Disclaimer

Naruto Belong

Masashi Kishimoto

.

.

Warning : Typo, Ooc, alur ngalor-ngidul dan kekurangan lainnya.

.

.

.

\^0^/

.

"Kaumenginap saja di sini! " Sasuke memasukkan tangannya ke saku celananya, dan mengalihkan pandangannya dari Sakura yang tengah menggendong Kei.

"Eh? " Sakura menatap Sasuke. Saat ini Sasuke dan Sakura berada di kamar Sasuke. Setelah adegan tangis menangis bertemunya Kei dengan Sakura, keluarga Uchiha memutuskan untuk berbincang dengan Sakura sekedar untuk memperkenalkan diri kepada keluarga Uchiha. Sedangkan Kei yang terus saja menangis di gendongan Sakura lama kelamaan kelelahan dan akhirnya tertidur. Sakura mengantarnya ke kamar Sasuke.

"lagi pula ini sudah malam, biar aku tidur di kamar tamu. " Sasuke berjalan menuju lemari dan mengambil selimut.

"Biar aku saja yang tidur di kamar tamu, lagi pula ... ini kan kamarmu. " Sakura merasa tidak enak.

"Kautidur di sini dengan Kei. Kalau tidur di ruang tamu dan Kei menangis mencarimu bagaimana? " Sasuke menatap Sakura dengan selimut yang digenggamnya. Sakura mengelus rambut Kei yang terusik tidurnya dalam gendongan Sakura.

"Baiklah. " Sakura mengangguk mengerti. Sasuke mengangguk.

"Kalau ada apa-apa panggil aku saja. Kamar tamu berada di ujung dekat tangga. " Sasuke berjalan menuju pintu kamar dan membukanya.

"Oyasumi. " Grep. Pintu kamar tetutup.

"Haah ... " Sakura menghela napas lelah. Matanya menatap sekelilinng kamar Sasuke. Ada kasur, lemari, meja belajar, rak buku ,tv , juga terdapat mainan robot-robotan, pesawat dll. Kamar Sasuke cukup luas dan rapi.

Sakura berjalan menuju kasur dengan selimut berwarna orange. Meletakkan Kei yang tertidur pulas di kasur dengan hati-hati takut Kei terbangun.

Sakura memandangi Kei yang tertidur pulas. "Berapa lama kaumenangis, matamu sampai merah dan bengkak seperti ini. " Sakura menunduk dan mencium kedua mata Kei yang bengkak akibat menangis.

"Maafkan Kaa-chan, Kei. " Sakura kembali memeluk Kei.

"Kau anakku. Tetap anakku walaupun kau tidak pernah lahir dalam rahimku. Aku yang merawatmu dan menyusuimu dari kecil. Aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Aku mohon Kami-sama jangan pisahkan kami. " Air mata kembali mengalir dari mata Sakura.

.

.

.

Tak, tak tak suara talenan yang beradu dengan pisau menggema di dapur kediaman Uchiha. Sakura berjalan menuju dapur, siapa gerangan yang ada di dapur sepagi ini.

"Ohayou. Mikoto-sama. " Yaa, ternyata sang Nyoya rumah Uchiha Mikoto yang telah berada di dapur.

"Sakura-san? Kau sudah bangun? " Mikoto menatap Sakura yang berjalan menghampirinya.

"Ah. Iya ... aku sudah bangun dari tadi, " Sakura mengusap lehernya. "Boleh ku bantu? " Sakura menawarkan.

"Ah, silakan kalau kau tidak keberatan. " Mikoto tersenyum dan memberikan sayuran kepada Sakura untuk dicuci.

"Biasanya Konan yang membantuku memasak, tapi sepertinya Konan sakit. Semalam dia muntah-muntah. " Mikoto bercerita sembari mengaduk sup-nya.

"Ah, apa tidurmu nyenyak semalam? Bagaimana dengan Kei? " tanyanya.

"Lumayan. Kei, dia tertidur setelah kelelahan menangis. " Sakura menundukan kepalanya, ia teringat mata Kei yang merah dan bengkak karena terlalu lama menangis.

"Syukurlah. Yaa ... sejak Kei di sini, dia terus saja mencarimu dan terus saja menangis. Wajar kalau Kei belum mengerti, tapi ini tidak baik untuk kondisi mentalnya. Apalagi Sasuke, dia hanya bisa mendiamkan Kei dengan mengajaknya bermain, setelah bosan Kei akan menangis lagi. " cerita Mikoto. Ibu dua orang putra itu menyadari betul sejak keberadaan Kei di kediaman Uchiha, bocah laki-laki itu terus saja menanyakan Sakura. Ia memaklumi karena Kei pasti belum terbiasa hidup dalam keluarga barunya.

