Warn of typo(s) dan ini genderswitch. DLDR*

Happy reading, guys!

.

Pagi ini Baekhyun bangun lebih awal. Meskipun semalan harus tidur larut karena suaminya mengajak dinner hingga subuh, tapi hal itu tidak membuatnya lelah sedikit pun. Malahan, saat ini Baekhyun sedang menyusun rencana untuk mereka berdua lakukan.

Baekhyun berdiri menatap cermin di kamar mandinya. Rambutnya basah karena selesai keramas. Dia hanya menggunakan bathrobe tanpa menggunakan apa-apa lagi. Diliriknya jam di dinding yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia berniat akan membuatkan susu dan roti isi untuk Chanyeol. suamiku pasti akan senang, batin Baekhyun dalam hatinya sambil tersenyum sendiri.

Dua gelas susu dan beberapa lembar roti telah siap dengan cantik di piring. Hanya perlu di bawa ke meja makan saja dan akan membuat suaminya bangga pada Baekhyun. Masih menggunakan bathrobe-nya, Baekhyun membawa dua gelas susu yang ia buat dengan hati-hati ke meja makan.

"Eh! Baekhyun?!" Seru Chanyeol dengan raut wajah terkejut. "Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?" tanya Chanyeol dengan wajah masih tertegun.

Baekhyun tersenyum simpul. "Aku membuatkanmu sarapan."

Sesaat setelah Baekhyun menjawab, Chanyeol tampak merubah ekspresi wajahnya menjadi—entahlah. Kurang bisa dijelaskan. Baekhyun menaruh susu dan piringnya di meja. Perempuan itu baru sadar kalau Chanyeol sudah rapi dengan rambut di sibak ke belakang dan kemeja serta celana jins hitam. Tidak lupa Chanyeol telah mengenakan sepatu dan dia sudah benar-benar wangi. Mungkin Chanyeol mandi ketika aku di dapur, batin Baekhyun.

"Kau sudah rapi, mau kemana?" Tanya Baekhyun dengan kening berkerut.

"Uhm, A…aku," Chanyeol menegakkan tubuhnya setelah tadinya sedikit bersender ke kursi. "Kemarin aku pulang awal karena dinner kita, jadi tugasku masih belum terselesaikan. Oleh sebab i—"

"Tapi kau tetap sarapan, bukan?" Mata Baekhyun menyipit dan suaranya sedikit gemetar.

Chanyeol menatap langit-langit rumahnya. Tampak sangat tinggi dan tak bisa ia jangkau. "Aku minta maaf, tapi aku akan makan lain kali, oke?"

Ucapan Chanyeol bagaikan pisau tajam yang mengiris hati Baekhyun. Laki-laki tinggi itu bahkan tak menunggu jawaban Baekhyun untuk pergi meninggalkan istrinya yang susah payah bangun pagi dan membuatkannya sarapan. Meskipun dia sempat mengecup kening istrinya sebelum pergi, tetapi tetap saja Baekhyun sangat sedih karena penolakan itu.

Dilihatnya punggung lebar Chanyeol yang semakin jauh dan semakin buram di pandangan Baekhyun karena terhalang air mata. bibirnya bergetar dan wajahnya memerah. Menatap makanannya dalam dan kemudian mengambil duduk di depan makanan itu. tangan kanannya mengambil selembar roti dan menjejalkannya ke mulutnya. Roti yang diberi isi nutella itu terasa hambar bahkan lebih ke pahit ketika masuk ke mulutnya.

Perasaan sedih menggelayuti hatinya dan seakan-akan mampu menenggalamkan Baekhyun dalam-dalam tanpa pernah memberinya kesempatan untuk bernafas. Benar-benar kejam, batinnya dalam hatinya yang tersakiti. Mendadak, ingatannya tentang waktu itu mendominasi kepalanya. Tentang Chanyeol, suaminya yang bersama dengan Luhan di tempat kebakaran. Cerita itu membuat Baekhyun harus dengan terpaksa menelan bulat-bulat pil pahit yang kini membuatnya sesak.

Tidak, Chanyeol bukan lelaki tukang selingkuh. Dia akan memiliki penjelasan kalau Baekhyun bertanya. Tetapi untuk mengungkit masalah itu, Baekhyun seolah tak sanggup dan lebih memilih untuk pura-pura tak tahu saja. Dengan demikian, Baekhyun akan diam saja. Diam saja sampai dewi batinnya yang memaksanya sendiri untuk bertanya.

