Title: Three

Genre: comedy, friendship

Rate: T

Language: Indonesian

Warning: AU, OOC, might contain some harsh words

Hakuoki belongs to Idea Factory

ii.

Heisuke sebenarnya tak pernah suka film horor. Alasannya sederhana; karena film horor itu seram; kedua, karena selalu ada kejutan di setiap adegannya yang selalu jadi ancaman tersendiri bagi kesehatan jantung si kecil--jantung Heisuke, maksudnya.

Tapi, bukan Heisuke namanya kalau dia tidak gaul alias up to date. Satu kelasnya sibuk membicarakan film terbaru The Nun yang dari beberapa minggu yang lalu sudah ditayangkan di seluruh bioskop di Jepang. Dan sampai sekarang, mungkin cuma Heisuke saja yang belum menonton dan belum masuk kategori 'anak gaul'. Sanosuke yang nampak tak peduli dengan kegaulan anak-anak jaman sekarang saja sudah mendahuluinya menonton!

Jadi pagi itu, karena Heisuke sudah tidak tahan lagi dengan perbincangan seputar The Nun dan Valak yang sama sekali tidak dia mengerti, Heisuke akhirnya memutuskan juga untuk mendownload versi bajakan film itu lewat ponselnya dan menontonnya sembunyi-sembunyi di kelas.

"Pagi, Nina-chan, Aya-chan, Miki-chan," sapa pria tertampan di kelas, Sanosuke, saat memasuki kelas. Motonya itu: 'kalau sama cewek, harus ramah!'. Mungkin itulah yang membuat semua wanita di kelas sangat menggilai Sanosuke selain karena wajah tampannya.

"Cih! Bakar cowok ganteng! Musnahkan!"

Dan seperti biasa, pria-pria lain yang iri pada Sanosuke hanya bisa mendemo untuk memusnahkan Sanosuke. Mendemo pada siapa? Entahlah.

"Woi, Heisuke! Lagi ngapain?"

Sanosuke yang duduk tak jauh dari Heisuke menyapanya seperti biasa. Diletakkannya tasnya ke atas meja sebelum datang menghampiri kawan baiknya yang sedang fokus menonton.

"Tumben nonton film horor?" katanya basa-basi.

"Sano-san, jangan ganggu dulu! Nanti aku tidak tahu jalan ceritanya."

"Mau kukasih tahu? Aku udah nonton dua kali."

"Beneran?" Sesaat, Heisuke sempat kepikiran untuk tidak lanjut menonton dan hanya mendengarkan lewat ceritanya Sanosuke saja. Tetapi, tidak keren dong kalau Heisuke hanya tahu dari ceritanya Sanosuke saja? Jadi Heisuke memutuskan untuk menonton sampai akhir. "Tak apa, Sano-san. Aku nonton sendiri saja."

"Woi, Sano! Lagi ngapain? Nonton bokep?" Satu lagi si pembuat rusuh, Nagakura Shinpachi yang baru-baru ini pindah ke sini, datang menghampiri tempat duduknya Heisuke. Niatan awalnya sih menyapa Sanosuke yang dia anggap rival sekaligus mau minjam PR matematika untuk dicontek.

"Bokep, kepala lo! Pikiran lo selalu kotor ya?" balas Sanosuke sambil menatap jijik ke arah Shinpachi.

Shinpachi menyeringai ria. "Wajar, aku cowok. Gak kayak lo yang ngehamilin banci," balasnya dalam.

"Siapa yang ngehamilin banci?!"

Shinpachi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Sanosuke. Kalau dipikir-pikir, lucu rasanya karena selalu ada banci dalam percakapan mereka.

"Berisik! Bisa gak gak ganggu? Aku lagi nonton nih!" protes Heisuke yang sepertinya batas kesabarannya sudah di ujung tanduk. "Kalau mau recok, di luar sana!"

Kedua dari mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berisik lagi karena saling menyalakan satu sama lain.

"Ini gara-gara lo Heisuke jadi marah! Minta maaf sana!"

"Kenapa aku? Lo tuh yang salah! Aku 'kan cuma nanya itu bokep apa bukan. Yang tiba-tiba ngebentak dan bilang pikiranku kotor siapa, hah?"

"Kan memang kenyataannya pikiran lo jorok! Cuci sana pake rinso!"

"Macam lo gak pernah nonton bokep aja!"

BANG!

"BERISIK!!" Kali ini giliran Heisuke yang menggebrak meja. Demi dewa Neptunus, baru kali ini dia melihat dua pria remaja beranjak dewasa yang kelakuannya tak jauh beda dengan anak kecil.

Badan aja besar, otak kecil, rutuk Heisuke dalam hati.

Persetan sana dengan Valak. Persetan dengan kegaulan anak-anak di kelasnya! Toh mereka juga cuma sekumpulan remaja-remaja bertingkah-laku anak-anak.

Dari saat itu, Heisuke memutuskan untuk berhenti gaul. Lagipula Heisuke juga tak suka horor. Lagipula kedua kawan baiknya juga lebih sering membicarakan banci dan bokep dibandingkan Valak.

to be continued.