Untitled

Naruto Mashasi Kisimoto

Highschool DXD Ichiei Ishibumi


.

.

"Hah!" Seketika aku terkejut ketika menyadari bahwa sekarang aku sedang berada di kelas, dengan earphone terpasang di telingaku yang melantunkan lagu 'Distraksi'. Dengan cekatan aku langsung memeriksa jam tanganku 06:24 AM[1] dan 22 November terpampang. Apakah itu berarti aku kembali ke masa lalu? Tapi kenapa? Oh ini semakin membuatku pusing. Masalah iblis dan iblis lainnya, baru saja dibunuh dan sekarang ini? Tuhan, kau memang benar-benar yang terburuk.

Pikiranku hanya bisa terfokus pada hal yang paling krusial saat ini, tidak memedulikan penjelasan guru yang sudah aku dengar. Apakah aku harus tetap makan di atap ataukah mencari jalan lain? "Untung saja aku sudah terlalu banyak mendapat siksaan hingga hal ini tidak membuatku gila," tanpa sadar aku melanturkan ucapan dengan nada kecil saking pusingnya.

Tampaknya aku harus mencoba untuk menghadapi Sona untuk menghindari pemotongan garis waktu yang terlalu panjang—itu pun jika teori ini benar. Tanpa sadar aku menggenggam pulpen milikku hingga patah, membuat tintanya meluber membasahi buku tulisku, sialan, cobaan apalagi ini?!

.

.

Aku langsung beranjak dari tempat duduk ku setelah membiarkan Sona berjalan terlebih dahulu. Dengan pelan aku melangkahkan kaki menuju atap, entah kenapa jantungku berdetak terlalu cepat menyebabkan keringat membasahi tubuhku. Seragam yang kukenakan pun sudah mulai basah di bagian punggungnya. Hanya tinggal menaiki beberapa anak tangga lagi, aku bisa meraih kenop pintu dan membukanya. Berharap bahwa Sona tidak ada dan aku hanya akan makan dengan tenang, hanya itu yang bisa aku pikirkan sekarang.

Tapi salah, sosok itu ada di sana. Gaya yang sama, posisi yang sama, menguatkan bahwa memang benar aku pernah menjalani ini. Aku mundur perlahan, sebagian dari diriku mengulangi yang kulakukan saat itu, sebagiannya lagi meneriakkan 'kabur!'.

"Uzumaki-kun, aku sudah menunggumu sejak tadi." Bohong! Kau pasti baru beberapa menit sampai di sini! Ingin rasanya meneriakkan itu, namun yang aku lakukan hanyalah berjalan perlahan mendekatinya hingga posisi berdiriku sama dengan saat itu.

"Ada apa?"

"Sebenarnya tidak ada hal khusus, aku hanya ingin makan bersamamu, boleh?" Persis, semua yang dia lakukan persis sama dengan apa yang sudah terjadi. Berarti aku belum mengubah tatanan waktu hingga sekarang. Aku langsung mendudukkan diriku dan memakan bekal dengan perlahan, menghayati setiap waktu yang ada. Semoga saja aku tidak mati kali ini. Sejenak aku pikir, mungkin Tuhan menyayangiku karena tidak memilih menjadi iblis dan memberikan satu kesempatan agar bisa hidup, tapi aku malah menyia-nyiakan kesempatan itu. Tapi saat ini sudah terlambat untuk kembali, mungkin aku memang harus mempertahankan kemanusiaanku sebagai rasa penghormatan kepada-Nya dan memberikan perlawanan pada Sona, walaupun kemungkinan besar aku akan mati.

"Uzumaki-kun, boleh aku bertanya sesuatu?" Sudah saatnya, aku harus benar-benar siap menghadapinya sekarang.

"Tentu, silakan."

"Mau 'kah kau bergabung dengan peerage iblisku?" Akting kaget yang aku gunakan saat ini, mencoba senatural mungkin karena tahu yang aku hadapi saat ini satu tingkat di bawahku soal kepintaran.

"Maaf tapi aku menolak." Setelah selesai berkata seperti itu, aku langsung loncat ke samping kiri guna menghindari balok es yang pasti akan datang. Dan benar saja, satu balok es langsung meluncur melewati tempat dudukku tadi ketika aku sudah mendarat. Dia tampak terkejut melihatku bisa menghindari serangan itu.

