PLAN OF ATTACK
Sebuah tanda kegelapan menggantung dilangit kota kecil di selatan Inggris. Saat itu dini hari menjelang natal, dimana seharusnya semua orang, baik penyihir maupun muggle menyiapkan hadiah untuk orang-orang yang mereka kasihi.
Tapi disini, dikota yang sehari sebelumnya nampak indah dan damai, malapetaka tengah memeluk para penduduknya. Belasan rumah hancur, pertokoan porak poranda, pepohonan tercabut dari tanah dan disana sini asap mengepul dari bangunan-bangunan lain yang sedang terbakar.
Namun kota itu telah sunyi. Tak ada jeritan. Tak ada tangis ketakutan para bocah. Tak ada keluh kesakitan yang menyayat perasaan. Tak ada muggle bersenjata berat dan para petugas pemadam api.
Kota itu sepi. Mati. Menambah daftar kota mati di negara ini yang semakin hari semakin bertambah. Dan para muggle tenggelam dalam alam ketakutan mereka yang paling dalam. Paling dasar.
Di sabuah puncak reruntuhan, bekas bangunan tinggi yang tinggal puing-puing, lelaki berjubah hitam sedang memandangi kejauhan. Tempat kabut yang bercampur dengan asap hitam sedang menebar keseluruh penjuru kota. Jubahnya yang berkibar-kibar bagaikan bendera kematian yang sedang memanggil para peziarah untuk ikut bergabung dalam perkabungan massal. Atau mungkin lebih mirip dengan sosok burung haring besar yang sedang memandangi bangkai yang sebentar lagi akan menjadi santapannya?
Lelaki kecil bertudung di belakangnya menanti sabda dengan kakinya yang beralas debu dan salju. Menunduk dalam-dalam seolah sedang menanti hukuman pancung ia diam seribu bahasa walau kakinya yang kekar mulai merasa kesemutan.
"Pasukan Inveri yang cukup banyak akhirnya." Kata lelaki berjubah hitamdengan suaranya yang berat dan serak.
Lelaki bertudung di belakangnya hanya mengangguk sekali walau ia tau pasti tuannya tidak sedang memandangnya.
"Bangunkan segera selongsong tubuh-tubuh manusia yang telah tak berjiwa itu!" Lanjut si lelaki berjubah hitam tanpa perasaan. "Mereka akan menjadi ujung tombak dalam penyerangan besar-besaran minggu ini ke kementrian sihir, Cornboy!"
"Saya tuanku." Kata lelaki bertudung sambil berusah beringsut untuk segera menjalankan tugas.
"Tunggu..!" Cegah lelaki berjubah hitam.
"Tuan..?" Lelaki bertudung pun kembali membungkuk.
Lelaki berjubah hitam menghirup nafas dalam-dalam. Sekilas terkenang peristiwa bebearpa hari lalu yang sangat menyakitkan. Dan bayangan sosok pemuda berambut merah melintas dalam benaknya, membangkitkan amarahnya. Dendamnya bergetar lagi dalam darahnya.
"Bagaimana dengan buruan kita?"
"Tuan." Jawab Lelaki bertudung. "Apakah yang tuan maksudkan si cucu Potter itu atau..."
"Ya, dia." Potong si lelaki berjubah hitam.
"Douglas dan Nott baru akan menyampaikan laporan mereka pagi ini tuan." Cicit lelaki bertudung sambil membungkuk dalam-dalam. Dari nada suaranya yang bergetar, kental sekali aroma ketakutan yang ia siratkan. Kekhawatiran akan ketidakpuasan sang tuan karena jawaban yang belum pasti.
Tapi si lelaki berjubah hitam tidak menunjukkan reaksi yang buruk. Ekspresinya tetap dingin dan acuh. Sekali meludah lalu pandangannya menebar kearah bagkai kota yang baru di takhlukkannya.
"Laksanakan tugasmu Cornboy..!" Perintah lelaki berjubah hitam.
Lelaki bertudung yang membungkuk dalam pun lalu beringsut, berbalik dan melangkah pergi. Hanya beberapa langkah sebelum ia ditelan kibasan mantel dan suara khas apparation.
September 19th 2011 at 9.00 - 9.30 pm
