Disclaimer : Naruto © Kishimoto Masashi-sensei. The Light is You © saya sendiri.

Warning : Fic ini mengandung unsur SasuXfemNaru, AU, gaje (banyak), OOC (sedikit). My first SasuNaru fic. Jadi maaf, kalau jelek.

A/N : Chapter yang ini mungkin lebih gaje dari yang lalu. Jadi, ya… jangan marah. ^_^v

O, iah! Terimakasih banyak untuk yang sudah bersedia mereview chapter lalu.

Happy reading!


-

-The Light is You-

-

Chapter 2

-


Naruto terus memandang mata hitam itu. Mata hitam milik Sasuke. Meskipun yang dilihat tak pernah tahu bahwa ada orang yang begitu memperhatikannya. Karena dia buta. Mata hitam yang senada dengan warna rambutnya itu menatap kosong. Namun sebenarnya dibalik tatapan kosong itu, terpancar kebahagiaan. Tak peduli betapa gelap keadaan yang dideranya. Entah bagaimanakah kegelapan yang dirasakannya… Apakah segelap warna bola matanya itu?

Seperti biasa, Naruto dan Sasuke duduk bersama sambil bercerita. Mengakrabkan diri selayaknya teman sepermainan. Sesekali Naruto tersenyum menanggapi cerita yang sedang dibicarakan Sasuke.

"Kau tahu? Dulu aku pernah punya seekor anjing kecil. Aku suka sekali dengannya. Dia lincah, kuberi nama Mori karena bulunya panjang dan lebat." Sasuke bercerita kepada Naru-chan. Naruto memperhatikannya dengan cermat.

"Kemana-mana aku selalu dengannya. Bahkan mandi dan tidur pun aku pernah bersamanya. Haha…! Tapi akhirnya dia mati karena makan semua obat diare yang diberikan dokter untukku…"

"Aha-ha… Anjingmu aneh sekali, doyan obat rupanya…" kata Naruto.

"Ya, bukan hanya itu. Dia juga pernah makan rerumputan dan kantung plastik bekas. Aku tahu dia makan plastik setelah dia sakit. Akhirnya kubawa ke dokter hewan dan dioperasi. Dan keluarlah plastik bekas itu. Ha-ha-ha!!" Sasuke tertawa riang. Naruto selalu merasa senang berada di dekatnya.

"… Aku senang kau tak pernah murung lagi sekarang…" kata Naruto tiba-tiba.

"Hm… Ya, ini karena ada kau…" Sasuke tersenyum. Tampan sekali…

Dada Naruto bergetar. Suka… Dia menyukai Sasuke lebih dari apapun di dunia ini.

Mereka berdua terus mengobrol lama sekali. Namun, berapa lama pun Naru-chan bersama Sasuke, hal itu tak kan pernah membuatnya merasa bosan. Sasuke adalah lelaki yang baik, menurut Naruto. Karena itu, dia suka sekali berada di dekatnya.

"Sasuke… Maaf, aku harus pulang. Sudah sore, nih!" kata Naruto dengan sedikit berat hati.

"Ooh… Iya. Terimakasih kuenya ya?"

"Ya, tentu," ucapnya. Kemudian dia menyeret duduknya menjauh dari Sasuke. Berpegangan, lalu berdiri dengan tongkatnya.

"Naru-chan!" panggil Sasuke.

"Deg!" Jantung Naruto berdetak kencang. Dia menoleh.

"Besok datang lagi ya…" ucap Sasuke. Dengan senyuman, lagi…

Naru-chan tersenyum dan menjawab riang. "Pasti!"

-

-

Keesokan harinya seperti biasa, Sasuke menunggu Naruto di taman belakang panti. Karena dia tahu kebiasaan Naru-chan yang selalu masuk lewat pintu belakang. Dia menunggu Naruto di bawah pohon kesukaannya. Sambil memegang sebuah buku.