"Chanyeol tidak akan selingkuh dengan siapa pun." Tegasnya dalam hati.

Tak selang waktu lama, seseorang memencet bel rumah Baekhyun dan mengetuk pintu. Baekhyun reflex berlari ke pintu rumahnya tanpa sadar jika masih menggunakan bathrobe, bahkan rambutnya masih belum disisir dan basah dengan air yang menetes dari helainya.

"Iya. Siapa?" Suara Baekhyun membuat tamunya membalikkan badan dan menatapnya kaget.

"Uhm—" gumam tamunya dengan wajah masih terkejut.

.

.

.

Pagi-pagi, Luhan sebagai istri yang baik hati dan pengertian, sudah menyiapkan sarapan yang di suka suaminya. Keadaannya sudah pulih dan memang sudah menjadi kebiasaan untuknya bangun awal kemudian menyiapkan segala sesuatu yang suaminya butuhkan.

"Hei, sudah bangun rupanya." Sindir Luhan pada lelaki dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Lelaki itu berjalan sempoyongan ke arah Luhan.

"Lu, ini hari libur, sebaiknya kau tak perlu bangun sepagi ini." katanya dengan suara berat khas orang baru bangun tidur.

Istrinya menaggapi dengan tersenyum geli. "Aku akan pergi ke pasar untuk membeli bahan kebutuhan rumah, jadi aku bangun pagi dan sebagai istri yang baik aku akan menyiapkan makanan untuk suamiku dulu, baru setelahnya aku pergi."

Sehun segera mencium Istrinya, tepat di bibirnya. Ia sangat-sangat beruntung memiliki istri seperti Luhan. Dilahapnya bibir Luhan dengan serakah tetapi perempuan itu segera mendorong dada suaminya dan berbalik memunggungi. Tak sampai di situ, Sehun masih menggoda istrinya lagi. Dia sepertinya masih belum cukup puas dengan pelayanan yang Luhan berikan semalam. Maka, Sehun segera memeluk pinggang istrinya dari belakang dan mengecupi setiap inci leher Luhan yang benar-benar wangi.

"Sudah, kau mandi saja sana." Sahut Luhan dengan wajah memerah yang Sehun tak dapat lihat.

Sehun menguap dan mengusap wajahnya sembarangan. Melepas pelukannya pada istrinya dan berjalan masih sempoyongan menuju kamar mandi. Sehun sangat patuh pada Luhan dan dia akan melakukan apa saja untuk istrinya.

Kemudian tak berapa lama, Sehun telah usai mandi dan sekarang sedang menikmati teh manis buatan istrinya sambil memakan keripik di depan televisi. Tangannya sibuk memindah channel lewat remote yang ia pegang. Istrinya telah pergi ke pasar. Kemudian ponselnya berdering dan tertera nama Jongin di sana.

"Halo, ada apa Jongin?"

"Oh, hai Sehun. Hei apa kau sedang sibuk?" tanya Jongin.

Belum sempat Sehun menjawab, Jongin segera menambahi. "Sehun kau sepupuku yang sangat baik, bukan? Nah, kemarin kau bolos dan aku yang terpaksa mengerjakan tugasmu, tetapi sayangnya aku lupa meminta print out terbaru dari data yang masuk kepada Baekhyun. Dan sekarang aku sedang sibuk membersihkan rumah bersama dengan Kyungsoo. Kau bisa tolong ambilkan pada Baekhyun, tidak?"

Sehun memutar bola matanya malas dan dia sudah menduga maksud Jongin menghubunginya pasti dia akan meminta bantuan, ditambah Jongin pakai rayuan segala. Itu sudah pertanda buruk bagi Sehun. Dengan berat hati, Sehun menjawab. "Oke, baiklah. Apa aku juga harus mengantarkannya padamu Jo—"

Tut…tut…tut…

Sehun menggeram kesal pada Jongin. Bisa-bisanya Jongin meminta tolong tapi tak mengucapkan terima kasih dan malah menutup sambungan telepon secara sepihak. Jongin memang kurang diajari sopan santun oleh orang tuanya, pikir Sehun.

