Turth or Dare
A HunKai Fanfiction
2016© PeachSundae
Rate : M
"Jadi apa jawabanmu?"
"Aku langsung menikahimu. Jadi kita tidak perlu berpacaran."
P.S Ah terlalu banyak typo kemarin sampai judulnya juga ikut typo. Hem seharusnya Jongin yang tutup mulut waktu di uks. Argh! Typo, typo, typo!
P.S.S Ada masalah dengan reviewsnya, walau udah dapat pemberitahuan dari e-mail tapi tetep aja kalau di buka nggak ada review yang terbaru. Jadi maaf ada satu reviews yang tidak tersebut karena aku nggak tau siapa dia. :(
Kertas note berwarna kuning tertempel pada pintu kulkas saat Sehun mengambil kotak susu. Masih dalam kondisi setengah sadar, Sehun mengabaikannya dan melihat keadaan rumahnya. Entah kenapa rumahnya terlalu sepi kali ini, seingatnya ia bangun di bawah jam makan malam. Menghapus sisa susu dengan punggung tangannya Sehun mulai memperhatikan note dengan tulisan milik ibunya.
"Hari ini eomma terpaksa harus menemani appamu pergi ke Busan selama tiga hari. Pagi-pagi sekali kami harus berada di sana. Eomma sudah menyiapkan bahan makanan untukmu. Ingat, bukan berarti kau bebas Oh Sehun, eomma sudah memberi jadwal untukmu. Jangan buat rumah seperti kapal pecah!"
Eomma 3
Sehun langsung loncat-loncat bahagia, tak apa ada jadwal yang harus ia ikut toh ia tetap merasa bebas. Berlari ke kamarnya, Sehun langsung meraih benda persegi panjang miliknya dan mengirim sesuatu pada grup line kelompoknya. Kekehan keluar dari bibir tipisnya setelah ia melihat chat yang belum ia lihat.
Jongdae benar-benar memberikan foto hasil dari dare tiga minggu lalu—yah walaupun melampaui batas waktu, tapi setidaknya Jongdae benar-benar melakukannya. Anak mahasiswa yang beda usia 2 tahun dengan mereka. Semoga saja mata Jongdae aman-aman saja alias terhindar dari bogem mentah atau mungkin setelah ini mereka akan jadian.
Memikirkannya saja Sehun berusaha menahan tawanya, mana mungkin anak tengil dan cerewet seperti anak anjing beagel itu mendapat kekasih. Pesan linenya belum ada yang membaca, membuatnya kesal dan kembali turun ke bawah untuk mengambil snack malamnya. Baru beberapa menit di tinggal, beberapa chat telah memenuhi notifikasi handphonenya.
ChenChen:
Ah baiklah, kali ini sepertinya kita harus menginap di rumah Sehun.
2Minnie~:
Sehun jangan lupa siapkan snack! Aku akan membawa koleksi filmku.
Niel:
Asalkan jangan film horror yang kau bawa Tae! Atau aku akan membocorkan rahasiamu sungguh!
ChenChen:
Ah aku punya mainan baru yang menyenangkan, semoga kalian menyukainya~ khekhekhe
Sehun buru-buru mandi sebelum teman-temannya datang untuk menginap dan mempersiapkan diri untuk siap-siap saja rumahnya berantakan. Menyampirkan handuk putih pada bahunya Sehun masih mengecek apakah ada chat yang masuk, namun chat terakhir masih milik Jongdae hingga ia pun melepas benda elektronik tersebut dan benar-benar masuk kedalam kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, Sehun keluar dengan mengeringkan rambutnya yang basah dengan sisa air yang meluncur pada tubuhnya. Handuk putih melilit pada pinggangnya berganti dengan celana training kain yang nyaman dipakai. Tapi bunyi bel pintu membuatnya buru-buru turun tanpa sempat mengambil kaos miliknya.