Sasuke membuka buku itu perlahan dan mulai meraba halaman demi halaman buku tanpa tulisan itu. Buku yang dipegangnya adalah sebuah buku Braille. Buku itulah yang menemaninya sambil menunggu kedatangan Naru-chan. Titik-titik timbul pada halaman itu menjadi petunjuknya dalam mengetahui dunia. Karena indera penglihatan yang dipunyainya telah tak berfungsi lagi. Sebenarnya dia baru beberapa kali diajar membaca dan menulis huruf Braille. Namun itu ketika dia masih diasuh pamannya dulu. Pamannya membawakan dia seorang guru yang juga orang buta. Pada awalnya Sasuke tidak mau, tapi akhirnya dia sadar karena tak selamanya dia akan bergantung pada orang lain untuk membaca atau menuliskan sesuatu. Meskipun baru beberapa kali belajar, dia sudah mampu menguasai hampir semuanya. Karena dia memang seorang yang cerdas.

Siang itu, halaman belakang panti sepi. Anak-anak panti yang lain sepertinya sedang tidur siang. Naruto telah sampai di depan gerbang belakang panti ketika sebuah ide usil terlintas di kepalanya. Dia melihat Sasuke duduk sendirian di bawah pohon. Dia berniat untuk diam-diam mendekatnya dan mengagetkannya. Dia berjalan dengan perlahan dan hati-hati agar tak ada suara yang terdengar dan menyadarkan Sasuke.

Berhasil! Dia telah sampai di samping Sasuke dan sepertinya Sasuke masih belum menyadari kehadirannya. Dia bersiap mengagetkannya dengan satu hentakan.

Satu… Dua… Tiga…!

"… Naru-chan, kau sudah datang rupanya!" tiba-tiba Sasuke berkata dan dia berhasil balik mengagetkan Naruto.

"Yaaah, nggak seru! Padahal aku kan mau mengagetkanmu…"

"Hihihi…" Sasuke tertawa kecil.

Naru-chan duduk di sebelahnya. Tongkat miliknya disingkirkannya agak menjauh.

"Dari mana kau tahu kalau aku sudah datang…?" tanya Naruto.

"Hehe… Jangan meremehkan orang buta ya… Meskipun aku tidak bisa melihat, kemampuan inderaku yang lain untuk merasakan juga semakin kuat…"

"Heh? Maksudmu kau bisa merasakan dengan indera keenam begitu?"

"Haha… bukan… Bukan begitu. Aku bisa tahu karena dari baumu…" jawab Sasuke sambil tersenyum simpul.

"Hah?? A, aku bau ya…" Naruto salah tingkah dan menciumi kaus yang dikenakannya.

"Hahaha…!" Sasuke tertawa. "Bukan kamu yang bau… Tapi kue yang kau bawa. Aku hafal dengan aroma bolu yang kau buat. Kau pasti membawakannya untukku kan? Haha…"

"Hu-uh, bikin kaget saja!" Naruto menggembungkan pipinya. "Aaah, kalau begitu aku tak jadi memberikan bolu ini untukmu… Karena aku tadi gagal mengagetkanmu!"

"Yaaah… Ayolah, Naru-chan. Masa sudah kau bawa ke sini, aku tak boleh memakannya… Kau tahu kan, aku suka sekali dengan bolu buatanmu…"

"Ehmm… Iya, iya… Aku cuma bercanda…" Naruto tersenyum. "Nih, satu untukmu. Dan satu untukku," ucap Naruto sambil meletakkan sepotong bolu ke tangan Sasuke.

"Waaah… Terimakasih. Bolu buatanmu memang paling yahud!"

"Maaf ya, hari ini daganganku hanya tersisa dua buah ini saja…" kata Naruto dengan nada sedikit menyesal.

"Tak apa…" Sasuke kembali menunjukkan senyumnya yang selalu berhasil meluluhkan hati Naruto.

