buk

Jimin nyaris oleng karena menabrak Taehyung yang barusan kembali kekamar, rambutnya masih setengah basah berdiri dibelakang Jimin. Telanjang dada. Jimin begitu pula Jungkook yang melihat kejadian itu jadi agak melotot.

"Taetae, aku pulang dulu ya, terima kasih buat semalam..buat belajarnya semalam!" Jimin langsung memberesi barang-barangnya. Taehyung disana hanya menatapnya dengan wajah blank. Mengangguk singkat lalubilang hati-hati dijalan. Jimin turun dari tangga tergesa-gesa. Bertemu dengan nyonya Kim yang sedang sibuk menyiapkan sarapan, pamit setelah kena cubit dipipi dari nyonya Kim. Jimin bisa merasakan mukanya masih panas, apaan sih kenapa melihat Taehyung telanjang dada saja dia jadi salah tingkah begini?.

Jungkook di seberang jendela Taehyung juga sama saja, handuknya terkulai bersama dengan tangannya yang turun. Mata tajamnya mengamati lebih dari biasanya acara Taehyung yang bergerak memakai baju seragam sekolahnya. Turun sedikit pandangan matanya selalu tersita ke lekuk pinggang Taehyung yang sangat ramping. Jungkook merasa dirinya mesum sekali setelah sekelibat bayangan fantasi gilanya menyeruak, memikirkan bagaimana pinggang ramping itu bergerak saat dia menekannya ke atas kasur, lalu mengungkungnya tanpa ampun untuk melesakkan—Ya tuhan. Buang muka adalah cara paling ampuh sebelum fantasinya making kurang ajar. Jungkook butuh segera turun dan sarapan.

.

.

.

Sabtu malam, akhir semester pertama tahun ketiga mereka. Jimin mengusulkan untuk nobar The Divergent Series di rumahnya. Mereka bertiga seharian ini menghabiskan waktu sejak sore balas dendam karena minggu kemarin disibukan dengan ujian akhir semester. Menghabiskan waktu untuk bermain play station, makan camilan, lalu berakhir menyetel film Divergent Series ide Jimin. Sampai pada seri Insurgent, Taehyung dan Jimin duduk bersisian diatas karpet didepan televisi flat besar dikamar Jimin. Jimin menyandarkan badannya ke badan kasurnya, dan Taehyung disebelahnya memeluk bantal. Film sedang seru-serunya, Jungkook pamit keluar karena di depan rumahnya teman sekelasnya datang untuk membicarakan soal pengumpulan tugas sekolah yang sedikit ada masalah, sebagai ketua kelas dia wajib turun tangan.

Tepat satu jam lima menit film berlangsung, terlihat jalan cerita makin intense, tokoh wanita Kris sedang berbincang serius dengan tokoh laki-laki Four, sesaat setelahnya adegan ciuman dan cumbuan mereka berlangsung. Jimin menahan nafas dan Taehyung melotot sambil meremas bantal dipangkuannya.

"Berciuman.. itu seperti apa ya.." suara Taehyung terdengar ditengah adegan dewasa dalam film. Jimin menelan ludahnya sulit, harus jawab seperti apa dia? Dia bahkan juga belum pernah pacaran pun berciuman walau yang naksir dia sudah ngantri.

"Aku juga tidak tahu, sepertinya itu kejadian yang luar biasa." Jimin mengusap tengkuknya sekilas.

"Yang benar saja, Masa kau belum pernah, Chim?" Taehyung menoleh antusias ke arah Jimin.

"Kau lihat? Memangnya tampang seperti ini ada bajingan-bajingannya? Aku ini masih polos."

"Ew, kupikir kau mengencani kakak tingkat yang seksi-seksi dan melakukan ini itu."

"Tidak aku tidak begitu, kau mau mencobanya?" Kalimat itu meluncur mulus dari Jimin tanpa prasangka dari Taehyung.

"Hah? Aku tidak punya pacar kalau kau lupa. Mencoba bagaimana."

"Denganku, Tae."

Taehyung menoleh agak menyerngit. "Kita berdua? Kedengarannya agak.. konyol dan.. geli?"

"Ini hanya aku, anggap saja latihan sebelum kita punya pacar besok." Jimin membatin 'atau kau saja sekalian yang jadi pacarku.'