"Iya-iya sebentar!" teriak Sehun langsung melompati tiga anak tangga karena seseorang yang tidak sabaran dengan pintu rumahnya. Tangan kanannya memutar kenop pintu, membuka lebar pintunya dan siap memaki orang yang tak sabaran itu.
"Jongin!" Ucapnya kaget setelah ia melihat sosok manis di depan pintunya. Mulutnya sedikit terbuka melihat Jongin dengan duffel bag serta box yang isinya entah apa. Pipinya sedikit merona melihat Jongin mengenakan sweater turtelneck yang menambah kemanisan pemuda tan yang tangannya tersembunyi akibat terlalu panjang lengannya.
Sama halnya dengan Jongin, pemuda itu terkesima dengan postur dan bentuk tubuh Sehun yang sialnya ideal menurut Jongin. Pipinya juga ikut memerah karena merasa bersalah telah menyia-nyiakan Sehun pada waktu itu. "Ehem..." Jongin berdehem sebentar, mencoba menetralkan dirinya. "Jadi apa aku diperbolehkan masuk?" tanya Jongin sedikit memiringkan kepalanya.
Sehun mengangguk cepat, mempersilahkan Jongin masuk yang langsung menaruh box misterius itu beserta tasnya pada sofa. "Hem," rasa canggung memenuhi ruangn tamu begitu Sehun berbalik. "Kau, mau minum apa?" tawar Sehun merasa tubuhnya sedikit memanas. Meski ini bukan pertama kalinya ia bertelanjang dada seperti ini, tetap saja ia malu ketika pujaan hatinya berusaha melirik tubuhnya.
Mengetahui bahwa ia tertangkap basah, Jongin langsung mengalihkan pandangannya. "Te-terserah." Ah! Kenapa ia harus tergagap? Sepertinya image Jongin minggu-minggu lalu sudah menguap seiring ia merasa senang dapat melihat abs yang terpahat indah pada tubuh Sehun. Kedua punggung tangannya ia tempelkan pada pipinya yang terasa hangat setelah Sehun pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman.
Handphonenya bergetar dalam saku celana jeansnya, merogohnya dan tersenyum simpul begitu mengetahui nama yag tertera dalam layarnya. Suara tawa pelannya membuat Sehun penasaran sekembalinya ia dari dapur dengan membawa gelas berwarna oranye dan melangkahi sofa. Duduk di sebelah Jongin yang langsung buru-buru memasukkan handphonenya dalam saku.
"Habis pulang dari latihan dance?"
Jongin mengangguk dan menghapus sisa air manis tersebut dengan ibu jarinya. "Kenapa kau tidak ikut lagi? Para sunbae masih mengharapkanmu untuk kembali."
Sehun melirik Jongin, "Tidak ah, tapi apa kau tidak mengharapkanku kembali?" tanya Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Jongin. Buru-buru menghindar, wajah Jongin kembali memerah.
"Ke-kenapa harus?"
Sejurus kemudian Sehun tertawa, "Lalu apa yang kau bawa?" tanya Sehun kembali mengalihkan perbincangan tadi. Kedua matanya menatap box tersebut penasaran.
Jongin ikut melihat box yang ia bawa tadi. "Entah lah, aku juga tidak tau. Tadi saat aku pulang tiba-tiba saja Jongdae memberiku ini. Katanya mereka mau menginap di rumahmu, kenapa aku tidak di ajak?" tiba-tiba Jongin merajuk sedikit memajukan bibirnya yang membuat Sehun harus menahan diri untuk tidak melumat kasar bibir kenyal itu.
"Mana aku tau kalau kau juga ingin bergabung? Lagi pula rumah kita berdekatan!"
Jongin merengut mendengarnya dan melipat kedua tangannya. "Tapi dulukan kita pernah saling menginap!"
