Disclaimer: Naruto Belong To Masashi Kishimoto-Sama
Covered by: Me! (Christopher Mizutto)
Genre: Romance For Minakushi, little bit Parody For Cosplay (Maybe)
Rate: T
Warning: OOC, OC, Typo, etc.
Extra Warning: Secara tiba-tiba Mizutto sudah memutuskan kalau Kyuubi akan menggunakan bahasa yang tidak baku mulai dari chapter ini. Jadi harap dimaklumi…(_ _)"
Oh, iya, balasan review ada dibawah. Jangan kapok buat review, ya, minna~~
~AkagamiXOtaku Doki Doki~
[Suatu malam di kediaman Uzumaki]
"Nani!?"
"Aku, kan, cuma bilang kalau gitarku rusak-ttebane. Ngapain teriak-teriak segala. Muncrat, tau…." Kushina mengelap wajahnya dengan tisu. Bayangkan saja, bir yang diminum kakaknya itu muncrat tepat kearah mukanya. Kushina hanya mendengus kesal dan memutuskan untuk cuci muka di wastafel. Padahal baru saja dia duduk dihadapan sang kakak yang sungguh jenius itu.
Kushina sungguh berharap kalau keluarga yang mengadopsinya dulu adalah keluarga ningrat. Dan punya kakak angkat seperti pangeran berkuda putih yang ramah dan gentle. Atau paling tidak ayah angkatnya itu CEO perusahan PSP, lah…. Tapi nasi sudah menjadi abu. Takdirnya sudah benar-benar tidak bisa diubah lagi.
Sebenarnya, Kushina senang tinggal disini. Hanya saja, Kyuubi, kakak angkatnya yang norak bin nista itu, sering membuatnya ngamuk dan lepas kendali.
Sementara itu, Kyuubi dengan gaya sok keren tanpa rasa bersalah pada adiknya yang imut itu, mengambil PSP kesayangannya untuk memainkan game otome* favoritnya (yang nama gamenya dirahasiakan oleh Author). Setelah bosan dengan PSP-nya, pria paruh baya itu mengambil ramen dimeja dan memakannya dengan lahap.
Perbandingan air dan tepung terigu yang pas membuat mi-nya terasa kenyal ditambah dengan kuah khas kota Wakayama* yang asin. Ditaburi dengan beberapa potong naruto-maki* dan Chashiu* dan irisan daun bawang. Benar-benar nikmat. Entah siapa yang meletakkan ramen ini dimeja, tapi Kyuubi sungguh beruntung saat ini.
Dan sebelum author ngiler karena membayangkan ramen yang dimakan om-om itu, akhirnya Kushina kembali. Lengkap dengan helm di kepalanya untuk jaga-jaga. Good prepare, Kushina….
Kyuubipun meletakkan kembali mangkuk ramen itu ke atas meja dan menoleh kearah Kushina. "Lu harus tau, Kush," Kyuubi menatap Kushina intens, "Duit gua tinggal sedikit. Lagian lu tau, kan, gua sudah banting tulang buat beli gitar lu dulu?" Kyuubi mengakhiri perkataannya yang seakan bijak itu dengan gaya sok keren ala detective di komik-komik misteri. Namun Kushina sepertinya sedikit keberatan dengan perkataan bijak sang kakak angkat. Dia mendekati Kyuubi dengan tatapan tajam yang sayangnya tertutupi kaca helm.
"Pertama, duit baka-onii tinggal sedikit karena baka-onii selalu pake buat beli benda-benda nggak guna," balas Kushina, "Kedua, Gitar-ku itu tou-san yang beliin karena aku diterima di sekolah seni di Osaka waktu SMP dulu!" Kushina melepas helm-nya, "Ketiga, kenapa kau makan ramenku, ttebane!" dan gadis berambut merah itu telah berhasil mendaratkan helm-nya dimuka Kyuubi dengan mulus. Dan dengan sekuat tenaga. Yah, itung-itung balas dendam, lah….
Hening.
Kushina sibuk mengatur emosi sementara Kyuubi melakukan hal yang tidak bisa didefinisikan, entah itu merintih, baca mantra, atau nyanyi. Pokoknya, Kyuubi segera berdiri dan mengacungkan jari telunjuknya kearah adik angkatnya itu.
"Terserah gua, lah, mau dipake buat apa duit gua! Bagi gua Mayuyu* is everything! Gua mau beli photopack-nya juga Tuhan nggak bakal marah! Tapi lu harus inget, Kush! Selama tou-san masih di London, gua yang nanggung biaya sekolah lu!" bentak Kyuubi tanpa mempedulikan benjolan gede di jidat-nya.