"Naru-chan…" panggil Sasuke tiba-tiba.

"Hmm…?" jawab Naruto sambil melahap habis potongan bolu terakhirnya.

"Kau baik sekali, ya… Padahal, aku kan orang buta…"

"DEGG!!" jantung Naruto berdegup keras. Bolu yang sedang dikunyahnya tak jadi ditelan.

"Ah, andai Sasuke-kun juga tahu bahwa aku ini seorang cacat…" batin Naruto dalam hati.

"Ng… Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Naruto kemudian.

"Ya… Aku rasa kaulah teman pertamaku semenjak aku jadi buta. Kau juga lihat sendiri, kan? Tak ada satupun anak panti ini yang mau bermain denganku…"

"Sasuke-kun… Aku rasa bukan maksud mereka untuk menjauhimu. Anak-anak panti ini kan memang masih kecil-kecil semua. Aku yakin mereka hanya sungkan saja padamu…"

"Benarkah?"

"Ya…"

"Kau… baik sekali… seperti kakakku dulu…"

"Eh?" Naru-chan menoleh Sasuke.

"Ya… Aku dulu punya seorang kakak. Namanya Itachi, dia baik sekali. Dia selalu sayang padaku dan mengajari banyak hal padaku… Dia juga mau menjadi teman bermainku. Meskipun sebenarnya dia sedang sibuk, dia pasti mau menyempatkan diri bermain denganku waktu kecil dulu. Dia tak pernah memarahiku… Aku, juga sayang sekali padanya…" cerita Sasuke.

"Tapi sayang sekali, dia meninggak ketika kecelakaan menimpa mobil yang kami tumpangi. Mobil yang kutumpangi bersama kakak dan kedua orang tuaku dihantam truk yang sopirnya lalai. Kepalaku terbentur, dan pecahan kaca mobil mengenai mataku. Tapi aku masih selamat. Itu karena aku dilindungi kakakku yang duduk di sampingku. Aku masih ingat, ketika klakson berbunyi keras, kakak langsung memelukku…"

"Oh… Begitu ya…"

"Naru-chan…? Naru-chan mau kan jadi kakakku?" tanya Sasuke serius.

"DEEGG!!" jantung Naruto kembali berdetak kencang. Dia tak menyangka Sasuke akan mengatakan hal itu. Entah kenapa, seketika perasaannya tak menentu.

"Jadi… Aku hanya dianggap kakak oleh Sasuke-kun ya. Padahal aku menyukainya dengan tulus. Tapi… kurasa itu hanyalah perasaanku saja. Yang suka Sasuke kan hanya aku. Sedangkan Sasuke hanya menganggapku kakak. Ah, tak apa… Asalkan Sasuke-kun bahagia, dan aku pun masih bisa berada di dekatnya, jadi kakak pun aku senang…" batin Naruto.

"Naru-chan tidak mau ya… Sudah kuduga! Kau pasti tidak mau menjadi kakak seorang buta sepertiku, kan? Haha… Maaf, aku berkata seenaknya. Lupakan saja perkataanku tadi."

"Tidak! Aku… Mau menjadi seperti kakak Sasuke-kun…" jawab Naruto.

"Benarkah?" tanya Sasuke girang.

"Tentu saja aku mau…!"

Naruto tersenyum kecut. Tapi ia tak mau Sasuke tahu yang sebenarnya. Baginya, asalkan bisa melihat tawa Sasuke, hatinya puas. Mulai sekarang, ia akan berusaha membuat Sasuke bahagia. Karena bagi Sasuke, hanya dialah satu-satunya teman dan saudara dekatnya. Dan juga orang yang mampu diajaknya berbagi suka dan duka…

"Oh, ya… Boleh…? Boleh aku meraba wajahmu…?" pinta Sasuke.

"Eh?"

"Aku… Ingin tahu wajah Naru-chan seperti apa. Boleh kan?"