Sehun memutar kedua bola matanya, merasa jengah kalau Jongin sudah seperti ini. Tidak akan ada habis-habisnya kalau ia meladeni. Mengambil box yang ada di samping tubuh Jongin ketika rasa penasaran yang ada tidak bisa terbendung lagi. "Apa ini barang-barang mereka?" Ia melihat alat lie detector, kaset film yang ia yakini milik Taemin, serta snack kesukaan Niel di dalamnya. "Tunggu, tadi kau bertemu dengan Jongdae? Lalu dimana mereka?"
Jongin hanya menggeleng dan mengendikkan bahu, "Aku hanya tau Taemin ada kencan mendadak dengan Minho. Sedangkan Jongdae dan Niel, aku tidak tau."
Sehun langsung memasang wajah datar, merasa sebal dengan teman-temannya yang akhirnya punya urusan sendiri. Tapi sepertinya tidak masalah dengan keberadaan Jongin disini, pemuda manis yang akan menginap di rumahnya. Sejenak ia terus menatap alat pendeteksi kebohongan tersebut, apa ini yang dikatakan Jongdae? Alat yang katanya menyenangkan itu?
"Kau mau bermain?" Sehun menawarkan alat milik Jongdae yang ia harap akan benar-benar menyenangkan. Jongin mengangguk setuju, mengambil alih alat tersebut dan menyeringai. "Siap-siap saja rahasiamu terbongkar Oh Sehun." Bisiknya dan meniup pelan telinga Sehun.
"Tapi kau juga harus siap-siap kalau aibmu terbongkar Kim Jongin." Balas Sehun dengan menahan dagunya, berbisik pelan tepat pada wajah manisnya.
"Siapa takut!"
Wah nyali Jongin ternyata besar juga, sepertinya Sehun harus memilih topik yang sensitif kali ini. Bukan sekedar basa-basi, ah semoga saja anak ini tidak melupakan permintaan Jongin yang bisa saja akan ditanyakan kembali. Beralih pada sisi pikiran Jongin, jiwa setannya muncul begitu mengingat ia belum mendapatkan jawaban dari Sehun waktu itu. Jiwanya begitu menggebu-gebu, menerka-nerka reaksi Sehun nanti.
"Baiklah, kalau begitu kita adu suit." Sehun menyembunyikan tangan kanannya di punggungnya, memikirkan apa yang akan ia keluarkan. Jongin hanya tersenyum miring, merasa santai membalas tatapan tajam Sehun. Mereka berdua duduk di atas karpet, saling mengepalkan tangan.
"Kawi, bawi, bo!"
Jongin langsung meninju udara begitu batu yang ia keluarkan menang melawan gunting Sehun. Sehun tersenyum masam dan meletakkan tangannya pada alat tersebut, mempersiapkan dirinya apapun yang terjadi nantinya. "Semoga tidak sakit." Bisik Sehun pelan pada dirinya.
Jongin tersenyum lebar hingga matanya menyipit, "Kau masih menyimpan foto naked Miranda Kerr di bawah bantal?" bersiap-siap menyetel alat tersebut.
Sehun menggeleng dan alat tersebut mengeluarkan bunyi hingga suara getaran terdengar dengan jeritan Sehun yang merasakan sakit pada tangannya. Ia kibaskan berulang kali tangannya dengan mengupat tanpa suara. Jongin tertawa pelan, giliran dirinya yang akan diuji. "Dasar otak mesum."
Yang diejek hanya melirik, masih menggenggam tangannya yang terasa panas dan sakit. "Kalau begitu apa kau pernah membayangkan Kris, Chanyeol, Baekhyun hyungmu itu untuk bermaturbasi?"
Wajah Jongin langsung memerah dan Sehun pun langsung tau kalau Jongin pernah membayangkan mereka sebagai objek fantasi liarnya. "Te-tentu saja."
What! Sehun menatap Jongin tidak percaya, apa Jongin harus jujur untuk menghindari sengatan listriknya? Alat itu mengeluarkan bunyi yang berbeda dari miliknya. "Kau juga sama mesumnya denganku."