"Tapi…." Sebenarnya, Kushina mau bilang, "Tapi nggak ada hubungannya, kali!" Namun Kyuubi langsung memotong perkataan Kushina, "Eits! Pokoknya gua nggak bakalan ngasih se-sen-pun buat beliin gitar lu, kush! Walaupun lu menangis darah dihadapan gua, nggak akan gua kasih! Camkan itu!" cerocos Kyuubi. Dan nggak untungnya, liur Kyuubi muncrat-muncrat kearah muka Kushina yang sudah melepas helm-nya tadi. Ah, poor Kushina….
"Masalahnya bukan itu-ttebane! Aku mau beli gitar baru dengan uangku sendiri!"
"Terus nggak usah pake ngadu ke gua juga, kale!"
"Kan, tadi baka-onii yang nanya, 'Kush, mana gitar lu? Gua mau main gitar blablabla'!"
"Masa? Ah, ngomong-ngomong, tu naruto-nya enak banget. Beli dimana, lu, Kush?"
Kushina menatap kakak semata wayangnya itu dengan deathglare tingkat dewa. Dan tak lama kemudian, Kyuubi terkapar dengan tidak elitnya setelah merasakan 'belaian' Kushina diperutnya. Sungguh keluarga yang akrab, bukan?
Tokyo no ame wa totemo samui to
Oshiete kureta mishiranu ojisan
"Ore mo wakakerya, mou ichido…"
Sou yume wo katatta mishiranu ojisan
Saikin no ko wa nani kangaeteiru ka nante
Sonna no wakaranai
"Hima nara ocha shiyou" to koe kakeru
Ojisan no hou ga imi wakannai desu
Desu…
Tokyo marashon nijuuyo jikan
Raibuhausu de nemuru musume-tachi
Me ga au dake de minna tomodachi
Tobikau uwasa dore ga shinjitsu
Saikin no ko wa nani kangaeteiru ka nante
Sonna no oshienai
Okotoba desu kedo aete iu nara
Warau kado ni wa fuku kitaru happii desu
(Seorang tua yang belum pernah kutemui sebelumnya
Memberitahuku bahwa hujan di Tokyo sangatlah dingin
"Andai saja aku bisa jadi muda lagi..."
Orang asing itu memberitahuku tentang mimpinya
Aku tidak paham
Apa yang dipikirkan oleh anak-anak jaman sekarang
"Kenapa kita tidak pergi keluar untuk minum teh jika kau sedang ada waktu luang?"
Sebenarnya dia yang tidak masuk akal
Begitulah...
24 jam marathon Tokyo
Para cewek tidur di arena konser
Hanya dengan bertatapan sekilas kami sudah menjadi teman
Banyak gosip berseliweran – yang mana yang benar?
Aku tak akan memberitahunya
Apa yang dipikirkan oleh anak-anak jaman sekarang
Aku tahu ini mungkin klise, tapi jika aku harus mengatakan sesuatu
Aku akan berkata "Keberuntungan akan jatuh kepada mereka yang tersenyum")
Kamar Kushina yang bernuansa kelam itu kini semakin kelam dengan menyerabaknya aura seram dari balik meja belajar milik gadis belia itu. Padahal masih terdengar lagu TOKYO yang dinyanyikan SCANDAL band dari MP3 player-nya. Lagu yang bersemangat itu bahkan tidak bisa mengubah suasana kamar Kushina.
Jarinya yang ramping dengan kecepatan tinggi mengetik beberapa kata sambil sesekali mengarahkan kursor di laptop yang malang itu. Sudah seminggu ini Kushina main band tanpa gitar sendiri. Rasanya tidak nyaman dan itu membuat Kushina frustasi. Pokoknya, dia ingin segera mendapatkan kerja sambilan yang menjanjikan. Mumpung sebentar lagi liburan musim panas dan dia tidak ikut pelajaran tambahan tahun ini.
Awalnya mau begitu. Tapi akhirnya Kushina menyerah. Dia sudah tanya keseluruh penjuru Shinjuku, tapi tetap tidak menemukan tempat kerja sambilan yang gajinya diatas 2 juta yen per bulan. Dengan umurnya yang sekarang dan juga sifatnya, Kushina tidak bisa diterima di sebagian besar tempat kerja yang menjadi incarannya. Yah, mau bagaimana lagi? Umurnya baru 17 tahun, ditambah lagi sifatnya yang cepat marah dan tomboy.