Sehun kemudian bangkit berdiri dan menyambar kunci mobilnya yang berada di nakas laci meja. Ia berlari ke garasi rumahnya, mengeluarkan mobil hummer putih miliknya dan segera melajukan mobil itu ke rumah Chanyeol atau Baekhyun. Tak lupa kebiasaannya, Sehun mengunjungi laman web berita yang ia ikuti. Tak tahu kabar sedetik pun, bagi Sehun seperti orang buta yang tak bisa melihat dunia. Perkembangan harus diikuti, bukan?

Cukup lima belas menit, Sehun pada akhirnya sampai di rumah Baekhyun. Rumah bergaya eropa itu memang cocok dengan Chanyeol yang elegan dan Baekhyun yang penuh pesona. Eits! Lupakan Baekhyun.

Sehun hampir saja memikirkan wanita itu hanya karena mengingat namanya. Yap! Sehun adalah mantan kekasih Baekhyun sebelum Baekhyun mengenal Chanyeol. saat itu hubungan keduanya sangat manis dan harmonis. Tetapi ketika Sehun mengajak Baekhyun untuk ke restaurant baru milik temannya, saat itulah Baekhyun berkenalan dengan Park Chanyeol, pemilik restaurant.

Baekhyun jadi sering diam-diam ke restaurant itu tanpa sepengetahuan Sehun dan ketika Sehun memergoki Baekhyun ke sana malam-malam sambil duduk bersampingan dengan Chanyeol, saat itulah hubungan mereka kandas. Sehun butuh waktu lama untuk melupakan Baekhyun yang merupakan cinta pertamanya. Begitu sulit untuk melupakan moment mereka ketika merayakan anniversary, ciuman pertama mereka di malam hari saat hujan, dan saat Sehun melamar Baekhyun dengan cincin yang Sehun beli dengan gaji pertamanya, serta yang paling tak terlupakan ketika malam itu. malam dimana mereka hampir saja melupakan batasan yang memagari keduanya. Sehun hampir saja menghamili Baekhyun saat itu kalau saja Jongin tak menelfon Sehun dan mengingatkannya. Oke! Jongin memang sepupu yang berguna.

Sehun segera turun dari mobilnya dan menjejakkan kakinya di halaman depan rumah mewah itu. fikiran tentang Baekhyun telah ia hilangkan dari otaknya dan ia gantikan dengan Luhan.

Sehun menghela nafas panjang. Tangannya memencet bel rumah itu dan sesekali mengetuk pintunya. Sesungguhnya ia sedikit sungkan jika harus bertemu dengan Chanyeol. mengingat Sehun adalah mantan kekasih yang hampir saja menikah kalau Chanyeol tak ada, dan hal itu membuatnya harus menjaga jarak dengan Baekhyun. Berbeda dengan Chanyeol yang tahu segalanya, Luhan tak tahu apapun mengenai sejarah hidup Sehun. Dan itu lebih baik daripada Luhan tahu.

"Iya. Siapa?" sahut Baekhyun. Pintu telah terbuka dan untuk menghilangkan kegugupannya, dari tadi Sehun berbalik untuk mengambil nafas dalam. Ia merasa canggung dan entah kenapa dia sedikit salah tingkah. Oh Sehun, ingat! Kau sudah beristri!

Sehun berbalik dan betapa terkejutnya ketika mendapati Baekhyun memakai bathrobe putih dengan rambut basah yang belum disisir dengan percikan air menggelayuti helai rambut hitam panjang itu. Sehun tanpa sadar meneguk liurnya sendiri. Otaknya sepertinya dengan mudah menemukan kenangan tentang Baekhyun yang sudah Sehun simpan rapat-rapat entah di bagian mana, Sehun sudah lupa. Tetapi ketika menyaksikan Baekhyun saat ini, Sehun bahkan melupakan istrinya di rumah.

"Uhm—" Sehun adalah laki-laki. Ia hanya mampu bergumam saja dan masih memerhatikan Baekhyun dari atas sampai bawah.

"OH, ASTAGA!" Baekhyun mendelik dan reflex yang membawa kedua tanyannya menutup daerah dadanya. Meskipun bagian itu tidak terekspos tetapi Baekhyun dengan cepat berbalik dan berlari menaiki tangga, meninggalkan Sehun yang mematung di posisinya.