Jongin langsung menarik tangan Sehun, buru-buru memasangnya. "Lalu kau sendiri apa tidak pernah membayangkanku sebagai objek fantasimu?" Jongin tidak mau kalah, yah sepertinya mulailah masalah pemuda yang tidak akan jauh-jauh dari hal-hal kotor duniawi.
Sehun mengangguk tanpa punya rasa malu dan alat itu membuktikan bahwa Sehun jujur. "Kutanya balik! Kau pasti pernah membayangkanku juga bukan?"
Suara getaran langsung terdengar setelah Jongin menggeleng cepat. "Kau penah membayangkanku?" tanya Sehun dengan senyum sumringah. Jongin menatapnya sebal dengan menggenggam erat tangannya, "Jadi berapa kali kau membayangkannya denganku?"
"Hem... tak sesering dengan tiga hyung. Kau hanya selingan."
Rasanya rahang Sehun ingin jatuh, masa ia kalah dengan kedua tiang listrik dan seorang maniak eyeliner? Tapi setidaknya Jongin benar-benar pernah memikirkannya, mungkin sebentar lagi Jongin juga bisa menikmatinya langsung- bukan sebuah fantasi belaka (mungkin).
"Benar aku hanya selingan?" Sehun menarik tangan Jongin kembali, menahan pemuda tan tersebut yang berusaha melepaskannya. Alat itu kembali bergetar, membuat sebuah senyuman nakal pada wajah Sehun.
"Kenapa aku dapat dua kali!" teriak Jongin tidak terima karena tangannya kembali sakit. "Puas kau?!" Jongin meraih bantal di sofa, mencoba memukul Sehun yang tertawa dengan tangan kirinya.
"Kau bisa mengajukan dua pertanyaan padaku, lagi pula itu adil." Jongin kembali memukul Sehun dan berhasil mengenai telak kepala pemuda bersurai hitam tersebut.
Jongin tanpak ragu untuk melontarkan pertanyaan pada Sehun begitu pemuda pale di depannya sudah bersiap kembali. Ia sudah lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ia pikirkan akibat pertanyaan mesum Sehun padanya. Membuang nafas kasar, Jongin mendekatkan tubuhnya "Kau masih ingat dengan dareku bukan, jadi apa jawabanmu?"
Sial! Ini yang ingin Sehun hindari dari permainan ini, ia belum siap menjawabnya. Sebenarnya ia mau sih pacaran dengan Jongin tapi— Sehun langsung menggeleng dan Jongin menyetelnya. Suara getaran muncul lagi, namun Sehun menahannya dan tetap memasang wajah datarnya. Jongin yang menunggu-nunggu ekspresi Sehun hanya terbengong-bengong. Alatnya tidak rusak bukan?
"Kau menahannya atau alat ini benar-benar sudah rusak?" Sehun hanya mengendikkan bahunya berpura-pura acuh. Jongin memanyunkan bibirnya merasa kesal, "kenapa kau tidak jujur? Jawab saja!" Suara Jongin sedikit meninggi dari biasanya, rasa kecewa langsung menghampirinya mengetahui Sehun berbohong. "Kau tau aku menyukai—
CHU
Sehun langsung membungkamnya lewat kecupan singkat, menatap Jongin dengan pandanganya yang tidak bisa ia jelaskan. "Aku-aku belum siap. Tunggu aku mapan dahulu."
"Heh?"
"Aku langsung menikahimu. Jadi kita tidak perlu berpacaran."
Kaca! Mana kaca! Sudah Jongin pastikan wajahnya hingga telinganya ikut memerah. Jantungnya berpacu cepat mendengar jawaban Sehun yang rasanya tidak masuk akal baginya. Apa? Menikahinya langsung? "A-apa? kau bisa ulangi."
"Kau tidak tuli bukan?" Sehun mencondongkan badannya, mendekatkan bibir tipisnya pada telinga merah Jongin. "Aku akan menikahimu, jadi tunggu saja." Kemudian Sehun tertawa pelan, "Sepertinya Tuan dan Nyonya Kim akan senang mendapatkan calon menantu yang memiliki nilai plus dan tampan sepertiku."