"Hmm." Naruto tersenyum. "Iya, boleh…"

Sasuke mengangkat tangannya ke udara. Berusaha menggapai wajah seseorang yang ada di sampingnya. Naruto mengambil tangan itu, lalu meletakkannya di pipinya. Sasuke meraba lebil jauh lagi. Mencermati setiap titik yang unik pada wajah Naruto. Hidungnya, matanya, alisnya, bibirnya… Dia menghafal semuanya. Namun sentuhan jemari tangan Sasuke telah membuat Naru-chan merasakan sensasi aneh di wajahnya. Wajahnya terasa memanas, dadanya juga terus berdetak kencang. Keringatnya mulai mengucur deras.

"Kau sakit Naru-chan? Wajahmu kok berkeringat?" tanya Sasuke yang merasakan tangannya basah.

"Ah, tidak. Ha, hanya sedikit gerah saja…"

"Hmm, iya akhir-akhir ini memang gerah sekali," ucap Sasuke sembari menarik kembali tangannya.

"Mungkin karena suasananya agak mendung. Sepertinya sih hari ini mau hujan. Musim seperti ini kan hujan tidak jelas kapan datangnya…" jawab Naruto.

Kemudian… "Tes… Tes… Tes…" titik-titik air mulai berjatuhan dari langit.

"Tuh, kan… Baru diomongin juga… Sasuke-kun, sebaiknya kau kembali ke rumah saja. Sebelum hujannya makin deras," tawar Naruto.

"Nggak ah! Aku mau di sini hujan-hujanan sama Naru-chan!" tolak Sasuke.

"Heeeh, Sasuke-kun! Kau tidak boleh hujan-hujanan… Nanti sakit, ayo kuantar ke dalam."

"Iiih, Naru-chan pemaksa…"

"Ayo, patuhi aku. Aku kan sekarang kakakmu…"

"Hihi, iya deh…" Sasuke berdiri.

Naruto menarik tongkatnya. Kemudian perlahan dia berdiri.

"Ayo, kita ke dalam rumah. Kupandu dari belakang ya…!" Sasuke menurut. Sebenarnya bukan maksud Naruto ingin menuntunnya dari belakang. Sekali lagi, dia tak ingin Sasuke tahu kalau dia pincang. Kalau sampai suara tongkatnya terdengar di lantai, Sasuke bisa tahu kan?

"Awas, di depanmu ada tangga. Pelan-pelan…"

"Naru-chan cerewet…" Sasuke meniti tangga perlahan. Tapi Naruto berhenti di bawah tangga kecil di depan pintu itu.

Ketika Sasuke mulai memasuki pintu, Naruto berkata, "Sasuke-kun, aku pulang dulu ya…"

"Kau tak masuk dulu mengeringkan badanmu?"

"Enggak, sekalian aja nanti aku mandi. Sudah ya… Bilang maaf sama adik-adik lainnya, mereka tak dapat bagian kue hari ini…"

"Iya… Da-daah…"

Setelah melambaikan tangan pada Sasuke, Naru-chan masih menunggu beberapa saat hingga Sasuke benar-benar masuk ke dalam rumah. Setelah sosok itu tak dilihatnya lagi, dia berbalik dan pergi meninggalkan halaman yang kini berlumpur karena hujan itu dengan perlahan agar tidak sampai terpeleset.

Bahagia sekali perasaan yang dirasakan Naruto saat ini. Betapa tidak, Sasuke selalu berhasil membuatnya terpesona. Sungguh pria idaman hatinya…

Agak tergesa Naruto melangkah meninggalkan tempat itu. Karena hujan telah bertambah deras. Dan Naruto tentu tak bisa berlari dengan keadaannya yang begitu. Atau dia akan terpeleset dan jatuh. Akhirnya beberapa menit kemudian, dia sampai di rumahnya yang kecil dengan tubuh basah kuyup.