Dengungan sekilas dari mulut Taehyung yang tampak berfikir. "Oke, menarik juga, Chim. Tapi sepertinya aku akan payah."

"Kau kira aku berpengalaman? Kemari, kau lihat adegan tadi? Ayo buat seperti itu."

Tangan Jimin bergerak lincah ke tengkuk Taehyung, begitu pula dengan Taehyung yang merapatkan tubuh mereka, tangannya mampir ke tengkuk Jimin juga. Mereka berdua menirukan gesture Four dalam film tadi, Jimin tidak ambil pusing, karena dimatanya Taehyung lah yang menjadi posisi Kris. Ah, dia menjilat bibirnya lagi. Batin Jimin berontak tak sabar.

Taehyung awalnya maju tanpa gentar walau diselingi tawa, kelengahan itu yang diambil Jimin untuk menarik badan Taehyung agar lebih masuk dalam kuasa pelukannya. Tangan Taehyung turun dari tengkuk Jimin, otomatis mencengkram bahu sahabatnya itu saat Jimin mulai menempelkan bibir mereka. Taehyung memejamkan mata erat sekali untuk kemudian berangsur rileks saat Jimin membuai bibirnya dengan lembut. Basah, basah, lalu lebih basah, Jimin kehilangan kendalinya melumat belah bibir Taehyung. Dia suka bagaimana Taehyung sok manly mencoba membalas ciumannya namun berakhir jatuh dalam dominasi Jimin. Mereka bertukar nafas berat dalam jarak sedekat ini, Taehyung agak mengerang saat Jimin memasukan lidahnya untuk ikut andil dalam mencumbu isi mulutnya. Wow, wow.. lidah Jimin lebih lihai dari perkiraannya, dia kewalahan dan berpikir bahwa dia gagal meniru tokoh Four dan malah jatuh dalam permainan Jimin. Tangan Jimin pun semakin gencar menekan tengkuknya dan tangan lainnya melingkar manis dipinggangnya. Menyentuh hitungan menit, gigi rata Taehyung berkerja, menggigit lidah Jimin memaksa untuk enyah dari rongga mulutnya. Apa Jimin tidak butuh bernafas?.

Bunyi keciplak basah terdengar setelah bibir mereka terpisah dalam jarak aman, mulut Taehyung sekarang luar biasa basah dan merah, nafas sama sama tersenggal dan Jimin dihadapannya terkekeh samar entah untuk alasan apa.

"Dapat pelajarannya, Taetae?"

"Uh, aku tau, aku yang payah dan pecundang disini."

Suara tawa sumbang dan agak canggung mereka pecah setelah itu, dan tepat saat pintu kamar Jimin terbuka menampilkan Jungkook yang masuk sambil mencoba melepas jaket boombernya.

"Sepertinya aku kelewatan banyak hal." Jungkook memicing, mengamati pergerakan Jimin yang dinilainya agak aneh saat membenarkan baju kusutnya sambil tangan naik menyigar rambut pirangnya, matanya kemana-mana. Dan ujung mata Jungkook menangkap Taehyung yang mengelap bibirnya yang agak basah sambil berujar ceria.

"Lama sekali, Jungkookie! Kemari, kuceritakan bagian mana kau ketinggalkan film nya. Ini keren sekali, kotak itu akhirnya berhasil direbut! Lalu Kris menyerahkan diri!" Celotehan ribut Taehyung dia balas dengan senyum ringkas, Jungkook mendudukan diri di samping kanan Taehyung, mata tajamnya masih mengamati Jimin yang sibuk membuka kaleng dan meneguk likuid Cola agak grogi.

Dia sudah cukup lama mengenal sahabatnya untuk mendeteksi adanya gelagat tidak beres.

Setelah insiden ciuman yang hanya Jimin, Taehyung dan Tuhan yang tau itu terjadi, Jimin menghindari tatapan mata Taehyung dua hari penuh.

.

.

.