Jongin masih mematung, sedikit merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. "Apa kau suka denganku? Maksudku benar-benar suka?" Sehun mengangguk dan ia sendiri menyetel alatnya. Alat itu berbunyi, bukan bergetar kalau kau berbohong.
Keadaan canggung kembali menguap setelah Sehun menjawab pertanyaannya. Ia tidak tau harus berbuat apa, rasanya malu sekali hingga badannya sedikit bergetar karena menahan malu dan rasa senang. "Lebih baik kita menonton film saja, aku sudah bosan bermain." Ujar Sehun mencoba membuat suasana kembali membaik, mengambil kaset milik Taemin dan membaca sinopsisnya. "Kau pernah menonton ini sebelumnya."
Jongin menggeleng, bahkan ia tidak tau film apa itu tapi dari melihat sampulnya Jongin memilih tidur di setiap perputaran film tersebut karena ada drakula dengan memeluk seorang gadis. "Aku tau ini film horror, tapi setidaknya jangan tidur karena aku tidak mau di temani mayat hidup disampingku."
Jongin mencebik, mengambil snack milik Niel dan memakannya sendirian. Awalnya ia mulai menikmatinya, setidaknya dalam film ini tidak ada hantu dan kawan-kawan sejenisnya yang muncul secara mendadak hingga membuatnya jantungan. Sesekali mereka mengomentari seolah mereka seorang kritikus yang seakan nantinya memberi dampak besar bagi film tersebut.
Belum ada yang aneh hingga adegan 'menyebalkan' mulai tampil dimana seorang pemuda yang akan di gang bang wanita-wanita dengan kain tipis yang hanya menutupi daerah keperawanannya. Jongin langsung menekuk kedua kakinya dan memeluknya, menahan sesuatu yang akan segera bangun dari tidurnya. Ia mencoba melirik pada Sehun, teman kecilnya itu hanya menatap datar benda persegi panjang tersebut. Tidak ada reaksi yang menarik perhatian yang ia tunjukkan, membuat Jongin penasaran setengah mati kenapa milik pemuda itu tidak bangun.
"Kenapa?"
Jongin yang tertangkap basah menggeleng dan kembali menonton, berusaha tidak bertingkah abnormal di depan Sehun. Ia baru sadar kalau Sehun masih bertelanjang dada. "Kau tidak kedinginan?"
Sehun menoleh sebentar, "Tidak, rasanya panas sekali disini. Kau tak apa?"
"Yakin?" Jongin memasang wajah freak miliknya supaya Sehun tidak bertanya-tanya lagi. "Handjob atau blowjob?" Jongin langsung melotot menatap wajah jahil Sehun, mengambil bantal dan memukulnya bertubi-tubi. "Shut up jerk." Ok, mulut Jongin mulai kasar.
It's time to revenge! Jiwa setan Sehun mulai mengambil alih.
Oh karma benar-benar menimpa Jongin kali ini, ingatkan dia untuk berfikir sebelum bertindak. Jongin langsung bergeser ketika ia merasakan hawa tidak menyenangkan menguar dari Sehun. Semakin lama film itu semakin menggoda, suara desahan dan adegan saling menyentuh membuatnya jengkel setengah mati untuk menahan hasratnya yang ikut-ikutan ingin disentuh.
Perlahan, Sehun merangkak mendekati tubuh Jongin yang menegang dan mematung seolah tak bisa bergerak. "Mau apa kau?" tanya Jongin sarkasme, alaram jiwanya berbunyi adanya bahaya. Sehun memasang wajah memuakkannya dan perlahan Jongin rebahan di karpet saat tangan Sehun meraih kakinya.