"Aku tau ini berdampak tidak baik untuk mentalnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Kei sudah jadi milik Sasuke-san, " Sakura menyerahkan sayuran yang telah dicucinya.

"Hmm, tapi kau masih bisa bertemu dengan Kei kan? Sasuke pasti mengizinkannya. Sering-seringlah main ke sini Sakura-san. Bagaimana pun juga aku mengohormatimu yang sudah merawat Kei dari kecil. "

Sakura hanya tersenyum kecil kemudian mengambil mangkok dan menyerahkan pada Mikoto. Jujur Sakura pun mengharapkan seperti itu, meskipun Kei tak lagi bersamanya, setidaknya Sakura masih bisa menemui Kei.

.

.

.

"Nah, sudah rapi. Sekarang kita turun, " Sakura menggandeng Kei turun ke bawah. Setelah sarapan bersama keluarga Uchiha, Sakura bergegas mengantar Kei ke sekolah.

"Sudah siap? Kita berangkat sekarang! " Sasuke datang dengan kemeja berwarna merah dan celana panjang hitam.

"Setelah mengantar Kei ke sekolah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. " Sasuke menaiki mobilnya dan di belakangnya Sakura dan Kei mengikuti.

Sasuke duduk di depan setir dan di sebelahnya Sakura yang memangku Kei. Mobil Sasuke melaju dengan kecepatan sedang.

"Kaa-chan, nanti Kaa-chan yang menjemput Kei yaa ... ? Nanti kita pulang ke rumah Obaa-chan yaa ... ? " Kei menatap Sakura penuh harap.

"Eh? " Sakura melirik Sasuke di sebelahnya.

"Biar Tou-san nanti yang menjemputmu Kei. " Ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.

"Tapi Kei ingin Kaa-chan yang menjemput! " tuntut Kei.

"Hahh. Terserah kau saja. " Sasuke melajukan mobilnya cepat begitu jalan lenggang.

.

.

"Nah, sudah sampai. Ayo turun! " Sakura membantu Kei turun dari mobil. Sasuke juga turun dari mobil.

"Kei, pamit dulu pada Tou-sanmu, " Sakura melirik Kei yang sedang mencangklongkan tasnya.

"Tou-chan, Kei berangkat ya, " Kei membungkuk kepada Sasuke.

"Hn. "

"Aku mengantar Kei sampai kelas. " Sakura menatap Sasuke. Sasuke mengangguk.

Beberapa menit kemudian. Sakura datang menghampiri Sasuke yang berdiri di samping mobilnya.

"Kenapa lama sekali? " Sasuke melirik jam yang melingkar di tangannya dan langsung menaiki mobilnya.

"Huh! " Sakura mendengus dan ikut menaiki mobil. Mobil yang ditumpangi Sasuke dan Sakura meninggalkan taman kanak-kanak menuju rumah sakit untuk mengantar Sakura.

"Wali kelas Kei bilang, sudah 1 minggu Kei tidak masuk. Bagaimana kaumenjelaskan! " Sakura melipat tangannya di dada dan pandangannya fokus ke depan.

"Kautanya saja pada Kei, kenapa dia tidak mau sekolah. " Sasuke melirik Sakura dari kaca mobil di atasnya.

"Hah! Kaukan ayahnya? Kenapa bisa 1 minggu Kei tidak masuk! " Sakura menatap Sasuke tajam.

Ckit! Mobil Sasuke berhenti, lampu merah menyala.

Sasuke menyibak surainya ke belakang. "Kei rewel. Dia menolak berangkat sekolah kalau tidak ada kau, setiap hari menangis bahkan dia menolak makan. Setiap hari Kei menanyakanmu dan itu membuatku sakit kepala. Sementara pekerjaanku terbengkalai karena terus-terusan menenangkan Kei yang menangis terus. Kau puas! " Sasuke balas menatap Sakura.

Sakura tersentak.

"Heh! " Sasuke tersenyum miris, dan mengalihkan pandangannya ke depan.

"Kaupikir aku tidak mementingkan pendidikan putraku begitu? Lucu sekali. Kau tau betapa sulitnya aku untuk menenangkannya? " Lampu berubah menjadi hijau, Sasuke menjalankan mobilnya kembali.