Sehun bahkan belum tersadar sepenuhnya. Ia masih membulatkan mata dengan segala macam bentuk fikiran kotor dan jorok khas lelaki di otaknya. Sehun tak masuk ke rumah itu. ia masih berdiri mematung di depan pintu, menunggu Baekhyun mempersilahkannya masuk.

Tak lama, Baekhyun sudah kembali dengan kaos bertuliskan angka 61 di depan. Kaos itu sangat longgar dan panjangnya hampir selutut Baekhyun. Dan rambutnya masih basah walaupun sudah tersisir.

"Sehun, ayo masuklah." Kata Baekhyun malu-malu.

Entah kenapa, Sehun jadi ikut kikuk dan canggung. "Uhm. Jadi kedatanganku ke sini untuk meminta print out data kemarin untuk Jongin. Dia—"

Baekhyun tertawa singkat sambil menepuk keningnya. "Oh, iya. Sebentar aku ambilkan."

Baekhyun kembali berdiri dan masuk ke sebuah ruangan dengan pintu kaca. Kemudian keluar dan berbelok ke kiri. Setelah itu, ia keluar dengan membawa nampan yang di atasnya ada dua gelas minuman dan print out yang sudah di jilid. Baekhyun tampak kewalahan dan sebagai laki-laki yang sigap, Sehun berdiri dan menghampiri Baekhyun. Membawakan nampan Baekhyun dan meletakkannya di meja tamu. Mata Sehun dapat melihat dua gelas susu yang masih utuh dan beberapa roti dengan satu roti telah tergigit dijungnya berada di atas meja dapur.

Mereka berdua telah duduk di ruang tamu. Baekhyun membuka kertas print out itu dan membalikkan halamannya cepat. "Ini. nanti kalau kurang jelas atau ada yang salah, Jongin suruh tanya ke aku saja, ya?"

Sehun mengangguk. Dia masih sangat-sangat canggung dengan Baekhyun. Meskipun telah menikah selama dua tahun dengan Luhan, tetapi ingatannya tentang Baekhyun tak akan pernah terlupakan. Ingatan itu seperti hasil print out ini yang tersusun rapi dengan jilid dan cover foto mereka berdua yang sedang berciuman.

Ah, tidak, Sehun menggeleng, menoba mengusir jauh fikirannya tentang Baekhyun yang merupakan masa lalunya. "Ah, baiklah. Aku akan kembali. Luhan di rumah sendiri. Aku khawatir terjadi sesuatu."

Sehun bangkit setelah menerima hasil print out yang diinginkanya. Tersenyum hormat ke Baekhyun yang juga dibalas dengan Baekhyun hormat. Sehun berbalik dan mendadak Baekhyun memegang pundaknya.

Sehun menoleh dengan ragu. Akibat sentuhan Baekhyun, seluruh syarafnya seolah mati rasa dan tak bisa ia control. "Ada apa?" tanya Sehun sedikit gemetar tetapi ia telan sendiri rasa gemetarnya.

Baekhyun mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan ke Sehun kunci mobilnya. "Kau melupakan ini."

Sehun hampir saja berfikir jika Baekhyun mencoba menggodanya. Ah, apa yang ia fikirkan? Suami Baekhyun lebih sempurna daripada Sehun. Sehun terseyum dan menerima kunci itu.

Tak sampai di situ saja, ternyata tangan Baekhyun tak langsung melepaskan pundak Sehun. Tangan atau lebih tepatnya telapak tangan itu menelusuri dari pundak Sehun sampai ke punggung tangan Sehun. Baekhyun tak pernah lupa bagaimana harus menatap Sehun untuk membuat laki-laki itu mengerti maksud hatinya tanpa ia utarakan sekalipun.

Sehun juga sama. Ia tak pernah lupa bagaimana membalas tatapan sendu Baekhyun. Ia tak pernah lupa bagaimana membaca hati Baekhyun dan yang terpenting ia selalu ingat kapan saatnya Baekhyun benar-benar butuh seseorang untuk dijadikan tumpuannya. Sehun tahu itu. ia memahami Baekhyun lebih dari apapun—lebih dari Luhan sekalipun.

"Kemarin," Baekhyun menggantungkan kata-katanya dan hal itu membuat Sehun berbalas menatapnya penasaran. "Kenapa kau tidak masuk kerja?"