Hati kecil Jongin berteriak heboh, wajah Sehun tepat didepannya, hidung mereka saling bersentuhan dan Jongin dapat merasakan nafas hangat Sehun. "Kau tau kalau karma itu ada?" tangan Sehun mulai bekerja sesuai dengan hasratnya. Menggoda tubuh Jongin yang bergetar pelan dalam kungkungannya. "Ngh~" desahan tertahan terdengar ketika tangan dingin Sehun masuk kedalam sweaternya, tubuh hangatnya serasa tersengat oleh telapak tangan yang dingin itu.
"Kuharap karma yang ini membuatmu senang."
DUK
"Fuck Jongin! Kenapa kau harus menendang adikku?" Sehun masih mengurung diri Jongin dengan kedua kakinya. Memasang wajah tak suka akibat perilaku Jongin. Jongin yang mendapat tatapan seperti itu hanya memiringkan wajahnya, berusaha menyembunyikan dirinya.
Suara desahan membuat miliknya terbangun perlahan-lahan, membuat celananya terasa sesak akibat jeans yang ia pakai agak ketat. Sehun kembali menjamah tubuhnya, meraba dengan pelan nan sensual. Jongin hanya dapat memegang erat kerah sweaternya dan berusaha menutupi daerah pribadinya. Namun Sehun langsung menahan kedua tangannya, menguncinya dengan satu tangan. "Kenapa malu? Bukannya saat malam pertama kita nanti—
Sehun menggeleng, jari telunjuknya menarik kerah sweaternya disusul dengan jari tengah dan jari manis yang mulai bermain pada leher Jongin. "Ah ini malam pertama kita."
Sungguh, jika Jongin bisa terlepas dari Sehun ia tidak akan segan-segan menghajar anak ini. Mungkin dengan sedikit adegan psycho yang ada di film-film sebelum Jongin merasa puas. Sehun mendekatkan wajahnya pada leher tan tersebut, menggoda pujaan hatinya dengan kecupan dan jilatan hingga daun telinganya.
Mati-matian Jongin menahan desahannya, berusaha melepaskan dirinya walau ia tau hal itu tidak akan berhasil kalau tenaganya mulai terkuras. Tangan dingin Sehun perlahan menuruni tubuhnya, terhenti pada sesuatu yang mengeras. Tersenyum miring, Sehun berusaha melepas kain ketat tersebut hingga celana hitam yang mulai basah itu dapat ia rasakan. Meremasnya pelan, pada akhirnya Jongin tidak dapat menahannya lagi. Kepalanya menggeleng cepat karena tangan nakal itu bermain-main pada miliknya.
"P-please Sehun!" Jongin memohon untuk segera menuntaskannya. "Aaaahhh~" pinggulnya sengaja ia naikkan, menyuruh Sehun untuk benar-benar melakukannya.
Bersamaan dengan menurunkan dalaman Jongin, ia melumat kasar bibir kenyal dan tebal Jongin. Tangannya mengocok tak berirama dan sesekali ibu jarinya berputar-putar pada kepala penis Jongin. Rasa lengket dan basah akibat precum mengotori tangannya. "Jangan fikir ini selesai Oh Jongin," Ia memegang dagu Jongin yang terengah-engah mengambil pasokan oksigen pada paru-parunya. Menatap sengit Sehun karena ia seenak jidatnya mengganti marga.
"Ma-mau hah~ berapa ronde hah!" tanya Jongin sengit dan berusaha melepas cekalan Sehun.
"Kalau bisa aku ingin melakukannya di setiap tempat." Jangkun Jongin bergerak naik turun, menyesal telah bertanya dengan nada menantang. "Atau sampai kau pingsan pun aku tetap akan melakukannya."
"Dasar gila."
Sehun mendengus, "Jangan lupa kalau aku adalah calon—
Jongin langsung menyumpal dengan bibirnya. Menatap kedua mata Sehun yang juga membalas tatapannya. Kedua tangannya sudah terbebas dan meraih rambut Sehun, menikmati setiap sentuhan dan lumatan pada bibirnya. Sedikit kesusahan Sehun mengangkat tubuh Jongin ala koala hug, menjatuhkan tubuhnya pada sofa dan kembali menindih tubuh itu dengan melepas pakaian yang tersisa pada tubuh Jongin.