Sakura terdiam. Ia mengerti sekarang, memorinya berputar saat perbincangannya bersama Mikoto tentang Kei. Putranya itu belum terbiasa hidup dengan Sasuke, Sakura memaklumi betul bahawa Kei itu sangat bergantung padanya. Tentu itu semua tidak mudah dan Sakura memahami betul betapa sulitnya Sasuke saat menenangkan Kei.

Dan jujur bagi Sakura, Ia baru menyadari tangisan Kei begitu histerisnya, karena biasanya Kei tak pernah menangis kencang.

" ... "

" ... "

Hening. Tidak ada yang bersuara, hanya deru mesin yang terdengar. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

"Sudah sampai. " Sasuke menghentikan mobilnya di depan rumah sakit Konoha.

"Arigatou, sudah mengantarku. " Sakura membungkuk singkat pada Sasuke dan segera turun dari mobil Sasuke.

"Hn. " Sasuke memperhatikan Sakura yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit.

Drt drt drt, ponsel Sasuke bergetar. Segera Pria itu mengangkatnya.

"Moshi-moshi, " Sasuke memasang handset ke telinganya.

" ... "

" Hn. Wakatta. "

Pip. Sasuke memutuskan sambungannya ponselnya, dan hendak menjalankan mobilnya. Namun seseorang mengetuk kaca mobilnya, membuat Sasuke mengurungkan niatnya.

Tok tok tok.

Srett. Sasuke menurunkan kaca mobilnya.

"Ada apa? "

"Hmm, ... tadi pagi bento yang kubuat untuk Kei terlalu banyak. Jadi, jika kau tidak keberatan apa kau mau? " rupanya orang yang mengetuk kaca mobil Sasuke ialah Sakura.

Sasuke memandang bento yang Sakura sodorkan dan beralih menatap Sakura.

"Kau sendiri? " tanyanya.

"Tenang saja, aku biasa makan di kantin bersama temanku, "

"Hn. Arigatou. " Sasuke meraih bento yang Sakura sodorkan.

"Hmm. " Sakura tersenyum.

"Kalau begitu aku masuk dulu yah. "

"Hn. "

.

.

.

"Ohayou Haruno-sensei, "

"Ohayou Sensei, "

"Sakura-san. " Sapaan dari suster dan rekan dokter ditanggapi Sakura dengan senyum simpulnya.

Sakura berjalan menuju ruangannya.

"Sakura! " Ino datang dan berjalan di samping Sakura.

"Ohayou, Ino. "

"Ada yang ingin kaubagi denganku? " Ino bertanya dengan kepala yang dimiringkan.

"Apa maksudmu? "

"Jangan bohong! Aku melihatnya tadi pagi, saat mengantar Sano. " Ino melipat tangannya di dada.

"Eh? Bicara apa kau? " Sakura masih berjalan santai.

"Izz! kau, Uchiha-san dan Kei."

Tap. Sakura menghentikan langkahnya, dan menatap Ino cepat.

"Kau mengintip yaa? " Sakura menyipitkan matanya.

"Hmm? " Ino meletakkan telunjuknya di dagu, pose berpikir.

"Sebenarnya tadi pagi saat aku mengantar Sano ke sekolah, Shikamaru melihatmu dan Kei keluar dari mobil bersama seorang pria, dan ... kau tau aku kan? " Ino berkacak pinggang dengan senyum jailnya. Saat mengantar Sano (anak pertama dari pasangan Ino dan Shikamaru) ke sekolah kanak-kanak, Shikamaru (suami Ino) melihat Sakura bersama Kei keluar dari mobil bersama seorang pria. Tadinya Shikamaru berniat menyapa, tapi Ino malah mencegahnya dan mereka malah mengintip dari jauh. Shikamaru hanya menggelengkan kepalanya.

"Hmm. Kau sudah tau kan? " Sakura membuka ruang kerjanya.

"Jidat! " Ino menahan lengan Sakura.

"Tunggu, bajumu sama dengan yang kemarin? Kau? " Ino menyipitkan matanya curinga.

"Iya, nyonya Nara. Semalam aku menginap di kediaman Uchiha, sehingga membuatku tidak membawa baju ganti, kau puas? " Sakura memasuki ruangannya dan meletakkan tasnya di meja.

"Wow! Menarik! Lalu apa yang terjadi? Hah? Hah? " Ino menatap Sakura antusias.

"Tidak terjadi apa-apa. " Sakura duduk di kursinya.

"Hah? Kau bagaimana sih Jidat! Kau bilang kau menginap di rumah Uchiha-san itu, pasti terjadi sesuatu yang menarik kan? " ujar Ino penasaran.

