CENDRILLON
By Arin Tirta
Disclaimer : Naruto belongs Masashi Kishimoto
Genre : Family, Friendship, Romance
Rate : T + (?)
Warning : typo(s), gaje, OOC. Slight SasuIno
DLDR!
Chapter 2
SAKURA POV
Aku berlari kencang di lorong kampus, berusaha untuk tidak mengindahkan tatapan orang-orang yang merasa terganggu oleh apa yang telah kulakukan. Uukh, ini semua gara-gara Hinata-chan yang seenaknya menggunakan namaku saat memberikan surat cinta pada Uzumaki-senpai dan berlari begitu saja tanpa memberikan penjelasan! Aku tahu pasti dia gugup saat menyerahkan surat cinta itu...tapi... akkkh! Akan kuseret dia ke hadapan Uzumaki-senpai!
Ya ampun, kenapa di saat seperti ini kepalaku harus terasa pusing dan pandanganku mulai memudar? Apa aku sakit? Kami-sama... jangan sampai aku pingsan di lorong.
BRUKH!
Tanpa babibu, tubuhku terjatuh begitu saja ke depan dan mencium lantai dengan mantap. Sakiit sekaliii, siapa yang sengaja mencekal kakiku?
Kudongakkan kepalaku, seketika manik emeraldku mendapati sosok perempuan bersurai pirang panjang yang berdiri angkuh dan menatapku dengan tatapan merendahkan.
Yamanaka... Ino. Sang primadona kampus.
"Jangan menghalangi jalanku, anak kampung," desisan sinis meluncur tajam melalui bibir merah Ino.
"Wajahmu bagaikan malaikat, tapi sayang sekali hatimu sekejam iblis."
Aku berusaha berdiri, namun lututku terasa sakit sehingga tubuhku kembali jatuh terduduk. Iris mataku menatap tajam Ino, tanpa rasa takut sedikit pun. Aku membencinya, sungguh aku sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan rasa benciku padanya.
Ino tampak tidak suka akan tatapan mataku, "Kenapa menatapku seperti itu? Jaga matamu j*lang."
KRAK!
"Ka-kau!" geramku tertahan karena Ino dengan seenaknya menginjak kaca mataku yang terjatuh di dekat kakinya hingga remuk. Ino menutup mulutnya, dia menahan tawa seakan diriku adalah badut yang melakukan hal konyol.
DAIKIRAI!
"Ino? Kamu sedang apa?"
Sontak kami berdua menoleh pada sumber suara, Sasuke mengerjap bingung pada kami berdua.
"Haruno-san kenapa?"
Haruno-san? Hahahaha, segitu tidak inginnya kah kau Ino mengetahui kedekatan kita hingga kau memanggilku seperti itu di hadapannya, tuan Uchiha? Apa kau malu mengakui di depan sang primadona bahwa gadis jelek sepertiku ini adalah sahabatmu? Yang selalu menjadi tempat untukmu berkeluh kesah?
Kau benar-benar berubah menjadi bajingan, Sasuke.
Ino selembut mungkin menarik tanganku dan dia memapah tubuhku. Sekilas bisa kulihat dia tersenyum manis pada Sasu... Uchiha. Aku muak berlama-lama melihat senyum palsunya itu.
"Tadi Haruno-chan berlari dan tidak sengaja menabrakku. Benar kan Haruno-chan?"
Dasar munafik. Kau yang telah sengaja menjatuhkanku.
"Haruno-san, kau harusnya lebih berhati-hati. Kau tahu sendiri kan bahwa Ino itu seorang model yang tidak boleh terluka sedikit pun? Bagaimana kalau tadi dia yang terjatuh hah?"
Ooooh, jadi sekarang aku yang salah? Baiklah-baiklah.
Kutepis tangan Ino yang masih menggenggam bahuku. Meski sakit, aku sekuat tenaga berjalan tertatih menjauhi mereka berdua.
