Setelah kejadian itu aku jadi sering mengunjunginya yang masih koma di rumah sakit, tak jarang aku melihat adiknya yang tertidur di kursi dengan kepala yang berada di atas ranjang Arthur sepertinya dia berharap Arthur cepat sadar, waktu terus berjalan adiknya-- Alfred kini sudah semakin dewasa ia datang dengan pakaian bak anak Sekolah Menegah Atas tak lupa dengan perubahan penampilannya, sungguh berubahan yang drastis yang awalnya memakai pakaian sopan yang di beri Arthur sekarang ia memakai seragam dan memakai jaket sepertinya tuk menutupi seragamnya itu, keren? tidak bagiku.

semua serasa biasa sampai sosok Alfred tak datang lagi semingguan ini, apa yang ia lakukan? keluyuran meninggalkan kakaknya yang tengah koma ini, tak lama kemudian sosok Alfred datang membawa sekresek kecil berisi makan, camilan mungkin? Aku segera berdiri.

"oh, Alfred-san." sapaku yang hanya di lihatnya sebelum ia tersenyum.

"Yo! Kiku! tumben datang lebih dulu?" tanyanya yang polos, sangat polos.

aku menghela napas, "tumben kau tidak datang kemari selama seminggu?" tanyaku yang membuatnya diam sampai aku menyadari ia menggunakan kacamata, sama seperti Arthur ketika tengah membaca sebuah artikel, koran atau novel, tapi Alfred menggunakannya saat ini apa yang dia lakukan sampai matanya jadi Minus atau mungkin Plus?

"Oh, aku ada urusan yang membuatku tak dapat kemari," jawabnya yang menghela napas, "seperti urusan tuk pindah, mendaftar sekolah, dan pergi bersama teman."

"Pindah?"

"ah, aku memutuskan tuk tinggal di Apartemen."

aku menyipitkan kedua mataku, "dan rumah Arthur-san kau biarkan berantakan begitu?"

"Y-ya aku sudah membereskan beberapa tapi masih sedikit berantakan, kau tau? Membereskan semua sendirian itu melelahkan."

sikapnya terlalu seenaknya sendiri, aku jadi ingin menaparnya saat ini, aku tolehkan kepalaku melihat wajah Arthur yang nampak tenang dan damai itu, dia belum mati oke mesin pendeteksi detak jantungnya masih berfungsi loh jangan dikira mati loh ya.

aku tersenyum simpul, "Nah, Alfred-san, kau bisa merapihkan rumah Arthur-san selagi aku akan menjaga Arthur-san di sini."

"Tapi aku baru saja sampai--"

"Silahkan." aku menekankan kalimatnya membuat lawan bicara di depanku diam, toh dia sendiri yang memberantakannya maka dia sendiri yang harus membereskannya dan dugaan ku selama ini benar, Arthur-san terlalu memanjakannya.

Alfred menghela napasnya sebelum pergi meninggalkanku dengan tampang kesal? Ya apapun itu aku tak peduli aku hanya akan bersikap tegas untuknya agar ia tak bertindak seenaknya sendiri, aku kembali duduk dan menghela napas pelan, "Kapan kau akan bangun, Arthur-san."

Aku lihat jam tanganku, oh aku harus pulang ada urusan yang harus aku lakukan, ya , melakukan pekerjaan dan kembali kerumah-- tunggu, kurasa akan lebih baik aku berada di rumah Arthur, jaraknya lumayan dekat dengan rumah sakit ini, kenapa aku tak memikirkannya dari bulan lalu? Aku segera berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan, baru saja aku menutup pintu aku menemukan sosok Alfred yang berdiri bersandar di tembok dan menatapku dengan tak suka?

"Ada apa Alfred-san, kukira kau sudah berada di rumah Arthur."

"Tidak, aku ingin berbicara kepadamu," ia melangkahkan kakinya mendekat, "kenapa kau mengusirku? aku baru saja datang untun menjenguknya."

aku memiringkan kepala, "Bukannya kau harus kembali merapikan rumah Arthur-san?"

aku berjalan meninggalkannya namun tangannya memegang pundakku mencegahku tuk pergi.

"tidak, itu sudah selesai... biarkan aku bersama--"

"sudah sudah, ini rumah sakit loh." seorang wanita datang mendekat, oh dia tenyata, "Hallo Kiku, bagaimana keadaan Arthur?"

Elizaveta, ia juga kolega dari Arthur, tapi tak terlalu dekat, mungkin teman Arthur semasa sekolah dulu, aku mengulas senyum kecil, "dia masih koma, aku baru saja mau pulang, ada apa Elizaveta-san?"

"Oh, aku ingin menjenguknya, aku bawakan ia buah."

"Elizaveta-san, orang koma tak membutuhkan itu."

"kalau begitu berikan kepadanya saat siuman nanti." jawabnya yang kemudian datang seorang lagi, seorang pria berambut pirang beriris biru, ah dia Ludwig bukan.

"Kiku aku ingin bersama--"

"ini sudah malam dan kau bersamanya, kau ingin membunuhnya kalau kau bertingkah?" ucap Ludwig yang membuat Alfred melepaskan pegangannya.

"uh, aku tau kalian baru sampai bagaimana kalau kita pulang? ini sudah malam?" usulku yang di balas Elizaveta dengan wajah yang gemerlap.