"Kau tahu? Aku semakin ingin memilikimu. Biar aku beritahu kentungan menjadi iblis. Kau bisa menjadi sangat kuat dan membentuk harem[2], apakah itu tidak membuatmu tertarik?" dia berujar dengan nada yang menggoda. Sekarang aku yakin bahwa iblis tetaplah iblis di mana pun mereka berada.

"Tetap aku menolak. Aku lebih baik mati menjadi manusia daripada harus hidup seperti kalian." Tiba-tiba air dengan diameter yang kecil datang. Aku dengan mudah menghindarinya hanya dengan menggeser sedikit kepalaku. Tidak main-main, efek dari peluru air itu mampu membuat lubang dengan kedalaman beberapa centimeter. 'Kalau itu mengenai kepalaku tadi, apa jadinya tengkorak kepalaku?!' pikirku histeris.

"Jam istirahat sudah hampir selesai Uzumaki-kun. Tampaknya aku harus membunuhmu sekarang. Jadi selamat tinggal."

Aku langsung berlari menuju pagar pembatas dan berniat loncat dari lantai 4 gedung sekolah ini, setidaknya ada semak-semak yang bisa melindungiku di bawah, semoga.

"Oh? Kau berpikir bisa lari? Rantai air!" dia berteriak sesuatu yang menggelikan seperti di beberapa anime. Saat sudah selesai memanjat pembatas, serasa ada air yang menarik tubuhku. Rupanya teriakan tadi bukan formalitas belaka. Langsung saja tubuhku dilempar ke atas, cukup tinggi menurutku. Tentu saat ini adalah implementasi nyata tentang gaya parabola, apakah aku harus menghitung energi yang tercipta ketika aku mencapai beton atap sekolah? Ah tampaknya aku tetap akan mati. Terima kasih Tuhan karena telah memberikan kesempatan, dan maaf karena tidak bisa memanfaatkannya. Tubuhku telah mencapai titik puncak, hanya tinggal menunggu gravitasi untuk membawaku turun ke bawah. Dari sini dapat kulihat hampir seluruh bangunan sekolah, apakah itu berarti aku terlalu tinggi? Secara tiba-tiba energi yang umum di bumi—gravitasi—menarikku ke bawah. Degup jantungku makin mengeras, sekilas aku melihat seringai dari Sona, sekali lagi aku mengutuknya sebelum menutup mata dan menghirup nafas panjang, untuk terakhir kalinya.

Bruk!

Dan ya, aku mati untuk kedua kalinya di hari yang sama namun jam yang berbeda. Sekali lagi terima kasih Tuhan.


.

.

Kaget, aku lagi-lagi berada di kelas. Jam dan tanggalnya pun sudah kupastikan sama. Apakah berarti Tuhan masih menyayangiku? Namun yang pasti aku tidak akan memilih rute untuk menghadapinya—Sona—lagi, tidak akan pernah. Namun mengingat bahwa satu iblis saja sudah sangat kuat, haruskah aku mengasah tubuhku agar sewaktu-waktu bisa melindungi diri? Mungkin aku harus mempelajari beberapa aliran bela diri, mungkin. Sekarang yang harus aku lakukan hanyalah rileks, tidak boleh terlalu tegang atau akan menderita stroke, kau tidak punya uang yang cukup untuk membayar itu kan, Naruto? Entah kenapa monolog itu membuatku terpukul, Naruto yang menyedihkan.

Rasanya bosan, sudah 3 kali mendengar materi yang sama, 3 kali melihat kegiatan yang sama, 3 kali melihat sosok iblis yang sama, 3 kali ... tunggu, nanti aku makan di mana ya? Di kelas saja deh, dia tidak akan berani menyerang jika ada saksi, aku benar 'kan?

Waktu terus berlalu seiring dengan pemikiranku yang melayang entah ke mana, bunyi bel istirahat tiba-tiba sudah berbunyi. Ketua kelas menyuruh kami untuk memberikan salam penghormatan kepada guru, setelahnya guru tersebut keluar diikuti beberapa murid. Ekor mataku terfokus pada Sona, melihat apakah dia sudah keluar kelas atau belum, merasa sudah aman, aku mengeluarkan bento milikku dan akan mulai memakannya, tak lupa membaca doa. Namun belum sempat suapan pertama masuk ke dalam mulut, aku tiba-tiba terpikirkan sebuah alat untuk melawan iblis.

.

.

"Sensei[3], kalau boleh aku ingin bertanya tentang hukum 'gravitasi'." Saat ini aku sedang berada di ruang guru, menghadap Fuyutsuki-sensei, seorang guru fisika dengan gender perempuan yang masih muda.