Suhu tubuhnya semakin memanas ketika sweaternya sudah tidak melekat pada tubuhnya. Kepalanya tertekan kebelakang saat Sehun lagi-lagi menggodanya dengan mencicipi setiap inci tubuhnya, terhenti pada nipple tegang Jongin, mengecupnya bertubi-tubi.
Meremat sandaran sofa, alunan desahan Jongin membuat diri Sehun semakin mabuk. Ia sudah tidak sabar untuk dimajakan jadi ia melepas celananya hingga pipi Jongin bersemu merah dan langsung menutup mata dengan lengannya. Sehun mengangkat kaki jenjang milik Jongin, mengecupnya hingga ke paha dalam Jongin, mempersiapkan dirinya dengan perlahan memasukkan miliknya pada diri Jongin. Mendorong penisnya dan mengeluarkannya dengan tempo lambat berulang kali.
Jongin menggigit bibirnya tanpa membuat sebuah luka, dirinya terasa penuh dan merasa hangat dari penis Sehun. "Se-Sehunn..." kini tubuhnya mengikuti tempo Sehun, bergerak melawan arah sehingga penis Sehun masuk lebih dalam dan mengenai titik kenikmatannya.
Film yang masih berputar itu lumayan merendam suara aneh yang mereka buat, malah suara desahan Jongin dengan suara desahan pemain film saling beradu dan menggema di ruang keluarga Sehun. Mengubah posisi, Sehun memangku tubuh lemas Jongin dan menghentak-hentakkan miliknya dengan keras. Jongin terlonjak-lonjak menyebabkan penisnya bergesekan dengan underside tubuh Sehun, membuatnya menegang dan mengeras.
"Anh~ Ngh... aahhh~ aaahhh~ Sehun!" Ia merasakan puncaknya, semakin mengeratkan pelukannya hingga ia mencapai orgamsnya. Jongin menidurkan kepalanya pada bahu lebar Sehun, merasa lelah atas aktivitas yang mereka lakukan.
"Oh ayolah Jongin, aku sama sekali belum mencapainya. Jangan tidur dulu." Protes Sehun merasa orgamsnya terhenti. Jongin bergumam, memposisikan tubuhnya sebaik mungkin. "Atau kita pindah ke tempat yang lebih nyaman?"
Ia menurut, mengalungkan tangannya dan kembali memakan bibir satu sama lain menuju kamar Sehun untuk melanjutkan kegiatan panas mereka. Ah jadi gaya apa yang akan mereka lakukan nanti? Sehun tersenyum senang memikirkan beberapa gaya yang nantinya akan mereka praktekkan, sepertinya malam ini terlalu sayang untuk di lewatkan begitu saja. Malam panjang yang nantinya akan ia habiskan dengann bercinta dan berbicara tentang permasalahan mereka hingga pagi menjelang.
.
.
.
Perlahan kedua matanya terbuka. Sehun mengolet dan meraba sisi kasurnya dan terbelalak kaget menyadari Jongin tidak ada di sampingnya. Buru-buru mengenakan celana boxernya, Sehun mendapati diri Jongin di dapur. Sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka saat Sehun mendekatinya. Kedua tangannya terlentang memeluk pinggang yang ramping itu, mengecup pipi Jongin dari belakang. "Kenapa kau bangun pagi? Aku bisa menyiapkan sarapan untuk kita."
"Aku baru tau kalau rumahmu sepi dan melihat note itu aku langsung masak saja." Jongin memegang tangan Sehun, mengikuti tubuh yang memeluknya ke kanan dan ke kiri. "Aku tidak tega membangunkanmu. Hehehe, wajahmu seperti anak polos tapi aslinya anak setan." Ejeknya sambil membalik telur dadarnya. "Masalahnya kau nyenyak sekali, dibangunkan pun kau malah pindah posisi."