Taehyung sudah duduk disamping kursi kemudi, jaket denim diluar kaos bergaris hitam-putihnya di eratkan ke tubuhnya sekilas saat pendingin udara mobil dinyalakan. Dia memperhatikan Jungkook yang sedang membenahi spion atas mobil ayahnya untuk menunjang keselamatannya berkemudi. Entah hanya perasaan Taehyung saja, atau Jungkook hari ini memang lebih tampan dari biasanya. Memakai kaos hitam yang pas dibadan dipadukan dengan kemeja kotak-kotak dominasi warna biru navy yang dia biarkan tak terkancing melapisi badannya. Celananya jeans hitam belel yang dipakainya tambah memberi kesan santai dan kasual tapi tetap keren. Cologne di badannya lebih wangi dari biasanya, dan beberapa sisi rambut rapi Jungkook agak mengkilat karena pomade. Taehyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat penampilannya sendiri yang dia pikir kalah keren.

"Apa?" Merasa diperhatian Jungkook bertanya sambil menaikan sebelah alisnya.

"Tidak... uhm kau yakin bisa menjalankan ini Jungkookie?"

"Taehyungie, jangan meremehkanku. Kalau kau khawatir pakai seat belt kencang-kenjang."

Taehyung memakai apa yang disebut Jungkook dengan patuh, dalam hatinya was was juga kalau misalnya Jungkook ini hanya amatir yang bermodal sok keren mengajaknya jalan-jalan naik mobil.

"Andai saja Jimin tidak sedang ke Busan, kita bisa bersenang-senang bersama seharian ini."

"Keberatan kalau kencan berdua saja denganku?"

"Hah, ngawur. Kau hanya memanfaatkanku untuk memilihkan kau sepatu kan. Kalau kencan kau harusnya membayari makanku nanti."

"Hee, tidak jadi kalau begitu. Kau kalau sekali makan susah berhenti, kasihan penghuni dompetku."

"Berlagak bawa-bawa mobil tapi ternyata isi dompetnya pas-pas-an, meh. Kasian pacarmu besok, Jungkookie."

Range over putih melaju mulus keluar pagar rumah keluarga Jeon. Jungkook membawa mereka ke kota, ke mall tepatnya. Masuk dan memarkirkan mobil di basement, Jungkook nyaris lupa diri menggandeng tangan Taehyung. Sepanjang perjalanan dihabiskan dengan bercanda dan bercanda, mengomentari apa saja yang aneh hingga mengomentari cara berpakaian orang-orang dalam tangkapan mata Taehyung. Jungkook disana otomatis ikut tertawa dengan lelucon dan kelakar Taehyung, seperti hari hari sebelumnya, Taehyung selalu berhasil menumbuhkan suasana menyenangkan dan menularkan kebahagiaannya.

Sampai di toko sepatu, Jungkook membawa sepatu yang dengan sengit dipilihkan Taehyung untuknya ke konter untuk dilayani. Puma Bog Sock Series warna hitam dengan garis-garis putih tipis yang melintang di solnya. 'Kau keren dan pasti akan cocok sekali dengan sepatu ini, Jungkookie'. Taehyung masih duduk-duduk di salah satu sofa toko sepatu tadi saat Jungkook menghampirinya setelah selesai dengan urusan membayar.

"Sudah lapar?" Jungkook menepuk pundak Taehyung pelan.

"Belum, tapi dalam mood terima makanan untuk ngemil."

"Pop corn rasa caramel?"

"Ide bagus, jadi kau mau membelikanku yang sudah berjasa dan kau seret-seret kesana kemari?"

"Boleh, uangku masih cukup sekaligus untuk dua tiket nonton The Conjuring 2."

"Whoa, serius? Ayo kalau begitu! Kau yang terbaik, Jungkookie!" Taehyung langsung memasang tampang cerah dan senyum kotak lucu. Dia bangkit dari sofa lebih cepat dari perkiraan Jungkook. Tangannya bergelayut menarik lengan Jungkook, dan itu membuat sahabatnya sekilas salah tingkah.

Jungkook berdeham tipis, mengikis sensasi aneh di dadanya. "Tapi kau yang beli Cola medium."

"Oke aku yang beli Cola medium." Taehyung menyahut lebih bersemangat.

Tidakkah mereka benar-benar mirip dengan konsep sedang berkencan?. Batin Jungkook.

.

.