Tampak Fuyutsuki-sensei mengangguk pertanda jawaban iya disertai senyuman, mungkin karena sedikit murid yang ingin bertanya tentang pelajaran di luar jam sekolah.

"Jadi begini, besar gravitasi itu berbanding terbalik dengan jarak dari pusat sebuah planet kan?" ujarku yang dibalas anggukan olehnya. Setelah mendapat jawaban itu, aku kemudian meneruskan "Jadi, bisakah kita memanipulasi gravitasi, maksudku tanpa harus berbuat sesuatu terhadap jarak obyek dengan pusat benda?"

Fuyutsuki-sensei tampak berpikir, beberapa menit aku menunggu akhirnya dia memberikan jawaban.

"Menurut sensei sih tidak bisa karena pasti bertentangan dengan rumus yang ada. Tapi mungkin kau salah tanggap tentang sesuatu, bukan hanya planet yang memiliki gravitasi, semua benda yang memiliki massa memiliki gravitasi kok, bahkan bola basket sekalipun. Nah tapi semakin besar massa suatu benda makin besar gravitasinya. Sampai sini kau paham kan?" Aku langsung mengangguk, otakku memang cepat tanggap akan sesuatu.

"Jadi jika kau ingin bermain dengan gravitasi, buatlah sesuatu dengan massa yang besar maka sebuah obyek akan mendekat ke arah pusat gravitasi tersebut. Nah itu saja yang bisa sensei berikan. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" dia bertanya diakhiri senyuman, entah kenapa wajahnya sangat manis. Aku berpikir sebentar, dan dengan cepat bertanya lagi.

"Apakah mungkin obyek kecil memiliki massa yang besar?"

"Mungkin bisa jika kamu mampu meng-compress[4]nya. Eh apa kau benar-benar serius ingin melakukan ini?" dia bertanya dengan nada kaget, seperti tidak menyadari apa maksudku dari awal. Aku pun tersenyum menanggapi pertanyaannya.

"Mungkin sih, tapi pasti susah mencari obyek kecil dengan massa yang besar. Mungkin aku akan membuat alat untuk mengendalikan listrik soalnya itu lebih mudah. Terima kasih atas jawabannya sensei, aku pergi dulu."

"Iya, datang lagi ya. Aku menunggu alat buatanmu!" Dan aku tersenyum mendengar jawabannya. Jadi sekarang aku harus membeli beberapa alat di toko perkakas.

.

.

Aku menghabiskan banyak uangku hanya untuk membuat senjata ini, astaga aku benar-benar bodoh. Sekarang aku hanya harus melilitkan kawat ini ke sebuah benda bulat, lalu menyambungkannya ke trafo dan akhirnya memberikan kapasitor sebagai tempat penyimpanan listrik dan jadilah sebuah 'tesla coil'[5]. Eh tapi yang aku buat memiliki tegangan 220V, bagaimana caraku bertahan dari listrik itu? Astaga kenapa aku baru memikirkannya sekarang sih! Dasar Naruto bodoh! Besok tanya Fuyutsuki-sensei saja deh. Aku harus segera mendaftar ke salah satu dojo agar bisa berlatih ilmu bela diri.

Sekarang lihat dirimu Naruto, terlalu banyak hal negatif menimpamu. Apakah aku seharusnya bunuh diri saja? Menyusul beberapa teman yang sudah terlebih dahulu pergi.

Aku mengacak rambutku, pusing, terlalu pusing malah. Lebih baik aku tidur saja.

Bersambung


Keterangan :

1. AM = Memiliki arti sebelum tengah hari.

2. Harem = Pengisahan hubungan poligami.

3. -sensei = Panggilan untuk guru.

4. Compress = Memadatkan.

5. Tesla coil = Penghantar listrik tanpa kabel.


Pesan penulis :

Kembali lagi bersama saya dan cerita tidak jelasnya. Saya ingin berterima kasih pada beberapa orang yang sudah sudi membaca cerita ini. Kali ini terungkap kemampuan spesial Naruto, benar, menghabiskan banyak uang, bercanda kok. Saya menjanjikan sains-fiksi, mungkin sebagian dari cerita ini akan berisi itu—karena ini adalah basis saya— jadi maafkan jika kalian tidak senang. Silakan berikan tanggapan, kritik, cacian atau bahkan makian, saya akan menerimanya. Sekian dan terima kasih. Zanan log out.