Sehun menggerakkan bola matanya liar dan menjawab dengan jujur. "Luhan masih syok karena kebakaran itu. Aku tidak tega jadi aku terpaksa membolos demi menemaninya."

Baekhyun menunduk dan memainkan jemari Sehun yang kini ia genggam. Perempuan itu diam saja tanpa berniat berkata apapun. Sehun memandangnya dengan prihatin dan sekilas guratan sedih menutupi wajah Baekhyun yang dulunya selalu ceria.

Sehun mengantongi kunci mobilnya dan meraih tangan Baekhyun yang lain. Menggenggamnya penuh perlindungan dan mengayomi tubuh Baekhyun penuh dengan keteduhan. Baekhyun bagaikan anak anjing terlantar yang haus akan kasih sayang ibunya. Ia memeluk erat tubuh Sehun dan menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Sehun. Sehun juga memeluk Baekhyun erat. Ia memeluknya begitu penuh dengan rasa kasih dan cinta. Ingatannya tentang Luhan sirna begitu saja. Saat ini hanya ada Baekhyun dan dirinya saja. Tak ada yang lain.

"Aku menyesal, Sehun." Suara Baekhyun terdengar serak. "Chanyeol tak seperi dulu. Dia bukan Chanyeol yang kau kenalkan padaku. dia bukan. Dia bukan."

"Ssst….Sst…." Sehun berdesis menenangkan Baekhyun. "Tak ada yang perlu kau sesali. Menyesal hanya akan membuatmu tak bahagia."

Baekhyun menarik tubuhnya dari Sehun dan kakinya terasa lemas. Dia menarik Sehun untuk duduk di sampingnya. Jemari Sehun mengusap air mata Baekhyun dan menyelipkan rambut Baekhyun ke telinga perempuan itu.

"Aku iri dengan Luhan." adu Baekhyun dengan kepala kembali bersandar di dada Sehun. " Itu karena dia memiliki suami sepertimu." Sehun mengelus kepala Baekhyun dan menyisir rambut perempuan itu sekaligus dengan jemarinya.

"Sejak setahun lalu, aku sudah merasakan kalau aku mencintaimu, tapi saat itu kau sudah terlanjur menikah dengan Luhan. aku tak mau dibilang wanita kejam karena telah meninggalkanmu dan kemudian kembali padamu setelah kau bahagia dengan perempuan lain. Chanyeol tak pernah memperlakukanku seperti kau memperlakukanku dulu."

"Hei, kau hanya harus tahu kalau aku dan Chanyeol itu memang jauh berbeda. Kau hanya perlu menyesuaikan diri dengannya. Dia mencintaimu dan kau pun begitu. Tak ada kata penyesalan, mengerti?" Sehun menganggukkan kepala sambil terus mengusap air mata Baekhyun.

Waktu terasa berjalan lambat untuk Sehun dan Baekhyun. Kedunya sedang bernostalgia ke masa-masa mereka. Sungguh bahagia. Hingga ponsel Sehun bergetar dan bunyi bip-bip merusak segalanya.

Baekhyun akhirnya tersadar dan menarik tubuhnya. Mengusap sendiri air mata terakhirnya dan menatap Sehun penuh makna. Sehun masih tak mempedulikan ponselnya. Ia mengelus kening Baekhyun hingga ke dagunya dan membuat Baekhyun memejam untuk merasakan lembutnya belaian tangan Sehun. Mereka berdua sama-sama kehilangan akal sehat mereka dan semakin mendekatkan kepala mereka. Sangat dekat hingga dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Kedua pasang mata mereka telah terpejam dan Sehun meraih tengkuk Baekhyun. Menariknya dengan perlahan namun pasti dan mulai mencium bibir Baekhyun.

Keduanya saling menikmati pagutan mereka masing-masing dan sesekali melepasnya untuk mengambil nafas, kemudian menyatukan bibir mereka lagi. tak ada sungkan ataupun cangggung lagi. Hingga semuanya berakhir ketika suara klakson mobil menggedor gendang telinga mereka dengan tak sopan.

"Uh, maafkan aku Baekhyun." Bisik Sehun. Baekhyun memalingkan wajah karena malu telah berciuman dengan laki-laki yang bahkan bukan siapa-siapanya. Perempuan itu lantas berdiri dan berjalan dengan mengatur nafasnya yang entah kenapa menderu bak mesin mobil balap. Ia membukakan pintu itu dan ternyata si-pengganggu-yang-tak-sopan-itu-adalah Jongin.