Jam sepuluh malam mereka baru pulang, Taehyung memutuskan untuk menginap di rumah Jungkook karena Jungkook hanya ditinggal seorang diri oleh kedua orang tua dan Namjoon-Hyung yang ada urusan kantor. Taehyung guling-guling diatas kasur Jungkook, dia sudah bersih dan wangi karena sepuluh menit lalu dia sudah mandi dan dipinjami satu pasang pakaian santai Jungkook. Dia kekenyangan, setelah nonton film horror bersama Jungkook tadi, mereka melanjutkan petualangan ke kedai makanan khas Jepang. Dan Taehyung menghabiskan satu porsi besar Okonomiyaki sendirian.

Bosan karena Jungkook lama sekali mandi, Taehyung mendudukan diri di dan bersandar di kepala bingkai kasur, meraih laptop Jungkook untuk mencari games. Matanya melotot dan mulutnya menganga bodoh saat mendapati satu folder mencurigakan terselip antara folder game Mahjong. Satu folder yang isinya video-video porno.

"Kau tidak punya koleksi seperti itu?" Nafas hangat Jungkook yang menerpa pipi Taehyung mengejutkannya, wangi sabun dan pasta gigi mint menguar seketika. Taehyung ketahuan telah mengoprek isi laptop Jungkook padahal dia tidak bermaksud seperti itu.

"Eh, sorry. Aku tadinya mencari games bukan lihat-lihat simpanan pribadimu." Taehyung tertawa canggung.

"Itu tidak menjawab pertanyaanku, Taehyungie."

"Uhm.. Aku tidak sampai mengoleksi atau mengumpulkan begini, paling streaming atau nonton sama-sama di kelas."

"Nonton sama-sama? Dan dikelas? Geng mu lebih bejat rupanya."

"Tidak sesering itu dan aku biasanya tidak sengaja terjerumus, karena biasanya aku memergoki mereka setengah jalan jadi saat aku nimbrung aku malah tak terlalu merasakan vibe nya. Dan kau tak pantas mengatai orang bejat kalau koleksimu saja sebanyak ini." Taehyung tidak terima.

"Oh, ini dari berbagai sumber, dan beberapa titipan. Aku malah jadi ingin nonton." Jungkook duduk disebelah Taehyung, melempar handuknya ke ujung kasur hingga jatuh ke atas karpet.

"Sekarang? kau mudah terbawa mood ya."

"Aku ada yang baru, dari temanku, mungkin akan tontonan yang bagus untukmu."

"Gay porn, Jungkookie? Astaga sejak kapan kau suka yang begini?"

"Sejak kapan aku pun lupa. Kau pernah lihat yang seperti?"

"Aku pernah sekali lihat dari link iseng yang temanku kirim, dan uh.. ya begitulah."

Jungkook tidak terlalu memperhatikan Taehyung dan gelagatnya yang mulai canggung, yang dia sadari adalah sekilas Taehyung agak menegang dan menahan nafas disebelahnya. Laptopnya masih dalam pangkuan Taehyung, jadi Jungkook mengambilnya menaruhnya diatas bantal memainkan kurson untuk menyetel salah satu film penuh dosa. Dia memilih salah satu yang dia ingat berisi tiga laki-laki bergumul, satu bottom mempunyai tubuh ramping yang kalau Taehyung perhatikan mirip.. dirinya?.

"What the fuck, Threesome Jungkookie?"

"Diam dan lihat saja."

Film itu berputar dalam hening yang kurang menyenangkan. Sejujurnya Taehyung benar-benar canggung luar biasa mendapati dirinya nonton film porno dengan Jungkook berdua saja, dan lagi film itu adalah film gay, Taehyung ingin melarikan diri rasanya. Latar cerita pada film masih dua laki-laki yang satu tampangnya garang dan yang satu lagi kelewat cantik mirip wanita, sedang mengobrol disuatu kafe. Melirik kesamping, dia melihat Jungkook yang duduk kalem sambil menopang kepalanya dengan sebelah tangan, tapi mata elangnya terlihat kelewat fokus mengikuti jalan cerita film.