"Dengar ya Pig, jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidak ada yang terjadi antara aku dan Uchiha-san. Tentang kenapa aku menginap di kediaman Uchiha, itu semata-mata hanya demi Kei. "

"Ada apa dengan Kei? " Ino duduk di depan Sakura. Sakura melipat tangannya di meja.

"Kemarin malam, Sasuke-san mendatangiku. Dia bilang, Kei ingin bertemu denganku. Langsung saja aku mengiyakan ajakannya. Dan kau tau ketika aku datang, Kei langsung berlari memelukku, dia menangis. " Ino masih setia mendengarkan.

"Mereka (keluarga Uchiha) mengatakan, sejak Kei tinggal di sana, Kei terus saja menangis dan mencariku, bahkan setelah aku mengantar Kei ke sekolah, wali kelasnya bilang Kei sudah 1 minggu tidak masuk. "

"Pantas saja aku jarang melihatnya ketika mengantar Sano. " Ino melipat tangannya di dada.

"Tentu saja Kei mencarimu Sakura, karena kau itu ibunya, walaupun bukan ibu kandungnya. Kei sudah hidup denganmu semenjak dia masih bayi, dia terbiasa denganmu. Apalagi umurnya yang masih anak-anak, mana tau dia kalau kau itu bukan ibu kandungnya. Tentu saja dia mencarimu saat kau tidak ada di sampingnya. Aku rasa ... Kei masih membutuhkanmu, " Ino menatap Sakura lembut.

"Aku tau Pig, tapi sekarang Kei sudah bersama ayah kandungnya . Apa yang harus kulakukan? " Sakura menundukkan kepalanya.

"Ya satu-satunya jalan supaya Kei tidak mencarimu lagi ya ... kalian menikah. " Jawab Ino santai.

"Kau gila! Mana mungkin? Tentu saja itu tidak akan terjadi. Diantara kami tidak ada apa-apa. " Sakura melotot mendengar jawaban Ino.

"Hihihi, aku bercanda Jidat. Tapi ... itu tidak menutup kemungkinan Sakura, siapa tau kedepannya kau jatuh cinta padanya atau sebaliknya. " Sakura hanya memutar bola matanya bosan.

"Jangan berbicara yang aneh-aneh. Sudahlah aku sibuk, keluarlah! " Sakura mulai membuka catatan medis yang ada di mejanya.

Ino menaikkan sebelah alisnya, "Kaumengusirku? "

"Nara-sensei, ini sudah waktunya untuk bekerja. " Sakura memperlihatkan jam tangannya kepada Ino.

"Wakatta. " Ino mendengus, kemudian beranjak dari ruangan Sakura.

.

.

.

Taman Kanak-kanak Konoha.

Suasana makan siang di taman kanak-kanak tempat Kei dan anak-anak lainnya belajar begitu antusias. Mereka membawa bekal masing-masing begitu juga Kei.

"Kei-kun hari ini bawa bekal apa? " Bocah berambut ungu sebut saja Tami, bertanya pada Kei yang duduk di depannya. Kei menoleh, "Tempura buatan Kaa-chan. "

"Hontou? Tami suka tempura, boleh minta? " Tami beranjak dari duduknya dan menghampiri tempat duduk Kei dengan senyum manisnya.

"Kau tidak bawa bekal? " tanya Kei, seketika senyum manis Tami luntur.

"Bawa, tapi Tami ingin tempura yang Kei bawa, Boleh minta tidak? Tami bawa cake strawberry nanti tukeran bagaimana? Tami minta sedikit, nanti Kei-kun minta cake Tami. " Tami kembali menampilkan senyumnya.

"Boleh. " Kei mengangguk dan segera membuka penutup bekalnya. Aroma harum khas tempura tercium begitu penutup terbuka, bukan hanya tempura saja, tapi juga ada telur gulung dan roti isi sosis beserta kawan-kawannya.

"Hwaa, harumnya! Tunggu sebentar ya, Tami ambil cake. " Tami kembali ketempat duduknya mengambil bekal dan kembali ketempat Kei.

Kei menggeser duduknya supaya Tami bisa duduk. Tami tersenyum dan segera duduk di samping Kei.

"Boleh minta kan? " Tami memandangi tempura milik Kei dengan minat.

"Hmm. " Kei menyerahkan sumpit kepada Tami. Tami menerimanya dan segera menyumpit tempuranya.

"Hmmm ... Oishii ... " Gadis kecil itu tersenyum sumringah kala rasa lezat tempura mampir di lidahnya mengunyahnya dengan sangat imut.