Bukan fisikku yang terasa sakit, namun hatiku.
"Hei Haruno!"
Kuhentikan sejenak langkah kakiku, sedikit kuputar tubuhku hanya demi melihat dua pasang manusia yang sangat serasi. Yang wanita (sok) merintih kesakitan pada tangannya, sedangkan si pria mengelus lembut tangan kekasihnya dan menatapku tajam.
"Ino sudah menolongmu, kenapa kau justru bertingkah kasar padanya?!"
Tuan Uchiha, coba kau lihat sebentar malaikat kesayanganmu itu. Dia sedang menyeringai keji.
"Kau tidak meminta maaf?!"
...
Kukepalkan erat kedua tanganku, gigiku saling beradu dan mengeluarkan suara gemertak.
"Gomennasai... Yamanaka-sama, Uchiha-sama."
Aku sungguh membenci mereka berdua
Sasuke cukup tertegun melihat reaksiku, wajar saja. Karena baru kali ini aku memanggilnya seperti itu. Kutatap dingin dirinya sebelum kembali melangkah menjauhi kedua iblis itu.
"Haruno, hei kemari! Kacamatamu tertinggal, kau pasti tidak bisa melihat dengan benar bukan!? HEI! SAKI?!"
Aku tidak mendengar. Aku tidak mendengarnya. Aku tidak mendengarnya. Aku tidak mendengarnya.
Hahaha, bahkan sekalipun dia mengetahui aku tidak bisa melihat dengan benar, dia sama sekali tidak berusaha mengejarku. Jadi ini yang namanya sahabatwahai tuan Uchiha yang terhormat?
Kuambil napas sejenak, dadaku terasa sesak. Bukan, bukan sesak karena berjalan terlalu jauh, tapi lebih karena terhadap perlakuan Sasuke terhadapku.
Jadi ini balasan atas segala kebaikan yang telah kuberikan padanya?
Dia rela membuangku, sahabatnya, hanya demi si cantik bermuka dua itu?
Persetan! Aku muak terhadap mereka berdua!
"Auuch!" kupegang kepalaku yang mendadak terasa sakit. Panas sekali, apa aku terserang demam? Di saat seperti ini? Padahal aku...
... aku belum sempat menggeret Hinata-chan ke hadapan Uzumaki-senpai.
"Sakura-chan?"
Samar-samar kulihat seorang pria bersurai merah darah di hadapanku, wajahnya tidak terlihat jelas tapi rambutnya itu... sama seperti...
"Onii-chan?"
Gelap. Aku sama sekali tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap.
"Hiks... bangunlah..."
Siapa itu yang menangis? Suaranya cukup menyayat hatiku.
"Saki-chan, hiks..."
Saki-chan? Onii-chan? Akkh! Iya, tadi aku melihat Nii-chan! Aku harus segera bangun! Nii-chan masih hidup! Aku harus segera menemuinya!
"Saki-chan?! Kamu sudah sadar?!"
Kelopak mataku yang terbuka secara paksa memberikan efek pusing pada kepalaku. Hyuuga Hinata, sahabatku yang sesungguhnya spontan membantuku bersandar di bantal.
"Uuukh, Hinata... aku di mana?"
"Kamu berada di unit kesehatan... hiks. Kamu tiba-tiba pingsan, suhu tubuhmu tinggi dan kakimu juga terkilir. Aku sangat khawatir, hiks," Hinata mengusap air mata dari pelupuk matanya. Ya ampun, dia masih saja cengeng seperti biasa. Tapi mau tidak mau aku tersenyum kecil, air mata itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia bersungguh-sungguh mengkhawatirkan diriku.
Setidaknya dia tidak seperti si brengsek yang mendekatiku saat ada maunya saja.
"Kamu jangan khawatir, aku hanya jatuh tersandung tadi dan kepalaku sedikit pusing," jelasku agar Hinata tidak terlalu cemas.