-

-

Pagi itu mentari bersinar cerah. Cahayanya membawa harapan hidup bagi semua makhluk di bumi. Begitu pun Naruto. Gadis kecil itu tengah menata kue dagangannya di keranjang kecil. Jam dinding baru menunjukkan pukul enam seperempat. Tapi dia sudah bersiap-siap untuk berdagang kuenya. Jam segini memang waktu yang tepat untuk menjajakan kue di komplek sekitar rumahnya. Banyak orang-orang yang membeli kue-kuenya untuk sarapan.

"Empat puluh sembilan… Lima puluh…" Dia menghitung jumlah kue yang akan ia bawa. "Nenek, aku berangkat ya…" kata Naruto setelah selesai menata dagangannya.

"Iya… hati-hati di jalan…" jawab neneknya.

"He-eh… Ha~chii…!! Huachii…!!" tiba-tiba Naruto bersin-bersin.

"Naru-chan, kau pilek ya…? Mukamu juga pucat…" tanya nenek Tsunade.

Eh? Apa iya… Aku enggak apa-apa kok… Paling-paling ada bulu kucing di sini," jawab Naru-chan sambil melangkah keluar rumahnya. "Sudah ya, nek… Aku pergi dulu…"

"Iya…"

Naruto berjalan menyusuri jalan yang mengelilingi perumahan itu sambil menjajakan kuenya. Tak berapa lama, sampailah ia di Dandelion House, panti asuhan tempatnya bermain bersama anak-anak di sana. Kali ini dia mengetuk pintu depan rumah itu. Nona Anko yang membukanya.

"Ah, Naru-chan."

"Ini, ada kue… Sepuluh buah, untuk adik-adik…" kata Naruto sambil tersenyum.

"Waah… terimakasih. Jadi merepotkan Naru-chan terus ya… Setiap hari Naru-chan membawakan kue untuk anak-anak…"

"Aha-ha… Tak apa. Lagipula kalau tidak begitu, seperti ada yang kurang sih… Sasuke-kun sudah bagun?" tanya Naruto.

"Sepertinya belum."

"Begitu ya? Kalau begitu aku berangkat ya…"

"Iya. Selamat jalan… Terima kasih ya!" Nona Anko melambaikan tangan.

Naruto berjalan lagi melewati gang-gang dan akhirnya sampai di jalan besar. Di jalan besar itu, kendaraan mulai lalu-lalang memenuhi jalanan. Menimbulkan polusi yang tidak nyaman.

"Haa-chii…!" Suara bersin Naruto berbaur di antara suara kendaraan. Hidungnya meler. Suaranya juga mulai sengau.

"Hhh… jangan-jangan aku benar-benar sakit. Di sini enggak ada kucing…" pikirnya. Dia memang tidak begitu peduli dengan keadaan tubuhnya. Habisnya, selain dengan bulu kucing, dia kebal dengan apapun. Bisa dibilang jarang sakit. "Mungkin pilek gara-gara hujan-hujanan kemarin ya…?"

Naruto tak peduli. Kalau hanya pilek, nanti juga sembuh, pikirnya. Dia melanjutkan berjalan menyusuri trotoar yang kini ramai dengan pejalan kaki. Mereka tergesa menuju tempat tujuannya masing-masing.

"Silakan, kuenya tuan… nyonya…" Naruto menjajakan dagangannya. Namun kelihatannya hari ini tak seberuntung kemarin. Tak banyak yang membeli dagangannya. Memang, tak setiap hari dagangannya laris terjual. Namanya saja berdagang, pasti ada kalanya tak laku.

Matahari kian terik dan menyengat kulit. Siang hari di tengah kota, dan tanpa pelindung kepala di hari seterik ini sambil menjajakan dagangannya yang sejak tadi belum terjual sepuluh buah, membuat kepala Naruto semakin pening. Suaranya semakin parau meneriakkan dagangannya. Memang, hari ini dia tak seberuntung pedagang penjual menuman yang ada di sebelahnya. Hari-hari terik seperti ini, kelihatannya membuat para pembeli lebih tertarik pada minuman daripada kue.