"Tentu saja, Kaa-chan yang membuat. " Kei tersenyum simpul.

"Tami ingin sekali dibuatkan bekal tempura oleh Kaa-chan, tapi Kaa-chan Tami sangat sibuk. Setiap hari yang menyiapkan bekal Tami, bibi. " Tami memelankan kunyahannya dan termenung, kemudian melanjutkan makannya lagi.

"Oh iya! Kemarin kenapa Kei-kun tidak berangkat sekolah? " Kei diam sebentar.

"Kei tidak mau berangkat kalau tidak ada Kaa-chan, "

"Memangnya Kaa-chan Kei kemana? "

"Kaa-chan sekarang tidak tinggal lagi dengan Kei, "

"Kenapa? " Tami memiringkan kepalanya imut.

"Karena aku tinggal dengan Tou-san, ah! Bagaimana ya? " Kei terlihat berpikir cara menjelaskannya kepada Tami.

"Kenapa tidak tinggal bersama saja? Seperti Tami, tinggal bersama Kaa-chan dan Tou-chan. "

"Ha? Apa boleh? " Kei mengedipkan matanya.

"Tentu saja, kalau punya Kaa-chan dan Tou-chan pasti tinggal bersama, itu sangat menyenangkan. "

"Aku tidak tahu, karena aku baru mendapatkan Otou-san, "

"Hah? " Tami melongo.

"Sejak kecil aku tinggal bersama Kaa-chan, Ba-chan dan Obaa-chan. Jadi aku tidak tahu, " Kei mengangkat bahunya cuek.

"Jadi, Kaa-chan dan Tou-san Kei tidak tinggal bersama? "

"Hmm. " Kei mengangguk dan meraih sumpit untuk memakan bekalnya.

"Ah, mau coba bekal Tami tidak? Tami bawa cake strawberry loh, " Tami membuka bekalnya dan menunjukannya pada Kei.

"Arigatou. " Kei mengambil satu cake strawberry dari Tami.

"Hmm. " bocah bersurai ungu itupun tersenyum manis.

.

.

.

Tuk tuk tuk, suara ketukan jari yang beradu dengan meja memecah keheningan disebuah ruangan kantor dengan papan nama Uchiha Sasuke. Seorang pria bersurai pirang jabrik menyanggah tangannya di dagu dan tangan satunya mengetuk-ngetuk dengan malas. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling kemudian berdiri dan melirik jam di tangannya. Netra biru langitnya menatap sebuah bingkai yang terpajang apik di pojok meja. Foto dalam bingkai itu adalah foto Sasuke dan Hikari istrinya yang sudah meninggal, mengingatnya membuat pria yang kini tengah menatapnya dengan sendu merasa tersayat hatinya.

Mereka sangat mencintai dan perjuangan mereka dalam menjalani hidup berdua sungguh butuh perjuangan dan mengharukan, setelah diusir Fugaku, mereka mencoba hidup berdua tanpa kekayaan, mereka memulainya dari nol, namun Kami-sama punya rencana lain hingga mengambil Hikari dari Sasuke. Ia sendiri tau bagaimana hancurnya hati Sasuke kala mengetahui istri yang dicintainya telah meninggal.

Cklek, suara pintu yang di buka membuat pria itu menoleh,

"Dobe? " Sasuke mengeryit dan menutup kembali pintunya dan berjalan menghampiri meja kebesarannya, pria bersurai pirang itu hanya nyengir.

"Kau baru selesai meeting ya? " Naruto, pria bersurai pirang itu menatap sahabatnya yang kini sudah duduk manis,

"Hn, seperti yang kaulihat, " Sasuke meminum air putih yang sudah disediakan di mejanya.

"Aku menunggumu dari tadi, " Naruto mendudukkan dirinya di kursi depan Sasuke.

"Ada apa? "

"Hehehe, tidak ... aku hanya ingin mengajakmu makan siang, bagaimana? kita kan jarang sekali bertemu, "

"Sepertinya tidak bisa Dobe, klienku dari Milan sebentar lagi datang, aku tidak bisa kemana-mana. " Sasuke menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.

"Haah ... kau itu, ah! Bagaimana nanti malam, hah? Kita makan malam bersama sekalian kau ajak putramu itu, bagaimana? " tawarnya.

"Akan aku usahakan, "

"Yatta! Baiklah aku- "

Drt drt drt getaran ponsel di celana Naruto menghentikan ucapan Naruto, pria bersurai kuning itu segera mengangkatnya.