Apa ini artinya dia harus bersujud dan memohon pada kakaknya minta dibeliin gitar? Tidak. Bisa-bisa Kushina diperbudak oleh kakaknya atau diseret paksa ke Akihabara. Dan tentu saja Kushina akan menolaknya mentah-mentah.
Tinggal di Shinjuku sudah membuatnya nyaman. Dia tidak perlu pergi ke Akiba* yang notabane-nya penuh orang-orang yang 'sejenis' dengan kakaknya, Otaku*. Selain itu, karena kejadian dimasa lalunya, gadis berambut merah ini enggan menginjakkan kaki ke akiba untuk kesekian kalinya.
"Haaah, sepertinya memang harus pakai rencana B-ttebane," lirih Kushina sambil menatap pisau lipat di pojok meja belajarnya. Yeah, dia berencana untuk meminta secara paksa uang pada seseorang. Bahasa kerennya, ngancem.
Terakhir kali dia menggunakan pisau itu adalah saat dia dipermainkan oleh kakak kelasnya tahun lalu. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja kakak kelas itu berani menjadikannya bahan taruhan. Begitu tahu, Kushina langsung membuat kakak kelas itu sekarat dan dia di skors selama 3 hari. Untung saja kakak kelas itu tidak mati.
Dan dengan sedikit mengulurkan lengannya, kini pisau itu sudah di genggaman Kushina.
"Kepala sekolah atau OSIS, ya?" Kushina memainkan pisau itu didepan laptop yang masih "on". Ia sendiri sudah enggan menggunakan pisau itu untuk mengancam orang lain. Tapi, sekali lagi, dia tidak ingin semakin frustasi tanpa gitar di hidupnya. Hidupnya seolah ada untuk musik –khususnya rock- dan rasanya ada yang kurang jika sehari saja hidup tanpa gitar.
Ditengah ke-galauan-nya, tiba-tiba pintu kamar Kushina terbuka secara kasar. Dan coba tebak siapa yang melakukannya? Yup, siapa lagi kalau bukan kakak yang paling disayanginya diseluruh jagat raya sampai rasanya ingin mencekik kakaknya itu sampai mati, Kyuubi.
"Woi, laptop gua lu apakan, kush!"
Hening.
Kyuubi masih diam didepan pintu dengan nafas terengah-engah. Sementara Kushina yang dengan seramnya memagang pisau lipat sambil melototi kakaknya dengan tatapan yang seolah mengatakan, 'sekali lagi kau lakukan itu dan aku akan membunuhmu.' Pokoknya persis kaya adegan psikopat mau membunuh mangsanya di film-film bajakan yang pernah Author tonton. Tapi, bukannya ketakutan, Kyuubi malah cengar-cengir nggak jelas dan itu tentu saja membuat Kushina eneg.
"Aha! Gua paham sekarang. Lu frustasi karena nggak punya duit buat beli gitar dan nggak dapet tempat kerja sambilan, kan? Dan akhirnya lu mau ngancem Kepsek karena nggak sudi minta bantuan ke gua." Cerocos Kyuubi ngasal. Tapi anehnya, semua yang dikatakannya benar 100%. Hebat? Nggak juga. Kyuubi itu, walaupun tampangnya nggak meyakinkan, adalah guru BP di sekolah internasional di Tokyo dan lulusan termuda di jurusan psikologi di Univesitas Tokyo.
"Temee no koto wo yare*!" jawab Kushina ketus. Dia ingin sekali melempar pisau di tangannya itu kearah Kyuubi. Tapi untungnya, Kyuubi segera mengatakan sesuatu, "Kau mau kerja di café yang gajinya besar? Kurasa aku tahu tempatnya. Kau hanya bekerja menjadi pelayan dan akan digaji 5 juta yen per bulan."
"Hoo…. Kesambet apa kau, baka-onii. Tumben ngomongnya normal. Jadi, dimana cafénya-ttebane?" Kushina nampaknya tertarik dengan penawaran Kyuubi tanpa mengetahui kalau informasi itu akan membuat tidurnya terganggu.
Dan disinilah Kushina berada, disebelah toko boneka dan dan diseberang theater besar nan megah, seperti yang dikatakan kakaknya tadi malam. Kushina merapatkan jaket tebalnya, membenarkan kacamata dan tudung jaketnya, dan melepas earphone dari telinganya. Dia menatap sekeliling dengan cermat.