Hinata mengangguk patuh, dia memberikanku segelas air dan obat. Seraya menelan obat yang diberikan, kepalaku sibuk berpikir. Sosok yang kulihat sebelum semua menjadi gelap... apakah itu Onii-chan? Ataukah itu hanya khayalanku semata?
Aku tidak tahu, tapi kuharap itu adalah kenyataan.
Aku memang tidak bisa mengingat wajah keluargaku dengan jelas, setelah kecelakaan yang menimpa kami, ingatanku kacau. Hancur. Bahkan nama Okaa-san, Onii-chan to Otou-san aku tidak bisa mengingatnya. Setiap aku bertanya pada paman dan bibi (orang tua Sai) mereka tidak ingin menjawabnya. Bahkan foto sekalipun aku tidak punya. Satu-satunya kenangan yang tersisa hanyalah kalung berbentuk bulan purnama yang terbelah... pasangan kalung ini dimiliki Onii-chan.
Yang aku ingat hanya rambut merah Onii-chan karena dulu aku sering menggigit kepalanya.
"Oh iya Saki-chan, senpai yang mengantarmu kemari menyuruhku memberikan ini untukmu."
Aku menaikkan sebelah alisku bingung, kuraih kotak kecil yang disodorkan Hinata. Isinya... kacamata? Perlahan kugunakan kacamata tersebut dan pas! Maksudku, minus kacamata ini sama persis seperti kacamataku yang sudah retak.
"Si-siapa yang memberi ini?"
Hinata memiringkan kepalanya, "Tentu itu senpai yang telah menolongmu! Kamu tahu Saki, dia sangat tampaaan! Wa-walaupun lebih tampan Naruto-senpai, tapi sungguh, dia sangat tampan!"
Senpai yang menolongku?
Siapa?
Seingatku, aku tidak pernah akrab dengan senior di kampus... terutama karena aku satu kampus dengan Sai yang membenciku.
KRIEEET!
"Hyuuga-san, bisakah keluar sebentar? Aku ingin berbicara empat mata dengan Sakura-chan."
Seorang pria tampan bersurai merah dengan senyuman ramah yang terlukis di bibirnya menghampiri kami. Manik hazel pria itu menatapku dalam, seakan dia mengunciku ke dalam bola matanya. Jantungku berdebar cepat, wajahku juga terasa panas. Memangnya ada ya wanita yang tidak merasa gugup ditatap sedemikian rupa oleh seorang pria tampan?
Apakah dia Onii-chan?
...
Bukan... aku merasa dia bukan Onii-chan. Ada yang berbeda.
Atau lebih tepatnya, aku hanya tidak ingin dia menjadi Onii-chanku.
"Sssst, Saki, dia senpai yang kumaksud. Aku pergi dulu ya, nanti kita pulang bareng!" bisik Hinata di telingaku. Dia beranjak pergi dan memberi semangat padaku sebelum menghilang.
Apa maksudnya itu?
"Sakura-chan? Sekarang kamu sudah besar ya... Nii-chan senang sekali melihatmu tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan ehem, cukup sehat. Apakah kamu baik-baik saja?"
Aku menatap waspada pria yang kini telah duduk di pinggir ranjangku, dia tersenyum tipis dan menatapku lembut tepat di mataku.
Kumohon berhenti memasang ekspresi seperti itu, ini tidak baik untuk kesehatan jantungku.
"Etto... anata wa... dare desu ka?" tanyaku berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan si senpai tampan.
"Ore?" pria berambut merah itu menunjuk dirinya sendiri, lalu dia tertawa renyah. "Aku Onii-chan mu Saki! Yare-yare, aku sedih sekali kamu melupakanku."
"Tapi ini juga salahku... karena tidak segera menjemputmu, aku telah gagal menjadi seorang kakak," nada ceria pria itu berubah sendu. Senyumannya memudar. Aku tidak suka ini.