"Kita menginap di rumah Arthur!"

oke, ide di dalam kepalaku di bocorkan oleh wanita Hungary ini, nampak semuanya setuju terkecuali Alfred yang kemudian berucap ;

"Maaf aku tidak bisa, aku ada pekerjaan."

Elizaveta tersenyum, "okelah Alfred, hati-hati ya, jangan sampai kau sakit atau kena apa apa, nanti Arthur akan khawatir."

nampak Alfred mengangguk pelan sebelum berjalan mendahului kami.

setelah itu kami berjalan menuju rumah Arthur, pintu itu tak di kunci sama sekali semoga saja tak ada pencuri yang masuk kedalam, aku putuskan tuk masuk terlebih dahulu, sangat gelap di sini karena keadaan memang sudah malam, aku cari tombol lampu di sekitar pintu.

ctek

lampu ruang tamu mulai menyala dan kami semua dapat melihatnya, melihat keadaan rumah yang telah rapi seperti semula, ekspetasiku atas kenakalannya tak seperti kenyataannya, dia membersihkan semuanya dengan rapi aku akan meminta maaf kepadanya nanti.

"Rapi sekali, apa benar Alfred yang membereskannya sendirian?" komentar Ludwig yang aku balas dengan senyuman.

"Sudahlah, ayo kita istirahat, aku akan di kamar tamu, kalian di kamar Arthur." jawab Elizaveta yang berjalan menuju kamar yang di sediakan khusus untuk tamu.

"Oh, kau tak bersama kami? Elizaveta?" tanya Ludwig yang polos.

"Ludwig-san, Elizaveta-san kan perempuan, tak mungkin bersama kita--"

"ah begitu."

setelah itu kami memasuki kamar masing masing.

Alfred pov

Astaga ada apa dengan Kiku, aku hanya ingin membesuk Arthur, ah aku takkan memanggilnya kakak lagi, boleh kan... ya pasti boleh.

aku berhenti dari perjalananku sejenak sebelum aku melangkahkan kakiku tuk kembali menuju rumah sakit, aku ingin melihat wajahnya yang tenang itu selama ini aku tak pernah melihat wajah tenangnya saat tidur, aku percepat langkah kakiku kembali ke rumah sakit, ah jika lewat jalan ini akan lama, aku akan lewat jalan pintas lainnya.

setelah lama berlari dari luar sana sampai kedalam rumah sakit melewati beberapa perawat dan pengunjung rumah sakit di sana sampai aku berhenti di depan ruangan di mana Arthur berada, aku buka pintu tersebut dan melangkah masuk berjalan menuju bilik di mana Arthur berada, dan aku melihatnya yang masih terbaring di atas ranjangnya, aku sentuh tangan kananya yang dingin itu.

"cepatlah sembuh, kakak." ucapku yang kemudian berjalan pergi meninggalkan Arthur, setelah aku keluar ruangan aku mengeluarkan ponsel milik Arthur dan segera menelfon Kiku.

"Hallo, Kiku, aku ada permintaan."

"Apa itu, Alfred-san?"

Kiku pov

Ada apa anak itu menelfonku malam begini? , aku menunggu jawabannya itu, ia masih diam saja di sana.

"kalau dia sudah sadar, telfon aku, aku akan datang menemuinya dan meminta maaf kepadanya atas apa yang terjadi." ucapnya yang di sebrang sana.

"lalu, apa yang akan kau lakukan. Alfred-san? pergi dari hal ini?" suaraku sedikit aku tekankan, aku dapat rasakan Alfred menghela napasnya.

"Tidak, aku akan mencoba merubah diri, dan aku akan bersama saudaraku sampai ia sadar."

aku memegang pelipisku, "baiklah." ucapku yang kemudian menutup telfonnya, oh bagus tuhan, aku tak bisa tidur lagi sekarang, sepertinya aku akan ke ruangan tempat ia bekerja.

aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar Arthur dan berjalan menuju ruangan di mana Arthur banyak menghabiskan waktu di ruangan itu, aku buka pintu ruangannya dan dapat aku rasakan suasana klasik di sana, sebuah rak panjang yang lebar berisi buku jurnal dan sebagainya dan di samping rak terdapat meja kerjanya, aku duduk di kursi yang di gunakan Arthur untuk duduk ketika mengerjakan tugasnya.

rasanya nyaman, membuat siapapun yang duduk merasa ingin berlama lama di sini, tak lama kemudian aku melihat secarik kertas yang terselip di antara buku yang tertumpuk di atas meja, aku mengulas senyuman ketika membacanya, mau tau isinya? Baiklah, isinya adalah foto ketika Arthur tertidur di meja kerjanya dan wajahnya di penuhi oleh coretan yang kami-- para kolega nya perbuat.

"Kiku, apa yang kau lakukan di ruangan Arthur?"

aku tolehkan kepalaku menatap sosok wanita, Elizaveta, "oh, Elizaveta-san, aku hanya ingin berada di sini karena aku tak dapat tidur," aku tersenyum kepadanya, "dan lihatlah, foto ini, kau ingat?"

aku berdiri dan berjalan mendekati Elizaveta yang berada di ambang pintu sembari menunjukkan foto tersebut, Elizaveta yang melihatnya hanya dapat tertawa kecil, "hahaha aku ingat."

oke chap selanjutnya sudah dapat kalian tebak kan? :3