"Kalau begitu maafkan aku." Mengecup pundaknya yang sedikit terekspos Jongin memukul kepala Sehun dengan spatula. "Berhenti menggangguku!"
"Salahmu sendiri menggodaku."
Jongin menatap Sehun malas sebelum ia mematikan kompor, "Maaf menggunakan kemejamu tanpa ijin." Ia melipat kedua tangannya, "Jadi berhenti menggangguku. Oke?"
Jongin bersandar di sebelahnya, menatap dirinya yang berusaha tidak salting. "Eomma pasti senang mendapat menantu sepertimu." Sehun menatap tubuh berbalut kemeja garis itu dari atas kebawah.
Jongin tersenyum miring, memukul kembali kepala Sehun. "Aku yang menyesal karena mendapat suami yang otaknya hanya di selangkangan saja!"
Dengan tenaga kecil Sehun dapat menarik pinggang Jongin untuk mendekat, meraih dagu Jongin dan menempelkan dahi mereka. "Apa perlu kubuktikan kalau otakku tidak hanya di selangkangan saja?" Jongin mengendikkan bahu, menghela nafas panjang. " Ada apa?"
"Kau," Jongin terdiam. "Aku terus kepikiran dengan perkataanmu tadi malam."
"Yang mana? Terlalu banyak topik yang tadi malam kita bicarakan."
"Kau yakin akan menikahiku langsung tanpa berpacaran dan menunggumu mapan?" Kerutan di dahi Sehun muncul, mengetahui bahwa Jongin sedang kebingung. "Bagaimana kalau nantinya aku menikah dengan orang lain? Lalu apa kau tidak marah kalau aku memiliki kekasih walau jelas-jelas kau suka padaku?"
Ow, beruang manisnya ini menggemaskan sekali hingga ia tega mencubit pipinya. "Kau takut? Baiklah kalau begitu aku akan mencari pekerjaan part time mulai sekarang, menabung untuk masa depan kita." Jongin menatapnya malu, kembali berkutat dengan tepak-tepak berisi makanan. "Aku akan memberi kode pada eommamu supaya kau tidak diambil orang." Sebegitu cemasnya Kim Jongin terhadap perkataannya?
"Jadi, sejak kapan kau menyukaiku?" Sehun menghentikannya. Tak menjawab, Jongin acuh dan mengambil mangkok dalam rak namun tangannya ditahan. "Sejak kapan?"
"Kau seperti tidak tau saja," Menepisnya, Jongin melanjutkan kegiatannya. Wajahnya memerah di pagi hari yang sedikit mendung ini. "Lalu kenapa kau tidak pernah mengatakan dari dulu bahwa kau menyukaiku?"
"Sepertinya kita terlalu bodoh untuk jujur satu sama lain." Sehun ikut membantu Jongin, menata sarapan mereka. "Tapi—
Mencuri kecupan, Sehun berusaha meyakinkannya. "Jangan pernah meragukan perkataan seorang Oh Sehun."
Status... 100%
Truth : End
Oh, aku tau adegannya sama sekali nggak panas kaya matahari. Terlalu banyak tekanan batin yang bikin mood untuk bikin adegan panas nguap gitu aja. Huhuhu aku kudu oetteokhe? Jujur aja kurang puas buat ngegrape-grape Jongin!
Argh! Bilang aja ya kalau kalian kurang puas.
Big Thanks For You ^^
ohkim9488 | jonginims | chocolate stick | Hunkai shipper | | jongiebottom | Guest | OhSehunKimJongIn | Jongin Oh | laxyovrds | Nindy | Wiwitdyas1 | ariska | Hana | cute | | jjong86 | Kim762 | lueksoluosby | Xinger XXI | hkhkhk | YooKihyun94 | bksekaii | MiOS | Athiyyah417
Pai~ Pai~
20/12/2016