Pada menit yang tidak Taehyung sadari, laki-laki garang tokoh dalam film itu sudah mulai memegang laki-laki ramping yang bergelayut manja padanya. Si laki-laki ramping sudah digiring dalam suatu kamar yang sudah ada penghuninya yang juga seorang laki-laki. Taehyung mengambil nafas putus-putus saat laki-laki yang lebih ramping itu dilucuti pakaiannya oleh dua laki-laki yang disinyalir adalah top. Tiga tokoh dalam film sudah mulai mencumbu satu-sama lain, berebut dan terkesan antara top yang satu dan lainnya itu sama-sama serakah. Taehyung merasakan sensai aneh dalam tubuhnya, beberapa kali bergerak tak nyaman merasa merinding luar biasa saat adegan-adegan dalam film mulai memanas. Dan dia tak menyangka kalau Jungkook merasakan hal yang sama sebelum dia mendengar erangan tertahan dari sebelahnya. Jungkook agak berkeringat didahi dan pelipisnya, memicingkan mata berbahaya saat film mulai pada adegan inti dari kebanyakan film porno.

Taehyung tidak terlalu memperhatikan beberapa reaksi lain Jungkook karena dirinya sendiri sekarang sudah panas dan kepayahan. Bagian selatan tubuhnya menegang dan Taehyung dibuat mengumpat tipis karena alasannya menjadi terangsang adalah bagaimana dia melihat laki-laki ramping yang mirip dengan postur tubuhnya itu dikoyak penuh gairah oleh dua orang lawannya. Sial, sial, sial. Tangannya tak bisa diam saja, menyeret jari-jemarinya untuk sampai di bagian bawah tubuhnya, tersentak saat tangan Jungkook ikut bergerak untuk mengenggam diatas dijemarinya.

"Jungkook?!" Taehyung kaget setengah mati saat jari Jungkook lah yang menuntun jemarinya untuk menurunkan waist band celana yang dia kenakan, untuk kemudian melakukan pekerjaannya dibawah sana. Taehyung tidak menepisnya karena dia membutuhkan ini ada atau tidak tangan Jungkook disana, dia sudah luar biasa tegang dan butuh pelepasan sekarang.

"Lakukan saja, Taehyung," Suara Jungkook terdengar lebih rendah dan tersenggal. Jungkook sendirinya juga sudah terangsang dengan indikasi gundukan menyakitkan dibagian depan celananya.

Tanpa sadar desahan serak meluncur mulus dari celah bibir Taehyung, tangan mereka berdua bergerak cepat dibawah sana, membuai mengajak Taehyung meniti tangga untuk segera terbang dan lepas. Badannya panas, dahi dan lehernya luar biasa berkeringat karena tensi gairah yang naik. Dalam hitungan menit setelahnya Taehyung memejamkan mata erat, dia sampai pada puncaknya. Merasa high yang membuat dirinya tuli, kebas, dan merasa hantaman lega serta nikmat disaat bersamaan. Saat tenggelam dalam putihnya awing-awang, Taehyung tak menyadari bahwa Jungkook juga menggeram sambil menyeringai memperhatikan wajah puas dan lepasnya, lalu dengan lihai mencuri satu ciuman ringkas pada leher berkeringat Taehyung yang terekspos karena mendongak.

Taehyung berangsur turun dan mendapatkan kesadarannya, merasakan tangannya basah terkulai dan tangan Jungkook diatas perutnya. Dia kehilangan muka, malu sekali dengan apa yang dia dan Jungkook lakukan. Walau Jungkook adalah sahabatnya, tapi acara nonton film porno dan berakhir dengan dia yang kelewat berhasrat itu diluar kendalinya.

"Jungkook.." Jakun Taehyung naik turun menelan ludah setelah merapalkan nama itu sangat lirih. Kelopak matanya terbuka perlahan melihat bagian tempat tidur Jungkook yang basah karena perbuatannya. Mukanya merah meradang.

"Hm?" Jungkook menyahut singkat sambil menarik keluar tisu dari laci meja disamping kasurnya.

"Maaf membuat kekacauan, ah sial – aku dalam masalah..." Taehyung merosot dari sandarannya, menerima tisu yang dibagi Jungkook lalu mengelap cairannya sendiri sambil menunduk dalam.

"Tidak masalah, bantu aku mengganti seprainya setelah ini." Meremas tisu yang ada ditangannya, Jungkook kemudian bangkit dari kasurnya menjauhi Taehyung untuk menuju ke pintu keluar kamarnya.