"Ya? "

" ... "

"Apa?! "

"... "

"Baik-baik, aku mengerti. "

Pip. Naruto memasukkan ponselnya ke saku celananya dan menatap Sasuke,

"Nah, Teme ... jangan lupa nanti malam yah, aku duluan, " Naruto nyengir dan segera pergi dari ruangan Sasuke. Sasuke menatap sahabatnya dengan sebelah alis yang diangkat,

"Hahh ... " Kembali Sasuke menghela napasnya lagi, pria itu melonggarkan kaitan dasinya. Tangannya merapikan dokumen-dokumen yang ada di meja, dan memilih dokumen-dokumen yang akan ia bawa nanti saat bertemu dengan kliennya dari Milan.

Getaran dari ponselnya mengalihkan perhatiannya, yang ternyata dari Sakura. Sasuke menganggkatnya.

"Hn. "

"Ah, Sasuke-san ... "

"Sakura? "

"Hmm, apa boleh aku yang menjemput Kei di sekolah? "

"Bukankah kau di rumah sakit? "

"Aku pulang cepat, jadi ... apa boleh? "

" ... " Sasuke diam, ah Ia lupa putranya masih di sekolah, Sasuke melirik lagi jam tangannya, 'apa masih sempat menjemput Kei?' pikirnya, sementara Ia juga sudah ada janji dengan kliennya nanti, ah Ia jadi bingung.

"Sasuke-san? " suara di seberang membuat Sasuke berjenggit.

"Hn, "

"Bagaimana? Bolehkah? "

"Baiklah kau yang menjemput Kei lagipula ... aku tidak bisa menjemputnya karena ada meeting siang ini, "

"Hmm, baiklah ... arigatou Sasuke-san, "

Pip. Dan sambungan telepon itupun terputus.

Sasuke melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, 'sebentar lagi jam makan siang, ' pikirnya. Iapun segera beranjak keluar dari ruangannya, namun sebuah bungkusan berwarna biru membuat langkahnya berhenti. Sasuke menghampirinya.

Ah, Ia lupa pagi tadi Sakura memberinya bento, ternyata bungkusan biru itu ialah bento dari Sakura ketika Sasuke membukanya. Isinya diantaranya tempura, telur gulung, roti isi dll, aroma sedap langsung tercium di hidung Sasuke. Tanpa berpikir panjang Sasuke meraih sumpit dan mencicipinya.

'Hup'

Sasuke mengunyah tempura dan telur gulung+tomat yang kebetulan ada sebagai hiasan,

Sudah lama sekali Ia tidak merasakan makanan bento seperti ini karena Ia biasanya makan di luar. Sasuke menguyahnya dengan pelan, merasakan rasanya, dan kemudian seulas senyum tipis tersemat di bibirnya. Tekstur lembut telur gulung dan gurihnya tempura membuat Sasuke ingin mencicipinya lagi dan lagi hingga bento itu habis tak tersisa. 'Rasanya enak!'

.

.

.

"Kau sudah mau pergi lagi? " Mikoto menatap putra bungsunya yang sedang memasang jam tangannya.

"Hn, Naruto mengajak makan malam bersama sekalian menjemput Kei. "

"Besok kan Kei libur sekolah, biar Kei menginap saja di rumah Sakura, Kei pasti juga merindukan Mebuki dan kakak Sakura. "

" ... "

" Sasuke-kun? " Mikoto menatap Sasuke yang terdiam.

"Hn. Baiklah aku akan turuti keinginan Kaa-san, kalau begitu aku pergi dulu Kaa-san, " Sasuke mencium kening Mikoto dan pergi.

Sasuke memakai kaos hitam yang dipadukan dengan kardingan dan bawahan jeans. Pria yang masih terlihat muda ini memarkirkan mobilnya di kawasan Nakano dan memasuki restoran Amaterasu, tempat janjiannya dengan Naruto.

"Sasuke! di sini, " Naruto melambaikan tangannya begitu melihat Sasuke telah datang, sementara Sasuke langsung menghampiri tempat Naruto bersama Istrinya, Hinata.

"Apa kabar kawan, lama tak bertemu ... " Naruto memeluk dan menepuk-nepuk punggung Sasuke.

"Kita baru saja bertemu tadi siang bodoh, " Sasuke mendengus dan membalas anggukan Hinata sebagai sapaan kemudian duduk dengan tenang, sementara Naruto nyengir dan ikut duduk.

"Tou-chan! " Teriakan dari arah belakang Sasuke membuat ketiga orang itu menoleh.