Selalu seperti itu, batin Sehun ketika melihat wajah Jongin.

"Jongin?!" Kata Baekhyun sedikit tersentak.

Laki-laki itu tersenyum lebar. "Oh, hai! Baekhyun. Aku lihat mobil Sehun ada di lu—"

"Hei! Kau ini bagaimana? Kau menyuruhku ke sini dan sekarang kau juga ke sini." Sentak Sehun yang memotong ucapan Jongin.

"Oh pantas saja mobilmu ada di luar." Jongin kembali menebar senyumannya. "Jadi mana print out-nya? Kau sangat lama, aku kawatir kau tidak ke rumah Baekhyun. Jadi aku memutuskan untuk ke sini."

Sehun sedikit melempar print out itu ke Jongin, tapi untungnya Jongin langsung dapat menangkapnya. Sekedar informasi, Jongin dulu sering ikut kegiatan baseball saat masih di SMA.

"Oh, ya sudah. Aku langsung pulang saja." Kata Jongin polos. Baekhyun membalas dengan membungkuk dan kemudian Jongin ikut berbungkuk.

"Aku juga harus kembali." Sahut Sehun kemudian. Baekhyun beralih menatap Sehun dan lantas berbungkuk.

Setelah dua orang laki-laki itu pergi, Baekhyun menutup pintunya kembali dan mendapati minuman yang ia buatkan untuk Sehun ternyata sudah habis. Baekhyun tersenyum. Beberapa pikiran tentang Sehun terbesit dalam otaknya.

Untuk Jongin, laki-laki itu benar sekali jika sangat mencintai Kyungsoo. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh dan langsung menuju rumahnya kembali tanpa mampir-mampir dulu. Sementara Sehun, meskipun ia juga akan kembali ke rumahnya, tetapi dia tidak menancap gas dengan penuh. Ia lebih memilih untuk mengendarai santai mobilnya sambil tangan kirinya menggeser layar ponselnya

Ia begitu penasaran dengan notifikasi tadi. Awas kalau bukan berita penting!, geram Sehun. "Seorang preman meninggal karena keracunan minuman beralkohol yang diyakini mengandung senyawa sianida."

Sehun meng-scrool down dan melihat foto seorang laki-laki yang terkapar dengan mulut berbusa. Di bawah foto itu terdapat nama korban yang bernama ZITAO. Sehun lantas menggeleng dan menambahi. "Apa bagusnya laki-laki ini masuk ke berita. Seorang preman sepertinya memang lebih baik tidak ada, bukan?"

Setelah itu, Sehun kembali meletakkan ponselnya dan mulai menyetir. Pahanya sedikit tidak nyaman karena terganjal benda di sakunya. Di keluarkannya benda itu dengan tangan kirinya dan lantas membuangnya ke luar lewat jendela. Tidak selang waktu lama, dia mulai cegukan. Ditepikannya mobil itu di salah satu minimarket dan tak sengaja, matanya melihat mobil Chevy Corvette Stingray berwarna merah terparkir di halaman minimarket itu. ia berhenti sejenak untuk memerhatikan mobil tak murah itu dan teringat jika satu-satunya orang yang ia kenal memilikinya adalah,

"Chanyeol!" itu dia. Sehun kembali terperanjat saat mengetahui nama Chanyeol dipanggil oleh perempuan yang dua tahun lalu ia nikahi. Luhan. TBC / END

.

.

.

Saya bingung harus sebut ini apa? Sequel-nya atau chapter 2-nya. Niatnya sih, pas waktu buat yang lalu itu oneshoot. Tapi karena di situ menurutku alurnya terlalu cepet dan alhasil enggak nyambung sama judulnya. Jadi aku mau buat sequelnya, dan masalahnya lagi di cerita yang lalu, konfliknya belum saya ungkap jadi belum bisa dianggap END.

Oke, klarifikasi saja lah, saya putuskan mengubahnya jadi chapter. Menurut readers bagaimanaaa? Enggak apa-apa kan? Oneshoot-nya aku fikirkan lagi, oke. Maaf yaa..

REVIEWWWW PLISS….. (oh ya maafkan kalau ceritanya terlalu panjang dan gak nyambung.. saya akan usahakan lebih baik. hihi)