"Kau mau kemana?"

"Ada urusan di kamar mandi. Mau ikut untuk balas jasa apa?" Disana Jungkook tersenyum miring campuran jail dan agak geli setelah menangkap reaksi Taehyung yang mencebik kelewat lucu. "Tidak, dasar bodoh." Agak pelan tapi masih bisa Jungkook dengar.

.

.

.

Satu bulan ini mereka jalani seperti neraka, jam tambahan, uji coba ujian, hingga tugas-tugas dari tertulis dan praktek menghantui. Sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian akhir, yang artinya mereka harus siap juga dengan ujian masuk universitas dambaan mereka. Walau begitu semua berjalan mulus dan terlihat normal. Bagaimana tiga sekawan itu menyudahi kegiatan klub untuk tenggelan dalam kesibukan belajar. Tak pernah absen mereka bertiga untuk kumpul di perpustakaan atau salah satu rumah yang berkenan. Makan ramyun sambil membuka buku-buku materi, hingga ceceran kukis chocochip mengotori kertas presentasi mereka. Mereka melewatinya dengan sangat baik. Jimin berkali-kali ketahuan oleh Jungkook saat mengelus-elus surai Taehyung yang ketiduran sambil bersandar di bahunya, atau Jungkook yang kepergok oleh Jimin saat dia mengusap halus pipi Taehyung yang belepotan es krim sambil tersenyum hangat.

Hingga hari kelulusan tiba, Taehyung dengan sifat hipernya mondar mandir di lorong deretan lantai dua karena meladeni teman-teman dan adik kelas yang memberinya selamat dan hadiah. Dia yang ramah itu sudah pasti punya banyak teman, bukan?. Jas almamater yang dipakainya sudah dipenuhi stiker lucu atau post it yang ditempel dengan berbagai macam ucapan. Tidak sedikit juga bunga yang terimanya, atau stiker berbentuk hati yang ditempel dipipinya dia dapatkan. Dari kejauhan Jimin memperhatikannya dengan gemas walau tangannya kebas menenteng tas yang penuh hadiah dan bunga untuknya.

"Aku tau kau juga suka padanya." Jungkook muncul dari samping, agak membuat Jimin kaget. Bukan karena keberadaannya, lebih pada ucapan Jungkook.

"Juga?"

"Iya, karena aku menyukainya juga." Jungkook kesulitan menutup resleting tas nya yang penuh berjejal bungkus hadiah. Satu stiker bertuliskan selamat berbentuk hati copot dari jas almamaternya karena Jungkook terlalu banyak bergerak.

"Aku berusaha menyimpannya, dan malah sial akhirnya kau yang akhirnya angkat bicara."

"Aku terlambat menyadarinya, Jim. Dia berubah kelewat indah diwaktu yang sulit kuingat."

"Dan semua senyum bodohnya yang manis itu. Astaga, apa kau juga merasakan sama gilanya denganku?"

"Sama gilanya, hingga tahu-tahu rasanya semua ekstensinya ingin kumiliki hanya untuk diriku."

"Oh, apakah ini akhir dari pertemanan kita? Haruskah kita adu jotos disini agar dramatis, Kook-ah?"

"Menarik, tapi begini-begini aku lebih ingin menjaga perasaanmu, Jim." Menanggapi ucapannya, Jimin menjulurkan lidah jengah. "Bagaimana kalau kita bermain adil?"

"Coba katakan." Jimin melonggarkan dasi hitamnya, mulutnya masih menyunggingkan senyum saat memperhatikan Taehyung yang sedang berceloteh heboh dengan teman klubnya tidak jauh dari mereka.

"Taehyung suatu saat pasti akan jatuh cinta, kita hanya perlu mencoba. Tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi, lakukan dengan cara kita masing-masing."

"Bisa diterima, tapi sejujurnya kadang aku bingung bagaimana harus menunjukannya, dia bisa saja kelewat nyaman dengan kita dan tak pernah menyentuh istilah romantis dari perbuatan kita."

"Kau mendengarku, Jim. kita hanya perlu mencoba."

.

.

.