"Kei? Sakura ... " Sasuke langsung menangkap Kei begitu bocah itu memeluknya dan menatap Sakura yang berjalan di belakang Kei, nampaknya Sakura terkejut dengan kedatangan Sasuke, wanita bersurai pink itupun tersenyum kala Sasuke menatapnya kemudian duduk di depan Hinata, di samping Sasuke.

"Ah begini Sasuke, tadi kami bertemu Sakura-chan bersama Kei berjalan-jalan, jadi ... kuajak saja mereka, tidak apa kan? "

"Hn. " Sasuke mengangguk.

"Maaf tadi Tou-san tidak menjemputmu, "Sasuke mengacak surai hitam Kei dan Keipun tersenyum.

"Tidak apa, kan ada Kaa-chan yang menjemput. " Kei melepaskan pelukannya dari Sasuke dan menghampiri Sakura.

"Kaa-chan, Kei ingin makan ice cream sekarang! " Kei duduk di sebelah Sakura dan meminta ice creamnya yang tadi Ia beli bersama Sakura.

"Ah, iya. " Sakura membuka penutup ice creamnya beserta sendoknya dan menyerahkannya pada Kei.

Rupanya sebelum kedatangan Sasuke, Naruto dan Hinata terlebih dulu bertemu dengan Sakura dan Keiyang saat itu sedang berjalan-jalan dan Naruto mengajaknya makan malam bersama sebagai ucapan terima kasih karena dulu Sakura pernah menolongnya saat kecelakaan mobil dan Sakura hanya mengatakan itu sudah tugasnya sebagai dokter+ Hinata adalah sahabat Sakura dan ingin mengobrol dengannya akhirnya Sakura mengiyakan ajakannya. Dan di sinilah mereka, Naruto, Hinata, Sasuke, Sakura dan Kei berkumpul di restoran Amaterasu.

Pelayan datang dan mencatat pesanan mereka. Mereka makan dengan tenang meski diselingi dengan sedikit candaan dari Naruto dan Istrinya menegurnya karena sedang makan takut tersedak dan Naruto cemberut.

Sasuke dan Naruto mengobrol tentang bisnis perusahaannya ketika mereka telah selesai dengan makanannya, sementara Sakura menanyakan bagaimana kehamilan Hinata, sedangkan Kei sibuk dengan pensil dan buku tulisnya.

"Yang penting kau jangan tegang saat akan melahirkan Hinata, tetap tenang maka semuanya akan berjalan dengan cepat. " Sakura menasehati Hinata yang saat ini tengah hamil tua.

"Hu'um, awalnya aku sempat ta-takut saat mendengar da-dari teman kita yang me-mengatakan bahwa melahirkan itu sangat sakit, "

"Memang sakit, tapi jika ibunya tenang, maka semuanya akan baik-baik saja, percayalah ... " Sakura mengelus tangan Hinata, menguatkan Hinata agar selalu tenang dalam masa-masa menuju kelahiran dan Hinata mendengarkan dengan seksama.

"Kaa-chan liat! "

"Hmm? " Sakura menengok kearah Keidan memperhatikan apa yang Keitulis, rupanya Kei sudah pandai menulis.

Sakura tersenyum, "Coba Kei baca! S-A ... " Sakura mencoba mengejakan huruf yang Kei tulis.

"SA ... "

"K-U .. "

"KU, "

"R-A ... "

"RA. "

"Dibaca? "

"Sakura. " Kei menyebutkannya dengan benar disertai senyum sumringahnya.

"Hwa ... Kei pintar! " Sakura mengelus surai hitam Kei.

"Sakura is my Mom! " Kei berujar riang membuat Sasuke, Naruto dan Hinata menatapnya. Dan seketika itu Sakura memeluknya, memeluk Kei. Betapa Sakura sangat menyayangi Kei.

"Wah, Kei-kun sudah bisa ya ... " Hinata tersenyum dan meraih buku untuk melihat tulisan Kei.

"Hey Sasuke, putramu pandai. Hahaha, " Naruto tertawa dan ikut melihat tulisan Kei yang sedang Hinata lihat, sedangkan Sasuke hanya diam memperhatikan. Ada sesuatu yang mengganjal hati Sasuke ketika Kei mengucapkan Sakura itu ibunya, Ia takut sesuatu yang Ia pikirkan terjadi namun Sasuke berusaha setenang mungkin, meraih gelas air putih di depannya dan segera menenggaknya.

"Aw, " Hinata meringis memegangi perutnya,

"Pe-permisi aku ke toilet sebentar, " Wanita yang tengah hamil tua itu berdiri dan berpamitan untuk ke toilet.