Ok, jangan tanya kenapa Kushina betah memakai jaket tebal ditengah musim panas yang menyangat Selama perjalanan dari Shinjuku atau kenapa dia menatap sekeliling dengan cermat. Yang jelas Kushina tidak ketakutan hanya karena melihat lalat rasaksa yang suka berpose aneh diseberang sana (maksudnya Kamen Rider). Dan bukan juga karena dia sekarang telah berada di Akiba.
Setelah 10 tahun, akhirnya Kushina memutuskan untuk pergi ke akiba. Dia bahkan tidak bisa tidur karena terus memikirkan masalah akiba, duit, dan gitar. Yup, café yang diceritakan Kyuubi ternyata terletak di akiba. Butuh tekad yang benar-benar bulat bagi Kushina untuk menginjakkan kaki di distrik ini lagi.
Kushina kembali menatap bangunan berlantai 3 dihadapannya. Memang banyak orang yang keluar masuk disana, tapi Kushina tidak peduli. Kushina kembali memastikan kalau bangunan itu adalah "Doukaku café: the most unique café" yang diceritakan Kyuubi.
"Oi, oi, oi! Kalau nggak niat beli, pergi sono! Hush, hush!" Kushina tersentak. Tiba-tiba saja ada seorang pelayan nyentrik yang menodongnya dengan bazooka. Merasa tertantang, Kushina mengluarkan pisau lipatnya dan segera menodongkannya kearah pelayan itu.
"Apaan, hah!? Aku Cuma mau ngelamar kerja-ttebane!" balas Kushina.
Kini pelayan itu menatap Kushina sementara Kushina balas melototi si pelayan sambil tetap saling todong. Dan akhirnya, setalah lama diam dan saling menatap, Gen Renji, si pelayan, berkata, "Kau lihat orang yang disana? Yang main laptop di meja counter." Dia mengancungkan jari telunjuknya pada orang yang dimaksud, tentunya setelah dia meletakkan bazooka-nya di lantai untuk sementara waktu.
"Em…yang rambutnya kuning dan pakai kacamata?"
"Yang rambutnya kaya durian Bangkok."
"Hah?"
"Kau tanya sama dia, cewek sialan. Dia boss-nya."
"Orang kaya gitu kalian sebut boss?"
"Kau itu niat ngelamar kerja, nggak sih, cewek sialan! Sudah sono buruan pergi!"
Akhirnya Kushina menuruti perkataan si pelayan itu. Siang itu memang sedang ramai-ramainya. Banyak pelanggan yang datang ke sini untuk menyantap makan siang mereka. Namun, seperti yang Kyuubi bilang, disini hanya ada 2 pelayan. Si cowok nyentrik yang tadi dan seorang cewek. Pasti mereka berdua kewalahan menghadapi para pelanggan. 'Tapi kenapa boss-nya malah santai-santai di meja counter sambil main laptop?' batin Kushina. Yah, akiba memang tempat yang penuh dengan orang-orang aneh.
Kushina berdiri didepan meja counter, menghadap orang yang disebut boss itu.
"Aku mau ngelamar kerja." Kata Kushina. Namun, si boss itu masih tetap fokus dengan layar laptop-nya.
"Hallo? Aku mau ngelamar kerja!" kata Kushina lagi, kini setengah berteriak. Sayangnya, masih belum bisa mendapat perhatian dari si pemilik café itu. Dia justru malah tertawa kecil sambil menatap layar laptopnya. Merasa kesal, Kushina kini menggebrak meja dengan sangat keras. Sampai-sampai café yang awalnya berisik itu kini hening bak kuburan belanda. Ouuh, good job, Kushina.
"Ada apa, ya?" si boss akhirnya menoleh kearah Kushina yang menatapnya kesal. Minato, si boss itu, membalas tatapan Kushina. Bukan tatapan kesal karena merasa terganggu, melainkan tatapan yang seolah menyelidiki. Sorot mata ocean-nya seolah ingin menenggelamkan mata violet Kushina perlahan. Namun sayangnya tidak bisa. malahan dia merasa kalu dialah yang akan ditenggelamkan oleh tatapan gadis itu.
"Aku ingin bekerja disini!" balas Kushina ketus.
Minato terdiam. Tatapan itu, nada bicara itu…. Yeah, Kami-sama, setelah 10 menjadi otaku laknat, seorang Minato Namikaze merasa kalau dia benar-benar ingin memiliki gadis itu. Benar-benar ingin memiliki gadis berambut merah itu.