Benar adanya mereka melakukan dengan cara yang suportif, saat ada kesempatan salah satu dari Jimin atau Jungkook akan mengajak Taehyung kencan dengan dalih macam-macam saat si surai cokelat halus itu bertanya kenapa harus hanya berdua?. Jimin kelewat sabar saat mengetahui dia kalah start dengan Jungkook saat mencoba menawari Taehyung untuk berangkat kuliah bersama. Atau Jungkook yang pandai meredam emosi saat melihat Jimin makan siang berdua dengan Taehyung di kafetaria.

Semua dilalui begitu saja hingga terhitung Jimin sudah lima kali pernah mencium Taehyung dibibir saat berduaan di mobilnya, di sisi tangga rumah Taehyung, dan dimana lagi Jimin melupakan detailnya. Atau Jungkook yang sudah sering sekali tidur dengan kungkungan tangan memeluk rampingnya pinggang Taehyung saat mereka sudah lelah mengerjakan tugas kuliah dan berakhir dengan teparnya tuan muda Kim. Dan reaksi Taehyung masih tetap sama, tertawa dan bercanda sambil mendorong pelan bahu Jimin setelah ciuman atau mencubiti perut Jungkook karena membuat Taehyung pegal tidur dalam posisi tak nyaman. Mereka tetap dalam ikatan persahabatan kalau tidak mau dikatakan mesra.

Awalnya semua menyenangkan, bagaimana Jimin dan Jungkook gencar mengejar perhatian Taehyung hingga ungkapan sayang dari mereka ke Taehyung hanya dianggap candaan. Mereka tidak menyerah. Tidak. Hingga hari itu datang.

Akhir pekan. Mobil sedan hitam mengkilat terparkir di depan rumah Taehyung dengan satu orang laki-laki berpostur bidang, tinggi, bersurai cokelat gelap tersigar sedikit dibagian dahinya, tengah bersandar di pintu kemudi menunggui Taehyung. Keren dan dewasa, kalau boleh Jimin berkomentar. Laki-laki itu mengeluarkan tangannya yang tadinya tersimpan di kantung celana jeans hitam yang dipakainya saat Taehyung keluar dari pagar rumahnya. Tangan itu kemudian lari menangkup pipi Taehyung dengan sayang lalu turun melewati leher dan berhenti di bahu Taehyung. Jimin tidak tahu mereka berbincang apa tapi ada rona tipis dan senyum manis Taehyung terbit setelahnya.

'Keluar rumah sekarang Jungkook, atau kau tak akan bisa menghadapi kenyataan lebih dari sekarang.'

Satu pesan kakao talk dikirim ringkas ke akun Jungkook dari Jimin. Jimin keluar dari tempat mengintip di balik jendela rumahnya, keluar dari rumah, membuka pagar, walau agak gentar dia menuju kearah dua laki-laki itu.

"Ah, Jiminie!" panggilan Taehyung kelewat ceria untuk hati Jimin barusaan mendadak menjadi mendung.

"Pagi, Taehyungie... dan.. siapa?"

"Jung Hoseok." Laki-laki yang berdiri terlalu dekat dengan Taehyung itu menyahut, senyumnya sangat tampan karena garis rahang dan ukiran wajahnya terlihat tajam dan menawan.

"Salam kenal, Hoseok-ssi. Aku Park Jimin."

"Oh, ternyata ini, Jimin-ssi yang sahabatnya, Tae itu ya." Bersamaan dengan anggukan dan senyum Hoseok yang lain, terdengar klang yang berasal dari pagar rumah disebelahnya. Jungkook disana, berdiri sekilas melotot dan wajahnya terlihat konyol sekaligus bingung.

"Jungkookie, kemari. Aku kenalkan seseorang." Sekali lagi panggilan Taehyung kelewat ceria untuk hati Jimin mendadak mendung dan pikiran Jungkook yang berantakan bingung.

"Ah, Hai." Jungkook mendekat bertukar tatap antara Jimin sebentar lalu menatap Taehyung dan laki-laki jangkung disebelahnya—

"Ini yang Jungkook itu ya, Tae?" Satu elusan mampir di puncak kepala taehyung didepan mata Jimin dan Jungkook yang mencelos. Siapa dia?