"Duuuh… Kepalaku pusing deh…" Naruto memijit pelan kepalanya yang terasa pusing. Peluh membasahi kaos lusuhnya. "Istirahat sebentar deh…" Akhirnya Naruto memutuskan untuk duduk sebentar di halte tempatnya sekarang.

-

-

Di Dandelion House…

"Sasuke… Ada tamu untukmu…" kata Nona Anko pada Sasuke yang sedang duduk di bawah pohon kesukaannya. Kemudian dia menghampiri Sasuke dan memapahnya menuju ke dalam rumah.

"Tamu? Untukku? Siapa…?" tanya Sasuke beruntun.

"Kau akan tahu sebentar lagi," jawab Nona Anko penuh rahasia.

Mereka sampai di ruang tamu. "Nah, ini Sasuke. Silakan anda mengobrol dengannya dulu," ujar Nona Anko kepada tamunya.

"Baiklah…" jawab seseorang. Nona Anko membantu Sasuke duduk di kursi. Kemudian dia pergi.

"Kau Sasuke-kun ya…? Ternyata lebih tampan daripada yang di foto…"

"Maaf, anda siapa…?"

"Oh, maaf aku belum memperkenalkan diri. Aku adalah Haruno Sakura. Aku teman baik sekaligus partner kerja ayahmu. Aku sangat sedih ketika mengetahui keluargamu kecelakaan. Waktu itu aku sedang berada di luar negeri. Jadi aku tak bisa hadir di upacara pemakaman keluargamu…"

"Tapi, apa maksud kedatangan anda kemari?"

"Hm… Begini. Begitu aku tahu seluruh keluargamu meninggal dan tak ada yang mengasuhmu, aku merasa sedikit cemas. Lalu aku mencari informasi, dan ternyata kau dititipkan di sini. Dan maksud kedatanganku ke mari adalah untuk mengadopsimi, Sasuke-kun… Kau mau kan?"

"A, adopsi…?"

"Ya… Kau akan menjadi anak angkatku…"

-

-

Di halte…

Sebuah bis datang. Naruto hendak naik dan bermaksud berdagang kuenya di dalam bis. Namun kali ini entah kenapa kepalanya terasa berat. Pusing sekali. Tapi ia tetap berusaha berdiri.

"Duuh, pusiiing…" batinnya. Begitu berdiri, kepalanya malah terasa semakin sakit. Pandangannya serasa berputar dan mulai gelap. Keseimbangannya goyah. Keranjang yang dipegangnya tumpah beserta isinya. Kemudian dia jatuh tak sadarkan diri. Dia sempat merasakan banyak orang mengerumuninya dan meneriakinya. Tapi beberapa detik kemudian dia tak ingat apapun lagi… Pingsan.

-

-

To be continue


Ternyata saya tidak biasa dengan panggilan 'Naru-chan'. Setiap kali ngetik pasti jadi 'Naruto' saja. Padahal saya ingin menghadirkan image perempuan pada Naruto (didepak sama Oom Masashi). Yah, sebenarnya saya juga sudah dikasih tahu kakak saya (?) lebih baik pakai 'Naruto' saja. ^_^.

Dan… Howaaaah. Gawat, gawat! Saya benar-benar bingung mau ngebawa fic ini ke mana… Saya nggak tahu mesti bikin jalan cerita yang gimana… T_T. Yang mau mereview, tolong kasih ide saya dong… (pasang puppy eyes)

OKE, saya harap chapter ini pun tetap ada yang mau mereview. Meskipun jelek dan enggak jelas… Meskipun jelek dan enggak jelas… Meskipun jelek dan enggak jelas… (ditendang karena ngulang-ngulang kalimat). Review ya…!

Hyoran.