~~~Tsuzuku~~~
Maaf lama, minna! Mizutto lagi fokus buat Try Out dan UAN nanti soalnya. tapi Mizutto Senang sekali chapter satu udah kelar. Ngomong-ngomong, ada yang tau SCANDAL band? Itu, lho, yang baru aja datang ke Indonesia dan perform di Dasyat. Mizutto suka sekali lagu-lagu mereka. Dan Mizutto baru sadar kalau lagu TOKYO yang dipakai buat chapter ini mirip kaya lagu mereka yang lainnya, OSAKA. Pokoknya asik, deh. Minna, coba dengar lagu mereka!
Yah, langsung saja Mizutto akan memperjelas kata-kata bertanda bintang diatas:
-Otome game: Game simulasi dimana langkah-langkah yang kita ambil bakalan berpengaruh sama endingnya nanti. Semacam game adventure, kita ngejar cowok atau cewek digame itu (biasanya) buat dijadiin pacar. Omoshiroi nee…/
-Kota Wakayama: Ibukota prefektur Wakayama yang terletak di wilayah Kansai. Pusat industri kecap asin.
-Naruto-maki: Bisa disebut Naruto aja. Merupakan Kamaboko (dari ikan yang dihaluskan, dicetak diatas sepotong kayu, dan dimatangkan dengan cara dikukus) yang kalau diiris membentuk motif pusaran air.
-Chashiu: Babi panggang merah.
-Mayuyu: Ada yang tidak tahu siapa itu Mayuyu? Yah, bagi yang belum tahu, singkatnya Mayuyu adalah salah satu member AKB48 team A. Yang jadi center di single "so long!". Suara imut banget menurut Mizutto. Nah, di cerita ini, Mayuyu adalah oshii (member yang paling didukung) –nya Kyuubi. Hehehe
-Akiba: Singkatannya Akihabara.
-Otaku: Sebenarnya, Kyuubi sendiri dapat digolongkan menjadi wota (otaku khusus buat idol group). Tapi pada dasarnya, wota=wotaku=otaku. Mungkin, seperti halnya partikel kalimat 'wo' yang diucapkan 'o', wotaku bisa juga disebut otaku. Mungkin, lho…Mizutto juga nggak tapi ngerti.
-Temee no koto wo yare: Urusin urusanmu aja, deh! (jangan pake kalimat ini sama orang yang lebih tua atau atasan, karena ini sebenarnya semacam bahasa gaul-nya orang jepang)
Aah, ini balasan buat review-nya. Terima kasih buat yang telah bersedia membaca+mereview cerita ini. Mizutto senang sekali. TT . TT
bib bee 50 : E, eeeh!? Ampuuuun! *lari dengan linangan air mata palsu*
Puthry Azzahra : Yeey! Untungnya bukan, kalo itu Hiruma beneran jadi crossover, dong, ya (^^)v maaf udah dibuat lama menunggu….
kenrai zukinawa : Iya, akhirnya…. Ini sudah masuk SCANDAL-nya. Tapi nggak dinyanyiin, plot cerita berkata lain soalnya. Maaf. Ah, soal update kilat itu sepertiya….*pundung dipijokan*
Guest : Salam kenal juga, Guest (?) duh, duh, penasaran, nih…hehehe. Balakan dilanjutin, kok, dengan semangat membara!Yosh! (O_O)
Aika Licht Youichi : Hehehe, menambah wawasan Mizutto juga, lho ^^ ayo, kompaaak!
PurpleLittleMoon : Terima kasih sudah di fav-kan (?) Masalah update cepet, ya….hiks, hiks, tidak bisa, gan…
Reruya : Eeeeejdnnladlkjh! (?) Arigatou, Reruya-senpai (_ _) aduuh, jadi malu, deh. XXD
Nah, sekian dulu. Jangan kapok review, ya, minna! Biar semangat Mizutto kembali membara. Buat yang mau UN juga jangan banyak-banyak baca fic dulu, belajar, ya, nak…. *sendirinya juga harusnya belajar buat UN*
Jyaa ne, minna! Bye bye!
Selanjutnya, di AkagamiXOtaku Doki Doki:
Band Kushina-pun muncul. Sebuah keputusan mendadak diambil di awal liburan musim panas! Kushina akan berjuang keras untuk menghadapi liburan musim panas yang berbeda dari sebelumnya! apapun yang terjadi! Sementara Minato masih menyimpan sesuatu dari Kushina.