"Benarkah... a-apa buktinya?!" tidak mungkin aku langsung percaya bahwa orang ini adalah kakakku! Bagaimana bisa... meskipun aku senang, tapi tidak mungkin kakak yang dinyatakan telah meninggal hidup kembali! Tidak masuk akal!
"Bukti? Hm... ini!" pria itu tersenyum lebar seraya menunjukkan sebuah kalung yang berbandulkan hiasan bulan purnama yang terbelah. Sontak iris emeraldku melebar, kurebut kalung tersebut dan kuperhatikan dengan seksama. Kusatukan bandul kalung tersebut dengan bandul kalung milikku.
Sempurna. Di tengah-tengah bulan purnama yang tersatukan kembali, tertuliskan huruf "H" yang terukir indah.
Ini memang milik Onii-chan...
"Bagaimana?"
Aku menatap wajah pria – yang sampai sekarang belum kutanyakan namanya – dalam diam. Mataku terasa perih dan panas... dan dadaku seperti tertimpa bongkahan batu raksasa.
"Bagaimana bisa... bukankah seharusnya Onii-chan sudah..."
Onii-chan (kuputuskan untuk memanggilnya begitu) mendekap tubuhku erat sebelum aku kembali melanjutkan kata-kataku. Tangannya membelai lembut rambut pink ku yang terurai. Dia memelukku dengan hati-hati, seakan aku adalah kaca yang rapuh, yang bisa hancur berkeping-keping kapan pun.
"Gomen... Saki... Nii-chan akan jelaskan itu nanti. Tapi sekarang, Nii-chan benar-benar bersyukur bisa menemukanmu. Kamu tahu? Selama ini Nii-chan selalu memikirkanmu, Nii-chan selalu mencari-cari keberadaanmu."
Aku hanya diam, tapi kubalas juga pelukan Onii-chan. Hangat. Pelukan ini memang terasa familiar, sudah lama sekali aku tidak merasa nyaman sekaligus aman seperti ini. Kedua sudut bibirku terangkat dan air mata mulai membasahi pipiku.
Aku senang sekaligus sedih. Senang karena akhirnya bisa kembali bertemu dengan keluarga kandungku. Dan sedih karena tidak rela jika pria ini yang harus menjadi kakakku.
Karena jika dia bukan kakakku, mungkin aku akan jatuh cinta padanya.
BRAK!
Pintu unit kesehatan terbuka dengan paksa, menampakkan seorang pria berambut raven dengan napas terengah. Iris onyx pria yang memiliki marga Uchiha tersebut menatapku tajam.
"Haruno Sakura... siapa... SIAPA LELAKI YANG MEMELUKMU ITU?!"
OoooOOOOoooOOOoooOOoooO
OooOOooOooOooOooO
OoOoOoOoO
NORMAL POV
Dua orang bocah SMP asyik membaca komik di kamar bernuansa merah bata. Dan di salah atas ranjang kamar tersebut seorang gadis cilik bersurai pink tengah tertidur pulas.
"Sakura-chan kawaiii," ujar bocah berambut merah yang sedikit lebih tinggi dibanding bocah bersurai merah dan berwajah datar. Bocah tersebut mengelus-elus rambut Sakura penuh kasih sayang.
Si bocah berwajah datar menatap dingin mereka berdua, dia kembali membaca komik yang dipegangnya.
"Nee-nee Kouhai, kau tahu, saat dewasa nanti, aku akan menjadikan Sakura-chan sebagai pengantinku!" seru si bocah berwajah ceria.
Akhirnya bocah berwajah datar tersebut menyelesaikan kegiatan membacanya, "Silahkan saja kalau kau bisa."
TBC
Dewadew97 dew dew niar, anonymous, Guest, Luca Marvell, Asuka Kazumi, Min ChanX, Sakucherry-nyan, afifah dinar... domo, ARIGATOU GOZAIMASHITA!
RnR? ^^