"Kalian berdua tolong perkenalkan, ini Hoseok-hyung, pacarku."

Jimin dan Jungkook bertukar tatap sekali lagi, menyiratkan tatapan what the fuck satu sama lain saat mendapat kabar yang mendadak dan benar-benar mengguncang jiwa. Langit cerah pagi ini rasanya runtuh ke badan mereka bersamaan dengan jatuh dan retaknya perasaannya untuk Taehyung.

.

.

.


Gatau lagi ini nulis apaan : )))

Ini tulisan lama, aku finishing touch dan akhirnya ku publish aja dari pada jamuran... jadi gimana? Apakah aku menghancurkan ekspektasi kalian? Ahahahah *digantung*

Oh, dear, reader-nim(s) tercintaku, jangan marah ya kalau endingnya agak.. asdfaahjkslak error juga yang nulis nih, kasih review, peluk dan cium aja ke aku ya :3

Makasih udah baca sampe sini, ingatkan aku untuk typo(s) yang membuat tak nyaman, dan maaf untuk yang ter php nungguin tulisan series ku yang lain, sabar yaa cintaku :3 dan btw, aku belum nulis END untuk ceritanya lho.

.


.

Enam bulan setelah melonggarnya hubungan persahatan mereka karena Taehyung sibuk dengan pacarnya itu terlewati dengan cukup dramatis. Satu bulan lalu Jimin sukses move on (katanya), lalu dengan bangga pamer memacari kakak tingkat dari fakultas Bisnis, Min Yoongi. Hubungan mereka sedang hangat-hangatnya dan itu membuat Jungkook yang masih sulit menyukai orang lain selain Taehyung itu mual-mual sambil mencibir. "Dasar tukang pamer."

Disuatu kesempatan yang jarang terjadi, tiba-tiba Taehyung mendesak Jimin dan Jungkook untuk menemaninya di kafe diseberang universitas mereka. Satu cokelat panas, Kopi karamel, dan satu Macha late menguarkan aroma khas yang membaur di meja mereka. Cheese cake sudah beberapa sendok tertelan dan masuk kerongkongan saat Taehyung berkata.

"Aku putus."

"Tae?.. kau apa?" Jimin bertanya sambil entah mengapa merapal doa dalam hati.

"Aku putus dari Hoseok-Hyung, selesai! Kita sudah bukan sepasang kekasih lagi! Menyebalkan! Aku benci sekali, Uh- dia hanya manis denganku di awal, akhir-akhir ini dia jarang ada waktu untukku, lalu apa itu, pikirnya apa yang dia lakukan pergi ke party teman wanitanya tanpa mengajakku. Dasar brengsek dia pasti sudah selingkuh." Taehyung disana mengusap wajahnya kesal, membuang muka ke arah luar kafe.

Mendengar pernyataan Taehyung yang diutarakan dengan kesal dan sedikit kekanakan itu Jimin mengerang cukup keras untuk alasan yang Taehyung tak ketahui namun Jungkook mengetahui. Tangan Jungkook meraih dagu Taehyung untuk membuat netra hitamnya bertatapan langsung dengan netra cokelat milik Taehyung. Jungkook tersenyum penuh muslihat namun tampan dan membuat Jimin agak jengah.

"Jangan cemberut, Taehyungie, kau masih memiliki aku untuk menghiburmu."

Setelah tuntas mengatakan itu, reaksi Taehyung adalah berguman lucu, menundukan kepalanya untuk menyendok cheese cake nya, dia memukul bahu Jungkook sekilas entah karena apa. Jungkook tersenyum penuh kemenangan melirik kearah Jimin dengan lirikan menyebalkan. Disana Jimin meneguhkan hati, mencoba sekuat tenaga untuk tidak kelepasan menampol wajah menjengkelkan Jungkook dengan nampan. Dia juga merapal berulang dalam hati 'Tenang Park Jimin, kau sudah punya Min Yoongi, kau sudah punya Min Yoongi.'

Jungkook menyangga kepalanya dengan tumpuan tangannya, tersenyum tulus sambil memperhatikan Taehyung yang masih belum surut kesedihan dan kejengkelannya.

Ah, Jungkook belum lelah berusaha rupanya.

.

.

END

Beneran.