"He? Hinata-chan tunggu! Ah, tunggu sebentar ya, Sasuke Sakura, " Naruto langsung menyusul istrinya, takut terjadi apa-apa.

"Bibi Hinata kenapa Kaa-chan? " Kei bertanya dengan wajah polosnya,

"Kaa-chan juga tidak tau, "Sakura juga menatap kepergian Hinata dengan khawatir.

Beberapa menit kemudian Naruto datang menghampiri Sasuke dan Sakura.

"Sasuke, Sakura ... maaf aku ... sepertinya aku harus pulang sekarang, " terlihat raut kekhawatiran dari Naruto.

"Ada apa? " Sasuke menatap Naruto dengan dahi berkerut.

"Sepertinya Hinata-chan kelelahan, "

"Apa perlu kuperiksa Naruto? " Sakura juga ikut bersuara.

"Tidak terima kasih Sakura, Hinata bilang dia baik-baik saja, dia ada di mobil, tadi dia hanya muntah dan sedikit pusing jadi ... dia ingin pulang. " Naruto menjelaskan keadaan Hinata pada Sasuke dan Sakura.

"Kalian lanjut saja acara makannya, nanti biar aku yang bayar, " lanjut Naruto.

"Tidak usah, biar aku saja! Kau antar saja Hinata pulang biar nanti aku yang bayar. " Sasuke menyuruh Naruto untuk pulang saja karena Hinata sudah menunggu di mobil.

"Tapi Sas- "

"Tidak apa-apa, pergilah ... "

"Ah, aku jadi tidak enak padahal kan aku yang mengajakmu tapi malah kau mentraktirku, yasudah terima kasih-tebbayo! aku duluan yah, " Naruto bergegas pergi setelah pamit pada Saasuke dan Sakura.

"Loh? Paman kenapa pergi! " Kei berteriak namun Naruto tidak mendengarnya.

"Kei-kun, sepertinya bibi Hinata sedang sakit makanya paman Naruto dan bibi Hinata pulang, " Sakura menjelaskan kepada Kei.

"Oh. " bibir mungil Kei membentuk huruf O dengan lucunya membuat Sakura di sebelahnya terkikik.

"Ah, Tou-san ayo beli ice cream di sana! Tadi Kei beli dengan Kaa-chan, rasanya manis dan lembut, ayo! " Kei menarik tangan Sasuke untuk berdiri dan mengantarnya membeli ice cream.

"Hn, baiklah. " Sasuke sudah mau berdiri tapi suara Sakura membuatnya kembali duduk.

"Tidak boleh! " suara Sakura membuat Sasuke dan Kei menatapnya dengan dahi berkerut.

"Bukankah tadi Kei-kun sudah makan ice cream? Jangan terlalu banyak makan ice cream nanti gigi Kei cepat rusak karena terus di hantam manis dan dingin, nanti kalau berlubang bagaimana? " Kei diam berfikir.

"Tapi Kei ingin lagi Kaa-chan, sedikitt saja ... " Kei merengek.

"Haah ... nanti kalau Kei mengeluh sakit gigi jangan nangis loh, " Sakura menghela napas. Kei berfikir lagi.

"Sudahlah tidak usah beli, tadi kan sudah, lain kali beli lagi, " Sasuke mengelus rambut Kei, mendengar ayahnya yang juga melarangnya untuk membeli ice cream lagi, Kei mengerucutkan bibirnya, bocah itupun memilih duduk kembali di tempatnya.

Mengaduk-aduk spagetinya tanpa memakannya Kei menyanggahkan tangannya di dagu, tampaknya Ia sudah bosan. Sasuke lebih memilih menikmati kopinya sedangkan Sakura sedang sibuk dengan ponselnya.

"Kaa-chan, Kei bosan, ayo jalan-jalan! " Kei menggeser piring spagetinya ke depan, dan turun dari tempat duduknya meraih tangan Sakura. Sakura mematikan ponselnya dan perhatiannya tertuju pada Kei.

"Ayo Tou-san jalan-jalan! " Kali ini Kei juga meraih tangan Sasuke.

"Eh? " Keduanya saling berpandangan.

.

.

.

.

.

Tbc

Tbc lagi :D tadinya mau bablasin sampe selesai tapi takut kepanjangan terus yang baca jadi bosen, jadi aku potong. Pokoknya terima kasih sekali kepada kalian semua yang sudah membacanya, mem fav, fol, review.

Cuss sangat deh, semoga fic ini ngga ngebosenin yaa :D

By : JJ Cassei.